Anda di halaman 1dari 21

Tujuh Macam Dosa Besar

Jauhilah tujuh macam dosa yang bertingkat - tingkat (besar), diantaranya ialah :
1
. Mempersekutukan Allah
2. Sihir
3. Membunuh diri yang diharamkan Allah
kecuali dengan hak.
4. Makan harta riba
5. Makan harta anak yatim
6. Lari dari peperangan
7. Menuduh wanita yang berimana yang
tidah tahu menahu dengna perbuatan buruk
dengan apa yang difitnakan kepadany

SYIRIK
Dosa syirik adalah dosa terbesar dalam Islam. Syirik berarti keluar dari Islam yang biasa disebut
dengan murtad. Murtad disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
1. Pindah ke agama lain (konversi) seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu,
Zoroastrian, atheis, dll.
2. Mengharamkan perkara halal atau menghalalkan perkara haram seperti tidak menganggap
wajib shalat 5 waktu, puasa Ramadan, dll.
3. Melakukan dosa besar dan tidak menganggap itu sebagai dosa.
MEMBUNUH
Membunuh atau melakukan pembunuhan merupakan dosa yang sangat besar. Berdasarkan dalil-
dalil sebagai berikut:
1. QS (Quran Surah) Al-Maidah 5:32:

Artinya: Barangsiapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang
lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh
semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia
telah memelihara kehidupan semua manusia.

2. QS Al-An'am 6:151


Artinya: Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang
benar. Menurut Tafsir Qurtubi, yang diharamkan untuk dibunuh adalah orang Islam dan orang
kafir muahadah yaitu orang nonmuslim yang memiliki pernjanjian damai dengan negara Islam.
3. Hadits Nabi riwayat Bukhari & Muslim (muttafaq alaih):

:

Artinya: Tidak halal darah seorang Muslim yang membaca syahadat kecuali karena tiga hal:
janda yang berzina, telah membunuh orang, meninggalkan agama dan memisahkan diri dari
jamaah Islam.
MENCURI / KORUPSI
Mencuri atau mengambil hak orang atau masyarakat secara ilegal. Termasuk dalam kategori ini
adalah korupsi dan merampok. Perbuatan mencuri adalah dosa besar karena merusak tatanan dan
harmoni dalam masyarakat. Dalil-dalinya adalah sebagai berikut:
.PEMBAHASAN
1. Larangan Buruk Sangka
(BUKHARI - 5604) : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad telah
mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin
Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Jauhilah
prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, Janganlah kalian
saling mencari berita kejelekan orang lain (tahassus), janganlah saling memata-matai (tajassus),
saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-
hamba Allah yang bersaudara."
Rasulullah senantiasa memberi peringatan kepada umatnya dari perkara-perkara yang
mendatangkan kemudharatan atau menimbulkan keretakan ukhuwah islamiyah antara kaum
muslimin. Dalam hadits tersebut, Nabi mewaspadai umatnya dari sifat buruk sangka terhadap
saudaranya karena hal ini akan membawa kerusakan bagi mereka.
Adapun prasangka yang dicela dan dilarang dalam hadits di atas adalah prasangka semata tanpa
ada faktor penguat atau qorinah (alasan) tertentu. Beliau menyatakan bahwa hal ini adalah
sedusta-dustanya berita, karena ketika seseorang mulai berprasangka buruk, maka jiwanya
berkata kepadanya si fulan berkata demikian, si fulan melakukan hal itu, dia ingin berbuat
demikian dan seterusnya, hal ini Rasulullah namakan dengan sedusta-dustanya pembicaraan.
Kandungan hadits ini mirip dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujuraat (49) : 12 :


-



Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian
dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-
Hujuraat (49) : 12)
Akan tetapi dalam ayat tersebut Allah berfirman sebagian dari pra-sangka itu adalah dosa,
Allah tidak berfirman semua prasangka, karena prasangka yang bersandar pada bukti dan
penguat tidaklah mengapa.[1]
Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, Allah SWT berfirman melarang hamba-hamba-Nya yang
beriman berprasangka yang bukan pada tempatnya terhadap keluarganya, familinya dan terhadap
orang lain pun, karena sebagian dari prasangka itu merupakan perbuatan yang membawa dosa
dan janganlah kamu mengintai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Allah memperumpamakan
orang yang menggunjing sesama saudaranya yang mukmin, seperti seorang yang memakan
daging saudara yang telah mati. Tentu tak seorang pun di antara kamu suka berbuat demikian.
Maka bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyanyang.[2]
Diriwayatkan oleh Abu Yaala dari Barra bin Aazib, bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam
salah satu khotbahnya :
Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya, janganlah kamu menggunjingi orang-orang
Islam dan janganlah kamu mencari-cari aurat-uarat (hal yang dirahasiakan) mereka, karena
barang siapa mencari-cari aurat saudaranya, Allah akan mencari auratnya dan siapa yang dicari
auratnya oleh Allah pasti akan terbukalah auratnya itu walaupun ia ditengah-tengah
rumahnya.[3]
M. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Mishbahmengatakan, Ayat diatas (QS. Al-Hujuraat (49)
: 12) menegaskan bahwa sebagian dugaan adalah dosa yakni dugaan yang tidak berdasar.
Biasanya dugaan yang tidak berdasar dan mengakibatkan dosa adalah dugaan buruk terhadap
pihak lain. Ini berarti ayat di atas melarang melakukan dugaan buruk yang tanpa dasar, karena ia
dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa. Dengan menghindari dugaan dan prasangka
buruk, anggota masyarakat akan hidup tenang dan tentram serta produktif, karena mereka tidak
akan ragu terhadap pihak lain dan tidak juga akan tersalurkan energinya kepada hal-hal yang sia-
sia. Tuntunan ini juga membentengi setiap anggota masyarakat dari tuntutan terhadap-hal-hal
yang baru bersifat prasangka. Dengan demikian ayat ini mengukuhkan prinsip bahwa :
Tersangka belum dinyatakan bersalah sebelum terbukti kesalahannya, bahkan seseorang tidak
dapat dituntut sebelum terbukti kebenaran dugaan yang dihadapkan kepadanya. Memang
bisikan-biskan yang terlintas di dalam benak tentang sesuatu dapat ditoleransi, asal bisikan
tersebut tidak ditingkatkan menjadi dugaan dan sangka buruk. Dalam konteks ini Rasul SAW
berpesan :Jika kamu menduga (yakni terlintas dalam benak kamu sesuatu yang buruk terhadap
orang lain) maka jangan lanjutkan dugaanmu dengan melangkah lebih jauh. (HR. Ath-
Thabarani)
Kata tajassasu terambil dari kata jassa, yakni upaya mencari tahu dengan cara tersembunyi. Dari
sini mata-matadinamai jasus. Imam Ghazali memahami larangan ini dalam arti, jangan tidak
membiarkan orang berada dalam kerahasiaannya. Yakni setiap orang berhak menyembunyikan
apa yang enggan diketahui orang lain. Jika demikian jangan berusaha menyingkap apa yang
dirahasiakannya itu. Mencari-cari kesalahan orang lain biasanya lahir dari dugaan negatif
terhadapnya, karena itu ia disebutkan setelah laranganmenduga.[4]
Dalam hadits diatas juga Rasul SAW melarang kita untuk saling mendengki. Dengki adalah
mengharapkan hilangnya kebahagiaan atau kenikmatan dari orang yang didengki. Sifat ini
merupakan salah satu perbuatan yang dikategorikan dosa besar.
Marilah kita bayangkan apabila penyakit dengki telah merambah ke setiap orang. Maka mereka
akan saling berusaha untuk menghilangkan kenikmatan atau kebahagiaan yang diperoleh orang
lain. Setiap orang yang mendapat kenikmatan atau kebahagiaan tidak akan selamat dari
kejahatan orang lain yang dengki atas dirinya. Apabila demikian, bagaimana kehidupan manusia
pada saat itu ?[5]
Dengan begitu, dapat disepakati bahwa penyakit dengki dapat menghancurkan keharmonisan
kehidupan manusia, selain itu juga dapat menghancurkan kebahagiaan seseorang atau memecah
suatu kelompok. Lihatlah bagaimana penyakit dengki telah merusak hati para pendeta-pendeta
sehingga menolak kebenaran yang mereka ketahui dan yakini, maka penyakit ini pun akan dapat
menghancurkan umat ini.[6]
Allah berfirman dalam QS. Asy-Syura (42) : 14 :





Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu
pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka[7]. kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan
yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang
ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang diwariskan
kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil)[8]sesudah mereka, benar-benar berada dalam
keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.
Dalam hadits diatas juga disebutkan bahwa sesama muslim dilarang saling membelakangi, saling
memusuhi. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga hubungan baik antar manusia,
sehingga segala sesuatu yang meretakkan hubungan baik tersebut, Islam pasti melarangnya.
Dan diakhir redaksi hadits diatas kita diperintahkan untuk menjadi hamba Allah yang
bersaudara. Artinya muslim yang satu dengan yang lainnya saudara. Sehingga tidak sepantasnya
berburuk sangka, saling memata-matai, saling dengki, saling membelakangi, saling memusuhi
sesama muslim.
2. Larangan Duduk-duduk di Jalan dan Pentingnya Menjaga Etika di Jalan[9]
(BUKHARI - 2285) : Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Fadhalah telah
menceritakan kepada kami Abu 'Umar Hafsh bin Maisarah dari Zaid bin Aslam dari 'Atha' bin
Yasar dari Abu Sa'id AL Khudriy radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Janganlah kalian duduk duduk di pinggir jalan". Mereka bertanya: "Itu kebiasaan
kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama".
Beliau bersabda: "Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak
jalan tersebut". Mereka bertanya: "Apa hak jalan itu?" Beliau menjawab: "Menundukkan
pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma'ruf nahiy munkar".

Penjelasan Kebahasaan
1. Ungkapan beliau: m lan min majlisin buddun (kami tidak punya (pilihan) tempat
duduk-duduk) maksudnya adalah kami membutuhkan untuk duduk-duduk di tempat-tempat
seperti ini, karena adanya faedah yang kami dapatkan.

2. Ungkapan beliau : fa ath ath-tharqa haqqahu [berilah jalan tersebut
haknya] maksudnya adalah bila kalian memang harus duduk di jalan tersebut, maka hendaklah
kalian memperhatikan etika yang berkaitan dengan duduk-duduk di jalan dan kode etiknya yang
wajib dipatuhi oleh kalian.
3. Ungkapan beliau : ghadl-dlul bashar [memicingkan pandangan] maksudnya adalah
mencegahnya dari hal yang tidak halal dilihat olehnya.
4. Ungkapan beliau : kufful adza [mencegah (adanya) gangguan] maksudnya adalah
mencegah adanya gangguan terhadap pejalan atau orang-orang yang lewat disana, baik berupa
perkataan ataupun perbuatan seperti mempersempit jalan mereka, mengejek mereka dan
sebagainya.

Sekilas Tentang Periwayat Hadits
Beliau adalah seorang shahabat yang agung, Abu Sad, Sad bin Mlik bin Sinn al-Khazrajiy
al-Anshriy al-Khudriy. Kata terakhir ini dinisbatkan kepada Khudrah, yaitu sebuah
perkampungan kaum Anshr.
Ayah beliau mati syahid pada perang Uhud. Beliau ikut dalam perang Khandaq dan
dalam Baiatur Ridlwn. Meriwayatkan dari Nabi sebanyak 1170 hadits. Beliau termasuk ahli
fiqih juga ahli ijtihad kalangan shahabat dan wafat pada tahun 74 H.

Faedah-Faedah Hadits & Hukum-Hukum Terkait
1. Diantara tujuan agama kita adalah untuk mengangkat derajat masyarakat Islam kepada hal-
hal yang agung, kemuliaan akhlaq dan keluhuran etika. Sebaliknya, menjauhkan seluruh
elemennya dari setiap budi pekerti yang jelek dan pekerjaan yang hina. Islam juga menginginkan
terciptanya masyarakat yang diliputi oleh rasa cinta dan damai serta mengikat mereka dengan
rasa persaudaraan (ukhuwah) dan kecintaan.
2. Hadits diatas menunjukkan kesempurnaan Dinul Islam dalam syariat, akhlaq, etika,
menjaga hak orang lain serta dalam seluruh aspek kehidupan. Ini merupakan tasyri yang tidak
ada duanya dalam agama atau aliran manapun.
3. Asal hukum terhadap hal yang berkenaan dengan jalan dan tempat-tempat umum adalah
bukan untuk dijadikan tempat duduk-duduk, karena implikasinya besar, diantaranya:
a. Menimbulkan fitnah,
b. Mengganggu orang lain baik dengan cacian, kerlingan ataupun julukan,
c. Mengintip urusan pribadi orang lain,
d. Membuang-buang waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.
4. Rasulullah Shallallhu 'alaihi wasallam dalam hadits diatas memaparkan sebagian dari
kode etik yang wajib diketahui dan dipatuhi oleh para pengguna jalan, yaitu:
1. Memicingkan mata dan mengekangnya dari melihat hal yang haram; sebab jalan juga
digunakan oleh kaum wanita untuk lewat dan memenuhi kebutuhan mereka. Jadi, memicingkan
mata dari hal-hal yang diharamkan termasuk kewajiban yang patut diindahkan dalam setiap
situasi dan kondisi. Allah berfirman:Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih
suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (Q.S.
24/an-Nr:30).
2. Mencegah adanya gangguan terhadap orang-orang yang berlalu lalang dalam segala
bentuknya, baik skalanya besar ataupun kecil seperti menyakitinya dengan ucapan yang tak
layak; cacian, makian, ghibah, ejekan dan sindiran. Bentuk lainnya adalah gangguan yang berupa
pandangan ke arah bagian dalam rumah orang lain tanpa seizinnya. Termasuk juga dalam
kategori gangguan tersebut; bermain bola di halaman rumah orang, sebab dapat menjadi biang
pengganggu bagi tuannya, dan lainnya.
3. Menjawab salam; para ulama secara ijma menyepakati wajibnya menjawab salam. Allah
Taala berfirman: Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah
pernghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa). (Q.S. 4/an-
Nisa: 86).
Dalam hal ini, seperti yang sudah diketahui bahwa hukum memulai salam adalah sunnah dan
pelakunya diganjar pahala. Salam adalah ucapan hormat kaum muslimin yang berisi doa
keselamatan, rahmat dan keberkahan.
4. Melakukan amar maruf nahi mungkar ; ini merupakan hak peringkat keempat dalam hadits
diatas dan secara khusus disinggung disini karena jalan dan semisalnya merupakan sasaran
kemungkinan terjadinya banyak kemungkaran.
Banyak nash-nash baik dari al-Kitab maupun as-Sunnah yang menyentuh prinsip yang agung ini,
diantaranya firman Allah Taala: dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan dan menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang
mungkar. (Q.S. 3/li Imrn: 104).
Dalam hadits Nabi, beliau Shallallhu 'alaihi wasallam bersabda: barangsiapa diantara kamu
yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mencegahnya dengan tangannya; jika dia tidak
mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya; yang demikian
itulah selemah-lemah iman.
Banyak sekali nash-nash lain yang menyebutkan sebagian dari kode etik yang wajib diketahui
dan dipatuhi oleh para pengguna jalan, diantaranya:
a. Berbicara dengan baik,
b. Menjawab orang yang bersin (orang yang bersin harus mengucapkan alhamdulillhsedangkan
orang yang menjawabnya adalah dengan mengucapkan kepadanyayarhamukallh),
c. Membantu orang yang mengharapkan bantuan,
d. Menolong orang yang lemah,
e. Menunjuki jalan bagi orang yang sesat di jalan,
f. Memberi petunjuk kepada orang yang dilanda kebingungan,
g. Mengembalikan kezhaliman orang yang zhalim, yaitu dengan cara mencegahnya.
3. Larangan Ghibah (Ngegosip) dan Buhthan (Fitnah)
(MUSLIM - 4690) : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu
Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Al A'laa dari Bapaknya dari
Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya: "Tahukah kamu,
apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab; 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Kemudian
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ghibah adalah kamu membicarakan
saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.' Seseorang bertanya; 'Ya Rasulullah,
bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan
yang saya ucapkan? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Apabila benar apa yang
kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang
kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan
terhadapnya.'
Pembahasan masalah ini panjang sekali. Oleh karena itu, pertama sekali kami akan
menyebutkan tentang tercelanya menggunjing dan dalil-dalil syara yang menjelaskannya. Allah
SWT menjelaskan celaan ghibah ini dalam al-Quran dan Allah menyamakan pelakunya seperti
orang yang makan bangkai. Allah SWT berfirman dalam surat al-Hujuraat: 12:


-



Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian
dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Nabi SAW bersabda : Setiap muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya
bagi muslim yang lain (HR. Muslim)[10]
M. Quraish Shihab dalam menafsirkan QS. Al-Hujurat ayat 12, berkata: kata yaghtab terambil
dari kata ghibah yang berasal dari kata ghaib yakni tidak hadir. Ghibah adalah menyebut orang
lain yang tidak hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang
bersangkutan. Jika keburukan yang disebut itu tidak disandang oleh yang bersangkutan, maka ia
dinamai buhthan/ kebohongan besar. Dari penjelasan diatas terlihat bahwa walaupun keburukan
yang diungkap oleh penggunjing tadi memang disandang oleh objek ghibah, ia tetap terlarang.
Memang, pakar-pakar hukum membenarkan ghibah untuk sekian banyak alasan antara lain:
1. Meminta fatwa, yakni seseorang yang bertanya tentang hukum dengan menyebut kasus
tertentu dengan member contoh. Ini seperti halnya seseorang wanita yang bernama Hind
meminta fatwa Nabi menyangkut suaminya yakni Abu Sufyan dengan menyebut kekikirannya.
Yakni apakah sang istri boleh mengambil uang suaminya tana sepengetahuan sang suami?
2. Menyebut keburukan seseorang yang memang tidak segan menampakkan keburukannya
dihadapan dihadapan umum. Seperti menyebut si A adalah Pemabuk, karena memang dia sering
minum di hadapan umum dan mabuk.
3. Menyampaikan keburukan seseorang kepada yang berwenang dengan tujuan mencegah
terjadinya kemungkaran.
4. Menyampaikan keburukan seseorang kepada siapa yang sangat membutuhkan informasi
tentang yang bersangkutan, misalnya dalam konteks menerima lamarannya.
5. Memperkenalkan seseorang yang tidak dapat dikenal kecuali dengan menyebut
aib/kekurangannya. Misalnya Si A yang buta sebelah itu.[11]
Untuk mengakhiri penjelasan tentang larangan Ghibah dan Fitnah ini, ada baiknya pemakalah
akan mengutipkan beberapa ungkapan yang bisa kita renungkan, sehingga kita tidak berbuat
Ghibah dan Fitnah, sbb:
Ibnu Abbas berkata: apabila kamu ingin menyebut aib (kekurangan) saudaramu maka ingatlah
kekuranganmu. Abu Hurairah berkata, Salah seorang di antara kamu melihat ada kotoran di
mata saudaranya, tetapi ia tidak melihat kekurangan di matanya sendiri.
Al-Hasan bertutur, Wahai manusia, sesungguhnya kamu tidak akan mendapatkan hakikat
keimanan sampai kamu meninggalkan perbuatan mencari kekurangan orang lain yang juga ada
pada dirimu sendiri dan sampai kamu memulai untuk memperbaiki (kekurangan) itu lalu
memperbaiki kekurangan yang ada pada dirimu. Jika itu kamu lakukan maka kamu telah sibuk
dengan dirimu sendiri dan orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang seperti itu.
Umar RA berkata, Kamu harus mengingat Allah selalu. Sebab itu merupakan penawar dan
jauhilah mengingat-ingat manusia sebab itu adalah penyakit. Semoga Allah memberikan taufik
agar selalu taat kepada Allah.[12]

BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sbb:
1. Dari hadits tentang larangan buruk sangka dapat diambil faedah sbb:
a. Larangan berprasangka buruk tanpa ada faktor penguat atau qorinah tertentu
b. Prasangka buruk merupakan sedusta-dustanya perkataan
c. Anjuran berprasangka baik terhadap sesama muslim
d. Islam sangat menjaga hubungan baik antar manusia, sehingga segala sesuatu yang
meretakkan hubungan baik tersebut, Islam pasti melarangnya
2. Rasulullah Shallallhu 'alaihi wasallam dalam hadits diatas memaparkan sebagian dari
kode etik yang wajib diketahui dan dipatuhi oleh para pengguna jalan, yaitu:
a. Memicingkan mata dan mengekangnya dari melihat hal yang haram.
b. Mencegah adanya gangguan terhadap orang-orang yang berlalu lalang dalam segala
bentuknya, baik skalanya besar ataupun kecil.
c. Menjawab salam
d. Melakukan amar maruf nahi mungkar
3. Berita kejelekan orang lain bukanlah untuk disebarluaskan, tetapi ini adalah bahan untuk
introspeksi diri. Berburuk sangka, menggunjing, menghina, memfitnah, menertawakan, mencela
dan mengolok-olok serta meneliti kesalahan orang lain adalah bagian dari akhlak tercela yang
harus dijauhi oleh setiap muslim. Sebab akan menghancurkan keimanan yang telah tertanam di
dalam hati dan hanya akan mengantarkan seseorang mendapatkan laknat Allah sehingga menjadi
penghuni neraka.
BURUK SANGKA (Suuzhan)
Buruk sangka adalah merupakan suatu perbuatan yang timbulnya dari lidah, tidak ada buruk
sangka terhadap seseorang, jika lidah tidak bicara / mengata-ngatai.
Sesungguhnya prasangka buruk terhadap seorang muslim disertai fakta yang benar merupakan
kendaraan melalui jalan yang kasar dan aib, serta dapat menjadi wabah kemadharatan bagi
masyarakat Islam. Prasangka buruk bukanlah suatu dosa bila hanya bisikan hati sesaat dalam
jiwa manusia.
Prasangka dihasilkan dari perbuatan dan perkataan seseorang atau gerak gerik orang yang
mendapat tuduhan tertentu dari orang lain. Biasanya prasangka timbul bila seseorang berada
dalam situasi yang sulit. Secara psikologis prasangka dapat melahirkan kecenderungan hati untuk
menuduh orang lain yang menganggap jelek diri kita. Oleh karena itu Nabi bersabda :

{ }

Artinya: Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulallah SAW bersabda, berhati-hatilah kalian
dari buruk sangka. sebab buruk sangka itu sedusta-dusta cerita (berita).(H.R Bukhari)

Berprasangka buruk yang dimaksud disini adalah prasangka buruk. Al- Khuthabi mengatakan:
yang prasangka buruk yang diharamkan Allah SWT. adalah yang tertanam dalam hati secara
terus menerus.

Buruk sangka adalah menyangka seseorang berbuat kejelekan atau menganggap jelek tanpa
adanya sebab-sebab yang jelas yang memperkuat sangkaannya. Orang yang telah melakukannya
berarti telah berbuat dosa sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:

....................

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa.(Q.S.Al-Hujarat: 12)

Apalagi kalau berburuk sangka itu terhadap masalah-masalah aqidah yang harus diyakini apa
adanya. Buruk sangka dalam masalah ini adalah haram hukumnya. Sebaliknya, berburuk sangka
terhadap masalah-masalah kehidupan agar memiliki semangat untuk menyelidikinya, adalah
diperbolehkan.
Buruk sangka dinyatakan oleh Nabi SAW., sebagai sedusta-dustanya ucapan. Buruk sangka
biasanya berasal dari diri sendiri. Hal itu sangat berbahaya karena akan mengganggu
hubungannya dengan orang lain yang dituduh jelek, padahal belum tentu orang tersebut sejelek
persangkaannya. Itulah sebabnya, berburuk sangka sangat berbahaya, bahkan sebagian ulama
berpendapat bahwa buruk sangka lebih berbahaya daripada berbohong.
Tuhan menyuruh kita untuk hanya mempunyai sangkaan yang baik. Tidak boleh mempunyai
sangkaan yang buruk. Sebab dari titik tolak sangkaan kita itu akan menghasilkan keadaan yang
sesuai dengan sangkaan kita itu. Jika kita menyangka Allah itu baik, maka Allah pun akan
memperlakukan kita secara baik. Tetapi sebaliknya, jika kita berprasangkka buruk kepada Allah,
maka Allah pun akan memperlakukan kita secara buruk pula. Seperti hadits Qudsi yang
diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu NaI yang artinya:

Artinya: Aku (Allah) mengikuti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. jika mereka menyangka
baik, mereka akan Ku perlakukan baik. jika mereka menyangka buruk terhadap-Ku, merekapun
akan Ku perlakukan secara buruk pula.

Dampak negatif dari buruk sangka :
1. Hancurnya ukhuwah dan hilangnya teman,
2. Mudah berbuat dosa,
3. Sulit untuk berbuat baik dan meminta maaf,
4. Sulit untuk bekerjasama dengan orang lain, dan
5. Biang provokator.

Secara Psikologis, orang yang memiliki sifat buruk sangka selalu menunjukkan perilaku sebagai
berikut :
1. Selalu menolak setiap kegagalan dan tindakan orang lain yang tidak simpatik atau tidak
berkenaan dengan hatinya,
2. Cenderung pendendam,
3. Menyalahartikan tindakan dan sikap orang lain sebagai penghinaan dan permusuhan, dan
4. Egois dan sok benar sendiri.

Sering kita melihat orang yang menuduh orang lain jelek, dan berusaha untuk mengintai orang
lain tanpa hak, setelah meneliti dan menemukan suatu kesimpulan dia berghibah (membicarakan
kejelekan) terhadap saudaranya yang muslim. Orang yang berbuat seperti itu sama saja dengan
melakukan tiga dosa, yaitu dosa karena berprasangka, dosa dari menyelidiki kejelekan orang
lain, dan dosa dari membicarakan kejelekan orang lain. Begitulah prasangka jelek itu akan
menarik manusia berbuat dosa lebih banyak. Oleh karena itu Allah SWT melarang attjassus
mengintip-intip dan ghibah. Setelah melarang suudzan buruk sangka sebagai peringatan
terhadap orang Islam agar tidak menempatkan diri pada posisi yang menjurus kepada suudzan
terhadap orang muslim yang adil dan terjaga dari perbuatan dosa.




B. GHIBAH DAN BUHTAN
1. Ghibah (menggunjing)
Ghibah (menggunjing) adalah membicarakan kejelekan orang lain dibelakang orangnya.
Kejelekan yang dibicarakan itu baik tentang keadaan dirinya sendiri atau keluarganya, badannya,
atau akhlaknya.

Sebagaimana sabda Nabi SAW. yang berbunyi:


Artinya: Setiap muslim terhadap muslim lainnya, haram darah, hartanya dan kehormatannya.
(H.R Muslim)

Rasulullah SAW. bersabda yang artinya:
Hai golongan orang yang beriman hanya dengan lisannya, tetapi belum lagi beriman dengan
hatinya. Janganlah kamu semua menggungjing orang-orang Islam dan jangan pula meneliti cela-
cela mereka. Sebab barangsiapa yang meneliti cela saudaranya, maka Allah akan meneliti pula
celanya dan barangsiapa yang diteliti celanya oleh Allah, maka Allah akan menampakkan
sekalipun ia berada didalam rumahnya. (H.R.Ibnu-Dunya & Abu Daud)

Seorang Hakim berkata: Jika engkau tidak dapat mengerjakan yang tiga, maka kerjakanlah yang
tiga:
1. Jika engkau tidak berbuat kebaikan, maka jangan engkau berbuat kejahatan.
2. Jika engkau tidak dapat berguna untuk manusia, maka engkau jangan kejam kepada mereka.
3. Jika engkau tidak dapat berpuasa, maka engkau jangan makan daging manuisa
(mengghibah).


Ghibah bukan hanya pada ucapan lidah, tetapi setiap gerakan, isyarat, ungkapan, sindiran,
celaan, tulisan atau segala sesuatu yang dipahami sebagai hinaan. Mendengar orang yang sedang
ghibah dengan sikap kagum dan menyetujui apa yang dikatakannya, hukumnya sama dengan
ghibah. Pahala amal kebaikan orang yang melakukan ghibah akan diberikan kepada orang yang
menjadi sasaran ghibahnya. Islam mengharamkan dan melarang ghibah karena boleh
mengakibatkan putusnya ukhuwah, rusak kasih sayang, timbul permusuhan, tersebar aib, lahir
kehinaan dan timbul keinginan untuk melakukannya.
Yahya bin Mu'aadz Arrazi berkata: Jadikanlah kebahagian orang mukmin daripadamu tiga
macam supaya tergolong orang yang baik:
1. Jika engkau tidak dapat menguntungkan kepadanya maka jangan merugikan (merusaknya)
2. Jika engkau tidak dapat menyenangkannya, maka jangan menyusahkannya
3. Jika engkau tidak memujinya, maka jangan mencelanya

Batasan-batasan ghibah
Perlu diketahui, bahwa batas suatu perkataan yang disebut ghibah adalah bila engkau menyebut
tentang saudaramu menyangkut tentang segala sesuatu yang tidak disukainya bila ia sempat
mendengarnya.
Yang digunjing itu ada kalanya berhubungan dengan kekurangan-kekurangan yang ada dalam
dirinya sendiri, dalam keturunanya, dalam prilakunya atau dunianya, bahkan juga dalam hal
pakainnya, rumah ataupun kendaraannya.
Sebuah ucapan yang dapat dianggap meliputi hal menggunjing ialah apa yang disabdakan oleh
Rasulallah SAW :

...........

.........
Artinya: Ghibah (menggunjing) ialah apabila engkau menyebutkan prihal saudaramu dengan
sesuatu yang tidak disukai olehnya. (H.R. Muslim)

Dalam hadits diatas dinyatakan bahwa yang diharamkan adalah menyebut cela saudara itu
dengan lidah atau ucapan, sebab dengan ucapan itu dapat dimengerti apa yang menjadi
kekurangan saudaranya itu apabila didengar oleh orang lain dan jikalau orang yang dikatakan itu
diberi tahu, tentulah ia merasa tidak senang mendengarnya. Oleh karenanya cara memberikan
pengertian itu tidak hanya dengan ucapan saja, maka sekalipun dengan menggunakan kata
pembelokan juga diharamkan, jikalau memang itu dimaksudkan sebagai pengumpatan atau
penggunjingan. Jadi samalah halnya dengan menggunakan kata terang-terangan.
Melakukan pengumpatan dengan perbuatan seperti menirukan saudaranya yang berjalan
timpang, samalah hukumnya dengan mengucapkannya. Bahkan segala Sesutu yang bertujuan
sebagai ghibah itu pun dilarang oleh agama, misalnya yang dilakukan dengan isyarat, pemberian
tanda, mengedip-ngedipkan mata, celaan, tulisan, gerakan dan lain-lain. Pendeknya apa saja yang
dapat diambil dari pengertian ghibah dengan jalan apa pun, hukumnya adalah sebagaimana
ghibah dengan terang-terangan yang diharamkan.

Berbagai macam ghibah yang kurang disadari
Diantara ghibah yang kurang disadari adalah sebagai berikut:
1. Kita mengucapkan: siapakah yang baru datang dari bepergian itu?, atau: siapakah yang
berjalan disini tadi? maksudnya sebagai ejekan kepada yang baru datang atau yang berjalan.
Maka jikalau yang diajak bercakap-cakap mengerti tujuannya, itulah ghibah namanya.
2. Ada orang yang sudah mengerti cela orang lain, lalu orang itu mengucapkan sebagai suatu
doa umpamanya ia mengatakan: Alhamdulillah, kita tidak diberi bala (cobaan), begini.
Padahal cobaan yang dimaksudkan itu ada pada diri orang lain yang dituju tadi.
3. Ada pula yang memulai ghibahnya dengan mengemukakan pujian kepada orang yang
hendak digunjingnya. ia berkata: Alangkah baiknya hal ihwal orang itu, tetapi ia memperoleh
bala, sebagaimana kita juga pernah menerima bala semacam itu. Selanjutnya ia menyebutkan
perihal dirinya sendiri, sedang tujuannya ialah hendak mencela orang lain itu denga cela yang
sejenis dengan yang pernah dialaminya.
4. Lagi pula seperti seseorang yang menyebutkan cela-cela orang lain tetapi masih belum dapat
ditangkap tujuannya oleh orang-orang yang mendengarkannya, kemudian ia berkata:
Subhanallah, mengherankan betul itu. Akhirnya dengan ucapan ini orang lain pun lalu dapat
mengerti dan memahami siapa yang dituju. Jadi orang tersebut telah mencatat kalimat suci
dengan menyebutkan Allah Taala, nama yang mulia ini digunakan untuk menyetakan isi hatinya
yang buruk itu.
5. Juga seperti orang yang berkata: Ah, kita juga merasa tidak enak dan ikut berduka cita pula
sebab ada suatu hal yang menimpa saudara kita itu. Padahal maksudnya hanyalah untuk
meremehkan kawannya itu saja. Jadi ia berdusta dalam mengemukakan penyesalan dan duka
citanya tadi, sebab andai kata ia benar-benar ikut berduka cita, tentunya ia menyusahkan apa
yang tidak diinginkannya.
6. Demikian pula orang yang berkata: Orang miskin itu benar-benar diberi cobaan yang berat.
Semoga Allah menerima tobatnya dan tobat kita juga. Padahal tujuannya mengatakan ini
bukannya benar-benar mendoakan kebaikan. Hanya tampaknya saja yang demikian. Allah adalah
maha mengetahui bahwa hatinyalah yang buruk dan maksud yang disembunyikan itu pun
dimaklumi pula olehnya. Namun demikian, karena kebodohannya sehingga tidak mengerti
bahwa apa yang telah dilakukan itu menyebabkan ia akan memperoleh kutukan yang amat besar
sekali.
Apakah orang yang mendengarkan juga termasuk melakukan ghibah?
Seseorang yang mendengarkan ghibah, lalu ia menunjukkan ketajubannya (keheranannya),
maka berartilah bahwa menunjukkan yang demikian itu sebagai suatu pendorong agar orang
yang menggunjing itu lebih giat dan lebih semangat untuk terus menggunjing. Jadi malah bukan
menghentikannya.
Bahkan seseorang yang terus berdiam saja di waktu mendengar ada orang yang menggunjing
orang lain itupun bersekutu pula dalam berdosa. Maka untuk tidak ikut-ikut mendapatkan
dosanya, baiklah diwaktu kita mendengar orang menggunjing, langsung saja kita
mengingkarinya dengan lidah yakni menyuruh menghentikan gunjingannya dan dialihkan pada
pembicaraan yang lain. Sekiranya pengingkaran dengan lidahnya tidak dapat dilaksanakan, maka
hendaklah dengan hatinya saja, misalnya karena takut orang itu akan menentang. Sebagaimana
disebutkan dalam sebuah hadits:

( )

Artinya: Barangsiapa yang dimukanya ada seorang mukmin direndahakan oleh orang lain,
kemudian ia tidak menolongnya, sedang ia kuasa untuk menolongnya itu maka ia akan
direndahkan oleh Allah pada hari kiamat dihadapkan khalayak ramai. (H.R. Imam Thabrani)

Dan dalam riwayat lain disebutkan sabda beliau SAW:

( )
Artinya: Barangsiapa yang mempertahankan kehormatan saudaranya diwaktu tidak ada
dimukanya, maka haklah atas Allah untuk mempertahankan kehormatannya pada hari kiamat.
(H.R. Ibnu Abid-Dunya)

Hal-hal yang menimbulkan ghibah
1. Ingin menghilangkan kemarahan
Memang, ada kalanya juga keinginan untuk melenyapkan kemarahan itu tidak ditampakkannya,
tetapi lalu dipendam saja didalam hati, sehingga akhirnya menjadi suatu dendam kesumat yang
lebih berbahaya. Inipun dapat pula menyebabkan timbulnya penggunjingan yakni menyebut-
nyebutkan kejelekan orang lain. Oleh sebab itu dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pendorong
utama dari mengumpat itu ialah adanya kemarahan serta pendendaman dalam hati.

2. Kemegahan diri
Maksudnya ialah bahwa seseorang itu mempunyai keinginan agar dianggap lebih tinggi, lebih
megah, dan mulia dari orang yang digunjingnya itu, lalu orang tersebut dijelek-jelekkan dimuka
orang lain.
3. Kedengkian
Maksudnya ialah supaya orang-orang banyak itu tidak lagi memuji-mujinya, tidak lagi
mencintainya serta memuliakannya, sebab hal yang demikian itu dianggapnya sangat berat bagi
dirinya sendiri. Mungkin ia menginginkan agar dirinya sajalah yang dipuji, dicintai dan
dimuliakan.
4. Bercengkrama
Maksudnya ialah bermain-main, bersenda gurau, serta menghabiskan waktu untuk ketawa-
ketawa yang tidak ada manfaatnya sama sekali.
5. Penghinaan
Yaitu menganggap hina, rendah, atau lemah kepada orang lain. pokok pangkalnya perbuatan ini
ialah karena perasaan congkak, sifat tinggi diri yang tiada terbatas serta ingin menganggap bodoh
kepada yang dicemoohkan itu.
6. Masih ada lagi sebab-sebab dan hal yang sukar untuk diteliti yang semuanya itu akibat tipu
daya serta tipuan syaithan. Maksudnya ialah menyebutkan nama seseorang diwaktu ia kagum,
belas kasihan atau marah karena Allah SWT. Umpamanya, ada orang berkata: saya heran sekali
kepada si fulan itu, mengapa ia duduk dihadapan itu, tetapi ia tidak mengerti. Jadi keheranannya
ialah dari suatu kemungkaran karena seolah-olah membenarkannya.

Menggunjing yang dibolehkan
1. Dalam hal penganiayaan
Seseorang yang dizalimi atau dianiaya oleh orang lain, lalu ia mengadukan halnya itu kepada
seseorang amir atau hakim agar haknya dapat diperoleh kembali atau untuk menuntut haknya
yang belum diterima, maka bolehlah ia menggunjing seperlunya kepada yang berbuat zalim
kepadanya itu dan hendaklah dibatasi mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan perkaranya
saja dan tidak perlu mengungkapkan yang lain-lain.

Dalam hal ini Allah SWT. berfirman:



Artinya: Allah tidak suka kepada perkataan jelek diperdengarkan, kecuali (dari) orang yang
teraniaya, dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. (Q.S An-Nisa: 148)

2. Menggunjing dibolehkaan pula diwaktu meminta pertolongan agar suatu kemungkaran dapat
diubah atau agar seorang yang bermaksiat itu dapat diarahkan ke jalan yang baik kembali.
Kepada orang yang hendak kita minta pertolongannya itulah penggunjingan terhadap orang yang
kita maksud boleh dilakukan, tetapi wajib dibatasi seperlunya saja.
3. Boleh pula menggunjing diwaktu meminta fatwa atau penerangan hukum agama, misalnya
seseorang yang berkata kepada seorang muft: Aku diazalimi oleh ayahku atau oleh istriku atau
oleh saudaraku demikian. Ini hendaknya dilakukan sekiranya dengan jalan kata-kata samar atau
sindiran atau kata-kata pembelokan.
4. Untuk menakut-nakuti seorang muslim agar tidak berbuat jelek.
5. Di waktu menanyakan seseorang yang lebih dikenal dengan nama gelarnya, misalnya
hendak mencari alamat dan yang lain-lainnya.
6. Boleh menggunjing pula kepada seseorang yang dengan terang-terangan berbuat kepasiqan
dan malahan ia merasa bangga dengan perbuatannya itu, maka dalam keadaan yang semacam ini
tidak lagi ia benci apabila mendengarnya. Jadi tidaklah disebut menggunjing dengan mengatakan
hal-hal yang ditonjol-tonjolkan sendiri oleh orang itu.

2. Buhtan
Rasulullah menjelaskan, tatkala ditanya oleh seorang sahabat, "Wahai Rasulullah, apakah ghibah
itu?" Lalu Beliau SAW. menjawab, "Menyebut sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu di
belakangnya!" Kemudian Baginda ditanya lagi, "Bagaimana sekiranya apa yang disebutkan ltu
benar?" jawab Baginda, "Kalau sekiranya apa yang disebutkan itu benar, maka itulah ghibah,
tetapi jika sekiranya perkara itu tidak benar, maka engkau telah melakukan buhtan
(pembohongan besar)." (Hadis riwayat Muslim, Abu Daud dan At-Tarmizi).
Ghibah (menyebut keburukan orang lain walaupun benar) amat buruk, apalagi buhtan
(memfitnah dan mengada-adakan keburukan seseorang). Orang yang mendengar ucapan ghibah
juga turut memikul dosa ghibah, kerana dia masuk dalam ghibah itu sendiri. Kecuali dia
mengingkarinya dengan lidah, atau dengan hatinya. Bila ada kesempatan maka lebih utama
baginya mengalihkan ghibah tersebut dengan pembicaraan lain yang lebih bermanfaat.
Perkataan "fitnah" berasal daripada bahasa Arab yang berarti kekacauan, bencana, cobaan dan
penyesatan. Fitnah sering dimaksudkan sebagai berita bohong atau tuduhan yang diada-adakan
untuk membinasakan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan atau kebenaran.
Al-Quran dalam surah al-Hujuraat ayat 12 dengan jelas menguraikan persoalan fitnah. "Wahai
orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka
sangkaan yang dilarang) karena sesungguhnya sebagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan
janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah
sebagian dari kamu mengumpat sebagian yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan
daging saudaranya yang telah mati? (jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu
jijik kepadanya. (Oleh karena itu, patuhilah larangan-larangan tersebut) dan bertakwalah kamu
kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi maha Pengasih".
Rasulullah telah bersabda yang artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari
Kemudian, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik dan kalau tidak, hendaklah
diam." (Riwayat Bukhari dan Muslim). Ini membawa maksud bahawa seseorang yang beriman
itu perlu sentiasa mengawasi lidahnya dan apabila berkata hanya kepada perkara-perkara yang
memberi kebaikan kepada dirinya dan orang lain. Kalau tidak dapat memberi sesuatu yang
membawa kebaikan maka adalah lebih baik berdiam diri saja.


C. BOROS (KONSUMTIF)

. {

}

Artinya: Dari Amr Putra Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata : bersabda Rasulullah
SAW, makan, minum, dan berpakaianlah serta bersedekahanlah dengan tidak berlebih-lebihan
dan bukan tujuan sombong. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ahmad, Imam
Bukhari menyatakan taliqnya)

Pada hakikat sesungguhnya harta benda itu adalah merupakan nikmat yang besar dari Allah
SWT. Karena itu berlaku boros dan berroyal dengan harta itu hukumnya haram sebab ada nash
yang mencegah hal itu. Demikian juga dihukumkan dengan haram kikir membelanjakan harta
benda; sebaik-baik penggunaan harta yaitu secara pertengahan dan sedang-sedang, tidak
berlebih-lebihan dan berlaku kikir.
Boros / royal terhadap benda yaitu penggunaan harta benda secara berlebihan tanpa ada
manfaatnya baik untuk kepentingan duniawi maupun kepentingan ukhrawi, sehingga
kemanfaatan harta itu menjadi sia-sia dan tidak memberikan manfaat, misalnya membuang harta
ke dalam lautan / membakarnya ke dalam api, tidak memetik buah-buahan yang telah masak di
pohon sehingga ia menjadi busuk / rusak dan tidak bisa diambil kemanfaatannya.
Bentuk-bentuk dari menyia-nyiakan harta/boros, yaitu:
1. Boros dalam belanja dan dipergunakan untuk hal-hal yang tidak berguna,
2. Membelanjakan uang untuk sesuatu yang haram,
3. Membiarkan harta tidak terurus, dan
4. Tidak menunaikan kewajiban yang maliyah