Anda di halaman 1dari 19

1

Anatomi dan Fisiologis Sistem Reproduksi Pria


Marlina Putri Purnamasari Pekpekai
A8
10.2013.041
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna no. 6. Jakarta 11510
Marlina.2013fk041@civitas.ukrida.ac.id


Abstract
Puberty is a natural process and certainly experienced by all humans in whom the physical
changes of the body of the child grows into an adult and have the ability to reproduce, at a
particular time. This change is caused by the presence of certain hormones that work on male
and female reproductive systems. Genital organs in men (masculine genitalia), composed into
two parts: internal and external genitalia, each with its own function. Sex hormone produced in
the male at puberty, are driven by the hypothalamus, this hormone which helps in the process of
spermatogenesis as well as the growth and development of secondary sex organs, such as
testosterone, FSH and LH. In case of lesions or abnormalities in the production of these
hormones, it can lead to a disorder such as precocious puberty.
Keywords: Puberty, Masculine Genitalia, Testosterone, Precocious Puberty

Abstrak
Pubertas merupakan suatu proses alamiah dan pasti di alami oleh semua manusia di mana terjadi
perubahan fisik dari tubuh anak anak menjadi bertumbuh layaknya orang dewasa dan telah
memiliki kemampuan untuk bereproduksi pada waktu tertentu . Perubahan ini disebabkan oleh
adanya hormone tertentu yang bekerja pada sistem reproduksi pria dan wanita. Organ genitalia
pada pria (genitalia masculina) , terdiri menjadi dua bagian yaitu genitalia interna dan eksterna ,
masing masing dengan fungsinya sendiri . Hormone seks yang dihasilkan pada pria saat
pubertas di inisiasi oleh kerja hipotalamus , dimana hormone ini membantu dalam proses
spermatogenesis maupun pertumbuhan dan perkembangan organ seks sekunder , seperti
testosterone , FSH dan LH . Apabila terjadi lesi ataupun kelainan pada tempat produksi hormone
hormon tersebut , maka dapat memicu terjadinya suatu kelainan seperti pubertas prekoks.
Kata Kunci : Pubertas , Genitalia Maskulina , Testosteron , Pubertas Prekoks



2
Latar Belakang
Pubertas merupakan suatu proses alamiah dan pasti di alami oleh semua manusia di mana
terjadi perubahan fisik dari tubuh anak anak menjadi bertumbuh layaknya orang dewasa dan
telah memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Keadaan ini diinisiasi oleh sistem hormone dari
otak yang menuju ke gonad ( ovarium dan testis) dan meresponnya dengan menghasilkan
berbagai hormon yang menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi , baik
secara primer maupun sekunder.
1,2

Pada scenario di ceritakan bahwa seorang anak berusia 8 tahun merasa risih karena sudah
tumbuh kumis dan jambang , kemudian ia mengadu kepada ibunya , dan oleh ibunya
dikonsultasikan ke dokter. Dapat kita lihat bahwa permasalahannya dikarenakan anak tersebut
mempunyai penampakan seperti layaknya pria dewasa diumur yang masih belia.
Berdasarkan permasalahan yang di atas maka pada makalah ini akan di bahas mengenai
sistem reproduksi pria ( Genitalia masculine ) , baik berdasarkan struktus anatomis makro dan
mikro , perubahan yang terjadi pada saat pubertas yaitu secara primer ( proses spermatogenesis
dan steroidogenesis ) dan sekunder ( meliputi perubahan fisik ) . Selain itu juga akan di bahas
mengenai hormone- hormone yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan genitalia
masculine.
Tujuan Pembelajaran
- Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai struktur anatomis makro mikro organ genitalia
masculine
- Mahasiswa dapat mengerti tentang proses pubertas yang terjadi pada pria
- Mahasiswa dapat menjelaskan tentang perubahan primer maupun sekunder saat
terjadinya pubertasi pada pria
- Mahasiswa dapat menjelaskan tentang hormone hormone yang berperan pada
pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi pria.








3
Struktur Makroskopik Genitalia Masculine
Genitalia masculina (organ genitalia pria) dibedakan menjadi genitalia interna masculina
dan genitalia eksterna masculina. Adapun yang termasuk dalam genitalia interna masculina yaitu
ductus deferens, vesicula seminalis, dan glandula prostat ( Gambar 1 ). Sedangkan yang
termasuk dalam genitalia eksterna masculina yaitu penis dan scrotum (beserta testis)
1

Gambar 1 . Genitalia Masculina Eksterna dan Interna
3
Genitalia Masculine Eksterna
Penis
2
Penis adalah alat kelamin laki laki dan berisi saluran keluar bersama urin dan cairan
mani . Penis terdiri dari tiga badan jaringan erectile yang diliputi oleh capsula fibrosa , yakni
tunika albugenia. Di sebelah luar tunica albugenia terdapat fascia penis profunda yang
membentuk pembungkus bersama untuk corpus spongiosum penis dan kedua corpus
cavernosum penis. Di dalam corpus carvenosum penis melintas pars spongiosa urethra. Kedua
corpus carvernosum penis saling bersentuhan di bidang median , kecuali disebelah dorsal karena
bercerai untuk membentuk crus masing-masing yang melekat pada ramus bersama os pubis dan
os ischii disebeah kanan dan sebelah kiri.

4
Radiks penis terdiri dari crus penis , bulbus penis , dan musculus bulbospongiosum di kedua sisi.
Corpus penis adalah bagian bebas yang tergantung sewaktu penis berada dalam keadaan lemas.
Kecuali serabut musculus bulbospongiosus yang menutupi bulbus penis , dan serabut musculus
ischiocavernosus pada kedua crus penis, penis tidak memiliki otot . Penis terdiri dari kedua
corpus cavernosum dan sebuah corpus spongiosum dan diliputi oleh kulit. Kearah distal corpus
spongiosum penis melebar untuk membentuk glans penis. Tepi glans penis , yakni corona
glandis , menjulang melewati ujung kedua corpus cavernosum penis . Corona penis menganjur
diatas sebuah penyempitan berupa alur serong , yakni collum glandis , yang membatasi glans
penis terhadap corpus penis . Lubang pars cavernosa urethra yang berupa celah sempit , yakni
ostium urethrae externum , terletak di dekat ujung glans penis . Kulit dan fascia penis
berkelanjutan sebagai lapis ganda kulit yang dikenal sebagai preputium dan menutupi glans penis
sejauh berbeda-beda.
Ligamentum suspensorium penis adalah kondensasi fascia superficialis yang berasal dari
permukaan ventral symphisis pubica . Ligamentum suspensorium penis melintas ke kaudal dan
bercabang dua untuk membentuk ambin yang melekat pada fascia penis yang tak dapat di
gerakkan dan bagian yang bebas. Selain itu juga terdapat ligamentum fundiforme penis.
Muskulus perinea superficialis ialah musculus tranversus perinea superficialis, musculus
bulbospongiosus, musculus ischiocavernosus. Otot- otot ini terletak dalam spatium perinea
superficial, dan semua dipersarafi oleh nervus perinealis.

Perdarahan arterial pada penis berasal dari cabang arteria pudenda interna yaitu :
Arteria dorsalis penis melintas dalam alur antara kedua corpus cavernosum penis , satu
pada tiap sisi vena dorsalis profunda penis
Arteria profunda penis menembus crus penis dan melintas dalam kedua corpus
cavernosum penis
Arteria bulbi penis memasuki bulbus penis dari kanan dan kiri
Arteria profunda penis dan cabang arteria dorsalis penis memasok darah kepada kedua
crus penis dan corpus cavernosum penis. Arteria bulbi penis dan arteria dorsalis penis
membawa darah kepada bulbus penis dan corpus spongiosum penis. Arteria dorsalis penis
juga mengantar darah kepada bulbus penis dan corpus spongiosum penis . Arteria dorsalis
penis juga mengantar darah kepada kulit dan fascia panis superficialis.
Penyaluran balik darah pada penis di perankan oleh Vena dorsalis penis profunda yang
menerima dari carvernae corporum cavernosum, pada fascies penis profunda. Darah dari
fascies penis superficialis di tamping oleh vena dorsalis penis superficialis dan selanjutnya di
salurkan ke vena pudenda externa. Pembuluh limfe dari hampir seluruh penis ditampung oleh
nodi lymphoidei inguinales superficiales.

5
Persarafan oleh N. dorsalis penis yang mengurus persarafan kulit dan juga glans penis .
Dalam penis terdapat terdapat bentuk akhir saraf sensoris- terutama dalam glans penis
sehingga penis sangat sensitif .
Scrotum
Scrotum Adalah sebuah kantong yang menonjol keluar dari bagian bawah dinding abdomen .
Scrotum berisi testis , epididymis , dan ujung bawah funiculus spermaticus .
1
Dinding scrotum mempunyai lapisan sebagai berikut :
1
Kulit : Kulit scrotum tipis , berkerut , berpigmen dan membentuk kantong tunggal .
Sedikit peninggian di garis tengah menunjukan garis persatuan dari kedua penonjolan
labioscrotalis, scrotum pada pria homolog dengan labia mayora pada wanita.
Adapun suatu raphe scrotalis di garis tengah dapat dilihat pada kulit yang memisahkan
sisi kiri dan kanan scrotum .
Fasciae superficialis : Fascia inii melanjutkan diri sebagai panniculus adiposus dan
stratum membranosum dinding anterior abdomen . akan tetapu penniculus adiposus
diganti oleh otot polos yang dinamakan tunika dartos . Otot ini disarafi oleh serabut saraf
simpatik dan berfungsi untuk mengkerutkan kulit di atasnya . Stratum membranosum
fascia superfisialis ( fascia collesi ) di depan melanjutkan diri sebagai stratum
membranosum dinding anterior abdomen ( fascia scarpe ), dibelakang melekat pada
corpus perienale dan pingggir posterior membrana perinea . disampingnya melekat pada
rami ischiopubica, kedua lapisan fascia superficialis berperan membentuk sekat median
yang menyilang scrotum dan memisahkan testis satu dengan yang lain.
Fasciae spermaticae : Fasciae tiga lapis ini terletak di bawah fascia superficialis dan
berasal dari tiga lapis dinding anterior abdomen masing masing sisi . Musculus
cremaster di dalam fascia cremasterica dapat dibuat kontraksi dengan menggores kulit
sisi medial paha . Hal ini di sebut refleks cremaster, Serabut aferen lengkung refleks ini
berjalan pada ramus femoralis nervi genitofemoralis ( L1 dan 2 ) dan serabut efferent
motorik berjalan pada ramus genital nervi genitofemoralis .
Tunika vaginalis : Tunika ini tertelak didalam fasciae spermaticae dan meliputi
permukaan anterior , media , dan lateraiis masing masing testis. Tunica vaginalis
merupakan perluasan kebawah merupakan perluasan ke bawah processus vaginalis
peritonei dan biasanya sesaat sebelum lahir menutup dan memisahkan diri dari bagian
atas processus vaginal peritonei dan cavitas peronealis . Dengan demikian tunika
vaginalis merupakan kantong tertutup , diinvaginasi dari belakang oleh testis.
Arteri pudenda eksterna mengurus perdarahan bagian ventral scrotum , dan mengurus
perdarahan bagian ventral scrotum , dan arteria pudenda interna pada bagian dorsal. Bagian
ini juga di pasok oleh cabang cabang dari arteria testicularis dan arteri cremasterica.

6
Sedangkan pembuluh baliknya sendiri diperankan vena scrotales mengiringi arteria scrotales
dan bergbung dengan vena pudenda externa.
2
Bagian ventral testis dipersarafi oleh nervus ilioinguinalis dan oleh ramis genitalis nervus
genitofemoralis. Bagian dorsal memperoleh persarafan dari ramus medialis dan ramus
scrotalis nervi perinealis dan ramus perinealis nervi cutanei femoralis posterioris.
2



Genitalia Masculine Interna
Testis
Testis terletak di dalam scrotum ( gambar 2). Testis pada pria memiliki bentuk oval
dengan konsistensi lunak , dibungkus atau di kelilingi oleh capsula fibrosa yang kuat yaitu tunika
albugenia testis. Pada potongan midsagital dapat dilihat bawah di dalam testis terdapat lobus-
lobus yang nantinya akan bersatu membentuk rete testis dan berlanjut membentuk ductus
efferent dan dari ductus efferent menjadi ductus epididimis selanjutnya menjadi ductus deferens.
2

Pembungkus testis dari arah dalam ke luar disusun oleh tunika albugenia , tunika vaginalis testis
( lamina viceralis dan lamina parietalis) , fascies spermatica interna , M. cremaster , fascia
spermatica externa , tunika dartos dan cutis scrota.
4

Gambar 2 . Scrotum dan Testis
2

7
Epididymis
Merupakan struktur yang kuat yang terletak posterior terhadp testis , dengan ductus
deferens terletak pada sisi medialnya . Epididymis mempunyai ujung atas yang melebar , caput ,
corpus dan cauda yang arahnya ke inferior . Di lateral , terdapat sulcus nyata di antara testis dan
epididymis, yang diliputi oleh lapisan viscerale tunica vaginalis dan dinamakan sinus
epididymis.
1
Epididymis merupakan saluran yang sangat berkelok kelok . ductus efferent
terletak pada caput epididymis dan cauda epididymis sebagai ductus epididymis.
4,5
Pada epididymis dapat dijumpai sisa perkembangan duktus mesonephros yang disebut
appendix epididymis dan disebelah medial epididymis dapat dijumpai funiculus spermaticus
yang terdiri dari plexus pampiniformis , a. testicularis , a. deferentialis, ductus deferens, r.
genitalis n. genitofemoralis dan m cremaster. Funiculus spermaticus melewati ligamentum
inguinalis ( analog dengan ligamentum teres uteri pada wanita).
5
Ductus deferens
Ductus derefens atau vas deferens adalah suatu saluran berdinding tebal yang merupakan
lanjutan dari cauda ductus epididymis . Mulai dari annulus inguinalis medialis menuju lateral A.
epigastrica inferior kemudia turun ke dorsocaudal pada dinding lateral pelvis , menyilang ureter
disisi medialnya dan menuju ke mediocaudal pada permukaan dorsal vesica urinaria . ductus ini
menyalurkan sperma matang dari epididymis ke ductus ejaculatorius dan urethra . Pada bagian
ujung akhir ductus deferent terdapat bagian yang melebar disebut : Ampulla ductus deferens .
Ductus excretorius vas deferens bersama-sama dengan ductus excretorius gl. Vesikulosa
membentuk : ductus ejaculatorius ,ductus ini akan bermuara pada urethra pars prostatica.
1,5
Urethra
Urethra masculine merupakan pipa fibromuscular dengan panjang 18-22 cm dan
mempunyai fungsi menyalurkan urine dari vesica urinaria sampai ke dunia luar dann juga tempat
lewatnya semen/ sperma.
Urethra dibagi menjadi 4 bagian :
2,5
Urethra pars intramularis ( preprotatica ) : panjangnya adalah 0.5 1,5 cm
Urethra pars protatica : berawal dari ostium urethane internum pada puncak trigonum
vesicae dan melintas ke kaudal menembus prostate degan membentuk sebuah lengkung
yang sedikit mencekung ke ventral
Urethra pars membranacea : merupakan bagian urethra yang terpendek , tertipis dan dan
tersempit. Berawal pada apex prostate dan berakhir pada bulbus penis untuk beralih
menjadi pars spongiosa urethra, dan di sebelah kanan dan kiri terdapat glandula
bulbourethralis yang kecil.

8
Urethra pars spongiosa : bagian urethra yang terpanjang . melewati bulbus penis dan
corpus spongiosum penis dan berakhir pada ostium urethrae externum ( pada glans penis
). Kedalam pars spongiosa dan pada bagian anterior bermuara glandula urethralis littrei
yang menghasilkan lender.
Glandula Terkait dengan Genitalia Maskulina
Vesicular seminalis
5,6

Vesikula seminalis atau glandula vesiculosa terdiri dari 2 gelembung lobus kanan dan kiri
yang berfungsi memproduksi cairan essential untuk makanan sperma , panjangny kira-kira 5 cm.
Pada bagian ujung tertutup peritoneum. Pada bagian depan glandula ini berbatasan dengan
permukaan dorsal vesica urinaria , pada bagian belakangnya berhubungan dengan rectum ,
sedangkan sisi medialnya berhubungan dengan vas deferens.

Glandula Prostata
6
Merupakan suatu kelenjar eksokrin fibromuskular. Bangunan berbentuk limas terbalik .
Glandula ini di bedakan menjadi :

- Basis : merupakan bagian superoanterior antara collum vesica urinaria
- Apex : terletak pada diaphragm urogenitale
Pada bagian ventral , glandula prostata berbatasan dengan vesica urinaria , pada bagian
dorsal dengan pars analis recti dan pada bagian lateral dengan M. levator ani.
Glandula prostat terdiri dari 5 lobus, yaitu :

Lobus anterior : terletak di depan urethra pars prostatica dan tidak mengandung jaringan
kelenjar.
Lobus medius : terletak diantara urethra dan ductus ejakulatorius . Lous medius ini
banyak mengandung kelenjar dan dapat berubah menjadi adenoma
Lobus posterior : terletak di belakang urethra dan di caudal ductusejaculatorus. Lobus
posterior mengandung jaringan kelenjar dan dapat berubah menjadi kanker primer.
Lobus lateral : terdapat 2 buah , terletak di kanan dan kiri urethra pars prostatica . pada
usia lanjut bagian ini sering mengalami hipertrofi prostat.
Glandula ini di perdarahi oleh cabang cabang dari a. vesikalis inferior , a. rectalis media
dan arteri pudenda interna . Sedangkan aliran balik darah melalui plexus venosus prostaticus .
aliran getah bening glandula prostate di alirkan ke nnll. gl. prostata dan akhirnyabermuara ke
nnll. Iliaca interna. Glandula prostat dipersarafi oleh cabang plexus hypogastricus inferior.



9
Bulbourethrales
1
Glandula bulbourethralis merupakan dua kelenjar kecil yang terletak di bawah musculus
sphincter urethrae . Ductusnya menembus membrane perinealis ( lapisan fascia inferior
diaphragm urogenitale ) dan bermuara ke urethra pars spongiosa. Sekretnya di keluarkan ke
urethra sebagai akibat stimulasi erotik.

Sistem Mikroskopik Genitalia Maskulina
Sistem reproduksi pria terdiri atas sepasang testis yang menggantung didalam skrotum ,
sepasang system saluran kelamin ( genital ducts ) intra dan ekstratestikular, kelenjar pelengkap ,
dan organ kopulasi lelaki yaitu, penis .
7

Testis
7
Testis berperan untuk membentuk sel kelamin / gamet lelaki, yaitu spermatozoa dan juga
sebagai tempat produksi hormone seks lelaki , testosterone. Testis dewasa berbentuk oval ,
panjang kurang lebih 4 cm, lebar 2-3 cm dan tebal 3 cm. Semasa embryogenesis , testis
berkembang dalam rongga abdominal retroperitoneal pada dinding posterior rongga abdomen.
Selagi turun ke skrotum, testis membawa serta sebagian peritoneum disebut tunika vaginalis.

Testis di liputi oleh tunika albuginea ( jaringan ikat padat yang tersusun irregular), dan
dibawah nya ada jaringan ikat longgar tunika vaskulosa yang membentuk kapsul vascular testis.
Dan pada aspek posterior dari pada tunika albugenia terdapat bagian yang menebal membentuk
mediastinum testis , yang akan membentuk septa yang membagi ruang testis menjadi 250 lobus
testis. Setiap lobules berisi satu hingga empat tubulus seminiferus.

Tubulus Seminiferus
7,8
Tubulus seminiferus merupakan tabung ( tubules) berlumen yang amat berkelok-kelok
disebut juga tubulus kontruktus seminiferus , panjang 30-70 cm dan diameter 159-250
nanometer, dinding tubulus seminiferus terdiri atas tunika propria, suatu lapisan jaringan ikat
yang tipis dan epitel seminiferus yang tebal ( gambar 3).

10

Gambar 3. Tubulus Seminiferus
9

Tunika propria dan epitel seminiferus dipisahkan oleh lamina basal yang berkembang baik dan
pada lamina basalis ini terdapat beberapa sel yang melekat padanya yaitu :

Sel sertoli
merupakan sel silindris tinggi ,yang terdapat di dalam tubulus seminiferus fungsi dari sel
sertoli adalah sebagai penyokong guna melindungi sel kelamin , berperan untuk
menyalurkan nutrisi dari kapiler di bawah membran basalis kepada spermatozoa ,
membentuk cairan testis , melisis sisa sisa sitoplasma , dan menghasilkan hormone
estrogen .
Sel spermatogenik :
o Sel Spermatogonium : merupakan sel benih diploid yang kecil terletak dalam
ruang basal tubulus seminiferus. Sel sel ini terletak diatas lamina basal , dan
setelah pubertas, dipengaruhi oleh testosterone untuk memulai siklus sel. Terdapat
tiga kategori spermatogonium : (a) Spermatogonium tipe A gelap , dengan inti

11
yang berbentuk oval dan pipih terdapat banyak heterokrematin ; (b)
Spermatogonium tipe B pucat , dengan inti yang banyak terdapat eukromatin ; (c)
Spermatogonium tipe B , yang menyerupai spermatogonium tipe A akan tetapi
intinya bulat. Sel spermatogonium tipe B inilah yang nantinya akan membelah
secara mitosis menghasilkan spermatosit primer.
o Spermatosit primer : merupakan sel terbesar epitel seminiferus . Mempunyai inti
besar dan gelap , yang akan berkembang menjadi spermatosit sekunder.
o Spermatosit sekunder : merupakan sel yang relative kecil dan karena usianya
singkat , mereka tidak mudah terlihat dalam epitel seminiferus. Sel ini kemudian
akan melakukan pembelahan meisosis kedua dan membentuk 2 sel spermatid.
o Spermatid : merupakan sel haploid bulat , berkelompok , padat dan kecil .
selanjutnya sel sel ini akan bertransformasi menjadi spermatozoa. Spermatid ada
2 macam , yaitu early spermatid ( belum berekor ) dan late spermatid ( sudah
berekor)
o Spermatozoa : terdiri atas sebuah kepala , berisi nucleus ( inti ) , dan ekor.
Sel Interstisial Leydig
Terletak diantara tubulus-tubulus semiiferus. Sel intersisial leydig , yang memproduksi
testosterone setelah masa pubertas. Mempunyai inti tunggal , kadang berinti dua . merupakan sel
steroid , mempunyai mitokondria dengan Krista tubular dan kelompokan besar SER ( smooth
endoplasmic reticulum ) .
7
Ductus Genital Intra testicular
Ductus genital yang terletak di dalam testis menghubungkan tubulus seminiferus dalam
testis dengan epididymis . Ductus intratestiskular ini merupakan tubuli rekti dan rete testis.
7
Tubuli Recti
Tubuli recti merupakan saluran pendek yang lurus , yang merupakan lanjutan dari tubulus
seminiferus dan menyalurkan spermatozoa yang di bentuk oleh epitel seminiferus, ke rete testis.
Setengah bagian pertama dekat tubulus seminiferus , tubuli rekti berdinding sel sertoli dan
setengah sisanya, dekat rete testis , mempunyai epitel kuboid selapis. Sel kuboidnya mempunyai
mikrovili yang pendek dan sebagian besar mempunyai flagellum.
8
Rete testis
Rete testis terdiri atas ruangan ruang labirin , di batasi epitel selapis kuboid , di dalam
mediastinum testis ( gambar 4) . lumennya berkelok dan bervariasi. Spermatozoa imatur
disalurkan dari tubuli recti ke dalam rete testis , ruang-ruang labirin yang dilapisi epitel
kuboidal.
8

12

Gambar 4 . Rete Testis
9
Ductus Eferent
Duktus efferent terletak di antara rete testis dan epididimis ( gambar 4). Merupakan
saluran pendek yang menyalurkan spermatozoa dari rete testis san menembus tunika albugenia
testis untuk menyampaikan sperma ke epididymis. Lumennya bergelombang dan epitelnya
terdiri dari dua macam sel epitel yaitu sel kuboid tanpa silia ( untuk sekretorius ) dan sel toraks
bersilia dengan jenis kinosilia yang akan bergerak kearah distal untuk mendorong spermatozoa
kearah epididimis.
8

Ductus Genital Ekstratestikular
Ductus genital ekstratestikular yang berhubungan dengan setiap testis ialah epididymis,
ductus deferent ( vas deferens ) dan ductus ejakulasi.
8
Epididymis
Epididymis adalah suatu tubulus yang berkelok kelok terbagi dalam kepala , badan dan
ekor , melanjutkan diri menjadi ductus deferent. Epididymis memproduksikan banyak faktor
yang memfasilitasi pematangan spermatozoa, namun belum diketahui mekanisme kerjanya.

13
Lumenya rata dan dibatasi oleh epitel bertingkat yaitu , sel basal dan sel toraks . Pada ductus
epididymis sperma telah motil dan vertil sehingga disini epitel toraks dengan kinosilia berubah
menjadi sterosilia.
8
Ductus Deferens ( vas deferens )
Ductus ini merupakan tabusng muscular yang menyalurkan spermatozoa dari ekor
epididimis ke ductus ejakulatorius. Dinding saluran relative tebal dibandingkan dengan
lumennya, lumennya berbentuk seperti bintang. Terdiri dari 3 lapisan otot yaitu tunika
muskularis longitudinalis eksterna , tunika muskularis sirkular dan tunika muskularis
longitudinalis interna. Epitel bertingkat torak, biasanya mempunyai sterosilia. Epitel mukosanya
bergelombang dengan lamina propria di bawahnya.
7,8


Glandula vesikulosake
Mukosa vesikulosa samat berkelok , membentuk ruang ruang buntu mirip dengan
labirin, yang secara tiga dimensi , mempunyai lumen yang sama di tengah . Lumen di batasi
epitel silindris bertingkat terdiri atas sel basal yang pendek dan sel kolumnar rendah. Tunika
mukosanya sama dengan kelenjar prostat akan tetapi di dalam lamina proprianya tidak terdapat
serat otot polos . kelenjar ini menghasilkan globulin , vitamin c dan fruktosa.
7,8
Glandula Prostat
Kelenjar ini merupakan kelenjar pelengkap terbesar, ditembus oleh urethra dan ductus
ejaculatorius. Kapsula tipis kelenjar terdiri atas jaringan ikat kolagen padat irregular dengan
banyak pembuluh darah , diselingi sel sel otot polos. Mukosanya berlipat-lipat dilapisi oleh
epitel selapis torak atau dapat pula bertingkat , didalam lamina propria terdapat serat otot polos .
Biasanya didalam lumen terdapat konkremen ( sering di temukan pada usia lanjut ) yang
berwarna merah homogen. Berperan dalam pengaktivan sperma , dan akan memasuki urethra
saat ejakulasi.
10
Glandula Bulbourethra
Glandula ini juga disebut kelenjar cowper,ukurannya kecil ( diameter 3-5 mm) dan
terletak pada pangkal penis , tepat pada permulaan urethra pars membranosa. Epitel kelenjar
tubualveolar kompleks bervariasi dari kuboid selapis hingga silindris / kolumnar selapis.
Kelenjar ini mengsekresikan suatu larutan pelincir lincin langsung ke dalam urethra.
6,7,10



14
Penis
8,10

Pada potongan melintang penis , terdapat gambaran penis dengan ketiga korpus
kavernosum dan urethranya. Di dalam jaringan penyambung bawah kulit pada bagian dorsal
dapat ditemukan a.v.n dorsalis penis. Lebih kedalam lagi ditemukan tunika albugenia penis yang
merupakan jaringan ikat padat fibrosa yang membungkus kedua korpus cavernosum dan korpus
spongiosum .

Diantara kedua corpus cavernosum penis , terdapat jaringan ikat fibrosa membentuk
septum penis atau septum mediana. Arteri profunda penis dapat ditemukan biasanya di bagian
tengah korpus cavernosum penis . pembuluh ini bercabang cabang menjadi arteri helisina yang
berdinding khusus. Di bagian tengah korpus spongiosum terdapat urethra pars spongiosa yang
epitelnya selapis torak dengan lumen yang tidak bulat.
Reproduksi Pria
11,12

System reproduksi berfungsi tidak untuk kelangsungan hidup suatu individu , melainkan
kelangsungan hidup suatu spesies. Organ reproduksi primer pada pria adalah testis yang
berfungsi untuk produksi gamet ( spermatozoa ) dan memproduksi hormone seks pria (
testosterone ) . Pada pria jenis kromosomnya adalah kromosom XY .
Genitalia interna pada pria berasal dari pada ductus wolffian yang dalam masa embriologi
akan berdeferensiasi dan berkembang menjadi genitalia interna yaitu epididymis, vas deferens
vesikula seminalis dan ductus ejaculatorius. Pembentukan fenotip pada pria sendiri di control
oleh tiga hormon yaitu :
Mullerian Duct Inhibiting Factor : hormon ini di produksi oleh sel sertoli testis fetus ,
yang akan menginduksi regresi system ductus mullerian ( yang nantinya akan menjadi
saluran genitalia interna pada wanita )
Testosteron : disekresikan oleh testis fetus ( sel leydig ) dan digunakan untuk
pertumbuhan dan diferensiasi sistem ductus wolffian dan organ seks tambahan.
Dihydrotestosteron : di gunakan untuk pertumbuhan dan diferensiasi genitalia eksterna
pria dan glandula prostate.
Genitalia eksterna mulai berdeferensiasi saat kehamilan 9-10 minggu dimana sinus
urogenital akan berkembang menjadi urethra dan glandula prostat , tuberkulus genital akan
menjadi glans penis , genital swelling akan menjadi skrotum dan lipatan pada urethral akan
menjadi 2-3 penile urethral dan corpora spongiosa.




15
Pubertas Pada Pria
12
Pubertas merupakan proses di mana seorang individu yang belum dewasa akan
mendapatkan ciri-ciri fisik dan sifat yang memungkinkannya mampu bereproduksi . pada anak
laki laki m, pubertas sebagian besar merupakan respons tubuh terhadap kerja androgen yang
meluas , yang disekresikan oleh testis yang baru aktif di bawah pengaruh gonadrotropin yang
sekresikan oleh hipofisis anterior.Masa pubertas terjadi antara umur 12-14 tahun , namun bias
juga bervariasi . pada masa ini , testis berfungsi untuk spermatogenesis dan streroidogenesis.

Proses Spermatogenesis
11
Spermatogenesis adalah proses di mana sel-sel germinal primordial pria yang
disebut spermatogonium menjalani meiosis, dan menghasilkan sejumlah sel yang
disebut spermatozoa. Salah satu sel awal dalam jalur ini disebut spermatosit primer. Setiap
spermatosit primer membelah menjadi dua spermatosit sekunder, dan masing-masing spermatosit
sekunder menjadi dua spermatid atau spermatozoa muda. Sel ini berkembang menjadi
spermatozoa matang, yang disebut sel sperma. Dengan demikian, spermatosit primer
menghasilkan dua sel, spermatosit sekunder, dengan subdivisi yang menghasilkan empat
spermatozoa.
Selama perkembangan, sel sperma berhubungan erat dengan sel sertoli . fungsi dari sel
sertoli yang terutama adalah untuk memberi nutrisi , sebagai sawar darah testis , mempunyai
fungsi fagositik, sekresi androgen binding protein ( ABP ) dan sebagai tempat kerja tertosteron
dan FSH untuk mengontrol spermatogenesis.
Regulasi Sekresi Hormon Seks Pria
12
System ini dimulai di hipotalamus dimana disini disini di hasilkan hormon GnRH (
Gonadotropin Releasing Hormon ) , hormone ini akan merangsang hipofisis anterior atau
adenohipofisis untuk menghasilkan pengeluaran hormone gonadotrophin yaitu FSH ( Follicle
Stimulating Hormon ) dan LH (Luteinizing Hormon ) ( gambar 5).
Hormon LH akan merangsang leydig untuk memperoleh sekresi testosterone (Suatu
hormon seks yang penting untuk perkembangan sperma). Hormon FSH berfungsi untuk
merangsang pembentukan sperma secara langsung serta merangsang sel sertoli untuk
menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) untuk memacu spermatogonium dalam
melakukan spermatogenesis. Nantinya hormone testosterone yang dihasilkan sel leydig akan
masuk kedalam tubulus seminiferus dan di ikat oleh ABP.

16

Gambar 5. Regulasi Secresi Hormon Sex Pria
13
Efek Hormon Testosteron
12

Sebelum lahir , hormone ini berfungsi untuk maskulinisasi saluran reproduksi dan
genitalia eksterna , dan juga memacu penurunan testis kedalam scrotum . Setelah lahir testis
tidak aktif sampai masa pubertas dikarenakan sekresi LH dan FSH tidak cukup kuat untuk
merangsang aktivitas testis .
Pada masa pubertas dimana ini merupakan periode kebangkitan dan pematangan sistem
reproduksi yang semula nonfungsional, serta memuncak pada kematangan seksual dan
kemampuan bereproduksi. pada saat pubertas , sel sel leydig mulai mengeluarkan testosterone
kembali testosterone berperan dalam pertumbuhsn dan pematangan seluruh sistem reproduksi
pria . Di bawah pengaruh lonjakan sekresi testosteron selama pubertas, testis membesar dan
mulai menghasilkan sperma untuk pertama kalinya, kelenjar seks tambahan membesar dan
menjadi sekretorik, sementara penis dan scrotum membesar. Selain itu juga testosterone
berfungsi untuk mengontrol sekresi dari hormone gonadothropin.


17
Efek pada Karakrteristik Sekunder
Pembentukan dan pemeliharan semua karakteristik seks sekunder pria bergantung pada
testosterone. karakteristik pria non reproduktif yang dipicu oleh testosterone ini adalah: (1)
pertumbuhan rambut berpola pria ( misalnya di rambut dada , janggut dan pada pria dengan
predisposisi genetic , kebotakan ); (2) suara besar akibat membesarnya laring dan menebalnya
lipatan pita suara ; (3) kulit tebal ; dan (4) konfigurasi tubuh pria ( misalnya , bahu lebar serta
otot lengan dan tungkai besar ) akibat dari pengendapan protein.
Efek non- reproduksi
Testosterone memiliki beberapa efek penting yang tidak berkaitan dengan reproduksi .
hormone ini memiliki anaboli ( sistesis) protein umum dan mendorong pertumbuhan tulang yang
berperan mengahasilkan fisik lebih berotot dan lonjakan pertumbuhan masa pubertas. Yang
ironis testosterone tidak hanya merangsang pertumbuhan tulang akan tetapi juga mencegah
pertumbuhan tulang lebih lanjut dengan penutupan lempeng epifisis. Testosteron juga
merangsang sekresi minyak oleh keljar sebasea . testosterone juga memicu perilaku agresif.
Pubertas Prekoks
Pubertas prekoks adalah timbulnya ciri-ciri seksual sekunder sebelum usia 8 tahun pada
anak perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada anak laki laki . Pada anak laki laki dapat
menunjukan gejala ,seperti pembesaran testis dan penis , wajah dan rambut di kemaluan atau
ketiak , berkumis dan berjambang , suara yang dalam dan jerawat. Anak anak dengan pubertas
prekoks menunjukan gelombang pertumbuhan dini yang menyebabkan mereka lebih tinggi
daripada anak usia sebayanya , tetapi berhenti bertumbuh lebih cepat dari yang diharapkan
menyebabkan mereka memiliki tinggi badan lebih rendah dari yang seharusnya mereka miliki.
Pubertas prekoks dapat dibagi menjadi 2 , yaitu :
14
Pubertas prekoks sejati : berkembangnya sifat kelamin sekunder sebelum usia pubertas ,
disertai gametogenesis. Hal ini disebabkan oleh kelainan pada aksis hipotalamus
hipofisis.
Pubertas prekoks palsu : berkembangnya sifat kelamin sekunder sebelum pubertas tanpa
disertai gametogenesis. Hal ini di sebabkan oleh neoplasma kelenjar gonad atau korteks
adrenal yang menghasilkan hormone seks, sehingga terjadi hiperfungsi dari pada
hormone hormone tersebut.




18
Kesimpulan
Alat Alat genitalia masculine di bagi mejadi 2 bagian yaitu : interna dan eksterna
.Interna terdiri dari , testis , duktus epididymis , ductus deferens, vesicula seminalis, dan
glandula prostat, dan Eksterna terdiri dari penis dan scrotum ( pembungkus penis ).
Masing- masing memiliki peran yang sangat penting untuk menunjang reproduksi pada
pria
Pubertas merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan serta pematangan sistem
reproduksi . Pada pria di tandai dengan mampunya menghasilkan sel sperma (
spermatogenesis , memproduksi hormone seks ( steroidogenesis ) , dan juga perubahan
fisik seperti suara lebih mendalam , bahu yang lebar , dan tumbuh rambut khas pria.
Hormon yang berpengaruh pada sistem reproduksi pria adalah Testostero, di mana
pembentukannya di inisiasi oleh hormone FSH dan LH dari hipofisis anterior.
Apabila terjadi kelainan dari pada produksi hormone- hormone tersebut maka tentu akan
berpengaruh pada kinerja dari alat reproduksi baik primer maupun sekunder.
Daftar Pustaka
1. Snell RS. Anatomi klinis berdasarkan sistem. Jakarta : EGC ; 2011.h. 779- 95 .
2. Moore KL. Anatomis klinis dasar. Jakarta : Hipokrates ; 2002.h. 162, 184-6.
3. Gambar di unduh dari : http://www.fertilitetsguiden.com/underlivet/mannen.php , 29
September 2014.
4. Drake RL, Vogl AW, Mitchell AWM. Gray : dasar-dasar anatomi. Singapore : Elsevier ;
2014 . h. 223-39.
5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula . Jakarta : EGC ; 2003. h. 347-53.
6. Kasim YI. Buku ajar traktus urogenitalis. Jakarta : Penerbit Ukrida ; 2012.h. 31-8 .
7. Gartner LP , Hiatt JL. Buku ajar berwarna histology. Singapore : Saunders Elsevier; 2014
. h. 473- 90.
8. Mescher AL . Histologi dasar junqueira : teks dan atlas . Jakarta : EGC ; 2011.h. 223,
373-6 .
9. Gambar di unduh dari :
http://www.vetmed.vt.edu/education/curriculum/vm8054/Labs/Lab27/lab27.htm , 29
September 2014
10. Fawcett DW . Buku ajar histology . Jakarta : EGC ; 2002.h.727-30.
11. Heffner LJ, Schust DJ . At a glance : sistem reproduksi . edisi ke-2. Jakarta :
Erlangga;2010 .h. 28-34.
12. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. edisi ke-6. Jakarta : EGC; 2011.h. 819-
822.
13. Gambar di unduh dari : http://www.austincc.edu/apreview/PhysText/Reproductive.html ,
29 September 2014.
14. Hull D. Dasar-dasar pediatric .edisi 3. Jakarta : EGC ; 2008.h.234.

19


.