Anda di halaman 1dari 4

a.

Patofisiologi

Bronkitis akut dikarakterisir oleh adanya infeksi pada cabang trakeobronkial. Infeksi ini
menyebabkan hiperemia dan odema pada membran mukosa, yang kemudian menyebabkan
peningkatan sekresi bronkial. Karena adanya perubahan pada membran mukosa ini, maka
terjadi kerusakan pada lapisan epitelia saluran nafas yang menyebabkan berkurangnya fungsi
pemberian mukosiliar. Selain itu, peningkatan sekresi bronkial yang dapat menjadi kental dan
liat, makin memperparah gangguan pembersihan mukosiliar. Apakah perubahan ini bersifat
permanen, belum diketahui, namun infeksi pernapasan akut yang berulang dapat berkaitan
dengan peningkatan hiperreaktivitas saluran nafas, atau terlibat dalam patogenesis asma atau
PPOK (Glover & Reed, 2005). Pada umumnya perubahan ini bersifat sementara dan akan
kembali normal jika infeksi sembuh (Ikawati, 2011).

a. Patofisiologi

Beberapa abnormalitas fisiologis pada mukosa bronkus dapat menyebabkan bronkitis
kronis. Telah diketahui bahwa pasien bronkitis kronis lebih kerap mengalami infeksi saluran
nafas karena terjadinya kegagalan pembersihan mukosiliar terhadap inhalasi kronis berbagai
senyawa iritan. Faktor yang menyebabkan gagalnya pembersihan mukosiliar adalah adanya
proliferasi sel goblet (sel yang memproduksi mukus) dan pergantian epitel yang bersilia
dengan yang tidak bersilia. Hal ini menyebabkan ketidakmampuan bronkus pada penderita
bronkitis kronis untuk membersihkan dahak yang kental dan lengket. Perubahan mukosa
bronkus lainnya yang menyebabkan kecenderungan terjadinya infeksi adalah hipertrofi dan
dilatasi kelenjar penghasil mukus. Selain itu, inhalasi iritan toksik dapat menyebabkan
obstruksi bronkus karena terjadi stimulasi aktivitas kolinergik dan peningkatan tonus
bronkomotor (Ikawati, 2011). Bakteri yang terletak di epitelial bronkus (flora nasofaring)
juga cenderung menyebabkan pasien mengalami eksaserbasi akut bronkitis kronis. Bakteri H.
influenzae dan mikroorganisme lain yang tinggal di epitel bronkus akan menjadi patogenik
jika daya tahan tubuh pasien melemah. Daya tahan tubuh melemah antara lain jika
kemampuan fagositosis bakteria oleh neutrofil berkurang, aktivitas bakterisidal berkurang,
jumlah makrofag berkurang, atau berkurangnya kadar imunoglobulin A (Bartlett, 1997).

Pada awalnya antibiotika diisolasi dari mikroorganisme, tetapi sekarang beberapa antibiotika
telah didapatkan dari tanaman tinggi atau binatang. Antibiotika berasal dari sumber-sumber
berikut, yaitu Actinomycetales (58,2%), jamur (18,1%), tanaman tinggi (12,1%),
Eubacterialis terutama Bacili (7,7%), binatang (1,8%), Pseudomonales (1,2%), dan ganggang
atau lumut (0,9%) (Soekardjo, 2000).
Pada awalnya antibiotika diisolasi dari mikroorganisme, tetapi sekarang beberapa antibiotika
telah didapatkan dari tanaman tinggi atau binatang. Antibiotika berasal dari sumber-sumber
berikut, yaitu Actinomycetales (58,2%), jamur (18,1%), tanaman tinggi (12,1%),
Eubacterialis terutama Bacili (7,7%), binatang (1,8%), Pseudomonales (1,2%), dan ganggang
atau lumut (0,9%) (Soekardjo, 2000).


3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol umbi bawang
putih terhadap bakteri isolat sputum penderita bronkitis secara in vivo adalah penelitian
eksperimental sebenarnya (True Experimental Design).

3.2 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental sederhana (Post
Test Only Control Group design) yang menggunakan binatang percobaan sebagai objek
penelitian. Kelompok penelitian dibagi menjadi 5 yaitu Kelompok Kontrol Positif (K1),
Kelompok perlakuan 1 (K2), Kelompok Perlakuan 2 (K3), Kelompok Perlakuan 3 (K4),
dan Kelompok kontrol Negatif (K5).
Pembagian kelompok sebagai berikut :
K1 : Kelompok mencit sebagai kontrol positif
K2 : Kelompok mencit yang diobati dengan ekstrak etanol umbi bawang putih
konsentrasi 25%
K3: Kelompok mencit yang diobati dengan ekstrak etanol umbi bawang putih
konsentrasi 50%
K4 : Kelompok mencit yang diobati dengan ekstrak etanol umbi bawang putih
konsentrasi 75%
K5 : Kelompok mencit sebagai kontrol negatif

3.3 Sampel penelitian

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit putih jantan dari galur
BALB/c berusia 8 10 minggu dengan berat badan 20-25 gram.
Besar sampel menurut rumus federer sebagai berikut :
(t-1) (n-1) 15
(5-1) (n-1) 15
(4) (n-1) 15
4n 4 15
4n 19
n 4,75

Keterangan :
t : jumlah perlakuan
n : besar sampel

30 ekor mencit kemudian dikelompokkan secara random menjadi 5 kelompok yaitu :
Kelompok K1 : 5 mencit dengan cadangan 1 ekor
Kelompok K2 : 5 mencit dengan cadangan 1 ekor
Kelompok K3 : 5 mencit dengan cadangan 1 ekor
Kelompok K4 : 5 mencit dengan cadangan 1 ekor
Kelompok K5 : 5 mencit dengan cadangan 1 ekor

Tabel 3. Kandungan gizi 100 gr bawang putih
Khasiat antibakteri pada bawang putih pertama kali diketahui oleh Dr. Arthur Stoll, seorang
ahli farmasi pemenang Nobel di bidang kesehatan. Pada tahun 1940-an Stoll berhasil
membuktikan bahwa Allin merupakan senyawa aktif pada bawang putih yang berkhasiat
sebagai antibakteri. Kandungan Allin tertinggi terdapat pada bawang putih mentah yang
masih utuh. Pemotongan dan pemanasan umbi bawang putih segar akan merombak Allin
menjadi senyawa-senyawa turunannya.
Perbedaan struktur bakteri juga berperan dalam kerentanan bakteri terhadap unsur bawang
putih. Contohnya membrane sel Eschericha coli terdiri atas 20% lipid, dimana
Staphylococcus aureus hanya terdiri atas 2% lipid. Kandungan lipid pada membran dapat
mempengaruhi permeabilitas allicin dan unsur bawang putih yang lain
Resistensi dibagi dalam kelompok resistensi genetik, resistensi non genetik,
dan resistensi silang. Ada 5 mekanisme resistensi bakteri terhadap antibakteri
yaitu (Setiabudy, 1995) :
a. Perubahan tempat kerja (target site) obat pada bakteri
b. Bakteri menurunkan permeabilitasnya sehingga obat sulit masuk ke dalam sel
c. Inaktivasi obat oleh bakteri
d. Bakteri membentuk jalan pintas untuk menghindari tahap yang dihambat oleh
antibakteri
Meningkatkan produksi enzim yang dihambat oleh antibakteri
1) Penanaman bakteri
Penanaman bakteri atau kultur dimaksudkan untuk menumbuhkan satu jenis bakteri
dalam suatu media. Media penanaman bakteri dapat berupa media cair, setengah
padat atau agar dan campuran keduanya (Hardy, 2002).

Banyak bakteri tidak resisten terhadap bawang putih karena cara kerja
antibakterinya berbeda dengan antibiotik yang lain. Pembentukan resisten
terhadap antibiotik -laktam 1000 kali lebih mudah bila dibandingkan allicin dari
bawang putih, sehingga menjadi pilihan utama dalam penggunaan terapeutik.

Berbagai bentuk sediaan bawang putih menunjukkan aktivitas antibakteri
spektrum luas terhadap bakteri gram negatif dan gram positif termasuk spesies
Escherichia sp, salmonella sp, staphylococcus sp, streptococcus sp, bacillus sp, ,
clostridium sp, klebsiella, proteusaerobacter, aeromonas, citrella, citrobacter,
dan enterobacter. (Higdon, 2005).