Anda di halaman 1dari 18

CLINICAL SCIENCE SESSION

RHINITIS ALERGI

Oleh :
Achmad Hafiedz.A
Candra Lia P

Preceptor :
Iwan .T.H, dr., SpTHT-KL, M.Kes., M.H. Kes.












Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok - Kepala Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
RSUD Al-IHSAN
2010

BAB I
PENDAHULUAN


Alergi merupakan kelainan umum yang dapat melibatkan berbagai bagian
tubuh seperti kulit, hidung dan sinus. Kelainan alergi termasuk penyakit-penyakit
seperti ekzema, asma alergi, dan rinitis. Rinitis merupakan masalah klinis yang
paling umum terjadi di seluruh dunia. Rinitis dibagi menjadi dua, rinitis alergi dan
non alergi. Yang paling sering terjadi adalah rinitis alergi. Rinitis memiliki
konstribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk asma dan rinosinusitis.
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama
serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan
alergen spesifik tersebut.
Inflamasi pada membran mukosa hidung yang terjadi pada rinitis dapat
disebabkan oleh beberapa proses patologis yang berbeda. Rinitis ditandai dengan
adanya hidung tersumbat, rinorea, bersin, gatal hidung, post nasal drip (PND),
ataupun kombinasi dari gejala-gejala tersebut.













BAB II
KAJIAN PUSTAKA RHINITIS ALERGI


2.1 Definisi
Rinitis alergi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on
Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin,
rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang
diperantarai oleh IgE.

2.2 Epidemiologi
Rinitis adalah masalah klinis yang paling umum terjadi pada pasien dengan
alergi. Rinitis secara konsisten berada pada urutan keenam penyakit kronis utama di
Amerika Serikat dan 80% dari penderita mengalami gejala-gejalanya sebelum umur
20 tahun.
Morbiditas dari rinitis menyebabkan kualitas hidup yang menurun akibat
sakit kepala, mudah lelah, gangguan kognisi, dan efek samping obat-obatan. Rinitis
alergi dapat menurunkan kualitas hidup, antara lain fungsi fisik, problem bekerja,
nyeri badan, vitalitas, fungsi sosial, stabilitas emosi, bahkan kesehatan mental.

2.3 Prevalensi
Rinitis alergi telah menjadi masalah kesehatan global yang ditemukan di
seluruh dunia, sedikitnya terdapat 10-25 % populasi dengan prevalensi yang
semakin meningkat sehingga berdampak pada kehidupan sosial, kenerja di sekolah
serta produktivitas kerja. Diperkirakan biaya yang dihabiskan baik secara langsung
maupun tidak langsung akibat rinitis alergi ini sekitar 5,3 miliar dolar Amerika
pertahun.
Di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 40 juta orang menderita rinitis alergi
atau sekitar 20% dari populasi. Secara akumulatif prevalensi rinitis alergi sekitar
15% pada laki-laki dan 14% pada wanita, bervariasi pada tiap negara. Ini mungkin
diakibatkan karena perbedaan geografik, tipe dan potensi alergen.
Rinitis alergi dapat terjadi pada semua ras, prevalensinya berbeda-beda
tergantung perbedaan genetik, faktor geografi, lingkungan serta jumlah populasi.
Dalam hubungannya dengan jenis kelamin, jika rinitis alergi terjadi pada masa
kanak-kanak maka laki-laki lebih tinggi daripada wanita namun pada masa dewasa
prevalensinya sama antara laki-laki dan wanita. Dilihat dari segi onset rinitis alergi
umumnya terjadi pada masa kanak-kanak, remaja dan dewasa muda. Dilaporkan
bahwa rinitis alergi 40% terjadi pada masa kanak-kanak. Pada laki-laki terjadi antara
onset 8-11 tahun, namun demikian rinitis alergi dapat terjadi pada semua umur.

2.4 Etiologi
Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisi
genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangat
berperan pada ekspresi rinitis alergi.
Penyebab rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan pada dewasa dan
ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti
urtikaria dan gangguan pencernaan.
Penyebab rinitis alergi dapat berbeda tergantung dari klasifikasi. Beberapa
pasien sensitif terhadap beberapa alergen. Alergen yang menyebabkan rinitis alergi
musiman biasanya berupa serbuk sari atau jamur. Rinitis alergi perenial (sepanjang
tahun) diantaranya debu tungau, terdapat dua spesies utama tungau yaitu
Dermatophagoides farinae dan Dermatophagoides pteronyssinus, jamur, binatang
peliharaan seperti kecoa dan binatang pengerat. Faktor resiko untuk terpaparnya
debu tungau biasanya karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi, dan faktor
kelembaban udara. Kelembaban yang tinggi merupakan faktor resiko untuk untuk
tumbuhnya jamur. Riwayat hobi berkebun/rekreasi ke pegunungan membantu
identifikasi untuk terpaparnya serbuk sari.
Berbagai pemicu yang bisa berperan dan memperberat adalah beberapa
faktor nonspesifik diantaranya asap rokok, polusi udara, bau aroma yang kuat atau
merangsang, perubahan cuaca, dan kelembaban yang tinggi.


2.5 Klasifikasi
Rinitis alergi sebelumnya dibagi berdasarkan waktu pajanan menjadi rinitis
alergi musiman (seasonal), sepanjang tahun (perenial) dan akibat kerja (occasional).
Rinitis alergi musiman hanya ada di negara yang memiliki empat musim. Alergen
penyebabnya spesifik, yaitu tepungsari (pollen) dan spora jamur. Gejala ketiganya
hampir sama, hanya sifat berlangsungnya yang berbeda. Gejala rinitis alergi
sepanjang tahun timbul terus menerus atau intermiten.
Sekarang klasifikasi rinitis alergi menggunakan parameter gejala dan kualitas
hidup, berdasarkan lamanya dibagi menjadi intermiten dengan gejala 4 hari
perminggu atau 4 minggu dan persisten dengan gejala >4 hari perminggu dan >4
minggu. Berdasarkan beratnya penyakit dibagi dalam ringan dan sedang-berat
tergantung dari gejala dan kualitas hidup. Dikatakan ringan yaitu tidak ditemukan
gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, olah raga, belajar, bekerja dan
lain-lain yang mengganggu. Dikatakan sedang-berat jika terdapat satu atau lebih
gangguan tersebut di atas.

Intermiten
Gejala
4 hari per minggu
atau 4 minggu
Persisten
Gejala
> 4 hari per minggu
dan > 4 minggu

Ringan
tidur normal
aktivitas sehari-hari, saat olah
raga dan santai normal
bekerja dan sekolah normal
tidak ada keluhan yang
mengganggu
Sedang-Berat
Satu atau lebih gejala
tidur terganggu
aktivitas sehari-hari, saat olah
raga dan santai terganggu
masalah dalam sekolah dan
bekerja
ada keluhan yang mengganggu
Gambar 1. Klasifikasi Rinitis Alergi

2.6 Patofisiologi
Terdapat 3 fase yang terjadi pada proses alergi. Fase sensitisasi, fase aktivasi
dan fase efektor. Pada fase sensitisasi, awal terjadinya reaksi alergi dimulai dengan
respon pengenalan alergen/antigen oleh sel darah putih yang dinamai sel makrofag,
monosit dan atau sel dendrit. Sel-sel tersebut berperan sebagai sel penyaji (antigen
presenting cell/sel APC), dan berada di mukosa saluran pernafasan. Antigen yang
menempel pada permukaan mukosa tersebut ditangkap oleh sel-sel APC, kemudian
dari antigen terbentuk fragmen peptida imunogenik. Fragmen pendek peptida ini
bergabung dengan MHC-II yang berada pada permukaan sel APC. Komplek
peptida-MHC-II ini akan dipresentasikan ke limfosit T yang diberi nama Helper-T
cells (T
H0
). Apabila sel T
H0
memiliki reseptor spesifik terhadap molekul komplek
peptida-MHC-II tersebut, maka akan terjadi penggabungan kedua molekul tesebut.
Sel APC akan melepas sitokin yang salah satunya adalah IL-1. IL-1 akan
mengaktivasi T
H0
menjadi T
H1
dan T
H2.
Sel T
H2
melepas sitokin antara lain IL-3, IL-
4, IL-5 dan IL-13. IL-4 dan IL-13 akan ditangkap resptornya pada permukaan
limfosit-B, akibatnya akan terjadi aktivasi limfosit-B. Limfosit-B aktif ini
memproduksi IgE.

Molekul IgE beredar dalam sirkulasi darah akan memasuki
jaringan dan ditangkap oleh reseptor IgE pada permukaan sel mast melalui FcR.
Pada fase aktivasi, terjadi ikatan silang antara dua atau lebih IgE melalui
FcR yang mengakibatkan aktivasi sel mast dan basofil. Maka akan terjadi
degranulasi sel mast dengan akibat terlepasnya mediator alergis. Mediator yang
terlepas terutama histamin. Histamin menyebabkan kelenjar mukosa dan goblet
mengalami hipersekresi, sehingga hidung beringus. Histamin juga merangsang
nervus vidianus sehingga terjadi gatal hidung dan bersin-bersin. Histamin juga
menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler sehingga
mengakibatkan pembengkakan mukosa dan terjadi gejala sumbatan hidung.


Fase efektor terdiri dari reaksi fase akut cepat dan reaksi fase akut lambat.
Reaksi alergi yang segera terjadi akibat histamin tersebut dinamakan reaksi alergi
fase cepat (RAFC), yang mencapai puncaknya pada 15-20 menit pasca paparan
alergen dan berakhir pada sekitar 60 menit kemudian. Sepanjang RAFC sel mast
juga melepas molekul-molekul kemotaktik yang terdiri dari ECFA (eosinophil
chemotactic factor of anaphylatic) dan NCEA (neutrophil chemotactic factor of
anaphylatic). Kedua molekul tersebut menyebabkan penumpukkan sel eosinofil dan
neutrofil di organ sasaran.


Reaksi alergi fase cepat ini dapat berlanjut terus sebagai reaksi alergi fase
lambat (RAFL) sampai 24 bahkan 48 jam kemudian. Tanda khas RAFL adalah
terlihatnya pertambahan jenis dan jumlah sel-sel inflamasi yangberakumulasi di
jaringan sasaran dengan puncak akumulasi antara 4-8 jam. Sel yang paling konstan
bertambah banyak jumlahnya dalam mukosa hidung dan menunjukkan korelasi
dengan tingkat beratnya gejala pasca paparan adalah eosinofil.

2.7 Penilaian Klinis
Bagian ini terutama membahas alergi dalam kaitannya dengan jaringan hidung
dan sinus paranasalis. Respon alergi biasanya ditandai oleh bersin, kongesti hidung,
dan renore yang encer dan banyak. Tidak ada demam dan sekret biasanya tidak
mengental ataupun menjadi purulen seperti yang terjadi pada rhinitis infeksiosa.
Awitan gejala timbul cepat setelah paparan alergen, dapat berupa mata atau palatum
yang gatal berair. Biasanya dapat terungkap suatu pola musiman atau kaitan dengan
bulu binatang, debu, asap, atau inhalan lain. Gejala penyerta seperti mual,
bersendawa, kembung, diare, somnolen atau insomnia dapat juga memberi kesan
suatu alergen yang ditelan, serta membedakan pasien-pasien ini dari penderita
rhinitis virus. Perbedaan penting lainnya adalah rhinitis alergika umumnya
berlangsung lebih lama dari rhinitis virus. Pada pasien dengan diatesis alergika,
sering kali terdapat alergi atau asma dalam keluarga. Seperti pada rinitis virus, maka
sinusitis bakterialis akut juga dapat timbul sekunder akibat sumbatan ostia dan
pengumpulan sekret.
Diagnosis alergi hidung harus ditegakkan dengan pemeriksaan sistematik
termasuk anamnesis yang teliti serta sebagian atau semua hal-hal berikut ini :

2.7.1 Anamnesis
Anamnesis sangat penting karena hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari
anamnesis saja dan sering kali serangan tidak terjadi dari hasil pemeriksaan fisik.
Anamnesis dimulai dengan menanyakan riwayat penyakit alergi dalam
keluarga. Pasien juga perlu ditanya mengenai gangguan alergi selain yang
menyerang hidung seperti asma, ekzema, urtikaria atau sensitivitas obat. Saat-saat
dimana gejala sering timbul dapat membantu menentukan alergi musiman. Juga
perlu mengaitkan awitan gejala dengan perubahan lingkungan ditempat kerja atau di
rumah. Sangat penting untuk mengetahui riwayat pengobatan sebelumnya dan
riwayat alergi makanan.
2.7.2 Pemeriksaan Fisik
a. Wajah
- Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan berhubungan dengan
vasodilatasi atau obstruksi hidung.
- Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui
setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan menggosok hidung keatas
dengan tangan.

b. Hidung
- Pada rhinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat
atau livid disertai adanya banyak sekret yang encer, konka tampak
membengkak.
- Jika terdapat infeksi penyerta, sekret dapat bervariasi mulai dari encer dan
mukoid hingga kental dan purulent. Dan pada saat yang sama mukosa
menjadi merah dan meradang, terbendung atau bahkan kering sama sekali.
- Tentukan karakteristik dan kuantitas mukus hidung. Pada rinitis alergi
mukus encer dan tipis. Jika kental dan purulen biasanya berhubungan
dengan sinusitis. Namun, mukus yang kental, purulen dan berwarna dapat
timbul pada rinitis alergi.
- Periksa septum nasi untuk melihat adanya deviasi atau perforasi septum
yang dapat disebabkan oleh rinitis alergi kronis, penyakit granulomatus.
- Periksa rongga hidung untuk melihat adanya massa seperti polip dan
tumor. Polip berupa massa yang berwarna abu-abu dengan tangkai. Dengan
dekongestant topikal polip tidak akan menyusut. Sedangkan mukosa
hidung akan menyusut.

c. Telinga, mata dan orofaring
- Dengan otoskopi perhatikan adanya retraksi membran timpani, air-fluid
level, atau bubbles. Kelainan mobilitas dari membran timpani dapat dilihat
dengan menggunakan otoskopi pneumatik. Kelaianan tersebut dapat terjadi
pada rinitis alergi yang disertai dengan disfungsi tuba eustachius dan otitis
media sekunder.
- Pada pemeriksaan mata Akan ditemukan injeksi dan pembengkakkan
konjungtiva palpebral yang disertai dengan produksi air mata.



d. Leher. Perhatikan adanya limfadenopati
e. Paru-paru. Perhatikan adanya tanda-tanda asma
f. Kulit. Kemungkinaan adanya dermatitis atopi.

2.7.3 Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium (invitro), pemeriksaan sitologi hidung, walaupun
tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan penyaring
atau pelengkap terhadap pemeriksaan lain. Ditemukan eosinofil dalam jumlah
banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalen. Jika basofil mungkin disebabkan
alergi makanan, sedangkan jika ditemukan PMN menunjukkan adanya infeksi
bakteri.

2.7.4 Hitung eosinofil dalam darah tepi
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat meningkat atau normal. Begitu juga
dengan pemeriksaan IgE total (Prist-paper radio immunosorbent test) seringkali
menunjukkan nilai normal. Kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu
penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria.
Pemeriksaan ini berguna untuk predileksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak
kecil dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi. Lebih bermakna adalah
pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST (radio-immunosorbent test) atau ELISA
(Enzyme-linked immunosorbent assay test)

2.7.5 Uji kulit
Alergen penyebab dapat juga dicari secara invivo dengan uji kulit. Ada
beberapa cara, yaitu uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (skin
end-point titration/SET), uji cukit (Prick Test), dan uji gores (Scratch Test).
Kedalaman kulit yang dicapai pada kedua uji kulit (uji cukit dan uji gores) sama.
SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai
konsentrasi yang bertingkat kepekaannya. Keuntungan SET, selain alergen
penyebab, juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui.
Untuk alergi makanan, uji kulit seperti tersebut di atas kurang dapat
diandalkan. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet eliminasi dan provokasi
(challenge test).
Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima hari.
Karena itu pada challenge test, makanan yang dicurigai diberikan pada penderita
setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya.
Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan
sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan.
Uji kulit untuk alergi makanan yang akhir-akhir ini banyak dilakukan adalah
provocative neutralization test atau intra cutaneus provocative food test. (IPFT).
Dengan lengkapnya pemeriksaan ini, selain jenis alergen penyebab, juga dapat
diketahui besarnya konsentrasi alergen yang dapat menetralkan reaksi akibat alergen
tersebut.

2.7.6 Tes penunjang lainnya
Yang lebih bermakna namun tidak selalu dikerjakan adalah tes IgE spesifik
dengan RAST (Radio Immunosorbent test) atau ELISA (Enzyme linked immuno
assay). IgE total > 200 IgE RAST untuk alergen alergen dengan tingkat skor 1+ s/d
4+.

2.8 Ko-Morbiditas
Inflamasi alergi tidak terbatas hanya pada rongga hidung. Berbagai
komorbiditas telah diketahui berhubungan dengan rinitis.
1. Asma atau dermatitis atopik.
Pasien dengan rinitis alergi sebanyak 20% juga memiliki gejala asma.
Rinitis alergi yang tidak terkontrol akan memperburuk asma atau
dermatitis atopik.
Pada Asma
- Mukosa nasal dan bronkus mempunyai banyak kesamaan
- Banyak penderita rinitis rinitis alergi mengalami peningkatan
hipereaktivitas bronkus yang non-spesifik
- Banyak penderita rinitis juga menderita asma
- Saluran nafas atas dan bawah diduga diepngaruhi oleh suatu proses
inflamasi yang serupa yang mungkin dapat menetap dan diperberat
oleh mekanisme yang saling berhubungan ini.
- Penyakit alergi dapat bersifat sistemik.Provokasi bronkial
menyebabkan inflamasi nasal dan provokasi nasal menyebabkan
inflamasi bronkial.
2. Kondisi lain.
Kondisi lain yang terjadi yang menyertai rinitis alergi adalah
konjungtivitis. Kondisi lainnya yang juga menyertai dan dapat terjadi
sebagai komplikasi adalah sinusitis, otitis media, gangguan tidur atau
apneu, abnormal palatum dan polip nasal.

2.9 Penatalaksanaan
Menurut ARIA penatalaksanaan rinitis alergi meliputi :
a. Penghindaran alergen.
Merupakan terapi yang paling ideal. Cara pengobatan ini bertujuan untuk
mencegah kontak antara alergen dengan IgE spesifik dapat dihindari sehingga
degranulasi sel mast tidak berlangsung dan gejalapun dapat dihindari. Namun,
dalam praktiknya sangat sulit mencegah kontak dengan alergen tersebut. Masih
banyak data yang diperlukan untuk mengetahui pentingnya peranan
penghindaran alergen.
b. Pengobatan medikamentosa
Cara pengobatan ini merupakan konsep untuk mencegah dan atau
menetralisasi kinerja molekul-molekul mediator yang dilepas sel-sel inflamasi
alergis dan atau mencegah pecahnya dinding sel dengan harapan gejala dapat
dihilangkan. Obat-obat yang digunakan untuk rinitis pada umumnya diberikan
intranasal atau oral.
Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamin H-1, yang bekerja
secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparat
farmakologik yang paling sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rinitis
alergi. Antihistamin diabsorbsi secara oral dengan cepat dan mudah serta efektif
untuk mengatasi gejala pada respons fase cepat seperti rinore, bersin, gatal, tetapi
tidak efektif untuk mengatasi obstruksi hidung pada fase lambat.
Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai sebagai
dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi denfgan antihistamin atau
topikal. Namun pemakaian secara topiukal hanya boleh untuk beberapa hari saja
untuk menghindari terjadinya rinitis alergi medikamentosa.
Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala sumbatan hidung akibat respons
fase lambat tidak dapat diatasi dengan obat lain. Kortikosteroid topikal bekerja
untuk mengurangi jumlah sel mast pada mukosa hidung, mencegah pengeluaran
protein sitotoksik dari eosinofil, mengurangi aktifitas limfosit.
Preparat antikolinergik topikal bermanfaat untuk mengatasi rinore, karena
aktifitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor. Pengobatan
baru lainnya untuk rinitis alergi di masa yang akan datang adalah anti leukotrien,
anti IgE, DNA rekombinan.
Obat-obat tidak memiliki efek jangka panjang setelah dihentikan. Karenanya
pada penyakit yang persisten, diperlukan terapi pemeliharaan.
Tabel 1. Efek terapi terhadap gejala-gejala rinitis
Bersin Rinorea Sumbatan
hidung
Gatal
hidung
Keluhan
mata
H1-antihistamin
- oral
- intranasal
- intaokular

++
++
0

++
++
0

+
+
0

+++
++
0

++
0
+++
Kortikosteroid
- intranasal

++++

+++

+++

++

++
Kromolin
-Intranasal
-Intraokular

+
0

+
0

+
0

+
0

0
++
Dekongestan
- Intranasal
- Oral

0
0


0
0

++++
+

0
0

0
0
Antikolinergik 0 ++ 0 0 0
Anti-leukotrin 0 + ++ 0 ++


c. Imunoterapi spesifik
Imunoterapi spesifik efektif 80-90% jika diberikan secara optimal.
Imunoterapi subkutan masih menimbulkan pertentangan dalam efektifitas
dan keamanan. Oleh karena itu, dianjurkan penggunaan dosis optimal vaksin
yang diberi label dalam unit biologis atau dalam ukuran masa dari alergen
utama. Dosis optimal untuk sebagian besar alergen utama adalah 5 sampai 20
g. Imunoterapi subkutan harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan penderita
harus dipantau selama 20 menit setelah pemberian subkutan.
Indikasi imunoterapi spesifik subkutan
- Penderita yang tidak terkontrol baik dengan farmakoterapi
konvensional
- Penderita yang gejala-gejalanya tidak dapat dikontrol baik dengan
antihistamin H1 dan farmakoterapi
- Penderita yang tidak menginginkan farmakoterapi
- Penderita dengan farmakoterapi yang menimbulkan efek samping
yang tidak diinginkan
- Penderita yang tidak ingin menerima terapi farmakologis jangka
panjang.
Imunoterapi spesifik nasal dan sublingual dosis tinggi-imunoterapi spesifik
oral
- Dapat digunakan dengan dosis sekurang-kurangnya 50-100 kali lebih
besar dari pada yang digunakan untuk imunoterapi subkutan.
- Pada penderita yang mempunyai efek samping atau menolak
imunoterapi subkutan
- Indikasinya mengikuti indikasi dari suntikan subsukatan
Pada anak-anak, imunoterapi spesifik adalah efektif. Namun tidak
direkomendasikan untuk melakukan imunoterapi pada anak dibawah umur 5
tahun.
d. Imunoterapi non-spesifik
Imunoterapi non-spesifik menggunakan steroid topikal. Hasil akhir sama
seperti pengobatan imunoterapi spesifik-alergen konvensional yaitu sama-
sama mampu menekan reaksi inflamasi, namun ditinjau dari aspek
biomolekuler terdapat mekanisme yang sangat berbeda.
Glukokortikosteroid (GCSs) berikatan dengan reseptor GCS yang berada
di dalam sitoplasma sel, kemudian menembus membran inti sel dan
mempengaruhi DNA sehingga tidak membentuk mRNA. Akibat selanjutnya
menghambat produksi sitokin pro-inflammatory.
e. Edukasi
Pemeliharaan dan peningkatan kebugaran jasmani telah diketahui
berkhasiat dalam menurunkan gejala alergis. Mekanisme biomolekulernya
terajadi pada peningkatan populasi limfosit T
H
yang berguna pada
penghambatan reaksi alergis, serta melalui mekanisme
imunopsikoneurologis.
f. Operatif
Tindakan bedah dilakukan sebagai tindakan tambahan pada beberapa
penderita yang sangat selektif. Seperti tindakan konkotomi (pemotongan
konka inferior) perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak
berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau
triklor asetat.

2.10 Komplikasi
Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah :
1. Polip hidung
Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan salah satu
faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung.
Polip hidung biasanya tumbuh di meatus medius dan merupakan manifestasi
utama akibat proses inflamasi kronis yang menimbulkan sumbatan sekitar
ostia sinus di meatus medius. Polip memiliki tanda patognomonis : inspisited
mucous glands, akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya
(lebih-lebih eosinofil dan limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia
goblet, dan metaplasia skuamosa. Ditemukan juga mRNA untuk GM-CSF,
TNF-alfa, IL-4 dan IL-5 yang berperan meningkatkan reaksi alergis.
2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak
3. Sinusitis paranasal
Merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. Terjadi akibat
edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa. Edema mukosa ostia
menyebabkan sumbatan ostia. Penyumbatan tersebut akan menyebabkan
penimbunan mukus sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara
rongga sinus. Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri terutama
bakteri anaerob. Selain dari itu, proses alergi akan menyebabkan rusaknya
fungsi barier epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator-
mediator protein basa yang dilepas sel eosinofil (MBP) dengan akibat
sinusitis akan semakin parah.

Pengobatan komplikasi rinits alergi harus ditujukan untuk menghilangkan
obstruksi ostia sinus dan tuba eustachius, serta menetralisasi atau menghentikan
reaksi humoral maupun seluler yang terjadi lebih meningkat. Untuk tujuan ini maka
pengobatab rasionalnya adalah pemberian antihistamin, dekongestan, antiinflamasi,
antibiotia adekuat, imunoterapi dan bila perlu operatif.



BAB III
KESIMPULAN


Rinitis adalah masalah yang signifikan dalam kesehatan individu, dan timbul
dengan gejala hidung tersumbat, rhinorrhea, gatal hidung. Rinitis berkaitan dengan
berbagai penyakit antara lain rhinosinusitis, asma dan otitis media. Sangat penting
untuk memeriksa gejala pada setiap pasien untuk menentukan patofisiologi yang
terjadi dalam tiap rinitis dan untuk merencanakan pengobatan sehingga bisa
memudahkan pemulihan dengan efek samping yang minimal. Rinitis terbagi menjadi
dua, yakni rinitis alergi dan non-alergi.
Rinitis alergi adalah penyakit imunologi yang paling umum pada manusia.
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan belum menjelaskan patofisiologi dan
pengobatan yang tepat untuk rinitis alergi. Adanya komponen inflamasi pada reaksi
alergi hidung fase lambat pada rinitis telah membantu kita memahami hiperaktifitas
jalan nafas dan penatalaksanaannya yang tepat.
Sebagian besar penyebab rinitis non-alergi tidak diketahui. Secara
keseluruhan, penatalaksanaan rinitis non-alergi masih belum dimengerti dan jauh
dari optimal. Macam-macam gejala yang timbul dapat membantu dalam menentukan
penatalaksanaan yang tepat. Untuk itu, dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk
memperbaiki keadaan ini.











DAFTAR PUSTAKA


1. Soepardi E., Iskandar N. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke
lima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004.
2. Adams G., Boies L., Higler P. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 1997.
3. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Edisi ke delapan.
McGrawl-Hill. 2003.
4. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Pertama.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 106-108. 2001.
5. Bousquet, J. Cauwenberge, P. ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on
Asthma Initiative).