Anda di halaman 1dari 12

Festival Barongsai 1

LATAR BELAKANG

1. Melongok Etnis Tionghoa Di Palembang
Komunitas Cina Palembang yang secara historis telah
melakukan hubungan dagang sejak awal abad Masehi tentunya
juga mempunyai sejarah yang panjang tentang pemukimannya.
Meskipun demikian, keterbatasan data tidak memungkinkan
untuk merekonstruksi pola pemukimannya sejak awal kehadiran
mereka di Palembang.
Oleh karena itu, dalam tulisan sejarah pemukiman masyarakat
Cina di Palembang dimulai sejak runtuhnya kerajaan Sriwijaya
sampai masa kolonial. Dari data keramik dapat diperkirakan
sekurang-kurang sejak abad ke 7 Masehi, sudah terjalin
hubungan dagang anatara Cina dengan Palembang, meskipun
sumber tertulis menyebutkan bahwa puncak hubungan
perdagangan terjadi pada abad ke 10-16.
Hubungan dagang ini diperkuat dengan kehadiran utusan-utusan
dari Palembang sejak abad ke -7 sampai dengan abad ke-13 ke
negeri Cina. Dari sumber berita Cina sendiri hanya dapat
diketahui bahwa sejak abad ke 7, tidak hanya hubungan
dagang saja yang terjalin di anatara kedua wilayah ini, melainkan
juga hubungan agama.
Hal ini terbukti dari kehadiran I-tsing, seorang pendeta Budha
dari Cina yang belajar Sansekerta di Sriwijaya pada tahun 671
sebelum ke Nalanda, India.
Berdasarkan data sejarah dapat diketahui bahwa kelompok etnis
Cina sudah mulai mengadakan kontak dagang sejak abad ke-7
Masehi, saat daerah ini masih dikuasai oleh Sriwijaya. Pada
masa kemudian kedatangan orang-orang Cina yang menetap di
Palembang justru melahirkan kepemimpinan kelompok etnis
Cina di wilayah ini. Bahkan, setelah Islam memasuki daerah ini
peran merekapun tidak surut, terbukti dengan munculnya imam
kerajaan dari kelompok mereka.
Dari sumber berita Cina (Ying Yai Sheng Lan) dapat diketahui
bahwa etnis Cina yang ada di Palembang berasal dari Canton,
Chang-chou dan Chuan-chou. Hanya saja dari sumber tersebut
tidak disebutkan etnisnya.


Festival Barongsai 2

Pemukiman masyarakat Cina terdapat di wilayah 7 Ulu yang
secara administratif termasuk wilayah Kelurahan 7 Ulu,
kecamatan Seberang Ulu I, Palembang.
Masyarakat Cina yang merupakan bagian dari penduduk
Palembang tentunya pola pemukimannya tidak jauh berbeda.
Awalnya kelompok etnis Cina, seperti halnya masyarakat asing
lainnya yang bermukim di wilayah Palembang, atas kebijakan
sultan Palembang ditempatkan di seberang Ulu. Pembagian tata
letak pemukiman yang berdasarkan status sosial, pekerjaan dan
etnis telah terjadi di Palembang sejak kratonnya masih di Kuta
Gawang.
Etnis Cina ditempatkan di luar kraton. Bahkan, seperti halnya
penduduk lainnya mereka bermukim di atas rakit. Rumah-rumah
rakit yang berada langsung di atas air tetap mempunyai pola
linear hanya dari segi kuantitas jumlahnya berkurang, hal ini
terjadi karena perkembangan jaman (perubahan pemerintahan).
Mereka lambat laun membentuk pemukiman rumah panggung.
Keadaan ini juga berlaku untuk kelompok etnis Cina, sehingga
kemudian munculah pemukiman Cina di 7 Ulu dengan segala
sarana dan prasarananya. Pemukiman etnis Cina ini ditandai
dengan adanya rumah Kapitan Cina, kelenteng dan pemakaman
di Bukit Mahameru.
Langgam arsitektur di kawasan Pecinan tersebut dipengaruhi
oleh arsitektur lokal (Palembang), Cina dan Belanda. Sampai
akhir pemerintahan kolonial Belanda pola pemukiman mereka
tidak berubah, baik yang bermukim di atas rumah panggung
maupun di atas rakit, yaitu berpola linear.
Tidak berbeda dengan literatur yang dikemukakan oleh
Budayawan Palembang Djohan Hanafiah dalam sebuah bukunya
Perang Palembang Melawan VOC (1996) diceriterakan bahwa
Sriwjaya merupakan kerajaan yang lebih menguasai wilayah
perairan di Asia Tenggara. Lalu, berdasarkan catatan
sebagaimana dituturkan almarhum Djohan Hanafiah waktu lalu,
Raja Palembang yang bernama Ma-na-ha, Pau In Pang
(Maharaja Palembang) mengirim dutanya menghadap Kaisar
Tiongkok pada tahun 1374. Maharaja ini disebut sebagai Raja
Palembang terakhir pada saat penguasaan Sriwijaya, sebelum
Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada 1377.
Citra tentang etnis Tionghoa yang umum kita ketahui adalah
merupakan kelompok sosial minoritas yang secara ekonomi
selalu berkecukupan, akan tetapi menjalani gaya hidup yang
eksklusif. Hartiningsih (2004) menyatakan bahwa berbagai
sumber menyebut-kan bahwa kelompok etnis Tionghoa yang
jumlahnya kurang dari empat persen itu menguasai lebih dari 70


Festival Barongsai 3

persen ekonomi Indonesia. Citra itulah yang menyebabkan
mereka menjadi sasaran utama pada saat kerusuhan Mei 1998
meletus, termasuk perkosaan masa. Selain itu, citra kelompok
etnis ini juga tak lepas dari buruknya citra pengusaha Tionghoa
yang terlibat berbagai kasus tindak korupsi yang kemudian
dibebaskan oleh hukum atau lari ke luar negeri.
Palembang tidaklah merupakan suatu yang asing bagi para
penguasa Tiongkok pada dahulu kala, karena memang mereka
juga telah memiliki hubungan baik dengan raja-raja di wilayah
kekuaaan Sriwijaya. Dalam beberapa literature yang pernah
diungkapkan Djohan pada bukunya, sebutan Palembang muncul
pada abad 13 setelah berakhirnya masa kejayaan Sriwijaya abad
7-abad 12.
Palembang semula berasal dari ejaan para saudagar Tiongkok
yang menyebutkan Fa Lin Fong , seperti dituliskan dalam tulisan
Tiongkok Chu Fa Shi karya Chau Ju Kau tahun 1225. penulis
Tiongkok lainnya, Ma Huan, dalam catatan perjalannya Ying Ysi
Shueng Lan (1416) menuliskan berbagai catatan mengenai
Palembang yang diejanya dalam tulisan menyebut Pa Lin Pang.

2. Kesenian Barongsai di Indonesia
Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan
sarung yang menyerupai singa
,
Barongsai memiliki sejarah
ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri
pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi.
Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-
Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari
raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan
gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang
bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk
mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga
akhirnya tarian barongsai melegenda.
Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang
memiliki surai ikal dan berkaki empat. Penampilan Singa Utara
kelihatan lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan
yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua
atau empat. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk
sehingga kadangkala mirip dengan binatang Kilin.
Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda.
Bila Singa Selatan terkenal dengan gerakan kepalanya yang
keras dan melonjak - lonjak seiring dengan tabuh-


Festival Barongsai 4

an gong dan tambur, gerakan Singa Utara cenderung lebih
lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.
Satu gerakan utama dari tarian Barongsai adalah gerakan singa
memakan amplop berisi uang yang disebut dengan istilah Lay
See. Di atas amplop tersebut biasanya ditempeli dengan
sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi sang Singa.
Proses memakan Lay See ini berlangsung sekitar separuh
bagian dari seluruh tarian Singa.
Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-
17, ketika terjadi migrasi besar dari Cina Selatan.
Barongsai di Indonesia mengalami masa maraknya ketika zaman
masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Setiap
perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan di berbagai daerah di
Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan
barongsai. Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada
tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Karena
situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan
Tionghoa di Indonesia dibungkam. Barongsai dimusnahkan dan
tidak boleh dimainkan lagi. Perubahan situasi politik yang terjadi
di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali
kesenian barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak
perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda dengan
zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda Tionghoa yang
memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi
Indonesia yang ikut serta.
Pada zaman pemerintahan Soeharto, barongsai sempat tidak
diijinkan untuk dimainkan. Satu-satunya tempat di Indonesia
yang bisa menampilkan barongsai secara besar-besaran adalah
di kota Semarang, tepatnya di panggung besar kelenteng Sam
Poo Kong atau dikenal juga dengan Kelenteng Gedong Batu.
Setiap tahun, pada tanggal 29-30 bulan enam menurut
penanggalan Tiong Hoa (Imlek), barongsai dari keenam
perguruan di Semarang, dipentaskan. Keenam perguruan
tersebut adalah:
1. Sam Poo Tong, dengan seragam putih-jingga-hitam (kaos-
sabuk-celana), sebagai tuan rumah
2. Hoo Hap Hwee dengan seragam putih-hitam
3. Djien Gie Tong (Budi Luhur) dengan seragam kuning-merah-
hitam
4. Djien Ho Tong (Dharma Hangga Taruna) dengan seragam
putih-hijau


Festival Barongsai 5

5. Hauw Gie Hwee dengan seragam hijau-kuning-hijau
kemudian digantikan Dharma Asih dengan seragam merah-
kuning=merah
6. Porsigab (Persatuan Olah Raga Silat Gabungan) dengan
seragam biru-kuning-biru
Walaupun yang bermain barongsai atas nama ke-enam
kelompok tersebut, tetapi bukan berarti hanya oleh orang-orang
Semarang. Karena ke-enam perguruan tersebut mempunyai
anak-anak cabang yang tersebar di Pulau Jawa bahkan sampai
ke Lampung. Di kelenteng Gedong Batu, biasanya barongsai
(atau di Semarang disebut juga dengan istilah Sam Sie)
dimainkan bersama dengan Liong (naga) dan Say (kepalanya
terbentuk dari perisai bulat, dan dihias menyerupai barongsai
berikut ekornya).
Saat ini barongsai di Indonesia sudah dapat dimainkan secara
luas, bahkan telah meraih juara pada kejuaraan di dunia. Dimulai
dengan BarongsaiHimpunan Bersatu Teguh (HBT)
dari Padang yang meraih juara 5 pada kejuaraan dunia di
genting - malaysia pada tahun 2000. Hingga kini barongsai
Indonesia sudah banyak mengikuti berbagai kejuaraan-kejuaraan
dunia dan meraih banyak prestasi. Sebut saja beberapa nama
seperti Kong Ha Hong (KHH) - Jakarta, Dragon Phoenix (DP) -
Jakarta, Satya Dharma - Kudus, dan Paguyuban Sosial Marga
Tionghoa Indonesia (PSMTI) - Tarakan.
Bahkan nama terakhir, yaitu PSMTI telah meraih juara 1 pada
suatu pertandingan dunia yang diadakan di Surabaya pada tahun
2006.Perguruan barongsai lainnya adalah Tri Pusaka Solo yang
pada pertengahan Agustus 2007 lalu memperoleh Juara 1
President Cup.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kesenian atau seni
ketrampilan dalam permainan Barongsai membutuhkan keahlian
khusus dan tentunya dengan latihan yang rutin dapatg
menjadikan para pemain yang terlibat didalamnya menjadi mahir
dan terampil. Namun disini terkadang banyak orang yang masih
berpendapat bahwa bermain Barongsai bisa menjadikan sang
pemain atau para pemain menjadikan kesurupan seperti halnya
dalam permainan Kuda Lumping.
Dalam melakukan permainan Barongsai, dibutuhkan kejelian
dan ketangkasan yang tentunya di dapat dari hasil latihan yang
rutin serta tanggap dalam mengenal medan atau arena tempat
bermain, dikarenakan permainan Barongsai harus dapat
dilakukan di segala medan, ataupun arena, atau bahkan
dilapangan dan juga di tempat yang luasnya amat minimalis.


Festival Barongsai 6

Dalam perkembangan sekarang ini Barongsai sudah banyak
jenis permainnya yang dipadukan dengan kesenian atau beladiri
Wushu, dan menjadikan gerakan-gerakan yang dilakukan
menjadi indah dan serasi dengan musik terdengar dari alat
musik Barongsai. Itupun sebenarnya keserasian permainan juga
didapat dari hasil latihan yang serius dan disiplin yang tinggi
serta penngenalan tentang budaya Tionghoa pada umumnya.







Festival Barongsai 7

TUJUAN KEGIATAN


Mempromosikan Sumatera Selatan khusunya Kota
Palembang sebagai Kota Budaya Multi Etnik yang tetap
menjaga kerukunan dan keharmonisan.
Mensosialisasikan bahwa dari sisi budaya, sebenarnya
Palembang atau Sumsel yang paling lengkap dan kental
dengan pengaruh budaya Cina,
Meninkatkan citra kepariwisataan dan menjadikan
Sumatera Selatan sebagai tujuan wisata melalui
kegiatan budaya ke manca negara.
Menjadikan acara ini program tahunan yang dilengkapi
dengan Festival Lampion, Parade Barongsai dan
Festival Barongsai di Pulau Kemaro
Memberikan kontribusi bagi Indonesia untuk mempererat
hubungan luar negeri melalui budaya.
Meningkatkan kreatifitas insan seni budaya dan
menciptakan komunikasi dan hubungan baik antar
pelaku seni multi eknik di Suamtera Selatan










Festival Barongsai 8

RINCIAN KEGIATAN

1. Festival Barongsai, Sebagai pencitraan penyambutan
perayaan Cap Go Meh yang rutin sebagai tradisi
perayaan tahunan etnis China, arak-arakan peserta
Barongsai keliling kota, dari Benteng Kuto Besak hingga
Pulau Kemaro

2. Festival Kuliner dan Pesta Lampion, Mengggelar
aneka kuliner China yang merupakan perwujudan
kedalaman budaya multi etnis dengan menyemarakkan
Festival Lampion sebagai tanda suka cita.

















Festival Barongsai 9

TEKNIS KEGIATAN


I. PESERTA
Tim Kesenian Barongsai dari 13 Kabupaten / Kota di
Sumatera Selatan, kecuali Kabupaten OKU Timur dan
OKU Selatan, di tambah Peserta Tamu dari Provinsi
Bangka Belitung, Provinsi Lampung dan Provinsi Jambi.
Setiap Kabupaten / Kota mengirimkan 1 (satu) team
kesenian Barongsai dengan anggota team maksimal 10
Orang.

II. AKOMODASI
Akomodasi dan konsumsi peserta di Asrama Haji, Jalan
Kolonel H. Berlian KM.10 Palembang, check in tanggal
26 April 2013 Pukul 15.00 Wib sampai dengan check
out 29 April Pukul 11.00 Wib

III. TIM JURI
Tim Juri sebanyak 7 Orang yang berasal dari
Perkumpulan Seni Olahraga Budaya Barongsai.

IV. KATEGORI PENILAIAN
1. Tipe Lombah adalah Barongsai Lantai.
2. Kostum masing-masing tim barongsai
3. Gerak dan lagu yang sesuai dengan musik
4. Sinopsi cerita dari setiap tim

V. PENGHARGAAN
Penilaian Terbaik I, II dan III serta Harapan I, II dan III
akan mendapatkan tropy dan uang pembinaan dari
Gubernur Sumatera Selatan.





Festival Barongsai 10

VI. TAMU UNDANGAN
Masyarakat umum di Sumatera Selatan khusunya Kota
Palembang, Pejabat Pemerintah Provinsi Sumatera
Selatan dan Kota Palembang, Seniman, Budayawan,
Paguyuban multi etknik yang ada di Sumatera Selatan.










Festival Barongsai 11

JADWAL PELAKSANAAN

09.00 11.30



1. Pawai Barongsai (diikuti seluruh peserta
Festival Barongsai)
2. Pawai Darat: Start dari Kantor Walikota
palembang, berkeliling kota
mengendarai kendaraan terbuka.
3. Pawai Sungai: Peserta manuju Pulau
pemaro dengan perahu, dari Benteng.

13.30 Selesai 1. Sambutan Gubernur Sumtera Selatan
segaligus membuka festival Barongsai
Sumatera Selatan.
2. Atraksi asosiasi barongsai.
3. Atraksi Barongsai perwakilan Provinsi
Terdekat.
4. Penampilan kesenian / budaya lokal
multi etnik.

09.00 Selesai


1. Festival Kuliner (di Pelataran Benteng
Kuto Besak)
2. Atraksi Bersama Peserta Festival
Barongsai
3. Clossing Ceremonial (di Pulo Kemaro)















Festival Barongsai 12