Anda di halaman 1dari 14

Disusun Oleh :

Nisa Nur Syifa Ulfa Sari : 2014 133 084


Oom Kartika : 2014 133
Dwi Okta Vilia : 2014 133 111

Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan Geografi
Pengantar Pendidikan
Universitas PGRI Palembang
Tahun ajaran :
2014/2015

DAFTAR ISI


BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang

BAB II
Pembahasan

BAB III
Penutup
Kesimpulan
Referensi












BAB I
PENDAHULUAN



1.1.Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar
Bahasa Indonesia,2011).Menurut Syah,pendidikan diartikan sebagai sebuah proses dengan
metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara
bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Selanjutnya dijelaskan oleh Tirtarahardja,(2005) bahwa pendidikan menduduki posisi
sentral dalam pembangunan karena sasarannya adalah peningkatan Sumber Daya Manusia
(SDM) .Oleh sebab itu, pendidikan juga merupakan alur tengah pembangunan dari seluruh
sektor pembangunan. Namun demikian kebanyakan masyarakat mempersepsikan
pembangunan bersifat menjurus atau berbentuk material atau bersifat fisik semata,seperti
gedung,jembatan,rumah,pabrik, dan sebagainya.Padahal menurut Tirtarahardja, (2005) sukses
tidaknya pembangunan fisik itu justru sangat ditentukan oleh keberhasilan di dalam
pembangunan rohaniah,spiritual,yang secara bulat diartikan pembangunan manusia,dan yang
terakhir ini menjadi tugas utama pendidikan.Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional,Bab II Pasal 3 yang diharapkan mampu mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan
pendidikan nasional,yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa,bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap
kreatif,mandiri,dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.



BAB II

PEMBAHASAN


2.1. Esensi Pendidikan dan Pembangunan Serta Titik Temunya
Menurut paham umum kata pembangunan lazimnya diasosiasikan dengan
pembangunan ekonomi dan industry yang selanjutnya diasosiasikan dengan dibangunnya
pabrik-pabrik,jalan,jembatan sampai kepada pelabuhan,alat-alat transportasi,komunikasi,dan
sejenisnya.Gambaran tersebut menunjukkan bahwa membangun dalam arti yang terbatas
pada bidang ekonomi dan industry saja belumlah menggambarkan esensi yang sebenarnya
dari pembangunan.jika kegiatan-kegiatan tersebut belum dapat mengatasi masalah yang
hakiki yaitu terpenuhnya hajat hidup dari rakyat material dan spiritual.Pembangunan ekonomi
dan industry mungkin dapat memenuhi aspek tertentu dari kebutuhan seperti : Kebutuhan
akan sandang,pangan,dan papan.tetapi mungkin tidak untuk kebutuhan spirirtual yang lain.
Pembanguna suatu bangsa tak dapat dilepaskan dari pendidikan.Proses pembangunan
mau tidak mau harus menjadikan pendidikan sebagai variable utama,disamping menjadi
bagian tak terpisahkan dari program pembangunan itu sendiri. juga pendidikan manjadi
bagian penting dalam menyiapkan SDM yang berperan dalam prosesnya. Selanjutnya dalam
sejarah pembangunan negara-negara maju nampak bahwa elemen pendidikan menjadi elemen
dasar dari pencapaian kemajuan mereka. Pendidikan memiliki peran penting dalam proses
pembangunan.betapa tidak, laju perubahan sebagai akibat dari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kemudian disejajarkan dengan penyediaan sumber daya manusia
yang berkualitas.Dalam pada itu pendidikan kemudian menjadi pioner utama dalam rangka
penyiapan sumber daya manusia.Pendidikan merupakan salah satu aspek pembangunan yang
sekaligus merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan pembangunan nasional.Dan salah satu
aspek terpenting dalam menyiapkan dan merekayasa arah perkembangan masyarakat dalam
pembangunan nasional adalah pendidikan.
Dalam pada itu pendidikan kemudian menjadi pioner utama dalam rangka penyiapan
sumber daya manusia. Pendidikan merupakan salah satu aspek pembangunan yang sekaligus
merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan pembangunaan nasional. Dan salah satu aspek
terpenting dalam menyiapkan dan merekayasa arah perkembangan masyarakat dalam
pembangunan nasional adalah Pendidikan.
Seperti yang dinyatakan dalam GBHN,hakikat pembangunan nasional adalah
pembangunan manusia Indonesia.Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa yang menjadi
tujuan akhir pembangunan adalah manusianya,yaitu dapatnya dipenuhi hajat
hidup,jasmaniah,dan rohaniah,sebagai makhluk individu,makhluk sosial,dan makhluk
religious,agar dengan demikian dapat meningkatkan martabatnya selaku makhluk.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa esensi dari pembangunan bertumpu dan
berpangkal pada manusianya,bukan pada lingkungannya.Pembangunan haruslah berorientasi
pada pemenuhan hajat hidup manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia,karena hal ini
dapat meningkatkan martabatnya sebagai manusia. Tegasnya bahwa pembangunan apapun
jika berakibat mengurangi nilai manusiawi berarti keluar dari esensinya.Selanjutnya jika
pembangunan bertolak dari sifat hakikat manusia, berorientasi kepada pemenuhan hajat hidup
manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia maka dalam ruang gerak pembangunan,
manusia dapat dipandang sebagi objek dan sekaligus juga sebagi subjek pembangunan.
Sebagai objek pembangunan manusia dipandang sebagai sasaran yang dibangun.
Dalam hal ini pembangunan meliputi ikhtisar ke dalam diri manusia, berupa pembinaan
pertumbuhan jasmani, dan perkembangan rohani yang meliputi kemampuan penalaran, sikap
diri, sikap sosial, dan sikap terhadap lingkungannya,tekad hidup yang positif serta
keterampilan kerja.Hal ini didukung oleh pernyataan Nuh dalam rapat kerja Menteri
Pendidikan Nasional dengan Komisi X DPR,bahwa pembangunan pendidikan diarahkan
untuk menghasilkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif melalui peningkatan
ketersediaan, keterjangkauan, kualitas dan relevansi,kesetaraan dan kepastian memperoleh
pendidikan.
Manusia dipandang sebagaisubjekpembangunan karena ia dengan segenap
kemampuannya menggarap lingkungannya secara dinamis dan kreatif, baik terhadap sarana
lingkungan alam maupun lingkungan sosial/ spiritual.
Uraian di atas menunjukkan status pendidikan dan pembangunan masing-masing
dalam esensi pembangunan serta antar keduanya.
1. Pendidikan merupakan usaha dalam diri manusia sedangkan pembangunan
merupakan usaha ke luar dari diri manusia.
2. Pendidikan menghasilkan sumber daya tenaga yang menunjang
pembangunan dan hasil pembangunan dapat menunjang pendidikan
(pembinaan, penyediaan sarana, dan seterusnya)


Hal ini didukung dengan hasil penelitian di negara maju umumnya menunjukkan
adanya korelasi positif antara tingkat pendidikan yang dialami seseorang dengan tingkat
kondisi ekonominya.Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dialami seseorang,semakin baik
kondisi sosial ekonominya.Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil
pendidikan dapat menunjang kemajuan perkembangan,dan sebaliknya hasil pembangunan
merupakan bukti dari usaha pendidikan.

2.2. Sumbangan Pendidikan Pada Pembangunan
Jika ditilik secara seksama tidaklah dapat dipungkiri bahwa andil yang diberikan
pendidikan pada pembangunan sungguh-sungguh sangat besar. Jika pembangunan dipandang
sebagai sistem makro maka pendidikan merupakan sebuah komponen atau bagian dari
pembangunan mengindentifikasi peran pendidikan tersebut sebagai :
a) Masyarakat ideologi dan nilai-nilai sosio kultural bangsa.
b) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan pedorong
perubahan sosial.
c) untuk meratakan kesepakatan dan pendapatan,Peran yang pertama merupakan Fungsi
politik pendidikan dan dua peran yang lain merupakan fungsi ekonomi
Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam pembangunan nasional muncul dua
paradigm yang menjadi kiblat bagi pengambil kebijakan dalm pengembangan kebijakan
pendidikan yaitu :
1. Paradigma Fungsional
Paradigma Fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan dikarenakan
negara tidak mempunyai cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap
modern. Menurut pengalaman masyarakat di Barat, lembaga pendidikan formal sistem
persekolahan merupakan lembaga utama mengembangkan pengetahuan malatih, kemampuan
dan keahlian serta menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses
pembangunan. Bukti-bukti menunjukan adanya kaitan yang erat antara pendidikan formal
seseorang dan partisipasinya dalam pembangunan
2. Paradigma Sosialisasi
paradigma sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah:
a. Mengembangkan kompetensi individu
b. kompetensi yang lebih tinggi tersebut diperlukan untuk meningkatkan
produktivitas,
c. secara umum, meningkatkan kemampuan warga masyarakat dan semakin
banyaknya warga masyarakat yang memiliki kemampuan akan meningkakan
kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Oleh karena itu, berdasarkan paradigma sosialisasi ini, pendidikan harus di
perluas secara besar-besaran dan menyeluruh, kalau suatu bangsa
menginginkan kemajuan.
Selanjutnya juga menjelaskan bahwa sumbangan pendidikan terhadap pembangunan
dapat dilihat pada beberapa segi, antara lain :

1. Segi Sasaran Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar yang ditujukan kepada peserta didik agar menjadi
manusia yang berkepribadian kuat dan utuh serta bermoral tinggi. Jadi tujuan citra
manusia pendidikan adalah terwujudnya citra manusia yang dapat menjadi sumber
daya pembangunan yang manusiawi. Prof. Dr. Slamet Iman Santoso menyatakan
bahwa tujuan pendidikan manghasilkan manusia yang baik.Manusia yang baik
dimanapun ia berada akan memperbaiki lingkungan
.
2. Segi Lingkungan Pendidikan
Lingkungan Keluarga
Didalam keluargalah anak pertama menerima pendidikan dan pendidikan yang
diperoleh dalam keluarga ini merupakan pendidikan utama atau terpenting
terhadap perkembangan pribadi anak.Alam keluarga adalah pusat pendidikan yang
pertama sejak timbulnya adat kemanusiaan hingga sekarang,hidup keluarga itu
selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia. Didalam
lingkungan keluarga anak dilatih berbagai kebiasaan yang baik tentang hal-hal
yang berhubungan dengan kecekatan,kesopanan,dan moral. Juga ditanamkan
keyakinan-keyakinan yang penting utamanya yang bersifat religius. Kebiasaan
baik dan keyakinan-keyakinan penting yang mendarah daging merupakan
landasan yang sangat diperlukan untuk pembangunan.
Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah (pendidikan formal), Lingkungan sekolah (pendidikan
formal), peserta didik dibimbing untuk memperluas bakat yang telah diperolah
dari lingkungan kerja keluarganya berupa pengetahuan, keterampilan,dan
sikap.Bekal dimaksud baik bekal dasar, lanjutan (dari SD dan sekolah lanjutan)
ataupun bekal kerja yang langsung dapat digunakan secara aplikatif (SMK dan
perguruan tinggi).Kedua macam bekal tersebut dipersiapkan secara formal dan
berguna sebagai sarana penunjang pembangunan di berbagai bidang.
Lingkungan Masyarakat
Di lingkungan masyarakat (pendidikan non-formal),peserta didik memperoleh
bekal praktis untuk berbagai jenis pekerjaan. khususnya mereka yang tidak sempat
melanjutkan proses belajarnya melalui jalur formal.Pada masyarakat kita (sebagai
masyarakat yang sedang berkembanga),sistem pendidikan non formal mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Hal ini bertalian erat dengan berkembangnya
sektor swasta yang menunjang pembangunan.

3. Segi Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan dasar,pendidikan menengah (SM), dan pendidikan tinggi
(PT) memberikan bekal kepada peserta didik secara bersinambungan.Pendidikan
dasar merupakan basic education yang memberikan bekal dasar bagi pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi .Artinya pendidikan tinggi berkualitas,jika
pendidikan tengahnya kualitas,dan pendidikan menengah berkualitas jika pendidikan
dasarnya berkualitas.
4. Segi Pembidangan Kerja Atau Sektor Kehiduapan
Segi pembidangan kerja menurut sektor kehidupan meliputi : ekonomi
,komunikasi,pertambangan,pertanian,pertahanan,dan lain-lain.Pembangunan sektor
kehidupan tersebut dapat diartikan sebagai aktivitas,pembinaan,pengembangan,dan
pengisian,bidang-bidang kerja tersebut agar dapat memenuhi hajat hidup warga
Negara sebagai suatu bangsa sehingga tetap jaya dalam kancah kehidupan antar
bangsa-bangsa di dunia.Pembinaan dan pengembangan bidang-bidang tersebut hanya
mungkin bidang tersebut hanya mungkin dikerjakan jika diisi oleh orang-orang yang
memiliki kemampuan seperti yang dibutuhkan. Orang-orang dimaksudkan hanya
tersedia jika pendidikan berbuat untuk itu.






Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sumbangan pendidikan pada
pembangunan dapat dilihat dari segi sasaran pendidikan, segi lingkungan pendidikan, segi
jenjang pendidikan, dan segi pembidangan kerja atau sektor kehidupan. Selain itu sumbangan
pendidikan pada pembangunan juga lebih jelas diuraikan sebagai berikut:
a. Pada langkah pertama, pendidikan menyiapkan manusia sebagai sumber daya
pembangunan.Kemudian manusia selaku sumber daya pembangunan membangun
lingkungannya.
b. Pada instansi terakhir, manusia lah yang menjadi kunci pembangunan. Kesuksesan
pembangunan sangat tergantung kepada manusiannya
c. Pendidik memegang peranan penting kerena mereka lah yang menciptakan manusia
pencipta pembangunan..

2.3. Pembangunan Sistem Pendidikan Nasional
Peranan pendidikan sangat berpengaruh dalam pembangunan suatu Negara karena
Negara yang maju sudah pasti memiliki mutu pendidikan yang sangat baik di
negaranya.karena jika Negara mempunyai generasi penerus yang cerdas pasti para penerus
akan memperbaiki pembangunan terhadap Negara tersebut.

1. Mengapa Sistem Pendidikan Harus Dibangun
Adalah logis jika sistem pendidikan yang merupakan sarana bagi manusia
untuk mengantarkan dirinya menuju kepada kesempurnaan itu juga perlu
disempurnakan.Sistem pendidikan sebagai sarana yang menghantar manusia untuk
menemukan jawaban atas teka-teki mengenai dirinya, juga selalu disempurnakan.
Selanjutnya persoalan pendidikan juga dapat dilihat sebagai persoalan nasional
karena pendidikan berhubungan dengan masa depan bangsa. Untuk dapat
menyongsong suasana hidup yang lebih baik, yang diperlukan itu sistem
pendidikan harus berubah. Jika tidak, maka pendidikan sebagai an agent of social
change (agen perubahan sosial) tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Strukturnya, pengelolaanya, tenaga kependidikannya mau tidak mau harus
disesuaikan dengan tuntutan baru tersebut.




2. Wujud Pembangunan Sistem Pendidikan
Secara makro,sistem pendidikan meliputi banyak aspek yang satu sama lain
bertalian erat,yaitu : aspek filosofis dan keilmuan,aspek yuridis atau perundang-
undangan,kurikulum yang meliputi materi,metodologi,pendekatan,orientasi.
a. Hubungan Antar Aspek-aspek
Aspek filosofis, keilmuan, dan yuridis menjadi landasan bagi butir-
butir yang lain, karena memberikan arah serta mewadahi butir-butir yang
lain.Artinya,struktur pendidikan, kurikulum, dan lain-lain yang lain itu
harus mengacu kepada aspek filosofis, aspek keilmuan, dan aspek yuridis.
Aspek filosofis keilmuan dan yuridis menjadi landasan bagi aspek-aspek
yang lain,karena memberikan arah pada aspek-aspek lainnya. Meskipun
aspek filosofis menjadi landasan, tetapi tidak harus diartikan bahwa setiap
terjadi perubahan filosofis dan yuridis harus diikuti dengan perubahan
aspek-aspek yang lain secara total.
b. Aspek Filosofis dan Keilmuan
Aspek filosofis berupa penggarapan tujuan nasioanal pendidikan.
Rumusan tujuan pendidikan nasional yang tentunya memberikan peluang bagi
pengembangan hakikat manusia yang kodrati yang bersifat wajar. Bagi kita
pengembangan sifat kodrati manusia itu pararel dengan jiwa Pancasila.
Pendidikan yang sehat harus merupakan titik temu antara teori dengan
praktek, demikian kata J. H. Gunning, Theorie zonder praktijk is voor
genieen, praktijk zonder theorie is voor gekken en schurken. Teori tanpa
praktek hanya cocok bagi orang-orang pintar, sedangkan praktek tanpa teori
hanya terdapat para orang gila
c. Aspek Yuridis
Kemajuan zaman menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru, khususnya
kebutuhan akan penyempurnaan sistem pendidikan yang sesuai dengan
tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru tersebut. Jelasnya sistem pendidikan perlu
disempurnakan, dan tugas ini hanya dapat dilakukan dengan mendasarkan diri
pada Undang-Undang Pendidikan.
UUD 1945 sebagai landasan hukum pendidikan sifatnya relatif tetap.
Beberapa pasal yang melandasi pendidikan sifatnya eksplisit (pasal 31 ayat (1)
dan (2); pasal (32)) maupun yang implisit (pasal 27 ayat (1) dan (2); pasal
(34)). Pasal-pasal tersebut sifatnya masih sangat global dijabarkan lebih rinci
kedalam bentuk UU pendidikan. Berdasarkan UU pendidikan inilah sistem
pendidikan disusun dan dilaksanakan.
Undang-undang Pendidikan No. 4 Tahun 1950 kemudian dikukuhkan
kembali sebagai UU Pendidikan No. 12 Tahun1954. Namun dirasa masih
kurang sesuai bila digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pndidikan.
Setelah berlangsung selama 35 tahun, diterbitkan Undang-Undang RI No. 2
Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang telah disempurnakan.
Isi UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) lebih
komprehensif, dalam arti bahwa UU No. 2 Tahun 1989 ini mencakup semua
jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Konsep komprehensif ini sejalan dengan
esensi pendidikan yang pada hakikatnya berupa proses bersinambungan yang
dimulai dari masa balita sampai masa manula dan yang berlangsung di mana
saja dan kapan saja.
Sifat UU RI No. 2 Tahun 1989 lebih fleksibel dp. UU No. 4/1950 dan UU No.
22/61. Fleksibilitas ini terlihat dalam hal-hal seperti :
Masih memberi peluang untuk dilengkapi dengan peraturan-peraturan
pemerintah dan keputusan menteri. Strategi demikian memungkinkan
undang-undang yang sifatnya normatif itu di dalam realisasinya terkait
dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang heterogen dalam bentangan
geografis yang luas dan bervariasi.
Adanya badan pertimbangan pendidikan nasional (Bab XIV, Pasal 48),
yang bertugas memberikan masukan dan saran-saran kepada
pemerintah/menteri pendidikan, dalam menyusun peraturan pemerintah
dan keputusan menteri.
Adanya tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan
keluarga dalam menyelenggarakan pendidikan sehingga pendidikan dapat
mengarah kepada keserasian pemenuhan tujuan negara di satu pihak dan
kepentingan rakyat pada masa mendatang.

Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1989 tidak hanya bersifat mengatur
(seperti UU Pendidikan yang lalu), tetapi juga memiliki kekuatan hukum
yang bersifat memaksa. (Bab XVII Ketentuan Pidana, Pasal 55 dan 56
mengenai pelanggaran terhadap penggunaan gelar dan atau sebutan lulusan
perguruan tinggi).

UU No. 2 Tahun 1989 lebih memperhatikan prospek masa depan, bersikap
terbuka dalam mengantisipasi perkembangan masa depan.

d. Aspek Struktur
Aspek struktur pembangunan sistem pendidikan berperan pada upaya
pembenahan struktur pembangunan pendidikan yang mencakup jenjang
dan jenis pendidikan, lama waktu belajar dari jenjang yang satu ke jenjang
yang lain, sebagai akibat dari perkembangan sosial budaya dan politik.
Dalam prakteknya, perkembangan pola struktur tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan sosial budaya dan politik.
e. Aspek Kurikulum
Kurikulum merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Tujuan kurikuler
berubah, maka kurikulum berubah pula,.Perubahan tersebut dapat berupa
materinya, orientasinya, pendekatannya maupun metodenya.Kurikulum
dalam sistem pendidikan persekolahan di negara kita telah mengalami
penyempurnaan-penyempurnaan dalam perjalanannya. Dari pernyataan
tersebut, terlihat bahwa betapa perlunya sistem pendidikan itu selalu
disempurnakan, khususnya dari segi kurikulumnya
Dari uraian tersebut di atas maka dapat di simpulkan bahwa sistem
pendidikan memiliki aspek-aspek yang saling berhubungan dan
berkaitan,aspek-aspek tersebt antara lain,aspek filosofi dan keilmuan,aspek
yuridis atau perundang-undangan,struktur,dan kurikulum yang di
dalamnya meliputi materi,metodologi,pendekatan,dan orientasi.








Bab III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah di jabarkan,maka dapat disambil kesimpulan bahwa :
1. Esensi dari pembangunan bertumpu dan berpangkal pada manusianya. Pendidikan
sangat erat kaitannya dengan pembangunan. kita tidak bisa memungkiri bahwa
sumbangan pendidikan pada pembangunan sangatlah besar. Pendidikan merupakan
usaha menuju perubahan pembangunan dan pembangunan itu sendiri adalah wujud
usaha dari pendidikan yang telah dilaksanakan.
2. Sumbangan pendidikan pada pembangunan terlihat dari :
a. Segi sasaran pendidikan,yaitu menghasilkan manusia yang baik, artinya
dimanapun berada manusia tersebut mampu memperbaiki lingkungannya.
b. Segi lingkungan pendidikan,yang terdiri dari lingkungan keluarga, ,
lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat.
c. Segi jenjang pendidikan, yaitu pendidikan dasar,pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi akan memberikan bekal kepada peserta didik secara
berkesinambungan,artinya pendidikan tinggi berkualitas, jika pendidikan
tengahnya kualitas, dan pendidikan menengah berkualitas jika pendidikan
dasarnya berkualitas.
d. Segi pembidangan kerja atau sektor kehidupan, artinya pembinaan dan
pengembangan pada bidang kerja dan kehidupan akan maksimal bila
dilakukan di dalam dunia pendidikan.
3. Pembangunan sistem pendidikan nasional,merupakan suatu usaha terencana yang
dilakukan untuk dapat menyempurnakan sistem pendidikan sebelumnya,yang meliputi
aspek-aspeknya antara lain :
a. Apek filosofi dan keilmuan
b. Aspek yuridis dan perundang-undangan
c. Struktur
d. Kurikulum yang meliputi materi, metodologi, pendekatan, orientasi.
Artinya dari aspek-aspek tersebut selalu dilakukan perubahan-perubahan demi
menyempurnakan sistem pendidikan yang telah ada selama ini.


DAFTAR PUSTAKA


Corporation, F. (2011). Kamus besar bahasa Indonesia (last updated : Agustus 2011).
http://fcorpsoft.tk. Diakses 12 Agustus 2012.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/09/12503844/5.Program.Prioritas.Pembangunan.P
endidikan. Pembangunan dan Pendidikan. Diakses 24 Januari 2014.
http://edukasi.kompasiana.com/2013/07/14/peran-pendidikan-dalam-pembangunan-
576788.html. Peran pendidikan dalam pembangunan. Diakses 24 Januari 2014.
http://www.infokursus.net/download/UU_20_2003.pdf. Undang-undang republik Indonesia
No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Diakses 13 Januari 2012.
Suwarno, (1992). Pengantar Umum Pendidikan. Surabaya: IKIP
Syah, M. (2010). Psikologi pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
Tirtarahardja, U. & S. L. La Sulo. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta