Anda di halaman 1dari 15

1 | P a g e

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Istilah impetigo berasal dari bahasa Latin yang berarti serangan, dan telah digunakan untuk
menjelaskan gambaran seperti letusan berkeropeng yang biasa nampak pada daerah
permukaan kulit. Ada dua tipe impetigo, yaitu impetigo bullosa dan impetigo non-bullosa.
Impetigo non-bullosa disebut juga impetigo krustosa atau impetigo kontagiosa.
Sumber infeksi yang sering ditemukan pada anak-anak adalah berasal dari hewan
peliharaan, kuku yang kotor, dan penularan dari teman sekolahnya. Sedangkan pada orang
dewasa, penularan penyakit dapat diperoleh dari tempat cukur, salon kecantikan, kolam
renang dan tertular dari anak. Impetigo krustosa merupakan bentuk pioderma yang paling
sederhana.dan terbatas pada daerah epidermis atau superfisialis kulit. Dasar infeksi adalah
kurangnya hygiene dan terganggunya fungsi kulit.
Organisme penyebab dari impetigo krustosa adalah Staphylococcus aureus selain itu,
dapat pula ditemukan Streptococcus beta-hemolyticus grup A (Group A betahemolytic
streptococci (GABHS) yang juga diketahui dengan nama Streptococcus pyogenes). Sebuah
penelitian di Jepang menyatakan peningkatan insiden impetigo yang disebabkan oleh kuman
Streptococcus grup A sebesar 71% dari kasus, dan 72% dari kasus tersebut ditemukan pula
Staphylococcus aureus pada saat isolasi kuman. Staphylococcus dominan ditemukan pada
awal lesi. Jika kedua kuman ditemukan bersamaan, maka infeksi streptococcus merupakan
infeksi penyerta. Kuman S. pyogenes menular ke individu yang sehat melalui kulit, lalu
kemudian menyebar ke mukosa saluran napas. Berbeda dengan S. aureus, yang berawal
dengan kolonisasi kuman pada mukosa nasal dan baru dapat ditemukan pada isolasi kuman
di kulit pada sekitar 11 hari kemudian.


2 | P a g e

1.2 Tujuan

Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi impetigo
Mahasiswa mampu menjelaskaskan klasifikasi Impetigo
Mahasiswa mampu menjelaskan epidemiologi impetigo krustosa
Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi Impetigo Krustosa
Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosis dan penatalaksanaan Impetigo
















3 | P a g e



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi Kulit
Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar karena posisinya yang terletak
di bagian paling luar. Luas kulit dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan.
Klasifikasi berdasar :
1. Warna :
Terang (fair skin), pirang, dan hitam
merah muda : pada telapak kaki dan tangan bayi
hitam kecokelatan : pada genitalia orang dewasa
2. Jenisnya :
Elastis dan longgar : pada palpebra, bibir, dan preputium
Tebal dan tegang : pada telapak kaki dan tangan orang dewasa
Tipis : pada wajah
Lembut : pada leher dan badan
Berambut kasar : pada kepala

4 | P a g e


Anatomi kulit secara histopatologik
1. Lapisan Epidermis (kutikel)



Stratum Korneum (lapisan tanduk) => lapisan kulit paling luar yang terdiri dari sel gepeng
yang mati, tidak berinti, protoplasmanya berubah menjadi keratin (zat tanduk).
Stratum Lusidum => terletak di bawah lapisan korneum, lapisan sel gepeng tanpa inti,
protoplasmanya berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini lebih jelas tampak
pada telapak tangan dan kaki.
Stratum Granulosum (lapisan keratohialin) => merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan
sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir kasar terdiri dari keratohialin.
Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini.
Stratum Spinosum (stratum Malphigi) atau prickle cell layer (lapisan akanta ) => terdiri dari
sel yang berbentuk poligonal, protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen,
selnya akan semakin gepeng bila semakin dekat ke permukaan.
Stratum Basalis => terdiri dari sel kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan
dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Sel basal bermitosis dan berfungsi
reproduktif.
a. Sel kolumnar => protoplasma basofilik inti lonjong besar, di hubungkan oleh jembatan antar
sel.
b. Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell => sel berwarna muda, sitoplasma
basofilik dan inti gelap, mengandung pigmen (melanosomes)
5 | P a g e


2. Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin) => terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa pada
dengan elemenelemen selular dan folikel rambut.



Pars Papilare => bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan
pembuluh darah.
Pars Retikulare => bagian bawah yang menonjol ke subkutan. Terdiri dari serabut penunjang
seperti kolagen, elastin, dan retikulin.
3. Lapisan Subkutis (hipodermis) => lapisan paling dalam, terdiri dari jaringan ikat longgar
berisi sel lemak yang bulat, besar, dengan inti mendesak ke pinggir sitoplasma lemak yang
bertambah.


Vaskularisasi di kuli diatur pleksus superfisialis (terletak di bagian atas dermis) dan pleksus
profunda (terletak di subkutis).


6 | P a g e

2.2 Definisi Impetigo Kontaginosa
Sinonim untuk impetigo nonbullous kecil-vesikel impetigo contagiosa, Contagiosa Impetigo
Streptogenes, Impetigo Contagiosa atau Kecil-vesikel. Impetigo contagiosa adalah infeksi
kulit yang sangat menular dangkal disebabkan oleh bakteri staphylococcus aureus atau beta-
hemolitik streptokokus.Impetigo biasanya mempengaruhi bayi dan anak kecil.
Impetigo contagiosa adalah penyakit menular dari kulit, ditandai dengan munculnya
vesikel kemudian pengeringan menjadi kerak aneh. Ini dimulai tidak unfrequently dengan
gejala konstitusional karakter pyrexial, bervariasi dalam keparahan Dalam kasus yang
berbeda. Dalam dua atau tiga hari, satu atau lebih vesikel kecil dapat muncul pada setiap
bagian dari permukaan kulit. Ini secara bertahap memperbesar selama beberapa hari, lalu
keringkan menjadi kekuningan cahaya tipis atau jerami berwarna scabs atau remah.
Vesikula dan kerak mungkin terbatas jumlahnya, dan letusan berturut dapat memperpanjang
penyakit selama beberapa bulan. Inokulasi dengan cairan yang terkandung dalam vesikel
akan menimbulkan sejenis lesi .
Penghapusan kerak mengungkapkan permukaan agak memerah, dengan kelembaban
yang sangat sedikit atau tidak ada, dan tidak ada erosi ulserasi atau bahkan dari permukaan,
lesi menjadi sangat dangkal. Setelah jatuhnya spontan kerak, makula kebiruan-merah atau
noda yang tersisa, yang secara bertahap memudar.
2.3 ETIOLOGI
Sementara grup A beta-hemolytic streptococci lebih sering dikaitkan dengan penyakit di
negara-negara berkembang.
Infeksi primer dengan organisme terjadi pada masa bayi atau anak usia dini. Infeksi
sekunder pada lecet sudah ada sebelumnya atau luka dapat terjadi pada semua usia. Kedua
jenis kelamin sama-sama terpengaruh di impetigo contagiosa.
Penyakit ini disebabkan bakteri dari berbagai yang biasanya hadir sampai batas
tertentu pada kulit semua orang.Mendapatkan akses bakteri ke dalam kulit di lokasi abrasi.,
seperti yang mungkin terjadi dari awal atau dipotong atau sebagai akibat dari memilih wajah
dengan kuku jari kotor.Gangguan tersebut dapat terjadi sebagai akibat dari hidung "berjalan"
7 | P a g e

atau telinga. Menyebar dengan cepat, beberapa lesi yang hadir dalam beberapa hari atau
minggu setelah penyakit dikontak. Beberapa atau semua anak dalam keluarga dapat menjadi
sama terpengaruh jika mereka menggunakan handuk umum atau mencuci kain, bermain
bersama, atau memiliki kontak intim lainnya.
Impetigo lebih sering terjadi pada hangat, iklim lembab. Paparan debu, kebersihan
pribadi dan lingkungan yang buruk, status gizi yang rendah, kondisi hidup yang penuh sesak,
luka kulit diabaikan dan gigitan serangga dll adalah faktor risiko utama untuk tertular
impetigo contagiosa dan infeksi bakteri kulit.
2.4 EPIDEMIOLOGI
Impetigo kontaginosa adalah infeksi kulit yang mudah menular dan terutama mengenai anak
anak yang belum sekolah. Penyakit ini mengenai kedua jenis kelamin , laki-laki dan
perempuan sama banyak . pada orang dewasa impetigo ini sering terdapat pada mereka yang
tinggal bersama sama dalam suatu kelompok seperti asrama dan penjara .faktor predisposisi
terjadinya ialah hygiene yang jelek dan malnutrisi.
Insiden impetigo ini terjadi hampir di seluruh dunia dan pada umumnya menyebar
melalui kontak langsung. Paling sering menyerang anak-anak usia 2-5 tahun, namun tidak
menutup kemungkinan untuk semua umur dimana frekuensi laki-laki dan wanita sama.
Sebuah penelitian di Inggris menyebutkan bahwa insiden tahunan dari impetigo adalah 2.8 %
terjadi pada anak-anak usia di bawah 4 tahun dan 1.6 persen pada anak-anak usia 5 sampai
15 tahun. Impetigo nonbullous atau impetigo krustosa meliputi kira-kira 70 persen dari
semua kasus impetigo. Kebanyakan kasus ditemukan di daerah tropis atau beriklim panas
serta pada negara-negara yang berkembang dengan tingkat ekonomi masyarakatnya masih
tergolong lemah atau miskin.
2.5 PATOGINESIS
Organisme tersebut masuk melalui kulit yang terluka melalui transmisi kontak langsung.
Setelah infeksi, lesi yang baru mungkin terlihat pada pasien tanpa adanya kerusakan pada
kulit. Seringnya lesi ini menunjukkan beberapa kerusakan fisik yang tidak terlihat pada saat
dilakukan pemeriksaan. Impetigo memiliki lebih dari satu bentuk. Beberapa penulis
8 | P a g e

menerangkan perbedaan bentuk impetigo dari strain Staphylococcus yang menyerang dan
aktivitas eksotoksin yang dihasilkan.
Streptococcus masuk melalui kulit yang terluka dan melalui transmisi kontak
langsung, setelah infeksi, lesi yang baru mungkin terlihat pada pasien tanpa adanya
kerusakan pada kulit. Bentuk lesi mulai dari makula eritema yang berukuran 2 4 mm.
Secara cepat berubah menjadi vesikel atau pustula. Vesikel dapat pecah spontan dalam
beberapa jam atau jika digaruk maka akan meninggalkan krusta yang tebal, karena proses
dibawahnya terus berlangsung sehingga akan menimbulkan kesan seperti bertumpuk-
tumpuk, warnanya kekuning-kuningan. Karena secara klinik lebih sering dilihat krusta maka
disebut impetigo krustosa. Krusta sukar diangkat, tetapi bila berhasil akan tampak kulit yang
erosif.
Impetigo bulosa adalah suatu bentuk impetigo dengan gejala utama berupa lepuh-
lepuh berisi cairan kekuningan dengan dinding tegang, terkadang tampak hipopion.
Mula-mula berupa vesikel, lama kelamaan akan membesar menjadi bula yang
sifatnya tidak mudah pecah, karena dindingnya relatif tebal dari impetigo krustosa. Isinya
berupa cairan yang lama kelamaan akan berubah menjadi keruh karena invasi leukosit dan
akan mengendap. Bila pengendapan terjadi pada bula disebut hipopion yaitu ruangan yang
berisi pus yang mengendap, bila letaknya di punggung, maka akan tampak seperti
menggantung.
2.6 GEJALA KLINIS
Keluhan utama Impetigo contagiosa adalah rasa gatal. Lesi awal berupa makula eritematosa
berukuran 1 2 mm, segera berubah menjadi vesikel dan bula. Karena dinding vesikel tipis,
mudah pecah dan mengeluarkan sekret seropurulen kuning kecoklatan, selanjutnya
mengering membentuk krusta yang berlapis-lapis. Krusta mudah dilepaskan, dibawah krusta
terdapat daerah erosif yang mengeluarkan sekret, sehingga krusta kembali menebal.
Pemeriksaan Kulit:
a. Lokalisasi: daerah yang terpapar, terutama wajah (sekitar hidung dan mulut),
tangan, leher dan ekstremitas.
9 | P a g e

b. Efloresensi: makula eritematosa miliar sampai lentikular, difus, anular, sirsinar,
vesikel dan bula lentikular difus, pustula miliar sampai lentikular; krusta kuning
kecoklatan, berlapis-lapis, mudah diangkat.




10 | P a g e






11 | P a g e


2.7 DIAGNOSIS
Biasanya gambaran klinis berwarna ruam yang khas crusted pada daerah yang terkena dari
tubuh pada anak-anak sudah cukup untuk membuat diagnosis impetigo tersebut.Pap Gram
bernoda dan budaya nanah akan membantu dalam mengidentifikasi organisme penyebab.
Kultur dan sensitivitas studi sangat berguna dalam mengidentifikasi dan mengobati
MRSA, methicillin resistant Staph aureus, infeksi.
Serangan berulang dari impetigo panggilan untuk pemeriksaan laboratorium rinci
untuk menyingkirkan penyakit sistemik yang mendasari yang dapat menurunkan kekebalan
tubuh terhadap organisme menyerang.
1. Pemeriksaan Laboratorium.
Pada keadaan khusus, dimana diagnosis impetigo contaginosa masih diragukan, atau pada
suatu daerah dimana impetigo sedang mewabah, atau pada kasus yang kurang berespons
terhadap pengobatan, maka diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan sebagai berikut:
1. Pewarnaan gram. Pada pemeriksaan ini akan mengungkapkan adanya neutropil
dengan kuman coccus gram positif berbentuk rantai atau kelompok.
2. Kultur cairan. Pada pemeriksaan ini umumnya akan mengungkapkan adanya
Streptococcus aureus, atau kombinasi antara Streptococcus pyogenes dengan
Streptococcus beta hemolyticus grup A (GABHS), atau kadang-kadang dapat
berdiri sendiri.
3. Biopsi dapat juga dilakukan jika ada indikasi.
2. Pemeriksaan Lain:
1. Titer anti-streptolysin-O ( ASO), mungkin akan menunjukkan hasil positif lemah
untuk streptococcus, tetapi pemeriksaan ini jarang dilakukan.
2. Streptozyme. Adalah positif untuk streptococcus, tetapi pemeriksaan ini jarang
dilakukan.
12 | P a g e

2.8 DIAGNOSIS BANDING
1. Dermatitis atopi
Lesi gatal yang bersifat kronik dan berulang, kering; pada orang dewasa dapat ditemukan
likenifikasi pada daerah fleksor ekstremitas. Sedangkan pada anak sering berlokasi pada
daerah wajah dan ekstremitas ekstensor.
2. Dermatofitosis
Lesi kemerahan dan bersisik dengan bagian tepi yang aktif agak meninggi; dapat berbentuk
vesikel, terutama berlokasi di kaki.
3. Ektima
Lesi berkrusta yang menutupi ulkus, jarang berupa erosi; lesi menetap berminggu-minggu
dan dapat sembuh dengan meyisakan jaringan perut jika infeksi meluas hingga ke dermis.
4. Skabies
Lesi terdiri dari terowongan dan vesikel yang kecil; gatal pada daerah lesi saat malam hari
merupakan gejala yang khas.
5. Varisela
Vesikel berdinding tipis, ukuran kecil, pada daerah dasar yang eritem yang awalnya berlokasi
di badan dan menyebar ke wajah dan ekstremitas; vesikel pecah dan membentuk krusta; lesi
dengan tingkatan berbeda dapat muncul pada saat yang sama.
2.9 PENATALAKSANAAN
Langkah-langkah umum dalam mengobati impetigo termasuk menjaga anak bersih dan
kering. Pembersihan dengan solusi antiseptik dua kali sehari akan menghindari menyebar ke
daerah lain. Diet yang seimbang bergizi akan membantu dalam pemulihan lebih cepat dari
infeksi. Peralatan dan handuk mandi tidak boleh dibagi dengan anak-anak lainnya.
Salep mupirocin topikal yang paling sering cukup untuk menyingkirkan ruam
impetigo lokal. Ini harus diterapkan dua kali sehari selama lima sampai tujuh hari. Untuk
13 | P a g e

umum impetigo contagiosa, antibiotik seperti eritromisin, klaritromisin, azitromisin,
amoksisilin dengan clavulenic asam, kloksasilin, dan sefaleksin berguna dalam dosis yang
tepat. Kasus resisten yang disebabkan oleh MRSA dikelola oleh obat-obatan seperti
vankomisin, dicloxacillin dan klindamisin.
Dengan perawatan yang cocok, impetigo akan hilang dalam waktu lima sampai tujuh
hari. Impetigo berulang panggilan untuk pengobatan carrier, pembukaan hidung dan daerah
perianal menjadi situs yang paling umum di mana Staph dapat berada. Aplikasi sehari-hari
salep mupirocin ke daerah-daerah selama beberapa minggu bisa menyingkirkan infeksi
impetigo berulang.
2.10 KOMPLIKASI
Selulitis - ketika infeksi masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam selulitis dapat terjadi,
dan dapat menyebabkan gejala demam merah meradang, kulit dan nyeri. Pasien akan
membutuhkan antibiotik dan obat penghilang rasa sakit kadang-kadang.

Guttate psoriasis - jenis psoriases ditandai dengan merah, patch bersisik kulit yang
meradang pada semua bagian tubuh. Ini adalah non-menular kondisi kulit yang dapat
terjadi pada anak-anak dan remaja setelah infeksi bakteri, terutama infeksi
tenggorokan. Kadang-kadang dapat terjadi setelah impetigo.
Septicemia - infeksi bakteri darah. Pasien akan mengalami demam, pernapasan cepat dan
mungkin muntah, kebingungan dan pusing. Ini adalah infeksi yang mengancam jiwa dan
memerlukan perawatan di rumah sakit segera.
Post-streptokokus glomerulonefritis - infeksi pada pembuluh darah kecil di ginjal yang
dapat berakibat fatal bagi orang dewasa. Ini komplikasi impetigo sangat jarang. Gejala
meliputi urin berwarna gelap dan hipertensi . Pasien biasanya akan harus dirawat di
rumah sakit sehingga tekanan darah mereka dapat dipantau.


14 | P a g e


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Impetigo contagiosa adalah penyakit menular dari kulit, ditandai dengan munculnya vesikel
kemudian pengeringan menjadi kerak aneh. Ini dimulai tidak unfrequently dengan gejala
konstitusional karakter pyrexial, bervariasi dalam keparahan Dalam kasus yang berbeda.
Dalam dua atau tiga hari, satu atau lebih vesikel kecil dapat muncul pada setiap bagian dari
permukaan kulit. Ini secara bertahap memperbesar selama beberapa hari, lalu keringkan
menjadi kekuningan cahaya tipis atau jerami berwarna scabs atau remah. Vesikula dan kerak
mungkin terbatas jumlahnya, dan letusan berturut dapat memperpanjang penyakit selama
beberapa bulan. Inokulasi dengan cairan yang terkandung dalam vesikel akan menimbulkan
sejenis lesi . Grup A beta-hemolytic streptococci lebih sering dikaitkan dengan penyakit di
negara-negara berkembang.
Pengobatan dengan cara Memperbaiki keadaan higine penderita dan lingkunaga .
Salep mupirocin topikal yang paling sering cukup untuk menyingkirkan ruam impetigo
lokal. Ini harus diterapkan dua kali sehari selama lima sampai tujuh hari. Untuk umum
impetigo contagiosa, antibiotik seperti eritromisin, klaritromisin, azitromisin, amoksisilin
dengan clavulenic asam, kloksasilin, dan sefaleksin berguna dalam dosis yang tepat. Kasus
resisten yang disebabkan oleh MRSA dikelola oleh obat-obatan seperti vankomisin,
dicloxacillin dan klindamisin.




15 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, Adhi, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
Harahap, Mawarli, dkk.2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates.
Siregar, R.S, 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit kulit. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Anonymous. Infeksi Kulit Pioderma. http://www.berbagimanfaat.com. Akses 10/12/2012.
Pukul 10.00 WITA.