Anda di halaman 1dari 14

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Labeling
Menurut Lemert (dalam Sunarto, 2004) teori labeling adalah
penyimpangan yang disebabkan oleh pemberian cap/ label dari masyarakat
kepada seseorang yang kemudian cenderung akan melanjutkan
penyimpangan tersebut. Teori labeling, diinspirasi oleh perspektif
interaksionisme simbolik dan telah berkembang dalam berbagai bidang
seperti kesehatan mental, kesehatan dan pendidikan.
Labeling adalah identitas yang diberikan oleh kelompok kepada
individu berdasarkan ciri-ciri yang dianggap minoritas oleh suatu
kelompok masyarakat. Labeling cenderung diberikan pada orang yang
memiliki penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan norma di
masyarakat. Seseorang yang diberi label akan mengalami perubahan
peranan dan cenderung akan berlaku seperti label yang diberikan
kepadanya (Dirdjosisworo, 1994).
Teori labeling disebut juga teori pelabelan atas perilaku
menyimpang yang sering digunakan masyarakat terhadap penyimpangan.
Pandangan tentang penentuan situasi (definition of the situation)
digunakan untuk menyatakan bahwa jika individu/kelompok disebut
menyimpang, akan ada konsekuensi yang tidak diharapkan pada tingkat
perilakunya (Turner, 2010).
Teori labeling memiliki dua proposisi. Pertama, perilaku
menyimpang bukan merupakan perlawanan terhadap norma, tetapi
berbagai perilaku yang berhasil didefinisikan atau dijuluki menyimpang.
Deviant atau penyimpangan tidak selalu dalam tindakan itu sendiri tetapi
merupakan respon terhadap orang lain dalam bertindak. Proposisi kedua,
labeling itu sendiri menghasilkan atau memperkuat penyimpangan.
8
Respon orang-orang yang menyimpang terhadap reaksi sosial
menghasilkan penyimpangan sekunder yang mana mereka mendapatkan
citra diri atau definisi diri sebagai seseorang yang secara permanen
terkunci dengan peran orang yang menyimpang. Penyimpangan
merupakan outcome atau akibat dari kesalahan sosial dan penggunaan
kontrol sosial yang salah (Turner, 2010).
Konsep lain dalam Teori labeling (Atwar, 2008, http://atwarbajari.
wordpress.com/2008/12/06/bagaimana-individu-menjadi-devian/, diunduh
23 November 2010) adalah :
1. Master Status
Teori penjulukan memiliki label dominant yang mengarah pada
suatu keadaan yang disebut dengan Master Status. Maknanya adalah
sebuah label yang dikenakan (dikaitkan) biasanya terlihat sebagai
karakteristik yang lebih atau paling penting atau menonjol dari pada
aspek lainnya pada orang yang bersangkutan.
Bagi sebagian orang label yang telah diterapkan, atau yang
biasa disebut dengan konsep diri, mereka menerima dirinya seperti
label yang diberikan kepadanya. Bagaimanapun hal ini akan membuat
keterbatasan bagi seseorang yang diberi label, selanjutnya di mana
mereka akan bertindak.
Bagi seseorang yang diberi label, sebutan tersebut menjadi
menyulitkan, mereka akan mulai bertindak selaras dengan sebutan itu.
Dampaknya mungkin keluarga, teman, atau lingkungannya tidak mau
lagi bergabung dengan yang bersangkutan. Dengan kata lain orang
akan mengalami label sebagai penyimpang/menyimpang dengan
berbagai konsekwensinya, ia akan dikeluarkan dan tidak diterima oleh
lingkungan sosialnya. Kondisi seperti ini akan sangat menyulitkan
untuk menata identitasnya menjadi dirinya sendiri tanpa memandang
label yang diberikan kepadanya. Akibatnya, ia akan mencoba melihat
9
dirinya secara mendasar seperti label yang diberikan kepadanya,
terutama sekarang ia mengetahui orang lain memanggilnya seperti
label yang diberikan.
2. Deviant Career
Konsep Deviant Career mengacu pada seseorang yang diberi
label telah benar-benar bersikap dan bertindak seperti label yang
diberikan kepadanya secara penuh. Kai T. Erikson dalam Becker (9
Januari 2005) menyatakan bahwa label yang diberikan bukanlah
keadaan sebenarnya, tetapi merupakan pemberian dari anggota
lingkungan yang mengetahui dan menyaksikan tindakan mereka baik
langsung maupun tidak langsung.
B. Remaja
1. Definisi Remaja
Remaja, dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari
bahasa Latin adolescere yang artinya tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa. Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence
sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental,
emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1995). Pandangan ini didukung
oleh Piaget (Hurlock, 1995) yang mengatakan bahwa secara
psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi
terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak
merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua
melainkan merasa sama.
WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan
remaja, pada tahun 1985 menetapkan tahun pemuda internasional
dengan kriteria usia pemuda 15-24 tahun. Periode remaja adalah masa
transisi dalam periode anak-anak ke periode dewasa, periode ini
10
dianggap sebagai masa yang amat penting dalam kehidupan sekarang
khususnya dalam perkembangan kepribadian individu (Irwanto, 2002).
Remaja merupakan masa peralihan antar masa kanak-kanak
dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan
seksual yaitu antara 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun yaitu
menjelang masa dewasa muda. Remaja tidak mempunyai tempat yang
jelas, yaitu bahwa mereka tidak termasuk golongan anak-anak tetapi
tidak juga termasuk golongan orang dewasa (Soetjiningsih, 2004).
Periode remaja adalah masa transisi dalam periode anak-anak
ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang
sangat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam
pembentukan kepribadian individu. Kebanyakan ahli memandang
masa remaja harus dibagi dalam dua periode karena terdapat ciri-ciri
perilaku yang cukup banyak berbeda dalam kedua sub periode tersebut
(Irwanto, 2002).
Secara umum, periode remaja merupakan klimaks dari periode-
periode perkembangan sebelumnya. Dalam periode ini apa yang
diperoleh dalam masa-masa sebelumnya diuji dan dibuktikan sehingga
dalam periode selanjutnya individu telah mempunyai suatu pola
pribadi yang lebih mantap (Irwanto, 2002).
Ciri-ciri perilaku yang menonjol pada usia-usia ini terutama
terlihat pada perilaku sosialnya. Dalam masa-masa ini teman sebaya
punya arti yang sangat penting. Mereka ikut dalam klub-klub atau
geng-geng sebaya yang perilaku dan nilai-nilai kolektifnya sangat
mempengaruhi perilaku serta nilai-nilai individu yang menjadi
anggotanya. Inilah proses dimana individu membentuk pola perilaku
dan nilai baru yang pada gilirannya bisa menggantikan nilai-nilai serta
pola perilaku yang dipelajarinya di rumah (Irwanto, 2002).
11
Tugas perkembangan remaja menurut pendapat Luellaa Cole
(dalam Yusuf, 2009) mengklasifikasikan dalam sembilan kategori
yaitu kematangan emosional, kemantapan minat-minat heteroseksual,
kematangan sosial, emansipasi dari kontrol keluarga, kematangan
intelektual, memilih pekerjaan, menggunakan waktu senggang secara
tepat, memiliki filsafat hidup, dan identifikasi diri.
Pada umumnya masa remaja dibagi menjadi dua bagian yaitu
awal masa dan akhir masa remaja. Awal masa remaja berlangsung dari
13-16 tahun dan akhir masa remaja bermula dari usia 16-17 tahun
sampai delapan belas tahun, yaitu usia matang secara hukum. Fase
remaja terdiri atas remaja awal (11-14 tahun), remaja pertengahan (14-
17 tahun), dan remaja akhir (17-20) tahun (Kaplan & Sadock, 1997).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa remaja
adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa yang
berkisar antara 10 sampai 20 tahun dimana pada masa ini terjadi
perubahan psikologis, sosial dan fisiologis.
2. Perkembangan remaja (Santrock, 2007)
a. Perkembangan Psikososial Pada Remaja
Pencarian identitas diri merupakan tugas utama
perkembangan psikososial remaja. Remaja harus membentuk
hubungan sebaya yang dekat atau tetap terisolasi secara sosial.
Remaja mencari identitas kelompok karena mereka membutuhkan
harga diri dan penerimaan. Remaja bekerja mandiri secara
emosional dari orang tua, sambil mempertahankan ikatan keluarga
dan mengembangkan sistem etisnya sendiri berdasarkan nilai-nilai
personal. Kebutuhan yang kuat dari identitas kelompok tampaknya
merupakan konflik pada saat pencarian identitas diri. Seolah-olah
remaja membutuhkan ikatan kuat dengan sebayanya sehingga
12
mereka kemudian dapat menemukan kembali diri mereka dalam
identitas kelompok (Potter, 2005).
Perkembangan penilaian moral sangat tergantung pada
ketrampilan kognitif, komunikasi serta interaksi sebayanya.
Meskipun perkembangan moral mulai pada masa kanak-kanak
awal. Remaja belajar untuk memahami peraturan yang merupakan
persetujuan kooperatif yang dapat dimodifikasi untuk memperbaiki
situasi. Remaja menilai diri mereka sendiri dengan ide internal,
yang sering menyebabkan konflik antara nilai diri dan nilai
kelompok (Potter, 2005).
b. Perkembangan Sosioemosional Pada Remaja
Satu dari ciri-ciri remaja adalah penampilan reflectivity atau
kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang terjadi pada pikiran
diri seseorang dan mempelajari dirinya sendiri. Remaja mulai
melihat lebih dekat diri mereka sendiri untuk mendefinisikan
bahwa diri mereka berbeda. Mereka belajar diam-diam bahwa
orang lain tidak dapat mengerti secara penuh apa yang mereka
pikir dan rasakan. Menurut Erikson tahap selama remaja adalah
berpusat pada siapa saya, dengan identitas apa sebetulnya saya.
Perubahan pubertas mengharuskan remaja untuk mengubah konsep
fisik mereka, menyesuaikan diri terhadap harapan-harapan teman
dan keluarga serta membuat keputusan tentang peranan sekolah
dan tingkah laku (Djiwandono, 2006).
Meningkatnya kemampuan kognitif dan kesadaran remaja
memberikan peluang kepada mereka untuk mengatasi stress dan
fluktuasi emosi secara lebih efektif. Meskipun demikian beban
emosional remaja dapat membuat sebagian remaja tidak bisa
mengatasinya. Bentuk emosional yang perlu dikembangkan pada
remaja adalah remaja mempunyai peranan yang penting dalam
13
memahami perilaku secara emosional yang dapat mempengaruhi
orang lain tanpa kondisi emosional itu dikuasai oleh orang lain
(Santrock, 2007).
3. Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang
membedakannya dengan periode sebelumnya dan sesudahnya
(Hurlock, 1995). Ciri-ciri tersebut antara lain:
a. Masa remaja sebagai periode yang penting
Pada masa remaja baik akibat langsung maupun akibat
jangka panjang tetap penting. Ada periode yang penting karena
akibat psikologis. Perkembangan fisik yang tepat disertai dengan
cepatnya perkembangan mental terutama pada awal masa remaja,
dimana perkembangan itu dapat menimbulkan perlunya
penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan
minat baru (Hurlock, 1995).
b. Masa remaja sebagai periode peralihan
Peralihan tidak berarti terputus atau berubah dari apa yang
terjadi sebelumnya, tetapi peralihan yang dimaksud adalah dari
satu tahap perkembangan ketahap berikutnya. Artinya, apa yang
terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang
terjadi sekarang dan yang akan datang. Bila anak beralih dari masa
kanak-kanak kemasa dewasa, anak harus meninggalkan segala
sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari
pola perilaku dan sikap baru untuk mengartikan perilaku dan sikap
yang sudah ditinggalkan (Hurlock, 1995).
Namun perlu disadari bahwa apa yang telah terjadi akan
meninggalkan bekasnya dan akan mempengaruhi pola perilaku dan
sikap yang baru. Perubahan fisik yang terjadi tahun awal masa
14
remaja mempengaruhi tingkat individu dan mengakibatkan
diadakannya penilaian kembali penyesuaian nilai-nilai yang telah
begeser (Hurlock, 1995).
c. Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa
remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa
remaja, ketika perubahan fisik terjadi sangat pesat, perubahan
perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik
menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga
(Hurlock, 1995).
d. Masa remaja sebagai usia bermasalah
Masalah pada remaja sering menjadi masalah yang sulit
diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Terdapat
dua alasan bagi kesulitan anak tersebut, yaitu (1) sepanjang masa
kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang
tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak
berpengalaman dalam mengatasi masalah, (2) para remaja merasa
mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri,
menolak bantuan dari orang tua dan guru. Ketidakmampuan remaja
untuk mengatasi masalahnya, maka mereka memakai menurut cara
mereka sendiri.
Banyak akhirnya remaja menemukan bahwa
penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.
Banyak kegagalan yang sering kali disertai akibat tragis, bukan
karena ketidakmampuan individu tetapi kenyataan bahwa tuntutan
yang diajukan kepadanya justru saat tenaganya telah dihabiskan
untuk mencoba mengatasi masalah pokok, yang disebabkan oleh
pertumbuhan dan perkembangan seksual yang normal (Hurlock,
1995).
15
e. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Anggapan streotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak
yang tidak rapih, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung
merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa
yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja yang
takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik tehadap
perilaku remaja yang normal (Hurlock, 1995).
f. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah,
para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan
tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hamper
dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata
belum cukup dewasa. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan
diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa
(Hurlock, 1995).
g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca
berwarna merah jambu. Cita-cita yang tidak realistik, tidak hanya
bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya,
menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awal
masa remaja. Dan berakhirnya masa remaja, pada umumnya anak
laki-laki maupun perempuan sering terganggu oleh idealisme yang
berlebihan bahwa mereka segera harus melepaskan kehidupan
mereka yang bebas bila telah mencapai status orang dewasa
(Hurlock, 1995).
h. Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri.
Pengertiannya akan siapa ahli yang dipengaruhi oleh pandangan
16
orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya
akan menentukan pola perilaku sebagai orang dewasa (Irwanto,
2002).
C. Labelingpada Remaja
Seorang remaja yang diberi label akan melakukan perbuatan
menyimpang yang menjadikan suatu reaksi sosial yang informal,
dilajutkan dengan melakukan pelanggaran aturan yang meyebabkan
peningkatan reaksi sosial. Remaja akan melakukan perbuatan menyimpang
lebih serius yang menjadi reaksi formal. Pada akhirnya diberi label yang
kemudian ia mulai berfikir tentang dirinya yang diberikan label oleh
temannya. Remaja akan lebih serius melakukan penyimpangan setelah
label itu diberikan kepadanya (Santoso, 2003).
Remaja yang dicap sebagai para remaja yang nakal maka akan
menjadi remaja yang benar-benar nakal sebagaimana yang dituduhkan
masyarakat kepadanya. Masyarakat memperlakukan remaja sebagai anak
nakal, dan para remaja sependapat dengan persepsi tersebut. Pola
penyimpangan mereka diperkuat, sehingga semakin lama semakin tidak
mungkin bagi mereka untuk melepaskan diri dari pola penyimpangan.
Sekali para remaja itu mempunyai citra diri sebagai penyimpang, maka
mereka akan memilih teman-teman baru mereka yang mempertebal citra
diri itu. Dimana konsep diri itu tertanam, mereka bersedia mencoba
penyimpangan baru yang lebih buruk. Perasaan mereka yang semakin
besar diiringi oleh pernyataan sikap tidak hormat dan kasar terhadap para
wakil masyarakat. Sikap tidak hormat yang semakin meningkat itu juga
meningkatkan cara pandang negatif terhadap masyarakat (Horton & Hunt,
1999).
D. Dampak Labelingpada Remaja
Bagi para pelaku penyimpang sebutan tersebut menjadi
menyulitkan, mereka akan mulai bertindak selaras dengan sebutan itu.
17
Dampaknya mungkin keluarga, teman, atau lingkungannya tidak mau lagi
bergabung dengan yang bersangkutan. Dengan kata lain orang akan
mengalami stigma sebagai penyimpang/menyimpang dengan berbagai
konsekwensinya, ia akan dikeluarkan dari kontak dan hubungan-hubungan
yang yang ada (konvensional). Kondisi seperti ini akan sangat
menyulitkan yang bersangkutan untuk menata identitasnya dari seseorang
yang bukan deviant. Akibatnya, ia akan mencoba melihat dirinya secara
mendasar sebagai kriminal dan sekarang ia mengetahui orang lain
memanggilnya sebagai jahat (Turner, 2010).
Dampak labeling itu sendiri diantaranya adalah:
1. Sosial
Perbuatan remaja yang bersifat melawan hukum dan anti sosial
pada dasarnya tidak disukai oleh masyarakat. Problema sosial itu
sendiri menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Oleh karena itu,
problema-problema sosial yang berwujud kenakalan remaja tentu
timbul dan dialami oleh sebagian besar seseorang yang mendapatkan
label di masyarakat (Sudarsono, 2004).
Pelabelan memandang pribadi manusia terbentuk melalui
proses interaksi sosial dengan memisahkan yang baik dari yang buruk
dan yang berlaku biasa dengan yang menyimpang. Tingkah laku sosial
terbangun dalam suatu proses yang belanjut dari aksi dan reaksi
(Santoso, 2003).
Aksi dan reaksi akan menimbulkan dampak sosial dalam
labeling. Misalnya berperilaku seks menyimpang, mengambil milik
orang lain dan tidak merasa bersalah, membunuh secara kejam tanpa
rasa dosa, dan meledakan bom dengan kekuatan tinggi sehingga
meluluh-lantakan sebuah cafe dan tetap tersenyum manis manakala
profilnya menjadi pajangan berita. Banyak perilaku seseorang yang
bertindak secara berbeda. Konsekuensinya mereka dikucilkan,
18
dihilangkan dari peredaran hubungan sosial, memisahkan diri
(ekslusif), atau dihukum mati karena merugikan atau menghilangkan
nyawa orang lain (Atwar, 2008, http://atwarbajari.wordpress.com/
2008/12/06/bagaimana-individu-menjadi-devian/, diunduh 23
November 2010).
2. Spiritual
Label yang diberikan masyarakat pada dirinya memberikan
dampak pada spiritualnya. Misalnya seseorang yang melakuan
kejahatan sebagian besar kurang memahami norma-norma agama yang
lupa akan perintah-perintah agamanya, bahkan Tuhan mungkin
dianggap tidak ada pada saat diberi label oleh masyarakat (Sudarsono,
2004).
Distres spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang
mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat
mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisiolasi dari orang lain.
Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan
pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber
dari makna hidup (Potter, 2005).
3. Psikologis
Label atau predikat yang dimaksud adalah nama yang diberikan
masyarakat atau individu terhadap anak yang mempunyai karakteristik
tertentu. Kadang pemberian label tersebut ada yang merupakan
penghargaan terhadap diri anak tersebut, tetapi ada juga yang dapat
membuat seseorang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan baik
buat diri sendiri maupun keluarga. Sebaliknya bagi anak yang berlabel
negatif akan memberikan dampak psikologis bagi anak. Anak akan
merasa rendah diri, merasa tidak berguna, merasa tidak mampu dan
pesimis (Rafif, 2010, http://rafifsafaalzena.blogspot.com/2010/08/
dampak-psikologis-atas-labeling.html, di unduh 12 April 2011).
19
Pelabelan negatif yang diberikan akan mengurung seseorang
kedalam label tersebut dan mereka cenderung menjerumuskan dirinya
menjadi apa yang dilabelkan kepadanya dan akan berdampak pada
psikologis seseorang. Sebagai contoh dampak psikologis misalnya:
emosi yang sulit untuk dikendalikan, cepat sedih, putus asa, tidak mau
berbicara, tempertantrum, dan kemudian melawan dan memberontak
(Hurlock, 2005).
4. Kognitif
Pelabelan-pelabelan yang diterima oleh seseorang
menyebabkan ia memiliki perkembangan kognitif negatif. Mereka
cenderung menjerumuskan dirinya menjadi apa yang dilabelkan
kepadanya. Dampak kognitif itu misalnya: ketidakmampuan untuk
membuat keputusan, kerusakan memori dan penilaian, disorientasi,
salah persepsi, ketidakmampuan untuk menfokuskan perhatian,
kesulitan untuk berfikir logis (Stuart, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan labeling
dengan prestasi belajar di SMA Muhammadiyah Gubug, penurunan
prestasi belajar merupakan salah satu dampak labeling. Dampak
labeling yang bersifat negatif yang mencakup penurunan aktivitas
belajar, penurunan motivasi belajar sampai dengan penurunan prestasi
belajar karena labeling yang diberikan. Dampak lain dari labeling
yaitu berupa aktivitas belajar yang terganggu dan kurangnya
konsentrasi belajar, merasa terbebani dengan labeling tersebut
sehingga menyebabkan penurunan prestasi belajar (Mulyati, 2010).
20
E. Fokus Penelitian
Skema 2.1 Fokus Penelitian
Hubungan sosial
remaja
Keterangan:
= area penelitian.
Karakter dan
bentuk fisik
remaja
Label
individu
kelompok
Dampak labeling:
- Sosial individu
- Spiritual individu
- Psikologis individu
- Kognitif individu
Dampak labeling:
- Sosial kelompok
- Spiritual kelompok
- Psikologis kelompok
- Kognitif kelompok