Anda di halaman 1dari 6

1

LATAR BELAKANG
Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM)
yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat dalam rangka
menyelenggarakan pembangunan kesehatan. Posyandu bertujuan memberdayakan dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar dan
juga untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Dalam tingkatan nasional
posyandu terbagi menjadi empat strata, yakni posyandu pratama, madya, purnama dan mandiri.
Posyandu pratama adalah posyandu yang belum mantap, kegiatan bulanan belum rutin,
jumlah kader kurang dari 5 dan tidak memiliki dana sehat. Posyandu madya adalah posyandu
yang sudah dapat melaksanakan kegiatan tahunan lebih dari 8 kali namun cakupan kegiatan
utama masih kurang dari 50%, rata-rata jumlah kader 5 atau lebih dan tidak ada dana sehat.
Posyandu purnama memiliki karaketristik yang sama seperti posyandu madya, perbedaan
terdapat pada cakupan kegiatan utama yang sudah lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan
program tambahan, dan sudah ada kegiatan dana sehat namun peserta kegiatan dana sehat masih
kurang dari 50% kepala keluarga (KK). Posyandu mandiri memiliki karakteristik yang sama
seperti posyandu purnama, perbedaan terdapat pada jumlah peserta kegiatan dana sehat sudah
lebih dari 50% KK.
Perkembangan jumlah posyandu secara kuantitas sudah cukup memuaskan. Pada saat
dicanangkan di tahun 1986 jumlah posyandu sudah mencapai 25.000 unit, sedangkan pada tahun
2004 jumlahnya meningkat menjadi 238.699 unit. Peningkatan jumlah posyandu ini sayangnya
tidak diikuti dengan peningkatan kualitas posyandu dan dengan demikian mencirikan rendahnya
jumlah posyandu mandiri, berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2006 dapat
diketahui bahwa masih terdapat banyak masalah di posyandu, antara lain kelengkapan sarana dan
keterampilan kader yang belum memadai, cakupan kegiatan masih rendah, cakupan pelayanan
untuk anak usia di bawah dua tahun masih di bawah 50% dan cakupan pelayanan ibu hamil
hanya sekitar 20%.
Masih sedikitnya jumlah posyandu mandiri saat ini menunjukkan belum optimalnya kinerja
posyandu. Hal ini tampak dari persentase jumlah strata posyandu di Indonesia pada tahun 2004,
yakni 33,61% posyandu pratama, 39,86% posyandu madya, 23,62% posyandu purnama, dan
2,91% posyandu mandiri, sedangkan berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Rancamanyar
tahun 2013 dapat diketahui bahwa strata posyandu di kecamatan Rancamanyar tahun 2013
2

meliputi 77.5% posyandu madya, dan 22.4% posyandu mandiri. Pencapaian ini masih jauh dari
target tahunan program kerja upaya kesehatan wajib di Puskesmas Rancamanyar, yakni
pembentukan posyandu purnama dan mandiri sebanyak 65% dari jumlah total posyandu.
Banyak faktor penghambat dalam menunjang sebuah posyandu menjadi mandiri, di
antaranya faktor internal puskesmas dan faktor eksternal puskesmas. Faktor internal puskesmas
meliputi kurangnya kuantitas atau kualitas SDM pemegang program promosi kesehatan
puskesmas. Faktor eksternal dapat meliputi kurangnya optimalisasi sistem kinerja dan
pengelolaan dari 5 kriteria penentu strata posyandu, yang meliputi kegiatan jam buka, rata-rata
jumlah kader, cakupan kegiatan utama, penyelenggaraan kegiatan tambahan dan dana sehat, .
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengembangan posyandu madya dan purnama menjadi
posyandu mandiri di wilayah kerja Puskesmas Rancamanyar. Adapun manfaat penelitian adalah
agar upaya-upaya yang telah dilakukan posyandu madya dan pumama ini dapat dipakai sebagai
rekomendasi strategi untuk dikembangkan menjadi posyandu mandiri.

METODE
Penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan desain observasional pada
upaya pengembangan untuk mencapai posyandu mandiri, yang dilakukan pada tahun 2014.
Populasi dalam penelitian adalah semua posyandu madya di wilayah kerja Puskesmas
Rancamanyar, yang meliputi Desa Rancamanyar, Desa Bojong Malaka, dan Desa Malaka Sari.
Sampel dipilih secara purposif yakni pemilihan dua posyandu tiap desa (satu madya, dan satu
mandiri), sehingga total sampel dalam penelitian adalah 3 posyandu madya dan 3 posyandu
mandiri. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara terstruktur,
dan peninjauan kegiatan posyandu secara langsung. Variabel penelitian meliputi proses
pembentukan posyandu, sumber daya (pengurus dan kader), petugas kesehatan, sumber dana,
sarana/prasarana, kegiatan, sistem informasi, pembinaan, dan kerjasama litas sektor.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan data hasil wawancara responden yang merupakan kader atau
masyarakat berdomisili di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rancamanyar yang didapatkan mulai
dari tanggal 3 Maret 2014 sampai dengan tanggal 21 Maret 2014, dengan jumlah sebanyak 12
responden.
3

Berikut ini merupakan simpulan data yang didapatkan dari hasil wawancara dengan
responden yang merupakan seorang kader atau masyarakat, dan dari hasil pengamatan langsung
di posyandu madya yang berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rancamanyar:
a) Jumlah kegiatan posyandu sudah lebih dari delapan kali tiap tahunnya.
b) Kegiatan posyandu sudah meliputi kegiatan utama namun cakupan kurang dari 50% :
Kader berpendapat bahwa kurangnya cakupan kegiatan utama posyandu dapat terjadi
karena partisipasi masyarakat yang tidak sesuai dengan target sasaran. Menurut kader
partisipasi masyarakat yang kurang ini dapat terjadi karena rasa membutuhkan yang
kurang dari masyarakat terhadap kegiatan posyadu, sedangkan menurut masyarakat hal
ini dapat terjadi karena kegiatan yang dianggap penting bagi mereka hanya berupa
kegiatan imunisasi, pemberian makanan tambahan dan pemberian vit A, untuk kegiatan
lain seperti kegiatan penimbangan berat badan balita atau pemeriksaan ibu hamil dapat
dilakukan di lain tempat.
c) Jumlah kader lebih dari 5 orang
d) Tidak ada kegiatan tambahan.
e) Tidak ada dana sehat : Menurut kader hal ini dapat terjadi karena masyarakat merasa
terbebani dengan adanya usulan mengadakan dana sehat yang biasanya besar dan waktu
pengumpulannya ditentukan secara pasti dan merata, maka dari itu dana posyandu yang
berasal dari masyarakat hanya berupa dana sukarela yang dikumpulkan tiap
dilaksanakannya kegiatan posyandu. Di lain pihak masyarakat juga berpendapat bahwa
dana sehat memang terasa berat jika harus dijalankan karena kebutuhan rumah tangga
masih menjadi prioritas bagi masyarakat, dan masyarakat juga memiliki anggapan bahwa
kegiatan posyandu masih dapat berjalan walau tidak ada dana sehat. Masyarakat memiliki
paradigma bahwa posyandu merupakan institusi kesehatan milik pemerintah oleh karena
itu pembiayaan utamanya pun berasal dari pemerintah.
Berdasarkan data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa masalah utama yang terdapat pada
wilayah yang memiliki posyandu madya adalah permasalahan mengenai partisipasi masyarakat
dan dana sehat. Akar masalah yang terdapat pada kurangnya partisipasi masyarakat adalah
kurangnya rasa membutuhkan masyarakat akan kegiatan posyandu, sedangkan akar masalah
pada tidak adanya dana sehat adalah paradigma masyarakat yang salah akan posyandu.
Masyarakat masih beranggapan bahwa posyandu adalah suatu upaya kesehatan milik pemerintah
4

sehingga pembiayaan utamanya harus berasal dari pemerintah, hal inilah yang menjadi alasan
mengapa masyarakat enggan melaksanakan dana sehat walaupun kader sudah mengusulkan
biaya minimal dana sehat per bulan yang tidak terlalu besar, yaitu Rp.500,- .
Dalam penelitian ini dilakukan juga penelitian pada posyandu mandiri sebagai pembanding
posyandu madya di UPTD Puskesmas Rancamanyar, hal ini bertujuan untuk menentukan solusi
dari masalah yang terdapat di posyandu madya. Berikut ini merupakan simpulan data yang
didapatkan dari hasil wawancara dengan responden yang merupakan seorang kader atau
masyarakat, dan dari hasil pengamatan langsung di posyandu mandiri yang berada di wilayah
kerja UPTD Puskesmas Rancamanyar:
a) Jumlah kegiatan posyandu sudah lebih dari delapan kali tiap tahunnya.
b) Kegiatan posyandu sudah meliputi kegiatan utama, dan cakupan kegiatannya sudah lebih
dari 50%
c) Jumlah kader lebih dari 5 orang
d) Terdapat kegiatan tambahan.
e) Terdapat dana sehat
Berdasarkan data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat masalah pada
posyandu mandiri di UPTD Puskesmas Rancamanyar. Menurut kader setempat hal ini dapat
terjadi karena masyarakat dan kader posyandu sudah berpartisipasi secara aktif pada setiap
kegiatan posyandu. Keadaan ini mencerminkan paradigma masyarakat terhadap posyandu yang
sudah benar. Masyarakat sudah mengerti akan pentingnya kegiatan posyandu terhadap derajat
kesehatan mereka, terutama bagi kesehatan ibu dan bayi di lingkungan mereka. Masyarakat juga
sudah mengerti bahwa bahwa posyandu merupakan suatu upaya kesehatan yang bersumber dari
masyarakat. Mengertinya masyarakat akan pentingnya keberadaan posyandu dan hakekat
keberadaan posyadu sendiri pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa membutuhkan dan rasa
memiliki terhadap posyandu.

SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa faktor-faktor
yang terdapat pada tidak berkembangnya posyandu madya di wilayah kerja UPTD Puskemsas
Rancamanyar adalah sebagai berikut :
5

1) Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya keberadaan posyandu bagi derajat
kesehatan mereka, terutama bagi kesehatan ibu dan bayi di lingkungan mereka.
2) Paradigma masyarakat yang salah akan posyandu; Posyandu merupakan suatu upaya
kesehatan milik pemerintah sehingga pembiayaan utamanya harus berasal dari
pemerintah

UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang
terhormat Prof. Hj. Dr. Ieva B. Akbar, dr., AIF sebagai Dekan FK Unisba, Budiman, dr., M.PH
selaku Pembimbing I dan Kartikasari, dr. selaku Pembimbing II, yang telah banyak membantu
dan meluangkan waktu, tenaga, bimbingan serta dorongan dalam penyusunan artikel ini. Terima
kasih kepada kedua orang tua yang telah banyak memberikan dukungan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Terima kasih kepada teman-teman sekelompok yang banyak
meluangkan waktu untuk berdiskusi bersama dan banyak memberikan masukan yang positif.
Terima kasih kepada UPTD Puskesmas Rancamanyar dan segenap staf yang telah memberikan
izin dan bantuan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

PERTIMBANGAN MASALAH ETIK
Penelitian ini dilakukan dengan meminta dan telah mendapatkan izin dari pihak UPTD
Puskesmas Rancamanyar Kabupaten Bandung.

DAFTAR PUSTAKA

1. Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2007
2. Profil Puskesmas Rancamanyar 2013

6