Anda di halaman 1dari 28

BAGIAN RADIOLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN DESEMBER 2013


UNIVERSITAS HASANUDDIN


OSTEOARHTRITIS

Oleh:
Dian Faradibah (C111 10 276)
Nurul Mutiah A. (C111 09 771)
Nur Insani (C111 10 136)
Jonathan Jeffry Pratama (C111 10 121)
Supari Candi (C111 10 333)



Pembimbing Residen:
dr. Robby

Dosen Pembimbing
dr. Sri Asriany, Sp.Rad



DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa:
Nama : Ani Rafika Suryaningsih (C111 09 813 )
St. Magfirah (C111 09 771)
Dewi Anggriana (C111 10 136)
Jonathan Jeffry Pratama (C111 10 121)
Supari Candi (C111 10 333)

Judul laporan kasus: Fraktur os Tibia
Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian
Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.


Makassar, Desember 2013



Penguji Konsulen Pembimbing





dr. Nikmatia Latief, Sp.Rad dr. Syukriani


Mengetahui,
Kepala Bagian Radiologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin






Prof. Dr. dr. Muhammad Ilyas, Sp.Rad(K)


iii

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .......................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................ ii
DAFTAR ISI ...................................................................................... iii
I. KASUS ........................................................................................... 1
II. DISKUSI ....................................................................................... 8
II.1. Pendahuluan ...................................................................... 8
II.2. Diskusi Radiologi .............................................................. 12
II.3. Diferensial Diagnosis ........................................................ 19
II.4. Pemeriksaan Radiologi Lanjutan ...................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 25

1

OSTEOARTHRITIS
I. KASUS
Nama pasien/umur : A. Anil Rahman Asira/ 59 tahun
No. Rekam Medik : 643560
Alamat : Dusun Bulusipong
Ruang perawatan : Lontara 2 Kamar 7B 4
Tanggal MRS : 26-12-2013

A. Anamnesis
Keluhan utama:
Luka pada betis kanan
Anamnesis terpimpin: Seorang pasien laki-laki umur 16 tahun datang
dengan luka pada betis kanan. Pasien mengalami kecelakaan 10 jam yang
lalu dengan mengendarai sepeda motor dan tiba-tiba didepannya mobil
berhenti secara mendadadak, secara reflex dia berusaha menghindar dari
mobil yang tiba-tiba berhenti didepannya sehingga pasien berusaha
menginjak rem akan tetapi kakinyaterjepit rem sehingga betis kanannya
terluka
Riwayat penyakit sekarang :
Tidak ada
Riwayat penyakit sebelumnya:
- Riwayat hipertensi (+)
- Riwayat DM (-)

2

- Riwayat PJK (-)
- Riwayat minum alkohol (-)
Riwayat pengobatan (termasuk obat yang sedang dikonsumsi)
Tidak ada

B. Pemeriksaan fisis
Keadaan umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis (GCS 15)
Status Gizi : Gizi Lebih
Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg Pernapasan : 20x/menit
Nadi : 80x/menit Suhu : 36,7
0
C
Mata
Kelopak mata : Edema (-)
Konjungtiva : Anemis (-)
Sklera : Ikterus (-)
Kornea : Jernih
Pupil : Bulat, isokor
THT : Dalam batas normal
Mulut
Bibir : Pucat (-), kering (-)
Lidah : Kotor (-), hiperemis (-), kandidiasis oral (-)
Tonsil : T
1
T
1
, hiperemis (-)

3

Faring : Hiperemis (-)
Leher
KGB : Tidak ada pembesaran
Dada
o Inspeksi
Bentuk : Simetris
Sela iga : Dalam batas normal
Lain-lain : -
Paru-paru
o Palpasi
Nyeri tekan : (-)
Massa tumor : (-)
o Perkusi
Paru kiri : Sonor
Paru kanan : Sonor
o Auskultasi
Bunyi pernapasan : Bronkovesikuler kanan dan kiri
Bunyi tambahan : Rh -/- , Wh -/-
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular

4

: Bunyi tambahan (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal
Palpasi : Nyeri tekan (-), Massa tumor (-)
: Hepar-lien tidak teraba
Perkusi : Timpani
Ekstremitas
Akral Hangat : +/+
Edema : -/-
Deformitas : -/-
Tanda perdarahan : -/-
Disabilitas : +/+
Nyeri lutut : +/+

C. Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Hasil Rujukan
GOT/GPT
SGOT 38 < 38 U/L
SGPT 15 < 41 U/L
Glukose
Sewaktu
GDS 128 140 mg/dL

5

Protein total Protein total 5,9 6,6-6,7gr/dl
Albumin Albumin 3,0 3,5-5.0 gr/dl
Elektrolit
Natrium
Kalium
Klorida

135
4,82
107
136-145
3,6-6,1
97-111


Ureum Ureum 23 10-50 mg/dL
Kreatinin Kreatinin 0,6 L(< 1,3); P(< 1,1) mg/dL
HBs-Ag HBs-Ag Non-reactive Non Reactive
Waktu
bekuan
Waktu bekuan 7.30 menit 4-10 menit
Waktu
perdarahan
Waktu perdarahan 2.30 menit 1-7 menit
Waktu
Protorombin
Waktu protorombin 13,5kontrol10.2 10-14 detik
APTT

29,7kontrol 26,2 22,0-30.0detik

D. Radiologi


Gambar 1. Foto Kruris Sinistra AP / Lateral

6


Gambar 2. Foto Genu Dextra AP / Lateral

Foto Kruris Dextra AP / Lateral
Alignment bentuk kruris berubah
Tidak tampak dislokasi
Tampak fraktur oblique pada 1/3 medial os tibia dextra dengan
fragmen tulang sedikit displace ke arah medial , calus forming belum
ada, tidak tampak tanda-tanda osteomielitis,
Mineralisasi tulang baik
Celah sendi yang tervisualisasi kesan baik
Soft tissue kesan swelling
Kesan :
Fraktur oblik 1/3 medial os tibia tibia dextra

7


E. Resume Klinis
Seorang wanita, 59 tahun mengeluh nyeri lutut yang dialami sejak
7 bulan lalu. Nyeri dirasakan terutama jika menopang tubuh. Pasien juga
mengeluh aktivitasnya terhambat dan tidak bisa sholat berdiri. Tidak ada
riwayat demam, sakit kepala dan sesak napas. Terdapat riwayat hipertensi
dan saat ini pasien tidak sedang mengonsumsi obat anti hipertensi.
Pemeriksaan radiologi, foto genu dextra dan sinistra AP / lateral,
menunjukkan kesan osteoarthritis genu bilateral dan osteoporosis.

F. Diagnosis
Osteoarthritis

F. Terapi
Injeksi intraartikular regio genu sinistra
Aspirasi cairan sendi regio genu sinistra




II. DISKUSI
II.1. Pendahuluan
II.1.1. Anatomi dan Fisiologi Sendi

8


Gambar 3. Gambaran skematik sendi
Dikutip dari kepustakaan (1)


Korteks artikuler berbentuk garis putih tipis, seperti
yang terlihat pada foto radiografi konvensional antara
kapsul sendi dan biasanya ditutupi oleh kartilago hialin,
kemudian disebut sebagai kartilago artikuler. Kartilago ini
memungkinkan permukaan sendi menjadi rata dan cukup
kuat untuk menyerap tekanan kompresi dan menanggung
beban tubuh. Kartilago ini pada usia muda kira-kira setebal
7 mm dan menjadi semakin tipis seiring usia. Kartilago juga
tidak memiliki suplai darah dan hanya memperoleh nutrisi
dari cairan sinovial. Tulang yang berada dibawah dari
korteks artikuler ini disebut sebagai tulang subkondral.
Diantara kapsul sendi terdapat membran sinovial yang
mengandung cairan sinovial. Cairan sinovial ini selain

9

berfungsi sebagai pemberi nutrisi, juga berfungsi sebagai
pelumas dan juga menjaga stabilitas sendi. Kartilago
merupaka struktur yang paling pertama terganggu pada
arthritis. Foto radiologi konvensional dapat memperlihatkan
gangguan pada korteks artikuler dan juga tulang subkondral
sehingga dapat memperlihatkan bukti tidak langsung dari
keterlibatan pada kartilago artikuler.
(1, 2)
II.1.2. Definisi Osteoarthritis
Osteoarthritis (OA), juga disebut penyakit sendi
degeneratif, adalah gangguan yang ditandai oleh kerusakan
progresif dan hilangnya tulang rawan artikular disertai
dengan proliferasi tulang baru dan jaringan lunak di dalam
dan sekitar sendi yang terlibat. OA adalah bentuk paling
umum dari penyakit sendi. Faktor risiko termasuk usia,
jenis kelamin perempuan, ras, faktor genetik, trauma sendi,
stres yang berulang, obesitas, cacat bawaan, penyakit
radang sebelumnya, dan gangguan metabolisme / endokrin.
Radiografi mungkin normal pada awalnya, tetapi dengan
perkembangan penyakit, dapat menunjukkan penyempitan
ruang sendi, sklerosis tulang subkondral, kista subkondral,
dan osteofit. Erosi yang terjadi berbeda dengan artritis
reumatoid dan artritis psoriatik karena mereka terjadi secara

10

subkondral sepanjang bagian tengah dari permukaan
sendi.
(3)
Osteoarthritis dapat melibatkan sendi apapun tetapi
paling sering mempengaruhi tulang belakang, tangan, kaki,
pinggul, dan lutut. Osteoarthritis meningkat tajam dengan
usia. Setelah usia 50 tahun laki-laki lebih cenderung
mendapatkan osteoarthritis di pinggul, sedangkan
perempuan lebih cenderung untuk mendapatkan
osteoarthritis di tangan, lutut, dan kaki.
(4)

Tidak ada definisi sederhana dari OA karena
membutuhkan pertimbangan dari tiga bidang yang saling
tumpang tindih - perubahan patologis, gambaran radiologi
dan gejala klinis. Patologis, ada perubahan dalam struktur
tulang rawan, radiologis terdapat osteofit dan penyempitan
ruang sendi, dan klinis beberapa pasien mengeluh sakit dan
disabilitas. Prevalensi dari OA sebesar 10% dari seluruh
penduduk berusia lebih dari 65 tahun.
(5)
II.1.3. Patofisiologi Osteoarthritis
Kartilago yang dapat berperan dalam menghaluskan
sendi dan juga berperan sebagai peredam goncangan. Kedua
mekanisme ini mencegah terjadinya kerusakan pada sendi.
Dalam kartilago, terdapat dua makromolekul yang berperan
yakni kolagen tipe II yang berfungsi dalam pembentukan

11

kekuatan tegang, dan aggrecan makromolekul proteoglikan
yang berikatan dengan dengan asam hyaluronat, merupakan
glukosaminoglikan bermuatan sangat negatif. Kondrosit
menghasilkan semua elemen dari matriks kartilago, namun
di lain pihak juga memproduksi enzim yang memecah
matriks dan sitokin serta faktor pertumbuhan, menyebabkan
terjadinya siklus pembentukan dan penghancuran. Pada
keadaan normal, sintesis dan katabolisme berlangsung
dalam keadaan seimbang. Kolagenase dan aggrecanase
yang mengkatabolisme kolagen dan aggrecan bekerja di
sekitar kondrosit, namun pada proses OA, aktivitasnya
meningkat dan tersebar di seluruh matriks kartilago
terutama bagian permukaan. Pembentukan IL-1 oleh
membran sinovial dan kartilago memicu produksi dari
proteinase dan menghambat sintesisnya, sehingga terjadi
penurunan dari aggrecan dan kolagen yang mengakibatkan
hilangnya kemampuan sendi untuk meredam benturan.
(6)
II.1.4. Diagnosis
Osteoarthritis biasanya akan memberikan gejala
nyeri setelah penggunaan sendi dan menghilang secara
perlahan-lahan. Terdapat juga kekakuan pada pagi hari yang
berlangsung kurang dari 30 menit. Pemeriksaan cairan sendi
lebih membantu diagnosis apabila ditemukan sel darah

12

putih >1000/L. Pemeriksaan X-ray menunjukkan adanya
penyempitan celah sendi dan pembentukan osteofit.
(6)
II.1.5. Terapi
Terapi pada OA dapat berupa farmakoterapi dan
nonfarmakoterapi. Pengobatan nonfarmakoterapi secara
umum dilakukan dengan mencegah aktivitas yang
membebankan sendi, ataupun melatih otot pada sisi yang
sakit, dan juga penggunaan tongkat untuk mengurangi
beban pada sendi. Penatalaksanaan farmakologi yakni
dengan obat-obatan NSAID, acetaminofen, dan COX-2
Inhibitor obat-obatan ini berfungsi untuk meredakan rasa
nyeri yang ditimbulkan pada sendi. Pemberian suntikan
intraartikular asam hialuronat dan glukokortikoid juga
dapat meredakan rasa nyeri.
(6)

II.2. Diskusi Radiologi
Pemeriksaan pencitraan pada Osteoarthritis penting dilakukan
untuk mendiagnosis penyakit ini dikarenakan pemeriksaan pencitraan
dapat menegakkan diagnosis OA, menentukan komponen yang terlibat,
evaluasi progresifitas penyakit dan juga keberhasilan terapi. Pemeriksaan
yang dapat dilakukan adalah radiografi konvensional, MRI dan Arthro CT-
scanner.
(7)


13

Pemeriksaan radiologi konvensional tetap merupakan alat yang
paling mudah dipakai dalam mengevaluasi sendi lutut. Meskipun
demikian, radiologi konvesional hanya memberikan gambaran tidak
langsung dari kondisi kartilago artikuler dikarenakan kartilago tidak
terlihat pada sinar X. Jenis foto yang dilakukan adalah foto frontal (AP
ataupun PA), Lateral dan tangensial untuk bagian patellofemoral.
(7)

a. Foto tampak frontal (AP atau PA) sendi lutut
Foto pada posisi berdiri paling baik dalam memperlihatkan
pemendekan celah sendi, namun tidak memvisualisasikan kartilago
dengan baik. Pengukuran celah sendi lebih baik pada posisi kaki
sedikit difleksikan.
(7)


Gambar 4. Gambaran skematis celah sendi pada posisi (a) tidak berdiri (b) berdiri.
Dikutip dari kepustakaan (7)


14


Gambar 5. Pemendekan celah sendi yang lebih jelas terlihat pada posisi sedikit difleksikan (b)
dibandingkan posisi ekstensi (a)
Dikutip dari kepustakaan (7)



b. Foto lateral sendi lutut
Foto lateral kurang dipakai untuk analisis OA, namun
memberikan gambaran yang jelas pada celah sendi. Kontur dari
condylus dan permukaan tibia mudah diidentifikasi. Selain itu juga
menunjukkan sendi patellofemoral berupa osteofit marginal dan
penyempitan celah sendi serta lesi seperti posisi patella yang
bergeser.
(7)

A B

15


Gambar 6. Foto lateral sendi Lutut
Dikutip dari kepustakaan (8)
c. Posisi Tangensial
Posisi ini dilakukan untuk melihat bagian dari sendi
patellofemoral. Namun jarang dilakukan pada pemeriksaan karena
posisinya yang sulit dilakukan. Posisi dari foto ini adalah sendi lutut
difleksikan 30-45.
(7)

Gambaran utama dari foto radiografi konvensional yang terlihat pada
foto OA lutut adalah:
a. Penyempitan celah sendi yang berhubungan dengan hilangnya
kartilago
b. Osteofit yang menunjukkan adanya reaksi tulang marginal sesuai
dengan kehilangan kartilago. Etiologinya masih belum diketahui
namun diduga dikarenakan sinovitis OA.
c. Reaksi tulang subkondral, pemadatan yang terlihat akibat kerusakan
kartilago yang saling tumpang tindih.
(7)


16


Gambar 7. Penyempitan celah sendi pada sisi medial. (a) celah sendi jelas menyempit pada lutut
kanan (tanda panah). (b) pembesaran dari lutut kanan, dapat dilihat adanya osteofit pada sisi medial
dari femur dan tibia
Dikutip dari kepustakaan (9)

Permukaan dari sendi yang sebenarnya didefinisikan oleh Buckland-
Wright (1995) sebagai garis diantara penonjolan tibia dan pinggir luar atau
medial, melewati pusat dari fossa artikuler pada permukaan midkoronal.
Garis ini merupakan batas atas dari garis radiodens terang pada korteks
subkondral dan terlihat dibawah pinggiran sendi anterior dan posterior dari
tibia. Celah sendi diukur antara garis ini dan pinggir dari condylus femur
pada sisi medial.
(8)

Analisa celah sendi dilakukan pada posisi menopang berat badan,
merupakan satu-satunya tanda yang berhubungan secara tepat dengan
hilangnya substansi kartilago. Kekurangannya, tanda ini kurang sensitif
sehingga diagnosis dari pre-osteoarthritis sulit ditegakkan. Namun disisi lain
tanda ini sangat spesifik. Osteofit merupakan tanda yang paling spesifik dari
OA lutut. Hampir semua klasifikasi dari OA menggunakan kriteria berupa
osteofit, penyempitan celah sendi ataupun keduanya. Beberapa klasifikasi

17

diantaranya klasifikasi Menkes, Ahlback, dan klasifikasi Kellgreen &
Lawrence. Saat ini klasifikasi Kellgreen-Lawrence merupakan klasifikasi
yang paling sering digunakan dan merupakan standar diagnosis radiologi
dari OA.
(7, 9)

Klasifikasi Kellgreen-Lawrence berfokus pada Osteofit:
1. Stage 0: Tidak terlihat adanya gambaran radiologi yang sesuai
untuk OA
2. Stage 1: Penyempitan celah sendi yang masih ragu-ragu dan
pembentukan osteofit yang samar-samar
3. Stage 2: ditemukan Osteofit dan kemungkinan penyempitan celah
sendi pada foto AP dan posisi menyangga berat.
4. Stage 3: Osteofit multipel, Penyempitan celah sendi yang jelas,
sklerosis, kemungkinan deformitas tulang.
5. Stage 4: Osteofit besar, Penyempitan celah sendi yang sangat jelas,
sklerosis berat, dan deformitas tulang yang jelas.
(9)



18


Gambar 8. Osteoarthritis pada sendi panggul
Dikutip dari kepustakaan (10)

OA pada panggul memberikan semua tanda radiologis denngan
penyempitan celah sendi yang menonjol. Osteofit muncul pada permukaan
acetabulum bagian superolateral dan lebih kurang pada caput dan collum
femoris. Pada stadium lanjut dari OA, caput femoris dapat terlihat mendatar.
(10)

Gambar 9. Osteoarthritis pada jari tangan. Dikutip dari kepustakaan (4)

19

Radiograf tangan menunjukkan penyempitan ruang sendi dan
sklerosis dan pembentukan osteofit. Menonjolnya keterlibatan sendi
interphalangeal proksimal dan sendi interphalangeal distal merupakan
indikasi osteoarthritis.
(4)

II.3. Diferensial Diagnosis
II.3.1 Charcot Arthropathy (Neuropathic Joint)
Charcot arthropathy terjadi karena gangguan pada sensasi
yang menyebabkan mikrofraktur multipel dan juga
ketidakseimbangan autonom sehingga terjadi hyperemia, resorbsi
tulang dan fragmentasi dari tulang. Charcot arthropathy disertai
dengan rasa nyeri, pembengkakan jaringan lunak paling sering
terjadi pada ekstremitas bawah. Gambaran radiologi yang tampak
yakni adanya sklerosis subkondral yang ekstensif, fragmentasi
tulang sekitar sendi, namun kadang dapat terabsorbsi sehingga
tidak lagi terlihat, terjadi destruksi pada sendi.
(2)

20


Gambar 10. Charcot Arhritis memperlihatkan sklerosis tulang subkondral, fragmentasi
tulang sekitar sendi yang memberikan gambaran densitas tulang didalam sendi (panah
putih) dan juga kerusakan celah sendi (panah hitam)
Dikutip dari kepustakaan (2)


II.3.2 Arthritis Rheumatoid
Arthritis Rheumatoid (AR) adalah gangguan pada jaringan
ikat dengan etiologi yang tidak diketahui dan dapat menyerang
semua sendi synovial di dalam tubuh. Gambaran radiologi yang
tampak yakni pembengkakan jaringan lunak, osteoporosis,
penyempitan celah sendi, dan erosi marginal. Pemeriksaan
radiologis saja tidak dapat menegakkan diagnosis dari AR ini
dikarenakan beragamnya penampakan dari AR ini. Pada sendi yang
besar, AR dicirikan dengan penyempitan celah sendi dan adanya
osteoporosis. Erosi dapat ditemukan dan cenderung mengenai area
pinggir, jauh dari lokasi tumpuan beban. Lokasi dari kelainan ini
biasanya bilateral dan lebih sering pada sendi proksimal dari

21

pergelangan tangan. Berbeda dengan OA, penyempitan sendi pada
AR ini terjadi pada kedua sisi dari sendi.
(2, 11)

Gambar 11. Gambaran radiologi dari sendi yang mengalami Arthritis
Rheumatoid (A) Lateral dan (B) Anteroposterior Penyempitan celah sendi yang merata,
osteopenia dan juga tampak osteoarthritis sekunder serta efusi sinovial. Dikutip dari
kepustakaan (12)


II.3.3 Gout Arhthritis
Gout arhthritis adalah penyakit metabolik yang paling
sering terkena pada laki-laki usia pertengahan hingga lanjut usia
serta juga pada wanita postmenopause. Merupakan penyakit akibat
dari deposit asam urat pada sendi dan jaringan ikat. Umumnya
hanya mengenai satu sendi dengan predileksi tersering pada sendi
metatarsophalangeal dari ibu jari kaki, namun juga dapat
ditemukan pada sendi tarsal, tumit, dan juga lutut. Gambaran
radiologi pada fase akut kurang memberikan tanda yang jelas,
hanya ditemukan adanya pembengkakan jaringan lunak. Pada fase

22

kronik, ditemukan erosi dengan pinggir yang sklerosis (dapat saling
tumpang tindih antara pinggir tulang) dan massa jaringan lunak.
(13)


Gambar 12. Gout arthritis pada ibu jari. Terdapat lesi litik dan juga kista pada phalanx
proksimal diakibatkan adanya tofus.
Dikutip dari kepustakaan (14)


II.4. Pemeriksaan Radiologi Lanjutan
II.4.1 Arthro CT-scanner
Dilakukan dengan menginjeksikan iodin. Injeksi ini
memungkinkan visualisasi dari struktur intra-artikuler dan
terkhusus kartilago.
(7)

Gambar 12. arthro CTscanner yang memperlihatkan (a) potongan aksial memperlihatkan
lesi pada patella dan (b) pada condylus medial. Dikutip dari kepustakaan (7)



23

II.4.2. Pencitraan MRI
MRI memanipulasi gambar kontras untuk menonjolkan
jenis jaringan yang berbeda. Metode kontras umum meliputi 2D
atau multi-slice T1-weighted, kepadatan proton, dan pencitraan T2-
weighted. Teknik pencitraan Spin Echo (SE) dan Fast spin echo
(FSE) berguna dalam mengevaluasi cacat tulang rawan fokal.
Perkembangan terbaru dalam hardware, software, gradien, dan
kumparan radio frekuensi (RF) menyebabkan penggunaan dari fast
atau turbo-spin echo imaging, saturasi lemak dan eksitasi air untuk
meningkatkan kontras jaringan. Beberapa sistem penilaian
semikuantitatif morfologi MRI telah dikembangkan untuk
mengevaluasi sendi lutut pada OA.
(9)

Erosi tulang subkondral sering diamati pada pasien dengan
OA berkelanjutan tetapi juga dilihat pada pasien dengan OA ringan
yang tidak menunjukkan penyempitan ruang sendi pada radiografi
standar. Ini mungkin disebabkan oleh beban mekanis yang berubah
sehingga menyebabkan remodelling subkondral dan berhubungan
dengan BMLs secara bersamaan. Pada MRI, erosi tulang
subkondral muncul sebagai depresi atau mendatar pada permukaan
subkondral. Perubahan tulang subkondral terlihat pada MRI jauh
sebelum perubahan terlihat pada radiografi.
(9)

Perubahan komposisi tulang subkondral penting untuk
dicatat dalam perkembangan OA dan dengan baik divisualisasikan

24

menggunakan MRI. Secara khusus, bone marrow edema-like
lesions (BMLs), subchondral cyst-like lesions, dan erosi tulang
subkondral adalah gambaran utama yang menunjukkan
perkembangan penyakit. BMLs adalah lesi degeneratif yang terdiri
dari edema, nekrosis sumsum tulang, fibrosis, dan kelainan
trabekular. Mereka sering terdeteksi bersamaan dengan kerusakan
tulang rawan yang berdekatan.
(9)


Gambar 13. Edema sumsum tulang dan lesi sumsum tulang digambarkan pada femur medial di
MRI T2-weighted fat suppressed (A) dan medial tibial plateau di MRI intermediate-weighted
fat suppressed (B). Dikutip dari kepustakaan (9)




25

DAFTAR PUSTAKA


1. Waugh A, Grant A. Ross and Wilson's Anatomy and Physiology in Health and
Illness. Edinburgh: Churlcill Livingstone; 2004.
2. Herring W. Learning Radiology: recognizing the basic. 2, editor. New york:
Elsevier; 2011.
3. Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL.
Harrison's Manual of Medicine. New York: McGraw-Hill; 2005.
4. Alguire P. Internal Medicine Essentials for Clerkship Students 2: ACP Press;
2009.
5. Kumar P, Clark M. Clinical Medicine. 6 ed: Saunders Elsevier Ltd; 2005.
6. Felson DT. Osteoarthritis. In: Fauci AS, editor. Harrison's Rheumatology. New
York: McGraw-Hill; 2010. p. 224-33.
7. Carillon Y. Imaging knee osteoarthritis. In: Bonnin M, Chambat P, editors.
Osteoarthritis of the knee: Springer; 2008. p. 3-14.
8. Jonsson K, Boegard T. Radiography. In: Davies AM, Cassar-Pullicino VN,
editors. Imaging of the knee: techniques and applications: Springer; 2008.
9. Braun HJ, Gold GE. Diagnosis of Osteoarthritis: Imaging. J Bone.
2011;11(19):1-11.
10. Manek NJ, MacGregor AJ. Imaging in Osteoarthritis. In: Isenberg DA, Renton
P, editors. Imaging in Rheumatology: Oxford University Press; 2003. p. 214-
33.
11. Helms CA. Arthritis. In: Brant WE, Helms CA, editors. Fundamental of
Diagnostic Radiology. New York: Lippincott Williams & Willkins; 2007.
12. Cobby M, Kirwan J. Rheumatoid Arthritis. In: Isenberg DA, Renton P, editors.
Imaging in Rheumatology: Oxford University Press; 2003.
13. Schumacher HR, Chen LX. Gout and other crystal-asssociated arthropathies.
In: Fauci AS, editor. Harisson's Rheumatology. second ed. New York:
McGraw-Hill; 2010. p. 235-42.
14. Forrester AW, Bailint PV, Sturrock RD. Imaging of Crystal arthritis. In:
Isenberg DA, Renton P, editors. Imaging in Rheumatology: Oxford University
Press; 2003.