Anda di halaman 1dari 5

Siapakah yang TERBESAR/TERBAIK di antara Murid Yesus

{Lukas 9:46-48}
Pertanyaan ini dilontarkan oleh para murid di antara mereka dan bahkan mejadi perdebatan
di antara mereka tapi mereka menyembunyikan hal itu dari Tuhan Yesus. Apakah Yesus
gak tau tentang hal ini? Ya, pastinya tau dong.
Masalah klasik ini juga ternyata kerap kali muncul di antara murid Yesus. Dalam pelayanan
mereka yang semestinya dilakukan dengan kerendahan hati dan tanpa kekuatiran malah
sibuk memikirkan pujian untuk semua yang hal mereka lakukan(ternyata melakukan
keikhlasan itu sangat sulit) dan mereka menunggu penghargaan untuk hal itu. Kalau yang
paling senior beberapa hari, minggu atau bulan gak apa-apa karena mereka direkrutnya
gak serempak tapi ini mencari siapa yang paling besar. Ya pastinya Tuhan Yesus dong.
Walaupun saat itu mereka belum sepenuhnya yakin kalau Yesus itu Sang Mesias yang
dijanjikan dari Perjanjian Lama minimal mereka menyadari posisi Tuhan Yesus sebagai
Guru dan mereka semua murid otomatis posisi mereka sama semua dong meskipun
terkadang ada yang lebih ahli di bidang yang satu dan yang lain di bidang yang berbeda.
Masalah klasik ini juga kerap kali muncul dalam kehidupan kita. Terkadang banyak yang
berdebat mana orang yang paling andil bagian, mana yang paling capek, mana yang
memberi lebih banyak, dll. Padahal inti dari semua itu adalah berhasil atau tidaknya hal
yang sedang diusahakan itu, bukan karena aku nya maka hal itu tidak akan jadi atau ini
gak akan berhasil kalau bukan karena aku. Padahal Tuhanlah yang memberi kekuatan dan
berkat buat kita untuk melakukan itu semua.
Hal ini tergambar dalam kisah Maria dan Marta (Lukas 10:38-42),

ketika Marta jengkel saudara perempuannya hanya duduk mendengar perkataan Yesus
dan dia harus sibuk bekerja dalam rumah lalu ia bertanya kepada Yesus Tuhan tidakkah
Engkau perduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah ia
membantu aku. Pertanyaan dilontarkan Marta dengan harapan Yesus akan menegur
Maria.
Namun apa jawab Tuhan Yesus?
Marta, Marta engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya
satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari
padanya.
Wow jawaban yang bertolak belakang dengan harapan Marta..
Lalu kembali kita ke Lukas 9 mengenai perkataaan Yesus ketika Dia mengetahui isi pikiran
para murid-Nya yang memperdebatkan mengenai siapa yang terbesar, seperti ini jawaban
yang diberikan Yesus:
Lukas 9:48 b
yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.
Jangan-jangan tukang sapu jalanan yang kita lihat sekarang malah dialah raja di antara
kita. Why Not!
Bisa kita bandingkan dengan kisah pengurapan Daud di I Samuel 16. Disini diceritakan
ketika Samuel mendatangi rumah Daud dan bertanya kepada Isai ayah Daud untuk
mengumpulkan semua anaknya. Namun Isai sama sekali tidak memperhitungkan Daud,
barulah ketika semua anak Isai yang dilihat Samuel bukan yang dikehendaki oleh Tuhan
kemudian Samuel bingung dan bertanya kepada Isai apakah dia masih mempunyai anak.
Kemudian Isai menjawab masih ada sih tapi tidak mungkin dia yang sedang
mengembalakan kambing domba. Lalu kemudian orang diperintahkan oleh Isai untuk
memanggil Daud yang sedang berada di padang (pasti saat itu Daud kucel banget dan bau
kambing serta bau matahari karena saat itu dia baru kembali dari padang menggembalakan
kambing dan domba), dan ternyata anak yang tidak masuk hitungan itulah yang berhak
atas tahta Saul menurut Tuhan. Sesuatu banget bukan seorang gembala jadi raja tapi its
happen.
Menjadi teladan melalui perbuatan iman

Abraham adalah teladan orang beriman (Roma 4:18-22). Perbuatan imannya nyata ketika
ia tetap percaya dan tidak bimbang akan janji Tuhan walaupun tubuhnya sudah sangat
lemah, usianya sudah sangat tua dan rahim Sara telah tertutup. Menjadi teladan iman yaitu
jika kita hidup dan melakukan perbuatan iman.
Menjadi teladan melalui hidup kudus

Fil 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang
adil, semua yang suci , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang
disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Memiliki pikiran yang kudus
adalah awal untuk kita dapat hidup dalam kekudusan, menjaga kekudusan dan menjadi
contoh nyata bagi orang lain.

Perbuatan kita sehari-hari secara langsung / tidak langsung sangat berpengaruh terhadap
orang lain. Terutama bagi para pemimpin, menjadi teladan yang baik sangatlah
mempengaruhi karakter orang-orang yang dipimpinNya. Yesus telah menjadi teladan yang
baik melalui perkataan maupun perbuatan. Kita pun bisa menjadi teladan yang baik melalui
perkataan, cara hidup, cara kita mengasihi orang lain, melalui perbuatan iman dan melalui
hidup kudus. Jika kita melakukannya, hidup kita telah menjadi saksi Kristus yang hidup dan
nyata di tengah dunia.

Menjadi Seorang Teladan
Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/
Ayat bacaan: Titus 2:7
==================
"dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"

"Kita tidak bisa hidup selamanya. Pada suatu waktu nanti kita akan menutup perjalanan di bumi ini. Oleh
karena itulah penting bagi saya untuk membagikan skill dan ilmu yang saya miliki kepada generasi
selanjutnya." Demikianlah kata seorang gitaris terkenal asal luar negeri hari ini dalam wawancara saya
dengannya. Sejauh mana? Tanya saya. "Sejauh yang saya bisa bagikan, tanpa dikurangi, tanpa
dilebihkan." No more, no less.. katanya. Bagi saya itu adalah sesuatu yang baik untuk dijadikan teladan,
karena ada banyak orang yang lebih suka untuk menyembunyikan sesuatu yang istimewa dari dirinya.
Mereka hanya membagikan 40-50% saja dari pengetahuan mereka, karena mereka tidak ingin ada orang
yang tahu sebanyak mereka apalagi kalau nanti melebihi mereka. Bisa dibayangkan jika setiap generasi
berpikir seperti ini, apa jadinya beberapa generasi selanjutnya? "Generasi muda saat ini berkembang
begitu hebat. Bahkan ada yang sudah bermain dengan sangat baik di usia kecilnya. Apabila saya
membagikan ilmu dan pengalaman saya kepada mereka, maka anak-anak ini akan tumbuh lebih baik
lagi. Isn't it great?" Kata si gitaris lagi. Dan saya pun kagum dengan semangatnya untuk tidak hanya
berhenti memberikan penampilan baik di panggung dan di rekaman, tetapi juga menjalankan
komitmennya untuk mengajar. Itu sebuah keteladanan yang sangat mencerahkan dan menggembirakan
bagi saya.

Seorang teladan artinya sosok yang patut ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain, menjadi role
model. Dunia akan selalu butuh juga haus akan keteladanan untuk dijadikan pelajaran berharga agar
lebih baik lagi kedepannya. Dalam sejarah dunia kita menemukan banyak teladan, dalam alkitab kita pun
bisa menemukan banyak keteladanan ini. Pertanyaannya, ada berapa banyak sosok yang layak untuk
diteladani di hari-hari ini? Kemudian satu lagi, apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan?
Ada banyak orang yang menolak dengan berbagai alasan. Mengapa harus saya? Biar orang lain saja kita
teladani, kita tidak perlu sibuk untuk itu. Itu menjadi buah pemikiran banyak orang. Dan itu bukanlah
sesuatu yang dianjurkan untuk menjadi pola pikir orang percaya.

Alkitab dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-
teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Ayat bacaan hari ini menyatakan salah
satu firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha untuk menjadi teladan dalam hal
berbuat baik."Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau
jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7). Kita bisa melihat disini bahwa
proses pemindahan atau transfer ilmu dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidalah cukup. Kita
harus mampu melanjutkannya sampai kita bisa mencontohkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan
nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya teori, tetapi haruslah disertai dengan proses pula.
Jika kita hanya pintar mengajarkan tapi tidak pernah membuktikannya lewat hidup kita sendiri, itu artinya
semua hanyalah teori kosong dan bohong belaka.

Yesus merupakan contoh sempurna akan hal ini. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih dengan
standar yang sungguh jauh dari apa yang dipandang dunia, tapi lihatlah bahwa Yesus tidak berhenti
sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidupNya secara nyata. Lihatlah
sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita
menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: "sama seperti Anak Manusia datang
bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi
banyak orang." (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Lalu di waktu
berbeda Yesus berkata: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah
mengasihi kamu." (Yohanes 15:12). Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan
nyawaNya untuk menebus kita semua. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang
memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (ay 13). Dan Yesus pun telah membuktikannya
secara langsung pula. Inilah sebuah keteladanan yang sejati.Ini baru dua contoh dari banyak pesan
Yesus yang tidak berhenti hanya pada perkataan saja melainkan disertai pula dengan bukti nyata.
Berulang kali Yesus mengingatkan kita untuk meneladani Dia, itu artinya sangatlah penting bagi kita
untuk menganggap serius hal itu.

Paulus mengingatkan pula mengenai pentingnya keteladanan dalam pelayanan, seperti yang ia
sampaikan kepada Timotius. "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau
muda. J adilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam
kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12) Dari sini jelas terlihat bahwa
sesungguhnya masalah menjadi teladan tidak hanya urusan orang-orang tua atau dewasa saja, tapi
harus sudah diaplikasikan di usia muda pula. Perbuatan baik dalam ayat bacaan hari ini digambarkan
Paulus dengan menjaga perkataan, menjaga tingkah laku, terus mengasihi, berlaku setia, dan hidup suci
atau kudus.Kembali pada surat kepada Titus diatas yang berkata "dan jadikanlah dirimu sendiri suatu
teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam
pengajaranmu" (Titus 2:7), Paulus mengingatkan banyak hal juga. Kepada pria dinasihati untuk memiliki
pola hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (ay 2). Sedang
untuk wanita, Paulus mengatakan keharusan untuk "hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan
memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik." (ay 3).
Disamping itu wanita pun diingatkan untuk mendidik perempuan-perempuan muda dan mengasihi suami
dan anak-anaknya. (ay 4), hidup bijaksana dan suci, pintar mengatur rumah tangga, baik hati dan taat
kepada suami. (ay 5). Lalu selanjutnya untuk orang muda, Paulus menasihatkan agar para pemuda-
pemudi bisa menguasai diri dalam segala hal. Semua ini menunjukkan bahwa menjadi sosok teladan itu
tidaklah gampang, tetapi itu adalah sesuatu yang wajib untuk bisa kita lakukan.

Lebih jauh lagi, Yesus pun mengingatkan kita agar menjadi teladan bagi banyak orang dimana Tuhan
dipermuliakan. Terang Tuhan yang ada pada diri kita hendaklah bisa dipancarkan hingga bercahaya bagi
banyak orang."Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat
perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Ini pun bentuk gambaran
dari bentuk keteladanan. Ingatlah bahwa banyak orang memperhatikan tingkah laku kita sebagai orang
percaya. Jangan sampai kita tidak menjadi terang dan garam tetapi malah menjadi batu sandungan.
Panggilan menjadi teladan sudah diberikan, maukah kita menaatinya?
MENJADI TELADAN
Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah
hidup. (1 Yohanes 2 : 6)
Banyak orang berkata, Lakukanlah seperti yang telah kukatakan kepadamu... Perkataan ini sangat sering
terdengar ketika seseorang memberikan nasehat, pengajaran, atau teguran. Misalnya, hubungan antara
orang tua dengan anak dalam lingkungan keluarga. Orang tua sangat sering menasihatkan anak-anaknya,
memberikan pengajaran kepada anak-anaknya dengan mengatakan perkataan di atas. Atau bahkan kita
bisa melihat seorang atasan yang sedang mengingatkan para bawahannya, juga paling sering mengatakan
perkataan tersebut. Juga bagi seorang pengkhotbah atau penceramah, juga terdengar akrab dengan
perkataan tersebut. Untuk itu kita dapat memahami bahwa si pemberi nasihat sering mengucapkan
Lakukanlah seperti yang telah ku katakan... dan bukan dengan perkataan Lakukanlah seperti yang telah
kulakukan... dan hal ini dikarenakan nilai keteladanan yang belum benar-benar dapat terwujud dari si
pemberi nasihat atau si pemberi pembelajaran. Setiap orang sangatlah mudah untuk mengatakan,
menasihatkan, akan tetapi sangatlah sulit untuk melakukannya.

Ayat renungan hari ini mengingatkan kita untuk dapat menjadi teladan seperti Kristus yang adalah
teladan sejati dalam kehidupan segenap orang percaya. 1 Yohanes 2 : 6 mengatakan bahwa setiap orang
yang berkata bahwa dirinya ada di dalam Kristus yang adalah Juruselamat manusia, maka ia wajib hidup
sama seperti Kristus yang juga hidup dalam setiap keteladanannya di dunia. Bukan hanya sebatas
pengakuan, atau bukan hanya sebatas perkataan, akan tetapi yang lebih penting adalah dengan
menunjukkan yang telah kita saksikan itu dalam setiap perbuatan atau tindakan kita. Kita mengetahui
bahwa seluruh keteladanan Kristus adalah di dalam kasih, kasih kepada sesama manusia, dan juga kasih
kepada Allah.

Menjadi Teladan haruslah menjadi tujuan dan juga prinsip bagi siapa pun yang telah menerima Kristus
dalam hidupnya. Dengan keteladanan yang kita miliki, maka Kristus benar-benar hidup di dalam
kehidupan kita. Renungan hari ini juga mengajak kita, bagaimana kehidupan kita benar-benar menjadi
teladan bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita. Untuk mengenalkan Kristus kepada orang yang
belum percaya kepada-Nya, maka keteladanan adalah cara atau alat yang paling ampuh untuk
mewartakan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia. Amin.