Anda di halaman 1dari 2

Sosiologi Reflektif

Menurut C. Wright Mills, ada sesuatu yang salah dalam kualitas pikiran (quality of mind)
mereka. Pikiran mereka tidak imajinatif dan reflektif, sehingga sosiolog mudah terjebak
dalam cara berfikir konvensional yang mematikan, yaitu terjebak dalam perangkap teori-teori
besar (grand theory) yang eksternal, ebjektif, asing, dari dunia hidup dan kesadaran
intelektual mereka sehari-hari. Di sisi lain, mereka juga terperangkap dalam empirisme
abstrak, data-data mati, kerja teknik science yang mematikan daya kreatif dan imajinasi sosial
mereka. Karena itu meskipun tampaknya bekerja, mereka tidak menghasilkan pengetahuan
sosiologi apa-apa, kecuali hanya mengulang yang sudah ada Sosiologi reflektif adalah cara
berfikir sosiologi yang menghadapkan dunia pengalaman hidup kita sehari-hari dengan teori
pengetahuan yang berkembang dan konteks sosial dimana kita hidup. Untuk mudahnya, kita
akan menyebut yang pertama sebagai sosiologi refleksif generasi pertama, seperti yang
dipunyai oleh C.W Mills dengan sosiologi imajinatifnya. Yang kedua kita sebut dengan
sosiologi refleksif generasi kedua, seperti yang di punyai oleh cara berfikir Ulrich Beck dan
yang juga dikembangkan oleh Anthony Gidden dan Scott Lash. Mills memperkenalkan pada
komunitas sosiolog cara suatu berfikir yaitu berfikir sosiologi imajinatif Sosiologi imajinatif
adalah cara berfikir sosiologi dimana sosiologi dalam cara berfikirnya selalu menghadapkan,
bukan hanya memadukan dua dunia; dunia privat (biograpgy) dengan dunia sejarah (history)
(Mills. 1973:9-14). Tujuan Mills mengajukan cara berfikir ini adalah untuk memperbaiki
kualitas berfikir sosiolog sehingga menghasilkan pengetahuan yang imajinatif dan kreatif.
Masalah yang dihadapi sosiolog, menurut Mills bukan jumlah informasi yang dimiliki, tetapi
yang dibutuhkan adaah perbaikan kualitas berfikir bagaimana menggunakan dua modal dasar,
rasio dan informasi tersebut. Yang diajukan adalah perbaikan kualitas pikiran yang hanya
bisa dihasilkan oleh perubahan cara berfikirnya. Berfikir sosiologi imajinatif akan membuat
sosiologi terus menerus terjaga kesadaran intelektual sehari-hari di hadapan masyarakat
sekitar sekitarnya yang terus berubah. Dengan menghadapkan biography dan sejarah, ia akan
sadar tempatnya dalam konteks perubahan sosial besar dimana ia hidup. Sosiologi imajinatif
akan menyadarkan sosiolog terhadap isu-isu besar di sekitar dan kehidupan privat anggota
masyarakat dan hubungan antar keduanya. Hasilnya dalah kualitas berpikir yang imajinatif
dan kreatif terhadap persoalan privat anggota masyarakat dengan isu-isu besar
masyarakatnya. Sekarang masalahnya bagaimana jelasnya secara praktis berfikir dan kerja
intelektual itu bisa dipraktekkan dalam kerja intelektual kita sehari-hari sebagaimana sering
dituntut calon sosiolog atau sosiolog muda yang sering menuntut, lantas, bagaimana
prakteknya, cara kerjanya? Mills dalam hal ini menawarkan cara kerja intelektual yang
barangkali bisa kita ikuti garis besarnya meskipun kita akan mengembangkannya sesuai
dengan ritme hidup kita, yaitu apa yang disebutnya dengan intellectual craftsmenship
(kerajina intelektual). Sosiologi Refleksif Generasi Kedua Sosiologi refleksif generasi
kedua muncul tahunn 1990-an. Bisa disebut disini salah satu pionernya adalah Ulrich Beck,
karena cara berfikir Ulrich Beck menarik perhatian banyak sosiolog yang tertarik pada cara
berfikir refleksif. Sosiologi reflektif generasi kedua adalah cara berpikir self-critism. Yang
kritis terhadap resiko-resiko yang di timbulkan dalam masyarakat,serta dari akibat diri kita
sendiri. Serta mampu berhadapan dengan masalah tersebut dan mampu memecahkannya.
Untuk memunculkan pemikiran imajinatif, kreatif dan pengetahuan, maka sudah saatnya kita
mulai mengumpulakan, menghadapakan, konfrontasikaan satau sama lain data yang ada. Dari
situ lah kita mampu menjawab tantangan dan resiko sosial yang ada. DAFTAR PUSTAKA :
Trijong Lambang. Dalam sebuah artikel mengenai Sosiologi Reflektif.