Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Geologi adalah salah satu ilmu pengtahuan yang mempelajari mengenai bumi,
lapisan lapisan batuan penyusun kerak bumi, serta aspek aspek yang
berhubungan dengan bumi. Di dalam kerak bumi terdapat bermacam-macam jenis
batuan, diantaranya batuan beku, sedimen, maupun metamorf. Selain itu, geologi
dapat berarti pengetahuan yang mempelajari sejarah perkembangan bumi serta
makhluk yang pernah ada dan hidup di permukaan bumi.
Batuan merupakan agregasi atau kumpulan kumpulan dari satu atau lebih
mineral, bataun dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan proses pembentukannya,
diantaranya batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Batuan sedimen
merupakan salah satu jenis batuan penyusun kerak bumi yang terbentuk karena
adanya proses erosi dan pelapukan pada batuan induk, sehingga membentuk material
material sedimen, selanjutnya material material tersebut mengalami proses
transportasi dari tempat terjadinya proses sedimentasi ke daerah yang lebih rendah
atau daerah cekungan. Selanjutnya material material mengalami proses deposisi.
Pada praktikum petrografi acara ke empat membahas soal batuan sedimen jenis
karbonat, dimana batuan ini memiliki unsur Ca atau karbonat yang dominan pada
permukaannya, sehingga mineral mineral penyusunnya sangat berbeda dengan
jenis batuan sedimen non karbonat. Pengamatan sampel batuan tersebut, dilakukan
berdasarkan pengamatan mikroskopis, diantaranya pengamatan DMP atau diameter
medan pandang, pengamatan nikol sejajar, dan pengamatan nikol silang.
1.2. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari diadakannya praktikum ini ialah untuk mengenalkan
kepada praktikan kenampakan optik dari batuan sedimen non karbonat, sedangkan
tujuan dari didakannya praktikum acara batuan sedimen non karbonat ialah
diantaranya sebagai berikut :
1. Praktikan mampu mengetahui komponen komponen yang menyusun
sayatan tipis batuan tersebut;
2. Praktikan mampu mengetahui presentase dari tiap tiap komponen yang
didapatkan menyusun batuan tersebut;
3. Praktikan mampu menginterpretasi nama batuan dari tiap sampel berdasarkan
komposisi mineral dan komponen dengan menggunakan klasifikasi penamaan
batuan karbonat.

1.3. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan selama praktikum berlangsung,
diantaranya :
1. Mikroskop polarisasi
2. Penuntun praktikum Petrografi Universitas Hasanuddin 2014/2015
3. LKP (Lembar Kerja Praktikum)
4. Lap kasar dan Lap halus
5. Optical mineralogy by Kerr, 1957
6. ATM (Alat Tulis Menulis)
7. Pensil warna
1.4. Prosedur Kerja
Dalam praktikum acara batuan sedimen karbonat terdapat beberapa tahapan
dalam pengerjaannya, adapun tahapan tahapan tersebut diuraikan di bawah ini
sebagai berikut :
1. Pertama tama asisten yang bertanggungjawab pada saat praktikum
berlangsung akan mengambilkan sampel yang akan diamati;
2. Para praktikan mengamati sampel yang telah disediakan dengan metode
pengamatan mikroskopis untuk mengetahui sifat optik mineral dalam posisi
nikol sejajar dan nikol silang.
3. Sifat optik yang didapatkan selanjutnya ditulis ke dalam LKP yang telah
disediakan
4. Setelah semua komposisi mineral pada permukaan batuan telah didapati,
selanjutnya dilakukan penentuan nama batuan berdasarkan klasifikasi
penamaan batuan yang telah disediakan.
5. Para praktikan menandatangani bon alat yang telah diisi sebelumnya sebagai
bukti telah mengembalikan mikroskop dalam keadaan baik.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Batuan Sedimen
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari pecahan atau hasil abrasi
dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport dan terendapkan kemudian
terlithifikasi. Batuan Sedimen adalah batuan yang paling banyak tersingkap di
permukaan bumi, kurang lebih 75 % dari luas permukaan bumi, sedangkan batuan
beku dan metamorf hanya tersingkapsekitar 25 % dari luas permukaan bumi. Oleh
karena itu, batuan sediment mempunyai arti yang sangat penting, karena sebagian
besar aktivitas manusia terdapat di permukaan bumi. Fosil dapat pula dijumpai pada
batua sediment dan mempunyaiarti penting dalam menentukan umur batuan dan
lingkungan pengendapan.
Batuan Sedimen adalah batuan yang terbentuk karena proses diagnesis dari
material batuan lain yang sudah mengalami sedimentasi. Sedimentasi ini meliputi
proses pelapukan, erosi, transportasi, dan deposisi. Proses pelapukan yang terjadi
dapat berupa pelapukan fisik maupun kimia. Proses erosidan transportasi dilakukan
oleh media air dan angin. Proses deposisi dapat terjadi jika energi transport sudah
tidak mampu mengangkut partikel tersebut.

2.2. Proses Pembentukkan Batuan Sedimen
Batuan sedimen terbentuk dari batuan-batuan yang telah ada sebelumnya oleh
kekuatan-kekuatan yaitu pelapukan, gaya-gaya air, pengikisan-pengikisan angina
angina serta proses litifikasi, diagnesis, dan transportasi, maka batuan ini
terendapkan di tempat-tempat yang relatif lebih rendah letaknya, misalnya: di laut,
samudera, ataupun danau-danau. Mula-mula sediment merupakan batuan-batuan
lunak,akan tetapi karean proses diagnosi sehingga batuan-batuan lunak tadi akan
menjadi keras.
Proses diagnesis adalah proses yang menyebabkan perubahan pada sediment
selama terpendamkan dan terlitifikasikan, sedangkan litifikasi adalah proses
perubahan material sediment menjadi batuan sediment yang kompak. Proses
diagnesis ini dapat merupakan kompaksi yaitu pemadatan karena tekanan lapisan di
atas atau proses sedimentasi yaitu perekatan bahan-bahan lepas tadi menjadi batuan
keras oleh larutan-larutan kimia misalnya larutan kapur atau silisium. Sebagian
batuan sedimen terbentuk di dalam samudera. Bebrapa zat ini mengendap secara
langsung oleh reaksi-reaksi kimia misalnya garam (CaSO
4
.nH
2
O), adapula yang
diendapkan dengan pertolongan jasad-jasad, baik tumbuhan maupun hewan.

Gambar 2.1. Siklus pembentukan batuan
Batuan endapan yang langsung dibentuk secara kimia ataupun organik
mempunyai satu sifat yang sama yaitu pembentukkan dari larutan-larutan.
Disamping sedimen-sedimen di atas, adapula sejenis batuan sejenis batuan endapan
yang sebagian besar mengandung bahan-bahan tidak larut, misalnya endapan puing
pada lereng pegunungan-pegunungan sebagai hasil penghancuran batuan-batuan
yang diserang oleh pelapukan, penyinaran matahari, ataupun kikisan angin. Batuan
yang demikian disebut eluvium dan alluvium jika dihanyutkan oleh air, sifat utama
dari batuan sedimen adalah berlapis-lapisdan pada awalnya diendapkan secara
mendatar. Lapisan-lapisan ini tebalnya berbeda-beda dari beberapa centimeter
sampai beberapa meter. Di dekat muara sungai endapan-endapan itu pada umunya
tebal, sedang semakin maju ke arah laut endapan-endapan ini akan menjadi tipis
(membaji) dan akhirnya hilang. Di dekat pantai, endapan-endapan itu biasanya
merupakan butir-butir besar sedangkan ke arah laut kita temukan butir yang lebih
halus lagi.ternyata lapisan-lapisan dalam sedimen itu disebabkan oleh beda butir
batuan yang diendapkan. Biasanya di dekat pantai akan ditemukan batupasir, lebih ke
arah laut batupasir ini berganti dengan batulempung, dan lebih dalam lagi terjadi
pembentukkan batugamping(Katili dan Marks).
Terdapat dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari
partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral
sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses inorganik atau aktivitas organisme.
Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder,
cobble dan pebble), pasir, lanau, dan lempung. Transportasi dari sedimen
menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai
kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan
proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen menjadi batuan sedimen terjadi
melalui kompaksi dan sementasi.
Batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan:
Batuan sedimen klastik terbentuk dari fragmen batuan lain ataupun mineral
Batuan sedimen kimiawi terbentuk karena penguapan, evaporasi
Batuan sedimen organic terbentuk dari sisa-sisa kehidupan hewan/ tumbuhan
Batuan Sedimen klastik terbentuk akibat pengendapan kembali detritus atau pecahan-
pecahan batuan asal, dapat berupa batuan beku, sedimen atau metamorf.
Berbagai macam proses yang terjadi sebelum terbentuknya batuan sedimen
klastik, diantaranya :
1. Pelapukan (Weathering) yaitu proses yang merubah ukuran dan komposisi
dari batuan dan terjadi dekat permukaan bumi akibat perbedaan temperatur
dan iklim.
2. Erosi yaitu proses yang menyebabkan hilangnya partikel (clasts) batuan dari
permukaannya oleh tenaga eksogen (air, angin, atau es).
3. Deposisi yaitu proses akhir dari transportasi yang menempatkan partikel
(clasts) batuan di atas permukaan bumi, dan membentuk fondasi untuk proses
sedimentasi.
4. Kompaksi yaitu proses penyatuan pada material-material sedimen sehingga
jarak antar material semakin dekat dan menyebabkan sedimen dapat menjadi
kompak.
5. Litifikasi yaitu terjadinya proses sementasi atau perekatan pada material-
material yang telah mengalami proses kompaksi membentuk batuan sedimen.


2.3. Batuan Karbonat
Secara umum batuan karbonat adalah salah satu jenis batuan yang terdapat di
permukaan bumi, dimana komposisi utamanya ialah karbonat atau tersusun oleh
mineral mineral karbonat, seperti silika, dolomit, dan lain lain. Adapun beberapa
pengertian batuan karbonat menurut para ahli ialah sebagai berikut :
1. Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan material karbonat lebih
dari 50% yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau
karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Rejers & Hsu, 1986).
2. Batuan karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya adalah mineral
karbonat dengan berat keseluruhan lebih dari 50 % (Bates & Jackson, 1987).
3. Batugamping merupakan jenis batuan karbonat yang paling banyak terbentuk,
dimana batugamping adalah batuan yang mengandung kalsium karbonat
hingga 95 %, sehingga tidak semua batuan karbonat adalah batugamping.
(Reijers & Hsu, 1986).
Secara umum batuan karbonat ini mengandung fase primer, sekunder dan butiran
reworked. Fase primer ini merupakan mineral presipitasi yang dihasilkan oleh
organisme, sementara mineral karbonat sekunder dihasilkan oleh presipitasi alami
non organik yang terjadi saat proses diagenesis berlangsung. Material reworked ini
sama dengan mekanisme yang terjadi pada batuan terigen klastik yaitu hasil abrasi
pelapukan batuan sebelumnya.
A. Tekstur Batuan Karbonat
Tekstur pada batuan karbonat sangatlah bervariasi, mulai dari tekstur yang
terdapat pada batuan detritus seperti besar butir, pemilahan, dan rounding, hingga
yang menunjukkan hasil pengendapan kimiawi. Matriks dari batuan karbonat juga
sangat bervariasi dari lumpur karbonat berbutir padat hingga kristal-kristal kalsit atau
dolomit. Salah satu tekstur pada batuan karbonat terbentuk karena adanya
pertumbuhan dari organisme. Tekstur pada batuan karbonat diklasifikasikan menjadi
beberapa kelompok berdasarkan adanya komposisi suatu organisme yang terdapat
pada tekstur tersebut, adapun tekstur pada batuan karbonat ialah sebagai berikut :
1. Butiran karbonat (carbonate grain) seperti ooid dan skeletal grain, yang
berukuran silt sampai yang kasar berupa agregat kristal kalsit,
2. Mikrokistalin kalsit atau carbonate mudy ang secara tekstural analog dengan
mud di batuan sedimen silisiklastik namun lebih kecil lagi,
3. Sparry calcite, yang mengandung kristal kalsit yang lebih kasar hanya
terlihat dibawah mikroskop.
Non skeletal grain atau tidak adanya kandungan satu atau beberapa organisme pada
tekstur tersebut, adapun jenis jenis daripada tekstur non skeletal ialah sebagai
berikut :
Ooid dan Pisoid
Ooid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elips yang punya satu
atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti. Inti penyusun
biasanya partikel karbonat atau butiran kuarsa. Coated grain atau ooid terbentuk
akibat adanya saturasi larutan karbonat dalam air (air laut, danau, payau, dan lain -
lain) dimana bottom current (arus bawah) yang kuat terjadi menyebabkan agitasi dan
saturasi yang tinggi dari larutan ion karbonat dalam fluida memugkinkan presipitasi
karbonat (kalsit atau aragonit) membungkus material (nucleous) dan membentuk
coated grain (ooid). Ooid memiliki ukuran butir < 2 mm dan apabila memiliki
ukuran > 2 mm maka disebut pisoid. Menurut (Tucker, 1990) Ooid merupakan tipe
non skeletal yang coated grain (butirannya diselimuti laminasi atau lapisan tipis
karbonat). menurut Boggs butiran ini menyerupai nucleous (inti) yang diselimuti
oleh laminasi tipis karbonat. nucleous ini isinya bisa berupa material terigen (butir
pasir), cangkang fosil, butiran karbonat, atau apa saja.
Menurut (Boggs, 2006) batuan karbonat yang dibentuk dari fragmen
fragmen ooid ini terkadang dikenal oolite (makanya ada istilah oolitic grainstone,
wackestone dan lain lain). Pisoid secara umum tidak begitu speris dari ooid dan
strukturnya bisanya crenulated. Beberapa pisoid dapat dibentuk oleh alga,
membentuk pola trapping.

Gambar 2. Tekstur ooid atau coarted grain yang menjadi
salah satu tekstur pada batuan karbonat
Rodhoid atau Rhodlith
Rodhoid atau Rhodlith memiliki kesamaan dengan tekstur ooid, dimana
keduanya sama sama disusun oleh organism yang telah mati, akan tetapi tekstur
rodhoid ini menyerupai sebuah coral yang terbentuk dari beberapa algae merah.

Gambar 3. Tekstur rodhoid atau rhodolith yang disusun
oleh algae merah

Peloid
Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, elipsoid atau merincing
yang tersusun oleh mikrit dan tanpa struktur internal. Peloid merupakan jenis
fragmen karbonat non skeletal yang tidak memiliki struktur internal dan ukuran dari
peloid ini lebih kecil dari ooid (0.03 0.1 mm), secara umum peloid berasal dari
fecal pellets yaitu kotoran hewan laut yang mensekresikan lumpur karbonat yang
tidak dapat dicerna ketika hewan - hewani ini makan. Bentukhnya kecil, oval sampe
bulat, dan bisa memiliki ukuran yang bermacam-macam, karena dihasilkan oleh
aktivitas pencernaan organisme maka sortasi dari bentuk peloid ini cukup bagus jadi
bukan berhubungan dengan mekanisme transport arus dengan bentuk dari peloid ini
sehingga membundar seperti ooid. Maka boleh dikatakan peloid ini terbentuk di
lingkungan arus yang lebih tenang, dimana organisme bisa hidup dan sinar matahari
cukup.Ukuran peloid antara 0,1 0,5 mm. Kebanyakan peloid ini berasala dari
kotoran (faecal origin) sehingga disebut pellet (Tucker, 1991).

Gambar 4. Tekstur peloid yang berasal dari kotoran organisme
Agregat
Agregat merupakan kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang
tersemenkan bersama-sama oleh semen mikrokristalin atau tergabung akibat material
organic, dimana suatu kenampakan butiran karbonat yang berbentuk tidak
taratur,dimana aggregate ini merupakan jenis butiran karbonat lebih kasar, terdiri
dari dua jenis fragmen karbonat atau lebih (bisa pellet, ooid, atau fragmen fosil yang
terikat oleh mikrit (carbonate-mud matrix yang berwarna hitam) karena bentuknya
berupa agregat butiran butiran, beberapa dari butriran ini dapat dijumpai pada
lingkungan karbonat modern. Di bahamas terdapat aggregate grain yang menyerupai
ikatan buah anggur pada tangkainya maka kadang disebut sebagai grapestone (Illing,
1954).
Butiran agregat lainnya dengan bentuk yang lebih halus dikenal dengan
lumps. Hasil evolusi dari grapstone akibat sementasi dan mikritisasi kontinu dari
butiran. Butiran agregat di lingkungan karbonat modern terdiri dari aragonit (secara
umum), tapi beberapa limetone yang ancient dominan kalsit.

Gambar 5. Tekstur agregat atau kumpulan beberapa macam
Butiran karbonat

Intraklas
Intraklas adalah fragmen dari sedimen yang sudah terlitifikasi atau setengah
terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan air lumpur pada daerah pasang surut atau
tidal flat (Tucker,1991).

Gambar 6. Tekstur intraklas pada batuan karbonat
Skeletal grain adalah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri
dari seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil makro. Cangkang
ini merupakan allochem yang umum dijumpai dalam batugamping (Boggs, 1987).

Gambar 7. Klasifikasi penamaan jenis batugamping berdasarkan
presentase kandungan fosil pada permukaannya

Butiran ini berasal dari fragmen tubuh fosil organisme. Cangkang pada
batuan karbonat kebanyakan disusun oleh aragonit yang dapat berubah menjadi kalsit
selama proses diagenesis terjadi. Cangkang pada batugamping menjadi penunjuk
distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang waktu geologi (Tucker, 1991).

Gambar 8. Tekstur skeletal grain pada batuan karbonat
Matriks atau Micrite bisa hadir sebagai matrik mengisi ruang antar butir
karbonat, atau bisa juga menjadi penyusun utama batugamping (mudstone).
Batugamping yang disusun oleh micrite secara keseluruhan analog dengan
batulempung pada batuan sedimen silisiklastik. Kehadiran micrite dalam
batugamping umumnya diinterpratisikan sebagai indikasi pengendapan pada
lingkungan air yang tenang dimana memungkinkan terjadinya pengendapan material
halus. Pengendapan sedimen karbonat pada lingkungan dimana bottom current cukup
kuat umumnya mud-free, karena secara selektif carbonate mud akan hilang dari
lingkungan ini. Berdasarkan pertimbangan kimia, carbonate mud atau mikrit secara
teoritis terbentuk dari hasil presipitasi aragonit, kemudian nantinya akan terkonversi
menjadi kalsit, dari permukaan air yang kelewat jenuh dengan kalsium bikarbonat.
Beberapa ahli tidak begitu yakin mengenai seberapa banyak aragonit yang dibentuk
dari hasil proses inorganik. Banyak mud karbonat modern terbentuk hasil presipitasi
inorganic. Proses ini termasuk didalamnya rusaknya calcareous algae di laut dangkal
menghasilkan carbonate mud, dan dihasilkan oleh nanofoisl karbonat (< 35 mm)
seperti coccolith di laut dalam yang menghasilkan lumpur kaslit (chalk).

Gambar 9. Tekstur micrite pada batuan karbonat
Semen (Sparry calcite), pada kebanyakan batugamping terdapat mineral
kalsit yang besar besar (0.02-0.1 mm), semen hasil presipitasi mineral kalsit yang
sangat halus sehingga membentuk kristal kalsit yang besar atau juga terkadang
menjadi emdia tempat tertanamnya micirite. Dibawah sayatan tipis kristal kalsit yang
halus ini berwarna putih. Jenis komponen karbonat ini oleh banyak penulis
dinamakan sparry calcite. Kehadiran semen sparry calcite dapat dibedakan dengan
butiran karbonat lainnya karena tidak punya struktur internal dan hadir mengisi ruang
sisa pada butiran (pori batuan). Kehadiran dari semen sparry calcite ini
mengindikasikan bahwa pori batuan tidak terisi oleh lime mud saat pengendapan
terjadi, menunjukan pengendapan yang terjadi pada kondisi agitated-water.
Sparry calcite dapat terbentuk pada batugamping purba melalui kristailsasi
dari pengendapan primer butiran dan mikrit selama proses diagenesis. Sparry calcite
dibentuk oleh rekristalisasi yang dapat lebih sulit diidentifikasi dengan yang
prosesnya diagentik maupun yang non diagenetik karena butirannya yang sangat
halus, sehingga sering terjadi kesalahan dalam interpretasi lingkungan pengendapan
dan klasifikasi batugamping (Boggs, 2006).

Gambar 10. Tekstur sparry calcite pada batuan karbonat


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum petrografi acara batuan piroklastik diberikan tiga sampel
sayatan tipis batuan yang selanjutnya diamati oleh para praktikan melalui
pengamatan mikroskopis. Pada tahap ini, praktikan melakukan pengamatan untuk
mengetahui mineral mineral yang menyusun batuan tersebut untuk selanjutnya
dilakukan penentuan presentase dari tiap tiap mineral, dikarenakan penentuan nama
batuan hanya dapat dilakukan apabila telah dikatahui mineral utama dan mineral
tambahan yang menyusun suatu batuan. Adapun hasil pengamatan mikroskopis
tersebut diuraikan dibawah ini sebagai berikut :

3.1. Hasil
Sampel pertama
No. Urut : 01
No. Peraga : ST.85
Pembesaran Objektif : 5X
Pembersaran Okuler : 10X
Pembesaran Total : 5 x 10 = 50X
Bilangan Skala :

= 0,02
Jenis Batuan : Batuan Piroklastik
Kenampakan Mikroskopis :
Berdasarkan pengamatan sampel batuan dengan menggunakan metode
mikroskopis, maka didapatkan hasil pengamatan yang diuraikan dibawah ini, yaitu:
warna absorbsi dari sampel ini ialah tidak berwarna dengan warna interferensi
maksimum cokelat kehitaman. Berdasarkan pengamatan sampel secara keseluruhan
diketahui bahwa tekstur dari sampel ini ialah Lightly compacted-tuff, yaitu tekstur
yang memperlihatkan material gelas yang tidak teratur dan masih relatif belum
mengalami deformasi.






NIKOL SEJAJAR NIKOL SILANG
Deskripsi Komponen :
1. Kristal (Mineral Augite)
Mineral yang diamati pada urutan pertama dengan kedudukan (49,6;14,7)
memiliki beberapa sifat optik diantaranya memiliki warna absorbsi putih
kecokelatan, pleokroisme jenis monokroik atau tidak memperlihatkan adanya
perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah
subhedral hingga anhedral, dimana bidang batas dari mineral ini tidak dibatasi oleh
sebagian bidang batasnya sendiri, berdasarkan pengamatan mikroskopis, intensitas
dari mineral ini termasuk golongan lemah, dimana pantulan cahaya yang dihasilkan
pada permukaan mineral ini agak sedikit gelap, relief dari mineral ini golongan
sedang, kerana perbedaan yang ditampakkan pada permukaan mineral dengan benda
Foraminifera
Kuarsa
Ooid
Peloid
Mikrit
Sparry calcite
benda disekelilingnya tidaklah jauh berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan
melalui metode illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus
cahaya atau opak untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan
sumber cahaya, berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda
gelap searah dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari
mineral ini ialah n
min
> n
cb
, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diketahui
bahwa mineral ini memiliki belahan satu arah dengan pecahan tidak rata atau uneven,
selanjutnya dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala
yang telah didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang
penentuan ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :

Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 54 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 22 x 0,02
= 1,08 mm = 0,44 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mineral dalam posisi nikol silang, adapun hasil
pengamatan diuraikan sebagai berikut : mineral ini memiliki warna interferensi
maksimum kehijauan. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan diketahui bahwa nilai
sudut gelapan dari mineral ini ialah 54
o
dan termasuk ke dalam jenis gelapan miring,
mineral ini tidak memperlihatkan adanya kembaran pada permukaannya.
Berdasarkan paparan sifat optik, maka dapat diketahui bahwa nama dari mineral ini
adalah Piroksin jenis Augite.


Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
2. Kristal (Mineral Hiperstene)
Mineral yang diamati pada urutan kedua dengan kedudukan (45,6;19,5)
memiliki beberapa sifat optik diantaranya memiliki warna putih kecokelatan pada
kenampakan warna absorbsi, pleokroisme jenis monokroik atau tidak
memperlihatkan adanya perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
,
bentuk dari mineral ini ialah subhedral hingga anhedral, dimana bidang batas dari
mineral ini tidak dibatasi oleh sebagian bidang batasnya sendiri, berdasarkan
pengamatan mikroskopis, intensitas dari mineral ini termasuk golongan lemah,
dimana pantulan cahaya yang dihasilkan pada permukaan mineral ini agak sedikit
gelap, relief dari mineral ini golongan sedang, kerana perbedaan yang ditampakkan
pada permukaan mineral dengan benda benda disekelilingnya tidaklah jauh
berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui metode illuminasi miring,
dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya atau opak untuk dilewatkan
di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber cahaya, berdasarkan metode
tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap searah dengan benda aslinya,
sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral ini ialah n
min
> n
cb
, berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa mineral ini memiliki belahan satu
arah dengan pecahan tidak rata atau uneven, selanjutnya dilakukan perhitungan
ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah didapatkan sebelumnya
dengan nilai panjang mineral pada benang silang penentuan ukuran mineral ini
menggunakan rumus yaitu :


Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
Ukuran mineral terbesar = 78 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 32 x 0,02
= 1,56 mm = 0,64 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mineral dalam posisi nikol silang, adapun hasil
pengamatan diuraikan sebagai berikut : mineral ini memiliki warna interferensi
maksimum kehijauan. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan diketahui bahwa nilai
sudut gelapan dari mineral ini ialah 40
o
dan termasuk ke dalam jenis gelapan miring,
mineral ini tidak memperlihatkan adanya kembaran pada permukaannya.
Berdasarkan paparan sifat optik, maka dapat diketahui bahwa nama dari mineral ini
adalah Piroksin jenis Hiperstene.
3. Kristal (Mineral Biotit)
Mineral yang diamati pada kedudukan (31,9;24,7) memiliki beberapa sifat
optik diantaranya warna absorbsi kecokelatan, pleokroisme jenis dwikorik atau
mineral yang memperlihatkan adanya perubahan warna ketika meja objek diputar
sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah subhedral hingga euhedral, dimana bidang
batas dari mineral ini dibatasi oleh sebagian bidang batasnya sendiri, mineral ini
memiliki sifat intensitas golongan sedang, dikarenakan pantulan cahaya yang terlihat
pada permukaan mineral tidak terlalu terang, akan tetapi tidak juga terlalu gelap,
mineral ini memiliki relief dengan golongan yang rendah, indeks bias dari mineral ini
ditentukan melalui metode illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang
tidak tembus cahaya atau opak untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang
merupakan sumber cahaya, berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah
bayangan benda gelap searah dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa
indeks bias dari mineral ini ialah n
min
> n
cb
, berdasarkan kenampakan mikroskopis
diketahui bahwa mineral ini tidak memperlihatkan adanya belahan, sedangkan
pecahan dari mineral ini ialah even atau rata, selanjutnya dilakukan perhitungan
ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah didapatkan sebelumnya
dengan nilai panjang mineral pada benang silang penentuan ukuran mineral ini
menggunakan rumus yaitu :

Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 34 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 17 x 0,02
= 0,68 mm = 0,34 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan sifat optik pada posisi nikol silang, dimana
didapatkan hasil sebagai berikut : warna interferensi maksimum dari mineral ini ialah
cokelat kehitaman. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan yang telah dilakukan
diketahui bahwa nilai gelapan dari mineral ini ialah 15
o
dan termasuk ke dalam jenis
gelapan miring. Berdasarkan paparan sifat optik yang telah didapatkan dapat
diinterpretasi nama dari mineral ini ialah Biotit.
4. Kristal (Mineral Oligoklas)
Mineral keempat yang diamati pada kedudukan (65,7;13,7) memiliki beberapa
sifat optik pada pengamatan nikol sejajar diantaranya warna absorbsi tidak berwarna,
pleokroisme jenis monokroik atau tidak memiliki pleokroisme, dimana tidak terjadi
perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah
euhedral hingga subhedral, dimana bidang batas mineral ini masih dibatasi oleh
bidang batasnya sendiri, mineal ini memiliki intensitas golongan yang sedang,
dikarenakan pantulan yang terlihat pada permukaan mineral tidak terlalu gelap, akan
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
tetapi juga tidak terlalu terang, relief dari mineral ini termasuk ke dalam golongan
rendah, dimana warna dari permukaan mineral dengan benda benda disekelilingnya
tidaklah jauh berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui metode
illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya atau opak
untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber cahaya,
berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap searah
dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral ini ialah
n
min
> n
cb
, berdasarkan kenampakan mikroskopis diketahui bahwa belahan dari
mineral ini ialah satu arah dengan pecahan yang even atau rata, selanjutnya
dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah
didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang penentuan
ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :

Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 46 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 20 x 0,02
= 0,92 mm = 0,40 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mikroskopis pada posisi nikol silang untuk
mengamati beberapa sifat optik dari mineral ini dianatarnya mineral ini memiliki
warna interferensi abu abu kehitaman. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan
diketahui bahwa nilai sudut gelapan dari mineral ini ialah 16,5
o
dan termasuk ke
dalam jenis gelapan miring, mineral ini memperlihatkan adanya perselingan warna,
akan tetapi hanya terdiri dari satu pasang, sehingga diinterpretasi jenis kembaran
yang terdapat pada mineral ini ialah jenis Carlsbad. Berdasarkan paparan sifat optik
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
yang diketahui diatas, maka dapat diinterpretasi nama dari mineral ini ialah
Plagioklas jenis Oligoklas.
5. Kristal (Mineral Olivin)
Mineral kelima yang diamati dengan kedudukan (47,4;12,3) memiliki warna
absorbsi tidak berwarna, pleokroisme jenis monokroik atau tidak memiliki
pleokroisme, karena mineral ini tidak memperlihatkan perubahan warna ketika meja
objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah euhedral hingga subhedral,
dimana bidang batas mineral ini dibatasi oleh bidang batasnya sendiri, intensitas dari
mineral ini sedang, dimana pantulan cahaya yang diperlihatkan pada permukaan
mineral terbilang tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu gelap, relief dari mineral
ini tinggi, karena jauhnya perbedaan warna antara permukaan mineral dengan benda
benda disekelilingnya, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui metode
illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya atau opak
untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber cahaya,
berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap searah
dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral ini ialah
n
min
> n
cb
, berdasarkan pengamatan mikroskopis yang telah dilakukan diketahui
bahwa mineral ini memiliki belahan satu arah dengan pecahan uneven atau tidak rata,
sehingga diketahui bahwa mineral ini tidak memiliki sifat optik inklusi, selanjutnya
dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah
didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang, penentuan
ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :

Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 70 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 42 x 0,02
= 1,4 mm = 0,84 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan nikol silang untuk mengetahui beberapa sifat
optik dari mineral ini diantaranya warna interferensi maksimum mineral ini ialah biru
kehijauan. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan yang telah dilakukan diketahui
bahwa sudut gelapan dari mineral ini ialah 37
o
sehingga diinterpretasi termasuk ke
dalam jenis gelapan miring, berdasarkan kenampakan mikroskopis diketahui bahwa
mineral ini tidak memperlihatkan adanya kembaran pada permukaannya.
Berdasarkan paparan sifat optik diatas, maka dapat diinterpretasi nama mineral dari
mineral ini ialah Olivin.
6. Gelas Vulkanik
Warna absorbsi cokelat kehitaman, warna interferensi maksimum hitam,
bentuk subhedral anhedral, dikarenakan bidang batas dari komponen ini hanya
dibatasi oleh sebagian bidang batasnya, intesitas dari komponen tergolong lemah,
dikarenakan pantulan cahaya pada permukaan komponen tergolong gelap. Relief dari
mineral ini rendah, dikarenakan perbedaan warna antara komponen ini dengan
komponen disekelilingnya tidak terlalu jauh. Pecahan dari komponen ini even atau
rata dengan belahan tidak ada. Ukuran komponen 0,12 0,34 mm. Nama komponen
Gelas vulkanik.


Persentase Komponen :
Mineral I (%) II (%) III (%) % Rata - Rata
Augite 18% 18% 15% 17%
Hipertsene 15% 16% 12% 14,33%
Biotit 9% 6% 7% 7,33%
Oligoklas 13% 20% 24% 19%
Olivin 20% 12% 11% 14,33%
Gelas Vulkanik 25% 28% 31% 28%
Jumlah 99,99%

Nama Batuan : Crystal vitric tuff (Pettijohn, 1975)
Sampel kedua
No. Urut : 02
No. Peraga : ST.5a/Lava
Pembesaran Objektif : 5X
Pembersaran Okuler : 10X
Pembesaran Total : 5 x 10 = 50X
Bilangan Skala :

= 0,02
Jenis Batuan : Batuan Piroklastik
Kenampakan Mikroskopis :
Warna absorbsi dari sampel ini ialah tidak berwarna dengan warna
interferensi maksimum cokelat kehitaman. Berdasarkan pengamatan sampel secara
keseluruhan diketahui bahwa tekstur dari sampel ini ialah Poorly welded-tuff, yaitu
tekstur yang memperlihatkan material gelas yang tidak teratur dan masih relatif
belum mengalami perubahan.






NIKOL SEJAJAR NIKOL SILANG
Deskripsi Komponen :
1. Kristal (Mineral Augite)
Mineral yang diamati pada urutan pertama dengan kedudukan (53,4;11,3)
memiliki beberapa sifat optik diantaranya memiliki warna absorbsi putih
kecokelatan, pleokroisme jenis monokroik atau tidak memperlihatkan adanya
perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah
subhedral hingga anhedral, dimana bidang batas dari mineral ini tidak dibatasi oleh
sebagian bidang batasnya sendiri, berdasarkan pengamatan mikroskopis, intensitas
dari mineral ini termasuk golongan lemah, dimana pantulan cahaya yang dihasilkan
pada permukaan mineral ini agak sedikit gelap, relief dari mineral ini golongan
sedang, kerana perbedaan yang ditampakkan pada permukaan mineral dengan benda
benda disekelilingnya tidaklah jauh berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan
melalui metode illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus
cahaya atau opak untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan
Foraminifera
Kuarsa
Ooid
Peloid
Mikrit
Sparry calcite
sumber cahaya, berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda
gelap searah dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari
mineral ini ialah n
min
> n
cb
, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diketahui
bahwa mineral ini memiliki belahan satu arah dengan pecahan tidak rata atau uneven,
selanjutnya dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala
yang telah didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang
penentuan ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :

Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 72 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 14 x 0,02
= 1,44 mm = 0,28 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mineral dalam posisi nikol silang, adapun hasil
pengamatan diuraikan sebagai berikut : mineral ini memiliki warna interferensi
maksimum kehijauan. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan diketahui bahwa nilai
sudut gelapan dari mineral ini ialah 54
o
dan termasuk ke dalam jenis gelapan miring,
mineral ini tidak memperlihatkan adanya kembaran pada permukaannya.
Berdasarkan paparan sifat optik, maka dapat diketahui bahwa nama dari mineral ini
adalah Piroksin jenis Augite.
2. Gelas Vulkanik
Warna absorbsi cokelat kehitaman, warna interferensi maksimum hitam,
bentuk subhedral anhedral, dikarenakan bidang batas dari komponen ini hanya
dibatasi oleh sebagian bidang batasnya, intesitas dari komponen tergolong lemah,
dikarenakan pantulan cahaya pada permukaan komponen tergolong gelap. Relief dari
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
mineral ini rendah, dikarenakan perbedaan warna antara komponen ini dengan
komponen disekelilingnya tidak terlalu jauh. Pecahan dari komponen ini even atau
rata dengan belahan tidak ada. Ukuran komponen 0,12 0,34 mm. Nama komponen
Gelas vulkanik.
3. Kristal (Mineral Oligoklas)
Mineral keempat yang diamati pada kedudukan (65,7;13,7) memiliki beberapa
sifat optik pada pengamatan nikol sejajar diantaranya warna absorbsi tidak berwarna,
pleokroisme jenis monokroik atau tidak memiliki pleokroisme, dimana tidak terjadi
perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah
euhedral hingga subhedral, dimana bidang batas mineral ini masih dibatasi oleh
bidang batasnya sendiri, mineal ini memiliki intensitas golongan yang sedang,
dikarenakan pantulan yang terlihat pada permukaan mineral tidak terlalu gelap, akan
tetapi juga tidak terlalu terang, relief dari mineral ini termasuk ke dalam golongan
rendah, dimana warna dari permukaan mineral dengan benda benda disekelilingnya
tidaklah jauh berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui metode
illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya atau opak
untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber cahaya,
berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap searah
dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral ini ialah
n
min
> n
cb
, berdasarkan kenampakan mikroskopis diketahui bahwa belahan dari
mineral ini ialah satu arah dengan pecahan yang even atau rata, selanjutnya
dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah
didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang penentuan
ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :

Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 46 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 20 x 0,02
= 0,92 mm = 0,40 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mikroskopis pada posisi nikol silang untuk
mengamati beberapa sifat optik dari mineral ini dianatarnya mineral ini memiliki
warna interferensi abu abu kehitaman. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan
diketahui bahwa nilai sudut gelapan dari mineral ini ialah 16,5
o
dan termasuk ke
dalam jenis gelapan miring, mineral ini memperlihatkan adanya perselingan warna,
akan tetapi hanya terdiri dari satu pasang, sehingga diinterpretasi jenis kembaran
yang terdapat pada mineral ini ialah jenis Carlsbad. Berdasarkan paparan sifat optik
yang diketahui diatas, maka dapat diinterpretasi nama dari mineral ini ialah
Plagioklas jenis Oligoklas.
4. Kristal (Mineral Kuarsa)
Mineral dengan kedudukan (52,7 , 20) memiliki beberapa sifat optik pada
posisi nikol sejajar diantaranya tidak memiliki warna pada kenampakan warna
absorbsi, pleokroisme jenis monokrik atau termasuk ke dalam jenis mineral yang
tidak memiliki pleokroisme, dikarenakan mineral ini tidak memperlihatkan adanya
perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah
euhedral hingga subhedral, dimana bidang batas dari mineral ini dibatasi oleh bidang
batasnya sendiri, mineral ini memiliki intensitas golongan sedang dengan relief
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
rendah, dikarenakan perbedaan warna dari permukaan mineral dengan benda benda
disekelilingnya tidaklah jauh berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui
metode illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya
atau opak untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber
cahaya, berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap
searah dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral
ini ialah n
min
> n
cb
, berdasarkan pengamatan mikroskopis diketahui bahwa belahan
dari mineral ini tidak ada, sedangkan pecahannya even atau rata, mineral ini tidak
memiliki inklusi atau benda asing pada permukaannya, selanjutnya dilakukan
perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah didapatkan
sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang penentuan ukuran
mineral ini menggunakan rumus yaitu :


Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 32 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 18 x 0,02
= 0,64 mm = 0,36 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan pada posisi nikol silang untuk mengetahui
beberapa sifat optik mineral diantaranya warna interferensi maksimum dari mineral
ini ialah putih abu-abu. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan diketahui bahwa nilai
sudut gelapan dari mineral ini ialah 3
o
dan termasuk ke dalam jenis gelapan
bergelombang. Berdasarkan paparan sifat optik diatas, maka dapat diinterpretasi
nama dari mineral ini ialah Kuarsa.
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
Persentase Komponen :
Mineral I (%) II (%) III (%) % Rata - Rata
Augite 9% 11% 15% 11,67%
Gelas Vulkanik 63% 59% 52% 58%
Oligoklas 13% 15% 17% 15%
Kuarsa 15% 15% 16% 15,33%
Jumlah 100%

Nama Batuan : Vitric crystal tuff (Pettijohn, 1975)
Sampel ketiga
No. Urut : 03
No. Peraga : PR.11
Pembesaran Objektif : 5X
Pembersaran Okuler : 10X
Pembesaran Total : 5 x 10 = 50X
Bilangan Skala :

= 0,02
Jenis Batuan : Batuan Piroklastik
Kenampakan Mikroskopis :
Berdasarkan pengamatan mikroskopis secara keseluruhan, maka dapat
diketahui bahwa warna absorbsi dari sampel ini ialah kuning dengan warna
interferensi maksimum kehitaman. Berdasarkan pengamatan sampel secara
keseluruhan diketahui bahwa tekstur dari sampel ini ialah Lightly compacted-tuff,
yaitu tekstur yang memperlihatkan material gelas yang tidak teratur dan masih relatif
belum mengalami defromasi.






NIKOL SEJAJAR NIKOL SILANG
Deskripsi Komponen :
1. Kristal (Mineral Olivin)
Mineral pertama yang diamati dengan kedudukan (47,4;12,3) memiliki warna
absorbsi tidak berwarna, pleokroisme jenis monokroik atau tidak memiliki
pleokroisme, karena mineral ini tidak memperlihatkan perubahan warna ketika meja
objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah euhedral hingga subhedral,
dimana bidang batas mineral ini dibatasi oleh bidang batasnya sendiri, intensitas dari
mineral ini sedang, dimana pantulan cahaya yang diperlihatkan pada permukaan
mineral terbilang tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu gelap, relief dari mineral
ini tinggi, karena jauhnya perbedaan warna antara permukaan mineral dengan benda
benda disekelilingnya, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui metode
illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya atau opak
untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber cahaya,
berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap searah
Foraminifera
Kuarsa
Ooid
Peloid
Mikrit
Sparry calcite
dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral ini ialah
n
min
> n
cb
, berdasarkan pengamatan mikroskopis yang telah dilakukan diketahui
bahwa mineral ini memiliki belahan satu arah dengan pecahan uneven atau tidak rata,
sehingga diketahui bahwa mineral ini tidak memiliki sifat optik inklusi, selanjutnya
dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah
didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang, penentuan
ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :


Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 70 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 42 x 0,02
= 1,4 mm = 0,84 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan nikol silang untuk mengetahui beberapa sifat
optik dari mineral ini diantaranya warna interferensi maksimum mineral ini ialah biru
kehijauan. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan yang telah dilakukan diketahui
bahwa sudut gelapan dari mineral ini ialah 37
o
sehingga diinterpretasi termasuk ke
dalam jenis gelapan miring, berdasarkan kenampakan mikroskopis diketahui bahwa
mineral ini tidak memperlihatkan adanya kembaran pada permukaannya.
Berdasarkan paparan sifat optik diatas, maka dapat diinterpretasi nama mineral dari
mineral ini ialah Olivin.
2. Kristal (Mineral Augite)
Mineral yang diamati pada urutan kedua dengan kedudukan (53,4;11,3)
memiliki beberapa sifat optik diantaranya memiliki warna absorbsi putih
kecokelatan, pleokroisme jenis monokroik atau tidak memperlihatkan adanya
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah
subhedral hingga anhedral, dimana bidang batas dari mineral ini tidak dibatasi oleh
sebagian bidang batasnya sendiri, berdasarkan pengamatan mikroskopis, intensitas
dari mineral ini termasuk golongan lemah, dimana pantulan cahaya yang dihasilkan
pada permukaan mineral ini agak sedikit gelap, relief dari mineral ini golongan
sedang, kerana perbedaan yang ditampakkan pada permukaan mineral dengan benda
benda disekelilingnya tidaklah jauh berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan
melalui metode illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus
cahaya atau opak untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan
sumber cahaya, berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda
gelap searah dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari
mineral ini ialah n
min
> n
cb
, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diketahui
bahwa mineral ini memiliki belahan satu arah dengan pecahan tidak rata atau uneven,
selanjutnya dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala
yang telah didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang
penentuan ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :

Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 72 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 14 x 0,02
= 1,44 mm = 0,28 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mineral dalam posisi nikol silang, adapun hasil
pengamatan diuraikan sebagai berikut : mineral ini memiliki warna interferensi
maksimum kehijauan. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan diketahui bahwa nilai
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
sudut gelapan dari mineral ini ialah 54
o
dan termasuk ke dalam jenis gelapan miring,
mineral ini tidak memperlihatkan adanya kembaran pada permukaannya.
Berdasarkan paparan sifat optik, maka dapat diketahui bahwa nama dari mineral ini
adalah Piroksin jenis Augite.
3. Gelas Vulkanik
Warna absorbsi cokelat kehitaman, warna interferensi maksimum hitam,
bentuk subhedral anhedral, dikarenakan bidang batas dari komponen ini hanya
dibatasi oleh sebagian bidang batasnya, intesitas dari komponen tergolong lemah,
dikarenakan pantulan cahaya pada permukaan komponen tergolong gelap. Relief dari
mineral ini rendah, dikarenakan perbedaan warna antara komponen ini dengan
komponen disekelilingnya tidak terlalu jauh. Pecahan dari komponen ini even atau
rata dengan belahan tidak ada. Ukuran komponen 0,12 0,34 mm. Nama komponen
Gelas vulkanik.
4. Kristal (Mineral Oligoklas)
Mineral keempat yang diamati pada kedudukan (65,7;13,7) memiliki beberapa
sifat optik pada pengamatan nikol sejajar diantaranya warna absorbsi tidak berwarna,
pleokroisme jenis monokroik atau tidak memiliki pleokroisme, dimana tidak terjadi
perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
, bentuk dari mineral ini ialah
euhedral hingga subhedral, dimana bidang batas mineral ini masih dibatasi oleh
bidang batasnya sendiri, mineal ini memiliki intensitas golongan yang sedang,
dikarenakan pantulan yang terlihat pada permukaan mineral tidak terlalu gelap, akan
tetapi juga tidak terlalu terang, relief dari mineral ini termasuk ke dalam golongan
rendah, dimana warna dari permukaan mineral dengan benda benda disekelilingnya
tidaklah jauh berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui metode
illuminasi miring, dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya atau opak
untuk dilewatkan di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber cahaya,
berdasarkan metode tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap searah
dengan benda aslinya, sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral ini ialah
n
min
> n
cb
, berdasarkan kenampakan mikroskopis diketahui bahwa belahan dari
mineral ini ialah satu arah dengan pecahan yang even atau rata, selanjutnya
dilakukan perhitungan ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah
didapatkan sebelumnya dengan nilai panjang mineral pada benang silang penentuan
ukuran mineral ini menggunakan rumus yaitu :

Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 46 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 20 x 0,02
= 0,92 mm = 0,40 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mikroskopis pada posisi nikol silang untuk
mengamati beberapa sifat optik dari mineral ini dianatarnya mineral ini memiliki
warna interferensi abu abu kehitaman. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan
diketahui bahwa nilai sudut gelapan dari mineral ini ialah 16,5
o
dan termasuk ke
dalam jenis gelapan miring, mineral ini memperlihatkan adanya perselingan warna,
akan tetapi hanya terdiri dari satu pasang, sehingga diinterpretasi jenis kembaran
yang terdapat pada mineral ini ialah jenis Carlsbad. Berdasarkan paparan sifat optik
Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
yang diketahui diatas, maka dapat diinterpretasi nama dari mineral ini ialah
Plagioklas jenis Oligoklas.
5. Kristal (Mineral Hiperstene)
Mineral yang diamati pada urutan kedua dengan kedudukan (45,6;19,5)
memiliki beberapa sifat optik diantaranya memiliki warna putih kecokelatan pada
kenampakan warna absorbsi, pleokroisme jenis monokroik atau tidak
memperlihatkan adanya perubahan warna ketika meja objek diputar sejauh 90
o
,
bentuk dari mineral ini ialah subhedral hingga anhedral, dimana bidang batas dari
mineral ini tidak dibatasi oleh sebagian bidang batasnya sendiri, berdasarkan
pengamatan mikroskopis, intensitas dari mineral ini termasuk golongan lemah,
dimana pantulan cahaya yang dihasilkan pada permukaan mineral ini agak sedikit
gelap, relief dari mineral ini golongan sedang, kerana perbedaan yang ditampakkan
pada permukaan mineral dengan benda benda disekelilingnya tidaklah jauh
berbeda, indeks bias dari mineral ini ditentukan melalui metode illuminasi miring,
dimana digunakan alat bantu yang tidak tembus cahaya atau opak untuk dilewatkan
di atas illuminator mikroskop yang merupakan sumber cahaya, berdasarkan metode
tersebut diketahui bahwa arah bayangan benda gelap searah dengan benda aslinya,
sehingga disimpulkan bahwa indeks bias dari mineral ini ialah n
min
> n
cb
, berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa mineral ini memiliki belahan satu
arah dengan pecahan tidak rata atau uneven, selanjutnya dilakukan perhitungan
ukuran mineral berdasarkan nilai bilangan skala yang telah didapatkan sebelumnya
dengan nilai panjang mineral pada benang silang penentuan ukuran mineral ini
menggunakan rumus yaitu :



Sehingga didapatkan hasil :
Ukuran mineral terbesar = 62 x 0,02 Ukuran mineral terkecil = 30 x 0,02
= 1,24 mm = 0,60 mm
Selanjutnya dilakukan pengamatan mineral dalam posisi nikol silang, adapun hasil
pengamatan diuraikan sebagai berikut : mineral ini memiliki warna interferensi
maksimum kehijauan. Berdasarkan perhitungan sudut gelapan diketahui bahwa nilai
sudut gelapan dari mineral ini ialah 40
o
dan termasuk ke dalam jenis gelapan miring,
mineral ini tidak memperlihatkan adanya kembaran pada permukaannya.
Berdasarkan paparan sifat optik, maka dapat diketahui bahwa nama dari mineral ini
adalah Piroksin jenis Hiperstene.
Persentase Komponen :
Mineral I (%) II (%) III (%) % Rata - Rata
Olivin 26% 14% 21% 20,33%
Augite 23% 20% 16% 19,67%
Gelas Vulkanik 21% 23% 25% 23%
Oligoklas 17% 24% 16% 19%
Hiperstene 13% 19% 22% 18%
Jumlah 100%

Nama Batuan : Crystal tuff (Pettijohn, 1975)

Ukuran mineral = Bilangan skala x Panjang mineral pada benang silang
3.2. Pembahasan
Sampel pertama
Berdasarkan penentuan nama batuan menggunakan klasifikasi penamaan
batuan piroklastik, diketahui bahwa nama batuan dari sampel pertama ialah Crystal
vitric tuff. Nama batuan ini diketahui dengan menggunakan klasifikasi Pettijohn,
1975 dengan dasar komponen mineral kristal dan gelas yang terdapat pada batuan
tersebut. Adapun cara penentuan nama batuan ini ialah sebagai berikut :
Augite 18% 18% 15% 17%
Hipertsene 15% 16% 12% 14,33%
Biotit 9% 6% 7% 7,33%
Oligoklas 13% 20% 24% 19%
Olivin 20% 12% 11% 14,33%
Gelas Vulkanik 25% 28% 31% 28%

Tabel 1. Persentase komponen pada sampel pertama
Dari perhitungan presentase tersebut, maka selanjutnya dilakukan perhitungan
presentase dari kompone mineral kristal dan gelas, sehingga didapatkan hasil :
Mineral kristal = Augite + Hiperstene + Biotit + Oligoklas + Olivin
= 17 + 14,33 + 7,33 + 19 + 14,33
= 71,99 %
Mineral gelas = Gelas vulkanik
= 28%
Selanjutnya hasil presentase yang didapatkan, dimasukkan ke dalam klasifikasi
penamaan batuan piroklastik untuk mengetahui nama dari sampel tersebut.
0 25 50 75 100







100 75 50 25 0

Dari penarikan garis yang telah dilakukan dari tiap tiap komponen, berupa
kristal dan gelas, maka dapat diketahui bahwa komponen tersebut memotong pada
kolom Crystal vitric tuff, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa nama dari batuan
ini ialah Crystal vitric tuff.
Sampel kedua
Berdasarkan penentuan nama batuan menggunakan klasifikasi penamaan
batuan piroklastik, diketahui bahwa nama batuan dari sampel pertama ialah Vitric
crystal tuff. Nama batuan ini diketahui dengan menggunakan klasifikasi Pettijohn,
1975 dengan dasar komponen mineral kristal dan gelas yang terdapat pada batuan
tersebut. Adapun cara penentuan nama batuan ini ialah sebagai berikut :





Vitric Vitric Crystal Crystal
Tuff Crystal Vitric Tuff
Tuff Tuff
G
E
L
A
S
K
R
I
S
T
A
L


Mineral I (%) II (%) III (%) % Rata - Rata
Augite 9% 11% 15% 11,67%
Gelas Vulkanik 63% 59% 52% 58%
Oligoklas 13% 15% 17% 15%
Kuarsa 15% 15% 16% 15,33%
Jumlah 100%

Tabel 2. Persentase komponen pada sampel kedua
Dari perhitungan presentase tersebut, maka selanjutnya dilakukan perhitungan
presentase dari komponen mineral kristal dan gelas, sehingga didapatkan hasil :
Mineral kristal = Augite + Oligoklas + Kuarsa
= 11,67 + 15 + 15,33
= 42 %
Mineral gelas = Gelas vulkanik
= 58 %
Selanjutnya hasil presentase yang didapatkan, dimasukkan ke dalam klasifikasi
penamaan batuan piroklastik untuk mengetahui nama dari sampel tersebut.






0 25 50 75 100







100 75 50 25 0

Dari penarikan garis yang telah dilakukan dari tiap tiap komponen, berupa
kristal dan gelas, maka dapat diketahui bahwa komponen tersebut memotong pada
kolom Vitric crystal tuff, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa nama dari batuan
ini ialah Vitric crystal tuff.
Sampel ketiga
Berdasarkan penentuan nama batuan menggunakan klasifikasi penamaan
batuan piroklastik, diketahui bahwa nama batuan dari sampel pertama ialah Crystal
tuff. Nama batuan ini diketahui dengan menggunakan klasifikasi Pettijohn, 1975
dengan dasar komponen mineral kristal dan gelas yang terdapat pada batuan tersebut.
Adapun cara penentuan nama batuan ini ialah sebagai berikut :
Mineral I (%) II (%) III (%) % Rata - Rata
Olivin 26% 14% 21% 20,33%
Augite 23% 20% 16% 19,67%



Vitric Vitric Crystal Crystal
Tuff Crystal Vitric Tuff
Tuff Tuff
G
E
L
A
S
K
R
I
S
T
A
L

Gelas Vulkanik 21% 23% 25% 23%
Oligoklas 17% 24% 16% 19%
Hiperstene 13% 19% 22% 18%
Jumlah 100%

Tabel 3. Persentase komponen pada sampel ketiga
Dari perhitungan presentase tersebut, maka selanjutnya dilakukan perhitungan
presentase dari kompone mineral kristal dan gelas, sehingga didapatkan hasil :
Mineral kristal = Olivin + Augite + Oligoklas + Hiperstene
= 20,33 + 19,67 + 19 + 18
= 77 %
Mineral gelas = Gelas vulkanik
= 23%
Selanjutnya hasil presentase yang didapatkan, dimasukkan ke dalam klasifikasi
penamaan batuan piroklastik untuk mengetahui nama dari sampel tersebut.
0 25 50 75 100







100 75 50 25 0



Vitric Vitric Crystal Crystal
Tuff Crystal Vitric Tuff
Tuff Tuff
G
E
L
A
S
K
R
I
S
T
A
L

Dari penarikan garis yang telah dilakukan dari tiap tiap komponen, berupa
kristal dan gelas, maka dapat diketahui bahwa komponen tersebut memotong pada
kolom Crystal tuff, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa nama dari batuan ini
ialah Crystal tuff.



















BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan sebelumnya, maka dapat
disimpulkan beberapa hal, diantaranya :
1. Berdasarkan pengamatan mikroskopis yang telah dilakukan, maka dapat
diketahui bahwa sampel pertama disusun oleh komponen foraminifera, ooid,
mikrit, sparry calcite, mineral kuarsa, dan peloid. Sampel kedua disusun oleh
peloid, sparry calcite, dan mikrit, sedangkan sampel sayatan ketiga disusun
oleh pisoid, peloid, mollusca, dan mikrit.
2. Berdasarkan presentase yang dilakukan pada tiap komponen, diketahui bahwa
penyusun utama sampel pertama ialah foraminifera yang merupakan
komponen Grain, komponen yang dominan menyusun sampel kedua ialah
sparry calcite yang merupakan komponen Sparit, dan komponen yang
dominan menyusun sampel ketiga ialah Peloid yang merupakan komponen
Grain.
3. Berdasarkan persentase dari tiap mineral yang didapatkan, selanjutnya
dilakukan penamaan batuan menggunakan klasifikasi penamaan batuan
karbonat berdasarkan persentase dari tiap komponen yang didapatkan,
sehingga diinterpretasikan bahwa nama batuan dari sampel pertama ialah
Grainstone, sampel kedua ialah Kristalin, dan sampel yang diamati pada
urutan terakhir ialah Packstone.

4.2. Saran
Saran untuk laboratorium
Jumlah mikroskop polarisasi masih terbatas, walaupun telah dilakukan
penambahan dari sebelumnya. Hal ini sangatlah penting, mengingat agar tercapainya
efisiensi pengamatan dalam tiap tiap praktikum. Selain itu, diharapkan juga agar
sampel sampel sayatan tipis batuan dan mineral yang terdapat di dalam
laboratorium ditambah jenis jenisnya, agar wawasan lebih luas lagi mengeani sifat
sifat optik dari mineral, mengingat bahwa mineral yang dominan didapati pada
sayatan tipis mineral maupun batuan ialah mineral umum yang sudah sangat sering
dijumpai.
Saran untuk asisten
Diharapkan agar kakak kakak asisten petrografi dapat terus mendampingi
praktikan saat praktikum berlangsung, agar praktikan dapat lebih mengerti dan
mengenal mineral yang didapatkan, selain itu praktikan juga mampu mengetahui
lebih banyak mengenai ilmu petrografi.







DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Batuan karbonat dan komponen komponennya. http://mandele
yev-rapuan.blogspot.com/2012/10/batuan-karbonat.html. Diakses pada hari
Selasa, 21 Oktober 2014 pada pukul 23.00 WITA
Anonim. 2012. Mineralogy and Petrography.http://www.polarresearch.net/index
.php/polar/article/view/7306/html_190. Diakses pada hari Senin, 20 Oktober
2014 pada pukul 21.15 WITA
Anonim. 2013. Diagenesis of igneous rocks. http://www.tulane.edu/~sanelson/eens2
12/textures_igneous_rocks.html/. Diakses pada hari Senin, 20 Oktober 2014
pada pukul 18.25 WITA
Company : New York Anonim. 2010. Petrologi dan faktor lingkungan pengendapan
batuan karbonat. http://ptbudie.wordpress.com/2010/12/24/petrologi-dan-
faktor-lingkungan-pengendapan-batuan-karbonat/
http://www.staffs.ac.uk/schools/sciences/geology/restricted/virtualf/hobs/pcd2_26a.j
pg. Diakses pada hari Selasa, 24 September 2014 pada pukul 22.10 WITA
Morelock. 2012. Carbonate Sediments and Rocks. http://geology.uprm.edu/
Morelock/carb.html. Diakses pada hari Selasa, 24 September 2014 pada
pukul 21.45 WITA
Nockolds, S. R, Knox, and G. A. Chinner. 1976. Petrology for Students.Cambridge
University Press : London
W. H. Freeman and Hendriks. 1977. Introduction to the Study of Rocks in Thin
Section
Williams, Howel, Francis J. Turner, and Charles M. Gilbert. 1982. Petrography An
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

PRAKTIKUM PETROGRAFI
ACARA V : BATUAN SEDIMEN KARBONAT






LAPORAN
















NAMA : MOELYA BAYU B. NOHO
NIM : D611 12 268





MAKASSAR
2014










L A M P I R A N
TUGAS PENDAHULUAN
RESPONSI ACARA III
LEMBAR ASISTENSI