Anda di halaman 1dari 40

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


SURAKARTA

Perbedaan Kualitas Tidur
antara Pasien Asma dengan
Pasien PPOK di RSUD Dr.
Moewardi


Oleh: Rizka Ratmilia
Daftar Isi
PENDAHULUAN
METODOLOGI PENELITIAN
PEMBAHASAN
LANDASAN TEORI
HASIL PENELITIAN
SIMPULAN DAN SARAN





1
2
3
4
5
6
(The Union, 2011)
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kualitas
hidup
ASMA
PPOK
CA PARU
PERSEBARAN MORTALITAS AKIBAT
PENYAKIT PARU KRONIS
(Yawn, 2009)
Penyakit obstruksi
saluran pernapasan
PPOK
Asma
Ca
Paru
Overlapping

reversible
episodik Asma
Irreversible
progresif PPOK
Gejala
Nokturnal
Gangguan
tidur
(Pokrzywinski et al., 2009)
RUMUSAN MASALAH
Apakah ada perbedaan kualitas tidur
antara pasien asma dengan pasien PPOK
di RSUD Dr. Moewardi?
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui perbedaan kualitas
tidur antara pasien asma dengan pasien
PPOK di RSUD Dr. Moewardi.

MANFAAT PENELITIAN
Manfaat Teoritis :
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah
mengenai perbedaan kualitas tidur antara pasien asma
dengan pasien PPOK, serta berguna sebagai bahan acuan
untuk penelitian selanjutnya.
Manfaat Aplikatif :
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan dan
bahan pertimbangan bagi klinisi untuk dapat membedakan
penyakit asma dan PPOK dari aspek kualitas tidurnya,
sehingga lebih tepat dalam penegakkan diagnosis dan
pemilihan terapi.

LANDASAN TEORI
ASMA
Penyakit inflamasi saluran pernapasan
kronik dengan disertai adanya
hiperreaktivitas saluran pernapasan
terhadap berbagai rangsang
Manifestasi klinis seperti mengi,
sesak napas, dan batuk terutama
pada malam hari dan atau dini
hari secara episodik berulang
(GINA, 2012)
PPOK
Penyakit dengan keterbatasan aliran udara
persisten yang biasanya progresif dan
berhubungan dengan peningkatan respon
inflamasi kronis saluran napas dan paru-
paru terhadap partikel atau gas berbahaya.
Keluhan timbulnya gejala sesak
napas, batuk, dan produksi sputum
yang bersifat kronis dan progresif.
(GOLD, 2011)

TIDUR
Keadaan organisme yang teratur, berulang, dan mudah
dibalikkan yang ditandai oleh relatif tidak bergerak dan
peningkatan besar ambang respon terhadap stimuli
eksternal relatif dari keadaan terjaga (Kaplan dan
Sadock, 2010)
Fase
NREM
Fase REM
Kualitas
tidur
Aktivitas fisik
dan kelelahan
Penyakit
Gangguan
Psikologi
Pencahayaan
Lingkungan
Obat
Kebiasaan
konsumsi

Hubungan Asma dengan Tidur
Pasien asma yang mengalami gejala
nokturnal dapat mempengaruhi kualitas
tidur
Efek medikasi asma (teofilin) berupa
gangguan tidur

Pasien PPOK yang mengalami gejala saat
siang hari sehingga berdampak di malam
harinya (mempengaruhi kualitas tidur)
Efek medikasi (teofilin) berupa gangguan
tidur

Hubungan PPOK dengan Tidur
Kerangka Pikir
2
Inflamasi kronik pada saluran pernapasan
Kemampuan pengaliran udara keluar
(ekspirasi) menurun
-Faktor genetik
-Faktor lingkungan/Allergen
-Riwayat merokok
atau terpapar polusi
Penyakit obstruksi saluran
pernapasan
Asma PPOK
1Keluhan sesak reversible yang dapat
mengganggu aktivitas
2Beratnya serangan yang timbul
episodik
3Gejala klinis terutama pada malam
hari
4Sebagian besar stabil sepanjang hidup
1 Keluhan sesak irreversible yang
mengganggu aktivitas
2Beratnya serangan timbul terus
menerus
3Kapasitas paru menurun terutama
pada malam hari
4Progresif
Gangguan tidur
Kualitas tidur
1 resistensi bronkus
2Irama sirkadian
3Efek medikasi
4Posisi tidur
5Perubahan suhu
1 Hipoventilasi
2 Efek medikasi
Keterangan:

mempengaruhi

Ada perbedaan kualitas tidur antara pasien
asma dengan pasien PPOK di RSUD Dr.
Moewardi.

Hipotesis
METODOLOGI PENELITIAN

Observasional analitik dengan pendekatan
secara cross sectional

Poliklinik paru RSUD Dr. Moewardi dari bulan April
hingga Mei 2013

Pasien asma dan pasien PPOK yang menjalani rawat
jalan dengan kriteria tertentu

2
Subjek
Penelitian
Lokasi dan
Waktu
Penelitian
Jenis
Penelitian
Teknik
Sampling
teknik purposive sampling

Your own sub headline

Subjek Penelitian
Your own footer Your Logo
Pasien eksaserbasi

Kriteria Eksklusi
1
Kriteria Inklusi
Templates
Terdiagnosis asma persisten
(bebas serangan) atau
PPOK stabil di poliklinik paru
RSUD Dr. Moewardi


1
2 Berumur 40 tahun ke atas

3 Bersedia menjadi subjek
penelitian dan telah
menandatangani
informed consent

2
4
3
Memiliki penyakit
penyerta kronis

Memiliki gangguan
psikologis

Mengonsumsi obat
golongan sedatif, kafein,
narkoba, alkohol dalam
sebulan terakhir

Besar Sampel
Karena keterbatasan waktu
penelitlian, maka besar
sampel yaitu:
30 pasien asma dan 30
pasien PPOK
Saat Penelitian :

Didapat dari rumus :
2 1
n = Z
2
.p.q
d
2

= (1,96)
2
. 0,056. (1-0,056)
(0,05)
2


= 3,841. 0,056 . 0,944 = 82
0,0025
41 pasien asma dan 41 pasien PPOK


Keterangan:
n : besar sampel
p : perkiraan prevalensi penyakit yang
diteliti pada populasi (p=5,6%)
q : 1-p
Z
2
: nilai statistik Z pada kurva
normal standar pada tingkat kemaknaan
= 0,05 sehingga Z=1,96
d : presisi absolut yang dikehendaki
pada kedua sisi proporsi populasi 5%
(Taufiqurrohman, 2008))
Rancangan Penelitian
Populasi Pasien Poliklinik Paru
rawat jalan RSUD Dr. Moewardi
Kriteria Inklusi
Kriteria Eksklusi
Sampel
Pasien Asma Pasien PPOK
Mengisi Kuesioner
untuk Mengukur
Kualitas Tidur
Analisis Data
Chi Square
Perbedaan Kualitas Tidur
Variabel Penelitian

Pasien dengan penyakit obstruksi
saluran pernapasan (asma dan PPOK)
Variabel Bebas
Kualitas tidur
Variabel
Terikat
Subjektivitas responden dalam
mengisi kuesioner
Variabel Luar
Definisi Operasional Variabel
3
Kualitas tidur diukur dengan kuesioner KSPBJ-IRS. Alat riset ini mengukur
masalah insomnia terperinci (masalah gangguan masuk tidur, lamanya tidur,
kualitas tidur, dan kualitas setelah bangun).


Kualitas Tidur
Diagnosis asma pada pasien ditegakkan oleh Dokter Spesialis Paru RSUD Dr.
Moewardi dan tidak mengalami eksaserbasi.

Pasien Asma
1
Diagnosis asma pada pasien ditegakkan oleh Dokter Spesialis Paru RSUD Dr.
Moewardi dan termasuk PPOK stabil (tidak eksaserbasi)

Pasien PPOK
2
Instrumen Penelitian
dan Cara Kerja

Pengambilan data dilakukan dengan
wawancara langsung ke pasien yang
memenuhi kriteria inklusi dan kriteria
eksklusi
Kuesioner
KSPBJ-IRS
Lembar
Biodata
Responden
Informed
Consent

Teknik Analisis Data
Uji Chi-Square

Kualitas tidur baik
(Skor 10)

Kualitas tidur buruk
(skor < 10)
Your own footer Your Logo
Chi-Square (x
2
) >> bertujuan untuk mengetahui apakah
ada perbedaan kualitas tidur yang signifikan antara
pasien asma dengan pasien PPOK

Syarat Uji Chi-Square antara lain:
-Data bersifat kategorikal (nominal/ ordinal)
-Uji yang digunakan bersifat non parametrik
- Batas kemaknaan yang diambil adalah 5 %


Kriteria batas kemaknaan :
Bermakna, jika p < 0,05
Tidak bermakna, jika p 0,05
1. This is an example text. Go ahead
and replace it with your own text.
This is an example text. Go ahead
and replace it with your own text.
2. This is an example text. Go ahead
and replace it with your own text.
3. This is an example text. Go ahead
and replace it with your own text.


HASIL PENELITIAN
Karakteristik Subjek Penelitian
Jenis
Kelamin
Asma PPOK
% %
Laki-laki 13 43,33 22 73,33
Perempuan 17 56,67 8 26,67
Total 30 100 30 100
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pasien Asma dan Pasien PPOK Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pasien Asma dan Pasien PPOK Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pasien Asma dan Pasien PPOK Berdasarkan
Jenis Kelamin

Faktor Predisposisi Asma
(GINA, 2012)
Faktor Risiko PPOK
>>
(Reilly et al., 2010)
Umur
(tahun)
Asma PPOK
% %
41-50 4 13,33 6 20
51-60 12 40 5 16,67
61-70 9 30 9 30
71-80 4 13,33 9 30
>80 1 3,33 1 3,33
Total 30 100 30 100
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pasien Asma dan Pasien PPOK Berdasarkan
Umur
Kualitas Tidur
Asma PPOK Total
% % %
Kualitas Tidur Baik 16 53,33 12 40 28 46,67
Kualitas Tidur Buruk 14 46,67 18 60 32 53,33
Total 30 100 30 100 60 100
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pasien Asma dan Pasien PPOK Berdasarkan Kualitas Tidur
Analisis Bivariat
Analisis bivariat terhadap hubungan antara pasien asma dan
PPOK dengan kualitas tidur menunjukkan tidak terdapat
hubungan yang signifikan yaitu p = 0,301
Diagnosis
Kualitas Tidur
Total OR P
Baik Buruk
Asma
16 14 30
PPOK
12 18 30 1,714 0,301
Tabel 4.4 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien Asma dengan Pasien PPOK Tabel 4.4 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien Asma dengan Pasien PPOK Tabel 4.4 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien Asma dengan Pasien PPOK
Tabel 4.4 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien
Asma dengan Pasien PPOK

PEMBAHASAN

Kualitas
Tidur
Usia
Psikologis
Subjektivitas
responden
dalam
menjawab
Jumlah
Sampel
ASMA
PPOK
Terjadi proses degenerasi dan perusakan paru
serta jaringan pendukungnya akibat paparan zat
kimia seperti rokok (Nugroho, 2005).
Terjadi penurunan jumah tidur yang dalam
(stadium 3&4) , peningkatan tidur stadium 1,
dan efisiensi tidur menurun menjadi 75% pada
usia lanjut (Herrera, 2013)
Terjadi penurunan anatomik dan fisiologis atas
organ-organnya otot destrusor dan
kapasitas kandung kemih menurun (Reuben,
1996).
Terjadi perubahan pada irama sirkadian tidur
normal dan menurunnya hormon melatonin
(Morgan, 2003)
Faktor Usia
40 tahun ke atas :

Hasil perhitungan dengan uji chi square dengan
perhitungan menggunakan SPSS 20 didapatkan
nilai:
p = 0.301 > nilai batas kemaknaan ( 0.05)
Jadi H
0
diterima dan H
1
ditolak. Berarti tidak
terdapat perbedaan kualitas tidur yang
bermakna antara pasien asma dengan pasien
PPOK di RSUD Dr. Moewardi
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN









SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
tidak terdapat perbedaan kualitas
tidur antara pasien asma dengan
pasien PPOK. (p = 0,301).











SARAN



1. Pasien asma dan pasien PPOK yang berobat ke
RSUD Dr. Moewardi perlu diberikan edukasi
mengenai penyakitnya agar tetap mempunyai
kualitas tidur yang baik, sehingga tidak berdampak
pada kualitas hidup mereka.

2.Mengingat pada usia lanjut diagnosis asma dengan
PPOK sering overlapping, diharapkan tenaga
medis lebih teliti dalam anamnesis dan
pemeriksaan pasien.




3. Pasien asma dan pasien PPOK keduanya mempunyai
kualitas tidur yang menurun, oleh karena itu diperlukan
manajemen terapi secara holistic terhadap pasien agar
kualitas hidup tetap baik.

4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
perbedaan kualitas tidur antara pasien asma dengan
pasien PPOK dengan jumlah sampel yang representatif
dan populasi yang lebih luas, serta perlu dilakukan
analisis terhadap faktor-faktor lain yang dapat
merancukan hasil penelitian agar didapatkan hasil yang
valid dan reliable.