Anda di halaman 1dari 21

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng utama pembentuk kerak
bumi yaitu Lempeng Eurasia yang bergerak ke arah tenggara, Lempeng Indo-
Auatralia yang bergerak ke arah utara serta Lempeng Pasifik yang bergerak ke
arah barat. Akibat benturan ketiga lempeng itu, di Indonesia terdapat 129 buah
gunungapi atau kurang lebih 13% dari jumlah gunungapi di seluruh dunia yang
tersebar memanjang dari Aceh sampai Sulawesi Utara melalui Pegunungan Bukit
Barisan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku.
Salah satu gunungapi di pulau Jawa adalah gunung Merapi. Gunung Merapi
terletak di perbatasan empat kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Propinsi DIY
dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten di Propinsi
Jawa Tengah. Posisi geografinya terletak pada 73230 LS dan 1102630 BT.
Berdasarkan tatanan tektoniknya, gunung ini terletak di zona subduksi, dimana
Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Lempeng Eurasia yang mengontrol
vulkanisme di Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Gunung Merapi muncul
di bagian selatan dari kelurusan dari jajaran gunungapi di Jawa Tengah mulai dari
utara ke selatan yaitu Ungaran-Telomoyo-Merbabu-Merapi dengan arah N165E.
Mempelajari dan menambah wawasan pengetahuan tentang gunungapi
merupakan hal yang penting untuk membentuk kewaspadaan penduduk Indonesia,
khususnya masyarakat pulau Jawa. Museum Gunung Merapi (MGM) yang
terletak di kawasan lereng Merapi, tepatnya di Jalan Boyong, Dusun Banteng,
Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman, merupakan salah
satu wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu
kebencanaan gunungapi, gempabumi, dan bencana alam lainnya. Museum
Gunungapi ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan
informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi lainnya yang
bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk
memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-
2

budaya dan lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan
geologi lainnya.
Sebagai mahasiswa, khususnya mahasiswa Fisika tentunya sangatlah
penting menambah wawasannya mengenai gunungapi yang erat kaitannya dengan
materi Fisika. Salah satunya adalah pemantauan deformasi gunungapi melalui
GPS yang menghasilkan vektor pergeseran. Penjelasan mengenai pemantauan
deformasi melalui GPS dan aplikasinya pada Fisika akan dibahas pada laporan ini.

1.2 Permasalahan
Adapun permasalahannya dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana vektor pergeseran hasil pemantauan deformasi gunung Merapi
melalui survei GPS?
1.2.2 Bagaimana konsep vektor pada pemantauan deformasi gunung Merapi
melalui survei GPS?

1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Penulisan laporan ini bertujuan untuk:
1.3.1.1 Mengetahui vektor pergeseran hasil pemantauan deformasi gunung Merapi
melalui survei GPS.
1.3.1.2 Mengetahui konsep vektor pada pemantauan deformasi gunung Merapi
melalui survei GPS.
1.3.2 Manfaat
Dengan ditulisnya laporan ini diharapkan mahasiswa dan masyarakat
mengetahui bahwa aplikasi Fisika terdapat pada pemantauan deformasi yaitu
vektor pergeseran hasil dari GPS. Selain itu mahasiswa dan masyarakat luas
diharapkan senantiasa memperdalam pengetahuannya mengenai gunungapi, yaitu
dengan mengunjungi Museum Gunung Merapi.



3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gunung Merapi
Koesoemadinata (1977) dalam Nandi (2006), menyatahan bahwa gunungapi
adalah lubang saluran yang menghubungkan suatu wadah berisi bahan yang
disebut magma. Suatu ketika banhan tersebut ditempatkan melalui saluran bumi
dan sering terhimpun di sekelilingnya sehingga membangun suatu kerucut
gunungapi.
Indonesia merupakan wilayah yang terletak pada ujung pertemuan 3
lempeng kerak bumi, yaitu: lempeng Indo-Australia yang bergeser ke utara,
lempeng pasifik yang bergerak ke Barat dan lempeng Eurasia yang relatif
bergerak ke arah selatan. Akibat tumbukan lempeng tersebut maka Indonesia
mempunyai 129 buah gunungapi aktif atau sekitar 13% dari gunung aktif di dunia
sepanjang Sumatera, Jawa, sampai laut Banda. Gunungapi terdapat di seluruh
dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api
Pasifik Pasific Ring Fire (Nandi, 2006).
Gunung Merapi merupakan salah satu dari gunung api di pulau Jawa.
Gunung Merapi terletak di perbatasan empat kabupaten yaitu Kabupaten Sleman,
Propinsi DIY dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten
Klaten di Propinsi Jawa Tengah. Propinsi Jawa Tengah. Posisi geografinya
terletak pada 73230 LS dan 1102630 BT. Berdasarkan tatanan tektoniknya,
gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia menunjam
di bawah Lempeng Eurasia yang mengontrol vulkanisme di Sumatera, Jawa, Bali
dan Nusa Tenggara. Gunung Merapi muncul di bagian selatan dari kelurusan dari
jajaran gunungapi di Jawa Tengah mulai dari utara ke selatan yaitu Ungaran-
Telomoyo-Merbabu-Merapi dengan arah N165E. Kelurusan ini merupakan
sebuah patahan yang berhubungan dengan retakan akibat aktivitas tektonik yang
mendahului vulkanisme di Jawa Tengah. Aktivitas vulkanisme ini bergeser dari
arah utara ke selatan, dimana Gunung Merapi muncul paling muda.
4

Letusan Gunung Merapi dicirikan oleh keluarnya magma ke permukaan
membentuk kubah lava di tengah kawah aktif di sekitar puncak. Munculnya lava
baru biasanya disertai dengan pengrusakan lava lama yang menutup aliran
sehingga terjadi guguran lava. Lava baru yang mencapai permukaan membetuk
kubah yang bisa tumbuh membesar. Pertumbuhan kubah lava sebanding dengan
laju aliran magma yang bervariasi hingga mencapai ratusan ribu meter kubik per
hari. Kubah lava yang tumbuh di kawah dan membesar menyebabkan
ketidakstabilan. Kubah lava yang tidak stabil posisinya dan didorong oleh tekanan
gas dari dalam menyebabkan sebagian longsor sehingga terjadi awan panas. Awan
panas akan mengalir secara gravitasional menyusur lembah sungai dengan
kecepatan 60-100 km/jam dan akan berhenti ketika energi geraknya habis. Inilah
awan panas yang disebut Tipe Merapi yang menjadi ancaman bahaya yang utama.

2.2 Deformasi Gunungapi
Pergerakan magma ke arah permukaan akan menghasilkan beberapa
perubahan, misalnya peningkatan aktivitas kegempaan dan (atau) aktivitas
fumarol, deformasi pada permukaan, serta gejala geofisika dan geokimia lainnya.
Umumnya pergerakan material di bawah permukaan merupakan indikasi awal
akan terjadinya erupsi dan kenaikan tekanan akan menghasilkan deformasi di
permukaan (ground deformation).
Pengertian deformasi menurut Kuang (1996) dalam Yudofan dkk. (2013)
adalah perubahan bentuk, posisi dan dimensi dari suatu benda (Kuang, 1996).
Deformasi dapat diartikan sebagai perubahan kedudukan atau pergerakan suatu
titik pada suatu benda secara absolut maupun relatif. Dalam kaitannya dengan
deformasi gunungapi, perubahan yang dimaksud adalah perubahan atau
pergeseran titik-titik pantau yang ditempatkan di sekitar tubuh gunungapi. Secara
kuantitatif, deformasi gunungapi ditunjukkan dengan adanya perubahan geometrik
dari titik-titik pantau.
Perubahan geometrik dari suatu benda dipengaruhi oleh gaya, fenomena
fisik batuan (elastik, visko-elastik, nonelastik/rigid), serta waktu. Dalam
deformasi gunungapi semua aktivitas erupsi sangat berhubungan erat dengan
kegiatan magma. Kegiatan ini dicerminkan dan diidentifikasikan sebagai
5

peningkatan tekanan di dalam gunungapi yang disebabkan oleh gerakan magma di
bawah permukaan.

Gambar 2.3 Inflasi dan deflasi

2.3 GPS (Global Positioning System)
GPS merupakan singkatan dari Global Positioning System yang merupakan
sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global dengan menggunakan
satelit. Sistem GPS, yang nama aslinya adalah NAVSTAR GPS (Navigation
Satellite Timing and Ranging Global Positioning System), mempunyai tiga
segmen yaitu: satelit, pengontrol, dan penerima / pengguna.
Satelit bertugas untuk menerima dan menyimpan data yang ditransmisikan
oleh stasiun-stasiun pengontrol, menyimpan dan menjaga informasi waktu
berketelitian tinggi (ditentukan dengan jam atomic di satelit), dan memancarkan
sinyal dan informasi secara kontinyu ke pesawat penerima (receiver) dari
pengguna. Pengontrol bertugas untuk mengendalikan dan mengontrol satelit dari
bumi baik untuk mengecek kesehatan satelit, penentuan dan prediksi orbit dan
waktu, sinkronisasi waktu antar satelit, dan mengirim data ke satelit. Penerima
6

bertugas menerima data dari satelit daan memrosesnya untuk menentukan posisi,
arah, jarak, dan waktu yang diperlukan oleh pengguna.

Gambar 2.4.1 Contoh GPS (Suarapembaruan.com)
Dalam pengamatan satelit dengan menggunakan receiver GPS, apabila
diperlukan posisi relatif secara Real Time Kinematic (RTK), maka antara kedua
antena receiver harus ada hubungan telekomunikasi yang langsung dan kontinyu.
Karena memerlukan komponen komunikasi elektronik serta software pengolah
data yang canggih, maka menjadikan receiver GPS dengan tipe ini agak rumit dan
mahal. Disamping itu sebaiknya dipilih receiver yang dapat mengukur secara
kinematic dan mempunyai frekuensi ganda Ada dua macam metode penentuan
posisi secara kinematik dengan GPS, yaitu : (1) Penentuan posisi dengan metode
kinematik absolut. Penentuan posisi kinematik yang menggunakan metode
pangamatan absolut, metode ini tidak memerlukan titik acuan yang sudah
diketahui posisinya dan cukup menggunakan satu receiver saja. Posisi yang
dihasilkan merupakan hasil proses data pseudorange; dan (2) Penentuan posisi
dengan metode kinematik relatif. Penentuan posisi kinematik yang menggunakan
metode pengamatan relatif/differential, metode ini memerlukan titik acuan yang
sudah diketahui posisi tiga dimensinya sehingga dibutuhkan minimal dua buah
receiver. Posisi yang dihasilkan merupakan hasil proses data pengamatan carrier
beat phase atau data pseudorange. Saat ini penetuan posisi relatif kinematik yang
lebih akurat adalah dengan menggunakan metode differential kinematic
positioning. Kelebihan dari metode ini terletak pada koreksi yang diberikan
terhadap hasil ukuran yang dilakukan oleh station rover. Pesan koreksi dari
stasiun acuan dipancarkan lewat radio modem sebagai data link yang diterima
7

oleh pemakai yang sedang bergerak (rover). Dengan pesan koreksi tersebut dapat
diperoleh deformasi posisi geodetik pada saat itu juga (instantly) selama
pengambilan data lapangan berlangsung. Metode inilah yang disebut dengan Real
Time Kinematic (RTK).
Prinsip dari metode pemantauan aktivitas gunung berapi dengan metode
Survei GPS pada dasarnya relatif mudah, yaitu pemantauan terhadap perubahan
koordinat dari beberapa titik yang mewakili gunung tersebut secara periodik. Pada
metode ini, beberapa alat penerima sinyal (receiver) GPS ditempatkan pada
beberapa titik pantau yang ditempatkan pada punggung dan puncak gunung yang
akan dipantau, serta pada suatu stasion referensi yang dianggap sebagai titik
stabil. Koordinat dari titik-titik pantau tersebut kemudian ditentukan secara teliti
dengan GPS, relatif terhadap stasion referensi, dengan menggunakan metode
penentuan posisi diferensial menggunakan data pengamatan fase. Selanjutnya
dengan mempelajari perubahan koordinat titik-titik pantau tersebut, baik terhadap
stasion referensi maupun di antara sesama titik pantau secara periodik, maka
karakteristik deformasi dan magmatik gunung berapi yang bersangkutan dapat
dipelajari dan dianalisa.

Gambar 2.4.2 Pemantauan gunungapi dengan survei GPS
Dalam konteks studi deformasi gunungapi dengan metode survei GPS, ada
beberapa keunggulan dan keuntungan dari GPS yang perlu dicatat, yaitu antara
lain:
8

a. GPS dapat mencakup suatu kawasan yang relatif luas tanpa memerlukan saling
keterlihatan antar titik-titik pengamatan. Dengan karakteristik seperti ini, GPS
dapat memantau sekaligus beberapa gunungapi yang berdekatan.
b. GPS memberikan nilai vektor koordinat serta pergerakan titik (dari minimum
dua kala pengamatan) dalam tiga dimensi (dua komponen horisontal dan satu
komponen vertikal), sehingga dapat informasi deformasi yang lebih baik
dibandingkan metode-metode terestris yang umumnya memberikan informasi
deformasi dalam satu atau dua dimensi.
c. GPS memberikan nilai vektor pergerakan titik dalam suatu sistem koordinat
referensi yang tunggal dan stabil baik secara spasial maupun temporal. Dengan
itu maka GPS dapat digunakan untuk memantau deformasi gunung atau
gunung-gunungapi dalam kawasan yang luas secara konsisten dari waktu ke
waktu.
d. GPS dapat memberikan nilai vektor pergerakan dengan tingkat presisi sampai
beberapa mm, dengan konsistensi yang tinggi baik secara spasial maupun
temporal. Dengan tingkat presisi yang tinggi dan konsisten ini maka
diharapkan besarnya pergerakan titik yang kecil sekalipun akan dapat
terdeteksi dengan baik.
e. GPS dapat dimanfaatkan secara kontinyu tanpa tergantung waktu (siang
maupun malam), dalam segala kondisi cuaca. Dengan karakteristik semacam
ini maka pelaksanaan survei GPS untuk studi deformasi gunungapi dapat
dilaksanakan secara efektif dan fleksibel.

2.4 Pemantauan Deformasi Gunung Merapi Melalui GPS
Pemantauan deformasi gunung Merapi dilakukan dengan menggunakan
berbagai metoda, salah satunya adalah GPS (Global Positioning System).
Penyelidikan deformasi puncak menggunakan GPS telah dilakukan sejak tahun
1993 oleh Beauducel dkk bekerjasama dengan Perancis. Metode pengukuran
memiliki beberapa karakteristik meliputi penggunaan receiver portable dual-
frequency, baselines yang pendek (<500m), prosesing kinematic/rapid-static,
adjustment gabungan antara kinematik dan statik, dan prosesing otomatis.
9



Gambar 5.2.1 Lintasan pengukuran GPS kinematik dan titik-titik referensi
pengukuran statik
Dari tahun 1993 sampai 2006, jaringan pengukuran GPS relatif tidak ada
perubahan yang berarti. Gambar 1 memperlihatkan lintasan pengukuran GPS
dengan kinematik dan titik-titik referensi. Survey GPS tahun 2006
memperlihatkan adanya perubahan pola deformasi yang mencerminkan dinamika
tekanan menjelang erupsi dan setelahnya. Vektor deformasi yang nampak di
sebagian besar titik pengukuran periode September 2005 sampai dengan Maret
2006 menunjukkan pola radial yang seragam sehingga apabila di potongkan akan
nampak adanya pemusatan tekanan. Hal ini mencerminkan sumber tekanan yang
sangat dekat dengan permukaan puncak. Setelah erupsi, tampak vektor deformasi
10

lebih acak dengan magnitudo yang jauh lebih kecil. Ini menunjukkan sumber
tekanan yang lemah dan menyebar.


Gambar 5.2.2 Vektor-vektor deformasi periode September 2005 s.d. Maret
2006

2.5 Vektor
Vektor merupakan suatu besaran yang mempunyai besar (nilai) dan arah.

Titik P : Titik pangkal vektor
Titik Q : Ujung vektor
Tanda panah : Arah vektor
Panjang PQ = |PQ| : Besarnya (panjang) vektor
11

Dalam besaran vektor berlaku operasi penjumlahan, pengurangan perkalian,
dan pembagian suatu bilangan. Beberapa definisi penting dalam aljabar vektor
yaitu:
Dua vektor

dan

dikatakan sama, jika keduanya memiliki sama, jika


keduanya memiliki besar dan arah yang sama.
Sebuah vektor yang besarnya sama dengan vektor

, tetapi arahnya berlawanan


dinyatakan dengan





Jumlah atau resultan vektor

dan

Adalah vektor

yang diperoleh dengan


cara menempatkan titik pangkat vektor

pada titik ujung vektor

.
Penjumlahan vektor ini dapat di tulis sebagai berikut :



Besarnya vektor C = | C | =


Selisih vektor

dan

dinyatakan dengan

, yang dapat pula dipandang


sebagai bentuk penjumlahan yaitu :


Perkalian vektor

dengan skalar akan menghasilkan vektor

dengan
panjang kali vektor

dan arahnya sama atau berlawanan dengan vektor


bergantung nilai (positif atau negatif).




12

BAB 3
PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1 Tempat dan Waktu
Tempat : Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun Kecamatan
Pakem Kabupaten Sleman.
Waktu : Rabu, 20 Agustus 2014 pukul 12.30 WIB

3.2 Objek Kunjungan
Objek kunjungan pada kegiatan ini adalah Museum Merapi.

3.3 Perolehan Data
Data yang diperoleh dari kegiatan ini adalah foto tentang pemantauan
deformasi gunung Merapi.


Gambar 3.3.1 Penjelasan mengenai pemantauan deformasi
13


Gambar 3.3.2 Stasiun GPS di gunung Merapi


Gambar 3.3.3 Survei GPS kinematik di gunung merapi
14


Gambar 3.3.4 Vektor GPS Merapi Oktober 2002-Agustus 2003


Gambar 3.3.5 Vektor GPS Merapi September 2005-Maret 2006

15


Gambar 3.3.6 Vektor GPS Merapi Maret 2006-Januari 2007

3.4 Analisis Data
Dari gambar 3.3.1 dijelaskan bahwa deformasi bawah permukaan
gunungapi memberikan petunjuk proses magma di bawah gunungapi yang dapat
dijadikan indikator kemungkinan letusan gunungapi. Penjelasan ini sangat sesuai
dengan teori yang ada.
Gambar 3.3.2 merupakan GPS yang digunakan untuk memantau aktivitas
gunung Merapi. GPS seperti ini juga digunakan untuk memantau gunungapi yang
ada di Indonesia.
Gambar 3.3.3 merupakan kegiatan survei kinematik gunung Merapi. Survei
kinematik merupakan suatu metode penentuan posisi dengan GPS.
Gambar 3.3.4 s.d 3.3.6 merupakan vektor pergeseran dari survei GPS
gunung Merapi. Vektor pergerakan tersebut digunakan untuk mempelajari potensi
terjadinya gempa bumi. Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa
panjang vektor dan arah vektor pada setiap tahunnya berbeda-beda. Pergeseran
vektor pada September 2005-Maret 2006 cenderung menyebar, hal ini
menunjukkan tekanan lemah. Sedangkan pada Maret 2006-Januari 2007
pergeseran vektor tampak memusat sehingga terjadi pemusatan tekanan.
16

BAB 4
HASIL PRAKTIK KULIAH LAPANGAN

Dengan praktik kuliah lapangan ini didapatkan hasil bahwa pemantauan
deformasi gunung merapi dilakukan dengan menggunakan GPS. Pemantauan
deformasi tersebut dilakukan dengan metode kinematik. Pada pemantauan
deformasi menggunakan GPS ini, diperoleh suatu vektor pergerakan yang
digunakan untuk mempelajari potensi terjadinya gempa di wilayah lempeng
tersebut.
Seperti yang telah diketahui bahwa vektor merupakan salah satu materi
Fisika. Vektor merupakan besaran yang mempunyai nilai dan mempunyai arah.
Jarak antara pangkal dan ujung vektor adalah panjang vektor. Setiap vektor pada
gambar vektor hasil survei GPS tersebut sebenarnya memiliki panjang masing-
masing, namun tidak dapat dilihat begitu jelas. Sedangkan arah vektor
ditunjukkan melalui grafik. Garis vertikal menunjukkan arah utara, sedangkan
garis horisontal menunjukkan arah barat. Arah dan panjang vektor tersebut
mempengaruhi aktivitas gunung Merapi. Jika pergeseran vektor mengalami
relaksasi (panjang vektor kecil), maka aktivitas gunungapi cenderung normal. Jika
pergeseran vektor lebih panjang maka aktivitas gunungapi semakin
meningkat.Sehingga dapat dikatakan pemantauan deformasi dengan GPS ini
sangat berkaitan dengan Fisika.
Jika materi vektor diulas dari salah satu hasil survei GPS tersebut, yaitu
gambar 3.3.5 adalah sebagai berikut:





17

Misal vektor a (), vektor b (

), vektor c (), dan vektor d (

) memiliki
panjang masing-masing 20 cm, 15 cm, 12 cm, dan 10 cm.
Saat vektor a () dan vektor b (

) dijumlahkan, akan dihasilkan:




Jika penjumlahan kedua vektor tersebut dilakukan menggunakan metode
jajargenjang akan didapatkan resultan:


Sehingga besarnya vektor R = |

| =

| =

| =
|

| =
Saat vektor a (), vektor b (

), vektor c (), dan vektor d (

) dijumlahkan
menggunakan metode uraian, maka akan diperoleh resultan:







+

18

Dengan

.
Diperoleh:

= 20 cos

= 20 sin

= 15 cos

= 15 sin

= 12 cos

= 12 sin

= 10 cos

= 10 sin

.
Resultan vektor dari masing-masing komponen (sumbu x dan sumbu y) adalah:


Maka besar vektor R = |












19

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
5.1.1 Vektor pergeseran hasil survei GPS berunbah-ubah. Pada Oktober 2002-
Agustus 2003, pergeseran vektor kecil. Pada September 2005-Maret 2006
terjadi pertambahan pergeseran dan terjadi penyebaran arah vektor.
Sedangkan pada Maret 2006-Januari 2007, panjang vektor juga bertambah
namun arahnya memusat.
5.1.2 Konsep vektor pada pemantauan deformasi gunung Merapi melalui survei
GPS yaitu penjumlahan vektor. Penjumlahan vektor yang dilakukan
adalah penjumlahan dua vektor melalui metode jajargenjang serta
penjumlahan empat vektor melalui metode uraian.

5.2 Saran
Untuk masyarakat luas, disarankan agar menambah wawasan pengetahuan
mengenai gunungapi agar kewaspadaannya semakin meningkat.









20

DAFTAR PUSTAKA

Abidin H.Z. 2007. GPS (http://geodesy.gd.itb.ac.id/hzabidin/wp-
content/uploads/2007/05/gps-8.pdf). Diakses pada tanggal 15 September
2014.
Anonim. 2011. Chapter 1 (http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-
21235-Chapter1-331645.pdf). Diakses pada tanggal 18 September 2014.
Anonim. 2012. Museum Gunung Api Merapi
(http://www.slemankab.go.id/572/museum-gunung-api-merapi.slm).
Diakses pada tanggal 19 September 2014.
Anonim. 2012. Indonesia Butuh 2000 Stasiun Pemantau
(http://www.suarapembaruan.com/home/indonesia-butuh-2000-stasiun-
pemantau/26291).
Anonim. __. Merapi (http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/publikasi.php?offset=2).
Diakses pada tanggal 22 Agustus 2014.
Mahardika, Ketut. 2006. Pengantar Matematika untuk Fisika dan Teknik. Jember:
Jember University Press.
Nandi. 2006. Vulkanisme
(http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/1979010120
05011NANDI/geologi%20lingkungan/VULKANISME.pdf__suplemen_Ge
ologi_Lingkungan.pdf). Diakses pada tanggal 18 September 2014.





21

LAMPIRAN


Museum Merapi tampak luar

Museum Merapi tampak dalam