Anda di halaman 1dari 4

1.

DATA NOMINAL

Data Nominal biasa disebut data skala nominal adalah data yang diperoleh
dengan cara kategorisasi atau klasifikasi.

Contoh: Jenis pekerjaan, diklasifikasi sebagai:
1. Pegawai negeri, diberi tanda 1,
2. Pegawai swasta, diberi tanda 2,
3. Wiraswasta, diberi angka 3
Ciri Data Nominal:
Posisi data setara. Dalam contoh tersebut, pegawai negeri tidak lebih
tinggi/lebih rendah dari pegawai swasta.
Tidak bisa dilakukan operasi matematika (X, +, - atau : ). Contoh, tidak
mungkin 3-2=1 (Wiraswasta dikurangi pegawai swasta=pegawai negeri

2. DATA ORDINAL

Data berskala ordinal adalah data yang diperoleh dengan cara kategorisasi atau
klasifikasi, tetapi diantara data tersebut terdapat hubungan.

Contoh:

Kepuasan pelanggan, diklasifikasikan sebagai:

Sangat puas, diberi tanda 1,
Puas, diberi tanda 2,
Cukup puas, diberi tanda 3,
Tidak puas diberi tanda 4,
Sangat tidak puas diberi tanda 5

Ciri Data Ordinal:
1. posisi data tidak setara. Dalam kasus di atas, sikap pelanggan yang sangat
puas, lebih tinggi dari yang puas. Sikap pelanggan yang puas, lebih tinggi
dari yang cukup puas, dst. Angka/tanda bisa dibalik dari 5 hingga 1,
tergantung kesepakatan.
2. Tidak bisa dilakukan operasi matematika. Tidak mungkin 1+2=3 (yang
berarti sangat puas ditambah puas = cukup puas)
3. DATA INTERVAL

Data interval adalah data yang diperoleh dengan cara pengukuran, dimana jarak
antar dua titik pada skala, sudah diketahui. Berbeda dengan skala ordinal,
dimana jarak dua titik tidak diperhatikan (seperti berapa jarak antara puas dan
tidak puas, yang sebenarnya menyangkut perasaan orang saja)

Contoh:

Temperatur ruangan. Bisa diukur dalam Celsius, atau Fahrenheit, dengan
masing-masing punya skala sendiri. Untuk air membeku dan mendidih:

Celcius pada 0 C sampai 100 C. Sakala ini jelas jaraknya, bahwa 100-
0=100
Fahreinheit pada 32 F sampai 212F. Skala ini jelas jaraknya, 212-
32=180

Ciri Data I nterval:

Tidak ada kategorisasi atau pemberian kode seperti terjadi pada data
nominal dan ordinal.
Bisa dilakukan operasi matematika. (panas 40 derajad adalah dua kali
panas disbanding 20 derajad)

4. DATA RASIO:

Data berskala rasio adalah data yang diperoleh dengan cara pengukuran,
dimana jarak dua titik pada skala sudah diketahui, dan mempunyai titik nol yang
absolut. Ini berbeda dengan skala interval, dimana taka da titik nol
mutlak/absolut. Seperti titik 0C tentu beda dengan titik 0F. atau pergantian
tahun pada system kalender Masehi (setiap 1 Januari) berbeda dengan
pergantian tahun Jawa, China dan lainnya. Sehingga tak ada tahun baru dalam
artian diakui oleh semua kalender sebagai tahun baru.

Contoh:Jumlah buku di kelas: Jika 5, berarti ada 5 buku. Jika 0, berarti taka da
buku (absolut 0)

Ciri Data Rasio:

Tak ada kategorisasi atau pemberian kode.
Bisa dilakukan operasi matematika. Missal: 100 cm + 35 cm = 135 cm; 5
mangga + 2 mangga = 7 mangga.



1. SKALA INTERVAL

Skala pengukuran Interval adalah skala yang mempunyai semua sifat
yang dipunyai oleh skala pengukuran nominal, dan ordinal ditambah dengan
satu sifat tambahan. Dalam skala interval, selain data dapat dibedakan antara
yang satu dengan yang lainnya dan dapat dirangking, perbedaan (jarak/interval)
antara data yang satu dengan data yang lainnya dapat diukur.
Contoh : Data tentang suhu empat buah benda A, B, C , dan D yaitu masing-
masing 20. 30, 60, dan 70 derajat Celcius, maka data tersebut adalah data
dengan skala pengukuran interval karena selain dapat dirangking, peneliti juga
akan tahu secara pasti perbedaan antara satu data dengan data lainnya.
Perbedaan data suhu benda pertama dengan benda kedua misalnya, dapat
dihitung sebesar 10 derajat, dst. Namun dalam skala interval, tidak mungkin kita
melakukan perbandingan antara satu data dengan data yang lainnya. Kita tidak
dapat mengatakan bahwa suhu 60 derajat Celcius dari benda C dan 30 derajat
Celcius untuk suhu benda B berarti bahwa benda C 2x lebih panas dari benda B.
Hal ini tidak mungkin karena skala interval tidak mempunyai titik nol yang
mutlak. Titik nol yang tidak mutlak berarti : benda dengan suhu nol derajat
Celcius bukan berarti bahwa benda tersebut tidak mempunyai panas.
2. SKALA RASIO
Skala rasio merupakan skala yang paling tinggi peringkatnya. Semua sifat
yang ada dalam skala terdahulu dipunyai oleh skala rasio. Sebagai tambahan,
dalam skala ini, rasio (perbandingan) antar satu data dengan data yang lainnya
mempunyai makna.
Contoh : Data mengenai berat adalah data yang berskala rasio. Dengan skala ini
kita dapat mengatakan bahwa data berat badan 80 kg adalah 10 kg lebih berat
dari yang 70 kg, tetapi juga dapat mengatakan bahwa data 80 kg adalah 2x lebih
berat dari data 40 kg. Berbeda dengan interval, skala rasio mempunyai titik nol
yang mutlak.
3. SKALA NOMINAL
Skala nominal merupakan skala pengukuran yang paling rendah
tingkatannya di antara ke empat skala pengukuran yang lain. Seperti namanya,
skala ini membedakan satu obyek dengan obyek lainnya berdasarkan lambang
yang diberikan. Oleh karena itu data dalam skala nominal dapat dikelompokkan
ke dalam beberapa kategori, dan kepada kategori tersebut dapat diberikan
lambang yang sesuai atau sembarang bilangan. Bilangan yang diberikan tidak
mempunyai arti angka numerik artinya kepada angka-angka tersebut tidak dapat
dilakukan operasi aritmetika, tidak boleh menjumlahkan, mengurangi,
mengalikan, dan membagi. Bilangan yang diberikan hanyalah berfungsi sebagai
lambang yang dimaksudkan hanya untuk membedakan antara data yang satu
dengan data yang lainnya.
Contoh : Data mengenai barang-barang yang dihasilkan oleh sebuah mesin
dapat digolongkan dalam kategori cacat atau tidak cacat. Barang yang cacat bisa
diberi angka 0 dan yang tidak cacat diberi angka 1. Data 1 tidaklah berarti
mempunyai arti lebih besar dari 0. Data satu hanyalah menyatakan lambang
untuk barang yang tidak cacat.
4. SKALA ORDINAL
Skala pengukuran berikutnya adalah skala pengukuran ordinal. Skala
pengukuran ordinal mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari skala pengukuran
nominal. Dalam skala ini, terdapat sifat skala nominal, yaitu membedakan data
dalam berbagai kelompok menurut lambang, ditambah dengan sifat lain yaitu,
bahwa satu kelompok yang terbentuk mempunyai pengertian lebih (lebih tinggi,
lebih besar,) dari kelompok lainnya. Oleh karena itu, dengan skala ordinal
data atau obyek memungkinkan untuk diurutkan atau dirangking.
Contoh : Sistem kepangkatan dalam dunia militer adalah satu contoh dari data
berskala ordinal Pangkat dapat diurutkan atau dirangking dari Prajurit sampai
Sersan berdasarkan jasa, dan lamanya pengabdian. Jika peneliti merangking
data lamanya pengabdian maka peneliti dapat memberikan nilai 1, 2, 3, , 4
dst masing-masing terhadap seseorang anggota ABRI yang berpangkat Prajurit,
Kopral, Sersan, dst. Berbeda dengan skala nominal, angka yang diberikan
terhadap obyek tidak semata-mata berlaku sebagai lambang tetapi juga
memperlihatkan urutan atau rangking.