Anda di halaman 1dari 5

Fungsi Al-quran

Apa sih fungsi Al-quran sesungguhnya dalam kehidupan kita ini. Sepanjang perjalanan hidup
yang saya jalani, sepanjang perjalanan yang saya lalui saya melihat bahwa fungsi al-quran
hanyalah di jadiakan sebagai sebuah bacaan (hanya di baca tanpa dipahami), syair (hanya di
syairkan tanpa dipahami dan diamalkan), pajangan, jimat, mantra dll. Padahal kita mengetahui
Al-quran itu adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad melalui
perantaraan malaikat jibril dan disampaikan keseluruh umat manusia, yang tujuannya dijadiakan
sebagai pedoman hidup manusia. Setiap apa yang Allah berikan kepada kita pasti ada tujuannya
dan fungsinya karna Allah tidak pernah berbuat sia-sia. Begitu juga dengan Al-quran yang Allah
turunkan. Mungkin kita pun sudah tahu fungsi Al-quran yang Allah turunkan sesungguhnya ialah
sebagai pedoman hidup kita dan sebagai petunjuk untuk kejalan yang benar. Tapi kalau kita lihat
dalam realita yang ada Al-qurana tidak berjalan sesuai fungsinya.
Di Dalam Al-quran Allah telah menerangkan fungsi Al-quran itu sendiri. QS. Yunus:57
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh
bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang
yang beriman.
Melalui ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa al-quraan yang diturunkan Allah kepada kita
memiliki beberapa fungsi.
1. Pelajaran
Allah menjadikan Al-quran sebagai pelajaran untuk seluruh umat manusia. Kalaulah Al-quran
dijadikan sebagai pelajaran berarti wajib untuk dipelajari. Kenapa? Karna didalam Al-quranlah
kita bisa mendapatkan ilmu tentang rumus-rumus dalam menjalankan kehidupan ini. Baik dalam
lingkup yang kecil diri sendiri maupun dalam lingkup yang besar sesama manusia. Untuk
menjalankn kehidupan ini haruslah sesuai dengak aturan-aturan yang telah Allah tuangkan
didalam Al-qurannya. Banyak orang yang menjalankan kehidupannya tidak menggunakan
rumus-rumus yang telah Allah tuangkan didalam Al-quran sehingga wajar kita lihat ketika
mereka mendapatkan satu ujian/musibah yang menimpa diri mereka galaunya setengah mati,
bahkan ada yang mengakhiri kehidupannya dengan cara bunuh diri. Nauzubillahiminzalik.
Padahal banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi setiap masalah yang kita hadapi
tidak harus meratapi dan bersedih hati, dan ketika Allah memberikan mereka kelebihan dengan
dunia baik wanita, anak, harta, tahta dan jabatan mereka lalai terhadap itu semua. Ini adalah
salah satu faktor bahwa mereka belum mempelajari Al-quran dengan sungguh-sungguh.
Jadi sungguh mulia orang mukmin itu. Mereka diangkat Allah derajadnya karna ilmu yang
mereka miliki, ilmu tentang Al-quran itu sendiri, dimana ilmu tersebut mereka dapatkan setelah
mereka menjadikan al-quran tersebut sebagai pelajaran. Ketika mereka diuji mereka bersabar dan
ketika diberi kelebihan mereka bersyukur.
2. Obat
Allah menjadikan Al-quran sebagai obat manusia. Dalam catatan ini saya lebih terfokus pada
obat ruhani. Karna ketika fisik yang sakit kita bisa berobat kerumah sakit tapi kalaulah ruhani
yang sakit kemanakah kita akan pergi? Maka jawabannya Al-quranlah tempatnya. Penyakit hati
disini berupa iri hati, sombong, dengki, ria, takabur, suuzon dll. Lantas bagaimana penyakit ini
bisa hilang? Banyak ayat yang Allah terangkan di dalam Al-quranya yang berkaitan dengan
segala macam penyakit hati ini. Bersyukur adalah salah satu cara bagaimana kita
menghilanghkan segala macam penyakit hati. Kenapa kita sebagai manusia harus iri dengan
kelebihan orang lain atau pun merasa sombong dengan apa yang kita punya, padahal segala
sesuatu yang Allah berika itu adalah sebagai ujian untuk diri kita. Allah melebihkan kita supaya
kita bersyukur, dan Allah memberikan kekurangan kepada kita pun agar kita tetap bersyukur.
Setiap ujian yang Allah berikan itu untuk mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih
berkualitas lagi. Usaha kita dalam mengatasi atau menyembuhkan segala macam penyakit hati
ini akan dinilai Allah nantinya.
3. Petunjuk
Allah menurunkan Al-quran sebagai petunjuk hidup manusia. Petunjuk yang akan menunjuki
manusia kejalannya yang lurus. Banyak manusia yang menjalankan hidupnya tanpa
menggunakan petunjuk yang telah Allah titipkan kepadanya. Makanya banyak kita lihat orang
yang berjalan di muka bumi ini tanpa ada arah dan tujuan. Hanya sekedar mutar-mutar ditempat
yang sama tanpa ada satu perubahan. Hanya sekedar ikut-ikutan tanpa mengetahui manfaatnya.
Apa yang mereka lakukan hanya untuk kepuasan diri pribadi. Sangat jauh berbeda dengan
kehidupan orang-orang yang ber al-quran itu sendiri. Setiap perjalanan yang mereka lalui sesuai
dengan petunjuk yang telah Allah jelaskan didalam Al-Quran. Mereka paham terhadap pejalanan
yang mereka lalui, semakin hari akan semakin terjal dan berliku. Karna membutuhkan suatu
pejuangan yang besar sebagai bukti perjalanan hidup. Warna warni kehidupan disetiap lika-liku
perjalanan akan menjadi sebuah keindahan yang begitu berarti.
Al-qurana telah mengajarkan kepada kita petunjuk bagaimana cara berpakain yang baik untuk
seorang wanita. Sesuai dengan ayatnya, al-quran surat Al-ahzab:59, tentang pakaian wanita. Tapi
banyak para wanita yang enggan menutup auratnya keseluruh tubuh mereka. Karna mereka
merasa kurang seksi, tidak terlihat cantik, tidak modis, jadul, panas dan segala macamnya
alasannya. Padahal petunjuk yang Allah berikan ini adalah untuk melindungi dirinya dari segala
keburukan dan agar Allah lebih mengenal dirinya sebagai seorang wanita muslimah, dan
mukmin lain pun mudah menegnal dirinya. Hanya sedikit wanita yang mau mengikuti petunjuk
ini. Masih banyak lagi petunjuk-petunjuk yang Allah terangkan didalam Al-quran untuk
menjalani kehidupan kita ini, dan sesungguhnya segala petunjuk yang Allah berikan kepada kita
hanyalah untuk membimbing kita menuju kejalannya yang lurus. Dalam kehidupan kita hanya
sedikit manusia yang menjadikan al-quran ini sebagai petunjuk untuk menjalani hidupnya.
4. Rahmat
Rahmad disini maksudnya ialah nikmat atau keberkahan yang diberikan Allah kepada kita. Apa
kenikmatan atau keberkahan itu? Yaitu pemahaman kita terhadap al-quran itu sendiri. Al-quran
akan menjadi sebuah rahmad ketika kita menjadikan al-quran tersebut sebagai pelajaran,obat,
dan petunjuk. Ketika semuanya itu telah terlaksana barulah rahmad itu muncul didalam diri kita.
Inilah fingsi al-quran yang diturunkan Allah kepada kita, jika al-quran itu berjalan sesuai dengan
fungsinya maka keberkahan hidup akan kita rasakan. Hidup penuh kedamaian, penuh cinta dan
ketenangan. Tidak ada keindahan hidup yang hakiki yang akan kita temukan kecuali dibawah
naungannya.
Sudahkan kita menjalankan Al-quran sesuai dengan fungsinya?
Tunjukanlah salah satu buktinya?

Fungsi Hadist Sebagai Sumber Hukum Islam
Ijmak ulama bahwa sanya hadist merupakan sumber hukum ke dua dalam Islam. Hal ini
berdasarkan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa' ayat: 59, berdasarkan hadist Rasulullah
SWT pada haji wada' , "Aku tinggalkan untukmu dua perkara, yang apabila engkau berpegang
teguh pada keduanya tidak akan sesat untuk selamanya, yaitu Alquran dan hadist," serta ijmak
sahabat tentang wajibnya mengikuti serta mengamalkan sunnah Nabi SWT.
Adapun fungsi hadist sebagai sumber hukum Islam ada tiga, yaitu sebagai penguat bagi apa yang
sudah tertera dalam Alquarn (muakkadah), sebagai penafsir bagi ayat-ayat Alquarn
(mubayyinah), dan mendatangkan hukum-hukum yang tidak tercantum dalam Alquran.
1. penguat (Muakkadah)
Yaitu menguatkan bagi sesuatu yang sudah tertera dalam Alquran. Alquran
sebagai penetap (musbit) sedangkan hadist sebagi penguat (muayyad). Seperti hadist yang
menerangkan wajib puasa, wajib shalat, wajib zakat, wajib haji. Dan hadist yang melarang
untuk mempersekutukan Allah SWT, saksi palsu, membunuh tanpa hak, larangan memakan harta
orang lain tanpa izin, dan lain sebagainya.
Semua masalah ini sudah pernah disinggung dalam Alquran sebelum Rasulullah
mengatakannya. Seperti firman Allah dalam surat Al- Baqarah ayat 43 yang mengatakan wajib
menunaikan zakat dan mengerjakan shalat. Surat Al-Baqarah ayat 183 yang mengatakan
wajibnya puasa, dan lain sebagainya.
2. Penafsir (mubayyinah)
kedudukan hadist dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran ini ada tiga macam:
a.Menjelaskan yang mujmal dari Alquran
Seperti ayat yang mewajibkan shalat, 'Aqimus shalah' (dirikan shalat), ayat ini masih
mujmal. Ayat ini masih mujmal pada bilangan shalat yang difarzukan, rukun serta rakaatnya.
Maka datanglah hadist untuk menjelaskan yang mujmal tersebut, "Shalatlah seperti kalian
lihat aku shalat."
Diwajibkan zakat, "Wa atuz zakah" (tunaikan zakat), ayat ini masih mujmal
berapa kadar zakat yang harus dikeluarkan, harta apa saja yang wajib zakat dan yang tidak
diwajibkan zakat. Maka hadistlah yang menentukan kadar serta jenis harta yang dikenakan
zakat.
b.Mengkhususkan yang umum dari Alquran
Jika ada ayat-ayat Alquran yang masih umum maka datanglah hadist untuk
mengkhususkan ayat tersebut. Seperti firman Allah SWT dalam surat An-Nisak ayat 11
yang mengatakan anak kandung akan menerima warisan dari ibuk bapaknya. Ayat ini
masih umum, yaitu semua anak akan mendapat harta warisan. Maka datanglah hadist
untuk mengkhususkan, yang bahwa pembunuh (anak yang membunuh ayah/ibunya) tidak
mendapat warisan. Karena terhijab dengan hijab hirman.
c.Memberi batasan (qayyid) bagi ayat Alquran yang mutlak.
Seperti perintah Allah SWT untuk memotong tangan pencuri. Perintah memotong
dalam ayat ini tidak ditentukan batas potongnya dari mana dan sampai kemana, tata tertib
pemotongan. Maka hadistlah yang menetukan hal tersebut, yaitu dari pergelangan
tangan, dan dipotong tangan kanan pada kali yang pertama. Jika ia mencuri lagi maka
potonglah tangan kirinya.
3. Mendatangkan hukum-hukum yang tidak tercantum dalam Alquran.
Hal ini tidak menunjukkan Alquran itu terdapat kekurangan. Karena pada
hakikatnya hadist Nabi juga digolongkan kedalam firman Allah, sebagaimana yang sudah
termaktub dalam Alquran," Dan tidaklah yang dikatakan Muhammad itu menurut
keinginannya melainkan wahyu yang diwahyukan kepadannya."
Diantara hukum-hukum yang tidak tercantum dalam Alquran dan sudah didatangkan oleh
hadist adalah:
a.Haram berkumpul antara perempuan dengan pamannya dan haram berkumpul
antara wanita dengan bibiknya.
b.Perintah merajam zina muhksan (laki-laki yang sudah ada istri sendiri atau
perempuan yang sudah ada suami sendiri tapi berzina dengan orang lain). Hukum ini tidak
tercantum dalam Alquran, namun hadistlah yang mendatangkannya. Seperti merajam
Ma'izan dan Ngamadiyah oleh Rasullah zamna dahulu.
c. Warisan terhadap nenek, hal ini tidak tercantum dalam Alquran. Maka hadistlah
yang menentukannya, yaitu dalam warisan nenek mendapat 1/6 dari harta warisan.
d.Zakat fitrah, tidak ada satu pun dari ayat Alquran yang memerintahkan kepada kita
untuk mengeluarkan zakat fitrah. Maka rasulullah lah yang menyuruhnya. Beliau bersabda dalam
hadist yang diriwaytakan oleh Ibn Umar," Rasullah SWA mewajibkan zakat fitrah."

CARA MEMFUNGSIKAN AL QURAN DAN HADITS
AL-QURAN DAN HADIS SEBAGAI PEDOMAN HIDUP
1. Pengertian Al-Quran
Al-Quran berasal dari bahasa Arab, yaitu yang berarti bacaan. Sedangkan menurut
istilah Al-Quran adalah kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw melalui
malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Hal ini sesuai dengan ayat berikut :

()

()
192. dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam ; 193. Dia dibawa
turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).
2. Pengertian Hadis
Kata hadis berasal dari bahasa Arab yang berarti baru, muda, cerita, berita dan riwayat dari Nabi
Muhammad saw. Sedangkan hadis menurut istilah adalah segala perkataan, perbuatan dan takrir Nabi
Muhammad saw yang berkaitan dengan hukum.
3. Fungsi Al-Quran
Sebagai petunjuk bagi manusia agar hidupnya berada di jalan Allah swt. (Q.S. 2 : 185)
Merupakan nikmat bagi orang-orang beriman
Sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang berimankarena Allah swt menjanjikan balasan
keimanannya dengan nikmat di surga.
Sebagai peringatan bagi orang-orang yang kafir karena Allah swt menjanjikan balasan kekafirannya
dengan kesengsaraan di neraka.
Sebagai pendidikan moral yang sempurna karena di dalamnya terdapat kisah-kisah umat terdahulu
yang dapat dijadikan pelajaran dalam memilih jalan kehidupan.
4. Fungsi hadis
Mengukuhkan hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Quran. Misalnya Q.S 3 : 102 dikukuhkan
dengan HR at Tirmizi dari Abu Zar No. 1910.

()

102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.



Bertaqwalah kepada Allah di manapun kalian berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik,
niscaya (kebaikan itu) akan menghapus (keburukan)-nya. Pergaulilah manusia dengan yang baik.

Menafsirkan ayat-ayat Quran yang bersifat mujmal (global). Contoh QS. 22 : 78.


Maka dirikanlah shalat

Dijelaskan dengan hadis Nabi



Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat (HR. Bukhari dari Malik No. 595)
Membatasi keumuman Al-Quran. Contoh perintah shalat jumat dalam surah al-Jumuah ayat 9
mengenai kewajiban shalat jumat dijelaskan dengan HR.Abu Dawud dari Tariq bin Syibah no. 901, bahwa
shalat jumat itu wajib dilaksanakan oleh setiap muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan,
hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang sakit.
Menetapkan hukum yang belum terdapat dalam Al-Quran. Misalnya tentang keharaman binatang
buas ditetapkan hukumnya dengan hadis Nabi :



Maka setiap binatang buas yang bertaring adalah haram (HR.Ibnu Majah dari Abu Hurairah No.3224).
5. Cara-cara memfungsikan Al-Quran dan Hadis dalam kehidupan :
Menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi.
Menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai pedoman kehidupan keluarga/ rumah tangga.
Menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai hakim dalam menyelesaikan masalah
6. Menerapkan Al-Quran dan hadis sebagai pedoman hidup umat Islam.
Dalam kehidupan pribadi ; yaitu dengan mempelajari dan mendalami Al-Quran dan hadis, bergaul
dengan orang saleh, memanfaatkan waktu dan memiliki semangat keilmuan untuk kepentingan dunia
dan akhirat.
Dalam kehidupan keluarga ; memupuk semangat dan ketekunan kepada seluruh anggota keluarga
dalam menjalankan syariat Islam.
Dalam kehidupan bermasyarakat ; ikut berperan aktif dalam masyarakat dan rela berkorban demi
terwujudnya keharmonisan dalam masyarakat.

MENCINTAI AL-QURAN DAN HADITS
A. Cara mencintai Al-Quran dan Hadits
Mencintai berarti merasa senang terhadap yang dicintai. Rasa senang itu tentunya akan
terwujud dalam perbuatan yang nyata.

1. Pengertian Mencintai Al-Quran dan Hadits
Cinta berarti selalu mengingat dan memikirkan dalam hati, kemudian terwujud dalam
tindakan nyata. Orang yang mencintai sesuatu, hatinya akan selalu mengingat dan
memikirkannya. Dia akan rela berkorban untuk sesuatu yang dicintainya.
Al-Quran dan Hadits adalah dua sumber utama dalam hokum islam. Setiap orang islam
hrus mencintai keduannya karena dengan demikian dia akan selamat,baik di dunia maupun di
akherat. Orang yang mencintai Al-quran dan hadits, dia akan selalu mengutamakan keduanya
diatas yang lain. Kecintaan terhadap AlQuran dan Hadits akan membuatnya selalu ingin
mengetahui lebih dalam ajaran yang terdapat di dalamnya.

2. Perintah mencintai Al-Quran dan hadits
Sebagai orang muslim mencintai Al-Quran dan Hadits adalah suatu kewajiban. Perintah
mencintai Al-Quran dan hadis banyak kita jumpai, baik dalm Al-Quran maupun dalam hadits.
Berikut ini beberapa dalil yng memerintahkan kita untuk mencintai Al-Quran dan Hadits.
Katakanlah (Muhammad). Jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku niscaya Alloh
mencintaimu dan menghapus dosa-dosamu. Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S.
Ali Imron/3:31)
Ayat tersebut menyebutkan bahwa orang yang mencintai Alloh, haruslah mengikuti nabi
Muhammas SAW.orang yang mencintai Alloh, berarti dia mencintai Al-Quran sebagai kalam-
Nya. Diapun harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw sebagai penerima wahyu Al-Quran.
Mengikuti nabi Muhammad saw berarti menerima dan mencintai hadits sebagai ajaran-ajaran
beliau.
Rosululloh saw pernah berpesan kepada umatnyaagar senantiasa berpegang pada Al-Quran
dan hadits. Dengan berpegang kepada keduanya, umat islam tidak akan tersesat baik di dunia
maupun dalam akhirat. Rosululloh bersabda sebagai berikut:

) ( .


Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selama kamu
berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Alloh (Al-Quran) dan sunah Nabi-Nya (Hadits). (H.R.
Malik dari Umar bin Khottob No. 1935)
Sebuah Hadits yang diriwayatkan imam al-Bukhari, nabi Muhammad saw menyatakan
bahwa untuk mencapai kenikmatan iman ada beberapa syarat. Syarat pertama adalah mencintai
Alloh (Al-Quran) dan Rosul-Nya (Hadits) melebihi kecintaanya kepada yang lain. Seperti dalam
Hadits berikut
Ada tiga hal yang barang siapa mencapainya, dia akan merasakan nikmatnya iman :
AllohAlloh dan Rosul-Nya dia cintai melebihi segala-galanya, mencintai orang lain hanya
karena Alloh, dan membenci kekafiran sebagaimana dia kebenciannya dimasukkan kedalama
api neraka. (H.R. al-Bukhori dari Anas bin Malik No.15)
3. Bentuk-Bentu Mencintai Al-Quran dan Hadits
Mencintai Al-Quran dan hadits dapat diwujudkandalam beberapa bentuk, antara lain :
a. Berusaha memiliki kitab Al-Quran dan Hadits meskipun harus menyisihkan uang saku ;
b. Memiliki kemauan untuk dapat membaca al-Quran dan Hadits secara benar meskipun harus
mengeluarkan biaya;
c. Memiliki kemauan yang sunguh-sungguh untuk dapat memahami isi Al-Quran dan hadits
secara benar;
d. Rajin mendatangi majelis-majelis ilmu yang mempelajari Al-Quran dan Hadits;
e. Tidak suka apabila ada pihak lain yang merendahkanatau menghina Al-Quran dan Hadits;
f. Berusaha menjaga kesucian al-Quran dan hadits tanpa memandang remeh;
g. Memiliki kepedulian apabila melihat lembaran yang bertuliskan Al-Quran dan Hadits
berceceran dengan mengumpulkan atau membakarnya.


Perilaku Orang yang mencintai Al-Quran dan Hadits
Setelah memerhatikan bentuk-bentuk mencintai Al-Quran dan Hadits,perilaku mencintai
keduanya dapat diwujudkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Berupaya mewujudkan berdirinya taman pendidikan Al-Quran (TPQ) di lingkungan masing-
masing:
2. Ikut serta secara aktif dalam upaya melancarkan jalannya TPQ, baik dengan pikiran, tenaga
maupun materi;
3. Menyediakan waktu khusus untuk mempelajari Al-Quran dan hadits untuk kemudian diajarkan
kepada orang lain;
4. Mengajak orang-orang yang belum mau belajar Al-Quran dan hadits;
5. Selalu menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai dasar dalam segala tindakan dan cara
berpikinya.