Anda di halaman 1dari 7

Gambar 11.

Metode Percobaan Variasi Kontinyu


VARIASI KONTINYU
Inneke Angela
123020044
Asisten : Happinessa Brilliant Husni
Tujuan Percobaan : 1. Untuk mengamati reaksi kimia yang kuantitas molar
totalnya sama, tetapi kuantitas masing-masing
pereaksinya berubah-ubah.
2. Untuk mengetahui cara untuk meramalkan atau
menentukan stoikiometri sistem suatu reaksi, serta
menentukan titik maksimum dan minimun stoikiometri
dalam reaksi.
Prinsip Percobaan : 1. Berdasarkan metode variasi kontinyu yaitu sederet
pengamatan dengan jumlah tiap pereaksinya diubah-
ubah tetapi jumlah totalnya tetap.
2. Berdasarkan pada teori stoikiometri (Benjamin Ritcher
1762-1807) yaitu ilmu tentang pengukuran
perbandingan kuantitatif atau pengukuran
perbandungan jumlah.

Metode Percobaan :
1. Sistem CuSO
4
dan NaOH









CuSO
4
2 M NaOH 0,5 M
5 mL CuSO
4
+ 25 mL NaOH
10 mL CuSO
4
+ 20 mL NaOH
15 mL CuSO
4
+ 15 mL NaOH
20 mL CuSO
4
+ 10 mL NaOH
25 mL CuSO
4
+ 5 mL NaOH






2. Sistem NaOH dan CH
3
COOH






NaOH 0,1 M CH
3
COOH 0,5 M
5 mL NaOH + 25 mL CH
3
COOH
10 mL NaOH + 20 mL CH
3
COOH
15 mL NaOH + 15 mL CH
3
COOH
20 mL NaOH + 10 mL CH
3
COOH
25 mL NaOH + 5 mL CH
3
COOH


Hasil Pengamatan :
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan didapatkan hasil berupa tabel
dan grafik sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil Pengamatan Sistem CuSO
4
dan NaOH
V CuSO
4

2 M
V NaOH
0,5 M
T
M

(C)
T
A

(C)

T
(C)
mmol
CuSO
4

mmol
NaOH
mmol CuSO
4

mmol NaOH
5 ml 25 ml 26,5 30 3,5 10 12,5 0,8
10 ml 20 ml 26,5 30,5 4 20 10 2
15 ml 15 ml 26,25 30,5 4,25 30 7,5 4
20 ml 10 ml 27 29 2 40 5 8
25 ml 5 ml 26,25 28 1,75 50 2,5 20
(Sumber : Inneke Angela, Kelompok B, Meja 7, 2012)
Tabel 5. Hasil Pengamatan Sistem NaOH dan CH
3
COOH
V
NaOH
0,1 M
V
CH
3
COOH
1 M
T
M

(C)
T
A

(C)

T
(C)
mmol
NaOH
mmol
CH
3
COOH
mmol NaOH
mmol
CH
3
COOH
5 ml 25 ml 25,9 26,1 0,2 0,5 25 0,02
10 ml 20 ml 24,5 25 0,5 1 20 0,05
15 ml 15 ml 25,05 26 0,95 1,5 15 0,1
20 ml 10 ml 26 26 0 2 10 0,2
25 ml 5 ml 25,85 26,1 0,25 2,5 5 0,5
(Sumber : Inneke Angela, Kelompok B, Meja 7, 2012)
Gambar 12. Metode Percobaan Variasi Kontinyu


Pembahasan :
Dari hasil percobaan variasi kontinyu yang dilakukan dapat diketahui hasil
percobaan dari sistem CuSO
4
- NaOH didapatkan hasil yaitu, pada larutan CuSO
4

2M yang volumenya berturut-turut 5, 10, 15, 20, dan 25 mL dengan larutan NaOH
0,5 M yang volumenya berturut-turut 25,20,15,10, dan 5 mL memiliki temperatur
awal atau TM berturut-turut 26,5 C, 26,5 C, 26,25 C, 27 C, dan 26,25 C.
Setelah kedua larutan dicampur dan diukur temperaturnya sebagai temperatur
akhir didapat TA secara berturut-turut 30 C, 30,5 C, 30,5 C, 29 C, dan 28 C.
Kemudian dicatat perubahan suhu yang terjadi pada kedua campuran larutan
tersebut, didapat T secara berturut-turut, 3,5 C, 4 C, 4,25 C, 2 C, dan 1,75
C. Mmol CuSO
4
secara berturut-turut yaitu, 10, 20, 30, 40, dan 50 mmol
sedangkan mmol NaOH secara berturut-turut, 12,5, 10, 7,5, 5, dan 2,5 mmol.
Perbandingan antara kedua mmol campuran tersebut secara berturut-turut yaitu,
0,8, 2, 4, 8, dan 20 mmol. Sedangkan pada percobaan dari sistem NaOH
CH
3
COOH didapatkan hasil yaitu, pada larutan NaOH 0,1 M yang volumenya
berturut-turut 5, 10, 15, 20, dan 25 mL dengan larutan CH
3
COOH 1 M yang
volumenya berturut-turut 25, 20, 15, 10, dan 5 mL memiliki temperatur awal atau
TM berturut-turut 25,9 C, 24,5 C, 25,05 C, 26 C, dan 25,85 C. Setelah kedua
larutan dicampur dan diukur temperaturnya sebagai temperatur akhir didapat TA
secara berturut-turut 26,1 C, 25 C, 26 C, 26 C, dan 26,1 C. Kemudian dicatat
perubahan suhu yang terjadi pada kedua campuran larutan tersebut, didapat T
secara berturut-turut, 0,2 C, 0,5 C, 0,95 C, 0 C, dan 0,25 C. Mmol CuSO
4

secara berturut-turut yaitu, 0,5, 1, 1,5, 2, dan 2,5 mmol sedangkan mmol NaOH
secara berturut-turut, 25, 20, 15, 10, dan 5 mmol. Perbandingan antara kedua
mmol campuran tersebut secara berturut-turut yaitu, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, dan 0,5
mmol. Dari teori-teori dan hasil percobaan diatas didapatkan bahwa hasil
percobaan yang dilakukan hampir sesuai dengan teori, dimana titik komposisi
terbaik itu berada terdapat saat perbandingan volume kedua larutan sama, satu
banding satu (1:1), yaitu 15 mL dan 15 mL dan titik komposisi terburuk terdapat
saat kedua larutan mempunyai perbandingan volume yang jauh, seperti 1:5 atau
5:1 yang terdapat pada percobaan nomor 1 dan 5, namun pada percobaan sistem
NaOH dan CH
3
COOH komposisi terburuk terdapat di percobaan nomor 4 saat
perbandingan volume 2:1.
Stokiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoikheion yang berarti
elemen dan metria yang berarti ukuran. Stokiometri dalam ilmu kimia dapat
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif
dari suatu reaktan dan produk dalam reaksi kimia atau dalam persamaan kimia
(Anonim, 2012).
Pada awalnya, aspek kuantitatif perubahan kimia, yakni stoikiometri reaksi
kimia, tidak mendapat banyak perhatian dan ketika telah diberikan, teknik dan alat
percobaan tidak menghasilkan hasil yang benar dan tepat. Salah satu contohnya
itu melibatkan teori flogiston, yang menjelaskan tentang fenomena pembakaran
dengan istilah zat dapat terbakar yang tampaknya seperti kehilangan massa.
Kehilangan massa karena reaksi pembakaran ini disebabkan oleh lepasnya


flogiston ke udara sehingga teori ini didefinisikan sebagai pembakaran dimana
terjadi pelepasan flogiston dari zat terbakar. Perubahan massa yang timbul dari
pembakaran kayu ini cocok dengan baik dengan teori ini tetapi dengan logam
tidak. Walaupun demikian flogistonis menerima bahwa kedua proses tersebut
pada dasarnya identik. Peningkatan massa logam terkalsinasi ini merupakan
sebuah fakta sehingga flogistonis berusaha menjelaskan anomali ini dengan
menyatakan bahwa flogiston bermassa negatif (Anonim, 2012).
Seorang filsuf dari Flanders, Jan Baptista van Helmont (1579-1644)
menyadari bahwa stokiometri itu penting setelah beliau melakukan percobaan
dengan bibit willow. Beliau menumbuhkan bibit willow setelah mengukur massa
pot bunga dan tanahnya tetapi tidak ada perubahan massa pot bunga dan tanah
saat benihnya tumbuh sehingga beliau menganggap bahwa massa yang
didapatkannya hanya karena air yang masuk ke bijih. Kemudian disimpulkanlah
bahwa akar semua materi adalah air. Namun, berdasarkan pandangan saat ini,
hipotesis dan percobaannya jauh dari sempurna, tetapi teorinya adalah contoh
yang baik dari sikap aspek kimia kuantitatif yang sedang tumbuh (Anonim,2012).
Di akhir abad 18, kimiawan Jerman Jeremias Benjamin Richter (1762-
1807) menemukan konsep ekuivalen atau dalam istilah kimia disebut modern
ekuivalen kimia dan termasuk kedalam teori stokiometri. Konsep ekuivalen ini
berarti hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam reaksi netralisasi yang
didalamnya mengindikasikan sejumlah tertentu materi dalam reaksi. Satu
ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan hubungan antara sejumlah asam dan
sejumlah basa untuk menetralkannya (Chang,1989).
Pada saat yang sama Lavoisier menetapkan hukum kekekalan massa, dan
memberikan dasar konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat dan kreatif
sehingga stokiometri yang pada awalnya menangani aspek kuantitatif reaksi kimia
menjadi metodologi dasar kimia. Selain teori-teori tersebut, didalam stokiometri
terdapat juga suatu metode. Metode ini dinamakan Variasi Kontinyu. Variasi
Kontinyu ini adalah metode dengan sederet pengamatan dengan jumlah tiap
pereaksinya diubah-ubah tetapi jumlah totalnya tetap. Variasi Kontinyu ini
memiliki beberapa teori yang merupakan teori stokiometri juga, seperti hukum
kekekalan massa, yaitu massa sebelum reaksi dan sesudah reaksi adalah sama,
hukum perbandingan tetap, yaitu dalam suatu zat kimia yang murni perbandingan
massa unsur-unsur dalam tiap-tiap senyawa adalah tetap, hukum perbandingan
berganda, yaitu bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, maka
perbandingan unsurnya adalah bilangan bulat dan sederhana (Anonim,2012).
Selain teori stokiometri, stokiometri ini mencakup beberapa hal seperti
massa atom, massa molar, persen komposisi senyawa, jumlah mol, molaritas, dan
normalitas. Massa atom adalah massa yang besarnya tepat sama dengan
seperduabelas massa dari suatu atom karbon-12. Massa molar adalah massa yang
mengandung atom sebanyak satu bilangan Avogadro (6,022 x 10
23
) sedangkan
massa molar suatu molekul adalah jumlah dari massa molar atom-atom
penyusunnya. Persen komposisi senyawa adalah persen massa dari setiap unsur
yang terkandung dalam senyawa tersebut, persen komposisi ini dapat ditentukan


dengan menentukan rumus kimia dari senyawa tersebut. Jumlah mol adalah
banyaknya massa zat terlarut dibagi dengan massa molekul relatif dari suatu unsur
atau senyawa tersebut. Molaritas atau konsenterasi molar (M) adalah jumlah mol
suatu zat terlarut dalam larutan dibagi dengan volume larutan yang ditentukan
dalam liter, rumusnya adalah:
Molaritas (M) =



Molaritas ini merupakan konsenterasi yang sangat berguna karena jika kita
mengetahui molaritas suatu larutan, kita dapat menentukan jumlah mol zat terlarut
yang diinginkan dengan cara mengukur volumenya dengan tepat. Sedangkan
normalitas adalah banyaknya ekuivalen per liter larutan, rumusnya:
Normalitas =



Seperti molaritas, perbandingan ini menghubungkan banyaknya zat terlarut
dengan jumlah volume larutan (Braddy,1998).
Percobaan stokiometri dengan metode variasi kontinyu ini juga
menggunakan termometer sebagai alat percobaan. Fungsi dari termometer ini
pada umumnya adalah untuk mengukur suhu, suhu yang diukurnya pun macam-
macam tergantung jenis termometer tersebut. Namun, didalam percobaan
stokiometri dengan metode variasi kontinyu ini, termometer yang digunakan
adalah termometer air raksa dan fungsinya adalah untuk mengukur suhu dari suatu
larutan sehingga praktikan dapat menganalisis secara kuantitatif dan mengetahui
adanya perubahan suhu yang digunakan untuk mencari titik maksimum dan
minimum. Titik maksimum disini adalah titik dimana perbandingan selisih suhu
dan jumlah mol berada pada titik tertinggi yang berarti titik tersebut merupakan
titik dimana adanya komposisi terbaik dan campuran tersebut bereaksi sempurna
sedangkan titik minimum adalah titik dimana perbandingan selisih suhu dan
jumlah mol berada pada titik terendah yang berarti tiitk tersebut merupakan titik
dimana adanya komposisi terburuk dan campuran tersebut tidak bereaksi secara
sempurna (Anonim,2012).
Hasil percobaan yang tidak sesuai tersebut terjadi karena adanya beberapa
faktor yang mempengaruhi suatu reaksi, seperti : konsenterasi, yaitu jika
konsenterasi semakin besar reaksi berlangsung semakin cepat, luas permukaan
zat, yaitu jika permukaan zat semakin luas, reaksi akan berlangsung lebih cepat,
suhu, yaitu semakin tinggi suhu semakin cepat juga reaksinya, katalisator, yaitu
jika katalisator ditambahkan kedalam suatu reaksi maka reaksi tersebut akan
berlangsung lebih cepat, sifat zat yang bereaksi, yaitu reaksi antara senyawa ion
akan berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan senyawa kovalen, tekanan,
yaitu semakin tinggi tekanan semakin kecil volumenya sehingga reaksi akan
berlangsung semakin cepat, dan perlakuan pengadukan, yaitu reaksi akan
berlangsung lebih cepat jika dilakukan pengadukan. Selain faktor-faktor yang
mempengaruhi reaksi terdapat juga beberapa faktor kesalahan, seperti adanya


pendingin ruangan, termometer yang menyentuh gelas kimia dan tangan sehingga
pengukuran suhu tidak tepat dan pengambilan larutan yang kurang tepat.
Aplikasi stokiometri ini di bidang pangan adalah untuk mengetahui
konsenterasi dan temperatur dari suatu bahan pangan dalam suatu olahan
makanan, mengetahui kadar suatu kandungan zat dalam bahan pangan dan
mengetahui komposisi terbaik dalam membuat suatu olahan bahan pangan.
Kesimpulan:
Dari hasil percobaan stokiometri dengan metode variasi kontinyu yang
dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil percobaan dari sistem CuSO
4
- NaOH
didapatkan hasil yaitu, pada larutan CuSO
4
2M yang volumenya berturut-turut 5,
10, 15, 20, dan 25 mL dengan larutan NaOH 0,5 M yang volumenya berturut-turut
25,20,15,10, dan 5 mL memiliki temperatur awal atau TM berturut-turut 26,5 C,
26,5 C, 26,25 C, 27 C, dan 26,25 C. Setelah kedua larutan dicampur dan
diukur temperaturnya sebagai temperatur akhir didapat TA secara berturut-turut
30 C, 30,5 C, 30,5 C, 29 C, dan 28 C. Kemudian dicatat perubahan suhu
yang terjadi pada kedua campuran larutan tersebut, didapat T secara berturut-
turut, 3,5 C, 4 C, 4,25 C, 2 C, dan 1,75 C. Mmol CuSO
4
secara berturut-turut
yaitu, 10, 20, 30, 40, dan 50 mmol sedangkan mmol NaOH secara berturut-turut,
12,5, 10, 7,5, 5, dan 2,5 mmol. Perbandingan antara kedua mmol campuran
tersebut secara berturut-turut yaitu, 0,8, 2, 4, 8, dan 20 mmol. Sedangkan pada
percobaan dari sistem NaOH CH
3
COOH didapatkan hasil yaitu, pada larutan
NaOH 0,1 M yang volumenya berturut-turut 5, 10, 15, 20, dan 25 mL dengan
larutan CH
3
COOH 1 M yang volumenya berturut-turut 25, 20, 15, 10, dan 5 mL
memiliki temperatur awal atau TM berturut-turut 25,9 C, 24,5 C, 25,05 C, 26
C, dan 25,85 C. Setelah kedua larutan dicampur dan diukur temperaturnya
sebagai temperatur akhir didapat TA secara berturut-turut 26,1 C, 25 C, 26 C,
26 C, dan 26,1 C. Kemudian dicatat perubahan suhu yang terjadi pada kedua
campuran larutan tersebut, didapat T secara berturut-turut, 0,2 C, 0,5 C, 0,95
C, 0 C, dan 0,25 C. Mmol CuSO
4
secara berturut-turut yaitu, 0,5, 1, 1,5, 2, dan
2,5 mmol sedangkan mmol NaOH secara berturut-turut, 25, 20, 15, 10, dan 5
mmol. Perbandingan antara kedua mmol campuran tersebut secara berturut-turut
yaitu, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, dan 0,5 mmol. Dari teori-teori dan hasil percobaan
diatas didapatkan bahwa hasil percobaan yang dilakukan hampir sesuai dengan
teori, dimana titik komposisi terbaik itu berada terdapat saat perbandingan volume
kedua larutan sama, satu banding satu (1:1), yaitu 15 mL dan 15 mL dan titik
komposisi terburuk terdapat saat kedua larutan mempunyai perbandingan volume
yang jauh, seperti 1:5 atau 5:1 yang terdapat pada percobaan nomor 1 dan 5,
namun pada percobaan sistem NaOH dan CH
3
COOH komposisi terburuk
terdapat di percobaan nomor 4 saat perbandingan volume 2:1.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Stokiometri. http://id.wikipedia.org. Diakses : 26 November 2012.
Brady, E.J. 1998. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bina Aksara, Jakarta.
Halaman 68-69, 73, 120-121, dan 246-247.
Chang, Raymond. 1989. Kimia Dasar Konsep Konsep Inti. Erlangga, Jakarta.
Halaman 56-57.