Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN PERILAKU (PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTEK) IBU DALAM

STIMULASI PERKEMBANGAN DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 12-


36 BULAN

Ahsan S.Kp, M.Kes, Ns. Rinik Eko K. S.Kep, M.Kep, Iva Maulida Chusnia CN

ABSTRAK

Usia 12-36 bulan merupakan periode emas bagi seorang anak karena pada masa ini
perkembangan bahasa anak berkembang pesat. Perkembangan bahasa akan maksimal jika
ditunjang oleh perilaku ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan. Perilaku ibu sendiri
berasal dari pengetahuan, sikap dan praktek ibu dalam stimulasi. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui hubungan antara perilaku (pengetahuan, sikap dan praktek) ibu dalam stimulasi
perkembangan dengan perkembangan bahasa anak usia 12-36 bulan. J enis penelitian
observasional analitik dengan cross sectional study terhadap masing-masing 40 ibu dan
anak usia 12-36 bulan di Posyandu Selobekiti Selatan. Sampel dipilih menggunakan teknik
purposive sampling. Variabel yang diukur adalah perilaku (pengetahuan, sikap dan praktek)
ibu dan perkembangan bahasa anak. Uji statistik menggunakan korelasi Spearman dengan
taraf kepercayaan 95%. Hasil analisa bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna
antara pengetahuan, sikap dan praktek ibu dalam stimulasi perkembangan dengan
perkembangan bahasa anak, dengan kekuatan korelasi masing-masing sebesar 0,467,
0,477 dan 0,501. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin baik perilaku (pengetahuan,
sikap dan praktek) ibu semakin baik pula perkembangan bahasa anak. Perlu adanya
penyuluhan tentang stimulasi perkembangan dan monitor perkembangan anak secara
teratur.
Kata kunci: perilaku, pengetahuan, sikap, praktek , perkembangan bahasa, usia 12-36 bulan

ABSTRACT

Age 12-36 months is a golden period for children, because childrens language
adative are growing rapidly. Language adaptive will maximal if it is supported by the
behavior of the mother in stimulating development. Maternal behavior comes from the
knowledge, attitude and practice of mothers in the stimulation. This study aims to determine
the correlation among the mothers behavior (knowledge, attitude and practice) in
development stimulation langauge adaptive of child 12-36 months old. Kind of observational
analytic study with cross sectional method conducted on 40 mothers and her children in
Posyandu Selobekiti Selatan. Samples were selected using purposive sampling technique.
The variable measured in this study is mothers behavior (knowledge, attitude and practice)
and children language adaptive. The statistical test used Spearman Rho Correlation with
significance value 95%. The result of bivariat analysis showed that there is a significant
relationship between mothers behavior (knowledge, attitude and practice) and children
language adaptive with strength of correlation 0,467, 0,477 dan 0,501. The conclusion of this
study is better mothers behaviour (knowledge, attitude and practice) will make children
language adaptive better. Need more education about development stimulation and
monitoring childs development continuity.

Key word: behavior, knowledge, attitude, practice, language adaptive, 12-36 months old.
1. PENDAHULUAN

Keterlambatan bicara terjadi pada
anak apabila tingkat perkembangan
bicara anak berada dibawah tingkat
kualitas perkembangan bicara anak yang
umurnya sama (Hurlock, 1995).
Beberapa data menunjukkan angka
kejadian anak yang mengalami
keterlambatan bicara (speech delay)
cukup tinggi. Di Poliklinik Tumbuh
Kembang anak RS Dr. Kariadi dari bulan
J anuari 2007 sampai Desember 2007
diperoleh dari 436 kunjungan baru
terdapat 100 anak (22,9 %) dengan
keluhan gangguan bicara dan berbahasa.
Gangguan bicara dan bahasa dialami
oleh 8% anak usia pra sekolah dan
hampir sebanyak 20% dari anak berumur
2 tahun mempunyai gangguan
keterlambatan bicara. (Hidajati, 2009).
Gangguan bicara dan bahasa
(keterlambatan bicara) pada anak
disebabkan oleh bergbagai macam faktor
salah satunya kurangnya keseriusan
orang tua memberikan dorongan
(stimulasi) kepada anak (Hurlock, 1995).
Kurangnya dorongan dari orang tua
adalah penyebab serius keterlambatan
bicara, terlihat dari fakta bahwa bahwa
apabila orang tua tidak hanya berbicara
pada anak tapi juga memberikan variasi
kata yang luas akan meningkatkan
kemampuan anak berbicara lebih cepat
(Hurlock, 1995).
Dampak dari keterlambatan bicara
tidak hanya mempengaruhi penyesuaian
sosial dan pribadi anak tapi juga
penyesuaian akademik mereka,
pengaruh serius adalah terhadap
kemampuan membaca yang merupakan
mata pelajaran pokok pada awal karir
anak, hal ini akan berpengaruh terhadap
kemampuan mengeja. Ketidakmampuan
berprestasi ditambah masalah
penerimaan sosial akan menyebabkan
rasa benci ke sekolah dan menyebabkan
terhambatnya proses akademik (Hurlock,
1995).
Pencegahan dan deteksi dini
gangguan perkembangan berbahasa
pada anak sangat penting. Langkah
pecegahan dan deteksi dini dapat
dilakukan dengan memberikan stimulasi
pada anak (Fadhli, 2010). Stimulasi
adalah perangsangan yang datangnya
dari luar individu anak (Soetjiningsih,
1998).
Stimulasi bagi anak balita sangat
penting, maka perilaku ibu dalam
pemberian stimulasi juga menjadi penting
(Hariweni, 2003). Menurut teori S-O-R
oleh Skinner, perilaku ibu sendiri
terbentuk dari adanya perhatian terhadap
stimulasi, yang berkembang menjadi
suatu kesediaan untuk bertindak
(bersikap) dan timbulah tindakan dari ibu
untuk melakukan stimulasi (Notoadmodjo,
2003).
Trie Hariweni (2003) menyebutkan
bahwa dari hasil penelitian di daerah
kumuh di kelurahan Pulogadung J akarta
ditemukan bahwa pengetahuan ibu
tentang stimulasi bagi perkembangan
anak masih sangat kurang. Hanya sekitar 1,3% yang
mempunyai pengetahuan tinggi tentang stimulasi, 34,4%
berpengetahuan sedang dan 64,3% berpengetahuan rendah
tentang stimulasi (Hariweni, 2003). Oleh karena itu, peneliti tertarik
untuk meneliti tentang hubungan perilaku (pengetahuan, sikap,
praktek) ibu dalam stimulasi perkembangan dengan
perkembangan bahasa anak usia 12-32 bulan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya
hubungan perilaku (pengetahuan, sikap, praktek) ibu dalam
stimulasi perkembangan dengan perkembangan bahasa anak usia
12-32 bulan.
Secara teoritis manfaat penelitian ini sebagai masukan
pengetahuan data dan referensi pustaka bidang pediatrik.
Sedangkan secara praktek Penelitian ini dapat menjadi wacana
tentang hubungan perilaku ibu dalam memberikan stimulasi, serta
aplikasi teori stimulasi perkembangan perkembangan dalam
mengoptimalkan perkembangan bahasa anak.







2. KERANGKA KONSEP











Baik
Masa prenatal
Masa bayi (1-12 bulan)



Masa Balita (36-60 bln)
Masa balita (36-60 bln)
Masa Prasekolah (60-72 bln)

Masa Balita (12-36
Faktor perkembangan bahasa:
Kesehatan Urutan Kelahiran
Kecerdasan

Kembar Sosial ekonom
Jenis Kelamin Ukuran Keluarga
Kepribadian Pelatihan anak, dll

stimulasi
Pengetahuan Ibu
tentangstimulasi
Pengetahuan Ibu
tentangstimulasi
Pengetahuan Ibu
tentangstimulasi
Sikap Ibu tentang
stimulasi
Praktek Ibu
dalam stimulasi
Perilaku Ibu dlm
Stimulasi
Perkembangan
Anak Usia 12-15 bulan
a. Membuat suara
b. Menyebut bagian tubuh
c. Pembicaraan
Anak Usia 15-18 Bulan
a. Bercerita tentang gambar di
buku/majalah
b. Telepon-teleponan
c. Menyebut nama barang
Anak Usia 18-24 Bulan
a. Melihat acara televisi
b. Mengerjakan perintah
sederhana
c. Berbicara yang dilihatnya
Anak Usia 24-36 Bulan
a. Menyebut nama lengkap
anak
b. Bercerita tentang diri anak
c. Menyebut jenis pakaian

Imitation
Practice
Reinforcement
Habituation

Perkembangan bahasa anak
12-36 bulan
Baik Cukup Kurang
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Peri l aku (Pengetahuan, Si kap,
Praktek) Ibu dal am Stimul asi Perkembangan dengan
Perkembangan Bahasa Anak Usi a 12-36 Bul an.
3. METODOLOGI PENELITIAN

Design penelitian adalah cross
sectional design. Dalam penelitian ini
sampel adalah anak usia 12-36 bulan di
Posyandu Selobekiti Selatan Desa Plandi
Kecamatan Wonosari Malang berjumlah
40 orang. Teknik sampling adalah
purposive sampling. Untuk variabel
dependen (perkembangan bahasa) diukur
dengan DDST II (khusus sektor bahasa)
yang dimodifikasi dan variabel independen
(perilaku ibu) diukur dengan kuisioner
yang telah dilakukan uji validitas dan
reliabilitas. Penelitian ini dilakukan di
Posyandu Selobekiti Selatan pada 13-16
Desember 2012.

4. HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Perilaku (Pengetahuan,
Sikap dan Praktek) Ibu dan
Perkembangan Bahasa Anak
Dari hasil pengukuran menggunakan
kuisioner terhadap 40 responden, perilaku
(pengetahuan, sikap dan praktek) ibu
dalam stimulasi perkembangan dapat
digambarkan dalam diagram pie sebagai
berikut:

Gambar 4.1 Diagram Pie Tingkat
Pengetahuan Ibu Tentang Stimulasi
Tumbuh Kembang di Posyandu Selobekiti
Selatan Desa Plandi Kecamatan Wonosari
Kabupaten Malang
Berdasarkan diagram 4.1 dapat
diketahui bahwa dari 40 responden
sebagian besar memiliki tingkat
pengetahuan cukup, yaitu sebanyak 26
responden (65%).

Gambar 4.2 Diagram Pie Sikap Ibu tentang
Stimulasi Tumbuh Kembang di Posyandu
Selobekiti Selatan Desa Plandi Kecamatan
Wonosari Kabupaten Malang
Berdasarkan diagram 4.2 dapat
diketahui bahwa dari 40 responden
sebagian besar memiliki sikap cukup,
yaitu sebanyak 20 responden (50%).

Gambar 4.3 Diagram Pie Praktek Ibu Dalam
Stimulasi Tumbuh Kembang di Posyandu
Selobekiti Selatan Desa Plandi Kecamatan
Wonosari Kabupaten Malang
Berdasarkan diagram 4.3 dapat
diketahui bahwa dari 40 responden
sebagian besar memiliki praktek cukup,
yaitu sebanyak 21 responden (52%)



Gambar 4.4 Diagram Pie Perkembangan Bahasa Anak Usia 12-36 Bulan
di Posyandu Selobekiti Selatan Desa Plandi Kecamatan Wonosari
Kabupaten Malang.
Berdasarkan diagram 4.4 dapat diketahui bahwa dari 40
responden yang diteliti sebagian besar responden memiliki
perkembangan bahasa anak yang cukup yaitu sebanyak 18
responden (45%).
4.2 Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi
Perkembangan dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia
12-36 Bulan
Tabel 4.1 Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi Tumbuh
Perkembangan dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 12-36
Bulan
Tingkat
Pengetahuan Ibu
Perkembangan Bahasa Anak
Total % Baik Cukup Kurang
N % N % N %
Baik 4 10 2 5 0 0 6 15
Cukup 8 20 14 35 4 10 26 65
Kurang 1 3 2 5 5 12 8 20
Total 13 33 18 45 9 22 40 100
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa sebagian
besar ibu yang memiliki tingkat pengetahuan cukup juga memiliki
anak dengan perkembangan bahasa yang cukup, yaitu sebanyak
14 responden (35%).
4.3 Hubungan Sikap Ibu tentang Stimulasi Perkembangan
dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 12-36 Bulan
Tabel 4.2 Hubungan Sikap Ibu Tentang Stimulasi Perkembangan dengan
Perkembangan Bahasa Anak Usia 12-36 Bulan
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian
besar ibu yang memiliki sikap cukup juga memiliki anak dengan
perkembangan bahasa yang cukup, yaitu 13 responden (32%).




Sikap Ibu
Perkembangan Bahasa Anak
Total %
Baik Cukup Kurang
N % N % N %
Baik 8 20 5 13 2 5 15 38
Cukup 5 13 13 32 2 5 20 50
Kurang
0 0 0 0 5 12 5 12
Total
13 33 18 45 9 22 40 100
4.3 Hubungan Praktek Ibu dalam Stimulasi Perkembangan
dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 12-36 Bulan
Tabel 4.3 Hubungan Praktek Ibu dalam Stimulasi Perkembangan dengan
Perkembangan Bahasa Anak Usia 12-36 Bulan
Praktek Ibu
Perkembangan Bahasa Anak
Total % Baik Cukup Kurang
N % N % N %
Baik 8 20 6 16 1 2 15 38
Cukup 5 13 12 29 4 10 21 52
Kurang 0 0 0 0 4 10 4 10
Total 13 33 18 45 9 22 40 100
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar
ibu yang memiliki praktek cukup juga memiliki anak dengan
perkembangan bahasa yang cukup, yaitu sebanyak 12 responden
(29%).
4.4 Analisis Data
Tabel 4.4 Analisis Statistik Korelasi Spearman Tingkat pengetahuan Ibu
dan Perkembangan Bahasa
Variabel
N
Koefisien Korelasi
(r)
Signifikansi (p)
Tingkat Pengetahuan Ibu 40 0.467 0.002
Perkembangan Bahasa 40 0.467 0.002
Berdasarkan uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai signifikansi
0,002 yang menunjukkan bahwa korelasi antara tingkat
pengetahuan ibu dengan perkembangan bahasa adalah bermakna.
Nilai korelasi Spearman sebesar 0,467 menunjukkan bahwa
kekuatan korelasi (r) sedang. Nilai korelasi Spearman sebesar
(+)0,467 juga menunjukkan bahwa ada hubungan positif, artinya
semakin meningkat pengetahuan ibu semakin baik perkembangan
bahasa anak atau sebaliknya.
Tabel 4.5 Analisis Statistik Korelasi Spearman Sikap Ibu dan
Perkembangan Bahasa
Variabel N
Koefisien Korelasi
(r)
Signifikansi (p)
Sikap Ibu 40 0.477 0.002
Perkembangan Bahasa 40 0.477 0.002
Berdasarkan uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai signifikansi
0,002 yang menunjukkan bahwa korelasi antara sikap ibu dengan
perkembangan bahasa adalah bermakna. Nilai korelasi Spearman
sebesar 0,477 menunjukkan bahwa kekuatan korelasi (r) sedang.
Nilai korelasi Spearman sebesar (+)0,477 juga menunjukkan bahwa
ada hubungan positif, artinya semakin meningkat sikap ibu semakin
baik perkembangan bahasa anak atau sebaliknya.
Tabel 4.6 Analisis Statistik Korelasi Spearman Praktek Ibu dan
Perkembangan Bahasa

Variabel N
Koefisien Korelasi
(r)
Signifikansi (p)
Prakek Ibu 40 0.501 0.001
Perkembangan Bahasa 40 0.501 0.001
Berdasarkan uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai signifikansi
0,001 yang menunjukkan bahwa korelasi antara praktek ibu dengan
perkembangan bahasa adalah bermakna.
Nilai korelasi Spearman sebesar 0,501
menunjukan bahwa kekuatan korelasi (r)
sedang. Nilai korelasi Spearman sebesar
0,501 menunjukkan bahwa kekuatan
korelasi (r) sedang. Nilai korelasi
Spearman sebesar (+)0,501 juga
menunjukkan bahwa ada hubungan
positif, artinya semakin meningkat praktek
ibu semakin baik perkembangan bahasa
anak atau sebaliknya.

5 PEMBAHASAN
5.1 Hubungan Pengetahuan Ibu
Tentang Stimulasi Perkembangan
dengan Perkembangan Bahasa
Anak Usia 12-36 Bulan
Hubungan pengetahuan ibu tentang
stimulasi perkembangan dengan
perkembangan bahasa didapatkan nilai
signifikansi <0,05 yakni 0,002 yang
menunjukkan bahwa korelasi antara
tingkat pengetahuan ibu dengan
perkembangan bahasa adalah bermakna.
Nilai korelasi Spearman (r) sebesar
(+)0,467 yang menunjukkan bahwa
korelasi (r) bersifat positif dan berkekuatan
sedang. Bersifat positif berarti semakin
tinggi tingkat pengetahuan ibu semakin
tinggi pula tingkat perkembangan bahasa
atau sebaliknya. Sedangkan kekuatan
korelasi (r) bernilai sedang karena kriteria
bahwa kekuatan korelasi (r) sedang jika
terdapat pada rentang 0,40-0,599
(Dahlan, 2009).
Hasil dari peneliti sesuai dengan hasil
penelitian Dwijayanti (2008) yang meneliti
tentang hubungan pengetahuan dan
stimulasi bahasa oleh ibu dengan
perkembangan bahasa anak usia toddler.
Menurut Hurlock (1995) bahwa
stimulasi Perkembangan merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi
perkembangan bahasa anak. Disini orang
tua khususnya ibu sebagai guru yang
pertama bagi anak untuk membantu
kemampuan bahasa anak dengan
memberikan stimulasi. Faktor
pengetahuan merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi perilaku ibu dalam
pemberian stimulasi Perkembangan anak,
dengan terbatasnya kemampuan ibu
dalam pengetahuan sehingga
memungkinkan terhambatnya
perkembangan anak (Soetjiningsih, 1995).
Oleh karena itu diperlukan ibu yang
melakukan stimulasi terarah dan teratur
agar anak lebih cepat berkembang
dibandingkan dengan anak yang
kurang/tidak mendapat stimulasi
(Soetjiningsih, 1995).
5.2 Hubungan Sikap Ibu Tentang
Stimulasi Perkembangan dengan
Perkembangan Bahasa Anak Usia
12-36 Bulan
Hubungan sikap ibu tentang stimulasi
Perkembangan dengan perkembangan
bahasa didapatkan nilai signifikansi <0,05
yakni 0,002 yang menunjukkan bahwa
korelasi antara sikap ibu dengan
perkembangan bahasa adalah bermakna.
Nilai korelasi Spearman (r) sebesar
(+)0,477 yang menunjukkan bahwa
korelasi (r) bersifat positif dan berkekuatan
sedang. Bersifat positif berarti semakin
tinggi sikap ibu semakin tinggi pula tingkat
perkembangan bahasa atau sebaliknya.
Sedangkan kekuatan korelasi (r) bernilai
sedang karena kriteria bahwa kekuatan
korelasi (r) sedang jika terdapat pada
rentang 0,40-0,599 (Dahlan, 2009).
Hasil penelitian dari peneliti sesuai
dengan hasil penelitian Hotmaria (2010)
yang meneliti tentang hubungan
pengetahuan dan sikap ibu tentang
stimulasi perkembangan terhadap
perkembangan motorik kasar anak usia 3-
5 tahun di kelurahan Kwala Bekala.
Sikap merupakan faktor predisposisi
dari perilaku (Notoadmodjo, 2003).
Setelah ibu memeroleh informasi maka
akan berkembang menjadi suatu
kesediaan untuk bertindak/ bersikap
(Notoadmodjo, 2003). Demikian halnya
apabila ibu telah memperoleh informasi
tentang stimulasi maka akan terjadi
kesediaan ibu untuk melakukan stimulasi.
Suatu tindakan yang didasarkan sikap
akan lebih langgeng (Notoadmodjo, 2003).
Dengan adanya sikap yang baik akan
menyebabkan tindakan ibu dalam
melakukan stimulasi menjadi langgeng
sehingga stimulasi pada anak akan lebih
berkelanjutan. Dengan melakukan
stimulasi yang bertahap dan berkelanjutan
akan mengoptimalkan perkembangan
anak salah satunya perkembangan
bahasa (Depkes RI, 2006).


5.3 Hubungan Praktek Ibu Dalam
Stimulasi Perkembangan dengan
Perkembangan Bahasa Anak Usia
12-36 Bulan
Hubungan praktek ibu dalam stimulasi
Perkembangan dengan perkembangan
bahasa didapatkan nilai signifikansi <0,05
yakni 0,001 yang menunjukkan bahwa
korelasi antara praktek ibu dengan
perkembangan bahasa adalah bermakna.
Nilai korelasi Spearman (r) sebesar
(+)0,501 yang menunjukkan bahwa
korelasi (r) bersifat positif dan berkekuatan
sedang. Bersifat positif berarti semakin
tinggi praktek ibu semakin tinggi pula
tingkat perkembangan bahasa atau
sebaliknya. Sedangkan kekuatan korelasi
(r) bernilai sedang karena kriteria bahwa
kekuatan korelasi (r) sedang jika terdapat
pada rentang 0,40-0,599 (Dahlan, 2009).
Hasil peneliti didapatkan adanya
hubungan praktek ibu dalam stimulasi
Perkembangan dengan perkembangan
bahasa anak. Apabila ibu melakukan
praktek stimulasi tumbuh kembang akan
merangsang kemampuan dasar anak
salah satunya adalah kemampuan
berbahasa (Depkes RI, 2006). Hal ini
diperkuat oleh Hurlock (1995) yang
menyatakan semakin banyak anak
didorong untuk berbicara dengan
mengajaknya berbicara dan didorong
menanggapinya, akan semakin awal
mereka belajar berbicara dan semakin
baik kualitas bicaranya. Disini praktek ibu
sebagai guru pertama bagi anak dalam
memberikan stimulasi tumbuh kembang
akan dapat menentukan perkembangan
kemampuan bicara anak (Soetjiningsih,
1995).
Sebelum orang mengadopsi perilaku
baru didalam diri orang tersebut terjadi
proses yang berurutan yakni dari
kesadaran informasi yang diketahui,
kemudian akan timbul rasa ketertarikan,
lalu mulai mengevaluasi baik dan
buruknya objek tersebut, kemudian mulai
mencoba perilaku baru sdan akhirnya
menerima dan telah berperilaku baru
sesuai dengan pengetahuan, kesadaran
dan sikapnya terhadap objek (Rogers
dalam Notoatmodjo, 2003). Hasil peneliti
didapatkan sebagaian besar responden
mempunyai informasi atau pengetahuan
yang cukup, sikap yang cukup dan praktek
yang cukup dalam pemberian stimulasi
yang hal ini berhubungan dengan
kemampuan bahasa anak yang sebagaian
besar cukup.
Proses pemberian stimulasi
perkembangan oleh ibu tentunya tak lepas
dari tingkat pengetahuan, sikap dan
praktek yang dimiliki ibu. Semakin tinggi
tingkat pengetahuan,sikap dan praktek ibu
dalam stimulasi perkembangan maka
semakin baik pula perilaku ibu dalam
pemberian stimulasi kepada anak
sehingga perkembangan bahasa anak
semakin optimal dan sebaliknya, semakin
rendah tingkat pengetahuan, sikap dan
praktek ibu dalam stimulasi
perkembangan maka akan semakin
kurang maksimal pula perilaku ibu dalam
pemberian stimulasi terhadap anak
sehingga perkembangan bahasa anak
kurang optimal.
5.4 Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini ada beberapa
keterbatasan diantaranya:
a. Ketidaksesuaian data posyandu
Selobekiti Selatan Desa Plandi
Kecamatan Wonosari Kabupaten
Malang dengan keadaan responden
yang sebenarnya, sehingga hanya
diperoleh 40 sampel dari 43 sampel
yang seharusnya dipenuhi.
b. Banyaknya jumlah pertanyaan dalam
kuisioner yang dapat menyebabkan
responden jenuh dan menimbulkan
bias jawaban.
c. Dalam penelitian ini terdapat faktor-
faktor lain yang tidak diteliti namun
dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Seperti faktor lain yang
mempengaruhi perilaku ibu (misalnya
keyakinan, nilai-nilai dan fasilitas) dan
faktor lain yang mempengaruhi
perkembangan bahasa anak
(misalnya kecerdasan, ukuran
keluarga, keadaan sosial ekonomi
dan metode pelatihan anak).
d. Dalam penelitian ini tidak mengukur
hubungan co- variabel yaitu perilaku
(pengetahuan, sikap dan praktek)
dengan perkembangan bahasa dan
membutuhkan analisis lebih lanjut.




6 PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan
pembahasan, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa:
a. Hasil pengukuran perilaku
didapatkan:
1) Pengetahuan tentang stimulasi
tumbuh kembang pada ibu
didapatkan hasil antara lain
pengetahuan baik sebanyak 6
responden (15%), pengetahuan
cukup sebanyak 26 responden
(65%) dan pengetahuan kurang
sebanyak 8 responden (20%).
2) Sikap tentang stimulasi tumbuh
kembang pada ibu didapatkan
hasil antara lain sikap baik
sebanyak 15 responden (38%),
sikap cukup sebanyak 20
responden (50%) dan
pengetahuan kurang sebanyak 5
responden (12%).
3) Praktek dalam stimulasi tumbuh
kembang pada ibu didapatkan
hasil antara lain praktek baik
sebanyak 15 responden (38%),
praktek cukup sebanyak 21
responden (52%) dan praktek
kurang sebanyak 4 responden
(10%).
b. Hasil pengukuran tingkat
perkembangan bahasa pada anak
usia 12-36 bulan didapatkan hasil
antara lain perkembangan bahasa
baik sebanyak 13 responden (33%),
perkembangan bahasa yang cukup
sebanyak 18 responden (45%) dan
perkembangan bahasa kurang
sebanyak 9 responden (22%).
c. Hasil analisi hubungan:
1) Ada hubungan yang bermakna
antara tingkat pengetahuan ibu
tentang stimulasi perkembangan
dengan perkembangan bahasa
anak usia 12-36 bulan.
2) Ada hubungan yang bermakna
antara sikap ibu tentang stimulasi
perkembangan dengan
perkembangan bahasa anak usia
12-36 bulan.
3) Ada hubungan yang bermakna
antara praktek ibu dalam stimulasi
perkembangan dengan
perkembangan bahasa anak usia
12-36 bulan.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil
penelitian di atas, maka penulis mencoba
menyampaikan beberapa saran, yaitu :
a. Bagi Masyarakat
1) Diharapkan perilaku
(pengetahuan, sikap dan
prektek) ibu dalam stimulasi
tumbuh kembang ditingkatkan
dan perkembangan bahasa anak
lebih diperhatikan lagi.
2) Peran kader posyandu perlu lebih
ditingkatkan dalam pemantauan
perkembangan anak dan
pemberian penyuluhan kepada
ibu tentang stimulasi
perkembangan.
b. Bagi Keperawatan
1) Diharapkan informasi ini dapat
meningkatkan kemampuan
perawat dalam praktik pelayanan
keperawatan anak sebagai bentuk
pelayanan yang holistik dan
komprehensif.
2) Diharapkan perawat dapat
meningkatkan pengetahuan
masyarakat dengan cara
penyuluhan tentang stimulasi
perkembangan dan mengikut
sertakan kader posyandu.
3) Perawat diharapkan mampu
mengidentifikasi perilaku
(pengetahuan, sikap dan praktek)
ibu dalam stimulasi
perkembangan dengan
memberikan konseling dan
informasi kepada ibu.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
1) Bagi peneliti selanjutnya
diharapkan dapat mengadakan
penelitian lanjutan mengenai
perilaku ibu dan perkembanggan
bahasa anak dengan meneliti
faktor lain yang mempengaruhi
perilaku (misalnya keyakinan,
nilai-nilai dan fasilitas) dan faktor
lain yang mempengaruhi
perkembangan bahasa anak
(misalnya kecerdasan, ukuran
keluarga, keadaan sosial
ekonomi dan metode pelatihan
anak).
2) Peneliti selanjutnya diharapkan
melakukan analisis mengenai co-
variabel yaitu perilaku
(pengetahuan, sikap dan praktek)
dengan perkembangan bahasa

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, Sopiyudin M. 2004. Statistik untuk
Kedokteran dan Kesehatan.
Arkans. J akarta.
Depkes RI. 2006. Pedoman Pelaksanaan
Stimulasi, Deteksi dan Intervensi
Dini Tumbuh Kembang Anak di
Tingkat Pelayanan Kesehatan
Dasar. Direktorat Bina Kesehatan
Anak, Dirjen Bina Kesehatan
Masyarakat, J akarta.
Dwijayanti, Ari. 2008. Hubungan
Pengetahuan dan Stimulasi
Bahasa oleh Ibu dengan
Perkembangan Bahasa Anak Usia
Toddler (1-3 Tahun) di Desa
Wonokerto Kecamatan
Karangtengah Kabupaten Demak.
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1
/105/jtptunimus-gdl-aridwijaya-
5204-3-.pdf. Diakses tanggal 20
September 2012. Pukul 15.00 WIB
Fadhli, Aulia. 2010. Buku Pintar
Kesehatan Anak. Pustaka
Anggrek. J akarta.
Hariweni, Trie. 2003. Pengetahuan, Sikap
dan Perilaku Ibu BEkerja dan Tidak
Bekerja tentang Stimulasi Pada
Pengasuhan Anak Balita.
http://repository.usu.ac.id/bitstream
/123456789/6267/1/anak-
tri%20hariweni.pdf. Diakses
tanggal 2 Oktober 2012. Pukul
13.03 WIB.
Hidajati, Zuhriah. 2009. Faktor Resiko
Disfasia Perkembangan.
eprints.undip.ac.id/24716/1/Zuhriah
_Hidajati-01.pdf .Diakses tanggal 5
Oktober 2012. Pukul 13.33 WIB
Hotmaria, Yulia. 2010. Hubungan
Pengetahuan dan Sikap Ibu
tentang Stimulasi Perkembangan
terhadap Perkembangan Motorik
Kasar Anak Usia 3-5 Tahun di
Kelurahan Kwala Bekala (abstrak).
http://repository.usu.ac.id/bitstream
/123456789/-
24939/3/Chapter%20II.pdf.
Diakses tanggal 16 J anuari 2013.
Pukul 13.14 WIB.
Hurlock, E.B. 1995. Perkembangan Anak.
J ilid Pertama. Erlangga. J akarta.
Notoatmodjo. S. 2003. Pendidikan dan
Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.
J akarta.
Soetjiningsih. 1998. Perkembangan Anak
dan Permasalahannya. EGC.
J akarta.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang
Anak. EGC. J akarta

Telah disetujui oleh,
Pembimbing I






Ahsan, S.Kp, M.Kes
NIP. 19640814 198401 1001