Anda di halaman 1dari 48

1

BAB 1
DEFINISI dan RUANG LINGKUP


Logam yang berbeda dianggap salah satu yang secara kimiawi berbeda
(aluminium, tembaga, nikel) atau paduan dari logam tertentu yang secara
signifikan berbeda dari sudut pandang metalurgi (baja karbon vs stainless steel).
Mereka dapat menjadi logam dasar, logam pengisi, atau logam lasan.
Kombinasi sebagian besar dari logam berbeda dapat bergabung dengan
pengelasan solid state, mematri, atau solder dimana paduan antara logam biasanya
tidak signifikan. Dalam kasus ini, hanya perbedaan sifat fisik dan mekanik dari
logam dasar dan pengaruh mereka pada serviceability dari sambungan harus
dipertimbangkan. Ketika logam yang berbeda ini bergabung dengan proses
pengelasan fusi, paduan antara logam dasar dan logam pengisi, bila digunakan,
akan datang suatu pertimbangan utama. Logam las yang dihasilkan dapat
berperilaku secara signifikan berbeda dari salah satu atau kedua logam dasar
selama proses berikutnya atau dalam pelayanan.
Sebuah kombinasi dari logam dengan bahan kimia yang berbeda secara
signifikan, mekanik, dan sifat fisik dengan mudah dapat menimbulkan masalah
selama dan setelah pengelasan. Kombinasi ini dapat menjadi dua logam dasar
yang berbeda atau tiga logam yang berbeda, salah satunya adalah logam pengisi.
Las mengakibatkan komposisi logam ini akan berbeda dari setiap komponen, dan
dapat bervariasi dengan desain sambungan, proses pengelasan, logam pengisi, dan
prosedur pengelasan. Akibatnya, faktor-faktor ini dan juga perlakuan panas lasan
harus ditetapkan dan tepat dievaluasi sebelum produksi. Tujuan utama dari
pengelasan logam yang berbeda harus menghasilkan lasan yang memenuhi
persyaratan layananyang diinginkan.
Informasi yangdisajikan disini yang utama membahas pengelasan
perpaduan dari logam yang berbeda dimana efek dilusi yang signifikan dan
perpaduan harus dipertimbangkan dalam merancang sambungan serta dalam
pemilihan proses pengelasan dan prosedur.

2

1.1 Logam Las
Dalam pengelasan perpaduan dari sambungan logam berbeda,
pertimbangan yang paling penting adalah komposisi logam las dan sifat-
sifatnya. Komposisinya tergantung pada komposisi logam dasar, logam
pengisi, jika digunakan, dan dari pengenceran relatif. Komposisi logam las
biasanya tidak seragam, terutama dengan lasan lewat ganda ( multiple pass
weld) , dan kemiringan komposisi kemungkinan akan ada di logam las yang
berdekatan ke logam dasar.
Berikut karakteristik pemadatan dari logam las yang juga dipengaruhi
oleh pengenceran relatif dan kemiringan salah satu komposisi dekat logam
dasar. Karakteristik ini penting sehubungan dengan retak panas dari logam las
selama pembekuan.
Konsep dasar dari perpaduan, karakteristik metalurgi dari paduan yang
dihasilkan, dan sifat-sifat mekaniknya dan fisik harus dipertimbangkan ketika
merancang sambungan logam yang berbeda. jika logam tersebut akan
membentuk dasar merupakan rangkaian larutan padat bila dilelehkan
bersama-sama, seperti tembaga dan nikel, produksi las perpaduan antara
keduanya adalah mudah dilakukan. Di sisi lain, jika fase kompleks atau
intermetalik senyawa yang terbentuk ketika dua logam dasar yang mencair
bersama-sama, las perpaduan keberhasilan cenderung tergantung pada
ketersediaan logam pengisi dan prosedur pengelasan yang akan menghindari
senyawa atau fase dan akan menghasilkan logam las suara dengan sifat dapat
diterima untuk layanan yang diinginkan.

1.2 Pencairan dan Perpaduan
Selama mengelas sambungan, logam dari setiap anggota dan logam
pengisi, jika digunakan, meleleh bersama-sama ke kolam lasan. Setelah
pembekuan, logam las ini akan berupa fase tunggal atau campuran dari dua
atau lebih fase. Sebuah fase dapat menjadi solusi yang kuat (Cu-Ni), suatu
senyawa intermetalik (

), atau senyawa interstisial (

). Nomer,
jenis, jumlah, dan metalurgi susunan fase hadir sangat penting dalam
penentuan sifat dan kesempurnaan dari logam las. Pemadatan dan
3

pendinginan harga juga memiliki dampak yang signifikan terhadap fasesaat
ini dan struktur metalurgi dari logam.
Dalam pengelasan logam yang berbeda, logam pengisi harus siap
bercampur dengan logam dasar untuk menghasilkan logam las yang memiliki
fase, matriks ulet yang kontinyu. Secara khusus, logam pengisi yang harus
dapat menerima pengenceran (perpaduan) oleh metas dasar tanpa
menghasilkan retak mikro yang sensitif. Struktur mikro logam las juga harus
stabil di bawah kondisi penanganan yang diharapkan. Kekuatan logam las
harus setara atau lebih baik dari pada logam dasar yang lebih lemah.
Agitasi yang signifikan terjadi dikolamlas yang meleleh dengan
sebagian besar proses pengelasan fusi. Hal ini cenderung menghasilkan
logam las dengan komposisi substansial seragam, kecuali pita sempitdi
samping masing-masing logam dasar yang tidak meleleh. Pita dari logam
dasar yang meleleh biasanya lebih luas ketika logam pengisi memiliki titik
leleh lebih tinggi dari logam dasar.
Dalam Multiple Pass Welding, komposisi dari masing-masingweld
bead harus relatif seragam. Namun, perbedaan komposisi yang jelas
kemungkinan besar dalam mensukseskan weld beads, terutama antara root
bead, bead yang berdekatan dengan logam dasar, dan bead mengisi yang
tersisa. Komposisi rata-rata dari keseluruhan logam las dapat dihitung ketika
dua hal ini diketahui : (1) rasio volume logam dasar meleleh dengan
keseluruhan volume logam las, dan (2) komposisi dasar dan logam pengisi.
Pengenceran dapat didasarkan pada pengukuran luas pada penampang
melintang melalui lasan uji. Gambar. 12.1 menggambarkan bagaimana
menentukan pengenceran oleh dua logam dasar, A dan B, ketika las dengan
logam pengisi F, dan contoh cairan total.
Persentase rata-rata dari unsur paduan tertentu dalam logam las yang
diencerkan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :

)(

) (

)(

) (

)(

)
dimana


adalah persentase rata-rata dari unsur X didalam logam las.

adalah persentase dari unsur X di dalam logam induk A.


4

adalah persentase dari unsur X di dalam logam induk B.

adalah persentase dari unsur X di dalam logam induk F.

adalah persen pengenceran logam dasar A, dinyatakan sebagai


desimal.

adalah persen pengenceran logam dasar B, dinyatakan sebagai


desimal.

adalah persen total pengenceran logam dasar A dan B, dinyatakan


sebagai desimal.

5

Untuk mengilustrasikan perhitungan komposisi logam las, asumsikan
bahwa jenis stainless steel 316 ini dilas dengan baja paduan 2-1/4Cr-1Mo
dengan logam pengisi paduan nikel-kromium (tipeERNiCr-3). Komposisi
kimia nominal tiga paduan diberikan dalam Tabel 12.1. Dengan asumsi
bahwa pengenceran 35 persen total, 15 persen oleh baja paduan Cr-Mo dan
20 persen dari jenis stainless steel 316, persentase rata-rata Cr, Ni, dan Mo
dalam logam las dihitung sebagai berikut:

, % = 0.15 (2.5) + 0.20 (17) + 0.65 (20) = 16.8

, % = 0.20 (12) + 0.65 (72) = 49.2

, % = 0.15 (1) + 0.20 (2.5) = 0.65





1.3 Temperatur Cair
Penyambungan dari logam yang berbeda dengan pengelasan fusi
memerlukan pencairan dari kedua logam dasar. Jika suhu leleh yang dekat,
sebut saja dalam 200, teknik pengelasan normal dan prosedur yang
memuaskan. Ketika ada perbedaan luas dalam temperatur lebur, masalah dari
pengelasan cukup rumit. Bahkan, mungkin perlu untuk menggunakan
brazing, braze welding, atau solid-state teknik las untukmenggabungkan
dengan logam yang berbeda.
Tabel 12.2 membandingkan suhu leleh dan lainnya sifat fisik penting dari
beberapa logam untuk yang dari baja karbon. Hal ini jelas sulit untuk mengelas
aluminium untuk baja atau paduan nikel, menurut data tersebut.
6

Perbedaan yang signifikan dalam temperatur lebur dari dua logam dasar
atau dari logam las dan logam dasar dapat mengakibatkan pecahnya lasan
yang memiliki temperatur lebur yang lebih rendah. Solidifikasi dan kontraksi
dari las dengan temperatur lebur yang lebih tinggi akan menyebabkan tekanan
pada logam lain ketika sedang dalam kondisi lemah, sebagian dipadatkan.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan menyimpan satu atau lebih lapisan
logam pengisi dari bahan dasar logam intermediate melting. Prosedur ini
dikenal sebagai buttering. Lasan kemudian dibuat antara permukaan buttered
dan logam mulia lainnya. Lapisan buttering harus berfungsi untuk
mengurangi perbedaan suhu lebur.

1.4 Konduktifitas Termal
Kebanyakan logam dan paduan konduktor relatif baik atau panas,
namun ada juga yang jauh lebih baik daripada yang lain. Konduksi kalor yang
cepat dari kolam las yang meleleh oleh logam dasar yang berdekatan dapat
mempengaruhi masuknya energi yang diperlukan untuk mencairkan area
daripada logam dasar. Ketika dua logam berbeda dari konduktivitas termal
secara signifikan berbeda yang akan dilas bersama-sama, prosedur pengelasan
harus menyediakan untuk perbedaan ini. Seringkali sumber panas pengelasan
harus diarahkan pada logam yang memiliki konduktivitas termal yang lebih
tinggi untuk mendapatkan keseimbangan panas yang tepat.
Konduktivitas termal dari logam merupakan fungsi dari suhu. Bila
mengelas logam yang berbeda, kehilangan panas ke logam dasar bisa sedikit
seimbang oleh pemanasan awal secara selektif pada logam yang memiliki
konduktivitas termal yang lebih tinggi. Pengenceran yang lebih merata
dengan pemanasan keseimbangan.
Pemanasan awal logam dasar konduktifitas termal tinggi juga
mengurangi tingkat pendinginan dari logam las dan zona panas yang
dilakukan. Dampak dari pemanasan awal adalah untuk mengurangi panas
yang dibutuhkan untuk melelehkan itu logam dasar.


7

1.5 Ekspansi panas
Karakteristik ekspansi panas dari dua logam dasar yang berbeda dan
logam las adalah pertimbangan yang penting. Perbedaan besar dalam
koefisien ekspansi panas dari logam yang berdekatan selama pendinginan
akan menginduksi tegangan tarik mungkin retak panas selama pengelasan,
atau mungkin retak dingin dalam perlakuannya kecuali tekanan yang
dibebaskan secara termal atau mekanis.

Koefisien ekspansi panas linier tersebut, , dapat didefinisikan sebagai
perubahan dalam regangan,

, sehubungan dengan perubahan dalam


temperatur, , atau


Ini adalah properti karakteristik dari setiap paduan. Hal ini lebih sering
digambarkan sebagai:


Dimana perubahan panjang melalui panjang aslinya, , merupakan
perubahan regangan,

.
Tekanan, , dalam zona panas yang dilakukan dari salah satu logam
yang terkait dengan antarmuka logam yang berbeda dapat diperkirakan
dengan menggunakan persamaan berikut:

di mana:
E adalah adalah modulus elastisitas dari logam itu.

adalah perbedaan linier koefisien ekspansi panas antara dua logam.


Perbedaan atau ketidakcocokan dalam koefisien ekspansi panas antara
logam didalam sebuah procedure penyambungan logam yang berbeda
menegaskan pada sambungan. Faktor ini sangat penting dalam sambungan
yang akan beroperasi pada cara menaikkan suhu. Sebuah contoh umum dari
hal ini adalah austenitic stainless steel hingga feritic baja transisi sambungan
pipa digunakan dalam pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
8

Secara ideal, koefisien ekspansi panas linier dari logam las harus di
tengah antara logam-logam dari logam dasar, terutama jika perbedaan antara
logam-logam dari dua logam dasar besar. Jika perbedaannya kecil, logam las
mungkin memiliki koefisien ekspansi setara dengan salah satu logam dasar.
Pengenceran pada logam deposite dapat mempengaruhi koefisien
ekspansi. Misalnya, cairan nikel murni dengan tembaga cenderung
meningkatkan koefisien ekspansi panas, tetapi pengenceran dengan jumlah
tertentu dari besi, kromium, atau molibdenum cenderung menguranginya.

1.6 Perlakuan Preheat dan Postheat
Pemilihan suatu preheat yang sesuai atau perlakuan panas postweld
untuk sambungan las dapat menimbulkan masalah dengan beberapa
kombinasi logam yang berbeda. Mengelas paduan yang membutuhkan
preheat pada lain paduan yang tidak dapat dilakukan jika preheat dapat
sendiri diaplikasikan ke sisi yang tepat dari sambungan.
Persyaratan perlakuan panas postweld untuk sambungan logam yang
berbeda dapat menimbulkan tantangan bagi perancang. Perlakuan panas yang
tepat untuk salah satu komponen weldment mungkin dapat merugikan pada
komponen lain untuk kondisi servis yang dimaksudkan. Misalnya, jika usia
yang keras memungkinkan nockel-kromium paduan dilas ke baja stainless
austenitic paparan nonstabilized, dari weldment untuk perlakuan umur bagi
paduan nikel-kromium akan sensitifitas stainless steel dan menurunkan
ketahanan terhadap korosi intergranular.

1.7 Pertimbangan Lain Pada Pengelasan
Pengaruh Magnetik
Medan magnet, baik induksi atau permanen, bisa berinteraksi dengan
busur dc atau berkas elektron untuk menghasilkan medan gaya yang
menyebabkan defleksi busur las atau berkas elektron, pukulan busur, defleksi
balok, atau transfer logam yang mungkin terpengaruh oleh kekuatan dari
medan magnet. Fluks magnetik dapat dihasilkan oleh aliran arus pengelasan
9

pada satu atau kedua komponen, magnetisme sisa, atau suatu sumber
eksternal dekatnya.
Bila hanya salah satu logam yang dilas merupakan feromagnetik, busur
dc atau berkas elektron dapat dibelokkan ke arah sisi sambungan. Suatu
jumlah yang berlebihan dari logam yang dapat mencair, mengakibatkan
pengenceran berlebihan. Juga, mungkin ada perpaduan lengkap pada akar las.
Perilaku tersebut dapat terjadi ketika pengelasan baja karbon untuk paduan
nikel dasar. Sinar arc atau elektron dibelokkan ke sisi sambungan baja kecuali
jika tindakan pencegahan khusus diambil untuk mengimbangi efek magnetik.
Defleksi magnetik tidak ada masalah dengan busur ac. Defleksi balok dapat
digunakan dengan pengelasan berkas elektron.
Interaksi Logam Las Logam Dasar
Penetrasi logam las ke dalam batas butiran di daerah yang terkena panas
dari logam dasar dapat terjadi dalam sistem paduan tertentu. Hasilnya
mungkin akan retak intergranular di daerah yang terkena panas. Biasanya,
kecenderungan ini diatur oleh hukum embrittlement logam cair. Misalnya,
tembaga yang kaya akan logam las cair yang dapat menembus batas butiran
baja karbon selama pengelasan. Tingkat penetrasi dapat lebih besar ketika
logam dasar diproses pemanasan awal atau di bawah tegangan tarik, atau
keduanya.
Desain Sambungan
Ketika merancang butt gabungan antara logam yang berbeda,
pertimbangan harus diberikan dengan karakteristik leleh masing-masing
logam dasar dan logam pengisi, serta efek pengenceran. Alur yang besar
menurunkan pengenceran, memungkinkan kontrol yang lebih baik dari logam
lasan kental, dan memberikan ruang untuk memanipulasi yang lebih baik dari
busur untuk fusi yang baik.
Desain sambungan terutama harus menyediakan untuk pengenceran
yang sesuai pada lewatan yang pertama diletakkan di sambungan ketika
pengelasan dari satu sisi. Pengenceran yang tidak tepat dapat mengakibatkan
lapisan logam lasan memiliki sifat mekanik lengkungan yang tidak pantas
untuk layanan yang dimaksudkan, terutama ketika sambungan akan
10

mengekspos ke tekanan siklus. Ketika pengelasan dari kedua belah pihak,
Mencungkil punggung dari las yang pertama dapat memberikan kontrol yang
lebih baik dari pengenceran di dalam lewatan yang hanya sedikit pertama
lasan kedua.





















11

BAB 2
SERVICE CONSIDERATIO

2.1 Sifat fisik dan mekanik
Sambungan pencairan logam yang berbeda biasanya berisi Las logam
memiliki komposisi yang berbeda dari salah satu atau kedua logam dasar.
Sifat dari logam Las tergantung pada komposisi logam pengisi, prosedur
pengelasan dan pengenceran relatif dengan setiap logam dasar. Ada juga dua
berbeda zona yang terkena panas, satu di setiap logam dasar yang berdekatan
dengan logam las. Sifat-sifat fisik dan mekanik dari logam Las serta mereka
dua zona yang terkena panas harus dipertimbangkan untuk layanan
dimaksudkan.
Pertimbangan khusus umumnya diberikan ke berbeda sambungan logam
yang dimaksudkan untuk suhu yang ditinggikan. Situasi yang
menguntungkan ada ketika sambungan akan beroperasi pada suhu konstan.
Selama peningkatan suhu, tekanan internal dapat dikurangi dengan relaksasi
dan mencapai kesetimbangan.
Namun, lebih baik untuk mengurangi efek dari perbedaan besar dalam
koefisien ekspansi termal ketika fluktuasi suhu yang besar tidak dapat
dihindari dalam pengerjaan. Masalah dapat dihindari dengan memilih logam
dasar dengan karakteristik serupa ekspansi termal. Jika ini tidak layak
alternatif adalah untuk menempatkan logam ketiga antara dua logam dasar.
Logam ketiga ini harus memiliki karakteristik ekspansi termal menengah
dengan dua lainya. Pertimbangan serupa dapat diterapkan dalam pemilihan
logam pengisi. Jika mungkin, pengelasan logam yang berbeda harus terletak
di daerah tekanan rendah karena mungkin efek aditif termal disebabkan
tekanan kepada orang-orang yang dihasilkan oleh beban eksternal
Sifat-sifat metalurgi berbagai berbeda daerah sambungan las sangat
penting ketika sambungan akan melihat suhu siklik. Sifat-sifat tersebut
mencakup koefisien ekspansi termal, modulus elastis, menghasilkan kekuatan
dan karakteristik propagasi retak. Ketika mengalami suhu siklik Layanan.,
perbedaan dalam sifat-sifat dua logam dasar dan logam Las dapat
12

menyebabkan fluktuasi tekanan dalam zona yang terkena panas dan
berdekatan dengan Las logam. Retak mungkin mengembangkan sebagai
akibat kelelahan logam, dan menyebabkan kegagalan awal sambungan.
Service life di bawah kondisi suhu siklik akan tergantung pada kemampuan
logam untuk menolak retak serta retak propagasi.
Karena berbagai properti logam berubah dengan suhu, sulit untuk secara
matematis memprediksi perilaku Las logam berbeda bersama dalam
pengerjaan. perputaran termal dari sampel pengelasan diikuti oleh mekanik
dan metalurgi evaluasi dapat memberikan informasi tentang kinerja layanan
yang diharapkan.

2.2 Stabilitas mikrostruktur
Ada seperti kap gradien komposisi kimia yang signifikan di Las logam,
terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan logam dasar. Selain itu,
operasi pada suhu yang tinggi dapat menyebabkan interdiffusion antara
logam Las dan logam dasar, yang pada gilirannya, mengakibatkan perubahan
microstructural. sambungan antara dua logam yang berbeda memiliki variasi
dalam atom konsentrasi dan aktivitas di pengelasan. Gradien kegiatan ini
dapat ditafsirkan dalam hal kimia gradien potensial yang dapat
mengakibatkan difusi atom dengan atau melawan gradien konsentrasi dalam
multi-komponen paduan. Dengan demikian, sulit untuk memprediksi
dengan mutlak pasti dari data konsentrasi sendirian migrasi dari atom-
atom tertentu dalam sambungan logam berbeda selama layanan suhu
tinggi. Gerakan atom selama jangka waktu mengubah komposisi paduan
lokal dan menghasilkan perubahan dalam sifat-sifat fisik dan mekanik logam.
Las logam berbeda yang dibuat antara baja paduan rendah dan austenitic
stainless steel dengan logam pengisi austenitic stainless steel menggambarkan
masalah ini. Kandungan karbon rendah paduan baja umumnya lebih tinggi
daripada yang dari austenitic stainless steel weld metal. jumlah relative besar
karbida membentuk unsur-unsur, seperti kromium, baja cenderung untuk
menurunkan aktivitas kimia karbon. Hal ini menghasilkan gradien potensial
kimia yang besar untuk karbon difusi dari baja paduan rendah untuk stainless
13

steel weld metal, yang dapat terjadi selama postweld perlakuan panas atau
selama layanan pada suhu yang tinggi. Sebagai akibatnya, decarburization
dan kadang-kadang pertumbuhan butir mengambil renda di zona yang terkena
panas dari baja paduan rendah yang menurunkan sifat mekanik. Pada saat
yang sama, berdekatan stainless steel weld logam adalah carburized, dan
kompleks karbida bentuk. Penumpukan karbida akan secara substansial
meningkatkan kekerasan logam Las di zona ini dan meningkatkan
kemungkinan retak.

2.3 Korosi dan Oksidasi
Logam Las dan logam dasar kedua memiliki perilaku tertentu korosi
yang harus dipertimbangkan oleh perancang dalam pemilihan bahan awal.
Sebagai contoh, fakta bahwa sensitisasi tertentu austenic stainless steels
menaikkan korosi di lingkungan tertentu adalah perhatian penting di
pengelasan melibatkan baja tersebut, terutama ketika logam pengisi juga
austenitic stainless steel.
Dengan pengelasan logam yang berbeda, pembentukan sel-sel galvanik
dapat menyebabkan korosi logam paling anodic atau tahap dalam sambungan.
Juga logam Las biasanya terdiri dari beberapa fase microstructural, dan sel-
sel yang membatasi antara fase dapat mengakibatkan galvanic corrosion di
tingkat microstructural. Untuk meminimalkan galvanic corrosion komposisi
logam Las dapat disesuaikan untuk memberikan proteksi katodik untuk
logam dasar yang paling rentan terhadap serangan galvanic. Namun,
persyaratan desain lainnya harus tidak serius dikompromikan untuk
melakukan hal ini. Sebaliknya, beberapa bentuk perlindungan harus
digunakan.
Sel galvanik yang terkait dengan kekuatan baja tinggi dapat menaikkan
penggetasan hidrogen di zona yang terkena panas baja bahwa jika katoda dari
sel. Penggetasan hidrogen harus dipertimbangkan jika suhu Las akan berada
di kisaran - 40 t0 200F, dan Las akan di daerah tegangan yg tinggi. Tegangan
sisa berkembang dalam zona las sering cukup untuk menaikkan penggetasan
hidrogen dan tegangan korosi.

14

Perbedaan komposisi kimia di Las logam berbeda juga dapat
menyebabkan suhu tinggi masalah korosi. Komposisi variasi menghubungkan
antara logam yang berbeda dapat menyebabkan oksidasi selektif ketika
beroperasi pada suhu yang tinggi di udara dan pembentukan takik di lokasi
ini. Takik seperti berpotensi stres pengibar dalam sambungan dan
menyebabkan tegangan-oksidasi kerusakan sepanjang antarmuka mengelas
kondisi termal siklik.
Jika daya tahan Las logam berbeda untuk lingkungan yang korosif
tertentu tidak pasti, mempercepat pengujian korosi harus digunakan untuk
memprediksi estimasi pada sambungan yang dianjurkan. diterima prosedur
pengujian korosi ditentukan dalam berbagai publikasi ASTM dan NACE.

2.4 Pemilihan Logam Pengisi
Persyaratan
Pilihan logam pengisi yg cocok merupakan faktor penting dalam
memproduksi pengelasan logam yang berbeda dengan hasil yang baik dalam
pekerjaan. Satu tujuan untuk pengelasan logam yang berbeda adalah untuk
meminimalkan hal yang tidak diinginkan metalurgi interaksi diantara logam.
Logam pengisi harus kompatibel dengan kedua logam dasar, dan juga mampu
menjadi dengan deposit minimal pengenceran. Idealnya, logam pengisi harus
memberikan pada weld joint yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
Verifikasi akan keutuhan. Logam pengisi harus mampu beberapa
pengenceran dengan logam dasar tanpa membentuk retak-sensitif pd logam
las. itu tidak harus menyebabkan kekurangan, seperti porositas atau inklusi, di
dalam Las logam.
Stabilitas struktural. Resultan Las logam harus tetap struktural stabil
pada kondisi Layanan desain.
Sifat fisik. Sifat-sifat fisik logam las harus kompatibel dengan kedua
logam dasar. Koefisien ekspansi termal sangat penting terhadap tekanan
internal selama suhu siklik. Koefisien ekspansi termal logam las harus
menjadi penengah diantara logam dasar. Pertimbangan yang sama harus
15

diberikan untuk konduktivitas termal dan listrik ketika ini adalah persyaratan
penting desain.
Sifat mekanik. Logam las harus setidaknya kuat dan elastis sebagai
yang lebih lemah dari basemetal dibawah kondisi pekerjaan.
Sifat korosi. Ketahanan korosi logam las harus sama atau melebihi
hambatan dari kedua logam dasar untuk menghindari serangan preferensial
dalam sambungan las. Hal ini berlaku untuk korosi, oksidasi suhu tinggi dan
penggetasan dari belerang, fosfor, timah, atau logam mencair rendah lain.

2.5 Kriteria Seleksi
Dua kriteria penting yang harus ditentukan pilihan logam pengisi yg
tepat untuk pengelasan logam berbeda adalah sebagai berikut:
(1) Logam pengisi harus memberikan persyaratan bentuk sambungan,
seperti sifat mekanik atau ketahanan korosi.
(2) Logam pengisi harus memenuhi kriteria weldability berkenaan dg
pencairan , suhu mencair, dan persyaratan fisik properti lain dari
pengelasan.
Selain di atas, saran berikut juga harus dipertimbangkan:
(1). Filer logam harus menjadi salah satu yang biasanya
direkomendasikan untuk pengelasan logam yg memiliki suhu leleh
lebih rendah ketika perbedaan antara suhu mencair logam dasar
adalah jauh. Selama pengelasan cocok dg logam pengisi yang akan
difusikan dengan base metal. Logam cair pengisi juga harus leleh
dan di ikat ke permukaan bagian lain dalam cara yang mirip braze
welding. Jika logam pengisi mencair tinggi secara tidak sengaja,
pencairan dari low melting base metal kemungkinan akan berlebihan.
(2) Logam pengisi harus memiliki cukup keuletan untuk mentolerir
tekanan yang disebabkan oleh perubahan suhu karena perbedaan
karakteristik ekspansi termal logam yang berbeda. Sebagai contoh,
beberapa nikel paduan logam pengisi sangat elastis, dan dapat
mentolerir pengenceran oleh logam dasar tertentu tanpa retak atau
menderita penurunan yang signifikan dalam sifat mekanik.
16

(3) Logam pengisi harus rendah unsur interstisial karbon, oksigen,
hidrogen dan nitrogen. Pengisi umumnya akan lebih elastis, lebih
stabil dan kurang rentan untuk panas retak daripada logam pengisi
serupa yang memiliki kandungan elemen interstisial tinggi.
Secara komersial elektroda yang tersedia dan pengelasan batang harus
dievaluasi pertama untuk pengelasan logam berbeda aplikasi karena ekonomi
dan ketersediaan. Jika logam pengisi standar tidak cocok, kelayakan khusus
menggunakan metal-cored elektrodes, diubah elektroda tertutup, batang
pengelasan stranded-wire harus diselidiki.

2.6 Pemilihan Proses Pengelasan
Memilih proses pengelasan untuk membuat pengelasan logam berbeda
hampir sama pentingnya memilih logam pengisi tepat. Kedalaman fusi logam
dasar dan pencairan yg dihasilkan mungkin berbeda dengan proses
pengelasan yang berbeda dan teknik.
Hal ini tidak biasa dengan metal arc welding untuk logam pengisi
menjadi dicairkan hingga 30 persen dengan logam dasar. banyaknya
pencairan dapat dimodifikasi agak dengan menyesuaikan teknik pengelasan.
Sebagai contoh, elektroda dapat dimanipulasi sehingga mengenai busur
terutama pada jam sebelumnya deposit Las logam. Tingkat pengenceran
dapat disimpan di bawah 25 persen dengan teknik ini. Namun, penguatan
manik-manik mengelas akan tinggi, tetapi tidak selalu diterima. Apakah
pengenceran dari satu logam dasar kurang merusak daripada dari yang lain,
busur harus diarahkan logam itu. Teknik ini juga berlaku pada gas tungsten
arc welding.
Pencairan dengan pengelasan busur logam gas dapat berkisar dari 10
sampai 50 persen tergantung pada jenis logam transfer dan menggerakkan
alat pengelasan. Spray transfer memberikan pecairan terbesar, dan short-
circuiting transfer yang paling sedikit pencairanya. Penetrasi dengan submerged
arc welding yang lebih besar, tergantung pada polaritas, dan dapat
mengakibatkan pencairan lebih.

17

Narrow welds (tinggi rasio kedalaman di-lebar) dapat menghasilkan
sinar elektron dan pengelasan sinar laser. kepadatan yg tinggi dapat
memberikan sambungan pengelasan dengan minimum peleburan logam. Jika
logam pengisi memerlukan, interlayer in tightly-fitted, square-groove, atau
logam pengisi dapat ditambahkan dengan in auxilary wire feed device.
Terlepas dari proses, pencairan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain,
termasuk bentuk sambungan dan kecocokan. selalu yang terbaik memiliki
minimal pencairan yg sama sepanjang sambungan. variasi dalam pencairan
dapat menghasilkan properti sambungan tidak konsisten.






















18

BAB 3
SPESIFIC DISIMILAR METAL COMBINATION


3.1 STAINLESS STEEL TO CARBON OR ALLOY STEEL
Austenitic, feritic atau martensitic stainless steel dapat secara mudah di
las dengan karbon atau baja paduan rendah menggunakan bahan tambah yang
dapat meleburkan kedua buah metal tanpa adanya cacat pada sambungannya.
Bahan tambah dari austenitic steel atau nickel alloy adalah jenis bahan
tambah yang sering digunakan, pilihan tersebut tergantung pada kondisi dan
aplikasinya.
Austenitic Stainless Steel Filler Metal
Jenis-jenis bahan tambah austenitic stainless steel dapat kita lihat
berdasarkan pada spesifikasi AWS A5.4-81, A5.9-81, dan A5.22-80.
Perubahan fasa mikrostruktur pada deposit metal menggunakan beberapa
bahan tambah berjenis autenitic stainless steel ini ditunjukkan oleh diagram
Schaeffler di bawah ini.

Gambar 3.1 Posisi logam las Stainless Steel pada diagram Scaeffler
19

Pada beberapa kasus, struktur-mikronya adalah sepenuhnya austenitic. Di
kasus yang lain, stuktur mikronya akan terdapat delta ferit yang jumlahnya
tergantung pada komposisi campuran.
Tipe ER 16-8-2 adalah jenis bahan tambah yang di sarankan untuk
pengelasan sistem pipa stanless steel bertemperatur tinggi, tetapi
ketahanan terhadap korosi tidak sebaik jenis stainless steel 316. Jika hasil
pengelasan membutuhkan ketahan korosi yang kuat maka lapisan terluar
lasan harus menggunakan bahan tambah dengan ketahanan korosi yang
lebih tinggi.
Nickel Alloy Filler Metal
Bahan tambah dari nickel alloy juga digunakan untuk mengelas
antara baja stainless dengan baja karbon atau dengan baja paduan rendah.
Jenis bahan tambah yang direkomendasikan adalah tipe EniCrFe-2 atau -4
dan tipe ERNiCr-3, tetapi penggunaan bahan tambah dari nickel alloy tipe
lain juga cocok digunakan dalam aplikasi ini. Sebagai contoh
menyambung dua buah material tipe 304 stainless stell dengan mild steel,
pertama menggunakan bahan tambah tipe ERNiMo-3 sedangkan yang
kedua menggunakan tipe 67Ni-16Cr-15Mo-2Co (Hastelloy). Kedua bahan
tambah nickel alloy tersebut menghasilkan keuletan yang baik.
Service Considerations
Gambar di bawah ini menunjukkan koefisiensi linear thermal
expansion

Gambar koefisien thermal expansion
20

Koefisien thermal expansion dari baja 2-1/4Cr-1Mo adalah 25
persen lebih rendah dibandingakan tipe 304 dan 316 austenitic stainless
steel. Dalam beberapa aplikasi, peralihan sambungan antara austenitic
stainless steel dengan baja paduan rendah menunjukkan banyak perubahan
temperatur selama pengerjaan. Dalam perbedaan temperatur ini, tegangan
yang akan terjadi sebanding dengan perbedaan koefisien thermal
expansion. Hal in berarti, jika perbedaan koefisien thermal expansion
tinggi, maka tegangan yang akan terjadi pada sambungan las tersebut juga
akan tinggi, dan tegangan yang tinggi akan memperbesar peluang
terjadinya retak.
Pengalaman yang terjadi pada peralihan sambungan untuk
pengelasan berbeda material menunjukkan sedikit kegagalan. Kebanyakan
kegagalan peralihan sambungan austenitic ke baja feritic terjadi pada
daerah HAZ feritic steel, seperti terlihat pada gambar berikut,
Gambar 3.3 Bentuk retakan pada sambungan logam las austenitic
stanless steel (kanan) dan bahan dasar feritic steel (kiri)
Kegagalan ini umumnya terjadi karena salah satu atau lebih dari
penyebab berikut:
1. Tegangan tinggi yang terjadi akibat adanya perbedaan koefisien
thermal expansion antara logam las dengan base metal
21

2. Perpindahan karbon dari feritic steel ke stainless steel, yang
mengakibatkan melemahannya HAZ pada feritic steel.
3. Adanya oksidasi pada sambungan, yang dipercepat oleh
kehadiran tegangan.
3.1.1 Austenitic Stainless Steel to Steel
Memilih bahan tambah adalah tahapan penting dalam
mendesain sambungan las antara baja karbon atau baja paduan rendah
dengan austenitic stainless steel. Pemilihan ini tergantung pada
kondisi hasil las yang diharapkan dan peleburan komposisi pada
daerah lasan.
Pengerjaan temperatur sedang
Untuk pengerjaan dengan suhu di bawah 800
0
F, bahan tambah
yang biasanya digunakan adalah austenitic stainless steel. Bahan
tambah tipe Ni-Cr-Fe juga cocok, tetap membutuhkan biaya yang
lebih mahal untuk pengerjaannya.
Dalam pemilihan bahan tambah berupa austenitic stainless steel untuk
menyambung material dengan perbedaan jenis membutuhkan
perkiraan komposisi hasil lasan dan struktur mikro setelah peleburan
dengan bahan dasar.
Pertimbangan perencanaan sambungan
Ketika penyambungan peralihan antara baja karbon atau baja
paduan rendah dengan austenitic stainless steel diperlukan. Ada
beberapa pertimbangan yaang harus diberlakukan selama tahapan
perencanaan dalam upaya untuk menghasilkan sambungan yang tahan
lama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa munculnya
tegangan yang besar pada penyambungan disimilar metal dikarenakan
adanya hasil perbedaan koefisien thermal expansion yang besar pula.
Oleh sebab itu tegangan yang lain pada sambungan las harus dijaga
agar tetap rendah. Beban luar pada sambungan harus di minimalkan
dengan cara membentuk sambungan dan penempatan yang baik.
Perencaanan desain sambungan alternatif adalah dengan
menempatkan third base metal diantara austenitic stainless steel
22

dengan baja karbon atau baja paduan rendah. Third base metal harus
memiliki koefisien thermal expansion yang berada ditengah-tengah
koefisien dari kedua material yang di sambung.

Gambar cara menyambung dengan third metal
Iron nickel chromium alloy seperti 46Fe-32.5Ni-21Cr (UNS
N08800) atau 43Fe-36Ni-19Cr (UNS N08330) adalah material yang
cocok digunakan sebagai third base material. Kelemahan jika kita
menggunakan third base material maka membutuhkan 2 jenis bahan
tambah yang berbeda. Ketika Fe-Ni Cr digunakan sebagai third base
material, bahan tambah tipe ERNiCr-3 digunakan untuk mengelas
dengan baja paduan Cr-Mo. Untuk mengelas dengan austenitic
stainless steel menggunakan bahan tambah yang di sarankan dari tipe
austenitic stainless steel juga.
3.1.2 Chromium Stainless Steel to Steel
Pemilihan bahan tambah untuk sambungan antara chromium
stanless steel (seri 4xx) dengan baja karbon atau baja paduan rendah
dapat ditentukan oleh beberapa aturan dibawah ini:
1. Untuk pengelasan hardenable chromium steel dengan material
lain yang mempunyai kandungan chrom yang lebih tinggi,
penggunaan bahan tambah yang digunakan biasanya mempunyai
kandungan yang sama dari kedua material yang akan di las.
2. Aturan umum dalam mengelas segala chromium steel dengan
segala baja paduan rendah adalah menggunakan bahan tambah
yang mempunyai komposisi yang sama dengan baja paduan
rendah , asalkan hal tersebut sesuai dengan pengerjaan yang
23

diperlukan. Dengan menggunakan bahan tambah dari baja paduan
rendah, chromium yang terangkat oleh peleburan dengan
chromium steel base metal harus diperhatikan.
3. Untuk pengelasan segala chromium steel dengan carbon steel,
bahan tambah yang mungkin digunakan adalah dari carbon steel.
Bahan tambah dari chromium steel juga dapat digunakan sebagai
alternatif, tetapi lebih baik menggunakan bahan tambah yang
mempunyai kekerasan lebih sedikit.
4. Bahan tambah dari austenitic stainless steel dapan digunakan
untuk mengelas chromium steel dengan chromium steel yang lain
atau dengan baja yang lain, asalkan material tersebut tidak
digunakan dalam bejana tekan.
Gambar cara mengelas antara stainless steel dengan baja carbon
24

3.2 NICKEL AND COBALT ALLOYS TO STEEL
3.2.1 Nickel Alloys to Steel
Nickel alloys dapat dengan mudah di las dengan baja
menggunakan filler yang sesuai dan kontrol peleburan yang benar.
Umumnya menggunakan nickel filler metal karena mempunyai
keuletan yang baik dan toleransi iron dilution.
Sulfur dan fosfor pada nickel dan nickel alloys menyebabkan
retak panas. Penggunaan teknik pelelehan yang tepat harus dilakukan
dalam upaya menjaga agar kadungan elemen ini berada dibawah level.
Iron dilution. Kebanyakan logam las nickel alloy dapat
menerima banyak iron dilution tetapi hal tersebut terbatas sesuai
dengan proses pengelasan yang digunakan, dan kadang menggunakan
proses heat treatment. Gambar dibawah ini menunnjukan batasan-
batasan iron dilution untuk empat tipe logam las. Batasan in mengacu
pada pengalaman dari pada metalurgi.

Gambar iron dilution
Logam las yang terdeposit oleh elektroda terbungkus dari jenis
nickel atau nickel chromium dapat mentoleransi kira-kira 40 persen
iron dilution. Dari sisi lain, iron dilution harus dibatasi kira-kira 25
persen ketika menggunakan bare elektrode dari jenis nickel atau
nickel chromium.
Batasan persentase iron dilution ini bermacam-macam tergantung
dari proses pengelasannya. Ketika menggunakan proses las dengan
pelindung gas, logam las nickel-copper mempunyai toleransi yang
25

terkecil, khususnya jika pengelasan tersebut digunakan untuk
thermally stress-relieved. Untuk mengatasi keterbatasan ini,
pengelasan dengan cara buttering layer menggunakan nickel atau
nickel-coper pada permukaan baja yang akan di las.
Chromium dilution. Gambar ... menunjukkan batasan-batasan
dilution yang harus dikontrol ketika mengelas nickel alloy. Total
chromium dilution untuk nickel harus tidak melebihi 30 persen.
Sedangkan untuk nickel-copper weld metal mempunyai toleransi
untuk chromium sebesar 8 persen, jadi seharusnya untuk mengelas
antara nickel-copper alloys dengan stainless steel tidak menggunakan
filler dari nickel alloy.

Gambar chromium dilution
Silicon dilution. Silicon dilution pada nickel chromium juga
harus deperhatikan, khususnya apabila salah satu atau kedua
komponen adalah castings. Total silicon dilution pada logam las harus
tidak melebihi 0,75 persen.
Filler metal. Filler metal yang disarankan untuk mengelas
nockel alloys dengan stainless steel ada pada tabel
Mechanical properties. Tegangan tarik pada sambungan las
antara nickel alloys dengan steel ada pada tabel berikut.
26


Tabel mechanical properties


Tabel filler metal

27

3.2.2 Cobalt Alloys to Steels
Kebanyakan cobalt alloys terdiri antara 10-20 persen nickel,
20-30 persen chromium, dan 2-15 persen molybdenum, atau keduanya.
Secara metalurgi, mereka mempunyai persamaan dengan high
temperature nicke-chromium alloys. Ketika menyambung cobalt alloy
dengan stainleess steel, filler metal yang derekomendasikan adalah
yang mempunyai komposisi yang mirip dengan cobalt alloys. Filler
metal dari nickel alloys juga digunakan untuk pengerjaan ini. Dalam
beberapa kasus, pemilihan filler, proses pengelasan, dan prosedur
pengelasan harus ditetapkan oleh tes yang sesuai. Gambar dibawah
menunjukkan dua hasil las antara cobalt base alloy dengan iron base,
high temperature alloy dibuat dengan dua filler nickel alloy yang
berbeda.


3.3 COPPER ALOYS TO STEEL
Copper dan iron bercampur sempurna pada tahapan cair tetapi
mempunyai batasan kesamaan pada tahapan padat. Kebanyakan copper-iron
alloy menghasilkan dua fase padat. Tidak adanya kekakuan pada
campuran/senyawa thermal adalah keuntungan pada proses kemampuan
28

untuk di las. Akan tetapi, dua fase tadi dapat mengarahkan pada masalah
korosi untuk beberapa pengerjaan.
Iron dilution dapat dikurangi dengan penggunaan proses las yang tepat
atau penempatan lapisan buttering nickel pada baja secara tepat. GTAW
dan SMAW adalah proses pengelasan yang lebih baik dari pada GMAW
karena mempunyai kontrol penetrasi yang baik, pada sistem copper-iron
alloys yang besar mempunyai proses pembekuan yang luas. Sehingga, retak
panas biasanya terjadi pada logam las.
Aktivitas permukaan copper pada iron sangat tinggi. Lelehan copper
akan menyerang iron selama pembentukan grain boundaries, dan
menghasilkan retak panas atau celah pada daerah HAZ.
3.3.1 Copper
Copper akan bercampur dengan nickel di semua bagian untuk
menghasilkan satu fasa tunggal. Bagian dari copper dapat di buttered
dengan filler dari nickel untuk menghasilkan permukaan sambungan
dengan nickel yang tinggi. Kemudian, permukaan nickel tadi dapat di
las pada carbon atau stainlees steel menggunakan teknik dan filler
yang sesuai. Pada bagian copper harus di preheat pada suhu 400
0
-
1000
0
F tergantung pada ketebalan material. Copper dapat di las
langsung pada baja dengan filler metal silicon bronze (CuSi-A) atau
aluminum bronze (CuAl-Ax) menggunakan salah satu proses las.
Preheating pada copper mungkin juga diperlukan. Dalam kasus ini
kontrol dilution pada steel sangat penting.
3.3.2 Copper nickel alloys
Gambar .... menunjukkan komposisi logam las pada sistem
coppir-nickel-iron alloy yang menunjukkan tidak adanya retak panas.
Dilution dari filler metal copper-nickel dengan iron atau cromium atau
keduanya harus tidak melebihi 5 persen (lihat gambar ). Batasan ini
umumnya diterapkan juga pada filler metal dari copper yang lain.
Copper nickel alloys yang disambung dengan carbon steel terkadang
digunakan pada pengerjaan kelautan. Salah satu cara
penyambungannya adalah mem-buttering permukaan baja dengan
29

filler metal dari nickel atau nickel-copper tergantung pekerjaan yang
diminta. Preheat harus tidak melebihi 150
0
F.

Cara lain adalah mem-buttering logam copper-nickel alloy dengan
filler metal dari nickel dan kemudian di las menggunakan filler metal
yang sama.
3.3.3 Aluminum bronze
Aluminum bronze dapat disambung pada cabon dan stainless
steel dengan menggunakan filler metal dari aluminum bronze. Preheat
dan suhu interpas dibutuhkan, tergantung dari tipe baja yang akan di
las. Untuk baja karbon dan low alloy steel, preheat harus pada suhu
antara 300
0
-500
0
F, tergantung pada kekerasan baja yang akan di las.
Untuk stainless steel, suhu preheat harus tidak melebihi 150
0
F.
Baja haruslah bersih dan bebas dari oksida. Dengan pengelasan
multiple pas, urutan sambungan menggunakan manik-manik
pengelupas dapat membantu kontrol dilusi pada baja. Dalam hal ini
direkomendasikan menggunakan proses las GTAW dengan arus AC,
karena dapat melakukan proses cleaning action dengan baik.
3.3.4 Brass
Low-zinc brazzes dapat di las pada baja. Konten zinc pada
brass harus 20 persen atau lebih rendah untuk meminimalkan asap dan
porosity pada lasan. Prosedur pengelasan yang digunakan sama pada
30

prosedur pengelasan untuk aluminum bronze. Baja tersebut harus di
buttering terlebih dahulu dengan filler metal dari copper-tin
menggunakan arus DCEN. Kemudian proses pengelasan selanjutnya
menggunakan filler yang sama dan menggunakan arus AC untuk
proses cleaning action. Preheat tidak selalu digunakan pada proses ini.

3.4 COPPER ALLOYS TO NICKEL ALLOYS
Ada beberapa aplikasi pengelasan untuk mengelasan copper dan
copper-nickel alloys dengan nickel dan nickel alloys, tetapi sangat sedikit
untuk brasses dan bronzes. Copper dan nickel sangat mudah mencair satu
sama lain, sehingga mengelas keduanya bukanlah masalah yang serius. Filler
metal dari copper-nickel, nickel-copper dan nickel tersedia. Logam las nickel-
copper mempunyai kekuatan minimal 40 persen lebih besar dari pada copper-
nickel atau nickel (secara berurutan 70, 50 dan 55 ksi).
Copper dan copper-nickel alloys dapat di las pada nickel atau nickel-
copper alloys dengan jenis filler keduanya, bisa menggunakan copper-nickel
atau nickel copper. Pada nickel dapat di buttering dengan filler nickel-copper,
kemudian sambungannya di las menggunakan copper-nickel. Jika dibutuhkan
sambungan yang lebih kuat, maka copper dapat di buttered dengan filler dari
copper-nickel, kemudian sambungannya di las menggunakan nickel-copper.
Direkomendasikan untuk menggunakan filler dari nickel untuk
menyambung antara copper atau copper-nickel alloys dengan nickel alloy
yang mempunyai kandungan cromium atau iron atau keduanya. Pada
permukaan copper atau copper-nickel yang akan di las di buttering terlebih
dahulu menggunakan filler dari nickel untuk menkontrol dilusi oleh copper .

3.5 ALUMINUM ALLOYS TO STEEL
Sangatlah tidak cocok jika melakukan pengelasan dengan cara
pelelehan pada iron dan aluminum. Perbedaan titik lebur keduanya sangatlah
tinggi yakni 1220
0
F untuk aluminum, sedangkan 2800
0
F untuk iron. Kedua
metal hampir tidak mampu melebur satu sama lain pada tahapan padat,
khususnya iron di dalam aluminum, dan beberapa dapat membentuk fase
31

brittle intermetalic yang berupa (FeAl
2,
Fe
2
L
3,
atau FeAl
3
). Hasilnya,
peleburan logam las pada penyambungan iron dan aluminum akan menjadi
rapuh. Ditambah lagi tegangan las yang tinggi akan muncul karena perbedaan
koefisien thermal expansion, thermal conductivity, dan specific heat.
Aluminum dapat disambung dengan carbon atau stainless steel
menggunakan brazing atau pengelasan, jika baja tersebut terlebih dahulu
dilapisi dengan metal yang sesuai dengan filler metal. Diantaranya adalah
aluminum, silver, tin dan zinc, tetapi aluminum adalah yang utama. Pelapisan
ini dapat diterapkan untuk membersihkan baja dengan cara mencelupkan baja
ke dalam kolam aluminum cair dengan suhu antara 1275
0
1300
0
F, dengan
atau tanpa flux. Baja tersebut juga dapat dilapisi aluminum dengan cara
electrodeposition atau dengan vapor deposition.
Setelah pembersihan, bagian baja yang telah terlapisi dapat disambung
pada bagian aluminum dengan menggunakan proses las GTAW dan filler
metal dari aluminum alloys. Busur las harus terkonsentrasi pada daerah
lapisan aluminum yang melapisi baja. Baja tersebut harus tidak boleh
dilelehkan
Kekuatan pada sambungan mengacu pada.
1. Logam yang digunakan untuk melapisi baja.
2. Ketebalan pelapis.
3. Kekuatan ikatan yang terdapat pada pelapis dan permukaan baja.
Desain sambungan juga mempengaruhi kekuatan las karena
menentukan luasan yang terkena las dan konsentrasi tegangan. Dalam kondisi
kontrol yang hati-hati, kekuatan sambungan sebesar 15 30 ksi dapat dicapai.
Secara eksperimental kekuatan optimal dapat dicapai ketika pada logam las
tidak terdapat brittle intermetalitic compounds dan kekuatan pelapisan pada
baja juga optimal.
Jumlah 3-5 persen silicon, copper, atau zinc pada aluminum filler
metal membantu membatasi ketebalan dari intermetalic layer antara daerah
fusi dan lapisan zinc pada galvanized steel.
Menggunakan teknik pengelasan electron beam dapat meminimalkan
jumlah intermetalitic compunds pada logam las dan juga mengkontrol
32

penyebaran lapisan tipis gas deposit aluminim pada baja. Perlakuan panas
dapat digunakan untuk memodifikasi komposisi dan struktur pada lapisan
deposit.
Ketika teknik pelapisan di gunakan untuk menghindari percampuran
antara aluminum dengan iron pada lasan. Temperatur pada sambungan harus
dibatasi untuk menghindari peleburan selama pengerjaan. Yang
mengakibatkan daerah las akan menjadi cepat getas. Temperatur pengerjaan
maksimal adalah 500
0
F, dengan pertimbangan keselamatan. Penyambungan
te rbaik antara aluminum dan steel adalah dengan pengelasan friction atau
explosion welding. Perpindahan

3.6 ALUMINUM ALLOYS TO NONFERROUS ALLOYS
Aluminum menyatu dengan kebanyakan logam nonferrous pada tahapan
cair, tetapi brittle intermetalitic compounds segera terbentuk pada tahapan
padat. Brittle compounds ini membatasi kemampuan fusion welding untuk
menyambung antara aluminum dengan logam lain.
Untuk menyambung antara aluminum dengan copper. Melapisi
permukaan copper dengan silver atau silver alloy dapat dilakukan untuk
mengelas pada aluminum. Selanjutnya pengelasa dilakukan tanpa adanya
penetrasi yang melewati lapisan silver

3.7 TITANIUM ALLOYS TO OTHER METAL
Titanium secara terus menerus membentuk serangkaian larutan padat
dari columbium, molibdenum, tantalum, vanadium, dan zirconium. Empat
unsur pertama menstabilkan tahap beta. Meskipun bukan merupakan suatu
hal yang penting, fusion welding dari titanium berlaku untuk columbium,
tantalum, vanadium, atau paduan zirconium. Karena sifat kerapuhan yang
melekat pada molibdenum rekristalisasi, diperlukan teknik khusus untuk
mengelas titanium pada suatu logam.
Karena vanadium mempunyai sifat kompatibel yang baik terhadap
titanium dan besi, maka memiliki potensi sebagai interlayer atau filler metal
untuk welding titanium ke baja. Resistance spot welding antara titanium dan
33

low-carbon steel atau tipe 302 jenis lembaran stainless steel menggunakan
interlayer vanadium mungkin akan memeiliki shear strength yang cocok
untuk beberapa aplikasi, fusi yang dihasilkan tidak memperpanjang melalui
lapisan vanadium.
Titanium merupakan metallurgi yang compatible dengan columbium,
dan sebagian besar paduan logam dapat dilas dengan teknik fusion untuk
menghasilkan kekuatan ulet pada join. Untuk alasan ini, columbium dapat
digunakan sebagai perantara untuk menyatu dengan logam titanium pada non-
ferrous. Misalnya, titanium di joint dengan paduan nickel dengan
menggunakan sepotong transisi columbium dan paduan tembaga. Pembuatan
joint mirip dengan prosses electron beam welding yang terbukti sukses dalam
lembar yang mempunyai ketebalan hingga 0,080 inch.
Tembaga dan titanium sulit untuk dilas bersam-sama. Dua pendekatan
umum telah dicoba. Sifat yang diinginkan dapat diperoleh ketika dua logam
di joint dengan lapisan menengah columbium oleh proses gas tungsten arc
welding. Pendekatan lain adalah untuk mengengambil keuntungan dari
kelarutan titanium beta untuk tembaga. Gas tungsten arc welding antara dua
paduan beta-titanium (Ti-30Cb dan Ti-3AL-6, 5Mo-11Cr) dan tembaga
menunjukkan kekuatan ductilitas yang baik.
Fusion welding titanium dengan aluminum menunjukkan beberapa
masalah yang mengacu pada perbedaan titik lebur dan brittle intermetalic
compounds yang terbentuk. Braze welding aluminum dengan titanium
menggunakan filler metal dari aluminum dapat membentuk lapisan yang
minim brittle intermetalitic compounds atar permukaan aluminum-titanium.
Sebagai contoh dengan sambungan lap, manik-manik las akan terbentuk pada
lembaran titanium yang di penetrasi menggunakan GTAW. Lapisan
aluminum yang berada di bawah akan ikut meleleh karena panas yang
terkonduksi dari titanium.
34


























35

BAB 4
WELDING CLAD STEEL


4.1 CLAD STEEL
Pipa atau plate dari carbon steel atau low alloy steel dapat dilakukan
pelapisan dengan logam lain atau pun campuran logam lainnya untuk
mendapatkan keuntungan dari segi ketahanan korosi dan ketahanan dari
abrasi. Karena itu dibandingkan dengan baja, logam cladding lebih mahal.
Logam cladding mungkin chromium stainless steel, austenitic stainless
steel, copper atau copper alloy, nickel or nickel alloy, silver atau titanium.
Penerapan cladding pada baja dapat dilakukan dengan cara rolling hot,
explosion welding, surfacing ( welding ), atau brazing. Ketebalan cladding
dapat bervariasi dari 5 sampai 50 persen dari total ketebalan, tetapi secara
umum, 10 sampai 20 persen untuk sebagian besar aplikasi. Ketebalan praktis
minimum adalah sekitar 0,06 inch.
Kedua bagian clad harus menjadi bagian yang integral dari structure.
Tidak hanya harus mendukung beban yang diterapkan, akan tetapi juga harus
mempertahan kan keseragaman karakteristik dari cladding itu sendiri. Bagian
dari clad dapat langsung dilakukan pengelasan bersama-sama, akan tetapi
desain joint yang tepat dan prosedure pengelasan harus digunakan untuk
memastikan kinerja yang sukses dalam pelaksanaan pengerjaan.

4.2 JOINT DESAIN
Joint desain untuk arc welding clad steel dari kedua belah pihak antara
steel dan clad di tunjukkan pada gambar 4.16 dan 4.17. Square-groove weld
dapat digunakan dengan bagian tipis [ 4.17 (A) dan (B) ], single U-groove,
double V-groove, atau kombinasi U dan V groove pengelasan dapat
digunakan dengan bagian tebal [gbr. 4.17 (E) melalui (H)].
Cladding dapat dilakukan pemesinan kembali untuk memastikan steel
filler metal tidak meleleh dengan clad metal [ gbr 4.16 (B), (D), (F), (G), dan
36

(H)]. Pelelehan yang berlebihan oleh clad metal, seperti copper dan titanium,
dapat mengakibatkan embrittles pada steel weld metal.

Gbr.4.16-butt joint designs for welding clad steel from both sides
Dengan corner joint, cladding dapat berada didalam atau diluar. Dalam
kedua kasus, pada pengelasan pertama ketika cladding berada di dalam,
seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.17 (A), weld metal kembali keluar
dari sudut bagian dalam sebelum bergabung dengan cladding. Ketika
cladding berada diluar, [4.17 (B)], steel di joint pada bagian dalam dengan
las fillet. Akar las yang keluar halus yang menjadi pass pertama pada sisi luar
corner joint. Pass pertama mungkin steel atau buttering filler metal,
tergantung pada ketebalan bagian.
37


Gbr.4.17-corner joint design for welding clad steel from both sides
Ketika suhu leleh dari clad metal lebih tinggi dari baja, maka logam
bisa dikatakan compatible metallurgically, integritas dari cladding harus
dipertahankan dengan strip dukungan dari clad metal. Strip adalah fillet dilas
ke cladding setelah baja dilas. Ini dilakukan pada kasus cladding titanium,
seperti yang akan dijelaskan kemudian.


38

4.3 FILLER METALS
Filler metals yang cocok dengan dengan berbagai cladding metal
diberikan pada table 12.5. dalam banyak kasus, antara sebuah logam pengisi
yang digunakan untuk buttering dengan demikian dapat mengendalikan
jumlah zat besi pada final pass dari cladding metal. Baja harus dilas dengan
filler logam yang cocok dengan mekanikal propertis logam yang di tentukan..




39

4.4 WELDING PROCEDURE
4.4.1 Composite Welds
Baja dasar biasanya dilas pertama dengan steel filler metal. Pass
pertama dari carbon steel tidak harus menembus ke dalam logam clad.
Pelelehan dari logam clad dapat menyebabkan embrittle atau retak
pada weld metal, dan ini tidak dapat diterima bagi sebagian besar
aplikasi. Desain joint yang sesuai harus ditetapkan untuk baja clad
tertentu selama tetap mengacu pada kualifikasi procedure pengelasan.
Pelelehan dari steel weld metal bukan masalah ketika cladding
dikupas kembali dari joint, namun operasi menambah biaya dan
meningkatkan persyaratan untuk clad filler metal. Jika pengupasan
tidak dilakukan, wajah akar dan celah akar harus dirancang untuk
membatasi penetrasi oleh logam las baja. Dalam setiap kasus, akar
dari steel weld harus tembus.
Efek dilusi harus dipertimbangkan ketika pengelasan sisi clad
joint. Beberapa logam cladding memiliki toleransi rendah untuk
pelelehan oleh baja. Oleh karena itu, satu atau lebih lapisan buttering
dari filler metal yang dipilih harus di terapkan sebelum menaruh salah
satu cladding weld metal atas lapisan buttering. Buttering filler metal
harus toleran dari beberapa pengenceran oleh baja dasar.
Dalam prakteknya, langkah khusus untuk operasi weld cladding
tidak selalu tersedia ketika membuat joint dalam clad steel. Tanpa
menggunakan langkah ini, prosedur khusus harus digunakan untuk
meminimalkan dilusi. Langkah-langkah ini adalah :
1. Gunakan elektroda berdiameter kecil
2. Gunakan electrode paduann tinggi dari paduan cladding untuk
pelelehan
3. Jika memungkinkan gunakan beberapa lapisan lasan, dan
mengupas bagian dari lapisan pertama jika diperlukan
4. Dengan otomatis welding, oscillate the welding head, seperti pada
surfacing
40

5. Bila memungkinkan gunakan arus searah, elektroda negative
dengan busur yang berada pada weld pool karena arah maju, dan
diarahkan kembali terhadap manik las sebelumnya.
Ketika cladding tidak dilucuti kembali sebelum pengelasan,
weld metal harus kembali menembus dengan demikian, menghasilkan
alur dalam baja. Prosedur ini memungkinkan pengendapan dari
beberapa lapisan weld metal cladding untuk mengontrol cairan dalam
layer terakhir.
Salah satu kondisi yang harus dihindari dengan submerged arc
welding, atau proses pengelasan yang mempunyai penetrasi dalam,
penetrasi berlebihan dan meleleh melalui weld metal. Control yang
tepat dari penetrasi yang diperlukan untuk menghindari dilusi dari
logam steel weld metal dengan cladding metal. Fluks yang tepat untuk
las busur terendam adalah salah satu yang memungkinkan pengelasan
dengan arus searah, elektroda negative, atau arus bolak-balik untuk
meminimalkan pelelehen.
Ketika pengelasan pass pertama pada sisi baja dari joint
dimana cladding merupakan bagian dari wajah akar, praktek terbaik
adalah dengan menggunakan prosedur pengelasan low-hydrogen.
Low-hydrogen steel weld metal memungkinkan untuk tidak terjadi
retak jika beberapa logam cladding yang meleleh dengan paduan itu.
Meskipun tidak dianjurkan, beberapa pelelehan baja carbon oleh
cladding stainless steel dapat ditoleransi, namun pelelehan terbatas
dari logam lainnya, seperti copper atau paduannya, harus dihindari.
Dalam beberapa struktur, las penetrasi parsial memadai pada clad plat.
Lasan tersebut menyederhanakan control dilusi.
Akar dari weld metal dapat kembali menembus dengan arc air-
carbon, dengan chipping, atau dengan menggerinda. Alur yang
menembus harus dibersihkan dari residu sebelum buttering dilakukan.



41

4.4.2 Thin Clad Plate
Ketika welding clad steel plate adalah 0.38 inch. Lebih tebal
atau kurang dari itu, mungkin akan lebih ekonomis untuk mengelas
seluruh joint dengan logam pengisi yang mirip dengan cladding.
Namun, sambungan las harus mempunyai sifat mekanik yang
diperlukan dan ketahanan dari korosi. Sebuah las square-groove atau
single V-groove dapat digunakan, tergantung pada ketebalan joint.
Buttering dari face baja harus dipertimbangkan.
4.4.3 Austenitic Stainless Steel Cladding
Beberapa baja tahan karat austenite, seperti jenis 304 dan 316,
mengandung carbon yang cukup untuk membentuk karbida kromium
stabil saat didinginkan perlahan-lahan melalui rentang 1500-800 F.
ketika ini terjadi, stainless steel rentan terhadap korosi antar granular
di beberapa titik. Low-carbon stainless steel seperti 304L atau 316L,
dan baja stainless stabil dengan Cb atau Ti biasanya kebal terhadap
perilaku ini.
Ketika stainless steel yang rentan terhadap prestipasi karbida
secara perlahan didinginkan, yang harus dipanaskan diatas 1800F,
untuk melarutkan kembali karbida, dan cepat didinginkan untuk
mengembalikan ketahanan korosi. Akan tetapi perlakuan tersebut
dapat merusak baja dasar.
Ketika joint dari baja dilapisi dengan corrosion-sensitive
austenitic stainless steel, beberapa langkah dapat membantu untuk
memepertahankan ketahanan korosi. Cladding harus dikupas kembali
dari joint edge. Preheat dan interpass temperature harus disimpan
untuk menghindari overheating cladding. Layer dari clad harus di
kembalikan dengan pengelasan.
Ketika depositing austenitic stainless steel filler metal pada baja,
welding heat input harus rendah dan sambungan dibiarkan mendingin
menjadi passes kedua. Dengan plate tipis, beberapa cara
menghilangkan panas mungkin cocok selama cladding berlangsung

42

4.4.3 Chromium Stainless Steel Cladding
Kromium stainless steel cladding dapat di las dengan austenitic
stainless steel atau Ni-Cr-Fe filler metal untuk menghindari low
ductility dari chromium stainless steel weld metal (lihat tabel 12. 5).
Apabila hal ini tidak cocok, pasangan kromium stainless steel harus
digunakan bersama dengan preheat sekitar 300 F. dalam kasus ini,
sambungan las harus bebas dari stress pada suhu compatible yang baik
dengan plat dasar dan memastikan ketahanan korosi yang baik dan
ductility dalam cladding.
Atau, tipe 340 steel clad mungkin juga diberikan perlakuan
panas pada 1600-1650 F diikuti dengan pendinginan udara. Perawatan
ini mengubah setiap martensite pada batas butir, meningkatkan
ductility cladding stainless steel, dan menormalkan baja carbon. Untuk
ketahanan korosi yang optimal, perlakuan panas 1600-1650 F harus
diikuti dengan pengembalian stabilisasi karbida pada 1250 F. plate
clad tidak harus diberi perlakuan panas pada 1450-1500 F yang
direkomendasikan untuk tipe 430 stainless steel.sebagian kisaran suhu
akan mengubah baja carbon dan akan mengubah sifat mekaniknya,
khusus nya ketangguhannya.
4.4.4 Copper and Copper Alloy Cladding
Pelat baja biasanya dilapisi baik dengan deoxidized atau oxygen
free copper. Metode terbaik untuk pengelasan copper dan copper-
nickel alloy cladding adalah dengan salah satu proses gas shielded arc
welding. Desain sambungan yang sesuai untuk pengerjaan pada baja
cladding adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar (12.16 dan
12.17). untuk cladding copper ketebalan sekitar 0,125 inc, pre heat
sekitar 300 F atau dianjurkan lebih tinggi ketika tembusan dengan
consumable elektroda tembaga lebih kecil dari 0,062 inch dalam
diameter. Ketika pre heat digunakan dengan cladding yang relatife
tipis, bagian dari lapisan permukaan harus dihapus sebelum deposition
lapisan weld metal untuk mengontrol pencairan low-iron dan
mempertahankan ketahanan korosi.
43

Pada saat ketebalan cladding kurang dari 0,09 inch, copper weld
metal dapat didepositkan langsung pada baja dengan hati-hati.
Semiautomatic gas metal arc welding dengan teknik backhand dapat
memberikan layer pertama yang contents untuk besi kurang dari 5
persen, ketika busur diarahkan ke molten weld pool dari pada
diarahkan ke baja.
Mungkin menguntungkan untuk menutupi baja dengan lapisan
buttering nickel-copper atau nickel filler metal sebelum muncul
kepermukaan dengan copper atau copper alloy filler metal. Prosedur
ini sangat dianjurkan dengan copper-nickel cladding. Nickel-copper
dan nickel filler metal. Selain itu, buttering menghindari penetrasi
copper dari batas butir baja, yang dapat menyebabkan retak.
4.4.5 Nickel and Nickel Alloy
Nickel, nickel-copper, dan nickel chromium-iron filler metals
dapat mentolelir beberapa pelelehan dari besi. Oleh karena itu, mereka
dapat diterapkan langsung pada baja dengan menggunakan teknik
pengelasan yang meminimalkan pelelehan. Dua atau lebih lapisan
cladding mungkin diperlukan untuk mengurangi pelelehan oleh besi
untuk tingkat yang dapat diterima.
4.4.6 Silver Cladding
Baja dapat dilapisi dengan perak untuk mengambil keuntungan dari
ketahanan korosinya. Untuk pengelasan fabrikasi, cladding perak
harus mempunyai ketebalan minimal 0,06 inchi. Lithium-deoxidized
silver sheet dan jenis Bag-8A brazing filler metal yang dianjurkan.
plate Silver-clad dapat diproduksi dengan menggunakan teknik roll
bounding.
Ketika pengelasan dilakukan antara silver-clad dan plat baja
dilakukan beersama-sama, kontaminasi silver harus dihindari. Besi
dan perak memiliki kelarutan timbal balik yang sangat terbatas, dan
sushu leleh besi adalah beberapa ratus derajat di atas silver. Kondisi
ini untuk menjaga integritas silver cladding.
44

Rekomendasi untuk urutan pengelasan untuk logam clad lainnya
umumnya diikuti dengan silver clad plate. Gas tungsten arc welding
dianjurkan untuk depositing pada silver filler metal. Suhu preheat
yang rendah dapat digunakan untuk mengurangi panas pengelasan
yang diperlukan. Pengelasan harus dilakukan dalam posisi datar untuk
control terbaik dari molten silver.

4.4.7 Titanium Cladding
Titanium dan baja yang tidak compatible metallurinya. Oleh
karena itu baja dan titanium cladding harus dilas secara independen.
Bersama desain yang ditunjukkan pada gambar 4.16 (B), (D) dan (F)
yang cocok. The titanium harus dikupas kembali ketitik dimana panas
dari pengelasan agar baja tidak akan terlalu panas. Titanium menyerap
oksigen ketika dipanaskan diatas 1200 F dari udara dengan
menghasilkan penurunan pada ductilitas.
Gambar 4.18 menunjukkan pengaturan untuk membuat butt
joint. Baja yang dilas pertama dari sisi joint. Akar dari steel weld
kembali mucul pada material. Setelah pengelasan back weld selesai
kemudian tambah dengan lapisan baja.

Gbr.4.18-design of a titanium-clad steel Welded joint
Strip pengisi titanium ditempatkan pada alur dangkal yang
terbentuk oleh cladding dan oleh baja dasar. Tack weld dari strip ke
cladding berjarak 4 sampai 6 inch interval dengan pengalasan gas
45

tungsten arc welding. Teck weld tidak harus menembus dan
melelehkan baja welding procedure yang cocok untuk titanium harus
digunakan.

Strip penutup titanium ditempatkan diatas strip filler, dan
diposisikan untuk tumpang tindih cladding pada kedua sisi joint.
Udara di rongga bawah dari strip harus dipindahkan dengan argon
sebelum pengelasan strip penutup untuk cladding dilakukan. Hal ini
dapat dilakukan melalui lubang yang terdapat pada steel weld, ini
ditunjukkan pada gambar 4.18, strip pengisi harus membuat lubang
sepanjang panjangnya sebelum strip penutup dipasang untuk
menyediakan gas di sepanjang bagian joint.
Strip penutup titanium dilakukan pengelasan fillet ke cladding
titanium dengan gas tungsten arc welding proses dan titanium filler
metal yang cocok. Pengelasan torch gas nozzle harus cukup besar
untuk cukup melindungi titanium weld metal dan tip titanium dari
kontaminasi udara luar. Sebuah pelindung gas yang mengikuti
mungkin diperlukan pada welding torch. Las titanium tidak harus
memperpanjang untuk baja. Dua atau lebih kecil las weld passes
harus digunakan dalam pengelasan fillet.
Ini adalah praktik yang baik untuk mengisolasi setiap join las
dalam struktur dari bawah rongga titanium cover strip. Sebagai
contoh, void di balik strip penutup pada setiap join melingkar dan
setiap join memanjang dar vessel harus diisolasi dari satu sama lain.
Setiap rongga terisolasi harus disediakan dengan minimal dua 0,25
inci diameter lubang gas pembersihan melalui weld metal. Lubang
harus ditempatkan sedekat mungkin ke titik-titik tinggi dan rendahnya
join longitudinal dan sampai ke ujung setiap segmen dari join
melingkar (circumferential join). Lubang ini juga digunakan untuk
menguji kebocoran lasan titanium fillet sebelum dan selama
pelaksanaan.
46

Sebuah desain yang cocok untuk intrance nozzle untuk titatium
clad vessel ditunjukkan pada gambar 4.19. panjang weld-neck nozzle
biasanya sering untuk bejana tekan untuk memudahkan instalasi liners
titanium. Ujung bagian dalam nosel dipersiapkan dengan radius
transisi yang mulus, dan dipasang flush dengan vessel cladding.
Rongga di balik setiap garis nozzle dilengkapi dengan dua 0,25 inci
diameter lubang gas pembersihan memperluas melalui logam dasar
untuk garis tersebut. Permukaan flange dan daerah nozzle attachment
dilindungi dari cairan korosif oleh komponen titanium. Flens titanium
yang dihadapi adalah mengeraskan bagian yang dilas pada permukaan
baja flange. Sebuah lembaran titanium memiliki diameter sama
dengan flange nyamaka harus dilakukan las braze ke pelat penutup
baja untuk nozzle.
Titanium dapat di lakukan pengelasan braze ke baja dengan
perak murni (B VAg-O) atau silver-copper-lithium (BAg-19) brazing
filler metal. Paduan filler metal mungkin lebih mudah untuk
mengontrol karena meleleh pada rentang 1400-1635 F, sedangkan
perak meleleh langsung di 1760 F. panas untuk braze welding
diterapkan dengan gas tungsten arc welding torch menggunakan
pelindung gas argon. Pelindung gas nozzle dan laju aliran gas harus
cukup besar untuk mencegah oksidasi titanium selama operasi.
Permukaan baja flange harus dilakukan precoated dengan brazing
filler metal untuk meningkatkan pembasahan selama operasi welding
braze. Atau, komponen titanium dapat dilakukan furnace braze ke
komponen baja dalam kemurnian tinggi argon atau vakum.
Desain untuk lap dan T-joint pada baja titanium clad
ditampilkan masing-masing dalam gambar 4.20 dan 4.21. Prinsip-
prinsip desain ini adalah sama dengan yang untuk butt joint (gambar
4.18).
47


Gbr. 4.19-Typical nozzle design for titanium-clad steel vessel


Gbr.4.20-design of a lap joint in titanium-clad steel
48


Gbr.4.21-design of a T-joint in titanium-clad steel