Anda di halaman 1dari 43

Kilang Pertamina UP II Dumai menggunakan bahan baku Minas Crude/SLC (85%)

dan Duri Crude (15 %). Produk-produk yang dihasilkan Pertamina UP II adalah LPG,avtur,
premium 88, kerosin, avtur automotive diesel oil (ADO), refinery fuel, Green cokes, LSWR.
Proses pengolahan untuk menghasilkan produk-produk kilang terdiri dari primary
processing dan secondary processing. Primary processing merupakan pemisahkan fraksi-
fraksi minyak mentah atas dasar perbedaan titik didih. Primary processing terdiri dari Crude
Distillation Unit (topping unit), dan High Vacuum Unit (HVU). Secondary processing
merupakan pengolahan lanjut dari produk-produk primary processing secara fisis dan kimia.
Proses-proses yang termasuk secondary processing adalah catalytic cracking pada unit HC
Unibon, dan thermal cracking pada Delayed Coking Unit (DCU).
Limbah yang dihasilkan adalah ceceran minyak, sour water, dan spent catalyst. Untuk
menanggulangi limbah tersebut digunakan oil separator dan sour water stripper. Sedangkan
spent catalyst diregenerasi atau dijual kembali. Limbah lainnya yang tidak dapat diolah
sendiri dikirim ke PPLI di Bogor.
Dan dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa efisiensi heater (furnace) reformer di
Hidrogen Plant saat ini menurun jika dibanding dengan efisensi furnace pada tahun 2004.
Hal ini dapat disebabkan beberapa hal diantaranya adalah karena adanya (buntu) fouling pada
tube yang akhirnya mengganggu fungsi heater (furnace) dan endapan pada shell side karena
tube yang buntu.
Heater merupakan alat perpindahan panas yang digunakan untuk memanasi fluida
sampai suhu tertentu sesuai dengan suhu yang dikehendaki. Panas didapatkan dari
pembakaran fuel atau bahan bakar. Heater merupakan alat yang sangat penting bagi
penyediaan panas yang amat dibutuhkan untuk proses-proses berikutnya, seperti stripper,
reactor, destilasi dan lain-lain
1 Tinjauan Proses High Vacuum Unit
Unit Distilasi Vakum (HVU) merupakan unit yang menghasilkan gas oil dari reduced
crude pada tekanan yang jauh dibawah atmosferik, biasanya kurang dari 1 psia dan pada
temperatur dimana baik fraksi gas oil maupun asphalt tidak mengalami dekomposisi thermal.
Prinsip dasarnya adalah bahwa titik didih semua meterial turun pada tekanan yang lebih
rendah Reduced crude mengandung gas oil dengan boiling point range 650 1050
o
F (343
566
o
C). Jika reduced crude dipanaskan pada tekanan atmosferik sampai menghasilkan
sejumlah gas oil, thermal decomposition akan terjadi. Dengan mengurangi tekanan, material
yang diinginkan dapat terbentuk dibawah temperatur crackingnya.
Unit ini berfungsi untuk memisahkan umpan LSWR (Low sulphur Waxy Residu) dari
CDU berdasarkan perbedaan titik didih. Kondisi vakum diperoleh dengan menarik produk
gas di bagian atas kolom menggunakan tiga buah steam jet ejector yang tersusun seri. Ejector
ini mampu menurunkan tekanan hingga 20 mmHg. HVU didesain untuk memproses 92612
BPSD (614 M
3
/hr) reduced crude. Unit ini terdiri dari feed surge drum, sebuah two stge
electric desalter, dua vacuum heater, sebuah vacuum coloumn, pompa, kompresor, heat
exchanger, cooler dan lain-lain. Proses pemisahan tersebut berlangsung pada kondisi operasi
dengan tekanan 18-22 mmHg dan temperatur operasi 405
o
C.
Feed : LSWR (70%dari CDU Topping Unit dan 30% CDU Sei Pakning)
Produk : Gas, dipakai sebagai fuel gas (untuk komsumsi sendiri)
- Light Vacuum Gas Oil (LVGO), digunakan sebagai komponen campuran
- Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO), digunakan sebagai umpan hydrocracker unibon
(HC Unibon)
- Short residu, digunakan sebagai umpan Delayed Coking Unit (DCU)
Peralatan utama: Desalter (V-5 A/B), Vacuum Tower (V-1)

minyak bumi merupakan bahan mentah untuk menghasilkan berbagai macam bahan bakar
seperti : LPG, bensin, avigas, jet fuel, kerosin, solar, dan bahan lain ( Non BBM ) seperti
aspal, minyak pelumas, bahan pelarut, lilin dan bahan petrokimia.
kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan Pertamina adalah sebagai berikut:
a. Eksplorasi dan Produksi
Mencakup upaya menemukan lokasi yang berpotensi bagi penambangan minyak dan gas
bumi serta menambang dan memproduksi menjadi bahan baku.
b. Pengolahan
Upaya memurnikan, menyuling dan mengolah gas dan minyak mentah (crude oil) dan gas
menjadi bahan bakar atau produk Petrokimia.
c. Pembekalan dan Transportasi
Upaya menampung, menyimpan dan mendistribusikan serta mengapalkan bahan baku
ataupun produk akhir yang siap dikirim.
d. Penunjang
Mencakup semua upaya-upaya untuk menunjang terselenggaranya bagian-bagian tersebut
diatas untuk mencapai sasaran agar berdaya guna dan berkelanjutan.
PT. Pertamina (Persero) dalam pengolahan minyak bumi saat ini memiliki 7 Unit
Pengolahan (UP) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yaitu :
Tabel I.1 Kapasitas Unit Pengolahan Pertamina di Indonesia
No. Unit Pengolahan Daerah Kapasitas (Barrel/hari)
1. Unit Pengolahan (UP) I Pangkalan Brandan 5.000
2. Unit Pengolahan (UP) II Dumai & Sei Pakning 180.000
3. Unit Pengolahan (UP) III Plaju & Sungai Gerong 134.000
4. Unit Pengolahan (UP) IV Cilacap 300.000
5. Unit Pengolahan (UP) V Balikpapan 252.000
6. Unit Pengolahan (UP) VI Balongan 125.000
7. Unit Pengolahan (UP) VII Kasim Sorong 10.000
8. Unit Pengolahan (UP) VIII Cepu 4.000
JUMLAH 1.010.000

Saat ini, Pertamina UP II dumai mengoperasikan 2 buah kilang, dengan kapasitas total
sekitar 180 MBSD, yaitu :
1. Kilang Minyak Putri Tujuh Dumai, dengan kapasitas 130 MBSD
2. kilang Minyak Sei Pakning dengan kapasitas 50 MBSD
Dari proses pengolahan tersebut dihasilkan beberapa jenis produk BBM di antaranya
adalah:
- Nafta,Kerosin,Solar/Automotive Diesel Oil (ADO), Produk bawah berupa 55 % volume
Low Sulphur Wax Residu (LSWR) yang diekspor ke Jepang dan Amerika Serikat.
Pada tahun 1972 dilakukan proses perluasan Kilang Putri Tujuh untuk mengolah
produk bawah menjadi bensin premium dan komponen mogas. Unit-unit baru yang didirikan
yaitu:
1. Platforming Unit.
2. Naphtha Rerun Unit.
3. Hydrobon Unit.
4. Mogas Component Blending Plant.
Setelah proyek perluasan kilang Dumai selesai dibangun, kilang baru ini diresmikan
presiden RI, Soeharto, pada tanggal 16 Februari 1984. Proyek ini mencakup beberapa proses
dengan teknologi tinggi yang terdiri dari unit-unit proses sebagai berikut :
1. High Vacuum Distillation Unit (110)
2. Delayed Coking Unit (140)
3. Coke Calciner Unit (170)
4. Naphtha Hydrotreating Unit (200)
5. Hydrocracker Unibon (211/212)
6. Distillate Hydrotreating Unit (220)
7. Continous Catalyst Regeneration-Platforming Unit (300-310)
8. Hydrobon Platforming Unit/PL-1 (301)
9. Amine-LPG Recovery Unit (410)
10. Hydrogen Plant (701/702)
11. Sour Water Stripper Unit (840)
12. Nitrogen Plant (940)
13. Fasilitas penunjang operasi kilang (Utilities)
14. Fasilitas tangki penimbun dan dermaga baru.
Beberapa jenis Bahan Bakar Minyak yang telah diproduksi oleh Kilang Pertamina UP
II Dumai saat ini adalah :
1. Premium
2. Jet Petroleum Grade
3. Aviation Turbin Fuel (avtur)
4. Kerosin
5. Automotive Diesel Oil (ADO)
sedangkan produk non-BBM antara lain :
1. LPG
2. Green Coke
Saat ini, Pertamina UP II Dumai berencana untuk menghasilkan produk baru dengan
nama solar plus untuk bahan bakar busway.
Proses produksi di kilang Dumai dimulai dari proses penerimaan minyak mentah. dari
PT Caltex Pasific Indonesia melalui sistem perpipaan. Selanjutnya minyak diolah dalam dua
tahap pengolahan.
Pada pengolahan tahap I, setelah diendapkan airnya, minyak mentah didistilasi dalam
Crude Distillation Unit (CDU). Produk yang diperoleh adalah naphtha (8%), kerosin dan
solar (29%) serta long residue (63%). Karena perolehan BBM tahap I masih sedikit, maka
diperlukan pengolahan tahap II untuk mengubah long residue menjadi BBM.
Pengolahan tahap II dimulai dengan distilasi vakum long residue di High Vacuum Unit
(HVU). Produk distilasi HVU ini adalah solar, Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO), dan short
residue. HCGO dan short residue direngkah kembali untuk menghasilkan BBM. HVGO
direngkah secara katalitik dalam Hydrocracker Unibon (HCU). Dengan menggunakan katalis
dan hidrogen tekanan tinggi, dihasilkan LPG, nafta, kerosin, avtur, dan solar.
Pada bagian lain, short residue direngkah secara thermal dalam Delay Coking Unit
(DCU). Di DCU, short residue dipanaskan hingga 490
o
C agar terengkah menjadi LPG,
naphtha, solar, dan coke. Produk-produk rengkahan ini berkualitas rendah sehingga harus di-
treating sebelum dipasarkan.
Produk nafta dari CDU, HCU, dan DCU adalah komponen bensin, yang masih
memiliki bilangan oktan rendah. Oleh meningkatkan bilangan oktannya (ON), nafta harus
diolah dalam Platforming Unit (PL) dengan katalis platina sehingga diperoleh reformat
dengan ON sekitar 94, baru kemudian ditambahkan TEL untuk menjadi premium dengan
ON 88.
Produk LPG tidak secara khusus diproduksi oleh kilang UP II. LPG diproduksi
sebagai produk samping proses perengkahan di Hydrocracker dan Delayed Coker, dan juga
dihasilkan dari proses Platforming.
Minyak bumi (crude oil) adalah cairan coklat kehijauan hingga hitam yang terdiri dari
unsur karbon dan hidrogen. Minyak bumi terbentuk dari perubahan zat-zat organik secara
alami selama ribuan tahun di dalam lapisan bumi, dalam jumlah yang sangat besar. Minyak
bumi merupakan campuran yang sangat kompleks, mengandung ribuan senyawa hidrokarbon
tunggal mulai dari yang paling ringan seperti gas metana sampai bahan aspal yang berat dan
berwujud padat. Komposisi minyak bumi dari satu tempat ke tempat lain berbeda beda. Hal
ini disebabkan perbedaan tekanan, temperatur, kehadiran logam dan mineral serta letak
geologis proses pembentukan minyak bumi itu sendiri.
Berbagai seri hidrokarbon dapat ditemui dalam minyak bumi. Seri utama yang dapat
diketahui berada dalam minyak bumi adalah: C
n
H
2n+2
, C
n
H
2n
, C
n
H
2n-2
, C
n
H
2n-4
, C
n
H
2n-6
,
C
n
H
2n-8
, C
n
H
2n-10
, C
n
H
2n-14
dan C
n
H
2n-20
. Selain senyawa hidrokarbon, didalam minyak bumi
juga terdapat senyawa senyawa yang mengandung belerang, oksigen dan nitrogen.
Komposisi kimia dari senyawa - senyawa dalam minyak bumi sangat bervariasi, namun
komposisi elemental pada umumnya adalah tetap.
Elemen
Komposisi ( %
w
/
w
)
Karbon (C) 84-87
Hidrogen (H) 11-14
Sulfur (S) 0-3
Nitrogen (N) 0-1
Oksigen (O) 0-2
Kandungan Sulfur dan Nitrogen disebabkan dekomposisi protein yang tidak sempurna
selama proses pembentukan, sedangkan Oksigen bertambah sesuai dengan kenaikan titik
didih fraksi.
Komposisi minyak mentah dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu senyawa hidrokarbon dan
non-hidrokarbon.
II.3.1 Senyawa Hidrokarbon
Minyak bumi merupakan senyawa organik yang terdiri dari karbon dan hidrogen,
sehingga disebut sebagai hidrokarbon. Berdasarkan stukturnya secara umum, maka
senyawa hidrokarbon dibagi atas empat kategori yaitu paraffinic, naphtenic, aromatic dan
olefin.
a. Senyawa paraffinic (C
n
H
2n+2
)
Hidrokarbon golongan ini mempunyai ikatan rantai yang dalam bentuk lurus
maupun bercabang dengan kestabilan yang tinggi. Pada temperatur kamar dan tekanan
atmosferik, maka metana (CH
4
), etana (C
2
H
6
), propana (C
3
H
8
) dan butana (C
4
H
10
) akan
berada dalam fase gas. Senyawa paraffinic yang berbentuk cair pada atmosferik adalah C
3

(propana) sampai gasoline range. Parafin bereaksi dengan gas klor perlahan-lahan pada
sinar matahari dan dengan klor dan brom jika terdapat katalis. Semakin panjang rantai
paraffinic, maka semakin tinggi titik bekunya.
b. Senyawa naphtenic(C
n
H
2n
)
Naften adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur siklik. Naften
tidak memiliki ikatan rangkap sehingga tidak dapat bereaksi secara langsung. Panjang dan
jumlah senyawa paraffin yang melekat pada rantai cincin dapat sangat bervariasi sesuai
dengan formula C
n
H
2n
. Pada Catalytic Reforming Unit, Napthen tersebut akan kehilangan
atom hidrogennya dan terkonversi menjadi aromatik.
c. Senyawa aromatic(C
n
H
2n-6
)
Senyawa- senyawa dalam seri ini sangat reaktif, terutama dapat dioksidasi dengan
mudah dengan menggunakan asam organik. Sebagian besar minyak mentah Sumatera dan
Kalimantan mengandung seri ini dalam jumlah yang besar. Senyawa aromatik ringan
dapat meningkatkan kualitas knocking pada bensin. Bentuk dan rangkaian yang paling
sederhana dari aromatic adalah benzene (C
6
H
6
). Senyawa ini hampir sama dengan
napthen yang mempunyai cincin hanya satu atom hidrogen yang dilepaskan dari setiap
cincin karbon. Karakteristik dari golongan senyawa aromatic ini terdiri dari struktur
benzene segi enam. Contohnya : piren, benzopiren, metilpiren,dll
d. Senyawa olefin(C
n
H
2n
)
Hidrokarbon yang termasuk dalam seri ini dapat bereaksi langsung dengan klor,
brom, asam klorida, dan asam sulfat. Senyawa tak jenuh ini bereaksi dengan dan melarut
dalam asam sulfat, sehingga dapat dihilangkan dari minyak mentah. Olefin dengan titk
didih rendah kemungkinan tidak ditemukan dalam minyak mentah, tetapi berada dalam
produk perengkahan. Senyawa golongan ini agak jarang terdapat dalam minyak bumi
oleh karena senyawa ini merupakan hasil dekomposisi dari tipe golongan hidrokarbon
lainnya. Olefin pada konsentrasi tinggi dapat kita peroleh pada produk dari thermal
cracking atau catalytic cracking. Contoh olefin adalah etena (etilen), propena, dan butena.

II.3.2 Senyawa Non Hidrokarbon
Di dalam minyak bumi juga terdapat pengotor-pengotor lainnya (non
hidrokarbon) yang dapat mengganggu keberlangsungan proses karena dapat merusak
katalis dan menyebabkan kerusakan alat, seperti garam, sulfur, logam-logam, pasir pasir
mineral dan air.
a. Garam
Unsur ini adalah klorida yang selalu menimbulkan kesulitan pada kolom
fraksinasi. Garam dapat terurai menjadi asam menyebabkan korosi terutama pada dinding
atas kolom. Garam ini juga sering menimbulkan terjadinya penyumbatan pada tray dan
heat exchanger.
b. Sulfur
Senyawa sulfur yang merupakan komponen terbesar dalam minyak bumi, dapat
menyebabkan korosi. Jumlah dan tipe senyawa sulfur yang terdapat dalam minyak bumi
sangat beragam. Senyawa balerang dalam minyak dapat menurunkan kemampuan
succeptability bensin pada TEL. Minyak dengan kandungan balerang tinggi memerlukan
proses pengolahan yang lebih ekstensif. Senyawa balerang dalam minyak bumi tidak
stabil oleh panas. Balerang dalam senyawa yang tidak bersifat asam dapat dihilangkan
dengan cara hydrotreating. Contoh senyawa balerang dalam minyal bumi adalah H2S,
mercaptan aliphatic (RSH), aromatic, sulfida aliphatic (R-S-R).
c. Logam-logam
Logam-logam yang umum terdapat dalam minyak bumi adalah arsenik, timbal,
nikel dan besi. Sebagian logam-logam ini akan mengendap sebagai bottom produk
vacuum coloumn. Arsenik dan timbal merupakan racun bagi catalytic cracking.
d. Pasir mineral lain dan air
Senyawa-senyawa ini tersuspensi dalam umpan minyak. Dalam analisa minyak
senyawa-senyawa ini digolongkan Base Sediment & Water (B.S & W) dan pada
umumnya kurang dari 0,5 % Material ini akan dikeluarkan oleh desalter.
e. Senyawa oksigen
Senyawa oksigen dalam minyak bumi terdapat dalam bentuk senyawa yang lebih
kompleks dibanding senyawa balerang dan nitrogen., biasanya dalam bentuk asam.
Karboksilat, fenol dan kresol. Karena bersifat asam, maka senyawa oksigen dapat
dipisahkan dengan mudah dari minyak mentah. Kandungan total asam dalam minyak
sangat beervariasi, tergantung daerah asalnya. Contohnya, minyak Irak dan Mesir
memiliki kandungan asam sekitar 0,03 % sedangkan minyak California mengandung
asam sebesar 3 %.Senyawa oksigen tidak menyebabkan masalah serius seperti senyawa
balerang dan nitrogen.
f. Senyawa nitrogen
Kandungan Nitrogen dalam minyak mentah biasanya kurang dari 0,1 %
berat.Minyak digolongkan memiliki kandungan Nitrogen tinggi apabila kandungan
nitrogen lebih dari 0.25 %. Senyawa nitrogen dalam minyak bumi dapat dbedakan
berdasar basa atau tidak. Karena nitogen merupakan rain bagi katalis, maka kandungan
nitrogen dalam minyak dihilangkan melalui proses hydrotreating. Contoh senyawa
nitrogen dalam minyak bumi adalah piridines, quinolines, isoquinolines, acridines,
pyroles, indoles, carbazoles, porphyrin.
4 Klasifikasi Minyak Bumi
II.4.1 Klasifikasi berdasarkan kandungan jenis hidrokarbon dominan
a. Paraffin base crude oil
Parafin (C
n
H
2n-2
) memiliki kestabilan yang tinggi karena merupakan senyawa jenuh.
Pada suhu kamar tidak bereaksi dengan alkali pekat, sulfat dan asam nitrat dan
dapat bereaksi dengan gas klor secara perlahan dengan bantuan sinar matahari.
Contoh senyawa parafin diantaranya metana, heksana, dan heksadekana. Ciri-ciri
minyak mentah parafinik adalah sebagai berikut :
minyak pelumasnya bervikositas tinggi
kerosin dan solarnya bagus
kandungan sulfur rendah
bilangan oktan gasolinnya rendah
proses dewaxingnya mahal
b. Straight Run Naphtha
Naphtha (C
n
H
2n
) termasuk senyawa siklis jenuh. Ciri-cirinya antara lain:
bebas lilin sehingga mengurangi biaya produksi solar dan pelumas
kemungkinan kandungan aspalnya tinggi
pengelolaan kimianya relatif sederhana
kandungan sulfurnya tinggi
garam dan endapannya sering menggangu peralatan
minyak pelumasnya mempunyai viskositas rendah
kerosinnya mempunyai asap tebal
c. Intermediet atau mixed crude oil
Sebagian besar minyak bumi termasuk jenis ini. Ciri-cirinya antara lain:
kaya kandungan straight run gasolin
mengandung lilin
bilangan oktannya rendah
d. Aromatic base crude oil
Seri aromatik sering disebut sebagai seri benzen aktif, dapat menjadi anorganik dan
dikenal juga sebagai benzoid base kaya kandungan hidrogen aromatis. Bensin yang
dihasilkan mempunyai bilangan oktan lebih dari 100.
II.4.2 Klasifikasi berdasarkan API Gravity
Spesific grafity cairan dapat dinyatakan sebagai API grafity dengan menggunakan
hubungan :
API (derajat) = 5 , 131
60 / 60 .
5 , 141

gr sp

Klasifikasi minyak bumi berdasarkan API grafity ditampilkan dalam tabel II.2 berikut
ini:
Tabel II.2 Klasifikasi minyak mentah berdasarkan API Gravity
Jenis Minyak
Mentah
API Gravity Spesific Gravity
Ringan 39 0,83
Ringan 39-35 0,83-0,85
Sedang
Berat Sedang 35-32,1 0,85-0,865
Berat 32,1-24,6 0,865-0,905
Sangat Berat 24,6 0,905

II.4.3 Bureu of Mines Corellation I ndex (BMCI)
Harga BMCI menghubungkan titik didih rata-rata fraksi distilasi dengan densitasnya..
Harga BMCI rendah mengindikasikan dominasi parafin sedangkan harga tinggi
menunjukkan dominasi aromatik dalam minyak mentah.
BMCI = 48640/K + 473,7/d 456,8
K = mid- boiling point fraksi, dalam Kelfin
d = spesific grafity fraksi pada 60/60
o
F
Klasifikasi berdasarkan BMCI ditampilkan dalam tabel II.3 berikut :
Tabel II.3 Klasifikasi Minyak Bumi berdasarkan harga BMCI
BMCI Tipe Minyak Mentah
10 Ultra parafinik
30 Parafinik
30-40 Naftenik
40-60 Aromatik
Karakteristik Penting
Karakter-karakter berikut ini digunakan untuk menentukan kualitas minyak mentah.
II.5.1 Spesific grafity
Spesific gravity merupakan perbandingan densitas minyak dengan densitas air.
Spesific gravity digunakan sebagai ukuran kasar untuk menentukan kandungan
minyak mentah. Minyak mentah dengan densitas rendah biasanya adalah seri
parafinik. Dalam bidang perminyakan, spesific gravity dinyatakan dalam API gravity
.
II.5.2 Pour point (titik tuang)
Titik tuang merupakan temperatur yang terbaca ketika suatu cairan yang
didinginkan tidak dapat dituangkan (terakhir masih dapat dituangkan) pada kondisi
pengujian. Titik tuang mengindikasikan jumlah lilin dalam minyak.
II.5.3 Kandungan Balerang
Semakin rendah kandungan balerang minyak mentah, maka semakin bagus
kualitas minyak dan semakin mudah diolah.
II.5.4 Kandungan Nitrogen
Makin rendah kandungan Nitrogen, makin bagus kualitas minyak mentah karena
Nitrogen dapat meracuni katalis pada proses reformasi.
II.5.5 Residu karbon
Makin rendah residu karbon, maka minyak lebih berharga karena mengandung
stok yang lebih baik untuk pembuatan minyak pelumas. Umumnya residu karbon
berkisar antara 0,1 sampai 5 %, meskipun dapat mencapai 15 %.
II.5.6 Kandungan garam
Minyak dengan kandungan garam tinggi memerlukan proses desalting sebelum
pengolahan. Deposit garam dalam tungku dan alat penukar panas (heat exchanger)
dapat menurunkan kinerja alat, sedangkan senyawa klorida dapat membebaskan asam
klorida yang bersifat korosif.
II.5.7 Viskositas
Viskositas menunjukkan derajat kekentalan minyak mentah, biasanya berkisar
antara 40 sampai 60 SSU (Second Saybolt Universal) pada 100
o
F, tetapi dapat
mencapai 6000 SSU pada 100
o
F untuk minyak tertentu.
II.5.8 Distilasi (Rentang Pendidihan )
Sifat ini digunakan untuk mengetahui fraksi-fraksi produk yang dapat dihasilkan.
Beberapa jenis distilasi antara lain :
a. Distilasi ASTM / Engler
menggunakan metode ASTM D 86. sebanyak 100 cm2 minyak didistilasi
dengan laju konstan 5 cc per menit. Kolom yang digunakan tidak memiliki packing
dan tidak ada refluks.
b. Distilasi Hemper
menggunakan metode ASTM D 285. Berbeda dengan distilasi engler, pada
metode ini kolom distilasi menggunakan packing serta umpan yang lebih banyak.
c. Distilasi TBP (True Boiling Point)
menggunakan metode ASTM D 2892. Kolom yang dipakai memiliki 15 100 tahap, dengan
perbandingan refluks tinggi. Hal ini memungkinkan tercapainya derajat fraksionasi maksimal
dari minyak yang didistilasi.
Rentang Pendidihan Rentan
No
ASTM
(
o
C)
TBP
(
o
C)
g Kasar
Atom C
Nama
Fraksi/produk
1 <30 <30 C
1
-C
4
Gas Kilang
2 30-100 30-90 C
4
-C
7
Nafta ringan
3 80-200 85-190 C
7
-C
11
Nafta berat
4 165-280 190-270 C
10
-C
16
Kerosin
5 215-340 270-320 C
12
-C
19
Minyak gas ringan
6 290-440 320-430 C
16
-C
28
Minyak gas atmosferik
7 >440 >430 >C
25
Residu
II.5.9 BMCI
Harga BMCI menghubungkan titik didih rata-rata fraksi distilasi dengan
densitasnya..Indeks ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi sifat parafin,
campuran, atau aromatik suatu minyak mentah.
II.5.10 Characterizing Factor (K)
K adalah indikasi suatu crude apakah bersifat parafinik atau aromatik. K didefinisikan sebagai :
K = (Tmbap)
1/3
/sg
Dimana : Tmbap= boiling point rata-rata crude (
0
R)
Sg = spesific gravity crude pada 60
0
F
Tahapan Proses Pengolahan Minyak Bumi
Pengolahan minyak bumi berfungsi untuk mengubah atau mengkonversikan minyak
mentah dengan berbagai proses menjadi suatu produk yang ekonomis dan dapat dipasarkan.
Proses pengolahan dalam kilang minyak bumi dapat dikategorikan sebagai berikut:
Primary Processing
Secondary Processing
Treating Process

Pengolahan Pertama (Primary Processing)
Pengolahan pertama yang utama adalah:
Distilasi atmosferik
Tahapan pemisahan yang sangat penting adalah pada proses distilasi atmosferik.
Proses ini didasarkan atas volatilitas komponen-komponennya yang menggunakan suplai
panas pada tekanan atmosferik, yang pada akhirnya komponen yang lebih volatil
(komponen ringan) akan terpisah dan terbawa pada destilat sedangkan komponen yang
kurang volatil (komponen berat) akan tertinggal di dasar (bottom). Pemisahan dilakukan
pada temperatur 300-350
o
C.
Distilasi vakum
Pada distilasi vakum pengoperasiannya dengan menurunkan tekanan operasi
hingga vakum agar temperature didih masing masing fraksi minyak bumi turun.
Tekanan vakum dihasilkan oleh sistem ejektor yang menurunkan tekanan menjadi sekitar
40 mmHg.
Ekstraksi
Ekstraksi dengan pelarut merupakan salah satu proses yang tertua dalam
pengilangan minyak bumi. Pada awalnya, ekstraksi terutama untuk meningkatkan kualitas
kerosen, akan tetapi pada perkembangannya lebih banyak digunakan untuk peningkatan
kualitas minyak pelumas.
Absorpsi
Proses ini merupakan proses pemisahan campuran gas dengan menyerapnya dan
melarutkannya ke dalam cairan atau gas pelarut.. Absorpsi biasanya dilakukan untuk
mendaur ulang uap yang mengkondensir dari gas basah.
Contoh reaksi:
K
2
CO
3
+ CO
2
+ H
2
O 2 KHCO
3
Kristalisasi
Proses ini merupakan suatu proses pemisahan berdasarkan titik leleh, contohnya
adalah dewaxing dari minyak pelumas, pembuatan lilin (wax).

II.6.2 Pengolahan Lanjut (Secondary Processing)
Proses pengolahan lanjut yang utama adalah:
Perengkahan termis dan katalitis (thermal / catalytic cracking)
Pada minyak yang berantai panjang mempunyai nilai oktan yang rendah. Oleh
karena itu dilakukan perengkahan (cracking) supaya diperoleh minyak beroktan tinggi.
Perengkahan ini dilakukan untuk memecah/memutus rantai panjang molekul hidrokarbon
menjadi rantai yang lebih pendek dengan menggunakan panas dan katalis.
Hydrocracking
Hydrocracker merupakan unit perengkahan minyak bumi (umpan berupa gas oil
yang merupakan hidrokarbon berantai panjang) menjadi hidrokarbon berantai pendek
menggunakan gas hidrogen dan katalis.
Contoh reaksi: katalis
C
10
H
22
+ H
2
C
6
H
14
+ C
4
H
10

n-dekana hidrogen heksana butane
Pengubahan termis dan katalitis (thermal/catalytic reforming)
Proses pengubahan (reforming) merupakan proses up-grading naphta oktan rendah
menjadi naphta oktan tinggi (reformate/platformate) melalui penataan ulang struktur
molekul hidrokarbon dengan menggunakan panas dan katalis tanpa terjadi perengkahan
hidrokarbon.
Contoh reaksi:
CH
3


CH
3
--(CH
2
)
5
--CH
3
+ H
2

n-heptana metilsikloheksana hydrogen


Polimerisasi
Pada polimerisasi, hidrokarbon dengan berat molekul kecil ditranformasi menjadi
hidrokarbon dengan berat molekul besar tanpa merubah komposisi hidrokarbon tersebut.
Hal ini dapat dilakukan secara termal maupun katalitik.
Contoh reaksi:
2C
2
H
4
C
4
H
8

2C
3
H
6
C
6
H
12
Alkilasi
Pada alkilasi, dilakukan penggabungan olefin atau parafin dengan isobutan
sehingga menghasilkan produk alkylate. Alkylate merupakan parafin bercabang yang
memiliki nilai oktan tinggi.
Contoh reaksi:
CH
3
CH
3

CH
2
=CH
2
+ CH
3
-CH-CH
3
CH
3
- C-CH
2
-CH
3

CH
3
Etena Isobutana Isoheksana

II.6.3 Proses Treating
Proses treating yang utama adalah:
Hydrotreating
Hydrotreating bertujuan untuk menghilangkan pengotor yang terdapat pada
umpan. Pada umumnya umpan masih banyak mengandung sulfur, nitrogen dan oksigen.
Dalam reaktor hydrotreating ini, kandungan sulfur dihilangkan dengan cara membentuk
H
2
S, senyawa yang mengandung nitrogen diubah menjadi amonia, fenol diubah menjadi
senyawa aromatik dan air.
Mercaptan oxidation
Mercaptan Oxidation bertujuan untuk menghilangkan kandungan merkaptan.
Umpan berupa kerosen masuk ke reaktor bersama udara. Di dalam reaktor, merkaptan
dioksidasi oleh udara menjadi disulfida dengan bantuan katalis.
Acid/caustic treating
Doctor treating
Amine treating

Reaksi-reaksi yang terjadi pada pengolahan minyak bumi :
1. Desulfurisasi
Keberadaan sulfur pada umpan Platforming dapat mengganggu selektivitas dan
kestabilan katalis. Kandungan sulfur maksimum yang diijinkan adalah 0,5 ppm (yang
sering digunakan adalah 0.2 ppm). Reaksi desulfurisasi berlangsung baik pada temperatur
315-340
o
C dan sulfur terpisah dalam bentuk H S. Reaksi yang terjadi adalah :
merkaptan R-S-H + H
2
R-H + H
2
S
sulfida R-S-R + H
2
2 R-H + H
2
S
disulfida R-S-S-R + H
2
2 R-H + 2 H
2
S
tiofen C
6
H
8
S + 4H
2
C
6
H
14
+ H
2
S
Apabila temperatur reaksi terlalu tinggi dapat menyebabkan reaksi samping :
C-C-C-C=C-C + H
2
S C-C-C-C-C-S + CH
4
2. Denitrifikasi
Kandungan nitrogen maksimum adalah 0.5 ppm, dimana kelebihan kandungan
nitrogen akan mengganggu recycle gas dan kestabilan pada aliran overhead akibat
pembentukan NH
4
Cl. Penyingkiran senyawa nitrogen lebih sulit dibandingkan senyawa
sulfur karena kecepatan reaksi denitrifikasi hanya seperlima dari kecepatan desulfurisasi.
Contoh reaksi yang berlangsung :
C
C C
+ 5H
2
C-C-C-C-C + NH
3

C C
N
Piridin
3. Hidrogenasi Olefin
Olefin menggangu kestabilan temperatur dalam Platformer, karena akan
terpolimerisasi dan menyebabkan fouling dalam reaktor dan unit HE. Selain itu senyawa
ini akan menimbulkan endapan karbon pada katalis. Contoh reaksi yang terjadi :
C-C-C-C=C-C + H
2
C-C-C-C-C + CH
4
4. Penghilangan Senyawa Oksigen
Oksigen yang berada dalam bentuk phenol dapat menyebabkan fouling pada
reaktor dan unit HE. Senyawa oksigen dapat diubah menjadi air seperti reaksi berikut :
OH

+ H
2
+ H
2
O
phenol benzene
5. Dekomposisi Halida
Dekomposisi senyawa halida jauh lebih sulit dibanding dekomposisi sulfur.
Senyawa halida maksimum yang dapat dihilangkan hanya sampai 90%, tetapi sulit
tercapai pada kondisi reaksi desulfurisasi. Penghilangan senyawa halida terjadi sesuai
reaksi berikut ini :
R-Cl + H
2
HCl + R-H
6. Penghilangan senyawa Logam
Logam yang terkandung dalam orde ppb, antara lain logam arsenik, besi, fosfor,
silikon, timah, tembaga dan natrium. Logam-logam ini akan terkumpul dan melekat pada
katalis, sehingga katalis perlu diganti bila kandungan logam mencapai 2 % berat katalis.
Untuk menghilangkan senyawa logam tersebut, reaktor harus berada pada temperatur
sampai 315
o
C.
7. Proses Pengubahan Struktur Molekul (Reformasi Katalitik)
Reformasi katalitik adalah reaksi perubahan struktur molekul yang diperlancar
dengan bantuan katalis. Proses ini merubah naphta dan bensin yang memiliki rentang
didih 100-180
0
C dan berbilangan oktan rata-rata < 60 menjadi bensin berbilangan oktan
rata-rata > 85. Karena komponen aktif katalis adalah platina, maka salah satu proses
reformasi katalitik yang terkenal bernama platforming. Reaksi-reaksi terpenting yang
terjadi pada proses reformasi katalitik adalah :
a. Dehidrogenasi naftena menjadi aromat :
CH
3
CH
3

CH
3
CH
3
+ 3H
2


1,2-dimetilsikloheksana o-xylena hydrogen
b. Isomerisasi naftena :
CH
3


metilsiklopentana sikloheksana

c. Dehidrosiklisasi :

CH
3
--(CH
2
)
5
--CH
3
+ H
2


n-heptana metilsikloheksana hidrogen


d. Perengkahan + hidrogenasi (hydrocracking) parafin berantai panjang
C
10
H
22
+ H
2
C
6
H
14
+ C
4
H
10

n-dekana hidrogen heksana butana

8. Proses Kombinasi Molekul
Molekul-molekul hidrokarbon yang molekulnya kecil digabungkan menjadi
senyawa yang bermolekul agak besar dan memiliki titik didih pada rentang yang
diinginkan. Jika senyawa yang dirangkai adalah dari molekul yang sama, maka
prosesnya diberi nama umum polimerisasi. Contoh proses polimerisasi adalah :
2C
2
H
4
C
4
H
8

2C
3
H
6
C
6
H
12

Jika yang digabungkan adalah molekul alkana ke molekul hidrokarbon tak jenuh,
maka nama prosesnya adalah alkilasi. Contoh reaksi alkilasi olefin adalah :
CH
3
CH
3

CH
2
=CH
2
+ CH
3
-CH-CH
3
CH
3
- C-CH
2
-CH
3

CH
3

Etena Isobutana Isoheksana

9. Reformasi kukus (steam reforming)
CH
3

Secara umum reaksi yang terjadi adalah :
C
n
H
m
+ n H
2
O n CO +
( )
2
2 m n +
H
2
Reaksi ini sangat endotermik dan banyak menyerap panas.

10. Reaksi Pergeseran CO
CO + H
2
O CO
2
+ H
2

11. Absorbsi CO
2

K
2
CO
3
+ CO
2
+ H
2
O 2KHCO
3
Dimana reaksi tersebut berlangsung dalam 2 tahap :
a. H
2
O + K
2
CO
3
KOH + KHCO
3
b. KOH + CO
2
KHCO
3
Sedangkan CO
2
removal yang dilakukan oleh DEA berdasarkan reaksi :
CO
2
+ R
2
NH R
2
NCOOH
R
2
NCOOH + KOH KHCO
3

12. Reaksi Metanasi
Proses metanasi adalah konversi CO dan CO
2
sisa menjadi metana.
Reaksi yang terjadi adalah :
CO + 3 H
2
CH
4
+ H
2
O (eksoterm)
CO
2
+ 3 H
2
CH
4
+ 2 H
2
O (eksoterm)
Sifat Fisik dan Sifat Kimia Produk-Produk Kilang
Produk dari pengilangan minyak bumi bermacam-macam dan produk-produk tersebut
harus memenuhi spesifikasi tertentu agar layak untuk dikonsumsi. Produk-produk yang
dihasilkan antara lain:
II.7.1 LPG (Liquified m Gas)
RVP (Reid Vapor Pressure)
RVP menunjukkan kandungan fraksi ringan (C
2
) yang terdapat dalam LPG. Kadar C
2

maksimum yang diijinkan adalah 0,2 % volume.

b. Kandungan Fraksi C
5
dan fraksi yang lebih berat.
Kandungan i-C
5
, n-C
5
dan fraksi yang lebih berat dalam LPG maksimum 2 %
volume. Apabila kandungan fraksi tersebut melebihi 2 % volume, maka nilai kalor
LPG menjadi lebih rendah dari yang seharusnya.
II.7.2 Bensin (motor gasoline)
a. Octane Number (ON)
Octane Number atau bilangan oktan adalah tolak ukur kualitas antiknocking besin.
Knocking atau peletupan prematur adalah peledakan campuran uap bensin dan udara
dalam silinder mesin Otto sebelum busi menyala, dimana peristiwa ini mengurangi daya
mesin tersebut. Skala ON didasarkan pada konvensi bahwa n-heptan (n-C
7
H
16
) memiliki
ON nol (rentan terhadap knocking) dan i-oktan (2,2,4-trimetilpentan) memiliki ON 100
(tahan terhadap knocking). Bensin dikatakan berbilangan oktan X (0<X<100) apabila
karakteristik antiknocking bensin tersebut sama dengan karakteristik antiknocking
campuran X%-volume i-oktan dengan (100-X) %volume n-heptan. Bensin premium
mempunyai spesifikasi bilangan oktan minimum 88 dan untuk premix minimum 94.
Untuk skala bilangan oktan yang lebih besar dari 100, didefinisikan sebagai berikut :
3
) 100 (
100

+ =
PN
ON
Di mana : PN = Performance Number
= 100 (daya mesin yang dihasilkan bensin)
(daya mesin yang dihasilkan i-oktan)
b. Engine Deposit
Deposit yang terbentuk dalam ruang pembakaran dipengaruhi oleh angka oktan
bensin, sehingga tendensi pembentukan deposit merupakan faktor yang sangat penting.
Penambahan aditif deposit modifying agent diperlukan untuk mengubah sifat deposit
menjadi kurang merusak.
II.7.3 Kerosene
a. Smoke Point (Titik Asap)
Tolok ukur kualitas pembakaran kerosin adalah kemampuan untuk terbakar tanpa
menghasilkan asap. Smoke point adalah tinggi nyala maksimal (dalam mm) yang dapat
dihasilkan oleh pembakaran kerosin tanpa membangkitkan asap hitam. Tolak ukur ini
berhubungan dengan kadar senyawa aromatik, makin tinggi kadar senyawa aromatik,
makin rendah titik asapnya. Kerosin yang baik memiliki titik asap minimal 17 mm.
b. Flash Point
Flash point adalah temperatur terendah pada saat minyak membuat uap diatasnya
dan meletup saat disodori api kecil. Spesifikasi flash point minimum dari kerosin adalah
100
o
C.

II.7.4 Jet Fuel (Bahan Bakar Pesawat Jet)
1. Smoke Point, nilai minimum yang diperbolehkan 25 mm
2. Flash Point, nilai minimum yang diperbolehkan 38
o
C
3. Rentang Pendidihan/Distilasi
4. Titik Beku (Freezing Point)
Persyaratan yang penting selain ketiga syarat di atas adalah titik beku bahan
bakar. Titik beku dispesifikasi karena bahan bakar mengalami penurunan temperatur
(temperatur rendah) pada penerbangan tinggi sehingga dapat membeku. Titik beku
maksimal yang diperbolehkan adalah 47
o
C.
II.7.5 Minyak Diesel/Solar
Cetane Number (CN)
Dalam mesin diesel peletupan terjadi, karena penyalaan mandiri minyak diesel panas
yang disemprotkan ke dalam selinder berisi udara panas bertekanan. Oleh karena itu, minyak
diesel diharapkan memiliki kecenderungan cukup kuat untuk menyala sendiri. Tolok ukur
kualitas ini adalah bilangan setana. Suatu minyak diesel dikatakan memilki bilangan setana S
(0<S<100), jika unjuk kerja minyak tersebut setara dengan unjuk kerja campuran S%-
volume n-setana (n-heksadekana = n-C
16
H
34
) dengan (100-S)%-volume o-metil naphtalena.
N-setana berunjuk kerja sangat baik dalam mesin diesel, karena langsung terbakar segera
setelah disemprotkan ke dalam silinder. Sedangkan o -metil naphtalena berunjuk kerja sangat
buruk dalam mesin diesel.
Minyak diesel untuk kendaraan bermotor biasanya disebut solar memiliki bilangan
setana minimal 50. Sedangkan minyak diesel untuk kereta api umumnya berbilangan setana
lebih rendah (40-45).
Bahan Baku Utama
Pertamina kilang UP II Dumai menggunakan bahan baku utama adalah Minas Crude
Oil/SLC (Sumatera Light Crude) sebanyak 80% - 85% volume dan Duri Crude Oil
(DCO)15% - 20% volume dengan kapasitas desain 130.000 BPSD. Sedangkan pada kilang
UP II Sei Pakning mengolah minyak mentah jenis SLC dan Lirik Crude serta Pedada Crude
dan hanya memiliki unit proses CDU saja dengan kapasitas 50.000 BPSD.
Berdasarkan hasil akhir, bahan baku (minyak mentah) dapat digolongkan sebagai
berikut :
1. Light Crude : menghasilkan banyak LPG, Light Naphta dan Heavy Naphta.
2. Medium Crude : menghasilkan banyak kerosene dan diesel oil.
3. Heavy Crude : menghasilkan banyak long residue
Bahan Penunjang
Bahan baku penunjang di kilang UP II Dumai sebagian besar adalah gas hidrogen(H
2
)
dan katalis, diantaranya :
Gas Hidrogen (H
2
)
Gas hidrogen digunakan dalam proses hydrocracking dan hydrotreating. Gas produk H
2

plant tersebut mempunyai spesifikasi kandungan H
2
97% dan CH
4
3% serta bebas dari sulfur
dan nitrogen.
Katalis
Katalis yang digunakan adalah :
o KF R 840-1.3 Q (Ni-Mo) dengan Al
2
O
3
sebagai penyangga, digunakan di
Distillate Hydrotreating Unit
o Katalis Ketjen 830, digunakan di Naphtha Hydrotreating Unit
o TOPSOE hydrobon, digunakan di Hydrobon dan katalis UOP R-16F (Pt) dan R-
15F (Pt) di seksi platforming pada Hydrobon-Platforming Unit (PL I)
o Katalis bimetallic R-134 UOP, digunakan di CCR (Continuous Catalytic
Regeneration) Platforming II
o Katalis DHC-6 dan DHC-8, digunakan di Hydrocracker Unibon
o Katalis TK-525 dan TK-551 (Ni-Mo), digunakan di Distillate Hydrotreating Unit
Air Tawar
Air tawar digunakan sebagai umpan boiler yang akan dijadikan steam atau sebagai
pengebor dan pemotong untuk membongkar timbunan coke pada coke chamber di Delayed
Coking Unit. Air tawar juga digunakan sebagai pendingin proses, pendingin pompa dan
kompresor
Air laut
Air laut pada umumnya digunakan sebagai pendingin.
Larutan Benfield
Larutan ini digunakan sebagai absorben pada unit Hydrogen Plant. Larutan tersebut
mengandung:
K
2
CO
3
27 %wt
V
2
O
5
0,6-0,7 %wt
DEA 3 %wt

Monoetanolamin (MEA)
Monoetanolamin digunakan pada unit Amine dan LPG Recovery untuk mengabsorb
gas-gas H
2
S.
Soda Kaustik (NaOH)
Soda kaustik (NaOH) digunakan pada unit Sour Water Stripper untuk menurunkan
kadar H
2
S dan NH
3
dalam air yang berasal dari HCU, DCU, DHDT, NHDT, dan HVU.


Gas Nitrogen
Gas nitrogen diperlukan saat start-up dan shut down unit-unit proses, regenerasi
katalis, dan sebagai media blanketting tangki-tangki. Gas nitrogen ini dihasilkan dari nitrogen
plant.
TEL (Tetra Ethyl Lead),
TEL digunakan untuk menaikkan bilangan oktan premium yang akan dipasarkan.
Penggunaan TEL saat ini maksimum sebanyak 1% berat.

III.3 Produk
Produk-produk kilang Pertamina UP II Dumai meliputi BBM dan non-BBM yang
didistribusikan dari pelabuhan khusus Dumai dengan menggunakan transportasi tanker-tanker
pengangkut ke daerah lain.
Produk BBM terdiri atas Aviation Turbine (avtur), Mogas, Kerosene, Automotive Diesel Oil
(ADO), Refinery Fuel
Produk Non BBM terdiri atas LPG, Green Coke, Calcined coke(saat ini tidak berproduksi),
LSWR
RANGKAIAN PROSES
Pertamina UP II Dumai mengolah minyak mentah jenis Sumatera Light Crude (SLC)
80% - 85% dan Duri Crude Oil (DCO) 15% - 20% yang disuplai oleh PT. Caltex Pasific
Indonesia ( CPI ), dengan kapasitas pada unit promernya (Crude Deestillation Unit) sebesar
130.000 BPSD.
Unit-unit proses pengilangan di Pertamina Unit Pengolahan II Dumai dikelompokkan
menjadi tiga kompleks unit utama yaitu:
HSC (Hydro Skimming Complex), yang terdiri dari :
- Crude Distillation Unit (CDU)-100
- Naphta Rerun Unit (NRU)-102
- Hydrobon Platforming Unit (PL I)-301
- Naphta Hydrotreating Unit (NHDT)-200
- Platforming II (PL II)-300
- Continuous Catalytic Regeneration (CCR)-310
HCC (Hydrocracing Complex), yang terdiri dari :
- Hydrocracker Unibon (HCU)-211/212
- Hydrogen Plant (H
2
-Plant)-701/702
- Amine & LPG Recovery-410
- Sour Water Stripper (SWS)-840
- Nitrogent Plant (N
2
-Plant)-940
HOC (Heavy Oil Complex), yang terdiri dari :
- High Vacuum Distillation Unit (HVU)-110
- Delayed Coking Unit (DCU)-140
- Coke Calciner Unit (CCU)
- Distillate Hydrotreating Unit (DHDT)



IV.1 Hydro Skimming Complex (HSC)
HSC terdiri dari dua tingkatan proses, yaitu Primary Process dan Secondary Process.
Primary proses memisahkan minyak bumi menjadi beberapa fraksi berdasarkan perbedaan
titik didihnya, sedangkan secondary process bertujuan untuk memperbaiki kualitas produk
primary process. Unit-unit yang berada dalam HSC adalah :
IV.1.1 Crude Distillation Unit (CDU) - 100
Unit ini biasa disebut dengan topping unit berfungsi memisahkan minyak mentah
(crude oil) atas fraksi-fraksinya berdasarkan perbedaan titik didih dengan proses distilasi
atmosferik pada temperatur 330
o
C.
Kapasitas : 860 m
3
/jam atau 130.000 BPSD
Feed : Crude SLC (85%) + Duri Crude (15%)
Produk :
- Off gas sebagai fuel gas atau dibuang ke flare
- Nafta, diambil sebagai produk atau diolah lebih lanjut dalam Naphta Rerun Unit
- Kerosin, langsung dialirkan ke dalam tangki produk
- Light Gas Oil (LGO), digunakan sebagai komponen campuran kerosin atau ADO
(Automotive Diesel Oil)
- Heavy Gas Oil (HGO), digunakan sebagai komponen campuran ADO
- Long Residue, sebagian besar dialirkan sebagai umpan unit distilasi vakum (HVU)
dan sebagian kecil diambil sebagai Low Sulphur Wax Residue (LSWR) yang
digunakan juga dalam fuel oil
Peralatan utama:
Crude Distillation Tower (CDU/ T-1), atmospheric sidestream stripper (T-2) terdiri dari T-
2A (kerosin), T-2B (LGO) dan T-2C (HGO).
Peralatan Pendukung :
Fraksionasi akumulator (D-1), KO drum (D-2, D-5 & D-3), heater (H-1 & H-2).
Aliran proses:
Crude oil pada tangki penyimpanan dialirkan dengan menggunakan pompa ke unit
penukar panas E-1 sampai E-7 sehingga temperaturnya mencapai 210
o
C dan dialirkan ke
tungku pemanas, heater H-1 untuk memanaskannya sampai dengan temperature 330
o
C.
Kemudian umpan masuk ke kolom distilasi (T-1) untuk memisahkan crude oil tersebut
berdasarkan fraksi-fraksi titik didihnya. Proses pemisahan ini dilakukan pada tekanan
atmosferik. Produk atas menghasilkan fraksi minyak teringan berupa gas dan naphtha dan
dialirkan melewati penukar panas E-8 lalu masuk ke tangki akumulator D-2, D-5 dan D-3
untuk memisahkan gas-gas yang ringan dengan naphtha. Gas-gas tersebut dibuang ke flare
sedangkan fasa cairnya sebagian dikembalikan ke kolom distilasi dan sebagian lagi diambil
sebagai produk naphtha (Straight Run Naphtha).
Dari tray 32, dengan menggunakan pompa ditarik side stream yang disebut TPA (Top
Pump Around) yang setelah melalui penukar panas E-1 dan didinginkan dengan
menggunakan pendingin air laut dalam E-10 dan dikembalikan ke puncak menara. Produk
samping dari kolom distilasi tersebut dimasukkan ke kolom stripper, T-2. Fraksi kerosene
diambil dari tray 24 dan mengalir ke stripper T-2A secara gravitasi. LGO (Light Gas Oil)
diambil dari tray 12 dan mengalir ke stripper T-2B secara gravitasi untuk dihilangkan fraksi
ringannya. Sedangkan HGO (Heavy Gas Oil) mengalir ke stripper T-2C. Di kolom ini,
fraksi-fraksi tersebut di-stripping dengan steam untuk mengambil fraksi-fraksi ringannya
sehingga diperoleh kerosin, LGO, dan HGO. Sebagian dari setiap aliran samping ini
dikembalikan ke kolom distilasi sebagai refluks dan sebagian lagi diambil sebagai produk
untuk komponen blending (pencampuran). Produk bawah (bottom product) berupa long
residu (LSWR) sebanyak 56% yang diumpankan ke dalam Heavy Vacuum Unit( HVU -110 ).

IV.1.2 Naphta Rerun Unit (NRU)
Unit Naphta Rerun berfungsi untuk mengubah nafta produk CDU (Straight Run
Naphta) menjadi light naphta dan heavy naphta serta gas untuk bahan bakar kilang (fuel gas)
melalui proses distilasi. Light naphta mempunyai rentang titik didih 30-80
o
C, sedangkan
heavy naphta mempunyai rentang titik didih 80-160
o
C. Light naphta tersebut disebut juga
dengan istilah Low Octane Mogas Componen (LOMC) dan digunakan sebagai blending
komponen premium.
Kapasitas : 62 m
3
/jam atau 9.300 BPSD
Feed : Straight Run Naphta (SRN) dari CDU
Produk :
- Heavy naphta, digunakan sebagai umpan Hydrobon Platforming I, PLI
- Light naphta, digunakan sebagai komponen campuran mogas
- Off gas, digunakan sebagai fuel gas (dikirim ke tangki) atau dibuang ke flare
Peralatan utama:
Rerun Tower (T-1), Rerun Stabilizer (T-2)
Peralatan Pendukung :
Heat Exchanger (E-1 hingga E-5), Pompa (P1AB hingga P-5AB), Heater (H-1),
accumulator (D-1), dan Stabilizer accumulator (D-2)
Aliran proses:
Naphta dari CDU dipompakan (P-1AB) ke Rerun Tower Unit (T-1), yang sebelumnya
dipanaskan di E-1. Naptha yang masuk ke E-1 bertemperatur 28
o
C dan keluar dengan
temperatur 101
o
C. Pada NRU, Naphta didistilasi untuk memisahkan fraksi ringan dan fraksi
berat naphtha. Light naphtha keluar dengan temperatur 80
o
C, sedangkan heavy naphtha 130
o
C. Heavy naphtha dipompakan (P-2AB) ke heat exchanger E-1 hingga temperatur 80
o
C.
Pertukaran panas terjadi antara SRN umpan dan heavy naphtha. Heavy naphtha didinginkan
di kondensor E-6 hingga 55
o
C kemudian sebagian masuk ke unit Platforming II dan sebagian
lagi direfluks ke kolom T-1. Heavy naphta refluks dipompakan (P-3AB) ke heater H-1 untuk
dipanaskan hingga 140
o
C. Bahan baker pada H-1 menggunakan campuran fual gas dan fuel
oil.
Light naphta dari kolom T-1 didinginkan oleh kondensor E-2AB yang kemudian ditampung
di accumulator drum D-1. Gas yang tidak terkondensari dialirkan ke D-5, dan sisanya ke
flare. Kondensat dengan temperatur 42
o
C dari D-1 dipompakan (P-4AB) ke rerun stabilizer
(T-2) dan sebagian kembali ke kolom T-1. Sebelum masuk ke T-2, umpan dipanaskan hingga
77
o
C. Produk atas T-2 dengan temperatur 94
o
C dikondensasikan di E-4AB dan masuk ke
stabilizer accumulator (D-2). Gas yang tidak dikondensasikan dialirkan ke flare dan
kondendat (T = 32
o
C) dipompakan kembali (P-5AB) ke T-2. Produk bawah T-2 yaitu light
naphta dengan temperatur 130
o
C didinginkan di E-3 yang bertukar panas dengan unpan T-2
hingga 74
o
C. Light naphta ini didinginkan kembali hingga menghasilkan produk dengan
temperatur 35
o
C. Pemanas E-5 untuk menjalankan proses diperoleh dari steam yang berasal
dari middle pump around (MPA) dari CDU.

IV.1.3 Hydrobon Platforming Unit (PL I)
Unit PL I terdiri dari dua bagian, yaitu hydrobon dan platforming. Hydrobon berfungsi
untuk memurnikan heavy naphta (produk dari NRU) dari impurities seperti senyawa
nitrogen, sulfur, oksigen, klor, arsen, tembaga, dan logam-logam lain yang merupakan racun
katalis dari unit platformer. Proses tersebut berlangsung dengan cara hidrogenasi katalitik
pada temperatur 290
o
C menggunakan katalis UOP S-16 (NiO/MoO
3
/Al
2
O
3
).
Dalam platforming ini, struktur naphta yang umumnya paraffin dan naphthene dengan
bilangan oktan rendah diubah strukturnya menjadi bercabang dan aromatis yang memiliki
angka oktan tinggi dengan menggunakan panas dan katalis. Proses ini dilakukan pada reaktor
bertekanan 28-30 atm dengan temperatur 500
o
C, menggunakan katalis R-56, R-15, R-16F
(Pt/Al
2
O
3
). Reaksi utama yang terjadi adalah :
- Dehidrogenasi : C
6
H
11
CH
3
C
6
H
5
CH
3
+ H
2

- Hydrocracking paraffin : C
8
C
18
+ H
2
C
5
H
12
+ C
3
H
8

- Isomerisasi : C
6
C
12
C
2
H
5
-CH(CH
3
)-C
2
H
5

- Dehidrosiklisasi paraffin : C
7
H
16
C
7
C
14
+ H
2

Kapasitas : 41 m
3
/jam atau 6.200 BPSD
Feed : Heavy Naphta dari NRU
Produk :
- LPG (Liquified Petroleum Gas)
- Reformat (ON 92), disimpan dalam tangki produk untuk digunakan sebagai
komponen campuran premium
- Gas H
2
dengan kemurnian 75%, digunakan sebagai recycle gas dalam proses
- Off gas, untuk fuel gas dan sisanya dibuang ke flare
Peralatan utama:
Hydrobon Reactor (R-1), Hydrobon Stripper (T-1), Platforming Reactor (V-2, V-3,
V-4), Debutanizer (T-2) dan Deethanizer (T-3).
Peralatan Pendukung :
Heat Exchanger (E-1 hingga E-15), Pompa (P1AB hingga P-12AB), Heater (H-1, H-
2, H-3, H-4, dan H-6), dan accumulator (D-1, D-2, D-5, D-6, dan D-9).
Aliran proses:
a. Seksi Hydrobon
Umpan heavy naphta dari Naphta Rerun Unit dialirkan ke dalam reaktor hydrobon (R-1)
dengan terlebih dahulu dipanaskan terlebih dahulu dengan menggunakan penukar panas
E-1 dan pemanas H-1. Pemanas dari E-1 (shell) adalah produk dari reactor R-1. Di dalam
reaktor terjadi reaksi penghilangan kotoran dengan mereaksikan umpan dengan H
2.
Aliran
keluaran R-1, setelah dikondensasikan (E-2) ditampung di High Pressure Separator
(HPS) D-1, yang berupa gas dikirim ke fuel gas system, sedang produk cair dialirkan ke
penukar panas E-3 sebagai preheater. Kemudian diumpankan ke dalam kolom stripper
(T-1). Produk atas kolom berupa gas digunakan sebagai bahan baker (fuel gas). Produk
bawah T-1 bersama umpan H
2
dipanaskan di dalam penukar panas E-5 dan tungku
pemanas H-3, kemudian diumpankan ke dalam reaktor platforming I.

b. Seksi Platforming
Secara berturut-turut, naphtha direaksikan di R-2, R-3, dan R-4. Sebelum masuk ke R-
3, naphtha dipanaskan di H-4. Reaksi di R-1 dan R-2 bersifat endotermik sedangkan di R-4
bersifat eksotermik. Katalis yang digunakan pada R-2 dan R-3 adalah katalis tipe R-34.
Sedangkan pada R-4 menggunakan katalis R-15 dan R-16 F. Produk keluaran R-4
bertemperatur 422
o
C kemudian dialirkan ke bagian Platformer Stripper setelah didinginkan
di E-5ABCD dan E-6AB.
Di bagian stripper, produk dari R-4 masuk ke D-5. Distilat dialirkan ke Platformer
stripper oleh pompa P-30 dan mengalami pemanasan di E-7. Di stripper ini, terjadi
pemisahan naftha menjadi gas dan reformat. Reformat dialirkan ke tangki penyimpanan
setelah sebelumnya didinginkan di E-7 dan E-9 hingga temperatur 36
o
C, namun sebagian
direfluks ke T-2 melalui pompa P-8AB dan H-6 hingga 211
o
C. Gas dari T-2 mengalami
pemisahan di D-6 setelah didinginkan di E-16 nenjadi fuel gas dan LPG. LPG sebagian
direfluks melalui pompa P-7AB dan sebagian lagi di alirkan ke platformer deethanizer oleh
pompa P-11AB.
Di Platformer Deethanizer (T-3), LPG dikurangi kadar C
2
-nya dengan bantuan medium
pressure steam (MPS). Produk gas dari bagian atas T-3 didinginkan di E-14 dan mengalami
pemisahan antara flue gas dan distilatnya yang dikembalikan ke T-3 oleh pompa P-12AB.
Produk LPG dialirkan ke LPG tank setelah didinginkan di E-12 dan E-15 hingga 39
o
C.

IV.1.4 Naphta Hydrotreating Unit (NHDT)
Fungsi dari NHDT adalah untuk mempersiapkan umpan CCR-Platforming Unit dengan
menghilangkan kontaminan pada Naptha seperti sulfur, nitrogen, oksigen, dan untuk
menjenuhkan olefin. Persyaratan kandungan maksimum sulfur dan nitrogen dalam umpan
adalah 0,5 ppm untuk mencegah terjadinya keracunan katalis. Katalis yang digunakan adalah
katalis S-16(Ni-Mo/Al
2
O
3
). Tekanan reaktor 52,7 atm dengan temperatur 340-385
o
C.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
- Penghilangan Sulfur : RSH + H
2
RH + H
2
S
- Penghilangan Nitrogen : C
5
H
5
+ 5H
2
C
5
H
12
+ NH
3
+

- Penghilangan Oksigen : C
6
H
5
OH + H
2
C
6
H
6
+ H
2
O
- Penjenuhan Olefin : R=R + H
2
RH-RH
- Penghilangan Klorida : R-Cl + H
2
RH + HCl
Kapasitas : 67 m3/jam atau 10.800 BPSD
Feed : Naphta dari HC Unibon dan DCU

Produk :
- Light Naphta, dialirkan ke tangki penyimpanan sebagai mogas componen
- Heavy Naphta, merupakan umpan bagi unit PL II
- Off gas
Peralatan utama:
Hydrotreating Reactor (V-1), Naphtha Stripper (V-2) dan Naphtha Splitter
(V-3).
Peralatan Pendukung :
Feed Surge Drum (V-4), compressor suction drum (V-9), Drum (V-5, V-6, V-7, dan V-
8), Heat Exchanger (E-7, E-6, E-1), Pompa (P1AB hingga P-6AB), Heater (H-1, H-2,
dan H-3), fan (E-2, E-8, dan E-10), dan compressor C-1AB
Aliran proses:
Heavy naphta, untreated naphta dari tangki penyimpanan, dan crack naphtha dari
delayed coker masuk ke V-4 hingga terjadi pemisahan antara gas, air, dan naphtha. Gas
menuju ke fuel gas sistem, air menuju ke SWS, dan naphtha dialirkan ke V-1 oleh pompa P-
1AB setelah melalui HE E-1ABCD dan heater H-1. Bahan bakar pada H-1 merupakan
campuran antara steam, fuel oil, pilot gas, dan fuel gas. Temperatur naphtha masuk V-1
adalah 300
o
C dankeluar dengan temperatur 334
o
C. Di V-1 terjadi pengilangan pengotor.
Naphta kemudian masuk ke V-5.
Sebelum masuk ke V-5, naphta didinginkan berturut-turut oleh heat exchanger E-1,
E-2 (fan) dan heat exchanger E-3 (air laut). Di dalam V-5, naphta dipisahkan menjadi air dan
distilat, air menuju ke SWS treating. Tekanan di V-5 cukup besar yaitu 50 kg/cm
2
. Tekanan
tersebut diperoleh dari hight dan medium pressure steam setelah melalui compressor C-1AB.
Treated naphtha yang keluar dari V-5 diumpankan ke kolom stripper V-2 setelah terlebih
dahulu dipanaskan di E-7 dan E-6. Di kolom V-2, naphta dipisahkan dari gas-gas. Produk
atas V-2 didinginkan oleh fan E-8 dan pendingin air laut E-9 kemudian masuk ke V-6 agar
tejadi pemisahan antara off gas dan LPG dengan air yang dibuang ke SWS, sedangkan fraksi
yang lebih berat dikembalikan lagi ke kolom V-2 oleh pompa P-3AB. Sebagian produk
bawah V-2 dikembalikan ke V-2 oleh pompa P-2AB setelah melewati heater H-2. Sebagian
lagi dialirkan ke bagian splitter setelah didinginkan di E-6.
Di dalam naphta splitter, terjadi pemisahan antara light naphta, heavy naphta, dan off
gas. Produk atas V-3 merupakan light naphta yang masih mengandung gas ringan sehingga
harus dipisahkan di naphtha splitter receiver V-7 setelah didinginkan oleh fan E-10. Gas
dialirkan ke flare, sedangkan light naphtha dialirkan ke tangki penyimpan dan unit hidrogen
oleh pompa P-5AB setelah didinginkan oleh air laut E-11. Produk bawah heavy naphta
sebagian direfluks oleh pompa P-4AB setelah dilewatkan ke splitter reboiler heater (H-3)
dan sebagian lagi didinginkan di E-7 untuk selanjutnya direaksikan di Platforming II.

IV.1.5 Platforming I I (PL II)
Platforming II mengubah treated naphta dari NHDT menjadi High Grade Motor Fuel
dengan angka oktan tinggi. Reaksi yang terjadi di unit ini sama dengan yang terjadi di unit
Platforming I. Platforming II tersebut terdiri dari tiga buah reaktor yang tersusun secara seri
vertikal dengan temperatur operasi 540
o
C, tekanan 9 kg/cm
2
, dan rasio minimum
H
2
/Hidrokarbon 2,5. Katalis yang digunakan dalam reaktor ini adalah bimetalik UOP R-32
(Pt-Rh/Al
2
O
3
). Reaksi yang terjadi adalah :
1. Dehidrogenasi : C
6
H
11
CH
3
C
6
H
5
CH
3
+ H
2

2. Hydrocracking parrafin : C
8
H
8
+ H
2
C
5
H
12
+ C
3
H
8

3. Isomerisasi : C
6
H
12
C
2
H
5
CH(CH
3
) C
2
H
5

4. Dehidrosiklisasi paraffin : C
7
H
16
C
7
H
14
+ H
2


Kapasitas : 8,95 MBSD
Umpan : Heavy naphta dari NHDT
Produk :
Reformate, dengan angka oktan 94
LPG, yang dikirim ke LPG Recovery Unit
Off gas, yang digunakan sebagai fuel gas sistem
Gas H
2
dengan purity kurang lebih 85%, yang dikirim ke H
2
plant dan unit DHDT.
Peralatan Utama :
Platformer Reactor (V-1, V-2, V-3), Low Presure Separator (V-4), High Pressure
Separator (V-5), Debuthanizer (V-6), Debuthanizer Overhead Receiver (V-7), Vapor
Wash Tower (V-12)
Peralatan Pendukung :
Heater ( H-1, H-2, H-3, H-4), HE (E-1), Fan (E-6AB, E-8), HE air laut (E-7 dan E-9),
steam generator (V-8, V-9, V-10 dan pompa P-7), pompa (P-2AB, P-3AB, P-6AB),
recycle compressor (C-1), dan Net Gas Booster compressor (C-2AB)
Aliran proses:
Hydrotreater Naphtha dari NHDT masuk ke reaktor V-1 setelah dipanaskan di H-1
(Platformer charge heater) hingga 517
o
C. Keluaran V-1 dipanaskan di H-2 dari 439
o
C
hingga 515
o
C lalu masuk ke reaktor V-2. Keluaran V-2 dipanaskan di H-3 dari 454
o
C
hingga 516
o
C kemudian masuk ke reaktor V-3. Keluaran V-3 didinginkan di E-1 kemudian
dialirkan ke LP Separator (V-4). Reaksi yang berlangsung di reaktor berlangsung secara
endotermik. Perbandingan jumlah katalis di V-1:V-2:V-3 adalah 2:3:5. Reaksi di V-1 adalah
dehidrogenasi yang berlangsung cepat, reaksi di V-2 adalah isomerisasi, hydrocracking dan
dehidrosiklisasi, sedangkan di V-3 merupakan reaksi lanjutan atau penyempurnaan umpan
yang belum bereaksi.
Tekanan di LP separator adalah 8,2 kg/cm
2
dan di HP separator adalah 22 kg/cm
2
.
Sebagian produk atas V-4 dialirkan ke recycle compressor C-1 selanjutnya kembali ke
reaktor. Sebagian lagi dimasukkan ke Net Gas Booster compressor (C-2AB) dan masuk ke
HP separator. C-1 merupakan compressor sebtrifugal sedangkan C-2 adalah kompresor
toraks. Tekanan yang dihasilkan C-1 cenderung konstan sedangkan toraks bias berubah-ubah
bahkan melebihi spesifikasi rasio kompresinya. Di HP separator terjadi pemisahan antara gas
dan reformat. Gas dialirkan ke H
2
plant, DHDT, NHDT, dan hydrobon, sedangkan reformat
dialirkan ke V-6 karena belum stabil.
Dari V-5, reformat dipompakan oleh P-3AB melalui HE E-5 kemudian masuk ke
debutanizer V-6. Di debuthanizer, reformat mengalami pengurangan kadar butan. Kondisi
operasi di V-6 adalah 17,5 kg/cm
2
denan temperatur 150
o
C. Gas dari V-6 didinginkan di fan
E-6AB dan pendingin air laut E-7 lalu masuk ke V-7. Uap dan gas dari V-7 dilairkan ke
amine LPG recovery sedangkan cairan C
4
sebaian direfluks ke V-6 melalui P-2AB dan
sebagian lagi ke unit Amine LPG recovery. Produk bawah V-6 merupakan platformat yang
sebagian direfluks oleh P-3AB setelah melalui pemanas H-4 dan sebagian lagi dijadikan
produk platformat setelah didinginkan di E-5, fan E-8 dan HE air laut E-9.

IV.1.6 Continuous Catalytic Regeneration (CCR)
Unit CCR berfungsi untuk meregenerasi katalis yang digunakan dalam platforming
secara kontinu. Katalis mengalami deaktivasi akibat keracunan dan pembentukan coke.
Kapasitas : 136 kg/jam
Peralatan Utama : Regen Tower, Lock Hopper 1 & 2, Lift Engagers 1 &
Lift Engagers 2
Aliran proses:
Katalis dari Platformer Reactor dikumpulkan di Catalyst Collector untuk selanjutnya
masuk ke Lock Hopper 1. Lift Engagers 1 berfungsi untuk menaikkan katalis ke regen tower.
Lift gas yang digunakan adalah N
2
. Di dalan regen tower, katalis dibakar dengan O
2
sampai
dengan 510
o
C. Lock Hopper 1 & 2 digunakan untuk mengatur ketinggian katalis di reaktor
dan di regen tower. Untuk menaikkan katalis hasil regenerasi, digunakan lift gas hydrogen di
Lift engagers 2.

IV.2 Hydrocracking Complex (HCC)
Hydrocracking Complex ( HCC ) merupakan perluasan dari kilang lama yang terdiri
dari 5 unit operasi, yaitu :

IV.2.1 Hydrocracker Unibon (HCU)
HCU berfungsi untuk mengolah HVGO dan HCGO menjadi fraksi yang lebih ringan
melalui reaksi hydrocracking dengan gas H
2
. Tekanan reaktor 176 atm dengan temperatur
343-482
o
C. Katalis yang digunakan pada unit ini adalah DHC 8.Katalis ini terdiri dari metal
site Ni dan W untuk reaksi hidrogenasi dan acid site Al
2
O
3
.SiO
2
sebagai power cracking.
Katalis berperan dalam perengkahan hidrokarbon berberat molekul tinggi dan
penjenuhan minyak tak jenuh (hidrogenasi minyak tak jenuh). Reaksi pada parafin diawali
dengan pembentukan olefin pada metallic center dan pembentukan ion carbonium dari olefin
pada acidic center. Kecepatan perengkahan naik dengan kenaikan berat molekul dari parafin.
Pada reaksi perengkahan sikloparafinik, gugus metil secara selektif dihilangkan dari
sikloparafin tanpa mempengaruhi struktur cincin, normalnya menjadi produk siklik
isobutana. Perengkahan dari alkil aromatik menghasilkan senyawa aromatik dan parafinik.
Reaksi samping dari isomerisasi adalah dealkilasi dan siklisasi, serta reaksi penghilangan
N,S, O
2
, halida, olefin saturation, dan metal. Semua reaksi terjadi secara eksotermis.
Kapasitas : 400 m
3
/jam atau 55.800 BPSD
Feed : HVGO dari HVU, HCGO dari DCU, dan Gas H
2
dari H
2
plant
Kondisi operasi : Tekanan : 176 kg/cm
2
design ; 170 kg/cm
2
aktual
Temperatur : maksimal 450
o
C
Produk :
- Light naphta
- heavy naphta
- Light kero yang merupakan komponen campuran kerosin/avtur/JP-5
- heavy kero yang merupakan komponen campuran kerosin/avtur/JP-5
- Off gas
- LPG
- Automotive Diesel Oil (ADO)
- Bottom fractinator / recycle feed


Peralatan pada unit HCU:
1. Reaktor
Peralatan utama : fresh feed reactor (V-1 dan V-2), recycle reactor (V3)
Peralatan pendukung : fresh feed surge drum (V-24 dan V-24), heater (H-1 ), HP
flash drum (V-8), pompa (P-1 dan P-2), heat exchanger (E-1 & e-3), fan (e-2 & E-
4), compressor (C-1), separator (V-101), MP flash drum (V-9), LP flash drum (V-
10)
2. Fraksinasi
Peralatan utama: debuthanazer (V-12), product fractionation (V-14), diesel heavy
kero & light kero strippers (V-16, V-17, & V-18), naphta splitter (V-20), naphta
stripper (V-22)
Peralatan pendukung : heater (H-2 & H-3), pompa (P-9, P-11, P-13, P-15, P-17, P-
19, P-21, P-21, P-23, P-24, & P-25), flash drum (V-9, V-10,V-13, V-19, V-21, V-
23)
Aliran proses:
1. bagian reaktor.
Umpan HVGO dan HCGO melewati filter untuk mengambil pengotor-pengotor
padatan dari umpan. Umpan bersih lalu masuk ke Fresh Feed Surge Drum (V-24) untuk
dipisahkan fasa gasnya. Cairan umpan dari V-24 dicampur dengan gas H
2
tekanan tinggi (170
kg/cm
2
) lalu dipanaskan di H-1 untuk selanjutnya masuk ke reaktor V-1 dan V-2 yang
disusun seri. Dalam reaktor terjadi reaksi cracking dan penghilangan pengotor-pengotor pada
suhu sekitar 420-440
o
C dengan bantuan katalis DHC-8. Produk reaksi di V-2
dikondensasikan di E-1 dan E-2 kemudian masuk ke HP separator V-8 untuk memisahkan
gas H
2
dari cairan hidrokarbon dan produk hasil reaksi. Gas H
2
dari V-8 ditarik oleh
kompresor dan digabungkan dengan aliran recycle gas ke umpan. Air dan pengotor-pengotor
di dasar V-8 dialirkan ke SWS sedangkan cairan hidrokarbon dipompakan ke MP flash drum
(V-9) dan LP flash drum (V-10) untuk dipisahkan dari gas-gas amine LPG. Cairan
hidrokarbon dari V-10 masuk ke kolom debutanizer di kolom fraksionasi.

Gas H
2
make up dari H
2
plant dialirkan ke 3
rd
stage suction drum (V-27, V-28, dan V-
29) dengan kompresor C-2 untuk menaikkan tekanan dari 14 kg/cm
2
sampai 170 kg/cm
2
agar
sesuai dengan kondisi operasi.
2. bagian fraksionasi.
Cairan hidrokarbon dari LP flash drum V-10 dialirkan ke kolom debutanizer V-12.
Fraksi ringan (C1-C4) ditampung di receiver V-13 di mana terjadi pemisahan antara fasa gas
dan cairan hidrokarbon. Fasa gas yang mengandung amine dan LPG dikirim ke Amine &
LPG Recovery, sedangkan cairan hidrokarbon dialirkan sebagai refluks ke V-12 dan sebagian
ke Amine & LPG Recovery. Produk bawah V-12 dipanaskan kembali di H-3 sebelum
dimasukkan ke kolom fraksionasi V-14.
Pada kolom fraksionasi V-14, diperoleh produk atas berupa gas yang kemudian
ditampung di receiver V-19. Dari V-9, sebagian aliran kembali sebagai refluks dan sebagian
lagi masuk ke naphtha splitter V-20. Produk bawah V-20 adalah heavy naphtha sedangkan
produk atasnya dialirkan ke V-22. Pada V-22, diperoleh produk berupa amine LPG dan
produk bawah berupa light naphtha.
Aliran samping dari kolom fraksionasi V-14 bagian atas dialirkan ke stripper V-18
menghasilkan light kerosene, ke stripper V-17 menghasilkan heavy kerosene, dan ke stripper
V-16 menghasilkan gas oil/diesel. Produk bawah kolom V-14 sebagian direfluks dengan
bantuan steam dan sebagian lagi dialirkan ke recycle feed surge drum (V-25), dipanaskan di
H-1, dan direaksikan kembali ke reaktor V-3. Keluaran reaktor V-3 bergabung dengan
keluaran reaktor V-2 menuju HP separator V-8.

IV.2.2 Hydrogen Plant
Hydrogen plant mengolah gas dari Platforming I dan II, serta sebagian LPG dari unit-
unit lainnya. Produk H
2
plant adalah gas H
2
dengan kemurnian minimum 97%, untuk
konsumsi HC Unibon sebagai make up dan recycle gas. Unit ini bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan hidrogen dalam proses hydrotreating dan hydrocracking.

Kandungan sulfur gas-gas dari berbagai unit kilang diminimalisasi sampai satu ppm di
dalam kolom desulfurizer dengan menggunakan Cl guard dan katalis zinc oxide pada
temperatur operasi 400
o
C. Aliran keluar desulfurisasi digabungkan dengan steam tekanan
tinggi untuk diproses di dalam reformer pada temperatur operasi 538-870
o
C. Gas CO
2
yang
terbentuk diabsorpsi dengan larutan Benfield dalam kolom bersuhu 70-127
o
C yang
menggunakan packing pall rings. Gas CO dan CO
2
sisa dikonversikan menjadi gas metan
dalam metanator pada temperatur 320
o
C dan tekanan operasi 14-32 atm.
Kapasitas : 2 plant @ 43.914 Nm
3
/jam
Feed : Gas dari PL I dan PL II
Amine dan LPG recovery
LPG cadangan
Produk : gas H
2
dengan kemurnian minimum 97%, kandungan CO + CO
2

maksimum 30 ppm, dan kandungan CH
4
maksimum 3%
Peralatan utama :
desulfurizer (V-6A & V-6B), Steam Reformer (H-1), HTSC (V-7), LTSC (V-8),
CO
2
Absorber (V-17), methanator (V-10)
Peralatan pendukung :
heat exchanger (E3, E-4, E-5,E-6, E-8, E-10), cooler (E-7 & E-11), separator (V-11,
V-12, V-13, V-15, V-16,V-18)
Aliran proses:
Umpan yang terdiri dari gas-gas kaya hidrogen gabungan dari off gas amine unit,
platforming II/CCR dan platforming I, serta LPG dilewatkan pada evaporator E-2. Setelah
itu, umpan dihilangkan kandungan sulfurnya di dalam desulfurizer V-6A dan V-6B pada
suhu tinggi. Produk desulfurizer dicampur dengan steam, dipanaskan pada tungku pemanas
dan masuk ke reformer H-1 dan mengalami proses reforming menghasilkan gas CO
2
dan H
2

dengan bantuan katalis nikel pada penyangga alumina yang diletakkan pada tube reformer.
Gas-gas keluaran reformer diambil panasnya di E-4 dan E-5 lalu dimasukkan ke
reaktor HTSC (High Temperature Shift Converter) untuk mengubah CO menjadi CO
2
pada
temperatur 360-420
o
C. Setelah diambil panasnya di E-6, produk HTSC dimasukkan kembali
ke LTSC (Low Temperature Shift Converter) pada suhu operasi sekitar 193-258
o
C untuk
mengubah CO yang belum bereaksi di HTSC menjadi CO
2
.
Produk reaksi di LTSC dikondensasikan di Benfield Reboiler. Kondensat yang banyak
mengandung H
2
S atau produk bawah dicampurkan di kolom separator V-11 dengan air hasil
reaksi metanasi di V-9, menghasilkan asam H
2
SO
4
. Cairan yang banyak mengandung asam
ini lalu dialirkan ke kolom penampung V-15 bersamaan dengan produk atas Benfield Stripper
yang banyak mengandung gas CO
2
. Produk atas kolom V-15 adalah gas CO
2
sedangkan
produk bawah dialirkan ke Sour Water Stripper.
Produk atas kolom separator V-11 yang banyak mengandung gas CO
2
dimasukkan ke
CO
2
Absorber, V-17. Di sini, kandungan gas CO
2
dalam gas diabsorbsi oleh larutan Benfield
dengan zat pengaktif DEA (Dietanolamin). Larutan Benfield yang kaya kandungan CO
2

dimasukkan ke Benfield Stripper (V-12) untuk mengambil CO
2
dengan cara pemanasan.
Produk atas dari V-12 masuk ke kolom V-5 sedangkan cairan Benfield yang miskin CO
2

(lean benfield) dialirkan ke kolom separator V-13 untuk kemudian digunakan kembali
sebagai absorber CO
2
di kolom V-17.
Produk atas dari V-17 dialirkan ke wash water column, lalu masuk ke alat penukar
panas, dan akhirnya ke kolom methanator. Pada kolom methanator V-9, CO dan CO
2
diubah
menjadi metana dan air. Melalui condensate separator, gas hidrogen dan metana dipisahkan
dari air (kemurnian H
2
97%). Gas hidrogen dan metana dikirim ke unit-unit yang
membutuhkan sedangkan air digunakan untuk melarutkan gas H
2
S.

IV.2.3 Amine & LPG Recovery
Unit ini berfungsi untuk menghilangkan senyawa sulfur dari gas dan LPG yang
dihasilkan di unit-unit lain untuk mencegah teracuninya katalis di hydrogen plant serta
menccegah terjadinya korosi di tangki LPG. Kandungan maksimal H
2
S dalam LPG maksimal
50 ppm, kandungan C
2
maksimal 0,2 % dan kandungan C
5
maksimal 2 %. Penghilangan H
2
S
dilakukan dengan cara absorbsi menggunakan larutan MEA (monoetilamine) sebagai
absorben. Larutan tersebut mempunyai afinitas yang tinggi terhadap H
2
S dan kelarutan
terhadap hidrokarbaon yang rendah.
Kapasitas :18,08 MMSCFD untuk gas dan 2271 BPSD untuk cairan
Umpan :
- Gas, LPG dan light naphtha dari HC Unibon (Unit 211/212)
- LPG dari CCR-Platforming Unit (Unit 310/300)
- Gas dari Platforming Unit (unit 301)
- Gas dari Naphtha Hydrotreater Unit (Unit 200)
- Gas dari Distillate Hydrotreater Unit (Unit 220)
Produk :
- Gas sebagai feed H
2
Plant
- LPG
Peralatan utama: Vapour Amine Absorber (V-15), LPG Amine Absorber (V-6), Caustic Wash
(V-11), Amine Stripper (V-8), Deethanizer (V-8).
Aliran proses:
a. Off Gas Absorber
Gas umpan dari unit-unit ditampung di V-1 untuk memisahkan cairan yang terbawa
bersama gas. Sebelum masuk ke kolom separator V-3, gas dipanaskan di E-3 dan H-1,
sedangkan cairan dialirkan ke Sour Water Stripper (SWS). Produk bawah V-3 dialirkan ke
SWS dan produk atas diproses lebih lanjut untuk dimurnikan dari gas H
2
S. Produk atas
tersebut sebagian masuk ke Vapour Amine Absorber (V-5) dan sebagian lagi didaur ulang.
Produk atas V-5 dialirkan ke fuel gas system dan produk bawah dialirkan ke Rich
Amine Flash Drum (V-7). Cairan yang banyak mengikat H
2
S dialirkan dari bawah dan
dipanaskan di E-4 lalu masuk ke amine stripper (V-8). Proses pemisahan absorben MEA
dengan H
2
S dilakukan dengan proses pemanasan dengan bantuan desuperheater.
Produk atas V-8 ditampung di stripper receiver (V-9). Gas yang mengandung wet
H
2
S dibakar di incinerator, sedangkan cairan yang mengandung MEA dikembalikan ke V-8.
Produk bawah V-8, yaitu MEA yang mengandung sedikit H
2
S (lean amine), terbagi menjadi
dua aliran, yaitu aliran yang dihubungkan ke steam connection (E-3) untuk pemisahan lebih
lanjut antara gas H
2
S dan air yang terdapat pada MEA dan aliran ke Rich Amine Flash Drum
(V-7) yang dicampurkan dengan MEA yang kaya H
2
S (rich amine) untuk masuk kembali ke
amine stripper (V-8) dan sebagian lagi kembali ke V-5.
b. LPG Absorber
Debutanizer net liquid dan naphtha stripper net overhead liquid dari HC Unibon
dialirkan ke bagian bawah V-6. Pada bagian puncak menara, lean amine diinjeksikan dari
amine stripper, di mana H
2
S yang terkandung dalam LPG terabsorbsi oleh lean amine
contaminated. Produk atas V-6 ditampung di settler drum V-18 untuk kemudian dialirkan ke
soda wash drum (V-11). Pada V-11, gas dicuci dengan soda kaustik agar H
2
S yang belum
terabsorbsi bereaksi membentuk garam natrium sulfida.
LPG yang sudah dicuci dialirkan ke sand filter (V-12) untuk disaring. Garam hasil
reaksi di V-11 dialirkan ke deethanizer V-13. Fraksi ringan (C1 dan C2) meninggalkan
puncak kolom menuju receiver V-14 yang sebelumnya didinginkan di kondensor E-8.
Kondensat dipompakan dengan P-2 A/B ke puncak kolom sebagai total refluks sedangkan
gas yang tidak terkondensasi dialirkan ke separator V-3 untuk diolah menjadi feed gas off
absorber.
Produk bawah deethanizer V-13 adalah LPG yang kemudian dialirkan ke sphere tank
system dengan lebih dahulu memberikan panas untuk memanasi umpan deethanizer dan
selanjutnya didinginkan di E-15 untuk dialirkan lagi menuju tangki.
c. Amine Regeneration System.
Rich Amine dipanaskan oleh lean amine di penukar panas E-9, kemudian dialirkan ke
stripper V-8. Di sini terjadi dekomposisi rich amine menghasilkan H
2
S yang naik ke V-9
setelah didinginkan di E-14. Gas yang tidak terkondensasi dibakar di flare sedangkan
kondensat sebagian direfluks dan sebagian lagi dialirkan ke lean amine system.


IV.2.4 Sour Water Stripper (SWS)
Unit ini berfungsi untuk menurunkan kadar H
2
S dan NH
3
yang mencemari air pada refinery
sour water agar dapat digunakan kembali. Unit ini mampu menghilangkan 97 % volum H
2
S
dan 90 % volum NH
3
dari umpan. Proses yang terjadi adalah pemanasan dalam kolom
sampai 120
o
C pada tekanan 0,6 kg/cm
2
. Kandungan H
2
S maksimal yang dibolehkan dalam
air adalah 70 ppm, NH
3
30 ppm dan kandungan minyak 10 ppm.
Pada tahap selanjutnya, air diproses lebih lanjut di biotreatment sebelum dibuang ke
laut.
Kapasitas :10.300 BPSD
Umpan : berasal dari hydrocracker unibon ( HCU ), delayed coking unit ( DCU ),
distillate hydrotreating unit ( DHDT ), naphtha hydrotreating unit ( NHDT ),
dan vacuum distillation unit ( VDU ), yang dipanaskan dengan low pressure
steam (LPS).
Peralatan utama:
Sour Water Degassing Drum (V-1), Stripper (V-2)
Peralatan pendukung :
pompa (P-1A/B, P-2, P-3A/b, P-4A/B) HE (E-1A/B, E-2), fan (E-3, E-4), cooler (E-
5A/B,)
Aliran proses:
Air buangan proses (sour water) dari berbagai unit masuk ke Sour Water Degassing
Drum (V-1). Di dalamnya terjadi pemisahan sour gas yang terdapat dalam cairan. Sour gas
ini kemudian dialirkan ke flare. Cairan dari V-1 dimasukkan ke kolom V-2 untuk dipanaskan
sampai 110
o
C dan dicuci dengan soda kaustik untuk menghilangkan senyawa-senyawa
seperti H
2
S, HCl dan NH
3
. Gas-gas yang terlepas kemudian dibakar di sour flare sedangkan
airnya digunakan kembali untuk proses.



IV.2.5 Nitrogen Plant
Unit ini berfungsi untuk menghasilkan nitrogen yang diperlukan untuk start-up dan
shut down unit-unit proses, regenerasi katalis dan media blanketting tangki-tangki. Prinsip
operasinya adalah pemisahan oksigen dan nitrogen dari udara berdasarkan titik embuinnya
pada temperatur operasi -180
o
C. Nitrogen mempunyai titik embun lebih rendah dari oksigen,
sehingga nitrogen akan mengalir ke bagian atas kolom dan oksigen akan berkumpul di bagian
dasar kolom sebagai cairan.
Kapasitas :12.000 Nm
3
/hari
Aliran proses :
Proses ini menggunakan molecular sieve absorber untuk menyerap uap air dalam
udara. Udara bebas bersama udara recycle dihisap dengan screw compressor C-81A/B yang
masing-masing terdiri dari dua stage. Udara yang telah dimanfaatkan kompressor stage satu
didinginkan di intercooler kemudian di stage kedua dimanfaatkan hinggga tekanan 6 kg/cm
2
,
selanjutnya udara dialirkan ke pendingin cooler E-90. Sebagai media pendingin adalah air
garam yang didinginkan dengan system fresh refrigerant di E-94. Embunan yang terjadi
dipisahkan dalam pemisah V-84.
Sebelum diumpankan kekolom udara, didinginkan pada pendingin udara E-58. Di
dalam pendingin ini udara proses dibagi 2: Pertama; udara tekanan tinggi keluar dariE-85
dialirkan menuju engine turbin untuk diambil tenaga kinetiknya. Kedua; keluar dari E-85
pada titik cairnya temperatur mencapai 160
0
C dan diumpankan ke kolom rektifikasi V-83
dari bagian bawah kolom. Nitrogen yang mempunyai titik didih lebih rendah dari oksigen
akan menguap mengalir kebagian atas kolom dan oksigen akan mengumpul didasar kolom
sebagai cairan. Oksigen dari dasar kolom dialirkan ke HE E-86 untuk didinginkan. Cairan
dingin ini kemudian mengalir masuk ke E-95 untuk doiembunkan. Nitrogen cair lalu
dikembalikan ke kolom sebagai reflux, sebagian lagi dialirkan ke tangki penyimpanan
nitrogen cair keluar pengembun E-95 yang diambil sebagai produk dialirkan ke tangki V-
18A/B. Sebelum dikirim ke unit yang memrlukan N
2 cair
diuapkan terlebih dahulu dalam
penukar panas E-81,82,83 dan E-88



IV.3 Heavy Oil Complex (HOC)
Unit-unit yang terdapat dalam HOC adalah :

IV.3.1 High Vacuum Distillation Unit (HVU)
Unit ini berfungsi untuk memisahkan umpan LSWR (Low sulphur Waxy Residu) dari
CDU berdasarkan perbedaan titik didih. Prinsip operasi unit HVU adalah distilasi pada
keadaan vakum, karena penurunan tekanan mengakibatkan penurunan titik didih hingga
proses pemisahan dapat dilakukan tanpa terjadi thermal cracking. Kondisi vakum diperoleh
dengan menarik produk gas di bagian atas kolom menggunakan tiga buah steam jet ejector
yang tersusun seri. Ejector ini mampu menurunkan tekanan hingga 20 mmHg. Proses
pemisahan tersebut berlangsung pada kondisi operasi dengan tekanan 18-22 mmHg dan
temperatur operasi 400
o
C.
Kapasitas : 90.000 barrel/hari(BPSD) atau 614 m
3
/jam.
Feed : LSWR (70%dari CDU Topping Unit dan 30% CDU Sei Pakning)
Produk :
- Gas, dipakai sebagai fuel gas (untuk komsumsi sendiri)
- Light Vacuum Gas Oil (LVGO), digunakan sebagai komponen campuran
- Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO), digunakan sebagai umpan hydrocracker unibon
(HC Unibon)
- Short residu, digunakan sebagai umpan Delayed Coking Unit (DCU)
Peralatan utama:
Vacuum Tower (V-1)
Peralatan pendukung :
feed surge drum (V-3 & V-4), desalter (V-5A & V-5B), vacuum
heater (H-1A & H-1B), condensate receiver (V-2), KO drum (V-11), steam disenganging
drum (V-8, V-9 dan V-10)
Aliran proses:
LSWR dari CDU ditampung sementara di V-3 lalu diolah stage desalter di V-5A dan
V-5B untuk dikurangi kadar garamnya. Setelah itu, umpan dibagi menjadi dua aliran yang
masing-masing dipanaskan di H-1A dan H-1B sebelum masuk ke kolom distilasi vakum (V-
1). Kondisi vakum di V-1 dibuat menggunakan MP steam ejector agar tekanan atas kolom
sebesar 20 mmHg. Setelah didinginkan, produk atas kolom ditampung di V-2 untuk
dipisahkan dari air, minyak dan gas (fuel gas). Aliran produk samping adalah LVGO dan
HVGO. Panas dari HVGO dimanfaatkan untuk MP steam (E-5 dan E-6). Produk bawah
berupa short residu dan diumpankan ke Delayed Coking Unit.

IV.3.2 Delayed Coking Unit (DCU)
Unit ini berfungsi untuk mengolah short residu dari Vacuum distillation unit (HVU)
menjadi coke (kokas), fraksi-fraksi minyak yang lebih ringan dan gas. Prinsip reaksi adalah
thermal cracking, yaitu perengkahan hidrokarbon berat menjadi hidrokarbon rantai pendek
pada temperatur tinggi (500
o
C), kemudian akibat suhu tinggi terjadi polimerisasi membentuk
padatan coke (kokas). Tingginya temperatur mengakibatkan terjadinya polimerisasi. Proses
pembentukan green coke dari polimer :
Steaming out untuk membuang fraksi ringan yang masih tersisa, selama 1 jam
Steaming out to blowdown sistem, selama 2 jam
Water quenching, selama 5 jam dengan menggunakan campuran air dan steam (20 ton
air 7 8 ton steam)
Water fill in, pendinginan dengan air pada temperatur di bawah 100
o
C, selama 2 jam
Pengeringan dan pegeluaran coke dari chamber dengan menggunakan air
Kapasitas : 234 m
3
/jam sekitar 35.000 BPSD
Feed : short residu dari HVU
Produk :
- Gas, sebagai fuel gas dan LPG
- Naphtha, sebagai umpan NHDT
- Light Coker Gas Oil ( LCGO), sebagai umpan DHDT
- Heavy Coker Gas Oil (HCGO), sebagai umpan HC Unibon
- Green Coke, sebagai umpan calciner
Peralatan utama :
fractionator (V-2), light & heavy cooker oil stripper (V-3 & V-4), debutanizer (V-
18), LPG splitter (V-20), coke chambers (V-1 ABCD)
Peralatan pendukung :
feed surge drum (V-2), heater (H-1 ABCD), vessel (V-5, V-13, V-15, V-17,V-20, V-
23), separator (V-6,V-7, V-12, V-14, V-16, V-19), HE (E-19 & E-24)
Aliran proses:
Short residue yang panas ditampung sementara di V-5 untuk kemudian diumpankan
ke V-2 (fraksionator). Dalam fraksionator tersebut, dihasilkan produk atas berupa gas, LPG,
dan cracked naphtha. Dari aliran samping, setelah melalui stripper V-3 dan V-4 diperoleh
LCGO dan HCGO. Thermal cracked terjadi akibat pemanasan tinggi di H-1 yang dilanjutkan
di V-1. Pemanasan tersebut menyebabkan perengkahan hidrokarbon rantai panjang menjadi
molekul-molekul yang lebih kecil. Fraksi-fraksi ringan dengan pemanasan tinggi tersebut
terangkat dari V-1 dan V-2. Setelah didinginkan di E-8, produk atas V-2 ditampung di E-6
untuk dipisahkan dari air. Dari V-6, campuran cairan dan gas dengan bantuan kompresor
dialirkan ke HP separator V-16 untuk memisahkan cairan hidrokarbon dari fasa gas. Fasa gas
dari V-16 digunakan sebagai absorber LCGO di V-17. Fasa cair dari V-16 diumpankan ke
kolom debutanizer V-18 sehingga diperoleh produk bawah berupa cracked naphtha dan
produk atas berupa gas-gas fraksi ringan (C1-C4) yang selanjutnya dipisahkan di LPG splitter
V-20 menghasilkan unsaturated LPG. Produk terakhir V-1 adalah coke yang dikeluarkan
setiap 24 jam sekali.


IV.3.3 Distillate Hydrotreting Unit (DHDT)
Unit ini berfungsi untuk mengolah Light Coker Gas Oil (LCGO) dari delayed coker
unit (DCU) dengan menjenuhkan material yang tidak stabil dari hasil cracking dan
membuang impurities seperti sulfur dan nitrogen dengan bantuan gas hidrogen bertekanan.
Proses ini menggunakan bantuan katalis UOP S-12. Reaksi yang terjadi di dalam reaktor
adalah penjenuhan olefin, penghilangan sulfur, penghilangan nitrogen, penghilangan oksigen,
penghilangan logam, dan penghilangan halida. Campuran produk hasil reaksi dipisahkan di
kolom stripper dan splitter.
Kapasitas : 90 m
3
/jam 12.000 BPSD
Feed : LCGO dari DCU
Produk :
- Gas, sebagai fuel gas
- Naphtha, digunakan sebagai umpan NHDT
- Light Kerosene digunakan sebagai komponen campuran kerosene dan diesel (ADO)
- Heavy kerosene digunakan sebagai komponen campuran kerosene dan diesel (ADO)
Peralatan utama:
Hydrotreating Reactor (V-2 dan V-3), Stripper (V-8), Splitter (V-10).
Peralatan pendukung :
feed surge drum (V-1), heater (H-1, H-2, H-3), vessel (V-7, suction drum (V-5, V-
6), separator (V-4,V-9, V-11)
Aliran proses:
LCGO dari Delayed Coking Unit ditampung sementara di V-1 lalu dipanaskan di H-1.
Sebelum dipanaskan, umpan terlebih dahulu dicampur dengan gas H
2
dari kompresor C-1
A/B. Setelah pemanasan, pereaksian dilakukan di V-2 dan V-3. Setelah didinginkan di E-1
ABCD, keluaran V-3 diinjeksikan dengan air untuk mengambil NH
3
dan H
2
S yang terbentuk.
Selanjutnya dilakukan kondensasi di E-2 dan kondensat ditampung di HP separator (V-4).
Fraksi atas V-4 diumpankan ke V-5 dan masuk ke aliran recycle. Fraksi bawah V-5
diumpankan ke kolom stripper V-8 untuk memisahkan naphtha dan komponen LPG. Produk
bawah V-8 diumpankan ke kolom splitter V-10 menghasilkan light kerosene dan heavy
kerosene.

IV.3.4 Coke Calciner Unit (CCU)
Coke calciner digunakan untuk mengolah green coke menjadi calcined coke. Pada saat
ini, coke calciner unit Pertamina UP II Dumai tidak beroperasi sejak tahun 1994. Proses
pengolahannya adalah proses pembakaran pada suhu 1350
o
C untuk menghilangkan
material karbon yang mudah menguap dan kandungan air.
kapasitas :1.344 ton perhari
Peralatan utama : Rotary Calciner (H-203), Waste Heat Boiler
Aliran proses :
Green coke hasil proses di DCU dipanaskan pada temperatur 1250
o
C menggunakan
calciner rotary kiln untuk menghilangkan semua zat volatil dan air. Rotary kiln dengan
kemiringan tertentu digunakan untuk mendinginkan coke panas. Spray water dikontakkan
langsung dengan coke panas. Panas gas hasil pembakaran coke di insinerator dilewatkan di
Waste Heat Boiler untuk menghasilkan steam ( untuk tujuan efisiensi ).
Sudah diringkas dari TA KP IN PERTAMINA
Jangan lupa baca lampiran A dan E