Anda di halaman 1dari 3

1

Chapter 20
Direct Costing, CVP Analysis, and The Theory of Constraints

A. Direct Costing
Direct Costing atau Variable Costing atau Marginal Costing membebankan biaya produksi
yang berubah secara langsung terhadap perubahan volume produksi, dimana biaya utama (biaya
bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung) ditambah biaya Overhead Pabrik variabel
dialokasikan ke persediaan, baik ke barang dalam proses maupun barang jadi, dan juga ke harga
pokok penjualan. Sementara itu, biaya overhead tetap dibebankan dalam jumlah total sebagai
beban periode berjalan karena lebih erat kaitannya dengan waktu dan bukan dengan kegiatan
produksi, sering kali dimasukkan dalam biaya periode (period cost). Contohnya adalah
penyusutan, asuransi, pajak, gaji penyelia, pesuruh, satpam dan pemeliharaan.
Contribution Margin atau marginal income adalah perbedaan antara pendapatan
penjualan dan semua biaya variabel, atau dikenal sebagai pendapatan sebelum biaya tetap.
Dari sisi kalangan internal, Direct Costing digunakan sebagai:
a) Perencanaan keuntungan
b) Penentuan harga
c) Evaluasi profitabilitas dari berbagai produk
d) Pengambilan keputusan
e) Pengendalian biaya
Sementara itu, dari sisi kalangan eksternal, Direct Costing digunakan untuk:
a) Penetapan biaya persediaan
b) Penentuan laba
c) Penyusunan laporan keuangan yang digunakan untuk kepentingan eksternal

B. Cost-Volume-Profit Analysis
Cost-volume-profit (CVP) analysis didasarkan pada perhitungan volume penjualan dan
bauran produk yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat keuntungan yang diharapkan. Asumsi
dasarnya adalah bahwa semua biaya dapat dipisahkan ke dalam bagian yang tetap dan bagian
yang variabel, bahwa total biaya tetap adalah konstan dalam jangka waktu tertentu, dan total
biaya variabel berubah sesuai dengan perubahan volume, dan jumlahnya konstan dalam jangka
waktu tertentu.
Break-even analysis digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk
yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi dalam periode tersebut persis tertutupi. Titik
impas (Breakeven point) adalah titik di mana biaya dan pendapatan sama besarnya. Tidak ada
laba maupun rugi pada titik impas.
Meskipun lazimnya manajemen merencanakan sejumlah laba tertentu pada setiap
periode, namun Breakeven point perlu diperhatikan. Apabila penjualan tidak mencapai Breakeven
point, perusahaan akan merugi. Manajemen harus menentukan Breakeven point agar bisa
menghitung margin of safety yang menunjukkan seberapa banyak penjualan bisa turun dari
jumlah yang ditargetkan sebelum perusahaan menderita rugi. Marjin pengaman merupakan
kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi penjualan yang direncanakan.
Persamaan-persamaan dalam CVP :
2

Profit = Total Revenues (Total Variable cost + Total Fixed Cost)
Total Revenues (R) = Total Variable cost (V x R) + Total Fixed Cost (F) + Profit ()
R = F + (V x R) + ; V = (Variable Cost / Revenue)
R = (F + ) / (1 - V)
R (BE) = F / (1 - V)
Q = (F + ) / (P - C)
Q (BE) = F / (P - C)

Dalam menyusun Break-even chart, perlu diperhatikan langkah-langkah :
1. Tarik garis dasar horisontal, yaitu sumbu-x, dan bagi ke dalam ruas-ruas yang sama panjang
untuk menyatakan volume penjualan dalam nilai uang (dalam hal ini dollar), atau dalam
jumlah unit atau sebagai persentase dari volume tertentu.
2. Tarik garis vertikal, yaitu sumbu-y, di sebelah kiri dan sebelah kanan grafik. Sumbu-y di
sebelah kiri peta dibagi ke dalam ruas-ruas yang sama panjang dan menunjukkan penjualan
dan biaya dalam nilai uang.
3. Tariklah garis biaya tetap yang sejajar dengan sumbu-x pada suatu titik di sumbu-y.
4. Selanjutnya tarik garis total biaya dari titik biaya tetap di sumbu-y sampai ke suatu titik biaya
di sumbu-y sebelah kanan.
5. Akhirnya, tarik garis penjualan dari titik 0 di sebelah kiri (perpotongan sumbu-x dan sumbu-y)
sampai ke suatu titik pada sumbu-y sebelah kanan.
6. Garis total biaya memotong garis penjualan pada titik impas, yang menunjukkan jumlah
penjualan dalam dolar atau dalam unit.
7. Daerah gelap di sebelah kiri titik impas merupakan daerah rugi, sedangkan daerah gelap di
sebelah kanan merupakan daerah laba.

C. Cost-Volume-Profit Analysis untuk Pengambilan Keputusan
Dalam menggunakan analisis biaya-volume-laba, manajemen harus memahami bahwa:
1) Perubahan biaya variabel per unit akan mengubah rasio marjin kontribusi dan titik impas
2) Perubahan harga jual akan mengubah rasio marjin kontribusi dan titik impas
3) Perubahan biaya tetap akan mengubah titik impas tetapi tidak mengubah angka marjin
kontribusi
4) Perubahan gabungan biaya tetap dan variabel pada arah yang sama akan mengakibatkan
perubahan mencolok dalam titik impas.
Meskipun mengandung sejumlah keterbatasan, break-even analysis bisa diterapkan secara
luas untuk menguji tindakan yang diusulkan, mempertimbangkan berbagai alternatif, atau untuk
berbagai tujuan lain dalam pengambilan keputusan. Sebagai contoh, teknik ini memungkinkan
penentuan pengaruh pergeseran biaya tetap dan variabel atas laba bila mesin lama diganti
dengan peralatan baru. Perusahaan yang memiliki banyak pabrik, produk, dan wilayah penjualan
dapat menyiapkan bagan yang menunjukkan pengaruh pergeseran tersebut terhadap kuantitas
penjualan, harga jual, dan upaya penjualan. Dengan informasi semacam itu, manajemen dapat
mengarahkan operasi perusahaan pada saluran yang paling menguntungkan.
Margin of Safety mengindikasikan berapa banyak penjualan dapat turun dari sebuah
tingkat penjualan tertentu sebelum perusahaan impas, misalnya ketika perusahaan mulai merugi.
Persamaannya adalah :
Margin of safety ratio = (Selected sales figure Breakeven sales) / Selected sales figure
3

Margin of safety ratio = Profit Ratio / Contribution Margin Ratio

D. Theory of Constraints
Tiga basis pengukuran TOC:
1) Throughput, yaitu tingkat dimana sistem menghasilkan uang melalui penjualan, dan dihitung
dengan cara mengurangi penjualan dengan biaya variabel murni.
2) Operating expense yang bersesuaian dengan biaya konversi.
3) Asset, dengan penekanan khusus pada biaya material dalam persediaan.
TOC mengajarkan manajer bagaimana memaksimalisasi throughput sementara
meminimalisasi operating expense dan asset. Untuk memaksimalisasi throughput, pertama-tama,
penting untuk melokasikan satu sumber daya, lokasi, atau kebijakan yang paling membatasi
throughput.
Dalam mengimplementasikan TOC, digunakan Goldratts step, yaitu:
1) Identifikasi batasan sistem
2) Tentukan bagaimana mengeksploitasi batasan sistem
3) Subordinasi semuanya yang ada di atas keputusan
4) Tingkatkan batasan sistem
5) Jika pada tahapan sebelumnya, batasannya ada yang rusak, kembali ke tahap satu, namun
jangan biarkan hambatan berimbas pada batasan tersebut.
Contoh TOC adalah bottleneck machine. Kapanpun persediaan yang besar menunggu untuk
diproses, mesin adalah batasannya.
TOC adalah optimisasi jangka pendek yang memandang sumber daya, teknologi, lini
produk, dan permintaan sebagai sesuatu yang relatif konstan. Dalam jangka panjang, semua
faktor tentunya berubah dan dapat mempengaruhi keputusan manajemen.