Anda di halaman 1dari 8

Metode Korupsi Bergeser

JAKARTA, KOMPAS.com - Korupsi di Indonesia tampaknya


mengalami pergeseran metode. Korupsi yang semula dilakukan dengan
cara-cara konvensional seperti suap-menyuap, kini bergerak ke arah
yang lebih canggih, yakni melalui kebijakan yang sah.
"Tampaknya sudah terjadi pergeseran metode, dari cara-cara
konvensional yang vulgar dengan memperjual belikan pengaruh untuk
mendapatkan keuntungan. Dalam suap bergerak ke arah soft corruption
dalam bentuk kebijakan yang sah," kata Wakil Ketua KPK Busyro
Muqoddas di Jakarta, Selasa (1/4/2014).
Busyro mengatakan, bisa jadi pergerakan metode korupsi ini disebabkan
gencarnya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK.
Kemungkinan lain, karena memang pelaku tindak pidana korupsi kini
lebih pintar dalam mengemas korupsi yang dilakukan.
Dia mengatakan, pergeseran metode korupsi ini berpengaruh terhadap
keuntungan yang diperoleh si pelaku. Korupsi yang konvensional, kata
Busyro, hanya memberikan keuntungan jangka pendek bagi pelakunya,
seperti uang dalam jumlah tertentu. Sedangkan soft corruption yang
dilakukan dalam bentuk kebijakan yang sah akan menghasilkan
keuntungan jangka panjang bagi si pelaku. Keuntungan tersebut,
katanya, cenderung berbentuk kepentingan yang tidak selalu berupa
nominal uang.
"Model korupsi ini sudah lama menjadi perhatian. Salah satu
karakteristik dari economic crime (kejahatan ekonomi) di mana dalam
melakukan kejahatan, disiapkan dulu infrastrukturnya. UU MD3 yang
menghasilkan praktek korupsi di kalangan DPR dinilai banyak kalangan
sebagai kebijakan sejenis tersebut," tuturnya.
Menurut Busyro, pergeseran metode korupsi itu bisa terlihat dari
beberapa kasus yang ditangani KPK. Pertama, kasus dugaan korupsi di
Mahkamah Konstitusi yang menjerat mantan Ketua MK, Akil Mochtar.
Dalam kasus ini, katanya, terlihat pola yang menunjukkan bahwa partai
politik yang berafiliasi dengan Akil cenderung diuntungkan dalam
penanganan perkara di MK.
"Partai diperankan bukan sebagai pranata politik untuk kepentingan
rakyat, melainkan sebagai sarana korupsi," ucapnya.
Kedua, kasus dugaan korupsi yang melibatkan anggota Badan Anggaran
DPR, salah satunya kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat,
Muhamamd Nazaruddin. Menurut Busyro, dalam kasus ini partai
mengambil keuntungan atas proyek di kementerian atau lembaga yang
menjadi mitra kerja komisi yang membidanginya.
Ketiga, kasus dugaan korupsi di Kementerian Pertanian yang
melibatkan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan
Ishaaq. "Partai mengambil manfaat dari kebijakan yang diambil dari
menteri yang menjadi kavlingnya," sambung Busyro.
Kebijakan bisa dipidana
Busyro menilai keliru pendapat sebagian kalangan, termasuk Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan bahwa suatu kebijakan
tidak bisa diadili. Presiden SBY saat jamuan makan malam dengan
pemimpin redaksi dan wartawan senior beberapa waktu lalu menyebut
kebijakan tidak bisa diadili. Namun, kata SBY, jika ada implementasi dari
kebijakan itu yang menyimpang, dapat dipidanakan.
"Bak gayung disamput, atau bisa jadi memang diskenariokan, dalam acara
Mata Najwa yang menampilkan Boediono juga sempat disinggung tentang
skandal Bank Century," sambung Busyro.
Menurutnya, suatu kebijakan bisa diadili jika ditemukan penyalahgunaan
wewenang di dalamnya. Contohnya, kasus dugaan korupsi proyek
Hambalang. Dalam kasus itu, ada peningkatan anggaran proyek dari Rp
125 miliar menjadi Rp 2,4 triliun.
"Seolah-olah ingin membangun mercusuar di sektor olahraga, tetapi
ternyata ada maksud lain di balik kebijakan itu," katanya.
Contoh lainnya, kasus penggelembungan dana bantuan sosial, baik di
tingkat pusat maupun tingkat daerah menjelang pemilihan umum.
Pemberian bantuan sosial, menurut Busyro, perlu diusut jika ada maksud
koruptif di balik pengelolaannya.
Busyro kembali menyinggung kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas
pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penetapan Century sebagai bank
gagal berdampak sistemik. Dia mengatakan, penyelematan ekonomi
nasional saat krisis global memang tindakan yang mulia.
Namun, lanjutnya, ada penyalahgunaan wewenang yang tersembunyi
dibalik pemberian FPJP kepada bank kecil yang dinilai KPK tidak layak
mendapatkan fasilitas tersebut dengan dalih menyelamatkan keuangan
negara.
"Memberikan FPJP kepada bank tidak layak, bahkan dibela-belaain
dengan mengubah ketentuan agar seolah-olah memenuhi syarat, adalah
bentuk penyalahgunaan kewenangan yang bersembunyi di balik
kebijakan," tuturnya.
Delik korupsi juga terlihat dari tindakan pihak-pihak tertentu yang
menutup-nutupi keadaan sebuah bank, membiarkan terjadinya
penyimpangan, tidak bertindak tegas, membuat analisisi seolah-olah
sistemik padahal tidak sistemik, menyajikan data yang tidak sebenarnya,
mengajukan besaran kebutuhan dana yang seolah-olah kecil supaya
disetujui, padahal setelah disetujui dana yang diajukan membengkak.
"Hal itu dan seterusnya ada bentuk penyalahgunaan wewenang yang
bersembunyi di balik kebijakan," pungkas Busyro.
Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2014/04/02/0853432/Metode.Korupsi.Bergeser
Komentar:

Korupsi sudah mengalami evolusi. Metode-metode yang dulunya tak terpikirkan sekarang mulai bermunculan. Ini
membuktikan bahwa penyakit korupsi di negeri ini sudah sangat kronis. Untuk menghilangkan cara-cara baru dan agar
korupsi tidak semakin meluas dan berdampak buruk terhadap bangsa, harus dibuat aturan yang lebih tegas, ketat,
menyeluruh, dan mengatur lebih detil tentang korupsi ini.
KPK Berharap Diberi Kewenangan Usut Kejahatan Pemilu

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap memiliki kewenangan untuk mengusut dugaan
kejahatan terkait pemilihan umum (pemilu). Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja, mengatakan, lembaga sejenis KPK di Amerika
Serikat, yakni Public Integrity Section (PIN) telah memiliki kewenangan untuk itu.

"Pesannya, kalau belajar mengaca pada negara lain, mungkin KPK bisa diperluas kewenangan untuk selesaikan kejahatan pemilu,"
kata Adnan, di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (8/4/2014).

Sejauh ini, KPK hanya berwenang menerima laporan masyarakat terkait pelanggaran pemilu. Mengenai tindaklanjut laporan tersebut,
menurut Adnan, hal itu hanya masuk dalam bidang pencegahan KPK. Lembaga antikorupsi itu baru bisa mengusut pelanggaran
terkait pemilu jika ditemukan indikasi tindak pidana korupsi di baliknya.

"Di ranah seperti ini kami sangat menghandalkan data PPATK karena itu bukti ril uang itu dari someone (seseorang), ranah kita
memang di situ batasannya. Kalau dia bagi-bagikan, uang tidak berkaitan dengan gratifikasi, ya sulit juga ya (diusut KPK)," sambung
Adnan.

Hari ini, KPK menerima laporan yang disampaikan situs pemantau pemilu, matamassa.org. Dalam laporan itu disebutkan adanya 20
pelanggaran pemilu yang dilakukan hampir semua parpol di sejumlah wilayah di Jakarta. Atas laporan ini, Adnan mengatakan bahwa
KPK akan berkordinasi dengan Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu.

"Kita tidak bisa menolak laporan masyarakat, kita mesti menerima ini untuk menjadi bahan studi," ujar Adnan. Dia juga berharap,
masing-masing partai politik bisa menindak serius caleg yang diduga melakukan politik uang.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2014/04/08/1905312/KPK.Berharap.Diberi.Kewenangan.Usut.Kejahatan.Pemilu

Komentar:

Saya setuju dengan pendapat Adnan Pandu Praja bahwa KPK seharusnya memiliki kewenangan untuk mengusut dugaan
kejahatan terkait pemilu. Karena tindakan kejahatan pemilu seperti politik uang berupa bagi-bagi uang kepada para
pemilih dengan harapan dipilih saat pemilu menurut saya berdampak buruk sangat besar terhadap masyarakat dan bangsa.
Seperti yang terjadi saat ini, bagi-bagi uang saat pemilu dianggap biasa dan wajar saja. Bahkan terkadang, kalau caleg
tidak melakukan hal itu, masyarakat yang minta. Padahal hal itu sangat beresiko saat politisi yang melakukan politik uang
duduk di kursi legislatif. Kebijakan politik yang diambil juga hampir bisa dipastikan akan merugikan kepentingan publik.
Kemenhub Deklarasikan Tolak Gratifikasi
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hari ini meneken Deklarasi Komitmen Penerapan
Pengendalian Gratifikasi bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mewakili Kementerian Perhubungan,
Inspektur Jenderal Wendy Aritenang menandatangani deklarasi komitmen penerapan pengendalian gratifikasi yang
disaksikan Wakil Ketua KPK Zulkarnain.
Menteri Perhubungan Evert Erenst Mangindaan berharap semua aparatur Kementerian Perhubungan mempunyai
kebulatan tekad dan semangat kolektif untuk mendukung setiap upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi. "Saya
minta agar komitmen dan deklarasi yang telah dilakukan bukan hanya menjadi seremonial belaka akan tetapi
menghasilkan outcome yang nyata dengan segera melakukan upaya-upaya yang konkrit," katanya, Selasa, 15 April
2014.
Dia mengatakan pihaknya akan menerapkan whistleblowing system dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.
Sistem ini merupakan bagian dari sistem pengendalian internal dalam mencegah penyimpangan dan kecurangan serta
memperkuat penerapan praktek good governance.
Dia mengatakan deteksi dini melalui penerapan whistleblowing system berfungsi untuk mengurangi risiko dan kerugian
yang dihadapi organisasi akibat penyimpangan yang dilakukan baik kerugian keuangan dan reputasi. Kementerian
Perhubungan telah melakukan pencegahan tindak gratifikasi dengan membentuk pelayanan terpadu satu atap.
Pelayanan satu atap yang telah berjalan adalah untuk pelayanan perizinan perhubungan laut. "Kami saat ini sedang
melakukan pengintegrasian pelayanan perizinan perhubungan darat dan udara yang beberapa waktu ke depan akan
segera diresmikan," katanya.
Adapun isi komitmen deklarasi tersebut adalah: Kementerian Perhubungan RI berkomitmen untuk menerapkan
pengendalian gratifikasi guna mendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di lingkungan Kementerian
Perhubungan RI.

Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/04/15/090570933/Kemenhub-Deklrasikan-Tolak-Gratifikasi
Komentar:

Saya gembira membaca berita ini. Satu lagi instansi pemerintahan yang memperbaiki sistem pengendalian
internal demi mendukung upaya pemberantasan korupsi. Jika dibandingkan dengan instansi saya, Direktorat
Jenderal Pajak, yang sudah lebih dulu melakukan whistleblowing system, sistem ini cukup efektif dilakukan
dalam upaya pemberantasan korupsi. Terbukti dari banyaknya indikasi korupsi yang terendus melalui sistem
ini. Asal dilakukan secara bijak dan benar, whistleblowing system merupakan salah satu cara ampuh dalam
upaya memberantas korupsi.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Pemeriksaan atas dua saksi oleh
tim penyidik Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan tindak
pidana korupsi pengadaan bus transjakarta dan bus kota
terintegrasi busway (BKTB) di Dinas Perhubungan DKI Jakarta
tahun 2013 mendapatkan ada ketidaksesuaian spesifikasi teknis
dalam proyek pengadaan itu.

Pemeriksaan pada pokoknya terkait pengawasan pekerjaan
pengadaan armada bus, baik single bus maupun articulated bus,
oleh BPPT," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung
Setia Untung Arimuladi dalam siaran pers, Selasa (15/4/2014).
"Salah satu hasil pengawasan, terdapat ketidaksesuaian
spesifikasi teknis dalam kontrak pelaksanaannya."

Dua saksi yang dimintai keterangan itu adalah Vian Marantha,
Ketua Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
untuk Paket 2 (single bus) Transjakarta, dan Muhajirin, Ketua
Tim BPPT untuk Paket 4 (articulated bus) Transjakarta.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ada delapan paket
pengadaan bus transjakarta dan BKTB di Dishub DKI Jakarta
pada 2013. Berdasarkan temuan Inspektorat DKI jakarta, ada
empat paket pengadaan yang sudah dibayar, meski sebelumnya
ada pernyataan bahwa Dinas Perhubungan DKI Jakarta baru
membayar uang muka pengadaan tersebut.

"Alokasi APBD 2013 untuk pengadaan transjakarta sebesar Rp
848.112.775.000. Kalau anggaran untuk BKTB sebesar Rp
239,3 miliar," ujar sumber Kompas.com yang mengetahui hasil
pemeriksaan Inspektorat itu, Selasa (11/3/2014).

Dari anggaran tersebut, sebut sumber ini, Dishub DKI telah
membayar empat dari delapan paket pengadaan hingga
Desember 2013. Namun, dia mengaku tak tahu pasti nilai yang
sudah dibayarkan dari keempat paket itu.

Sumber tersebut menambahkan, pengadaan bus transjakarta yang
sudah dibayar adalah pengadaan Paket 1, 3, dan 5, sedangkan
pengadaan BKTB yang sudah dibayar adalah Paket 4.
Rencananya, sisa paket dilanjutkan kembali pada 2014 dengan
anggaran Rp 566.082.537.640.

Besaran anggaran tersebut sesuai dengan permohonan Kepala
Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Dalam kasus ini, Kejagung
telah menetapkan dua tersangka terkait kasus yang bernilai Rp
1,5 triliun ini setelah menemukan bukti permulaan yang cukup.

Dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka yaitu berinisial DA
dan ST. Keduanya merupakan pegawai negeri sipil pada Dinas
Perhubungan DKI Jakarta.

DA merupakan pejabat pembuat komitmen pengadaan bus
peremajaan angkutan umum reguler dan kegiatan pengadaan
armada bus transjakarta. Ia ditetapkan sebagai tersangka
berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: Print
25/F.2/Fd.1/03/2014, tanggal 24 Maret 2014.

Adapun ST merupakan ketua panitia pengadaan barang/jasa
bidang pekerjaan konstruksi 1 Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Ia ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah
Penyidikan Nomor: Print 26/F.2/Fd.1/03/ 2014, tanggal 24
Maret 2014.

Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/16/0318571/Kej
agung.Ada.Ketidaksesuaian.Spesifikasi.Pengadaan.Bus.Tran
sjakarta.dan.BKTB
Kejagung: Ada Ketidaksesuaian Spesifikasi Pengadaan Bus Transjakarta dan BKTB
Komentar:

Korupsi yang gampang diidentifikasi dan dilihat adalah korupsi dalam pengadaan barang dan jasa. Salah satu contohnya
adalah kualitas barang publik yang buruk. Lihat saja kualitas jalan raya kita. Hujan sebentar saja sudah bolong-bolong.
Dan, kembali ditemukan dugaan korupsi dalam pengadaan barang dan jasa. Kali ini pengadaan Bus Transjakarta. Menurut
saya, aturan terkait pengadaan barang dan jasa masih banyak terdapat lubang-lubang penyimpangan yang bisa berpotensi
dimanfaatkan oknum untuk melakukan korupsi. Misalnya, untuk kendaraan hanya diatur spesifikasi, bukan diatur tentang
merk.




JAKARTA, KOMPAS.com Komisi Pemberantasan
Korupsi menetapkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Hadi Poernomo sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait
pembayaran pajak PT Bank Centra Asia (BCA). Ketua KPK
Abraham Samad mengungkapkan, Hadi diduga melakukan
perbuatan melawan hukum dan atau penyalahgunaan
wewenang dalam kapasitas dia sebagai Direktur Jenderal Pajak
2002-2004.
Menurut Abraham, kasus ini berawal ketika BCA mengajukan
keberatan pajak atas transaksi non performance loan (kredit
bermasalah) sekitar 17 Juli 2003. Nilai transaksi bermasalah PT
Bank BCA ketika itu sekitar Rp 5,7 triliun.
"BCA Tbk dalam hal ini mengajukan keberatan pajak atas
transaksi non performance loan sebesar Rp 5,7 triliun kepada
Direktorat PPh (Pajak Penghasilan). Kemudian, setelah surat itu
diterima PPh, maka dilakukan pengkajian lebih dalam untuk
bisa mengambil kesimpulan," kata Abraham di Gedung KPK,
Kuningan, Jakarta, Senin (21/4/2014) malam.
Setelah melakukan kajian selama hampir setahun, kata
Abraham, pada 13 Maret 2004, Direktorat PPh menerbitkan
surat yang berisi hasil telaah mereka atas keberatan pembayaran
pajak yang diajukan PT Bank BCA. Surat tersebut berisi
kesimpulan PPh bahwa pengajuan keberatan pajak BCA harus
ditolak.
"Direktur PPh menyampaikan kepada Dirjen Pajak dalam
kesimpulannya bahwa permohonan wajib pajak BCA harus
ditolak," ujar Abraham.
Namun, pada 18 Juli 2004, Hadi selaku Dirjen Pajak ketika itu
justru memerintahkan Direktur PPh untuk mengubah
kesimpulan. Melalui nota dinas tertanggal 18 Juli 2004, kata
Abraham, Hadi diduga meminta Direktur PPh untuk mengubah
kesimpulannya sehingga keberatan pembayaran pajak yang
diajukan PT Bank BCA diterima seluruhnya.
"Dia meminta Direktur PPh, selaku pejabat penelahaan,
mengubah kesimpulan yang semula dinyatakan menolak diubah
menjadi menerima seluruh keberatan. Di situlah peran Dirjen
Pajak Saudara HP (Hadi)," tutur Abraham.

Pada hari itu juga, Hadi diduga langsung mengeluarkan surat
keputusan ketetapan wajib pajak nihil yang isinya menerima
seluruh keberatan BCA selaku wajib pajak. Dengan demikian,
tidak ada lagi waktu bagi Direktorat PPh untuk memberikan
tanggapan yang berbeda atas putusan Dirjen Pajak tersebut.
Selain itu, menurut Abraham, Hadi diduga mengabaikan
adanya fakta materi keberatan yang diajukan bank lain yang
memiliki permasalahan sama dengan BCA. Pengajuan
keberatan pajak yang diajukan bank lain tersebut ditolak.
Namun, pengajuan yang diajukan BCA diterima, padahal kedua
bank itu memiliki permasalahan yang sama.
"Di sinilah duduk persoalannya. Oleh karena itu, KPK
menemukan fakta dan bukti yang akurat dan berdasarkan itu.
KPK adakan forum ekspos dengan satuan tugas penyelidikan
dan seluruh pimpinan KPK sepakat menetapkan HP selaku
Dirjen Pajak 2002-2004 dan kawan-kawan sebagai tersangka,"
kata Abraham.
KPK menjerat Hadi dengan Pasal 2 Ayat 1 dan atau Pasal 3
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto
Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Atas perbuatan Hadi ini, negara
diduga mengalami kerugian sekitar Rp 375 miliar.
Menurut Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, nilai
kerugian negara ini adalah besaran pajak yang tidak jadi
dibayarkan BCA kepada negara. "Yang seharusnya negara
menerima Rp 375 miliar tidak jadi diterima dan itu
menguntungkan pihak lainnya, tidak selamanya harus
menguntungkan si pembuat kebijakan," kata Bambang.

Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2014/04/21/1929221/Ini.De
tail.Kasus.Dugaan.Korupsi.Pajak.yang.Menjerat.Hadi.Poer
nomo
Komentar:

Hadi Poernomo memang dikenal sebagai pejabat yang memiliki kekayaan berlimpah dan saking tidak pernah bermasalah
dengan hukum, Ia sering disebut sebagai "The Untouchable" saat masih menjabat sebagai pejabat negara. Sekarang saat Ia
sudah tidak menjabat sebagai pejabat negara, KPK menetapkannya sebagai tersangka kasus pajak Bank BCA. Langkah
yang tepat dari KPK. Hal ini membuktikan bahwa KPK tidak main-main dalam memberantas korupsi. Walaupun seorang
pejabat negara sudah purna tugaspun tetap ditindak sesuai hukum yang berlaku apabila ada indikasi tindak pidana korupsi.



Ini Detail Kasus Dugaan Korupsi Pajak
Ini Detail Kasus Dugaan Korupsi Pajak yang Menjerat Hadi Poernomo
JAKARTA, KOMPAS.com Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), Rudi
Rubiandini, divonis 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3
bulan kurungan. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
Jakarta menilai, Rudi terbukti menerima suap terkait pelaksanaan
proyek di lingkungan SKK Migas.
Sidang Rudi dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Amin Ismanto di
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (29/4/2014).
Adapun hakim anggota terdiri dari Purwono Edi, Anwar, Matheus
Samiadji, dan Ugo.
"Menyatakan terdakwa Rudi Rubiandi terbukti secara sah dan
meyakinkan melakukan perbuatan korupsi secara bersama-sama dan
berlanjut," ujar hakim ketua, Amin.
Menurut hakim, Rudi terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana
dakwaan kesatu, kedua, dan ketiga. Dalam pertimbangannya, Rudi
dianggap tidak mendukung program pemerintah dalam upaya
pemberantasan korupsi. Adapun hal yang meringankan ialah Rudi
berlaku sopan selama sidang, belum pernah dihukum, dan menyesali
perbuatannya.
Hakim menjelaskan, sebagaimana dakwaan kesatu, Rudi menerima
uang dari bos Kernel Oil Singapura Widodo Ratanachaitong dan PT
Kernel Oil Private Limited (KOPL) Indonesia sebesar 900.000 dollar
AS dan 200.000 dollar Singapura. Menurut hakim, uang yang diterima
Rudi terbukti terkait pelaksanaan lelang terbatas minyak mentah dan
kondensat bagian negara di SKK Migas.
Selain itu, Rudi juga menerima uang dari Presiden PT Kaltim Parna
Industri, Artha Meris Simbolon, sebesar 522.500 dollar AS. Uang ini
diberikan agar Rudi memberikan rekomendasi atau persetujuan
menurunkan formula harga gas untuk PT Kaltim Parna Industri (PT
KPI). Sejumlah uang ini diterima Rudi melalui pelatih golfnya,
Deviardi alias Ardi.
Atas perbuatannya itu, Rudi dianggap melanggar Pasal 12 huruf a
Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke -1 KUHP jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

Atas perbuatannya itu, Rudi dianggap melanggar Pasal 12 huruf a

Selain itu, Rudi juga dinilai terbukti menerima uang dari sejumlah
pejabat SKK Migas sebagaimana dakwaan kedua. Uang itu diterima
Rudi dari Wakil Kepala SKK Migas Johanes Widjonarko yang saat ini
menjabat Kepala SKK Migas sebesar 600.000 dollar Singapura (SGD).
Kedua, dari Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas,
Gerhard Rumesser, sebesar 150.000 dollar AS dan 200.000 dollar AS.
Uang 150.000 dollar AS dari Gerhard, diberikan Rudi kepada Waryono
Karyo selaku Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM. Ketiga, Rudi
juga menerima dari Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas Iwan
Ratman sebesar 50.000 dollar AS.
"Terdakwa pernah memerintahkan Deviardi bertemu Johanes dan
Gerhard. Kemudian, Deviardi menerima dari Iwan Ratman dan
dilaporkan ke terdakwa," kata hakim.
Hakim menilai Rudi terbukti melanggar Pasal 11 Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-
1 KUHP jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.
Selain itu, Rudi juga terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang
sebagaimana dakwaan ketiga. Rudi dianggap melanggar Pasal 3 UU
Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65
Ayat (1) KUHP.
Namun, dalam memberi putusan ini, hakim anggota dua menyatakan
dissenting opinion atau berbeda pendapat. Menurut hakim Matheus
Samiadji, Rudi tidak terbukti melakukan korupsi sebagaimana dakwaan
kedua. "Dakwaan kedua tidak nampak ada kepentingan Johanes,
Gerhard, dan Iwan memberi uang kepada Rudi," ujar Matheus.
Meski demikian, Ketua Majelis Hakim Amin Ismanto tetap menyatakan
Rudi terbukti melakukan korupsi sebagaimana dakwaan kesatu, kedua,
dan ketiga.
Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2014/04/29/1343545/Rudi.Rubian
dini.Divonis.7.Tahun.Penjara
Komentar:

Dari artikel di atas diketahui bahwa Rudi menerima uang senilai US 1.972.500 dan SGD 800.000. Jika dirupiahkan
menjadi sekitar 22 milyar rupiah. Menurut saya dengan hukuman 7 tahun penjara dan denda 200 juta rupiah kurang
sepadan dengan suap yang diterima oleh Rudi. Akan lebih membuat jera apabila hukumannya berupa dimiskinkan.


Rudi Rubiandini Divonis 7 Tahun Penjara
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Sub Bagian Pemeliharaan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM),
Drajat Sugiarto, mengaku pernah melihat anak Menteri Kemenkop UKM Syarief Hasan, Riefan Avrian ,bertemu dengan
Ketua Unit Layanan Pengadaan (ULP), Surmanto. Namun, Drajat yang juga Sekretaris Pokja ULP di proyek videotron itu
mengaku tak tahu maksud pertemuan Riefan dengan Surmanto.
"Tidak tahu. Saya hanya salaman," ujar Drajat saat bersaksi di sidang kasus dugaan korupsi pengadaan videotron dengan
terdakwa Hendra Saputra di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (30/4/2014).
Seperti dalam dakwaan, Riefan sengaja mendirikan PT Imaji Media agar mendapatkan proyek videotron. Untuk itu, Riefan
menunjuk Hendra yang merupakan sopir dan office boy menjadi direktur utama PT Imaji.
Meski perusahaan baru, PT Imaji pun akhirnya ditetapkan sebagai pemenang lelang proyek videotron.
Dalam persidangan, tim penasehat hukum Hendra kemudian menanyakan pada Drajat apakah saat itu Riefan dikenalkan
sebagai anak Syarief. Menurut Drajat, saat itu ia tak dikenalkan oleh Surmanto, melainkan hanya bersalaman.
Ketua Majelis Hakim Nani Indrawati juga menanyakan soal pertemuan itu. "Apa Anda tahu itu (Riefan) putra menteri atau
putra menteri yang punya proyek?" tanya hakim.
"Saya kurang tahu juga, saya langsung keluar ruangan," jawab Drajat.
Drajat mengaku baru mengetahui Riefan adalah anak Syarief dari pegawai Kemenkop UKM yang lain. Sementara itu,
pengacara Hendra, Iqbal Tawakal curiga pertemuan antara Riefan dengan Surmanto adalah untuk membahas pemenangan
PT Imaji dalam proyek videotron.

Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2014/04/30/1842254/Saksi.Lihat.Anak.Syarief.Hasan.Temui.Ketua.ULP.Proyek.Vi
deotron
Komentar:

Kembali kasus korupsi terkait pengadaan barang dan jasa terjadi. Riefan Avrian menyalahgunakan posisinya sebagai anak
Menteri Koperasi dan UKM untuk memenangkan pengadaan videotron. Bukan hanya pejabat yang berwenang bisa
melakukan tindak pidana korupsi, tetapi juga orang-orang di sekitar penguasa yang berada di luar sistem pemerintahan
berpeluang melakukan tindak pidana korupsi.




Saksi Lihat Anak Syarief Hasan Temui Ketua ULP Proyek Videotron

JAKARTA, KOMPAS.com -- Komisi Pemberantasan Korupsi akan menjadikan vonis majelis hakim Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi Jakarta atas perkara dugaan suap SKK Migas dengan terdakwa Rudi Rubiandini sebagai dasar mengusut
dugaan keterlibatan pihak lain.

Menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, vonis hakim atas perkara Rudi mengonfirmasikan adanya dugaan
keterlibatan pihak lain. "Semua rumusan dakwaan yang dirumuskan lagi dalam tuntutan itu, pertimbangan hukumnya
diambil oleh hakim dan dijadikan dasar untuk membuat putusan," kata Bambang, di Jakarta, Jumat (2/5/2014) malam.

Bambang menambahkan, "Di situ kan yang menarik ada cukup banyak saksi-saksi yang mengonfirmasi dan
mengklarifikasi ada pihak lain yang terlibat di situ, nah itulah mungkin bisa dijadikan dasar." Dia tak membatasi dugaan
keterlibatan pihak lain pada sosok tertentu, termasuk Sutan Bhatoegana. "Siapa pun yang ada di dalam situ pokoknya."

Kini, kata Bambang, pimpinan KPK tengah menunggu hasil ekspose atau gelar perkara yang dilakukan tim jaksa penuntut
umum KPK. Hasil gelar perkara ini nantinya akan menjadi acuan bagi pimpinan KPK untuk menentukan hal mana saja
yang perlu ditindaklanjuti dari vonis Rudi.

Mengenai kemungkinan KPK banding atas vonis tersebut, Bambang mengatakan bahwa tim jaksa KPK mengusulkan
untuk tidak banding. "Kalau bandingnya, kayaknya sih usulan dari JPU-nya tidak banding karena sudah memenuhi dua
pertiga (tuntutan)," kata Bambang.

Dalam putusannya, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor menyebut Rudi menyerahkan uang kepada Sutan sebesar 200.000
dollar AS. Rudi mendapatkan uang tersebut dari pelatif golfnya, Deviardi, pada 26 Juli 2013.

Menurut analisis yuridis hakim, uang yang diserahkan Rudi untuk Sutan merupakan bagian dari uang yang diterima Rudi
dari bos Kernel Oil, Widodo Ratanachaitong, sebesar 300.000 dollar AS. Dalam putusannya, hakim menjatuhi Rudi
hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan.

Hakim menyatakan, Rudi terbukti menerima suap dari Widodo terkait pelaksanaan tender di SKK Migas. Rudi juga
menerima uang dari sejumlah pihak melalui Deviardi dan melakukan pidana pencucian uang.


Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2014/05/03/1022394/Sutan.Bhatoegana.Bakal.Terseret.Vonis.Rudi.Rubiandini.

Komentar:

Tak jarang dari sebuah kasus tindak pidana korupsi bisa menyeret banyak kriminal korupsi. Menurut saya, hal ini adalah
hasil kerja KPK yang patut diapresiasi. Sudah seharusnya semua yang terindikasi tindak pidana korupsi diproses sesuai
hukum yang berlaku.


Sutan Bhatoegana Bakal "Terseret" Vonis Rudi Rubiandini?

Sutan Bhatoegana Bakal "Terseret" Vonis Rudi Rubiandini?