Anda di halaman 1dari 70

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kelapa sawit bukanlah tanaman asli di Indonesia. Tanaman ini dimasukkan
pertama kali dari Afrika sebagai Sentara plasma nutfah pada tahun 1848, ditanam
di kebun Raya Bogor. Di Indonesia, komoditas kelapa sawit berupa bahan mentah
maupun hasil olahannya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa non-
migas terbesar bagi negara setelah karet dan kopi.
Pohon kelapa sawit terdiri dari 2 (dua) spesies yaitu Elaesis Guineensis
berasal Afrika Barat antara Angola dan Gambia, sedangkan pohon kelapa sawit
Amerika, Elaesis Oliefera, berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan.
kelapa sawit di Indonesia banyak ditanam kelapa sawit jenis Elaesis Guineensis.
Semula tanaman kelapa sawit hanya diusahakan oleh perkebunan besar di
Indonesia. Sejak tahun 1977-1978 pemerintah Indonesia bertekad mengubah
situasi tersebut dengan mengembangkan pola perkebunan rakyat melalui sistem
PIRBUN (Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan). Dalam konteks pembangunan
dan pengembangan pertanian, dirasakan betapa perlunya tenaga-tenaga yang lebih
spesifik, lebih berperan dan profesional serta terampil dalam menangani
bidangnya masing-masing dengan karakter kepemimpinan dan mental yang baik.
Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% perikarp dan 20% kernel yang
dilapisi kulit yang tipis. Kadar minyak dalam perikarp sekitar 35% sampai 30%.
Kelapa sawit dapat menghasilkan dua jenis minyak yang sangat berlainan, yaitu
minyak yang berasal dari daging buah kelapa sawit disebut minyak sawit kasar
(CPO/Crude Palm Oil) dan minyak yang berasal dari inti kelapa sawit yang
dinamakan minyak inti sawit (PKO/Palm Kernel Oil).
Selain dikembangkan sebagai minyak goreng, minyak sawit dapat
diaplikasikan untuk mensintesis berbagai produk pangan karena kandungan
2

mikronutrien yang tinggi seperti karotenoid (500 sampai 700 ppm) dan vitamin E
(1000 ppm). Minyak sawit mentah atau CPO berwarna merah-kekuningan
menandakan kandungan karotenoid yang tinggi. Dalam sistem pengolahan kelapa
sawit, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan seperti penimbangan,
perebusan, pemipilan, pelumatan, pengempaan, klarifikasi dan pengolahan kernel.

1.2 Tujuan PKL
a. Mengetahui proses pengolahan kelapa sawit dari Tandan Buah Segar (TBS)
sampai menjadi minyak sawit (CPO).
b. Mengetahui secara langsung keadaan perusahaan PT. Cahaya Anugerah
Plantation (PT.CAP).
c. Mampu untuk menerapkan rasa disiplin dalam dunia kerja/ industri.
d. Mampu bekerja secara bersama sama.
e. Mengetahui system laboratorium yang terdapat di dalam PKS.

1.3 Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapangan
a. Lokasi
Nama Perusahaan : PT. Cahaya Anugerah Plantation
Nama Pabrik : PKS Feliza
Desa : Puan Cepak
Kecamatan : Muara Kaman
Kabupaten : Kutai Timur
Propinsi : Kalimantan Timur
b. Waktu
Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan tanggal 05 Agustus 21 Agustus
2014
3

1.4 Laboratorium Pabrik
Laboratorium pabrik merupakan sensor bagi managemen pabrik dalam
mengatur proses efisiensi dan kualitas produk akhir. Oleh karena itu, laboratorium
pabrik harus berfungsi secara efisien dan mengeluarkan data yang akurat untuk
membantu managemen pabrik.

1.5 Fungsi Utama Laboratorium
Fungsi utama Laboratorium pabrik adalah :
1. Setiap hari mengambil sample, menganalisa dan mencatat kualitas produksi
agar dapat mengetahui ketidaknormalan dan melaporkan kepada managemen
pabrik untuk ambil tindakan segera.
2. Secara konstan mengukur ketepatan losses minyak dan kernel selama
pengolahan untuk diinformasikan kepada managemen pabrik jika ada
ketidaknormalan sehingga dapat diambil langkah perbaikan.
3. Secara teratur mengambil sample air boiler, air raw, Damint plant dan air
limbah untuk dianalisa dan dilakukan langkah perbaikan atau kontrol rutin.
4. Menentukan dan menghitung rendemen minyak dan kernel dan memastikan
angka produksi dicatat setiap hari

1.6 Management Laboratorium
1. Kebersihan laboratorium:
Laboratorium pabrik harus selalu dalam keadaan bersih dan rapi.
Tempat kerja yang bersih adalah langkah awal untuk mendapatkan tempat
kerja yang aman.
2. Keselamatan laboratorium:
1. Perhatikan kotak P3K di dalam laboratorium, pastikan selalu ada dalam
dalam keadaan lengkap untuk tindakan darurat.
2. Pastikan minimal ada 2 unit tabung pemadam kebakaran di dalam
laboratorium dan pastikan dalam keadaan baik setiap saat .
4

3. Simpan dengan baik dan terkunci larutan asam karena sangat berbahaya.
4. Simpan zat-zat kimia di tempat yang sejuk dan kering. Simpan cairan
pelarut secukupnya karena dapat menyebabkan kebakaran.
5. Melarang orang yang tidak berkepentingan masuk ke dalam laboratorium
karena mereka tidak mengerti bahaya di dalamnya.
6. Dilarang merokok di dalam laboratorium karena dapat menyebabkan
kebakaran.
7. Dilarang makan di dalam laboratorium.
8. Perhatikan tidak ada bau menyengat dari cairan pelarut yang menguap.
Jika tercium adanya bau, segera cari sumbernya dan menghentikan semua
kegiatan. Bukalah semua jendela sampai semua bau menghilang.
9. Pastikan semua petugas laboratorium memiliki alat pelindung diri atau K-
3 seperti masker, sarung tangan tahan asam dan kacamata.
10. Petugas laboratorium tidak boleh menggunakan mulut untuk
memindahkan larutan asam atau basa keras tetapi harus menggunakan
pipet.
11. Semua peralatan kaca yang digunakan untuk ekstraksi harus dalam
kondisi baik.
12. Semua perlengkapan kaca yang telah pecah harus dibuang dan tidak boleh
disimpan dalam laboratorium.
13. Analis harus mengerti bahan-bahan kimia yang berbahaya terhadap diri
dan sekitarnya. Penggunaan asam sulfat pekat, kristal Potassium
Dikhromate ataupun Potassium Permanganate untuk membersihkan
peralatan kaca harus dipastikan tidak mengandung asam sebelum
dilakukan pencucian dengan air.
14. Tambahkan selalu asam pekat perlahan-lahan ke dalam air sambil diaduk.
Jangan tambahkan air ke dalam asam pekat karena dapat menimbulkan
ledakan.
5

15. Semua botol tempat penyimpanan larutan kimia harus diberi label yang
jelas.
16. Semua pekerjaan dalam laboratorium harus selalu memperhatikan
prosedur keselamatan kerja.

1.7 Perlengkapan Laboratorium
1.7.1 Timbangan analitik digital
1. Letakkan timbangan di atas meja yang kokoh bebas dari getaran.
2. Pastikan timbangan telah tepat pada posisinya dengan melihat water
pass timbangan.
3. Kalibrasi timbangan dengan berat yang tetap setiap minggu.
4. Letakkan segelas silica gel di dalamnya dan pastikan silica tersebut
selalu berwarna biru.
5. Tutup timbangan apabila tidak sedang dipergunakan.
6. Bersihkan segera apabila ada yang tertumpah.

1.7.2 Top pan balance
1. Letakkan timbangan di atas meja yang kokoh bebas dari getaran.
2. Pastikan timbangan diletakkan di tempat yang sejuk.
3. Kalibrasi timbangan dengan berat yang tetap setiap minggu.
4. Bersihkan segera apabila ada yang tertumpah.

1.7.3 Oven Konvensional
1. Pastikan suhu oven 103 - 200
o
C
2. Kalibrasi suhu dengan termometer yang sesuai setiap minggu.
3. Jangan mengeringkan peralatan kacayang basah dalam oven apabila
oven sedang dipergunakan untuk uji kadar air.
4. Bersihkan segera apabila ada yang tertumpah.
6


1.7.4 Dessicator
1. Letakan sedikit silicon antara dessicator dan penutupnya.
2. Pastikan silica gel di dalamnya bekerja dengan baik dan selalu
berwarna biru.

1.7.5 Sokhlet Extraction Unit
1. Pastikan air selalu mengalir melalui condensor apabila sedang
digunakan.
2. Pastikan condensor dalam keadaan bersih dan tidak ada masalah.
3. Jangan menggunakan condenser, extractor dan flat bottom flask yang
retak.
4. Pelarut yang digunakan harus bebas dari bahan pencemaran.

1.7.6 Peralatan Kaca
1. Bahan kaca harus bersih. Jika kotoran yang dicuci dengan detergen
tidak bisa hilang, gunakan pencuci larutan asam.
2. Simpan bahan kaca di tempat yang sesuai.

1.8 Bahan Kimia
1. Semua larutan kimia harus diberi label untuk menunjukan tipe dan
kekuatannya.
2. Semua larutan kimia harus disimpan di tempat yang sejuk dan kering.
3. Larutan asam dan basa yang keras, harus disimpan di tempat terkunci.

1.9 Sampling
2. Pastikan semua tempat pengambilan sample mempunyai peralatan.
3. Pastikan tempat pengambilan sample tidak membahayakan petugas yang
mengambil sample.
7

4. Pastikan sample diambil berdasarkan jadwal yang telah ada.
5. Pastikan jumlah sample yang diambil telah benar.
6. Setiap hari asisten Labor harus mengecek sample secara acak.

1.10 Analisa
1. Pastikan analisa berdasarkan prosedur yang ada.
2. Setiap hari asisten Labor harus mengecek analisa secara acak.

1.11 Perhitungan
1. Pastikan perhitungan berdasarkan prosedur yang ada.
2. Setiap hari asisten Labor harus mengecek perhitungan secara acak.

1.12 Pencatatan
1. Semua buku pencatatan harus disampul dengan kertas yang tebal.
2. Gunakan selembar kertas untuk mencatat yang tidak sesuai.
3. Semua pencatatan dan penghitungan berat harus menggunakan pena.
4. Koreksi kesalahan pencatatan tidak boleh menggunakan penghapus,
tetapi dicoret dan diparaf kembali.

8

BAB II
KEADAAN UMUM

2.1 Sejarah Singkat PKS PT Cahaya Anugerah Plantation
PT Cahaya Anugrah Plantation didirikan pada tahun 2008. Pada awal tahun
2010, PT Cahaya Tiara Plantation mengambil alih PT Anugerah Urea Sakti, yang
telah mempunyai 7.100 hektar kelapa sawit yang bertempat di kabupaten Kutai
Kartanegara, Kalimantan Timur. Seperti salah satu cabang dari PT Cahaya Tiara
Plantation, nama dari PT Anugerah Urea Sakti diubah menjadi PT Cahaya Anugerah
Platation pada penghujung 2011.
PT Cahaya Anugerah Plantation mempunyai kebun inti seluas 6.200 hektar
yang terdiri dari dua estate dan memiliki perkebunan plasma seluas 2.100 hektar yang
bertempat di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kalimantan Timur.
Menyadari bahwa kebutuhan minyak kelapa sawit kasar berkualitas sangat
besar, maka PT Cahaya Anugerah Plantation bersama-sama dengan PT Cahaya Tiara
Plantation mengawali desain untuk membangun pabrik kelapa sawit (PKS) dengan
kapasitas 30 ton /jam (direncanakan diperbesar menjadi 60 ton/jam yang ditempatkan
di sekitar perkebunan sawit PT Cahaya Anugerah Plantation di Estate Feliza devisi 2.


9

BAB 3
PROSEDUR KERJA
3.1. MUTU PRODUKSI
3.1.1. Oil Storage
A. Lokasi Pengambilan Sampel
Storage Tank
B. Jenis analisa :
1. Penentuan kandungan asam lemak bebas (FFA)
2. Penentuan kadar kadar air dalam minyak
3. Penentuan kadar kotoran dalam minyak
C. Peralatan :
1. Timbangan Analitik
2. Oven conversional
3. Dessikator
4. Kertas saring GF/B
5. Gooch crucible
6. Batang pengaduk
7. Pompa vacuum
8. Automatic burrete
9. Erlemeyer
10. Gelas ukur
11. Pipet
12. Hot Plate
D. Bahan :
1. Sampel CPO dalam Storage Tank
10

2. Hexane
3. Larutan Phenolpthalein AR (analitical reagent) 1%. Cara membuat :
timbang 1 gram dari penolpthalein dan campurkan dengan 100 ml
ethanol.
4. Sodium hydroxide AR 0,1 N mengenai standarisasi dari sodium
hydroxide.
5. Iso propil alkohol (IPA) yang telah dinetralkan lebih dahulu dengan
menggunakan indikator pp dan larutan NaOH.
E. Prosedur Percobaan
a. Penentuan Kandungan ALB (Asam Lemak Bebas)
1. Timbang 4 gram minyak.
2. Ukur 30 ml IPA dan masukkan dalam gelas erlemeyer kapasitas 50 ml,
tambahkan 4 tetes phenolphtalein dan digoyang hingga campur dengan
baik.
3. Titrasi dengan 0,1 N Sodium hydroxide (NaOH) tetes demi tetes
dengan buret sampai larutan menjadi berwarna jingga lemah.
4. Pindahkan IPA yang telah dinetralisir ke dalam erlemeyer yang berisi
minyak.
5. Letakkan gelas erlemeyer dan isinya pada magnetic stirrer, biarkan
campuran tersebut mendidih perlahan-lahan. Sementara itu digoyang
agar minyak pecah menjadi tetesan kecil-kecil.
6. Titrasi dengan larutan 0,1 N NaOH , goyang terus hingga timbul
warna jingga yang tidak hilang selama 30 detik.
7. Perhitungan
ALB =


Dimana,
TV = Volume NAOH yang digunakan
11

N = Normalitas NAOH
W2-W1 = berat minyak yang digunakan
b. Penentuan Kadar Air
Pertama kali sebelum menganalisa harus diperhatikan suhu
minyak tersebut 55-66 dan sudah homogen sebelum dilakukan sub
sampling.
1. Keringkan petri dish yang bersih dalam oven selama 15 menit pada
103C.
2. Biarkan menjadi dingin dalam desikator jam.
3. Timbang petri dish dengan timbangan analitik W1 (wadah)
4. Panaskan sample minyak pada hot plate.
5. Tuangkan kira-kira 10 gram sample minyak kedalam petri dish W2
(sample)
6. Keringkan minyak dalam oven selama 1 jam pada temperatur
130C.
7. Dinginkan sampel tersebut di desikator selama jam sebelum
ditimbang kembali W3 (wadah + sample kering).
8. Perhitungan :
% Kadar Air =


c. Penentuan Kadar Kotoran (Kotoran Yang Tidak Larut)
1. Masukkan kertas glass fibre filter kedalam gooch crucible, kemudian
cuci dengan sedikit hexane, sehingga gooch crucible dan kertas filter
glass fibre sedikit basah. Keringkan di dalam oven selama 30 menit
pada suhu 1032
o
C, kemudian dinginkan dalam dessikator selama 30
menit.
2. Timbang gooch crucible dengan timbangan analitik W1 (wadah)
12

3. Panaskan sample minyak pada hot plate.
4. Aduk minyak produksi pada beaker 500 ml hingga rata.
5. Tuangkan 20 gram sample minyak yang sudah di zero kan W2 (
sample)
6. Tambahkan hexane ke dalam beaker yang mengandung sample.
7. Panaskan beaker di atas hot plate sampai mendidih.
8. Letakkan gooch crucible ke dalam pompa vacum filter flask
9. Tuangkan sample ke dalam gooch crucible, gunakan sedikit hexane
untuk mencuci beaker hingga bersih.
10. Kelurkan gooch crucible dari pompa vacum filter flash.
11. Keringkan gooch crucible didalam oven konversional selama 1
jam.pada suhu 130 2
o
C dan dinginkan di dalam dessikator selama 30
menit, kemudian ditimbang W3 (wadah +kotoran).
12. Perhitungan:
%Kadar Kotoran =


3.1.2 Oil Produksi
A. Ruang lingkup
Sample oil produksi, oil gutter (COT), Sludge underflow dan oil bunch
press.
B. Jenis Analisa
1. Penentuan kandungan asam lemak bebas (FFA)
2. Penentuan kadar kadar air dalam minyak
3. Penentuan kadar kotoran dalam minyak
C. Peralatan
1. Wadah tertutup
2. Botol plastic 100 ml
13

3. Petri disk
4. Timbangan digital
5. Oven conversional
6. Dessikator
7. Kertas filter GF/B
8. Gooch crucible
9. 500 ml beaker
10. 100 ml beaker
11. Hot plate
12. Vacum pump fitted dengan filter flask
13. Gelas Erlenmeyer 250 ml
14. 50 ml measuring cylinder
15. Automatic burette
D. Bahan
1. Sampel oil pada Transfer Pump
2. Hexane
3. Isopropyl Alkohol
4. Phenolphthalein Indicator
5. 0,1 N NAOH
E. Prosedur Percobaan
a. Penentuan Kandungan ALB (Asam Lemak Bebas)
1. Panaskan sample minyak pada hot plate.
2. Aduk minyak produksi pada beaker 500 ml hingga rata.
3. Timbang erlenmeyer lalu zero kan, tuangkan 3-5 gram sample minyak ke
dalam gelas Erlenmeyer yang sudah di timbang W1 (sample)
4. Standarkan alcohol dengan cara :
5. Ambil sample alcohol sebanyak 50 ml
14

6. Masukkan PP indicator 4 tetes.
7. Tritasi dengan NAOH sampai berubah warna menjadi ungu.
8. Catat volume NAOH yang digunakan - TV
9. Perhitungan sample pada jam 11:30 :
a. ALB =


b. Dimana,
c. TV = Volume NAOH yang digunakan
d. N = Normalitas NAOH
e. W2-W1 = berat minyak yang digunakan
b. Penentuan Kadar air
1. Kocok sample hingga tercampur rata
2. Keringkan petri dish beaker glass 100 ml di dalam oven selama 30 menit
pada suhu 103 2
o
C, kemudian dinginkan dalam desicator selama 30
menit.
3. Timbang petri dish dengan timbangan digital W1 (wadah)
4. Panaskan sample minyak pada hot plate.
5. Tuangkan kira-kira 10 gram sample minyak kedalam petri dish W2
(sample)
6. Keringkan petri dish yang berisi sample didalam oven konversional
selama 90 menit pada suhu 103 2
o
C.
7. Keluarkan petri dish dari oven dan biarkan dingin di desicator selama 30
menit sebelum ditimbang W3 (wadah + sample kering).
8. Perhitungan :
% Kadar Air =


c. Penentuan Kadar Kotoran
1. Masukkan kertas glass fibre filter kedalam gooch cucible , kemudian cuci
dengan sedikit hexane, sehingga gooch crucible dan kertas filter glass
15

fibre sedikit basah. Keringkan di dalam oven selama 30 menit pada suhu
1032
o
C, kemudian dinginkan dalam desikator selama 30 menit.
2. Timbang gooch crucible dengan timbangan digital W1 (wadah)
3. Panaskan sample minyak pada hot plate.
4. Aduk minyak produksi pada beaker 500 ml hingga rata.
5. Tuangkan 20 gram sample minyak yang sudah di zero kan W2 (
sample)
6. Tambahkan hexane ke dalam beaker yang mengandung sample.
7. Panaskan beaker di atas hot plate sampai mendidih .
8. Letakkan gooch crucible ke dalam vacuum filter flask
9. Tuangkan sample ke dalam gooch crucible, gunakan sedikit hexane untuk
mencuci beaker hingga bersih.
10. kelurkan gooch crucible dari vacuum filter flash.
11. Keringkan gooch crucible didalam oven konversional selama 1
jam.pada suhu 1302
o
C dan dinginkan di dalam dessikator selama 30
menit, kemudian ditimbang W3 (wadah +kotoran).
12. Perhitungan :
%Kadar Kotoran =



3.1.3 Kernel Storage
A. Lokasi Pengambilan Sampel
Bunker Kernel
B. Jenis analisa
1. Penentuan kadar kotoran
2. Penentuan kadar air
C. Peralatan
1. Wadah tertutup
2. Botol plastik 100 ml
16

3. Petri disk
4. Timbangan digital
5. Oven conversional
6. Dessicator
7. Kertas filter GF/B
8. Gooch crucible
9. 500 ml beaker
10. 100 ml beaker
11. Hot plate
12. Vacum pump fitted dengan filter flask
13. Gelas Erlenmeyer 250 ml
14. 50 ml measuring cylinder
15. Automatic burette
D. Bahan
1. Sampel
E. Prosedur :
a. Penentuan Kadar Kotoran
1. Timbang sampel kernel. W1
2. Letakan sampel dan di keluarkan dari plastik di atas permukaan yang
kering.
3. Memisahkan antara :
a. cangkang nut utuh : 2 = W2
b. cangkang nut pecah : 3 = W3
c. cangkang W4
d. kernel pecah.
4. Kemudian ditimbang kembali dan hasilnya di catat.
5. Perhitungan :
%Kadar kotoran =


17


b. Penentuan Kadar Air
1. Mengambil sampel karnel utuh dan di tumbuk sampai halus.
2. Keringkan petri dish yang bersih dalam oven selama 15 menit pada
103C.
3. Biarkan menjadi dingin dalam desikator 30 menit.
4. Timbang petri dish dengan timbangan analitik W1 (wadah)
5. Timbang kira-kira 10 gram sample karnel kedalam petri dish W2
(sample)
6. Keringkan karnel dalam oven selama 90 menit pada temperatur
130C.
7. Dinginkan sampel tersebut di desikator selama 90 menit sebelum
ditimbang kembali W3 (wadah + sample kering).
8. Perhitungan
% Kadar Air =


3.1.4 Kernel Produksi
A. Lokasi Pengambilan Sampel
Silo Dryer
B. Jenis Analisa
1. Penentuan kadar kotoran
2. Penentuan kadar air.
C. Peralatan
1. Top balance
2. Besi tempat penumbuk
3. Petri dish
4. Conventional oven
5. Dessicator
6. Timbangan analitik
7. Microwave oven dengan penunjuk waktu
18

8. Oven konvensional
D. Bahan
1. Sampel
E. Prosedur Percobaan
a. Penentuan Kadar Kotoran
1. Timbang sampel kernel. W1
2. Letakan sampel dan di keluarkan dari plastik di atas permukaan yang
kering.
3. Memisahkan antara :
- cangkang nut utuh : 2 = W2
- cangkang nut pecah : 3 = W3
- cangkang W4
- kernel pecah.
4. Kemudian ditimbang kembali dan hasilnya di catat.
5. Perhitungan :
%Kadar kotoran =



b. Penentuan Kadar Air
1. Mengambil sampel karnel utuh dan di tumbuk sampai halus.
2. Keringkan petri dish yang bersih dalam oven selama 15 menit pada
103C.
3. Biarkan menjadi dingin dalam desikator 30 menit.
4. Timbang petri dish dengan timbangan analitik W1 (wadah)
5. Timbang kira-kira 10 gram sample karnel kedalam petri dish W2
(sample)
6. Keringkan karnel dalam oven selama 90 menit pada temperatur
130C.
19

7. Dinginkan sampel tersebut di desikator selama 90 menit sebelum
ditimbang kembali W3 (wadah + sample kering).
8. Perhitungan
% Kadar Air =


3.2 LOSSES
3.2.1 Oil Losses
A. Lokasi Pengambilan Sampel
1. Final Effluent
2. Fibre Cyclone
3. Bunch Press
4. Polishing Drum
B. Jenis Analisa
1. % Moisture
2. % O/DM
3. % O/WM
4. % NOS

C. Peralatan
1. 250 ml beaker glass
2. Conventional oven
3. Dessicator
4. Analytical balance
5. Breaker glas 100 ml
6. Kapas
7. Whatman Filter paper / Tissu
8. Extraksi Timble
9. Soxhlet extraction unit
20

10. Flat bottom flask
D. Bahan
1. Sampel
2. Hexane
E. Prosedur Kerja
a. Sample Cairan dari Final Effluent
1. Kocok wadah berisi sample hingga merata.
2. Tuangkan sample tersebut ke dalam beaker 250 ml dan aduk hingga Srat.
3. Keringkan Breaker Glas 100 ml di dalam oven selama 30 menit pada
suhu 1032
0
C kemudian dinginkan di dalam dessicator selama 30 menit.
4. Letakkan Whatman filter paper / Tissu ke dalam Breaker glass 100
mla
5. Timbang Breaker glas beserta whatman paper/ Tissu dengan
menggunakan timbangan digital W1.( wadah 1 )
6. Tuangkan 50 ml sample ke whatman filter paper / Tissu dalam Breaker
glass 100ml - W2.( Sample )
7. Keringkan Breaker glas yang berisi sample dalam oven pada suhu
1032
0
C selama 10 jam atau satu malam.
8. Keluarkan breaker glas dari oven dan dinginkan dalam dessicator selama
30 menit kemudian ditimbang W3 (wadah 1 + sample kering)
9. Ambil Whatmat filter paper/ Tissu dari dalamBreaker glas dan bersihkan
sisa minyak.
10. Balut Whatmat filter paper yang mengandung sample kering dengan
menggunakan Whatmat filter paper / Tissu dan masukkan ke Extraksi
thimble, tutup ujungnya dengan menggunakan kapas.
11. Masukkan Extraksi thimble ke dalam soxhlet extraction.
12. Timbang flat battom flask W4( wadah 2) dan isi dengan Hexan 150
ml,
13. Letakkan soxhlet extraction yang dipasang pada flat bottom flask.
21

14. Pasang soxhlet extraction dan flat bottom flask ke unit soxhlet extraction.
Extract selama 4 jam, apabila extraction telah selesai hexane akan
berwarna jernih.
15. Suling keluar hexane hingga flat bottom flask tidak mengandung hexane.
16. Keringkan flat bottom flask yang mengandung minyak ke dalam oven
pada suhu 1032
0
C selama 90menit
17. Keluarkan flat bottom flask dari oven dan dinginkan dalam dessicator
selama 30 menit kemudian ditimbang W5( Wdah 2 + oil )
18. Perhitungan :
- % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

- % O/WM =
100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

- % O/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


- % NOS = 100% - % moisture - % O/WM
b. Sampel fiber dari Fibre Cyclone
1. Pisahkan fibre dari sample, dicampur dan dibagi sampai akhirnya
mendapat 20-50 gram fibre.
2. Potong-potong fibre sample dengan menggunakan gunting.
3. Keringkan Breaker glass di dalam oven selama 30 menit pada suhu
1032
0
C kemudian dinginkan di dalam dessicator selama 30 menit.
4. Timbang Breaker glass dengan menggunakan timbangan digital W1
(wadah 1)
5. Tuangkan dan timbang sample fibre yang telah di potong potong 10
gram ke dalam breaker glas W2.( sample)
6. Keringkan Breaker glas yang berisi sample ke dalam oven selama 10 jam
22

7. Keluarkan Breaker glas yang berisi sample dari oven kemudian dinginkan
ke dalam dessicator selama 30 menit, kemudian ditimbang W3 ( wadah
1 + sample kering)
8. Sample fiber yang sudah di keringkandi tuang diatas kertas filter / Tissu
(hati-hati agar sample tidak tumpah). Keluarkan sisa-sisa di dalam
breaker glas menggunakan kapas. Gulung kertas filter yang berisi sample
dan kapas. Masukkan ke dalam Extraksi thimble Tutup mulut Extraksi
thimble menggunakan kapas agar sample tidak keluar.
9. Letakkan extraksi thimble ke dalam soxhlet extractor yang dipasang
dengan flat bottom flask yang telah ditimbang W4.(wadah 2)
10. Tuangkan 150 ml hexane ke dalam flat bottom flask.
11. Pasang soxhlet extractor dan flat bottom flask ke unit soxhlet extraction.
Extract selama 4 jam, apabila extraction telah selesai hexane akan
berwarna jernih.
12. Suling keluar hexane hingga flat bottom flask tidak mengandung hexane.
13. Keringkan flat bottom flask yang mengandung minyak ke dalam oven
pada suhu 1032
0
C selama 90 menit.
14. Keluarkan flat bottom flask dari oven dan dinginkan dalam dessicator
selama 30 menit kemudian ditimbang W5.( Wadah 2 + Oil )
15. Perhitungan :
- % Moisture = 100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

- % O/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

- % O/DM = 100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


- % NOS = 100% - % moisture - % O/WM
23

c. Sampel Nut Basah dari Polishing Drum
1. Ambil sample nut yg telah di kumpulkan 20-30 gram
2. Pisahkan cangkang dari intinya
3. Keringkan breaker glass di dalam oven selama 30 menit pada suhu
1032
0
C kemudian dinginkan di dalam dessicator selama 30 menit.
4. Timbang Breaker glas dengan menggunakan timbangan digital
W1.(wadah 1)
5. Timbang cangkang yg telah di pisahkan ke dalam Breaker glas W2
( sample)
6. Keringkan breaker glas yang berisi sample ke dalam oven selama 10 jam.
7. Keluarkan Breaker glas yang berisi sample dari oven kemudian dinginkan
ke dalam dessicator selama 30 menit, kemudian ditimbang W3 ( wadah
1 + sample kering)
8. Sample cangkang yang sudah di keringkandi tuang diatas kertas filter /
Tissu (hati-hati agar sample tidak tumpah). Keluarkan sisa-sisa di dalam
breaker glas menggunakan kapas. Gulung kertas filter yang berisi sample
dan kapas. Masukkan ke dalam Extraksi thimble Tutup mulut Extraksi
thimble menggunakan kapas agar sample tidak keluar.
9. Letakkan whatman sellulose ke dalam soxhlet extractor
10. Timbang Flat bottom flask W4 ( wadah 2) ,Tuangkan 150 ml hexane ke
dalam flat bottom flask.
11. Pasang soxhlet extractor dan flat bottom flask ke unit soxhlet extraction.
Extract selama 4 jam, apabila extraction telah selesai hexane akan
berwarna jernih.
12. Suling keluar hexane hingga flat bottom flask tidak mengandung hexane.
24

13. Keringkan flat bottom flask yang mengandung minyak ke dalam oven
pada suhu 1032
0
C selama 90 menit
14. Keluarkan flat bottom flask dari oven dan dinginkan dalam dessicator
selama 30 menit kemudian ditimbang W5 ( wadah 2 + oil)
15. Perhitungan:
- % Moisture = 100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

- % O/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

- % O/DM = 100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


- % NOS = 100% - % moisture - % O/WM
d. Sampel dari Bunch Press
1. Hitung 50 janjang kosong di inclined conveyor dan untuk janjangan
komposting estimasi dalam menghitung janjangan.
2. Ambil janjang kosong pada hitungan ke 25 dan 50.
3. Masing-masing janjang kosong dipotong diagonal menjadi empat
bagian,dan untuk janjangan komposting cukup di kwartering.
4. Pilih 1 bagian dari janjang kosong dan belah sampai panjangnya menjadi
1 inchi.dan untuk janjangan komposting ambil satu bagian kwartering dan
di potong hingga 1 inci, Kemudian masukkan ke dalam plastic. Sample
yang diambil setiap 2 jam dimasukkan ke dalam plastik yang sama.
5. Pada akhir pengambilan sample, campur sample secara keseluruhan di
bagi sampai akhirnya mendapat 25-50 gram.
6. Potong-potong sample dengan menggunakan gunting, campurkan dan
dibagi sampai mendapat 10 gram janjangan kosong
25

7. Keringkan Breaker glass di dalam oven selama 30 menit pada suhu
1032
0
C kemudian dinginkan di dalam dessicator selama 30 menit.
8. Timbang Breaker glas dengan timbangan digital W1.( wadah 1)
9. Timbang sample janjangan kosong 10 gram kedalam breaker glas
W2.( sample)
10. Keringkan Breaker glass yang berisi sample ke dalam oven selama 10
jam.
11. Keluarkan Breaker glass yang berisi sample dari oven kemudian
dinginkan ke dalam dessicator selama 30 menit, kemudian ditimbang
W3 ( wadah 1+ sample kering)
12. Sample cangkang yang sudah di keringkandi tuang diatas kertas filter /
Tissu (hati-hati agar sample tidak tumpah). Keluarkan sisa-sisa di dalam
breaker glas menggunakan kapas. Gulung kertas filter yang berisi sample
dan kapas. Masukkan ke dalam Extraksi thimble Tutup mulut Extraksi
thimble menggunakan kapas agar sample tidak keluar.
13. Letakkan extraksi thimble ke dalam soxhlet extractor
14. Timbang Flat bottom flask W4 ( wadah 2) ,Tuangkan 150 ml hexane ke
dalam flat bottom flask.
15. Pasang extractor dan flat bottom flask ke unit soxhlet extraction. Extract
selama 4 jam, apabila extraction telah selesai hexane akan berwarna
jernih.
16. Suling keluar hexane hingga flat bottom flask tidak mengandung hexane.
17. Keringkan flat bottom flask yang mengandung minyak ke dalam oven
pada suhu 1032
0
C selama 90 menit
26

18. Keluarkan flat bottom flask dari oven dan dinginkan dalam dessicator
selama 30 menit kemudian ditimbang W5 ( wadah 2 + oli ).
19. Perhitungan :
% Moisture = 100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

% O/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% O/DM = 100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


% NOS = 100% - % moisture - % O/WM
3.2.2 Kernel Losses
A. Lokasi Pengambilan Sampel
1. Fibre Cyclone
2. LTDS
3. Hydro Cyclone
B. Jenis Analisa
1. % Kernel Utuh
2. % Kernel Pecah
3. % Kernel dari Nut Utuh
4. % Kernel dari Nut pecah
5. % Total kernel loss
C. Peralatan
1. Top Balance
D. Bahan
1. Sampel
E. Prosedur Kerja
a. Sampel dari Fibre Cyclone, LTDS 1 dan 2, Hydro Cyclone
27

1. Timbang sample 1000 gram dengan menggunakan top balance
W1( sample)
2. Tuangkan sample ke permukaan yang bersih. Sample dipisah dan
ditimbang sebagai berikut :
- Kernel Utuh = W2
- Kernel Pecah = W3
- Kernel dari Nut utuh = W4
- Kernel dari Nut pecah = W5
3. Perhitungan :
- % Kernel Utuh = 100
1
2
X
W
W

- % Kernel Pecah = 100
1
3
X
W
W

- % Kernel dari Nut Utuh = 100
1
4
X
W
W

- % Kernel dari Nut pecah = 100
1
5
X
W
W

- % Total kernel loss = 100
1
5 4 3 2
X
W
W W W W

3.3 ANALISA KONTROL KERJA
3.3.1 Oil
A. Lokasi Pengambilan Sampel
1. Condensat Pit
2. Under Flow
3. Sludge Separator
28

4. Empty Bunch Conveyor
5. Screw Press
6. Bunch Press
7. COT
B. Jenis Analisa
1. % Moisture
2. % O/DM
3. % O/WM
4. % NOS
C. Peralatan
1. 250 ml beaker glass
2. Conventional oven
3. Dessicator
4. Analytical balance
5. Breaker glas 100 ml
6. Kapas
7. Whatman Filter paper / Tissu
8. Extraksi Timble
9. Soxhlet extraction unit
10. Flat bottom flask
D. Bahan
1. Sampel
2. Hexane
E. Prosedur Kerja
a. Sampel Cairan dari Condensat Pit, Under Flow, Sludge Separator
1. Kocok wadah berisi sample hingga merata.
2. Tuangkan sample tersebut ke dalam beaker 250 ml dan aduk hingga
Srat.
29

3. Keringkan Breaker Glas 100 ml di dalam oven selama 30 menit pada
suhu 1032
0
C kemudian dinginkan di dalam dessicator selama 30
menit.
4. Letakkan Whatman filter paper / Tissu ke dalam Breaker glass 100
mla
5. Timbang Breaker glas beserta whatman paper/ Tissu dengan
menggunakan timbangan digital W1.( wadah 1 )
6. Tuangkan 50 ml sample ke whatman filter paper / Tissu dalam Breaker
glass 100ml - W2.( Sample )
7. Keringkan Breaker glas yang berisi sample dalam oven pada suhu
1032
0
C selama 10 jam atau satu malam.
8. Keluarkan breaker glas dari oven dan dinginkan dalam dessicator
selama 30 menit kemudian ditimbang W3 (wadah 1 + sample kering)
9. Ambil Whatmat filter paper/ Tissu dari dalamBreaker glas dan
bersihkan sisa minyak.
10. Balut Whatmat filter paper yang mengandung sample kering dengan
menggunakan Whatmat filter paper / Tissu dan masukkan ke Extraksi
thimble, tutup ujungnya dengan menggunakan kapas.
11. Masukkan Extraksi thimble ke dalam soxhlet extraction.
12. Timbang flat battom flask W4( wadah 2) dan isi dengan Hexan
150 ml,
13. Letakkan soxhlet extraction yang dipasang pada flat bottom flask.
14. Pasang soxhlet extraction dan flat bottom flask ke unit soxhlet
extraction. Extract selama 4 jam, apabila extraction telah selesai
hexane akan berwarna jernih.
15. Suling keluar hexane hingga flat bottom flask tidak mengandung
hexane.
16. Keringkan flat bottom flask yang mengandung minyak ke dalam oven
pada suhu 1032
0
C selama 90menit
30

17. Keluarkan flat bottom flask dari oven dan dinginkan dalam dessicator
selama 30 menit kemudian ditimbang W5( Wdah 2 + oil )
18. Perhitungan :
- % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

- % O/WM =
100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

- % O/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


- % NOS = 100% - % moisture - % O/WM
b. Sampel dari Empty Bunch Conveyor dan Screw Press
1. Hitung 50 janjang kosong di inclined conveyor dan untuk janjangan
komposting estimasi dalam menghitung janjangan.
2. Ambil janjang kosong pada hitungan ke 25 dan 50.
3. Masing-masing janjang kosong dipotong diagonal menjadi empat
bagian,dan untuk janjangan komposting cukup di kwartering.
4. Pilih 1 bagian dari janjang kosong dan belah sampai panjangnya
menjadi 1 inchi.dan untuk janjangan komposting ambil satu bagian
kwartering dan di potong hingga 1 inci, Kemudian masukkan ke dalam
plastic. Sample yang diambil setiap 2 jam dimasukkan ke dalam
plastik yang sama.
5. Pada akhir pengambilan sample, campur sample secara keseluruhan di
bagi sampai akhirnya mendapat 25-50 gram.
6. Potong-potong sample dengan menggunakan gunting, campurkan dan
dibagi sampai mendapat 10 gram janjangan kosong
31

7. Keringkan Breaker glass di dalam oven selama 30 menit pada suhu
1032
0
C kemudian dinginkan di dalam dessicator selama 30 menit.
8. Timbang Breaker glas dengan timbangan digital W1.( wadah 1)
9. Timbang sample janjangan kosong 10 gram kedalam breaker glas
W2.( sample)
10. Keringkan Breaker glass yang berisi sample ke dalam oven selama 10
jam.
11. Keluarkan Breaker glass yang berisi sample dari oven kemudian
dinginkan ke dalam dessicator selama 30 menit, kemudian ditimbang
W3 ( wadah 1+ sample kering)
12. Sample cangkang yang sudah di keringkandi tuang diatas kertas filter /
Tissu (hati-hati agar sample tidak tumpah). Keluarkan sisa-sisa di
dalam breaker glas menggunakan kapas. Gulung kertas filter yang
berisi sample dan kapas. Masukkan ke dalam Extraksi thimble Tutup
mulut Extraksi thimble menggunakan kapas agar sample tidak keluar.
13. Letakkan extraksi thimble ke dalam soxhlet extractor
14. Timbang Flat bottom flask W4 ( wadah 2) ,Tuangkan 150 ml hexane
ke dalam flat bottom flask.
15. Pasang extractor dan flat bottom flask ke unit soxhlet extraction.
Extract selama 4 jam, apabila extraction telah selesai hexane akan
berwarna jernih.
16. Suling keluar hexane hingga flat bottom flask tidak mengandung
hexane.
17. Keringkan flat bottom flask yang mengandung minyak ke dalam oven
pada suhu 1032
0
C selama 90 menit
32

18. Keluarkan flat bottom flask dari oven dan dinginkan dalam dessicator
selama 30 menit kemudian ditimbang W5 ( wadah 2 + oli ).
19. Perhitungan :
- % Moisture = 100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

- % O/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

-
% O/DM = 100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


- % NOS = 100% - % moisture - % O/WM
c. Sampel Cairan dari Under Flow, Bunch Press dan COT (Analisa
Sentrifuge)
1. Masukkan sampel yang diaduk homogen kedalam tabung centrifuge.
2. Masukkan tabung centrifuge kedalam chamber tabung pada alat
centrifuge.
3. Pastikan bahwa rotor berputar dengan kondisi setimbang.
- Isi sampel kedalam tabung centrifuge dengan sama banyaknya.
- Tempat tabung centrifuge dengan posisi saling berlawanan.
- Contoh :
4. Set timer untuk 5 menit dan kecepatan putar 200 rpm. Tutup
alatcentrifuge dan pastikan terkunci.
5. Tekan tombol start dan biarkan alat beroperasi hingga selesai sesuai
settingtimer.
33

6. Tekan tombol start dan biarkan beroperasi hingga selesai sesuai
settingtimer.
7. Setelah alat berhenti, buka tutup centrifuge dan keluarkan tabung
centrifuge.
8. Catatan : Alat harus terletak pada meja yang kokoh atau kuat, misal
meja batu dan buka tutup alat setelah alat berhenti berputar.
9. Di catat kadar oil dan air
3.4 ANALISA AIR
3.4.1 Raw Water, Sand Filter, Cation, Anion dan Feed Tank
A. Lokasi Pengambilan Sampel
1. Waduk
2. Sand Filter
3. Cation Tank
4. Anion Tank
5. Feed tank
B. Jenis Analisa
1. TDS (Total Dissolve Solid)
2. pH
3. T Hardness
4. Silica
C. Peralatan
1. TDS Meter
2. Kertas Lakmus
3. Gelas Ukur
4. Gelas Piala 100 ml
5. Cuvet
6. Komparator
34

7. Silica Disk
8. Gelas Beaker
9. Spatula
10. Pipet
11. Erlenmeyer 250 ml
12. Alat titrasi
D. Bahan
1. Sampel air
2. Buffer Solution
3. Total Hardness Indicator
4. EDTA Solution (Hardness Titran)
5. Hardness titran (NaOH 2 N)
6. Larutan Ammonium Molybdate
7. Larutan H2SO4
8. Aquades
E. Prosedur Kerja
a. TDS
1. Masukkan sampel TDS ke dalam TDS meter
2. Catat Hasilnya
b. pH
1. Celupkan 1 kertas lakmus ke sample
2. Kemudian dicocokkan dengan warna
3. Catat pH yang didapat
c. T Hardness
1. Takar 25 ml sampel air dan masukkan ked lam Erlenmeyer 250 ml
2. Tambahkan Buffer Solution 3 tetes dan Total Hardness Indicator
setengah sendok spatula
3. Kocok untuk menghomogenkan larutan tersebut
35

4. Jika larutan berwarna biru, artinya T Hardness adalah trace (tidak perlu
dititrasi lagi)
5. Jika larutan berwarna ungu (T hardness > 1ppm), titrasi dengan edta
Solution (hardness titran) sampai berubah menjadi warna biru
6. Catat volume titran yang terpakai lalu di kali 20 ppm
d. Silica
1. Takar 50 ml sampel air dan masukkan ke dalam gelas piala 100 ml
2. Tambahakan 1 ml larutan Ammonium Molybdate 10 % dan 2 ml
larutan H2SO4 2 N ke dalam sampel tersebut
3. Aduk dan diamkan selama 10 menit
4. Masukkan sampel ke dalam cuvet dan letakkan di bagian sebelah
kanan komparator
5. Untuk blanko masukkan aquades ke dalam cuvet dan letakkan di
bagian kiri komparator
6. Pasang disk silica pada komparator dan bandingkan warna sampel
dengan warna yang ada pada disk silica
7. Jika warna sampel lebih tua daripada warna disk silica encerkan
sampel tersebut hingga warna sampel dapat dibandingkan dengan
warna yang ada pada disk silica
8. Baca nilai ppm silica pada disk silica dengan rumus
Total Silica (ppm) : ppm silica x factor pengenceran
9. Jika total Silica air < 40 ppm, maka resin anion dalam vessel masih
optimal menangkap ion silica dalam air umpan. Jika > 40 ppm, maka
menandakan resin anion telah jenuh.
3.4.2 Boiler
A. Lokasi Pengambilan Sampel
1. Boiler
B. Jenis Analisa
1. TDS (Total Dissolve Solid)
36

2. pH
3. T Hardness
4. T Alkalinity
5. P Alkalinity
6. Sulfit
7. Silica
8. Phospat
9. Chloride
10. FE Iron
C. Peralatan
1. TDS Meter
2. Kertas Lakmus
3. Gelas Ukur
4. Gelas Piala 100 ml
5. Cuvet
6. Komparator
7. Silica Disk
8. Gelas Beaker
9. Spatula
10. Pipet
11. Erlenmeyer 250 ml
12. Alat titrasi
D. Bahan
1. Sampel air
2. Buffer Solution
3. Total Hardness Indicator
4. EDTA Solution (Hardness titran)
5. Larutan Ammonium Molybdate
6. Larutan H2SO4
37

7. Sulfit Reagen
8. Sulfit Indicator
9. Larutan KI/KIO3 (sulfit titran)
10. Indikator Methyl Jingga 0,01 %
11. Larutanh H2SO4 0,02 N
12. Ca(NO3)3 2,5 %
13. NaOH 0,02 N
14. Hana Instrumet (HI 3834-0)
15. Dyphenil Carbazone (DC) Indikator
16. Aquades
E. Prosedur Kerja
a. TDS
1. Masukkan sampel TDS ke dalam TDS meter
2. Catat Hasilnya
b. pH
1. Celupkan 1 kertas lakmus ke sample
2. Kemudian dicocokkan dengan warna
3. Catat pH yang didapat
c. T Hardness
1. Takar 25 ml sampel air dan masukkan ked lam Erlenmeyer 250 ml
2. Tambahkan Buffer Solution 3 tetes dan Total Hardness Indicator
setengah sendok spatula
3. Kocok untuk menghomogenkan larutan tersebut
4. Jika larutan berwarna biru, artinya T Hardness adalah trace (tidak
perlu dititrasi lagi)
5. Jika larutan berwarna ungu (T hardness > 1ppm), titrasi dengan
hardness titran sampai berubah menjadi warna biru
6. Catat volume titran yang terpakai lalu di kali 20 ppm

38

d. P Alkalinity
1. Masukkan sampel 25 ml ke dalam erlenmeyer
2. Tambahkan indicator pp 5 tetes
3. Titrasi dengan alkalinity titran sampai warna pink hilang atau
kembali normal
4. Catat volume titran yang terpakai dan kali dengan 40 ppm
e. T Alkalinity
1. Tambahkan 3 tetes Special Indicator ke dalam sampel P Alkalinity
tadi
2. Titrasi dengan alkalinity titran smpai warna kembali seperti semula
3. Catat volume titran yang terpakai
4. Hitung T alkalinity dengan :
Total =( VT P Alkalinity + VT T Alkalinity) x 40 ppm
f. Sulfit
1. Masukkan sampel 25 ml (suhu min. 50 C) ke dalam Erlenmeyer 250
ml
2. Tambahkan Sulfit Reagen 5 tetes ke dalam larutan dan tambahkan
Sulfit Indicator setengah sendok spatula
3. Titrasi dengan larutan standar KI/KIO3 (sulfit titran)
4. Catat volume titran yang terpakai dan kali dengan 40 ppm
g. Silica
1. Takar 50 ml sampel air dan masukkan ke dalam gelas piala 100 ml
2. Tambahakan 1 ml larutan Ammonium Molybdate 10 % dan 2 ml
larutan H2SO4 2 N ke dalam sampel tersebut
3. Aduk dan diamkan selama 10 menit
4. Masukkan sampel ke dalam cuvet dan letakkan di bagian sebelah
kanan komparator
5. Untuk blanko masukkan aquades ke dalam cuvet dan letakkan di
bagian kiri komparator
39

6. Pasang disk silica pada komparator dan bandingkan warna sampel
dengan warna yang ada pada disk silica
7. Jika warna sampel lebih tua daripada warna disk silica encerkan
sampel tersebut hingga warna sampel dapat dibandingkan dengan
warna yang ada pada disk silica
8. Baca nilai ppm silica pada disk silica dengan rumus
Total Silica (ppm) : ppm silica x factor pengenceran
9. Jika total Silica air < 40 ppm, maka resin anion dalam vessel masih
optimal menangkap ion silica dalam air umpan. Jika > 40 ppm, maka
menandakan resin anion telah jenuh.
h. Phospate
1. Takar 50 ml sampel air boiler dan masukkan dalam Erlenmeyer 250
ml
2. Tambahakn 3-5 tetes larutan indicator methyl jingga 0,01 %
3. Titrasi dengan larutan standar H2SO4 0,02 N sampai warna
campuran berubah dari warna kuning menjadi merah jingga. Jumlah
larutan H2SO4 yang terpakai tidak usah dicatat
4. Tambahkan 5 ml larutan Ca(NO3)3 2,5 % dan kocok sampel
5. Tambahkan 5 ml larutan NaOH 0,02 N untuk menetralkan sampel
6. Jika setelah penambahan larutan NaOH 0,02 N sampel belum juga
berubah menjadi kuning maka tambahkan larutan NaOH tersebut
sampai berlebih
7. Catat pemakaian larutan NaOH 0,02 N yang terpakai
8. Titrasi sampel dengan larutan standar H2SO4 0,02 N hingga warna
larutan sampel beubah dari warna kuning menjadi merah jingga
9. Perhitungan : Phospat = (Vb-Va) x 15,p ppm sbg Na3PO4
Vb: Vol larutan NaOH 0,02 N (ml)
Va: Vol larutan H2SO4 0,02 N (ml)

40

i. Iron
1. Tuang sampel 5 ml ke dalam Erlenmeyer 250 ml
2. Masukkan 1 Hana Instrument (HI 3834-0)
3. Tunggu sampai 4 menit
4. Masukkan ke dalam Komparator Iron
5. Bandingkan warnanya
j. Chloride
1. Tuang sampel 5 ml ke dalam Erlenmeyer 250 ml
2. Masukkan Dhypenil Carbazone (DC) Indikator 2 tetes
3. Tambahkan Nitrid Acid (NA) Solution satu tetes lalu diaduk
4. Titrasi dengan HI 3815-0 sampai berwarna ungu.
5. Perhitungan: volume hasil titran x 1000
3.5 ANALISA TBS
A. Lokasi Pengambilan Sampel
Greding
B. Jenis Analisa
1. Buah Masak
2. Buah Mentah
3. Buah Lewat Masak
Peralatan
1. Top Balance
2. Kantong plastic
3. Karung
4. Alat sortasi
5. Oven
C. Bahan
1. Sampel TBS
2. Hexane
D. Prosedur Kerja
41

1. Mengambil 3 tandan TBS digrading
2. 3 janjang ini kemudian ditimbang satu per satu dan hasilnya dicatat
untuk mendapat total TBS(W
1
).
3. Janjang ini kemudian diklasifikasikan sebagai berikut :
Gambar Buah masak Gambar Buah Lewat Masak Buah mentah
4. Di lakukan perebusan selama 1 jam.
5. Setelah direbus, janjang tersebut dibiarkan selama kurang lebih
jam &kemudian ditimbang kembali (W
2
).
6. Janjang kemudian dibanting di dalam Bantingan yang kosong dan
janjang kosong yang diperoleh dikumpulkan dan ditimbang (W
3
).
7. Buah di pisahkan menjadi empat dan dan di ambil dua bagian yang
akan di jadikan sample dan di timbang kembali.
8. Memisahkan buah antara brondolan, kelik, dan abnormal
9. Memisahkan antara mesocrap dan nut
10. Untuk nut dipecahkan dan di ambil karnelnya kemudian di timbang
11. Pengambilan sample pada mesocrap untuk di timbang sebnyak 10
gram dan di oven selama 2
1
/
2
jamdengan suhu 130
o
C.
12. Didinginkan dalam desikator selama
1
/
2
jam dan di timbang kembali.
13. Timbang sampel tersebut setelah didinginkan dalam Desicator.
100 % x
Basah Netto
Kering Netto Basah Netto
Moisture


42

14. Sampel kering dimasukkan ke dalam timbel berserta kapas untuk
membersihkan sisa minyak dari cawan dan menutup sampel dalam
timbel.
15. Timbang bottom flask yang bersih dan kering.
16. Jalankan ekstraksi selama 6 jam ( warna hexan pada soxhlet sudah
bening ), setelah selesai masukkan bottom ke dalam oven selama 1
jam pada temperatur 105
o
C.
17. Dinginkan bottom flask dalam desikator.
18. Timbang flask setelah dingin.
100 ) / ( % x
Basah Sampel
Ekstraksi Oil
wm Oil Minyak Kadar
100 ) / ( % x
Kering Sampel
Ekstraksi Oil
dm Oil Minyak Kadar

3.6 ANALISA MPD
A. Lokasi Pengambilan Sampel
Horizontal Distibutor Fruit Conveyor
B. Jenis Analisa
1. Berondolan
2. Chalix
3. Abnormal
C. Peralatan
1. Top Balance
2. Kantong plastic
3. Karung
4. Oven

43

D. Bahan
3. Sampel TBS
4. Hexane
E. Prosedur Kerja
a. Quartering sampel MPD sampai gram terdekat (1 kg),w1.
1. Sortir sampel MPD dalam kategori berikut:

Berondolan, w2. Abnormal, w3 Chalix leavers, w4
2. Timbang masing-masing kategori tersebut.
3. Tempatkan sampel berondolan ke wadah untuk analisa berondolan
dan nut.
b. Analisa berondolan
1. Pisahkan brondolan dari nut dan pastikan nut telah bebas dari
minyak dengan menggunakan pinset anatomi atau cutter.
- Timbang sampel mesocrap w5.
- Timbang sampel nut, w6.
- Sampel mesocrapdianalisa moisture, % O/WM dan % O/DM
dengan menggunakan metode standard analisa minyak sawit.
- Tempatkan sampel nut untuk analisa nut.

44

c. Analisa Nut
1. Sampel dikeringkan untuk analisa terhadap % moisture dengan
menggunakan metode standard analisa mutu inti sawit.
- Timbang sampel nut kering.
- Pecahkan keseluruhan nut secara manual sehingga didapat
kernel dan cangkang.
- Timbang sampel kernel.
- Timbang sampel cangkang.
d. Pelaksanaan Analisa dengan metode Kalkulasi
1. Persentase (%) berondolan /MPD = w2/w1 x 100
2. Persentase (%) Abnormal/MPD = w3/w1 x 100
3. Persentase (%) mesocrap/berondolan = w4/w1 x 100
4. Persentase (%) chalix leaves & dirt/MPD = w5/w2 x 100
5. Persentase (%) mesocrap/MPD = w5/w1 x 100
6. Persentase (%) nut/MPD = w6/w2 x 100
7. Persentase (%) nut/berondolan = w6/w1 x 100
8. Persentase (%) oil content MPD
= O/WM x % Mesocrap x % Berondolan
e. Pelaksanaan Analisa dengan metode persentase moisture, O/WM dan
O/DM mesocrap.
1. Timbang cawan yang bersih dan kering.
2. Masukkan sampel mesocrap yang meliputi berondolan bagian luar
dan bagian dalam cawan dan timbang.
3. Keringkan sampel mesocrap dengan dimasukkan dalam oven
selama 1 jam sengan suhu 130
o
C.
45

4. Timbang sampel tersebut setelah didinginkan dalam Desicator.
100 % x
Basah Netto
Kering Netto Basah Netto
Mositure


5. Sampel kering dari hasil analisa kadar air dimasukkan ke dalam
timbel berserta kapas untuk membersihkan sisa minyak dari cawan
dan menutup sampel dalam timbel.
6. Timbang bottom flask yang bersih dan kering.
7. Jalankan ekstraksi selama 6 jam ( warna hexan pada soxhlet sudah
bening ), setelah selesai masukkan bottom ke dalam oven selama 1
jam pada temperatur 105
o
C.
8. Dinginkan bottom flask dalam desikator.
9. Timbang flask setelah dingin.
100 ) / ( % x
Basah Sampel
Ekstraksi Oil
wm Oil Minyak Kadar
100 ) / ( % x
Kering Sampel
Ekstraksi Oil
dm Oil Minyak Kadar

46

BAB 4
HASIL ANALISA DAN PERHITUNGAN

4.1 MUTU PRODUKSI
4.1.1 Oil Storage
a. Penentuan Kandungan Asam Lemak Bebas (ALB)
TV = Volume NAOH yang digunakan
N = Normalitas NAOH (0.1077 N)
W2-W1 = berat minyak yang digunakan (sampel)
% ALB =


% ALB =


% ALB = 3,61 ( standar <4,5%)
b. Penentuan Kadar Air
W1 = Berat Wadah
W2 = Berat Sampel Basah
W3 = Berat Wadah + Berat sampel kering

% Kadar Air =


% Kadar Air =


% Kadar Air = 0,14 (standar 0,2 %)
c. Penentuan Kadar Kotoran
W1 = Berat Wadah
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Kotoran
47

%Kadar Kotoran =


%Kadar Kotoran =


%Kadar Kotoran = 0,021 (standar 0,015 %)
4.1.2 Oil Produksi
a. Penentuan Kandungan Asam Lemak Bebas (ALB)
TV = Volume NAOH yang digunakan
N = Normalitas NAOH
W2-W1 = berat minyak yang digunakan (sampel)
% ALB =


% ALB =


% ALB = 3,16 (standar < 4,5 %)
b. Penentuan Kadar Air
W1 = Berat Wadah
W2 = Berat Sampel Basah
W3 = Berat Wadah + Berat sampel kering
% Kadar Air =


% Kadar Air =


% Kadar Air = 0,14 (standar 0,2 %)
c. Penentuan Kadar Kotoran
W1 = Berat Wadah
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Kotoran
48

% Kadar Kotoran =


% Kadar Kotoran =


% Kadar Kotoran = 0,021(standar 0,015 %)
4.1.3 Kernel Storage
a. Penentuan Kadar Air
W1 = Berat Wadah
W2 = Berat Sampel Basah
W3 = Berat Wadah + Berat sampel kering
% Kadar Air =


% Kadar Air =


% Kadar Air = 6,26 (standar 7 %)
b. Penentuan Kadar Kotoran
W1 = Berat Total Sampel
W2 = Berat Cangkang dari Nut Utuh : 3
W3 = Berat Cangkang dari Nut Pecah : 2
W4 = Berat Cangkang
% Kadar kotoran =


% Kadar kotoran =


% Kadar kotoran = 5,04 (standar)
4.1.4 Kernel Produksi
a. Penentuan Kadar Air
W1 = Berat Wadah
W2 = Berat Sampel Basah
49

W3 = Berat Wadah + Berat sampel kering
% Kadar Air =


% Kadar Air =


% Kadar Air = 6,26 (standar 7 %)
b. Penentuan Kadar Kotoran
W1 = Berat Total Sampel
W2 = Berat Cangkang dari Nut Utuh : 2
W3 = Berat Cangkang dari Nut Pecah : 3
W4 = Berat Cangkang
% Kadar kotoran =


% Kadar kotoran =


% Kadar kotoran = 5,02

4.2 LOSSES
4.2.1 Oil Losses
a. Sample Cairan dari Final Effluent
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

50

% Moisture = 100
) 5343 , 10 (
) 6624 , 58 ( ) 5343 , 10 8953 , 57 (
X


% Moisture = 92,7
2. % Oil/WM =
100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 5343 , 10 (
) 0446 , 97 1145 , 97 (
X


% Oil/WM= 0,66 (standar < 1 %)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


% Oil/DM = 100
) 8953 , 57 6624 , 58 (
) 0446 , 97 1145 , 97 (
X


% Oil/DM= 9,11
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 - 92,7 0,66
% NOS =6,64
b. Sampel fiber dari Fibre Cyclone
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

51

% Moisture = 100
) 4932 , 10 (
) 7952 , 44 ( ) 4932 , 10 0727 , 38 (
X


% Moisture = 35,9347
2. % Oil/WM =
100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 4932 , 10 (
) 3125 , 97 8014 , 97 (
X


% Oil/WM= 4,66 (standar 4%)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


% Oil/DM = 100
) 0727 , 38 7952 , 44 (
) 3125 , 97 8014 , 97 (
X


% Oil/DM= 7,27
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 35,93 4,66
% NOS = 59,41
c. Sampel Nut dari Polishing Drum
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

52

% Moisture = 100
) 4987 , 10 (
) 7937 , 45 ( ) 4987 , 10 9063 , 36 (
X


% Moisture = 15,34
2. % Oil/WM =
100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 4987 , 10 (
) 6563 , 83 7418 , 83 (
X


% Oil/WM= 0,81(standar < 1%)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


% Oil/DM = 100
) 9063 , 36 7937 , 45 (
) 6563 , 83 7418 , 83 (
X


% Oil/DM= 0,96
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 15,34 0,81
% NOS = 83,85
d. Sampel dari Bunch Press
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah 1 + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

53

% Moisture = 100
) 4445 , 10 (
) 7762 , 41 ( ) 4445 , 10 8040 , 37 (
X


% Moisture = 61,96
2. % Oil/WM =
100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 4445 , 10 (
) 4008 , 91 7120 , 91 (
X


% Oil/WM= 2,97 (standar < 4 %)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


% Oil/DM = 100
) 8040 , 37 7762 , 41 (
) 4008 , 91 7120 , 91 (
X


% Oil/DM= 7,83
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 61,96 2,97
% NOS =35,07
4.2.2 Kernel Losses
a. Fibre Cyclone
Kernel Total = W1
Kernel Utuh = W2:3
Kernel Pecah = W3:2
Kernel dari Nut utuh = W4
Kernel dari Nut pecah = W5
54

% Kernel Utuh = 100
1
2
X
W
W

% Kernel Utuh = 100
1036
5 , 2
X
% Kernel Utuh = 0,24
% Kernel Pecah = 100
1
3
X
W
W

% Kernel Pecah = 100
1036
5 , 3
X
% Kernel Pecah = 0,34
% Kernel dari Nut Utuh = 100
1
4
X
W
W

% Kernel dari Nut Utuh = 100
1036
85 , 0
X
% Kernel dari Nut Utuh = 0,08
% Kernel dari Nut pecah = 100
1
5
X
W
W

% Kernel dari Nut pecah = 100
1036
001 , 1
X
% Kernel dari Nut pecah = 0,096
% Total kernel loss = 100
1
5 4 3 2
X
W
W W W W

% Total kernel loss = 100
1036
001 , 1 85 , 0 5 , 3 5 , 2
X


= 0,75 (standar <1%)
b. LTDS
55

Kernel Total = W1
Kernel Utuh = W2
Kernel Pecah = W3
Kernel dari Nut utuh = W4
Kernel dari Nut pecah = W5
% Kernel Utuh =
100
1
2
X
W
W

% Kernel Utuh =
100
7 , 1187
2 , 2
X

% Kernel Utuh = 0,19
% Kernel Pecah =
100
1
3
X
W
W

% Kernel Pecah = 100
7 , 1187
3 , 2
X
% Kernel Pecah = 0,19
% Kernel dari Nut Utuh = 100
1
4
X
W
W

% Kernel dari Nut Utuh = 100
7 , 1187
2 , 1
X
% Kernel dari Nut Utuh = 0,101
% Kernel dari Nut pecah = 100
1
5
X
W
W

% Kernel dari Nut pecah = 100
7 , 1187
6 , 1
X
% Kernel dari Nut pecah = 0,13
% Total kernel losses = 100
1
5 3 2
X
W
W W W

% Total kernel losses = 100
7 , 1187
6 , 1 2 , 1 3 , 2 2 , 2
X


56

% Total kernel losses = 0,61 (standar < 1%)
c. Hydro Cyclone
Kernel Total = W1
Kernel Utuh = W2
Kernel Pecah = W3
Kernel dari Nut utuh = W4
Kernel dari Nut pecah = W5
% Kernel Utuh =
100
1
2
X
W
W

% Kernel Utuh = 100
4 , 1097
1 , 2
X
% Kernel Utuh = 0,19
% Kernel Pecah =
100
1
3
X
W
W

% Kernel Pecah = 100
4 , 1097
34 , 2
X
% Kernel Pecah = 0,21
% Kernel dari Nut Utuh = 100
1
4
X
W
W

% Kernel dari Nut Utuh = 100
4 , 1097
73 , 1
X
% Kernel dari Nut Utuh = 0,15
% Kernel dari Nut pecah = 100
1
5
X
W
W

% Kernel dari Nut pecah = 100
4 , 1097
13 , 2
X
% Kernel dari Nut pecah = 0,19
% Total kernel loss = 100
1
5 3 2
X
W
W W W

57

% Total kernel loss = 100
4 , 1097
13 , 2 73 , 1 34 , 2 1 , 2
X


% Total kernel losses = 0,756 (standar < 1%)

4.3 ANALISIS KONTROL KERJA
4.3.1 Oil
a. Sampel Cairan dari Condensat
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

% Moisture = 100
) 0647 , 10 (
) 7542 , 60 ( ) 0647 , 10 2815 , 58 (
X


% Moisture = 75,43
2. % Oil/WM =
100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 0647 , 10 (
) 7535 , 107 8424 , 107 (
X


% Oil/WM= 0,88
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


58

% Oil/DM = 100
) 2815 , 58 7542 , 60 (
) 7535 , 107 8424 , 107 (
X


% Oil/DM= 3,59
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 75,43 0,88
% NOS = 23,69
b. Sampel Cairan dari Under Flow
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

% Moisture = 100
) 4568 , 10 (
) 6280 , 59 ( ) 4568 , 10 2009 , 58 (
X


% Moisture = 86,35
2. % Oil/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 4568 , 10 (
) 5959 , 104 3204 , 105 (
X


% Oil/WM= 6,92 (standar < 8%)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


59

% Oil/DM = 100
) 2009 , 58 6280 , 59 (
) 5959 , 104 3204 , 105 (
X


% Oil/DM= 50,76
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 86,35 6,92
% NOS = 6,73
c. Sampel Cairan dari Sludge Separator
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

% Moisture = 100
) 1186 , 10 (
) 2150 , 59 ( ) 11865 , 10 5191 , 58 (
X


% Moisture = 93,12
2. % Oil/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 1186 , 10 (
) 8888 , 105 9736 , 105 (
X


% Oil/WM= 0,83 (standar < 1%)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


60

% Oil/DM = 100
) 5191 , 58 2150 , 59 (
) 8888 , 105 9736 , 105 (
X


% Oil/DM= 12,18
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 93,12 0,83
% NOS = 6,05
d. Sampel dari Empty Bunch Conveyor
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

% Moisture = 100
) 8233 , 10 (
) 6066 , 42 ( ) 8233 , 10 9656 , 37 (
X


% Moisture = 57,12
2. % Oil/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 8233 , 10 (
) 5241 , 104 6373 , 104 (
X


% Oil/WM= 1,04 (standar < 2,5%)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


61

% Oil/DM = 100
) 9656 , 37 6066 , 42 (
) 5241 , 104 6373 , 104 (
X


% Oil/DM= 2,43
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 57,12 1,04
% NOS = 41,84
e. Sampel fiber dari Screw Press
W1 = Berat Wadah 1
W2 = Berat Sampel
W3 = Berat Wadah + Berat Sampel Kering
W4 = Berat Wadah 2
W5 = Berat Wadah 2 + Berat Sampel ekstraksi
1. % Moisture =
100
) 2 (
) 3 ( ) 2 1 (
X
W
W W W

% Moisture = 100
) 3390 , 10 (
) 2440 , 43 ( ) 3390 , 10 6950 , 36 (
X


% Moisture = 36,65
2. % Oil/WM = 100
) 2 (
) 4 5 (
X
W
W W

% Oil/WM = 100
) 3390 , 10 (
) 1220 , 93 4420 , 93 (
X


% Oil/WM= 3,09 (standar < 4%)
3. % Oil/DM =
100
) 1 3 (
) 4 5 (
X
W W
W W


62

% Oil/DM = 100
) 6950 , 36 2440 , 43 (
) 1220 , 93 4420 , 93 (
X


% Oil/DM= 4,88
4. % NOS = 100% - % moisture - % Oil/WM
% NOS = 100 36,65 3,09
% NOS = 60,26
f. Analisa Sentrifuge
a. Under Flow
Oil =
Water = 10 (standar < 8%)
Sludge = 42
b. Bunch Press
Oil =
Water = 16
Sludge = 60
c. COT
Oil =
Water = 32
Sludge = 14

g. Effisiensi Ripple Mill
W1 = Berat Sample
W2 = Nut Utuh
W3 = Nut Pecah
W4 = Kernel Pecah


63

Effisiensi Ripple Mill = 100 % - 100
) 1 (
) 3 2 (
X
W
W W

= 100 % - 100
) 71 , 902 (
) 32 , 22 87 , 15 (
X


= 95,77 % (standar > 95%)
% Kernel Pecah = 100
) 1 (
) 4 (
X
W
W

= 100
) 71 , 902 (
) 48 , 137 (
X
= 15,23 %

4.4 ANALISA AIR
a. Sampel Raw Water
pH = 6,5 (standar 6,5 -7,5)
TDS = 31 (standar < 100)
T Hardness = 7,5
Silica = 3
b. Sampel Sand Filter
pH = 6,5 (standar 6,5 7,5)
TDS = 44 (standar < 100)
T Hardness = 7,5 (standar )
Silica = 3
c. Sampel Kation
pH = 6 (standar 3,5 - 5)
TDS = 45 (standar <100)
T Hardness = Volume Titran x 20 ppm
= 0,375 ml x 20 ppm/ml
= 7,5 ppm (tidak TRACE)
Silica = 3 (standar < 5)
64

d. Sampel Anion
pH = 6,5 (standar 6,5 7,7)
TDS = 46 (standar < 100)
T Hardness = Volume Titran x 20 ppm/ml
= 0,375 ml x 20 ppm/ml
= 7,5 ppm (tidak TRACE)
Silica = 3 (standar < 5)
e. Sampel Feed Tank
pH = 6,5 (standar 6,5-7,7)
TDS = 55 (standar <100)
T Hardness = Volume Titran x 20 ppm/ml
= 0,375 ml x 20 ppm/ml
= 7,5 ppm (tidak TRACE)
Silica = 3 (standar <5)
f. Sampel Boiler
pH = 11 (standar 10,5 11,5)
TDS = 1400 (standar <2000)
T Hardness = TRACE
Silica = 20 (STANDAR <100)
P Alkalinity = Volume Titran x 40 ppm/ml
= 1,8 ml x 40 ppm/ml
= 72 ppm
T Alkalinity = (Vol.Titran PAlkalinity+Vol.Titran TAlkalinity) x 40ppm/ml
= (1,8 ml + 1,2 ml) x 40 ppm/ml
= 120 ppm
Sulfit = volume titran x 40
= 0,85 ml x 40 ppm/ml
= 34 ppm (STANDAR 30 - 60)
Fe (Iron) = (standar < 3)
65

Phosphate =
Chloride = 25

66

4.5 ANALISA TBS
a. TBS Mentah





67

b. TBS Matang


68

c. TDS Lewat Matang


69

4.6 MPD


70

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Setiap hari mengambil sample, menganalisa dan mencatat kualitas
produksiagar dapat mengetahui ketidak normalan dan melaporkan kepada
managemen pabrikuntuk ambil tindakan segera
2. Mengukur ketepatan proses Oil, Oil losses& Kernel Losses untuk
menginformasikan kepada managemen pabrik jika ada ketidak normalan
agar dapat diambil langkah perbaikan
3. Mengecek kualitas minyak dan kernel setiap hari pada saat proses sedang
berjalan.
4. Untuk analisa TBS dilakukan jika ada permintaan dari kebun jika banyaknya
buah lewat masak dan terlalu mentah.
5. Menganalisa kandungan asam lemak bebas (ALB), kadar air kadar kotoran
setiap 2 jam setelah pabrik mulai proses.
6. Secara teratur mengambil sample air boiler, raw water & air limbah untuk
dianalisa &dilakukan langkah perbaikan
7. Dapat menghitung rendemen minyak & kernel dan memastikan angka
produksi dicatat setiap hari
5.2 Saran
1. Bahan - bahan untuk melakukan percobaan laboratorium lebih dilengkapi
lagi agar dapat mengoptimalkan kinerja pabrik