Anda di halaman 1dari 12

Menerbitkan

Buku Secara
Mandiri Irwan Bajang
Ptah! Zine Vol. 2
2
3
Menerbitkan Buku Secara Mandiri
Setelah menulis, penulis tentu saja harus mempublikasikan
tulisannya. Ada banyak pilihan ketika kita selesai menulis.
Mengirimnya ke media, mempublikasikannya ke blog atau website
pribadi, atau menerbitkannya menjadi buku.
Untuk memempublikasikn ke media, biasanya penulis mengirim
ke koran, majalah, jurnal atau media apa saja. Untuk cerpen dan
puisi bisanya dikirim koran atau majalah. Skenario dikirim ke
Production House dan novel dikrim ke penerbit. Dari sanalah
sumber penghasilan para penulis.
Honor di koran bervariasi. Koran lokal membayar Rp.300.000,-
sampai Rp.600.000-, sementara koran nasional membayar lebih
dari itu, bahkan angkanya bisa menembus Rp. 1.200.000. Majalah
tentu membayar lebih. Sementara jika menulis novel, penulis
biasanya dibayar dengan royalti. Royalti dihitung dari harga jual
buku dan dibayarkan berkala, sebulan, tiga bulan ataun enam
bulanan, tergantung kontrak. Atau dengan sistem jual putus,
yakni sebuah naskah dibeli kontan dan dibayar penuh sesuai
kesepakatan.
Selain itu, banyak juga penulis yang mengupayakan sendiri
menerbitkan karyanya. Mereka biasanya mendesain, mengedit
dan mencetak lalu menyebarkan bukunya sendiri atau bersama
tim. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ
terjual lebih dari 250.000 eksemplar, kita juga ingat cetakan awal
4
Supernova karya Dewi Lestari dicetak berulang-ulang, mereka
adalah sebagian contoh penulis yang menerbitkan bukunya
sendiri.
Dunia semakin cepat berkembang, jika kita lambat menyikapi
fenomena perkembangan tersebut, maka bersiap-siaplah tergilas
dan hanya menjadi penonton. Di dunia film dan musik misalnya,
hampir setiap hari kita menyaksikan kemunculan album musik dan
film baru. Makin banyak bermunculan orang-orang yang bergelut
di dunia itu: aktor, sutradara, penyanyi, band dan beberapa pelaku
lainnya. Tentu saja dengan produk mereka masing-masing baik
berupa film atau album musik.
Telah banyak orang yang menempuh jalur indie. Musik indie
berkembang karena semakin banyaknya studio musik yang dapat
membantu merekam lagu, mixing dan proses lainnya sehingga
menjadi sebuah lagu atau album yang utuh. Juga semakin
gampangnya penggandaan keping cd audio tersebut. Selain itu
penjualnya pun makin mudah dengan adanya bentuk penjualan
online, RBT, Ring Tone dan lain sebagainya.
Film indie semakin marak dan banyak diproduksi karena makin
banyaknya tersedia kamera dengan harga murah dan peralatan
lain yang bisa mendukung pembuatan film. Tentu saja selain
proyek idealis, misalnya karena tema yang diangkat atau aliran
dan lain sebagainya. Tapi toh kita tak bisa mengabaikan bahwa
semakin kompleksnya faktor pendukung ikut mendorong hal
tesebut untuk semakin berkembang.
Bagaimana dengan dunia buku? Sebenarnya dunia buku indie
sudah sangat lama berkembang dan dipakai banyak orang. Hanya
saja, di Indonesia hal ini belum sepopular seperti film atau musik.
Di banyak negara, praktik self publishing atau penerbitan buku
secara indie berkembang cukup pesat. Milis self publishing semakin
dipenuhi oleh anggota baru setiap harinya. Makin banyak penulis
baru muncul dan makin beragam pula jenis buku yang meluncur
ke pasar.
Di dalam negeri beberapa penulis menerbitkan
bukunya secara mandiri. Banyak alasan mengapa
mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional
5
dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang
beralasan bahwa penerbit konvensional cerewet dan
mau menang sendiri dengan menekan royalti penulis
pemula hingga 10%. Ada juga penulis yang memiliki
keyakinan berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak
percaya bahwa buku sang penulis marketable,
sementara sang penulis sangat yakin bukunya bakal
best seller. Karena itu ada penulis yang bertekad
menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah tidak
sepaham dengan penerbit konvensional, atau ada pula
yang mengambil tekad tersebut karena memang mau
demikian bukunya diterbitkan.
Ada baiknya kita melihat dulu dan memahami, apa dan
bagaimana sesungguhnya self publish tersebut. Setidaknya pada
bagian apa saja yang harus dilewati, baik penerbitan secara
konvensional atau penerbit mandiri yang akrab disebut self
publish.
6
Penerbitan buku secara mandiri atau self publish (saya lebih
senang menyebutnya indie), memberi titik terang dalam
dunia perbukuan di dunia dan Indonesia.
Sejak mesin Xerox ditemukan pada tahun 1970-an, otomatis
produksi barang cetakan menjadi semakin gampang. Sejak
itulah tekhnologi Print On demand mulai berkembang pesat.
Di Indonesia sendiri, sistem ini mulai popular sejak sepuluh
tahun belakangan ini. Sejak sistem ini mulai dikenal luas, dunia
penerbitan dan perbukuan seolah mengalami sebuah kemajuan
yang pesat. Pola sentralisasi produksi perbukuan tidak hanya
didominasi oleh penerbit saja. Belakangan kontrolnya mulai
dipegang penulis, beberapa penerbit kecil dan beberapa penerbit
penyedia layanan jasa ini.
Ada banyak misspersepsi tentang buku indie atau self publish.
Self publish adalah ban serep, begitulah anggapan banyak orang.
Sistem ini dipakai jika (1) sebuah naskah ditolak penerbit besar,
atau (2) sebagai batu loncatan membangaun nama sebelum
dilirik penerbit besar, atau juga (3) jalan pintas menerbitkan
karya. Kesimpulan ini saya dapatkan dari beberapa penulis yang
secara jujur mengakui hal tersebut.
Setidaknya, saya menangkap ada praktek atau asumsi bahwa
penerbit major konvensional itu punya standar yang luas dan
ketat dalam menerbitkan dan menerima naskah, sementara
penerbit indie tidak. Kalian hanya cukup punya tulisan, duit, dan
bukumu akan terbit. Memang benar seperti itu di satu hal. Tapi
ada banyak hal yang tak disadarai oleh banyak penulis, bahwa
selain hanya ditulis, dicetak dan dipasarkan, buku punya banyak
sekali prosedur. Sebab ketika ada beberapa sesi yang dilompati,
buku menjadi seolah sebuah barang produksi biasa. Seperti
buah-buahan. Selesai berbuah, langsung dipetik dan dimakan.
Tidak dipikirkan untuk dicuci, diolah dan dikreasikan agar
rasanya lebih enak dan bisa dinikmati lebih.
7
Beberapa hal yang perlu dipersiapakan dalam penerbitan sebuah
buku:
Penyuntingan/Editing
Bagian terpenting dari sebuah buku pasca selesai menulis
bagi saya adalah editing atau penyuntingan. Tentu saja editing
di sini tidak semata-mata hanya pengecekan tanda baca dan
pembenaran ejaan saja. Tapi editing menyangkut banyak sekali
hal.
Banyak orang beranggapan mengedit naskah hanyalah sebuah
upaya membenarkan ejaan. Anggapan ini sangat keliru. Sebab
mengedit naskah bukan hanya semata membenarkan, tapi juga
mengoreksi secara utuh sebuah tulisan. Menjadikan tulisan itu
sebisa mungkin menjadi tulisan sempurna yang tak bisa lagi
direcoki dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; emang iya?
Masa sih? Ngaco nih buku! dan lain sebagainya. Beberapa hal
penting dalam penyuntingan buku setidaknya termaktub dalam
poin-poin sebagai berikut:
8
a. Restrukturisasi kalimat yang kacau,
b. Koherensi kalimat dan pengecekan logika bahasa,
c. Pemantapan gagasan,
d. Pengaturan plot, penempatan ulang ide secara rapi dan
tertata,
e. Pengecekan fakta
f. Pengecekan catatan refrensi
g. Dll.
Dalam beberapa kasus, terutama dalam skala
penerbitan besar, seorang editor bahkan merancang
juga konsep, ukuran buku, sudut pandang penulisan,
pemilihan font, rencana cover dan rencana distribusi
serta pemasaran. Juga termasuk pembangunan isyu
serta koordinasi timbal balik antara penulis dan
penerbitnya. Pada bagian inilah, peran penting seorang
editor bisa kita lihat. Setelah editing, maka proses lain
berikutnya bisa dilanjutkan; lay out, cover, proof, cetak,
promosi dan distribusi.
Peneyelarasan Aksara/Proof Reading
Penyelarasa aksara atau biasa disebut proof reading adalah tahap
lanjutan dari editing buku. Ibarat mengecat sebuah motor atau
mobil, bagian ini adalah bagian penghalusan, clearing, sehingga
hasilnya makin mengkilap, tidak ada bagian cat yang tak rata dan
sebagainya.
Dalam penyuntingan, proof reading mengoreksi ulang hasil
seorang editor. Mengecek kembali ejaan yang masih keliru,
penulisan catatan kaki, hypenation, atau pemenggalan kalimat
dan beberapa hal yang terlihat sepele lainnya. Posisi ini sangat
vital, sebab seorang editor tentu tak luput dari kesalah lain yang
ia kerjakan. Proof reading menekan kemungkinan kesalahan yang
tak diharapkan.
Seorang proof reader bahkan kadang membaca secara terbalik
kalimat-kalimat dalam sebuah naskah buku agar ia bisa benar-
benar konsentrasi memeriksanya kata per kata.
9
Tata Letak/Lay Out
Tata letak menyangkut bagaimana sebuah buku dirancang isinya,
ukuran font, mau rata kiri kanan, atau rata kiri saja, format quote,
dan lain sebagainya. Dalam proses ini jugalah sebuah tulisan
dirancang semenarik mungkin tanpa mengabaikan bagaimana
konsep isi. Tata letak juga memasukkan gambar, foto, ilustrasi
dan tabel untuk mendukung beberapa fakta sebuah buku. Tugas
lay outer atau setter adalah menjadikan buku nyaman untuk
dilihat dan dibaca.
Pembuatan Sampul/Cover
Do Judge a Book with Its Cover! Buku dengan cover yang asal-
asalan adalah buku yang dibuat tidak sepenuh hati dan tidak
serius. Sebuah cover harus dirancang sebagus mungkin, proporsi
warna yang pas, perwakilan sebuah gagasan besar, juga sebagai
ciri khas seorang penulis atau sebuah penerbitan. Cover bisa
dibuat manual dengan skets, lukisan atau dengan software grafis
seperti corel draw, photoshop atau adobe ilustrator.
Cetak
Tahap berikutnya adalah menyetak buku. Tahap ini jangan
dianggap sepele. Pada tahap inilah sebuah penerbitan atau
seorang publisher buku indie harus bergerilya mencari partner
yang pas dan seimbang. Sebuah buku yang disusun dengan bagus
kan tidak mungkin bagus jika eksekusi akhirnya tidak maksimal.
Pilihan jenis kertas, cover, laminasi dan penjilidan yang rapi akan
membuat prestise sebuah buku juga akan naik.
Distribusi dan promosi
Takdir buku berikutnya setelah diterbitkan adalah dihadirkan ke
pembaca. Maka setelah buku itu diterbitkan, menghadirkannya
untuk dibaca orang lain adalah langkah yang harus segera
diambil. Tentu saja hukum ini berlaku bagi semua jenis buku,
kecuali memang buku yang dibuat hanya untuk koleksi pribadi,
seperti buku foto atau diary yang diniatkan untuk kalangan
sendiri atau terbatas.
10
Banyak orang yang ragu, ketika menempuh jalan indie. Mereka
menganggap, buku indie adalah buku tidak layak, atau buku
yang belum memenuhi kriteria untuk dipasarkan. Siapa bilang?
Selama semua proses produksinya dilewati dengan lengkap, baik
edit, proof, cover yang bagus dan lay out yang menarik, buku
indie tidak ada bedanya dengan buku konvensional lainnya.
Nah, lalu bagaimana mendistribusikan buku terbitan kita
sendiri? Gampang! Tekhnologi sudah berkembang sangat pesat.
Di negara-negara maju, penjualan buku bahkan sudah bisa
melalui email atau perangkat seluler, toko buku online makin
bertebaran, pembeli hanya tinggal kirim email atu sms, dan buku
akan segera dikirimkan. Bahkan kalau membeli ebook, ebook
akan dikirim ke email atau ponsel pembeli, tinggal download dan
baca. Canggih! Beberapa penerbit luar menjual buku dalam dua
versi, terserah mau beli buku versi ebook atau versi print. Kita
hanya tinggal telpon dan pesan, maka buku akan segera ditangan.
Perkembangan situs-situs jejaring sosial, seperti facebook,
twiter dan lain sebagainya, memberi ruang untuk para penulis
indie untuk memasarkan sendiri bukunya. Tidak perlu melalui
distributor dengan diskon yang super besar (sampai 60%). Anda
hanya cukup memajang foto buku Anda, harganya berapa, sistem
11
pembayaran, selesailah sudah. Tinggal promosi dan menunggu
sms atau telpon, atau email Anda didatangi oleh calon pembaca.
Simple sekali!
Selain itu Anda juga bisa membuatkan blog buku Anda.
Banyak penyedia blog gratis, blogger, tumblr dan wordpress
adalah yang paling popular. Jika Anda ingin lebih lagi, Anda cukup
mengeluarkan beberapa uang anda untuk memesan domain
website buku Anda. Anda bahkan bisa memilih nama yang Anda
sukai, http://www.bukusaya.com misalnya, atau http://www.
namasasayasiapa.com. Sangat gampang.
Penulis juga bisa memanfaatkan jejaring lain, sepeti cafe, distro,
toko kaset, kantin dsb. Anda tinggal menitipkan di sana dengan
beberapa perjanjian dan Anda hanya perlu menagih pembayaran
buku yang laku, sesuai kesepakatan. Bisa sebulan, seminggu atau
dalam tenggat waktu tertentu. Tapi jika Anda tak mau repot,
Anda juga bisa memajang buku anda di toko buku langsung.
Tidak ada syarat yang mengikat, hanya perlu ISBN buku saja.
Anda bisa memasarkan sendiri di toko buku kota Anda, atau
menggunakan jasa distributror untuk pemasaran yang lebih jauh
dan tidak bisa Anda jangkau. Dengan memasukkan buku ke toko
buku, Anda biasanya dikenakan potongan harga 30-40% dari
harga netto buku, atau 50%-65% untuk memakai jasa distributor.
12
Ketika memutuskan self publish, beberapa fase di atas
tadi juga harus harus diperhatikan, sehingga tak ada lagi
anggapan miring bahwa sebuah buku terbitan penerbit
besar jauh lebih bagus dengan penerbit indie. Ini adalah
asumsi yang salah. Dan asumsi ini lahir dari beberapa
praktek self publishing yang salah juga. Termasuk
oleh beberapa penulis yang melakukan kerja-kerja self
publishing.
Buku tak sesederhana itu. Ketika seorang penulis sudah
melalui step by step proses tadi, buku tersebut bisa
disetarakan, atau bahkan bisa jauh lebih bagus dari buku
garapan penerbit. Bukankah tak ada jaminan bahwa Bentang
atau Gramedia bisa lebih bagus dari sebuah penerbitan kecil
yang mungkin hanya berada di pojokan gang di Jogja atau
Bandung? Bagi saya, nama bukanlah ukuran. Ada banyak
penulis self publish juga memakai jasa editor freelance yang
bagus. Editor freelance bahkan menjadi sebuah pekerjaan
yang tak mesti harus berkantor di penerbitan, tetapi sebuah
kerja professional sendiri dan bisa dipakai oleh siapa saja.
Dengan mengontak dan kerjasama bersama editor, buku bisa
dipoles jauh lebih sempurna dari naskah awalnya.

___________________
@IrwanBajang saat ini menjadi pemimpin redaksi di
@IndieBookCorner. Menulis novel, puisi dan cerpen, esai juga
catatan perjalanan. Terlibat di beberapa penulisan dan riset
sejarah serta antropologi. Sehari-hari ngeblog dan bersenang-
senang di blog pribadi www.irwanbajang.com. Buku terbarunya
#KepulanganKelima (2013). Tahun ini akan menerbitkan 1 Novel
dan 1 Kumcer.