Anda di halaman 1dari 21

1 | P a g e

BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini sering kita dengar terjadinya penganiayaan/perlakuan salah terhadap anak,
baik yang dilakukan oleh keluarga ataupun oleh pihak-pihak lain. Dalam bidang kedokteran
sendiri, child abuse ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1860, di Perancis. Dimana 320
orang anak meninggal dengan kecurigaan akibat perlakuan yang salah.
Memang sangat sukar kita percayai bahwa seseorang anak yang seharusnya menjadi tempat
curahan kasih sayang dari orang tua dan keluarganya, malah mendapatkan penganiayaan
sampai harus dirawat di Rumah Sakit ataupun sampai meninggal dunia.
Insidennya :
1. Hampir 3 juta kasus penganiayaan fisik dan seksual pada anak terjadi pada tahun 1992
2. Sebanyak 45 dari setiap 100 anak dapat mengalami penganiayaan
3. Lebih dari 100 anak meninggal setiap tahunnya karena penganiayaan dan pengabaian
4. Penganiayaan seksual paling sering terjadi pada anak perempuan, keluarga tiri, anak-anak
yang tinggal dengan satu orang tua atau pria yang bukan keluarga
Di Indonesia ditemukan 160 kasus penganiyaan fisik,72 kasusu penganiyaan
mental,dan 27 kasus penganiyaan seksual ( diteliti oleh Heddy Shri Ahimsa Putra,Tahun
1999 ). Sedangkan menurut YKAI didapatkan data pada tahun 1994 tercatat 172 kasus, tahun
1995 meningkat menjadi 421 dan tahun 1996 menjadi 476 kasus.
Setiap negara bagian mempunyai undang-undang yang menjelaskan tanggung jawab legal
untuk melaporkan jika terdapat kecurigaan penganiayaan anak. Kecurigaan penganiayaan
anak harus dilaporkan ke lembaga layanan perlindungan anak setempat. Pelapor yang diberi
mandat untuk melapor adalah perawat, dokter, dokter gigi, dokter anak, psikologi dan ahli
terapi wicara, peneliti sebab kematian, dokter, karyawan lembaga penitipan anak, pekerja
layanan anak-anak, pekerja sosial, guru sekolah. Kegagalan seseorang untuk melaporkan
orang tersebut didenda atau diberi hukuman lain, sesuai dengan status masing-masing.
Di Indonesia tanggung jawab pelaku pencederaan anak tertera dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) yang pasalnya berkaitan dengan jenis dan akibat
pencederaan anak.
Kemunculan Undang undang no.23/2002 tentang Perlindungan Anak menjadi secercah cahaya
untuk mengurangi terjadinya child abuse


2 | P a g e

. 1.2 Rumusan Masalah
Kekerasan yang dilakukan banyak orang terhadap anak dan perempuan, mempunyai
dampak yang kurang baik. adapun seperti beberapa pertanyaan di bawah ini, antara lain:
1.2.1
1.3 Tujuan Penulisan

1
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat Penulisan dari karya ilmiah ini adalah untuk menyadari orangtua bahwa
sebenarnya kekerasan terhadap anak tidak lagi pantas dilakukan, karena anak-anak juga
mendapat perlindungan dari Komisi Perlindungan Anak. Disini juga anak-anak harus
menjaga sikap sehingga emosi orangtua tidak terpancing untuk melakukan tindakan
kekerasan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari dalam diri, baik orangtua maupun
anak. Bagi penulis Untuk menyelesaikan tugas Keperawatan Jiwa. Bagi lembaga/ tempat.
Sebagai rujukan untuk penulis selanjutnya dalam menyelesaikan karya ini dengan topic yang
sama. Bagi masyarakat atau pembaca. sebagai pedoman agar tidak terjadinya tindakan
kekerasan.













3 | P a g e

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Defenisi
Child Abuse : tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi
(David Gill, 1973)
Child Abuse : perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan
kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini
adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak
Sementara menurut U.S. Department of Helath, Education and Wolfare memberikan
definisi Child Abuse sebagai kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual dan penelantaran
teradap anak dibawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertangugng
jawab terhadap kesejahteraan anak, sehingga keselamatan dan kesejahteraan anak terancam.

B. Klasifikasi
Terdapat 2 golongan besar, yaitu :
1) Dalam keluarga
Penganiayaan fisik, Non Accidental injury mulai dari ringan bruiser laserasi sampai
pada trauma neurologic yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman badan di luar
batas, kekejaman atau pemberian racun
Penelantaran anak/kelalaian, yaitu : kegiatan atau behavior yang langsung dapat
menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya.
Kelalaian dapat berupa :
a. Pemeliharaan yang kurang memadai
Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan,
keterlambatan perkembangan.
b. Pengawasan yang kurang memadai
Menyebabkan anak gagal mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa
c. Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan
Kegagalan dalam merawat anak dengan baik
d. Kelalaian dalam pendidikan
4 | P a g e

Meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal
menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa
putus sekolah
Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak.
Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain
Penganiayaan seksual, mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada seseorang anak
untuk mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan sexual yang nyata, sehingga
menggambarkan kegiatan seperti : aktivitas seksual (oral genital, genital, anal atau sodomi)
termasuk incest. (The Child Abuse & Prevention Act / Public Law 100-294).
2) Di luar rumah.
Dalam institusi/lembaga, di tempat kerja, di jalan, di medan perang.
C. Sebab terjadinya Child Abuse
Banyak orang sukar memahami mengapa seseorang melukai anaknya. Masyarakat sering
beranggapan bahwa orang yang menganiaya anaknya mengalami kelainan jiwa. Tetapi
banyak pelaku penganiayaan sebenarnya menyayangi anak-anaknya namun cenderung
bersikap kurang sabar dan kurang dewasa secara pribadi. Karakter seperti ini membuatnya
sulit memenuhi kebutuhan anak-anaknya dan meningkatkan kemungkinan tindak kekerasan
secara fisik atau emosional. Namun, tidak ada penjelasan yang menyeluruh tentang
penganiayaan pada anak. Hal itu terjadi sebagai akibat kombinasi faktor dari kepribadian,
sosial dan budaya. Menurut Richard J. Gelles, Ph.D. Faktor-faktor penyebab penganiayaan
ini dapat dikelompokkan dalam empat kategori utama, yaitu sebagai berikut :

1. Penyebaran perilaku jahat antar generasi
Banyak anak belajar perilaku jahat dari orang tua mereka dan kemudian berkembang menjadi
tindak kekerasan. Jadi, perilaku kekerasan diteruskan antar generasi. Penelitian menunjukkan
bahwa 30% anak-anak korban tindak kekerasan menjadi orang tua pelaku tindak kekerasan.
Mereka meniru perilaku ini sebagai model ketika mereka menjadi orang tua kelak.
Namun, beberapa ahli percaya bahwa yang menjadi penentu akhir adalah apakah anak
menyadari bahwa perilaku kasar yang dialaminya tersebut salah atau tidak. Anak-anak yang
yakin bahwa mereka berbuat salah dan pantas mendapat hukuman akan menjadi orang tua
pelaku kekerasan lebih sering daripada anak-anak yang yakin bahwa orang tua mereka salah
kalau berlaku kasar pada mereka
5 | P a g e

2.Ketegangan Sosial

Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko tindak kekerasan
pada anak dalam sebuah keluarga. Kondisi ini mencakup :

Pengangguran.

Sakit-penyakit.

Kemiskinan dalam rumah tangga.

Ukuran keluarga yang besar.

Kehadiran seorang bayi atau orang cacat mental dalam rumah.

Kematian anggota keluarga.

Penggunaan alkohol dan obat-obatan.


3.Isolasi social

Para orang tua atau pengasuh yang melakukan tindak kekerasan pada anak cenderung kurang
bersosialisasi. Beberapa orang tua pelaku kekerasan bahkan bergabung dengan berbagai
organisasi kemasyarakatan, dan kebanyakan kurang berkomunikasi dengan teman-teman atau
kerabatnya. Kurangnya sosialisasi ini menyebabkan kurangnya dukungan masyarakat pada
orang tua pelaku tindak kekerasan untuk menolong mereka menghadapi ketegangan sosial
atau ketegangan dalam keluarga.

Faktor budaya sering menentukan banyaknya dukungan komunitas yang diterima sebuah
keluarga. Komunitas itu berupa para tetangga, kerabat dan teman-teman yang membantu
pemeliharaan anak ketika orang tuanya tidak mau atau tidak mampu. Di AS, para orang tua
sering menaruh tanggung jawab pemeliharaan pada diri anak sendiri, yang berisiko tinggi
mengakibatkan tegangan dan tindak kekerasan pada anak.
6 | P a g e


4 Struktur Keluarga

Tipe keluarga tertentu memiliki risiko anak terlantar dan terjadi tindak kekerasan pada anak.
Sebagai contoh :

Orang tua tunggal lebih sering melakukan tindak kekerasan pada anak-anak daripada bukan
orang tua tunggal. Hal ini disebabkan keluarga-keluarga dengan orang tua tunggal biasanya
lebih sedikit mendapatkan uang daripada keluarga lainnya, sehingga hal ini dapat
meningkatnya risiko tindak kekerasan.

Keluarga-keluarga dengan keretakan perkawinan yang kronis atau tindak kekerasan pada
pasangannya mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-
keluarga tanpa masalah seperti ini.

Keluarga-keluarga yang didalamnya baik suami atau istri mendominasi pengambilan
keputusan yang penting seperti dimana mereka akan tinggal, apa pekerjaan yang dilakukan,
kapan mempunyai anak, dan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk makanan dan rumah
mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga
yang di dalamnya para orang tua membagi tanggung jawab untuk keputusan-keputusan ini.
D. Faktor Resiko Dari Child Abuse
Menurut Helfer dan Kempe dalam Pillitery ada 3 faktor yang menyebabkan child
abuse , yaitu :
1. Orang tua memiliki potensi untuk melukai anak-anak. Orang tua yang memiliki kelainan
mental, atau kurang kontrol diri daripada orang lain, atau orang tua tidak memahami tumbu h
kembang anak, sehingga mereka memiliki harapan yang tidak sesuai dengan keadaan anak.
Dapat juga orang tua terisolasi dari keluarga yang lain, bisa isolasi sosial atau karena letak
rumah yang saling berjauhan dari rumah lain, sehingga tidak ada orang lain yang dapat
memberikan support kepadanya.
2. Menurut pandangan orang tua anak terlihat berbeda dari anak lain. Hal ini dapat terjadi
pada anak yang tidak diinginkan atau anak yang tidak direncanakan, anak yang cacat,
hiperaktif, cengeng, anak dari orang lain yang tidak disukai, misalnya anak mantan
suami/istri, anak tiri, serta anak dengan berat lahir rendah(BBLR). Pada anak BBLR saat bayi
7 | P a g e

dilahirkan, mereka harus berpisah untuk beberapa lama, padahal pada beberapa hari inilah
normal bonding akan terjalin.
3. Adanya kejadian khusus : Stress. Stressor yang terjadi bisa jadi tidak terlalu berpengaruh jika
hal tersebut terjadi pada orang lain. Kejadian yag sering terjadi misalnya adanya tagihan,
kehilangan pekerjaan, adanya anak yang sakit, adanya tagihan, dll. Kejadian tersebut akan
membawa pengaruh yang lebih besar bila tidak ada orang lain yang menguatkan dirinya di
sekitarnya Karena stress dapat terjadi pada siapa saja, baik yang mempunyai tingkat sosial
ekonomi yag tinggi maupun rendah, maka child abuse dapat terjadi pada semua tingkatan.

E. Dampak kekerasan pada anak (Child Abuse)
Efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat diklasifikasikan dalam beberapa
kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi
sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepibadian sendiri; ada yang sulit
menjalin relasi dengan individu lain dan ada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa
terhadap dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti
perkembangan tubuh kurang normal juga rusaknya sistem syaraf.
Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan
perilaku menyimpang di kemudian hari. Bahkan, Komnas PA (dalam Nataliani, 2004)
mencatat, seorang anak yang berumur 9 tahun yang menjadi korban kekerasan, memiliki
keinginan untuk membunuh ibunya.
Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse) ,
antara lain;
1) Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan
menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-
anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan
menjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004)
menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan
buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung
berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak,
meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
2) Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi
orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping
mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola
makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan
8 | P a g e

bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa
karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik.
Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam
beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan,
perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun
kecenderungan bunuh diri.
3) Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang
masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat
eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan
eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai
penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih
kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi
mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau
bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991);
4) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini
adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak, Hurlock (1990)
mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya
perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami
masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
Dampak kekerasan terhadap anak lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam
mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik.
Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi
dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk
keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.
F. Solusi untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.
1. Pendidikan dan Pengetahuan Orang Tua Yang Cukup

Dari beberapa faktor yang telah kita bahas diatas, maka perlu kita ketahui bahwa
tindak kekerasan terhadap anak, sangat berpengaruh terhahap perkembangannya baik
psikis maupun fisik mereka. Oleh karena itu, perlu kita hentikan tindak kekerasan
tersebut. Dengan pendidikan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang cukup
diharapkan orang tua mampu mendidik anaknya kearah perkembangan yang
memuaskan tanpa adanya tindak kekerasan.
2. Keluarga Yang Hangat Dan Demokratis
9 | P a g e


Psikolog terpesona dengan penelitian Harry Harlow pada tahun 60-an memisahkan
anak-anak monyet dari ibunya, kemudian ia mengamati pertumbuhannya. Monyet-
monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang mengenaskan, selalu ketakutan, tidak
dapat menyesuaikan diri dan rentan terhadap berbagai penyakit. Setelah monyet-
monyet itu besar dan melahirkan bayi-bayi lagi, mereka menjadi ibu-ibu yang galak
dan berbahaya. Mereka acuh tak acuh terhadap anak-anaknya dan seringkali
melukainya.
Dalam sebuah study terbukti bahwa IQ anak yang tinggal di rumah yang orangtuanya
acuh tak acuh, bermusuhan dan keras, atau broken home, perkembangan IQ anak
mengalami penurunan dalam masa tiga tahun. Sebaliknya anak yang tinggal di rumah
yang orang tuanya penuh pengertian, bersikap hangat penuh kasih sayang dan
menyisihkan waktunya untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya, menjelaskan
tindakanya, memberi kesempatan anak untuk mengambil keputusan, berdialog dan
diskusi, hasilnya rata-rata IQ ( bahkan Kecerdasan Emosi ) anak mengalami kenaikan
sekitar 8 point

Hasil penelitian R. Study juga membuktikan bahwa 63 % dari anak nakal pada suatu
lembaga pendidikan anak-anak dilenkuen ( nakal ), berasal dari keluarga yang tidak
utuh ( broken home ). Kemudian hasil penelitian K. Gottschaldt di Leipzig ( Jerman )
menyatakan bahwa 70, 8 persen dari anak-anak yang sulit di didik ternyata berasal
dari keluarga yang tidak teratur, tidak utuh atau mengalami tekanan hidup yang
terlampau berat. (Ahmad, Aminah . 2006 : 1).
3. Membangun Komunikasi Yang Efektif

Kunci persoalan kekerasan terhadap anak disebabkan karena tidak adanya komunikasi
yang efektif dalam sebuah keluarga. Sehingga yang muncul adalah stereotyping
(stigma) dan predijuce (prasangka). Dua hal itu kemudian mengalami proses
akumulasi yang kadang dibumbui intervensi pihak ketiga. Sebagai contoh kasus dua
putri kandung pemilik sebuah pabrik rokok di Malang Jawa Timur. Amy Victoria
Chan (10) dan Ann Jessica Chan (9) diduga jadi korban kekerasan dari ibu kandung
mereka saat bermukim di Kanada. Ayahnya terlambat tahu karena sibuk mengurus
bisnis dan hanya sesekali mengunjungi mereka. Mereka dituntut ibunya agar meraih
prestasi di segala bidang sehingga waktu mereka dipenuhi kegiatan belajar dan
10 | P a g e

beragam kursus seperti balet, kumon, piano dan ice skating. Jika tidak bersedia,
mereka disiksa dengan segala cara. Mereka juga pernah dibiarkan berada di luar
rumah saat musim dingin.(Kompas edisi 24 Januari 2006). Kejadian ini mungkin
tidak terjadi jika ayahnya selalu mendampingi anak-anaknya.
Untuk menghindari kekerasan terhadap anak adalah bagaimana anggota keluarga
saling berinteraksi dengan komunikasi yang efektif. Sering kita dapatkan orang tua
dalam berkomunikasi terhadap anaknya disertai keinginan pribadi yang sangat
dominan, dan menganggap anak sebagai hasil produksi orang tua, maka harus selalu
sama dengan orang tuanya dan dapat diperlakukan apa saja.
Bermacam-macam sikap orang tua yang salah atau kurang tepat serta akibat-akibat
yang mungkin ditimbulkannya antara lain
4. Orang tua yang selalu khawatir dan selalu melindungi

Anak yang diperlakukan dengan penuh kekhawatiran, sering dilarang dan selalu
melindungi, akan tumbuh menjadi anak yang penakut, tidak mempunyai kepercayaan
diri, dan sulit berdiri sendiri. Dalam usaha untuk mengatasi semua akibat itu, mungkin
si anak akan berontak dan justru akan berbuat sesuatu yang sangat dikhawatirkan atau
dilarang orang tua. Konflik ini bisa berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak
5. Orang tua yang terlalu menuntut

Anak yang dididik dengan tuntutan yang tinggi mungkin akan mengambil nilai-nilai
yang terlalu tinggi sehingga tidak realistic. Bila anak tidak mau akan terjadi
pemaksaan orang tua yang berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak seperti
contoh kasus di atas.
6. Orang tua yang terlalu keras.

Anak yang diperlakukan demikian cenderung tumbuh dan berkembang menjadi anak
yang penurut namun penakut. Bila anak berontak terhadap dominasi orang tuanya ia
akan menjadi penentang. Konflik ini bisa berakibat terjadi kekerasan terhadap anak.
(Erwin. 1990 : 31 32).
G. MANIFESTASI KLINIK
Anak-anak yang menjadi korban child abuse rata-rata perkembangan psikologis mengalami
gangguan. Mereka terlihat murung, tertutup, jarang beradaptasi dan bersosialisasi, kurang
konsentrasi, dan prestasi akademik menurun (Hefler, 1976). Studi lain menemukan bahwa
11 | P a g e

anak-anak di bawah usia 25 bulan yang menjadi korban child abuse, skor perkembangan
kognitifnya lemah. Hal ini ditandai oleh empat perbedaan perilaku dan perkembangan anak,
yakni perbuatan kognitif, penyesuaian fungsi-fungsi di sekolah, perilaku di ruang kelas, dan
perilaku di rumah (Mackner, 1997).
H. PROGNOSIS ATAU KOMPLIKASI

Dengan pengobatan dan perawatan secara intensif, 80-90% keluarga yang terlibat dalam
penganiayaan serta pengabaian anak dapat direhabilitasi, sehingga mampu memberikan
perawatan yang mencukupi bagi anak mereka. Tetapi, sekitar 10-15% dari yang dapat
distabilisasi, masih membutuhkan pelayanan yang berkelanjutan sampai anaknya cukup
dewasa. Namun demikian, 2-3% kasus hak orang tua untuk mengasuh anaknya harus
diputuskan dan ditempatkan dipanti asuhan.

Intervensi perlu dan harus diputuskan segera, yaitu sewaktu anak akan dipulangkan ke
rumah. Karena, ternyata tanpa intervensi, sebanyak 5% anak dipulangkan akan terbunuh dan
25% di antaranya akan mengalami penganiayaan yang lebih berat kembali.
Anak yang berulang kali mengalami jejas pada susunan saraf pusatnya, dapat mengalami:
1. Keterlambatan dan keterbelakangan mental

2. Kejang-kejang

3. Hidrosefalus

4.Ataksia

Selanjutnya, keluarga-keluarga yang tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang
memadai cenderung akan menghasilkan anak remaja yang nakal dan menjadi penganiaya
anak sendiri pada generasi berikutnya.




12 | P a g e


Anak yang telah mengalami penganiayaan seksual dapat menyebabkan perubahan tingkah
laku dan emosi anak,antara lain:

1. Depresi

2.Percobaan bunuh diri

3.Gangguan stress post traumatic

4.Gangguan makan

Seorang anak laki-laki korban penganiayaan seksual pada masa anak-anak akan meningkat
resikonya menjadi pelaku penganiayaan seksual di kemudian hari.
Wanita yang secara fisik mengalami kekerasan pada masa anak-anak akan dua kali lebih
tinggi rentan atas penyakit atau gejala kegagaklan untuk makan. Demikian hasil penelitian
yang dilakukan oleh Dr Bernard L Harlow dari Harvard University School atas 732 wanita
berusia 36-44 tahun. Para wanita yang dijadikan obyek penelitian Dr Bernard L Harlow iyu
mengakui bahwa semasa kecil merka mengalami perlakuan kasar. Sebuah dmpak yang
membuat para wanita itu ketika beranjak dewasa mengalami masalah dengan mengkonsumsi
makanan. Namun dampak yang paling besar dialami adalah akibat perlakuan keras dan
pelecehan seksual saat mereka masih gadis.

Hasil penelitian Dr Bernard itu dipublikasikan dalam The Medical Journal Epidemiology.
Kekerasan pada masa kecil memang sudah lama menjdi salah satu factor penyebab timbulnya
gejala atau penyakit sulit makan sepert anorexia dan bulimia. Gejala bulimia ini pernah
dialami oleh mendiang Putri Wales, Putri Diana yang stress dengan perlakuan yang
diterimanya. Akibatnya ia mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Dr Bernard dan tim
dari Harvard School melakukan survey atas sejumlah wanita dengan pertanyaan apakah
mereka pernah mengalami perlakuan kejam atau pelecehan seksual semasa mereka masih
kanak-kanak. Perlakuan kasar termasuk dengan perbuatan tidak pada tempatnya oleh para
anggota keluarganya. Gejala anorexia dan bulimia hamper terjadi pada semu responden
wanita dimana 102 wanita mengalami gejala yang jelas sementara 49 wanita lainnya harus
melakukan konsultasi dengan okter mengenai gejala yang meraka alami. Seorang gadis akan
13 | P a g e

mengalami gejala anorexia atau bulimia dua kali lebih besar jika kepadanya pernah
mengalami perlakuan keras semasa kecil. Malah resiko itu akan naik tiga hingga empat kali
pada wanita yang mengaklami kekerasan fisik dan seksual sekaligus. Secara umum, Dr
Bernard memberikan kesimpulan bahwa para wanita yang mengalami kekerasan pada waktu
kecil memerlukan konsultasi dengan seorang dokter untuk mendapatkan upaya penyembuhan
dan pencegahan dari anorexia dan bulimia.

I. PENATALAKSANAAN

Karena perlakuan yang salah ini sebagai akibat dari sebab yang kompleks, maka perlu
penanganantim multidisiplin yang terdiri dri dokter anak, psikiater, psikolog, pekerja social,
ahli hukum, pendidik, dll.

Dibawah ini cara penanganan perlakuan salah terhadap anak menurut Newberger(dikutip
dari Snyder, 1983), yang terdiri dari 3 aspek pokok yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Tahap-tahap dalam mengelola perlakuan salah pada anak

2. Pertimbangan utama

3. Intervensi untuk melindungi anak dan menolong keluarga
I. Upaya yang dilakukan pemeritahan
Mengsosialisasi Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada
perempuan dan anak-anak merupakan masalah yang sulit di atasi. Umumnya masyarakat
menganggap bahwa anggota keluarga itu milik laki-laki dan masalah kekerasan di dalam
rumah tangga adalah masalah pribadi yang tidak dapat dicampuri oleh orang lain. Sebetulnya
Indonesia telah meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi
terhadap perempuan dan Undang-Undang No. 7/1984, Undang-undang no. 23 tahun 2002
tentang perlindungan anak serta Undang-Undang No. 29 tahun 1999. (Suprapti, 2006 : 4).
Sering pejabat terkait seperti Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman masih banyak yang
kurang memahami sehingga setiap ada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-
anak atau Hak Azazi Manusia masih selalu mengacu pada KUH Pidana.

Oleh karena itu kita merasa sangat perlu untuk mensosialisasikan UU No. 23 Tahun
14 | P a g e

2004 tanggal 22 September 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
karena keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia, aman, tentram dan damai
merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga agar dapat melaksanaan hak dan
kewajibannya yang didasari oleh agama, perlu dikembangkan dalam membangun keutuhan
rumah tangga.

Sosialisasi ini bisa melalui banyak cara antara lain penayangan iklan di televisi, melalui
radio, poster, penataran, seminar dan distribusi buku UU tersebut ke masyarakat umum,
akademisi, instansi pemerintah termasuk lini paling depan yaitu ibu-ibu PKK. UU No.
23/2004 sebetulnya masih kurang memuaskan karena bentuk-bentuk kekerasan terhadap
perempuan dan anak-anak masih merupakan delik aduan, maksudnya adalah korban sendiri
yang melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian.
Penelitian membuktikan bahwa kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh orang dekat
artinya orang yang dikenal oleh korban. Pelaku tindak kekerasan fisik dan seksual menurut
pemantauan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa
Barat tahun 2003 adalah orang-orang terdekat yaitu tetangga, orang tua, paman, kakek,
teman, pacar serta saudara. Hal ini dapat juga dilihat dari lokasi tindak kekerasan paling
banyak terjadi di rumah korban atau rumah pelaku.Setidaknya ini menunjukkan bahwa
pelaku adalah orang yang dekat dengan korban. (Pikiran Rakyat, edisi 20 Januari 2006.















15 | P a g e




BAB III
PENELITIAN

CHILD ABUSE (KEKERASAN PADA ANAK) DALAM PERSPEKTIF
PENDIDIKAN ISLAM ( Studi Deskriptif terhadap Kekerasan pada Anak
dalam Perspektif Pendidikan Islam)
AZMI .

Abstract
Anak adalah tunas, potensi, dan generasi penerus cita-cita bangsa. Mereka memiliki peran
strategis dalam menjamin eksistensi bangsa dan negara pada masa akan datang. Agar anak
kelak dapat memikul tanggung jawab secara optimal, maka mereka perlu mendapat
kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik,
mental, sosial, maupun spritual. Pada kenyataanya anak lebih sering menjadi obyek penderita
disadari atau tanpa disadari oleh pendidik (orangtua, guru dan pengasuh), sehingga kekerasan
pada anak berlangsung secara secara simultan dan berakibat kepada krisis generasi.
Seringkali orang salah kaprah terhadap kekerasan pada anak, padahal child abuse seringkali
diidentikkan dengan kekerasan yang tampak seperti kekerasan fisikal dan kekerasan seksual,
padahal kekerasan yang bersifat psikis dan sosial juga dapat membawa dampak buruk yang
bersifat permanen terhadap anak. Begitu juga dengan kekerasan struktural yang sistemik,
juga berdampak destruktif terhadap perkembangan anak seperti kemiskinan, kematian, dan
penderitaan yang luar biasa, sehingga berdampak jangka panjang terhadap anak.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah:
1.Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan child abuse (kekerasan pada anak).
2.Untuk mengetahui dampak atau akibat dari child abuse (kekerasan pada anak).
3.Untuk mengetahui pandangan Pendidikan Islam terhadap child abuse (kekerasan pada
anak).
4.Untuk mengetahui materi Pendidikan Agama Islam sebagai solusi terjadinya kekerasan
pada anak menurut para cendekiawan Muslim.
16 | P a g e

.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan datanya menggunakan
penelusuran literature atau penelitian kepustakaan (Library resarch). Sumber data penulis
adalah berupa data tentang kekerasan pada anak, dan data tentang pandangan pendidikan
Islam terhadap anak seperti: buku Abu Huraerah, Kekerasan Terhadap Anak. Sedangkan data
sekunder adalah data yang diharapkan dapat mendukung data primer, yaitu data yang
diperoleh hanya sebagai bantuan untuk menegaskan data primer sumber yang kedua ini
penulis ambil dari data-data yang bersumber dari buku-buku, koran-koran, internet dan
media-media yang berhubungan dengan tema pembahasan.
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa faktor atau akibat child abuse ada dua yaitu
internal yaitu yang bersumber dari pribadi anak, seperti stress dan eksternal yaitu faktor yang
bersumber dari luar pribadi anak yaitu; dari pendidik (orangtua, guru, pengasuh), lingkungan
masyarakat seperti; cara mendidik anak yang otoriter dan menggunakan cara kekerasan
sehingga menjadi model bagi anak dalam berperilaku. Orang tua yang otoriter cenderung
menggunakan aturan-aturan kaku dalam mendidik anak. Pelanggaran oleh anak akan
dihadapi orangtua dengan hukuman yang keras. Dampak child abuse adalah sebagai berikut:
anak kehilangan haknya untuk menikmati masa kanak-kanaknya, anak-anak menjadi korban
ketidakberesan orangtuanya, sering menjadi korban eksploitasi serta penindasan dari manusia
dewasa, labilitas emosi, serta pola perilaku yang cenderung agresif mudah terlibat dalam
perkelahian, tindak kekerasan, penyalahgunaan zat, hubungan seks bebas, dan kecenderungan
berperilaku anti-sosial.
Islam mengecam segala bentuk kekerasan termasuk kekerasan kepada anak
sebagaimana pernyataan sebuah hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib:
Artinya: ?Semoga Allah memberi kasih sayang kepada orangtua yang mendidik
anaknya untuk berbakti kepada dirinya?. (HR. Ali bin Abi Thalib)
Materi pendidikan agama Islam sebagai solusi terjadinya kekerasan pada anak menurut para
cendekiawan Muslim ada dua yaitu menurut DR. Abdullah Nashih Ulwan yang menyatakan
untuk mengeliminir child abuse harus ditempuh beberapa jenis pendidikan antara lain,
pendidikan moral dan intelektual. Kedua adalah dari dewan ulama Al-Azhar yang
menyatakan bahwa pendidikan anak haruslah bersifat bebas dengan maksud bahwa peran
17 | P a g e

orang tua bertolak kepada orangtua untuk secara tidak langsung membimbing dan
memperhatikan anak-anak, sehingga kekerasan pada anak dapat tereliminasi.

Keyword : CHILD ABUSE, PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM





















18 | P a g e



BAB IV
PEMBAHASAN
Hasil penelitian Dr Bernard itu dipublikasikan dalam The Medical Journal
Epidemiology. Kekerasan pada masa kecil memang sudah lama menjdi salah satu factor
penyebab timbulnya gejala atau penyakit sulit makan sepert anorexia dan bulimia. Gejala
bulimia ini pernah dialami oleh mendiang Putri Wales, Putri Diana yang stress dengan
perlakuan yang diterimanya. Akibatnya ia mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Dr
Bernard dan tim dari Harvard School melakukan survey atas sejumlah wanita dengan
pertanyaan apakah mereka pernah mengalami perlakuan kejam atau pelecehan seksual
semasa mereka masih kanak-kanak. Perlakuan kasar termasuk dengan perbuatan tidak pada
tempatnya oleh para anggota keluarganya. Gejala anorexia dan bulimia hamper terjadi pada
semu responden wanita dimana 102 wanita mengalami gejala yang jelas sementara 49 wanita
lainnya harus melakukan konsultasi dengan okter mengenai gejala yang meraka alami.
Seorang gadis akan mengalami gejala anorexia atau bulimia dua kali lebih besar jika
kepadanya pernah mengalami perlakuan keras semasa kecil. Malah resiko itu akan naik tiga
hingga empat kali pada wanita yang mengaklami kekerasan fisik dan seksual sekaligus.
Secara umum, Dr Bernard memberikan kesimpulan bahwa para wanita yang mengalami
kekerasan pada waktu kecil memerlukan konsultasi dengan seorang dokter untuk
mendapatkan upaya penyembuhan dan pencegahan dari anorexia dan bulimia.








19 | P a g e



























20 | P a g e

BAB V
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis
yang berakibat penderitaan terhadap anak.
Macam-macam kekerasan terhadap anak:
1 . Penyiksaan Fisik (Physical Abuse).
2. Penyiksaan Emosi (Psychological/Emotional Abuse).
3.PelecehanSeksual(SexualAbuse).
4. Pengabaian (Child Neglect).
Adapun faktor penyebab terjadinya kekerasan:
1. Lingkaran kekerasan
2. Stres dan kurangnya dukungan
3. Pecandu alkohol atau narkoba
4.. Menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga
5. Kemiskinan dan akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis.
6. Peningkatan krisis dan jumlah kekerasan di lingkungan sekitar mereka.
Dan dampak dari kekerasan tersebut ialah:
1) Kerusakan fisik atau luka fisik;
2) Anak akan menjadi individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan agresif
3) Memiliki perilaku menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan
obat dan alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh diri;
4) Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada
anak, takut menikah, merasa rendah diri.

3.2 Saran
Dokter sebagai klinisi yang bertugas di lapangan harus mempunyai kemampuan
dalam mengenali segala kemungkinan bentuk penyiksaan dan penelantaran anak, terutama
sekali dari kunjungan pasien ke tempat prakteknya. Manifestasi klinis yang didapatkan pada
korban penyiksaan dan penelantaran anak jelas berbeda dengan manifestasi klinis pada kasus
kecelakaan biasa. Sehingga diharapkan dokter dapat lebih jeli dalam mengenalinya.
21 | P a g e

Dokter mempunyai kewajiban untuk mendata bentuk penyiksaan itu dan kemudian
bekerjasama dengan pihak lain seperti pekerja sosial dan penegak hukum dalam
penindaklanjutan kasus penyiksaan dan penelantaran anak.
Orangtua juga mempunyai kewajiban mendidik anaknya dengan baik tidak berupah
dengan kekerasan fisik atau mental.








DAFTAR PUSTAKA

Abu Huraerah. (2006). Kekerasan Terhadap Anak Jakarta :Penerbit Nuansa,Emmy
Soekresno S. Pd.(2007). Mengenali Dan Mencegah Terjadinya TindakKekerasan Terhadap
Anak.
Mafrukhi dkk. (2006). Kompeten Berbahasa Indonesia. Jakarta :Penerbit Erlangga.
Sumber : Komisi Perlindungan Anak Indonesia,http://www.kpai.go . Didwonload
September 2007.http://www.setneg.go.id
UU PA No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak