Anda di halaman 1dari 17

Supervisor Sebagai Pengambil Keputusan

I. Pendahuluan
Manajemen biasanya diartikan sebagai proses mencapai hasil melalui
dan dengan orang lain dengan memaksimumkan penggunaan sumber
daya yang tersedia. Para supervisor sebagai bagian dari manajemen
memainkan peran penting untuk mencapai hasil itu. Menjadi seorang
supervisor berarti menduduki jabatan dengan tanggung jawab dan
pekerjaan yang berat sekaligus menantang. Para supervisor
bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain dan pekerjaaannya sendiri
Sebagai bagian dari manajemen, supervisor terlibat dalam kegiatan
manajemen diantaranya: perencanaan, pengorganisasian,
pendayagunaan SDM, pembinaan, dan pengendalian. Tanggung jawab
utama seorang supervisor adalah mencapai hasil sebaik mungkin
dengan mengkoordinasikan system kerjanya. oordinasi dapat
dipandang sebagai istilah yang mewakili peranan supervisor.
Dalam pelaksanaan pekerjaannya para supervisor menghadapi banyak
situasi yang mengandung masalah. !danya masalah tersebut
mengharuskan adanya keputusan tentang apa yang salah dan
bagaimana memperbaikinya. Seorang supervisor dituntut untuk
menguasai pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang
merupakan bagian penting dari kegiatannya. Supervisor harus mampu
menemukan akar masalah sebenarnya dan mengidenti"ikasi keputusan
terbaik untuk memecahkan masalah itu. #eberapa keputusan mungkin
menjadi tidak mudah diambil karena mengharuskan pertimbangan
mendalam dan mengharuskannya bertindak seksama.

1
II. Pembahasan
A. Proses Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan di dalam suatu organisasi merupakan hasil suatu
proses komunikasi dan partisipasi yang terus menerus dari keseluruhan
organisasi. Persoalan pengambilan keputusan pada dasarnya adalah
bentuk pemilihan dari berbagai alternati" tindakan yang mungkin dipilih
yang prosesnya melalui mekanisme tertentu, dengan harapan akan
menghasilkan sebuah keputusan yang terbaik.
Mc Shane and $on %linow menyebutkan bahwa decision making is a
conscious process of making choices among alternatives with the
intention of moving toward some desired state of affairs. Pembuatan
keputusan merupakan proses yang dilakukan secara sadar untuk
memutuskan atas beberapa alternati" yang bertujuan untuk
melaksanakan hal&hal yang diinginkan. Mereka juga menggambarkan
proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada paradigma pilihan
rasional 'rational choice paradigm( sebagai berikut:
2
Rational Choice
Decision Making
Process
Identity
problem
or
opportuni
ty Choose the
best
decision
process
Develop
alternativ
e
solutions
Choose the
best
alternativ
e
Implement
the
selected
alterative
s
Evaluate
decision
outcomes
Pengambilan keputusan hampir tidak merupakan pilihan antara yang
benar dan yang salah, tetapi justru yang sering terjadi ialah pilihan antara
yang )hampir benar* dan yang )mungkin salah*. eputusan yang diambil
biasanya dilakukan berdasarkan pertimbangan situasional, bahwa
keputusan tersebut adalah keputusan terbaik. eputusan dapat dilihat
pada kaitannya dengan proses, yaitu bahwa suatu keputusan ialah
keadaan akhir dari suatu proses yang lebih dinamis yang diberi label
pengambilan keputusan. eputusan dipandang sebagai proses karena
terdiri atas satu seri aktivitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap
sebagai tindakan bijaksana.
Salusu menyebutkan bahwa keputusan merupakan sebuah kesimpulan
yang dicapai sesudah dilakukan pertimbangan. +ang dimaksud
pertimbangan ialah menganalisis beberapa kemungkinan atau alternati",
lalu memilih satu di antaranya. Menurut Simon setiap keputusan itu
bertolak dari beberapa kemungkinan atau alternati" untuk dipilih. Pilihan
yang dijatuhkan pada alternati" itu harus dapat memberikan kepuasan
karena kepuasan merupakan salah satu aspek paling penting dalam
keputusan. Para ahli teori pengambilan keputusan mengingatkan agar
sebelum keputusan itu ditetapkan, diperlukan pertimbangan yang
menyeluruh tentang kemungkinan konsekuensi yang bisa timbul.
Simon ',-./( mengajukan model yang menggambarkan proses
pengambilan keputusan. Proses ini terdiri dari tiga "ase, yaitu:
1. 0ntelligence '0ntelegensia(
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari
lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data
masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka
mengidenti"ikasikan masalah.
2. Design '1ancangan(
Tahap ini merupakan proses menemukan, mengembangkan dan
menganalisis alternati" tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini

meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi dan


menguji kelayakan solusi.
. 2hoice 'Pilihan(
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan di antara berbagai alternati"
tindakan yang mungkin dijalankan. 3asil pemilihan tersebut kemudian
diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.
Dasar-dasar Pertimbangan dalam Pengambilan Keputusan
0bnu Syamsi ',--4( menjelaskan beberapa dasar pertimbangan yang
dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan, sebagai berikut:
,. Sasaran pengambilan keputusan yang jelas
5. Percaya bahwa keputusan mengarah pada tercapainya tujuan
organisasi secara keseluruhan
6. Menggunakan pendekatan diagnostik
Mengambil keputusan harus mengadakan identi"ikasi dan
merumuskan permasalahannya lebih dahulu
4. Melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan
Tujuannya:
a. Dapat meningkatkan kualitas keputusan karena yang ikut
memikirkan lebih dari satu orang 'untuk keputusan yang bersi"at
umum(
b. #awahan merasa mendapat penghargaan
c. #awahan otomatis merasa ikut terikat oleh keputusan yang
diambil.
7. Percaya penuh keputusan dapat dilaksanakan
.. Mengadakan evaluasi hasil keputusan
8. Pengambilan keputusan harus "leksibel
Langkah-langkah pengambilan keputusan
Secara teoretis, dapat dibedakan adanya enam langkah dalam proses
pengambilan putusan, yakni:
,. Mende"inisikan9Menetapkan masalah
!
:angkah pertama ini dapat dilakukan dengtan menjawab pertanyaan&
pertanyaan berikut:
a. !pakah hal itu benar&benar masalah atau hanya gejala;
b. <ika benar masalah, masalah siapa itu;
c. !pakah yang akan terjadi kalau masalah itu tidak dipecahkan;
d. Situasi yang bagaimanakah yang perlu diciptakan untuk
memecahkan masalah tersebut;
e. !pakah usaha memecahkan masalah itu akan menimbulkan
dampak yang tidak diinginkan;
". !pakah masalah itu berdiri sendiri atau ada sangkut pautnya
dengan yang lain dalam organisasi9lembaga;
5. Menentukan pedoman pemecahan masalah
egiatan yang dilakukan dalam langkah kedua ini adalah menetapkan
pembatasan dan syarat&syarat pemecahan masalah. #eberapa
pertanyaan yang perlu dicari jawabnya adalah:
a. #erapa waktu akan dialokasikan untuk memecahkan masalah
tersebut;
b. !pakah pemecahan masalah itu dibatasi oleh kebijakan&kebijakan
tertentu;
c. !pa kriteria pemecahan yang baik;
d. !pa tujuan pemecahan masalah tersebut;
6. Mengidenti"ikasi alternati"
+ang dimaksud dalam langkah ini ialah: Pengambil putusan berusaha
mengidenti"ikasi sebanyak&banyaknya cara pemecahan masalah yang
mungkin dapat dilaksanakan. Dalam hal ini perlu diingat bahwa tidak
harus semua alternati" dicari sampai tuntas karena, bagaimana pun,
manusia memiliki keterbatasan.
4. Mengadakan penilaian terhadap alternati" yang telah didapat
ohler mengemukakan adanya tipe&tipe alternati" pengambilan
putusan sebagai berikut:
a. !lternati" yang baik: dapat dilaksanakan dan menghasilkan
dampak positi".
b. !lternati" yang mudah: tidak mempunyai akibat positi" atau negati".
c. !lternati" campuran: mempunyai kemungkinan menghasilkan
dampak positi" atau negati".
d. !lternati" yang jelek: menyebabkan akibat negati".
e. !lternati" yang tidak pasti: mempunyai akibat yang tidak menentu.
"
7. Memilih alternati" yang )baik*
!lternati" yang baik bukan berarti yang mudah atau yang dapat
diterima, melainkan yang dapat dilaksanakan dan diduga akan
menghasilkan dampak positi".
.. 0mplementasi alternati" yang dipilih
#eberapa tindakan yang mungkin dilakukan dalam melaksanakan
keputusan:
a. Memberi kekuatan legal kepada keputusan tersebut= misalnya
dengan membuat surat keputusan.
b. Mengusahakan agar keputusan tersebut dapat diterima oleh orang
yang terkena keputusan tersebut.
c. Melakukan persuasi dan pengarahan bagaimana menyalurkan
hasil keputusan.
Menurut Stephen P. 1obbins dan Mary 2oulter, proses pengambilan
keputusan mencakup delapan langkah, yaitu:
,. 0denti"ikasi masalah 'Identification of a problem(
5. 0denti"ikasi criteria keputusan 'Identification of Decision Criteria(
6. !lokasi bobot pada criteria 'Allocation of Weight to Criteria(
4. Pengembangan alternati" 'Development of Alternatives(
7. !nalisis alternati" 'Analysis of Alternatives(
.. Pemilihan alternati" 'Selection of Alternatives(
8. Penerapan alternati" 'Implementation of Allternatives(
>. ?valuasi terhadap e"ektivitas keputusan 'Evaluation of Decision
effectiveness(
B. MODL P!"AMBILA! KP#$#SA!
,. Model Mint@berg, Drucker, dan Simon
Mint@berg memberikan tiga tahapan dalam pengambilan keputusan: ',(
Tahap identi"ikasi= '5( Tahap pengembangan= '6( Tahap pemilihan. Pada
tahap identi"ikasi, pengambilan keputusan, memahami masalah dan
peluang membuat diagnosis. Pada tahap pengembangan, pengambilan
keputusan mencari standar prosedur yang tersedia atau pemecahan
masalah sebagai desain baru. adang&kadang tahap ini mengandung
coba&gagal 'trial and error(. Pada tahap pemilihan, pengambil
#
keputusan dapat memilih dengan menggunakan pertimbangan, analisis
logis, basis sistematis, atau bargain.
Drucker memberikan enam langkah dalam proses pengambilan
keputusan, yaitu ',( mende"inisikan masalah= '5( menganalisis
masalah= '6( mengembangkan alternati" pemecahan masalah= '4(
memutuskan satu pemecahan masalah terbaik= '7( merencanakan
tindakan yang e"ekti"= dan '.( memantau dan menilai hasilnya.
Simon menggambarkan proses pengambilan keputusan atas tiga tahap,
yaitu: ',( kegiatan inteligen, '5( kegiatan desain, '6( kegiatan pemilihan.
egiatan inteligen seperti halnya di militer, pengambil keputusan diwali
dengan mengintai dan mengidenti"ikasi situasi dan kondisi lingkungan.
egiatan desain, pengambil keputusan menemukan, mengembangkan,
dan menganalisis kemungkinan dari aksi yang akan diambil. egiatan
pemilihan, pengambil keputusan memilih satu yang terbaik dari
sejumlah alternati".
#erdasarkan ketiga pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa proses pengambilan keputusan meliputi tiga hal, yaitu: ',(
kegiatan yang menyangkut pengenalan, penentuan, dan diagnosis= '5(
kegiatan yang menyangkut pengembangan alternati" pemecahan
masalah= '6( kegiatan yang menyangkut evaluasi dan memilih
pemecahan masalah terbaik.
5. Model Pengambilan eputusan 1asional
eputusan dapat dibedakan atas dua tipe, yaitu terprogram 'structured(
dan tidak terprogram 'unstructured(. eputusan terprogram ialah
keputusan yang selalu diulang kembali. 2ontohnya: keputusan
kenaikan kelas peserta didik, keputusan pengangkatan, keputusan
penetapan gaji pegawai baru, keputusan pensiun, dan sebagainya.
eputusan tidak terprogram ialah keputusan yang diambil untuk
menghadapi situasi dan rumit dan atau baru. 2ontohnya: keputusan
lembaga baru, keputusan terjadinya musibah kebakaran, kebanjiran,
$
robohnya sekolah, dan sebagainya. eputusan tidak terprogram disebut
juga pemecahan masalah.
6. Model Pengambilan eputusan lasik
Model pengambilan keputusan klasik berasumsi bahwa keputusan
merupakan proses rasional di mana keputusan diambil dari salah satu
alternati" terbaik. Model klasik didasarkan konsep rasionalitas lengkap
'complete rasionality(. Sesuai dengan model klasik, proses
pengambilan keputusan dibagi atas enam langkah logis, yaitu
identi"ikasi masalah, menentukan alternati", menilai alternati", memilih
alternati", menerapkan alternati", menilai keputusan.
4. Model Pengambilan eputusan Perilaku
Model ini didasarkan pada seberapa jauh keputusan itu dapat
memberikan kepuasan. Model ini juga mempertimbangkan pengambilan
keputusan atas dasar rasionalitas kontekstual dan rasionalitas respekti".
1asional kontekstual artinya keputusan tidak hanya didasarkan oleh
ketentuan tersurat 'tekstual(, tetapi juga yang tersirat 'kontekstual(.
7. Model Pengambilan eputusan 2arnegie
Model ini lebih mengakui akan kepuasan, keterbatasan rasionalitas, dan
koalisi organisasi.
.. Model Pengambilan eputusan %aya epemimpinan 2hung A
Megginson
8.
2hung dan Megginson memberikan cara pengambilan keputusan oleh
pimpinan dengan membuat enam pertanyaan berikut. ',( !pakah tugas
kelompok terstruktur; '5( !pakah hubungan pemimpin dan bawahan
baik; '6( !pakah bawahan memiliki pengetahuan kerja; '4( !pakah
pemimpin memiliki kedudukan kekuasaan yang kuat; '7( !pakah
pemimpin memiliki pengetahuan kerja; '.( !pakah kelompok memiliki
waktu menyelesaikan tugas;
%
Setiap pertanyaan ada dua pilihan jawaban ya atau tidak. !khirnya dari
berbagai variasi jawaban didapatkan perilaku kepemimpinan yang akan
diambil pemimpin.
>. Model Pengambilan eputusan #erdasarkan Man"aat
Dasar pemikirannya adalah ',( mutu keputusan, '5( kreativitas
keputusan, '6( penerimaan keputusan, '4( pemahaman keputusan, '7(
pertimbangan keputusan, dan '.( ketepatan keputusan.
Mutu keputusan artinya pengetahuan dan in"ormasi kelompok melebihi
individu. elompok dapat mengatasi atau meutupi kelemahan dan
kekurangan individu. !sumsinya ialah keputusan kelompok lebih
bermutu dibandingkan dengan keputusan individu. Man"aat keputusan
lebih besar dirasakan kelompok dibandingkan dengan man"aat bagi
individu.
reativitas keputusan artinya kreativitas kelompok lebih banyak dan
cenderung lebih baik daripada kreativitas individu. !sumsinya
kreativitas bersama lebih berman"aat daripada kreativitas individu.
Penerimaan keputusan artinya pembuatan keputusan secara partisipasi
kelompok lebih besar man"aatnya dibandingkan dengan keputusan
yang dibuat secara individu. elompok merasa dilibatkan dalam
membuat keputusan dalam membuat keputusan, konsekuensinya ialah
kelompok merasa turut bertanggung jawab dan akan menerima
keputusan itu. !sumsinya, keputusan yang dibuat secara kelompok
lebih berman"aat karena lebih diterima kelompok daripada keputusan
dibuat individual.
-. Model Pengambilan eputusan #erdasarkan Masalah
!da tiga tendensi khus yang dapat merusak proses keputusan
kelompok, yaitu: ',( pikiran kelompok, '5( perubahan berisiko, '6( dan
eskalasi komitmen.
&
Pikiran kelompok yang dapat menganggu proses keputusan berupa: ',(
tanpa sengaja menjadi sangat optimis dan berani mengambil risiko
terberat, '5( pembenaran oleh kelompok yang belum tentu benar
menurut individu lainnya, '6( kelompok mengabaikan moral dan etika,
'4( kelompok membangun stereotype sebagai pihak yang menentang
pemimpinnya, '7( kelompok mendapat tekanan pihak lain, '.( kelompok
kurang menyensor dirinya, '8( kebulatan suara hanya untuk
mendapatkan keseragaman, dan '>( kelompok melindungi pola pikirnya.
%ejala&gejala perubahan tanggung jawab: ',( kelompok menyebarkan
tanggung jawabnya ke anggota, '5( ketua kelompok paling besar
risikonya daripada anggotanya, dan mengajak anggotanya untuk
menjadi lebih besar lagi risikonya, '6( diskusi kelompok menguji pro
kontra, konsekuensinya rasa kekeluargaan lebih besar dalam seluruh
aspek masalah dan mengarah kepada tingginya risiko, dan '4( risiko
dalam bermasyarakat diharapkan oleh budaya kita, jika masyarakat
ingin maju.
omitmen yang berlebihan juga dapat mengganggu keputusan
kelompok karena tidak semua anggota senang bekerja keras.
,/. Model Pengambilan eputusan #erdasarkan :apangan
Model ini paling banyak digunakan sekolah karena ingin melibatkan
partisipasi warga sekolah dalam mengambil keputusan. ?mpat teknik
penting dalam pengambilan keputusan berdasarkan lapangan adalah
',( curah pendapat 'brainstorming(, '5( teknik grup minimal, '6( teknik
Delphi, '4( pembela yang menantang apa yang dianggap baik 'devils
advocate(.
:angkah curah pendapat: ',( sebelum curah pendapat tentukan dulu
topiknya, '5( setiap anggota bertanggung jawab atas ucapannya= '6(
setiap anggota menyampaikan pendapatnya bergiliran sampai semua
memberikan pendapatnya= '4( anggota yang belum memberikan
pendapatnya dapat dapat menyatakan )pass* sampai kesempatan
1'
berikutnya= '7( jangan mengomentari pendapat orang lain= '.( kalau ada
yang mengomentari, pimpinan siding harus menyetopnya= '8( akan
lebih cepat kalau pendapat ditulis= '>( apabila tidak ada lagi pendapat
yang masuk , curah pendapat dinyatakan selesai= '-( pendapat yang
sama dikelompokkan= ',/( pendapat yang masuk nominasi diteliti dan
dibahas= ',,( jika tidak ada kesepakatan untuk memutuskan pendapat
terbaik, baru diadakan voting.
Teknik grup minimal mirip dengan sumbang saran. #edanya ialah ide&
ide harus dievaluasi dahulu baru dikelompokkan. Teknik Delphi
dikembangkan para peneliti di 1and 2orporation pada tahun ,/./&an.
#erbeda dengan sumbang saran dan teknik kelompok nominal, teknik
Delphi menelngkapi teknik kelompok nominal yang tidak langsung
bertemu muka, tetapi melalui surat atau internet.
Pembela yang menantang apa yang dianggap baik, menggunakan
konsep pencegah pikiran kelompok. Mula&mula mereka menganggap
pikiran kelompok terlalu prematur, mereka dapat menghapuskan pikiran
kelompok. Setelah kelompok berhasil memutuskan satu alternati"
terbaik, kelompok devil ini mengajarkan kegagalan&kegagalan yang
akan dialami jika menggunakan alternati" tersebut. Balaupun kelompok
devil dianggap sebagai pihak oposisi, tetapi sering juga digunakan
orang untuk mengambil keputusan karena setelah dikoreksi , pengambil
keputusan memperbaiki keputusannya menjadi lebih baik lagi.
,,. Model Pengambilan eputusan Pohon Masalah
Pohon masalah adalah suatu teknik untuk mengidenti"ikasi masalah
dalam situasi tertentu, menyusun dan memperagakan in"ormasi ini
sebagai rangkaian hubungan sebab akibat. Mulailah dengan masalah
atau kebutuhan spesi"ik yang harus dipecahkan. 2atat semua masalah
lainnya yang diidenti"ikasikan. Teknik curah pendapat 'brainstorming(
dapat digunakan atau mengemukakan setiap masalah yang
diidenti"ikasi dengan pertanyaan: apa yang menjadi sebab masalah ini;
11
!pa yang menjadi akibat masalah ini; emudian susunlah masalah
yang diidenti"ikasi dalam hubungan sebab akibat yang logis dalam
bentuk sebuah pohon. !pabila telah selesai, susunlah ia menyerupai
bagan jenjang organisasi sederhana. ?sensi pernyataan masalah
dibuat singkat, jelas, dan bermakna negative.
,5. Model Pengambilan eputusan Strategis 3unger A Bheelen
eputusan strategis ialah keputusan jangka panjang. <angka panjang di
lingkungan pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota adalah
lima tahun sehingga perencanaan strategi 'renstra( berlaku untuk lima
tahun. Camun, pengertian jangka panjang di lingkungan dunia
pendidikan adalah 4 tahun sampai ,/ tahun. <angka menegah satu
tahun lebih sampai 4 tahun dan jangka pendek satu tahun.
Strategi berasal dari bahasa +unani, stratus yang artinya tentara dan
ago yang artinya pemimpin. Makna strategi dalam dunia kemiliteran
ialah ilmu untuk merencanakan dan mengarahkan operasi&operasi
militer berskala besar dalam menggerakkan pasukan ke oposisi yang
paling menguntungkan sebelum pertempuran sebenarnya dengan
musuh dilakukan. Sedangkan arti dari strategi adalah berhubungan atau
berkaitan dengan strategi.
%. tika Dalam Pengambilan Keputusan
?tika dide"inisikan sebagai kaidah moral yang menetapkan standar baik
atau buruk, atau benar atau salah, dalam perilaku seseorang.
Perilaku etis adalah perilaku yang diterima sebagai DbaikD atau
DbenarD sebagai lawan dari DburukD atau DsalahD.
arena tindakan tidak ilegal tidak selalu membutuhkan untuk
membuatnya etis dalam situasi tertentu.
arena nilai 'values( bervariasi, pertanyaan D!pa itu perilaku etisD
dapat dijawab secara berbeda oleh orang yang berbeda.
12
Pandangan utilitarian, individualisme, hak&moral, dan pandangan
keadilan menawarkan cara alternati" berpikir tentang perilaku etis.
1elativisme budaya berpendapat bahwa tidak ada budaya yang
secara etika unggul daripada yang lain, universalisme berpendapat
bahwa standar etika tertentu berlaku di mana&mana.
Salah satu proses membingungkan yang setiap orang temui dalam
kesehariannya adalah pengambilan keputusan etis. Erang mungkin tidak
menyadari hal ini tetapi terus&menerus digunakan. Setiap disiplin sangat
dipengaruhi oleh bagaimana orang meman"aatkan pengambilan
keputusan dan bagaimana mereka menggabungkan etika dalam proses
tersebut. #isnis, masalah medis, masalah politik hanya beberapa bidang
masalah yang bisa diterapkan. Tapi apa yang dibutuhkan agar keputusan
untuk menjadi etis; Para ahli mengatakan bahwa jika keputusan secara
moral dan legal diterima oleh komunitas yang lebih besar, itulah
keputusan yang etis. Tetapi istilah )legal* dapat dipertanyakan dalam
de"inisi tersebut. !da beberapa keputusan etis yang mungkin tidak sesuai
dengan ketentuan dan peraturan pemerintah tetapi masih dapat
diklasi"ikasikan )benar* secara moral dan etika.
#agaimana pun juga, setiap organisasi memiliki kode etik, atau peraturan
perundang&undangan yang setidak&tidaknya menjadi acuan dalam
membuat keputusan yang layak dipertanggungjawabkan sebagai
keputusan etis. <adi seseorang dikatakan membuat keputusan etis,
apabila ia memutuskan untuk melakukan itu dengan mengacu pada
aturan&aturan etis, prinsip&prinsip, standar, norma&norma yang sudah baku
dalam organisasi dan masyarakat. !pabila ia tidak mengacu pada aturan
itu maka seharusnya ia tidak boleh membuat keputusan supaya tidak
timbul kon"lik antara keputusannya dengan aturan&aturan tadi.
Suatu aturan, prinsip, standar atau norma dikatakan etis apabila dalam
keputusan itu pengambil keputusan memperhitungkan situasi dan
kepentingan orang lain yang akan terkena keputusan tadi dan
1
memberlakukannya secara objekti" tidak memihak. Dengan demikian
maka obyektivitas dalam etika memegang peranan penting dalam
mendorong lahirnya suatu keputusan yang baik.
Semua keputusan etis pada akhirnya diatur oleh suatu prinsip utilitas yang
menyatakan:
,. #ahwa suatu rangkaian tindakan dapat dianggap baik bagi
organisasi, jika dan hanya jikaitu sudah merupakan alternati" yang
terbaik dalam kondisi itu.
5. #ahwa alternati" terbaik itu adalah yang mempunyai dampak
konsekuensi yang terbaik pula.
6. #ahwa alternati" itu memaksimalkan perbandingan antara yang
baik terhadap yang buruk bagi semua pihak yang terkena.
Fntuk dapat menghasilkan keputusan yang baik dan tepat, yang pertama&
tama harus dibuat adalah merumuskan dengan jelas tujuan yang
dikehendaki. !pabila tujuan yang ingin dicapai masih kabur maka keputusan
yang akan lahir nantinya akan kabur juga, atau sama sekali menyimpang dari
yang seharusnya, antara lain berupa munculnya keputusan yang tidak etis.
:alu tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyukseskan tujuan tadi
harus pula dielaborasikan. Frut&urutan tindakan yang akan dilakukan perlu
dianalisis, dan kalau perlu dicobakan untuk suatu lingkup keputusan yang
kecil. Tetaplah teguh kepada keputusan yang sudah diambil lalu belajar dari
keputusan itu, mungkin ada yang salah. alau kemudian ternyata keputusan
itu salah segera tinggalkan.
D. Strategi pemimpin dalam pengambilan keputusan melalui model
partisipati&
articipative decision making atau shared decision making adalah cara
pengambilan keputusan dengan mengikutsertakan bawahan. 3asil&hasil
1!
penelitian menunjukkan bahwa pengambilan putusan yang partisipati" dapat
meningkatkan kee"ekti"an organisasi atau lembaga. Ewens ',-8/( membuat
generalisasi dari hasil penelitian tentang participative decision making di
sekolah sebagai berikut:
a. Partisipasi yang e"ekti" dari guru&guru dalam proses pengambilan
putusan dapat lebih menge"ekti"kan pencapaian tujuan sekolah.
b. %uru&guru tidak ingin dilibatkan dalam setiap proses pengambilan
putusan. Disamping itu juga tidak diharapkan demikian.
c. Tugas yang penting dari seorang administrator 'kepala sekolah(
adalah menentukan kapan guru&guru itu dilibatkan ke dalam proses
pengambilan putusan, dan kapan tidak dilibatkan.
d. Peranan guru dalam pengambilan putusan bermacam&macam
tergantung karakteristik masalah.
!da beberapa syarat untuk menentukan perlu&tidaknya bawahan
diikutsertakan atau berpartisipasi dalam proses pengambilan putusan, yaitu:
,. 1elevansi, apakah ada relevansi antara masalah yang dipecahkan
dengan kepentingan bawahan.
5. eahlian, apakah bawahan mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang masalah yang akan dipecahkan.
6. <urisdiksi, apakah bawahan mempunyai hak secara legal untuk ikut
serta mengambil bagian dalam proses pengambilan putusan.
4. esediaan, apakah bawahan kemauan dan bersedia untuk ikut serta
dalam pengambilan keputusan.
!da tiga jenis partisipasi yang dapat digunakan dalam pengambilan putusan:
,. Sentralisasi demokratis, yaitu prosedur pengambilan keputusan
dengan cara pemimpin mengemukakan masalah dan bawahan
diminta untuk memberikan saran&saran. Tetapi pengambilan putusan
tetap dilakukan oleh pemimpin itu sendiri.
1"
5. Parlementer, yaitu kekuasaan mengambil putusan diberikan pada
bawahan. <ika konsensus tidak dapat dicapai, pengambilan putusan
oleh bawahan dilakukan dengan sistem pemilihan.
6. Penentuan oleh peserta, yaitu pengambilan putusan yang dalam
pelaksanaannya mengutamakan konsensus. Prosedur ini dipakai jika
masalah yang diputuskan sangat penting artinya bagi bawahan, dan
diperkirakan sebelumnya bahwa konsensus akan tercapai.
III. Kesimpulan
Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan merupakan kegiatan
penting supervisor. Seorang supervisor harus mampu menemukan akar
masalah dan menemukan solusi terbaik pemecahannya. Supervisor
harus mampu mengambil keputusan yang e"ekti" dan e"isien dalam
pemecahan masalah. :angkah&langkah yang dapat diambil meliputi ',(
mengidenti"ikasi masalah dan menentukan penyebabnya, '5(
mengembangkan alternati" pemecahan masalah dan memilih yang
terbaik, serta '6( melaksanakan keputusan dan menindaklanjutinya.
Dalam pengambilan keputusan, supervisor harus dapat
mempertimbangkan masalah etika dalam pengambilan keputusan.
Setiap keputusan selalu mempertimbangkan apa yang )baik*, dan
berlaku )benar* dalam hubungannya dengan pribadi, organisasi, pro"esi
dan masyarakat terutama yang terkait langsung dengan pengambilan
keputusan.
Salah satu model yang dapat diambil dalam pengambilan putusan yaitu
articipative decision making atau shared decision making adalah cara
pengambilan keputusan dengan mengikutsertakan bawahan
Sumber Ba'aan(
1#
Dharma, !gus. '5//6(. !ana"emen Supervisi# etun"uk raktis bagi ara
Supervisor. 2et.7. <akarta: PT. 1aja %ra"indo Persada.
%erald G. 2avanugh, ',-->(, American $ussiness %alues, 4
th
?d. Fpper
Saddle 1iver, C<: Prentice&3all,
0bnu Syamsi., ',--4(, okok&pokok 'rganisasi dan !ana"emen, <akarta:
1ineka 2ipta
1obbins, Stephen P., 2oulter, Mary, '5//8( !anagement# Pearson
?ducation, 0nc., Fpper Saddle 1iver, Cew <ersey
Salusu, <., '5//7(, engambilan (eputusan Strate"ik untuk 'rganisasi
ublik dan 'rganisasi )on rofit. 2et. >. <akarta: %ramedia
Schermerhorn, <ohn 1,.'5/,/( Introduction to !anagement, <ohn Biley
and Sons '!sia( Pte :td
Simon, 3. ',--.(, *he )ew Science of !anagement Decision, Cew +ork:
3arper and 1ow
Bahab, !bdul !@is. '5//>(, Anatomi 'rganisasi dan (epemimpinan
endidikan 'Telaah terhadap Erganisasi dan Pengelolaan Erganisasi
Pendidikan(. #andung: Penerbit !l"abeta.
1$