Anda di halaman 1dari 21

Rhinitis disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan lokal yang berlangsung di

rongga nasal yang mana mekanisme ini dilakukan dengan tujuan untuk
menghindarkan bahan iritan dan alergen memasuki paru. Rhinitis adalah inflamasi yang
terjadi pada membran mukosa nasal. Rhinitis dapat diklasifikasikan berdasarkan
penyebabnya, terbagi menjadi dua golongan rhinitis, yaitu rhinitis alergi yang
disebabkan oleh adanya alergen yang terhirup oleh hidung dan rhinitis non-alergi, yaitu
disebabkan oleh faktor-faktor pemicu tertentu (bukan alergen). Simptom-simptom
yang terjadi pada pasien rhinitis adalah seperti hidung berair (rhinorrhea), bersin-
bersin (sneezing), hidung tersumbat (nasal congestion), dan gatal-gatal dihidung
(itching). Rhinitis yang terjadi selama kurang dari enam minggu dikategorikan rhinitis
akut dan lebih dari enam minggu dikenali sebagai rhinitis kronis.
a. Rhinitis Alergi
Pengertian rinitis adalah inflamasi pada membran mukosa nasal yang
disebabkan oleh penghirupan senyawa alergenik yang kemudian memicu respon
imunologi spesifik.
Rhinitis merupakan suatu reaksi tipe I yang diantarai oleh antibodi IgE yang
spesifik bagi alergen tertentu. Sistem imun membuat antibodi khas tersebut dengan
maksud memerangi alergen dan memusnahkannya, namun juga menimbulkan suatu
reaksi peradangan. (Tjay dan Raharja, 2002) Pada paparan pertama, alergen dari
udara terhirup oleh hidung dan kemudian direspon oleh limfosit dengan memproduksi
IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, sehingga host akan tersensitisasi. IgE yang
diproduksi tersebut akan berikatan dengan sel mast pada reseptornya. Pada paparan
berikutnya, IgE yang sudah berikatan pada sel mast tersebut akan berinteraksi dengan
alergen dan memicu pelepasan histamin dan mediator inflamasi lain yang berasal dari
metabolisme asam arakhidonat, seperti prostaglandin, leukotrien, tromboksan, dan
platelet activating factor. Mediator-mediator ini menyebabkan berbagai reaksi antara
lain vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskuler, dan produksi sekresi nasal.
Diantara mediator-mediator tersebut, histamin merupakan mediator terpenting dalam
reaksi alergi. (Ikawati, 2002)
Rhinitis alergi dikarakterisasi oleh respon fase cepat dan respon fase lambat.
Setiap tipe respon dikarakterisasi oleh bersin-bersin, hidung tersumbat, dan hidung
berair, tetapi hidung tersumbat mendominasi fase lambat. (Wallace et al, 2008)
Berdasarkan waktu paparan alergen ada dua tipe rhinitis alergi yaitu:
- Rhinitis seasonal (hay fever), yaitu alergi yang terjadi karena
menghirup alergen yang terdapat secara musiman, seperti serbuk sari bunga. Pada
umumnya alergen bersifat eksternal atau berada di luar rumah.
- Rhinitis parrenial, yaitu alergi yang terjadi tanpa tergantung musim,
misalnya alergi debu, kutu rumah, bulu binatang, jamur, dll, dan umumnya
menyebabkan gejala kronis yang lebih ringan. Alergen umumnya diperoleh di dalam
rumah.
Sedangkan klasifikasi yang lebih baru menurut guideline dari ARIA, 2001
(Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) disdasarkan pada waktu terjadinya
gejala dan keparahannya adalah:

Berdasarkan lamanya terjadi gejala
Klasifikasi Gejala dialami selama
Intermitten Kurang dari 4 hari seminggu, atau kurang
dari 4 minggu setiap saat kambuh.
Persisten Lebih dari 4 hari seminggu, atau lebih
dari 4 minggu setiap saat kambuh.
Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup
Ringan

Tidak mengganggu tidur, aktivitas harian,
olahraga, sekolah atau pekerjaan. Tidak ada
gejala yang mengganggu.
Sedang sampai berat

Terjadi satu atau lebih kejadian di bawah
ini:
1. gangguan tidur
2. gangguan aktivitas harian,
kesenangan, atau olah raga
3. gangguan pada sekolah atau
pekerjaan
4. gejala yang mengganggu

b. Rinitis non alergi
Rinitis non alergi dikarakterisasi oleh gejala periodik atau parrenial yang
bukan merupakan hasil dari kejadian IgE-dependent.
Tipe-tipe rinitis non alergi adalah:
- Rinitis Infeksiosa
Rinitis infeksiosa biasanya disebabkan oleh infeksi pada saluran pernafasan
Bagian atas, baik oleh bakteri maupun virus. Ciri khas dari rinitis infeksiosa adalah lendir
hidung yang bernanah, yang disertai dengan nyeri dan tekanan pada wajah, penurunan
fungsi indera penciuman serta batuk.
- Rinitis Non-Alergika Dengan Sindroma Eosinofilia
Penyakit ini diduga berhubungan dengan kelainan metabolisme prostaglandin.
Pada hasil pemeriksaan apus hidung penderitanya, ditemukan eosinofil sebanyak 10-20%.
Gejalanya berupa hidung tersumbat, bersin, hidung meler, hidung terasa gatal dan
penurunan fungsi indera penciuman (hiposmia).
- Rinitis Okupasional
Gejala-gejala rinitis hanya timbul di tempat penderita bekerja. Gejala-gejala
rinitis biasanya terjadi akibat menghirup bahan-bahan iritan (misalnya debu kayu,
bahan kimia). Penderita juga sering mengalami asma karena pekerjaan.
- Rinitis Hormonal
Beberapa penderita mengalami gejala rinitis pada saat terjadi gangguan
keseimbangan hormon (misalnya selama kehamilan, hipotiroid, pubertas, pemakaian
pil KB). Estrogen diduga menyebabkan peningkatan kadar asam hialuronat di selaput
hidung. Gejala rinitis pada kehamilan biasanya mulai timbul pada bulan kedua, terus
berlangsung selama kehamilan dan akan menghilang pada saat persalinan tiba.
Gejala utamanya adalah hidung tersumbat dan hidung berair.
- Rinitis Karena Obat-obatan (rinitis medikamentosa)
Obat-obatan yang berhubungan dengan terjadinya rinitis adalah dekongestan
topikal, ACE inhibitor, reserpin, guanetidin, fentolamin, metildopa, beta-bloker,
klorpromazin,gabapentin, penisilamin, aspirin, NSAID, kokain, estrogen eksogen, pil KB.
- Rinitis Gustatorius
Rinitis gustatorius terjadi setelah mengkonsumsi makanan tertentu, terutama
makanan yang panas dan pedas.
- Rinitis Vasomotor
Rinitis vasomotor diyakini merupakan akibat dari terganggunya keseimbangan
sistem parasimpatis dan simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga
terjadi
pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah di hidung. Gejala yang timbul
berupa hidung tersumbat, bersin-bersin dan hidung berair. Gangguan vasomotor hidung
adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh
bertambahnya aktivitas parasimpatis. Rinitis vasomotor adalah gangguan pada mukosa
hidung yang ditandai dengan adanya edema yang persisten dan hipersekresi kelenjar
pada mukosa hidung apabila terpapar oleh iritan spesifik. Etiologi yang pasti belum
diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor
dimana sistem saraf parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi, posisi
tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan sebagainya, yang pada
keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu
tersebut. Merupakan respon non spesifik terhadap perubahan perubahan lingkungannya,
berbeda dengan rinitis alergi yang mana merupakan respon terhadap protein spesifik
pada zat allergennya. Faktor pemicunya antara lain alkohol, perubahan temperatur /
kelembapan, makanan yang panas dan pedas, bau bauan yang menyengat ( strong odor ),
asap rokok atau polusi udara lainnya, faktor faktor psikis seperti : stress, ansietas,
penyakit penyakit endokrin, obat-obatan seperti anti hipertensi, kontrasepsi oral.
Pengobatan Rhinitis
Tujuan pengobatan rinitis adalah untuk mencegah atau meminimalkan gejala,
dan mengurangi efek samping. Untuk memilih terapi yang tepat, perlu diketahui tipe
rinitis
yang diderita, apakah alergi atau non alergi.
Untuk rinitis alergi, terapi pencegahannya adalah dengan pencegahan terhadap
paparan alergen. Namun pencegahannya tidak mudah, apalagi jika alergen
penyebabnya belum bisa dipastikan. Pengobatan rinitis non alergi berdasarkan
penyebabnya, antara lain:
- Infeksi karena virus biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam
waktu 7-10 hari; sedangkan infeksi bakteri memerlukan terapi antibiotik.
- Untuk status hipotiroid perbatasan, bisa diberikan ekstrak tiroid.
- Rinitis karena kehamilan biasanya akan berakhir pada saat persalinan tiba.
- Untuk mengatasi rinitis akibat pil KB sebaiknya pemakaian pil KB
dikurangi atau diganti dengan kontrasepsi lainnya.
- Menghindari faktor penyebab, seperti bau yang menyengat, perubahan
suhu, dll.
Obat-obat yang dapat digunakan antara lain:
Antihistamin
Dekongestan nasal
Kortikosteroid nasal
Antikolinergik
Golongan kromolin
Jika obat-obat di atas bersifat simtomatik, terapi menggunakan imunoterapi
bersifat kuratif, yaitu menghilangkan penyakit alerginya itu sendiri. Imunoterapi
merupakan proses yang lambat dan bertahap dengan menginjeksikan alergen yang
diketahui memicu reaksi alergi pada pasien dengan dosis semakin meningkat. Obat
golongan antihistamin dan kromoglikat serta imunoterapi tidak memberikan
perbaikan pada rinitis vasomotor.








III. DESKRIPSI KASUS

Ny.MM (28 Tahun ), BB: 56 kg, TB: 150cm, sedang hamil 7 bulan anak
pertamanya. Sejak dua minggu yang lalu, setiap pagi ia mengalami bersin-bersin,
kemudian pilek, dan hidung tersumbat. Gejala ini cukup menganggu kesehariannya.
Terutama kalau menjelang pagi dan malam, atau terkena udara dingin. Tidak ada riwayat
alergi sebelumnya, juga tidak ada riwayat alergi keluarga. Ny MM pernah dirawat di RS
sebulan yang lalu karena ada gejala preeclampsia. Dua minggu sebelum dirawat di RS
karena preeclampsia, Ny MM baru saja pindah rumah dari Jakarta ke Yogyakarta, tepatnya
di daerah Pakem.
Setelah keluar rumah sakit sebulan yang lalu, Ny MM tidak menjaga tekanan
darahnya sehingga tekanan darah menjadi tidak stabil.Ny MM harus benar-benar menjaga
tekanan darahnya agar tidak terjadi eklampsia karena dapat sangat membahayakan janin.
Keluhan : - bersin-bersin
- pilek
- hidung tersumbat
- gangguan penciuman
Pemeriksaan :
- TD: 130/90 mmHg - AST: 40 IU/L
- Temperatur: 37
0
C - ALT: 45 IU/L
- RR: 17/menit - HR: 80/menit
- Albumin: 5,5g/dL - CLcr : 120mL/jam
Riwayat pengobatan : Metildopa ( tetapi penggunaannya tidak taat )
Riwayat alergi : Tidak ada
Riwayat sosial : Ny MM adalah isteri seorang Pegawai Negeri yang baru saja
ditempatkan di Pakem.
Diagnosis : Rhinitis non-alergi- Rhinitis Vasomotor karena udara dingin.

IV. PEMILIHAN OBAT RASIONAL
1. Obat Rhinitis
a. Budesonide
Mekanisme aksi : mengontrol sintesis protein, menurunkan pergerakan
polimorfo nuklear leukosit, fibroblast.
Efek samping : sekresi perdarahan ringan dan epistasis, serangan bersin
(kadang)
Kontraindikasi : -
b. Fluticasone
Mekanisme aksi : memperantarai ikatan fluorocarbotioate ester ke carbon
no 17
Efek samping : rasa kering dan iritasi pada hidung dan tenggorokan,
gangguan pada pengecapan dan penciuman, epiptaksis
Kontraindikasi : hipersensitif
c. Beclometason
Mekanisme aksi : belum diketahui jelas, tetapi diduga karena efek
vasokonstriksinya, dan menurunkan sensitivitas reseptor
terhadap bahan iritan.
Efek samping : rasa terbakar, gatal, keringnya mukosa, iritasi, sakit kepala,
perdarahan dari hidung. Asmatikus, tuberkulosis, infeksi
jamur / virus, wanita hamil terutama pada penggunaan yang
lama, hipersensitivitas.
Kontraindikasi : serangan sama akut atau statis
2. Obat Hipertensi
a. Metyldopa
Mekaisme aksi : inhibitor alfa adrenergic
Efek samping : lesu, mulut kering, sumbatan hidung, gangguan GI, sakit
kepala, pusing, ruam kulit, peningkatan BB, edema, impotensi.
Kontra Indikasi : Depresi gangguan hati.

V. EVALUASI OBAT TERPILIH
Obat Rhinitis
Budesonide (Rhinocort Aqua )
Dosis : 2 kali semprot
Frekuensi : 2x sehari ( pagi dan sore hari )
Durasi : 2-3minggu, dosis kemudian dapat diturunkan jika sudah tercapai
respon yang diinginkan.
Interaksi obat : -
Biaya : 32 mcg/ dosis x 10 ml ( Rp 147.282,00 )

Alasan : Ny MM yang semula tinggal di daerah yang suhu udaranya cukup tinggi
(Jakarta) pindah ke daerah yang cukup dingin (Pakem). Dari pilihan obat yang ada dipilih
kortikosteroid inhalasi karena obat ini aman untuk ibu hamil dibanding obat topikal yang
lain . Selain itu kostikosteroid inhalasi hanya berefek lokal dan tidak masuk ke sirkulasi
sistemik sehingga tidak mempengaruhi janin. Selain itu, Budesonide adalah kategori B
untuk wanita hamil dibandingkan dengan Fluticasone yang merupakan kategori C.

Obat Hipertensi Kehamilan
Methyldopa (Dopamet)
Dosis : 250 mg
Frekuensi : 1x sehari
Durasi : 2 minggu
Interaksi obat : efek hipertensi dikurangi dengan obat simpatomimetik,
antidepresan trisiklik, fenotiazin. Dipertinggi dengan diuretic thiazid, alcohol, L-
dopa, vasodilator. Mempotensiasi kerja hipoglikemik dari tolbutamid
Biaya : 250 mg x 100 (Rp 150.000,00); untuk 2 minggu adalah
Rp1.500,00 x 14 = Rp 21.000,00
Alasan : Metildopa merupakan pilihan pertama pada hipertensi yang terjadi pada
Kehamilan. ( Kategori B )

VI. MONITORING DAN FOLLOW UP
1. Monitoring tekanan darah setiap satu minggu sekali.
Monitoring ini bisa dilakukan dimana saja yang dapat melakukan pengukuran
tekanan darah atau dapat dilakukan sendiri di rumah jika punya keahlian dan
memiliki tensimeter, tidak harus dilakukan oleh dokter, hanya perlu diedukasikan
untuk selalu mengontrol tekanan darah, jika tekanan darahnya tinggi mendekati
140/90 mmHg atau bahkan lebih komunikasikan agar langsung menkomunikasikan
ke dokter (kontrol).
2. Monitoring terjadinya serangan bersin, karena Budesonide yang menjadi pilihan
obat pada kasus ini menyebabkan bersin walaupun hanya kadang kala.
3. Monitoring gejala preeklampsia yang memungkinkan untuk muncul, seperti
naiknya tekanan darah, terjadinya udem, nyeri kepala, epigastrum, gangguan
penglihatan.
4. Setelah kelahiran bayi, kontrol tekanan darah ibu untuk melihat status
hipertensinya.

VII. KOMUNIKASI, INFORMASI dan EDUKASI
1. Edukasikan tentang cara pemakaian kortikosteroid intranasal.
2. Informasikan bahwa metyldopa tidak boleh dikunyah karena merupakan tablet salut
harus ditelan langsung)
3. Edukasikan untuk selalu teratur makan, dan menjaga pola makan yang sehat,
khususnya pola makan sehat untuk ibu hamil yang banyak mengandung protein,
vitamin, asam folat, zat besi, dll.
4. Untuk menghindari kambuhnya rhinitis, maka disarankan agar rumah dibuat hangat
misalkan dengan menggunakan penghangat ruangan atau saat berada di lingkungan
rumah disarankan menggunakan pakaian yang hangat atau tebal.
5. Menyarankan agar pasien tidak pergi malam-malam untuk menghindari udara
dingin.

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, mahasiswa diharapkan mampu dan memahami tatalaksana
terapi pada rhinitis.
Ny. MM (28 Tahun) dengan BB: 56 kg, TB: 150cm, sedang hamil 7 bulan anak
pertamanya. Sejak dua minggu yang lalu, setiap pagi ia mengalami bersin-bersin,
kemudian pilek, dan hidung tersumbat. Gejala ini cukup menganggu kesehariannya.
Terutama kalau menjelang pagi dan malam, atau terkena udara dingin. Tidak ada riwayat
alergi sebelumnya, juga tidak ada riwayat alergi keluarga. Ny MM pernah dirawat di RS
sebulan yang lalu karena ada gejala preeclampsia. Dua minggu sebelum dirawat di RS
karena preeclampsia, Ny MM baru saja pindah rumah dari Jakarta ke Yogyakarta, tepatnya
di daerah Pakem.
Setelah keluar rumah sakit sebulan yang lalu,
Berdasarkan gejala-gejalanya maka dapat disimpulkan bahwa Ny. MM menderita
rhinitis non-alergi, yaitu rhinitis vasomotor yang disebabkan karena pengaruh temperatur
yang rendah (udara dingin) akibat kepindahannya dari Jakarta yang suhu udaranya relatif
tinggi, ke Pakem yang suhu udaranya relatif rendah. Selain itu, Ny. MM ini juga menderita
preeklamsia, yaitu tekanan darahnya yang relatif agak tinggi akibat kehamilannya.
Preeklamsia biasanya timbul pada wanita-wanita yang sedang hamil, dan kebanyakan akan
sembuh sendiri setelah wanita tersebut melahirkan. Oleh karena itu harus tetap
diperhatikan tekanan darahnya, agar tidak terjadi eklamsia. Yang dapat membahayakan
janin.
Terapi yang diberikan bertujuan untuk mencegah kejadian rhinitis, menghilangkan
gejala rhinitis dan menghilangkan penyebab dari rhinitis alergi. Strategi terapi yang
digunakan unuk dapat mencapai tujuan dan sasaran terapi tersebut adalah sebagai berikut :
1.Terapi non farmakologi
Menghindarkan pasien dari alergen yang dapat menyebabkan rhinitis alergi
2.Terapi farmakologis
Apabila tidak dapat menghindari alergen, maka dapat digunakan obat anti alergi
baik OTC maupun ethical.
Obat yang dapat digunakan untuk mengurangi gejala :
- Antihistamin
- Dekongestan
- Kortikosteroid nasal
- Sodium kromolin
- Ipratropium bromida
Apabila dengan pengobatan diatas tidak berhasil atau obat-obat tersebut
menyebabkan efek samping yang yidak bisa diterima oleh pasien maka dapat
dilakukan imunoterapi (terapi desensitisasi)

Dari kasus Ny. MM, kami memiliki pendapat untuk mencoba melakukan terapi non-
farmakologis terlebih dahulu kepada Ny. MM. Terapi non farmakologis dapat berupa
mempertahankan pola hidup normal, termasuk berpartisipasi dalam kegiatan luar ruangan
dan menghindari faktor pemicu alergi seperti memakai jaket pada waktu dingin dan
mengurangi bepergian pada waktu malam serta mengontrol diet dan istirahat total. Hal ini
penting dilakukan, sebab untuk langsung menggunakan obat-obatan agak berbahaya karena
pasien hamil 7 bulan dan menderita preeklampsia serta sedang mengkonsumsi methlydopa.
Hampir semua obat yang ada sekarang memiliki pregnancy category C dan D sehingga
berbahaya bagi janin dan obat-obat yang dipilih haruslah tidak kontraindikasi dengan obat
methlydopa dan aman bagi pasien hamil.
Apabila hasil terapi non farmakologis belum memuaskan, maka dapat dilanjutkan
dengan terapi farmakologis sambil tetap melakukan terapi non farmakologisnya. Untuk
terapi menggunakan obat-obatan, praktikan memilihkan obat rasional yang dapat
digunakan untuk terapi farmakologis rhinitis non alergi sebagai berikut:
1. Budesonide Nasal Spray
Mekanisme Aksi : Mengontrol kecepatan sintesis protein, menekan migrasi
leukosit polimorfonuklear dan fibroblast, mengembalikan permeabilitas kapiler dan
stabilisasi lisosomal pada tingkat seluler untuk mencegah / mengontrol inflamasi.
Kotraindikasi : Hipersensitivitas, asma akut, infeksi jamur dan virus pada
hidung
Efek samping : Sekresi perdarahan ringan dan epistaksis
Faktor Resiko Kehamilan: B
2. Fluticasone
Mekanisme aksi : memperantarai ikatan fluorocarbotioate ester ke carbon no
17
Efek samping : rasa kering dan iritasi pada hidung dan tenggorokan,
gangguan pada pengecapan dan penciuman, epiptaksis
Kontraindikasi : hipersensitif
Faktor resiko kehamilan :B
3. Beclometason
Mekanisme aksi : -
Efek samping : bersin setelah penggunaan, , kadang-kadang hidung kering,
iritasi hidung dan tenggorokan, epistaksis, dll.
Kontra indikasi : Hipersensitifitas
4. Metyldopa
Mekanisme aksi : inhibitor alfa adrenergic
Efek samping : lesu, mulut kering, sumbatan hidung, gangguan GI, sakit
kepala, pusing, ruam kulit, peningkatan BB, edema, impotensi.
Kontra Indikasi : Depresi gangguan hati.
Faktor resiko kehamilan :B
Pada pasien wanita hamil, pengobatan rhinitis yang sejauh ini paling aman adalah
kromolin secara intranasal. Antihistamin klorfeniramin juga dapat dipilih karena terbukti
cukup aman pada kehamilan (kategori B untuk kehamilan). Antihistamin lain yang lebih
baru yang termasuk kategori B untuk kehamilan adalah loratadin dan setirizin, sedangkan
feksofenadin masuk kategori C. Namun kita tidak dapat menggunanakn antihistamin
dikarenakan rhinitis yang terjadi adalah rhinitis non alergi, yang pada tidak akan berefek
jika digunakan antihistamin, karena mekanisme rhinitis non alergi tidak melibatkan
histamine, sehingga obat yang dimasukkan ke pemilihan obat rasional adalah
kortikosteroid.
Adapun proses dari rhinitis vasomotor/non alergi adalah infeksi pada mukosa
hidung akan menyebakan terganggunya keseimbangan saraf otonom (simpatis dan
parasimpatis) pada mukosa hidung yang mana parasimpatis menjadi lebih dominan,
sehingga menyebabkan pelebaran dan pembengkakkan pembuluh darah hidung sehingga
terjadi vasodilatasi (hidung tersumbat) dan hipersekresi pada kelenjar mukus.
Semua kortikosteroid nasal masuk kategori C, namun diantara semua
kortikosteroid, obat pilihan untuk pasien hamil adalah beklometason dipropionat, Karena
telah memiliki riwayat keamanan penggunaan yang cukup panjang. (Dykewicz dan Corren,
2002 )
Menurut penjelasan ini, maka sebenarnya beklometason dapat juga dimasukkan
dalam pemilihan obat rasional untuk pasien hamil, dan merupakan obat terpilih untuk
pasien rhinitis non alergi yang sedang hamil, akan tetapi jika kita melihat pada MIMS ,
beclometason masuk dalam kategori C. dan satu-satunya obat kortikosteroid nasal yang
masuk dalam kategori B adalah budesonide. Oleh karena itu kita tetap akan memilih
budesonide untuk terapi pada rhinitisnya. Alasan lain mengapa dipilihkan sediaan nasal
spray, karena obat ini tidak mempengaruhi system saraf pusat dan hanya berefek sistemik,
sehingga lebih aman untuk pasien yang sedang hamil.
Selain itu, seharusnya kita juga memberikan suplemen asam folat yang berguna
bagi kehamilannya, misalnya :
Suplemen Kehamilan : Prenamia
Mekanisme Aksi : mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral yang dibutuhkan
oleh tubuh selama masa kehamilan
Komposisi : Fe Fumarate 360mg, Asam Folat 1,5mg, Ca Carbonate 200mg,
Vitamin B
12
15mcg, Vitamin C 75 mg, Vitamin D
3
400 IU.
Kontraindikasi : -
Efek Samping : feses berwarna hitam dan mual

Setelah dipertimbangkan dari berbagai aspek, maka obat yang dipilih adalah :

Obat Rhinitis
Budesonide (Rhinocort Aqua )
Dosis : 2 kali semprot
Frekuensi : 2x sehari ( pagi dan sore hari )
Durasi : 2-3minggu, dosis kemudian dapat diturunkan jika sudah tercapai respon
yang diinginkan.
Interaksi obat : -
Biaya : 32 mcg/ dosis x 10 ml ( Rp 147.282,00 )

Alasan : Ny MM yang semula tinggal di daerah yang suhu udaranya cukup tinggi (Jakarta)
pindah ke daerah yang cukup dingin (Pakem). Dari pilihan obat yang ada dipilih
kortikosteroid inhalasi karena obat ini aman untuk ibu hamil dibanding obat topikal yang
lain . Intranasal kortikosteroid direkomendasikan sebagai terapi awal disertai dengan
penghindaran terhadap alergen karena efikasinya yg tinggi (DiPiro, 2005), Selain itu
kostikosteroid inhalasi hanya berefek lokal dan tidak masuk ke sirkulasi sistemik sehingga
tidak mempengaruhi janin. Selain itu, Budesonide adalah kategori B untuk wanita hamil
dibandingkan dengan Fluticasone dan beklometason yang merupakan kategori C.
Obat Hipertensi Kehamilan
Methyldopa (Dopamet)
Dosis : 250 mg
Frekuensi : 1x sehari
Durasi : 2 minggu
Interaksi obat : efek hipertensi dikurangi dengan obat simpatomimetik, antidepresan
trisiklik, fenotiazin. Dipertinggi dengan diuretic thiazid, alcohol, L-dopa, vasodilator.
Mempotensiasi kerja hipoglikemik dari tolbutamid
Biaya : 250 mg x 100 (Rp 150.000,00); untuk 2 minggu adalah
Rp1.500,00 x 14 = Rp 21.000,00
Alasan : Metildopa merupakan pilihan pertama pada hipertensi yang terjadi pada
Kehamilan. ( Kategori B ) dan pasien sebelumnya telah mengkonsumsi metildopa untuk
terapi hipertensi dan tidak menunjukkan adanya efek yang tidak diinginkan, sehingga
terapi menggunakan metildopa tetap dilanjutkan untuk mengontrol tekanan darahnya.
Suplemen tambahan
Prenamia Sanbe
Dosis : 1 tablet
Frekuensi : 1x sehari
Durasi : 1 bulan
Interaksi Obat : -
Analisis biaya : 30 tablet = Rp 21.000
Alasan :Pasien membutuhkan suplemen tambahan untuk memenuhi vitamin
yang dibutuhkan oleh tubuh dan janin (terutama asam folat)

Selama pasien menggunakan obat, perlu dilakukan monitoring dan hasilnya
ditindaklanjuti (follow up):
- Selama penggunaan budesonide , dipantau apakah timbul efek samping. Jika
muncul efek samping seperti perih, sakit kepala yang mengganggu, sebaiknya
pasien dibawa ke dokter.
- Pantau terhadap perbaikan gejala / simptom rhinitis seperti frekuensi bersin.
- Monitoring tekanan darah setiap satu minggu atau dua minggu sekali.
Monitoring ini bisa dilakukan dimana saja yang dapat melakukan pengukuran
tekanan darah atau dapat dilakukan sendiri di rumah jika punya keahlian dan
memiliki tensimeter, tidak harus dilakukan oleh dokter, hanya perlu diedukasikan
untuk selalu mengontrol tekanan darah, jika tekanan darahnya tinggi mendekati
140/90 mmHg atau bahkan lebih komunikasikan agar langsung
mengkomunikasikan ke dokter (kontrol).
Monitoring terjadinya serangan bersin, karena Budesonide yang menjadi pilihan
obat pada kasus ini menyebabkan bersin walaupun hanya kadang kala.
- Monitoring gejala preeklampsia yang memungkinkan untuk muncul, seperti
naiknya tekanan darah, terjadinya udem, nyeri kepala, epigastrum, gangguan
penglihatan.

Komunikasi, informasi & edukasi kepada pasien
Hal-hal yang perlu disampaikan kepada pasien dan keluarganya:
- Informasikan efek samping yang mungkin terjadi agar keluarga tidak kaget dan
dapat melaporkan tanda-tanda terjadinya efek samping kepada dokter.
- Edukasikan tentang cara pemakaian kortikosteroid intranasal..
- Memastikan kebersihan alat nasal spray sebelum dan setelah menggunakannya
untuk menghindari terjadinya infeksi
- Informasikan bahwa metyldopa tidak boleh dikunyah karena merupakan tablet salut
(harus ditelan langsung)
- Edukasikan untuk selalu teratur makan, dan menjaga pola makan yang sehat,
khususnya pola makan sehat untuk ibu hamil yang banyak mengandung protein,
vitamin, asam folat, zat besi, dll.
- Untuk menghindari kambuhnya rhinitis, maka disarankan agar rumah dibuat hangat
misalkan dengan menggunakan penghangat ruangan atau saat berada di lingkungan
rumah disarankan menggunakan pakaian yang hangat atau tebal.
- Menyarankan agar pasien tidak pergi malam-malam untuk menghindari udara
dingin.
- Jika gejala tidak membaik meski sudah menjalani pengobatan ini, anjurkan pasien
untuk kembali mengujungi dokter.




KESIMPULAN
Rhinitis non alergi (rhinitis vasomotor) yang dialami pasien disebabkan oleh
adanya pengaruh perbedaan temperatur udara.
Pemilihan obat rhinitisnya harus diperhatikan karena pasien ini sedang hamil, oleh
karena itu dipilihkan obat-obat yang kategori keamanannya B. misalnya
Budesonide.
Untuk terapi preeklamsianya dipilihkan obat yang masuk dalam kategori B juga,
yaitu Methyldopa.
Bisa juga diberikan suplemen tambahan untuk kehamilannya, yaitu asam folat

Yogyakarta, 20 Oktober 2010
Mengetahui,
Asisten Praktikum Tim Penyusun


(..)
PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Mengapa dalam pemilihan obat rasional hanya dipilih kortikosteroid?
Jawab : Sebenarnya bisa pula dimasukkan dekongestan nasal.

2. Bagaimana cara memakai kortikosteroid intranasal?
Jawab : Salah satu lubang hidup ditutup (secara bergantian) kemudian kepala sedikit
di tengadahkan dan semprotkan kortikosteroid nasal pada lubang hidung.

3. Mengapa untuk pemilihan obat rasional untuk hipertensi hanya Metildopa?
Jawab : Karena methyldopa merupakan obat hipertensi yang paling aman untuk ibu
hamil.

4. Mengapa tidak efektif bila diberi anti histamin?
Jawab ; Karena rinitis vasomotor tidak diperantarai oleh histamin, sehingga pemberian
antihistamin tidak akan ada gunanya

5. Bagaimana patognesis dari rinitis vasomotor?
Jawab : Tidak melibatkan histamin. Prosesnya : Infeksi pada mukosa hidung akan
menyebakan terganggunya keseimbangan saraf otonom (simpatis dan parasimpatis)
pada mukosa hidung yang mana parasimpatis menjadi lebih dominan, sehingga
menyebabkan pelebaran dan pembengkakkan pembuluh darah hidung sehingga terjadi
vasodilatasi (hidung tersumbat) dan hipersekresi pada kelenjar mukus.

6. Bagaimana kortikosteroid dapat berefek terhadap pertumbuhan tulang?
Jawab : Kortikosteroid (secara per oral) memiliki efek katabolisme, kemudian berefek
pada osteoporosi, maupun atrophy (penipisan) pada kulit

7. Apakah Kortikosteroid nasal bisa menyebabkan iritasi hidung?
Jawab : Bisa, berupa gatal dan epitaksis (berdarah)

8. Apakah Kortikosteroid nasal bisa mengatasi bersin dan hidung tersumbat?
Jawab : bisa, karena kortikosteroid memiliki efek vasokonstriksi untuk mengatasi
vasodilatasi yang terjadi.

9. Mengapa hipertensi mengganggu janin?
Jawab : 1.Mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi sehingga nantinya berbahaya
bagi janin terutama pada ginjal janin
2.Menurunkan produk air seni janin sehingga air ketuban menjadi sedikit

10. Apakah Sodium klromolin bisa dipakai dalam rhinitis vasomotor pada pasien hamil ?
Jawab : Tidak efektif, karena Sodium digunakan ketika rinitis yang terjadi berkaitan
dengan sel mast, namun pada rinitis vasomotor tidak melibatkan sel mast.

11. Adakah pasien memiliki kemungkinan untuk tidak alergi lagi?
Jawab : Mungkin saja, karena secara bertahap dia akan mengalami desensitisasi
karena terpapar udara dingin terus menerus, sehingga rinitis itu tidak muncul. Namun
jika dia pindah rumah lagi, dengan kondisi temperatur yang berbeda, rinitis vasomotor
tersebut akan muncul lagi.

12. Mengapa beklomethason tidak dimasukkan dalam pemilihan obat rasional?
Jawab : Seharusnya bisa, ini adalah kesalahan kami yang lupa untuk menulisnya.

13. Jika beklometason dimasukkan dalam pemilihan obat rasional, lebih dipilih
beklomethason atau budesonide?
Jawab : tetap meilih budesonide karena kami tidak menemukan sediaan nasal pada
beclometason.

14. Bagaimana maksud dari penurunan dosis?
Jawab : Penggunaan obat tidak boleh dihentikan secara langsung tiba-tiba, sehingga
dosis harus diturunkan dahulu secara perlahan untuk memberi waktu kepada sistem
endogen untuk bisa kembali bekerja memproduksi steroid.

15. Apakah Rhinitis vasomotor bisa sembuh total?
Jawab : Tidak bisa, memang bisa mengalami kesembuhan setelah terpapar secara
berangsur-angsur, namun, dalam kasus ini misalnya Ny.MM pindah rumah lagi,
dengan kondisi temperatur yang berbeda, rinitis vasomotor tersebut akan muncul lagi.

16. Mengapa penggunaan kortikoteroid nasal pagi dan sore?
Jawab : pagi suapaya lebih taat. Sebenarnya bisa pagi saja, namun harus 4 kali
semprot, sedangkan jika ingin digunakan 2 kali, gunakan pagi dan sore, masing-
masing 2 kali semprotan.

17. Ada sebuah sumber yang mengatakan bahwa metildopa dapat menyebabkan rinitis,
jadi tetap akan menggunakan metildopa atau tidak?
Jawab : Iya, karena penggunaan metyldopa hanya bersifat sementara dikarenakan
hipertensi terjadi selama kehamilan saja, sehingga ketika ia sudah melahirkan, tekanan
darah akan kembali normal dan tidak memeakai metildopa kembali.

18. Setelah melahirkan, obat-obat tersebut masih dilanjutkan atau tidak?
Jawab : Untuk penggunaan metildopa tidak dilanjutkan, karena penggunaan
metyldopa hanya bersifat sementara dikarenakan hipertensi terjadi selama kehamilan
saja, sehingga ketika ia sudah melahirkan, tekanan darah akan kembali normal dan
tidak memeakai metildopa kembali. Sedangkan untuk penggunaan kortikosteroid,
dilihat 2-3 minggu, jika sembuh dosis diturunkan secara bertahap, kemudian
dihentikan.












DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, CV. Sagung Seto, Jakarta.
Anonim, 2007, MIMS dan Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008, PT. Infomaster,
Jakarta.
Anonim, 2008, ISO Indonesia Volume 43-2008, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta.

Anonim, 2008, Drug Information Handbook 17
th
edition, Lexi-Comp inc, Ohio.

DE S., FENTON J. E., JONES A.S., CLARKE R., 2005, Passive smoking, allergic
rhinitis and nasal obstruction on children, The Journal of Laryngology &
Otology (2005), 119 : 955-957 diakses dari
www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16354357

Dipiro, and Michael, 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Mc-
Graw-Hill Publishing Inc. Page 1235-1255.

Hillenbrand A., Bruns D.H., Wurl P., 2006, Cough induced rib fracture, rupture of th
diaphragm and abdominal herniation, World Journal of Emergency Surgery
(2006), 1 : 34 diakses dari www.wjes.org/content/1/1/34

Kariyawasam H.H., Scadding G.K., 2010, Seasonal allergic rhinitis : fluticasone
propionate and fluticasone furoate therapy evaluated, Journal of Asthma and
Allergy (2010), 3 : 19-28 diakses dari http://www.dovepress.com/seasonal-
allergic-rhinitis-fluticasone-propionate-and-fluticasone-furo-peer-reviewed-
article-JAA-recommendation1

Shahab R, PHILLIPS D E., JONES A.S., 2005, Prostaglandins, leukotriens and
perennial rhinitis, The Journal of Laryngology & Otology (2004), 118 : 500-
507 diakses dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15318955

Slager R.E., Poole J.A., LeVan T.D., et al , 2009, Rhinitis associated with pesticide
exposure among commercial pesticide applicators in the Agricultural Health
Study, Occup Environ Med (2009), 66 : 718-724 diakses dari
http://oem.bmj.com/content/66/11/718.full?cited-
by=yes&legid=oemed;66/11/718&related-urls=yes&legid=oemed;66/11/718

Sukandar,E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.A.P., Kusnandar.,
2009, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta
Tjay, Tan Hoan, 2002, Obat-obat Penting Edisi V, PT Elex Media Komputindo, Jakarta