Anda di halaman 1dari 27

1

BENTUK MOLEKUL

Bentuk Molekul Dengan Atom Pusat Tidak Memiliki Pasangan Elektron Bebas
Langkah-Langkah dalam Meramalkan Bentuk Molekul
Pada dasarnya dalam meramalkan bentuk molekul tidak harus dimulai dengan
menggambarkan struktur Lewis dari molekul yang bersangkutan meskipun struktur Lewis
tersebut dapat membantu dalam peramalan bentuk molekul. Peramalan bentuk molekul dapat
dilakukan dengan mudah dan cepat melalui empat langkah pokok, yaitu: (a) menentukan atom
pusat; (b) menentukan bilangan koordinasi atom pusat; (c) menentukan banyaknya pasangan
elektron ikatan (PEI) dan pasangan elektron bebas (PEB) pada kulit valensi atom pusat; dan (d)
menentukan bentuk molekul beserta perkiraan besarnya sudut-sudut ikatan yang ada.
Pada cara tersebut bilangan koordinasi (BK) menunjukkan banyaknya pasangan elektron
ikatan (PEI) sigma () dan pasangan elektron bebas (PEB) pada kulit valensi atom pusat.
Pasangan elektron ikatan pi () berapapun jumlahnya tidak diikutkan dalam penentuan bilangan
koordinasi atom pusat. Harga bilangan koordinasi atom pusat tergantung kepada banyaknya
elektron pada kulit valensi atom pusat dan banyaknya elektron yang disumbangkan pada atom
pusat oleh substituen-substituen dalam membentuk ikatan kovalen serta muatan yang ada.
Ketentuan ini dapat dinyatakan dengan persamaan berikut.

BK = (elektron valensi atom pusat + banyaknya elektron yang
disumbangkan oleh substituen - muatan yang ada)

Molekul dengan Substituen Sama
Contoh 1: BeCl
2

Atom pusat: Be
Bilangan koordinasi (BK) atom Be = (2 + 2 x 1-0) = 2
Jumlah pasangan elektron ikatan (PEI) = 2
Jumlah pasangan elektron bebas (PEB) = 0
Dua PEI tersebut akan minimal tolakannya bila letaknya berlawanan. BeCl
2
berbentuk linear
dengan sudut ikatan Cl-Be-Cl sebesar 180.

Gambar 1. BeCl
2
dengan bentuk linear
Contoh 2: BF
3

Atom pusat: B
BK atom B = (3 + 3 x 1-0) = 3
Jumlah PEI = 3 ; Jumlah PEB = 0
2

Tiga PEI akan minimal tolakannya bila ketiganya mengarah pada pojok-pojok segitiga sama sisi.
BF
3
berbentuk trigonal planar dengan sudut ikatan F-B-F sebesar 120.

Gambar 2. BF
3
dengan Bentuk Trigonal Planar

Contoh 3: CCl
4

Atom pusat: C
BK atom C = (4 + 4 x 1-0) = 4
Jumlah PEI = 4 ; Jumlah PEB = 0
Empat PEI akan minimal tolakannya bila letaknya mengarah pada pojok-pojok tetrahedral. CC1
4

berbentuk tetrahedral normal dengan sudut ikatan C1-C-C1 sebesar 109 28'.

Gambar 3. CCl
4
dengan Bentuk Tetrahedral
Contoh4: PF
5

Atom pusat: P
BK atom P = (5 + 5 x 1-0) = 5
Jumlah PEI = 5 ; Jumlah PEB = 0
Lima PEI posisinya mengarah pada pojok-pojok trigonal bipiramidal. Bentuk PF
5
adalah trigonal
bipiramidal (TBP). Ikatan-ikatan P-F yang berposisi tegak disebut ikatan aksial; ikatan P-F yang
berposisi mendatar disebut ikatan ekuatorial. Sudut ikatan F(aksial)-P-F(ekuatorial) adalah 90;
sudut ikatan F(aksial)-P-F(aksial) adalah 180; sudut ikatan F(ekuatorial)-P-F(ekuatorial) adalah
120.

Gambar 4. PF
5
dengan Bentuk Trigonal Bipiramidal (TBP)
3

Bahwa tolakan yang dialami oleh pasangan elektron ikatan P-F(ekuatorial) lebih lemah
daripada tolakan yang dialami oleh pasangan elektron ikatan P-F(aksial). Dengan kata lain posisi
ekuatorial lebih longgar daripada posisi aksial. Tolakan yang dialami oleh pasangan elektron
ikatan P-F(aksial) akan berkurang apabila pasangan elektron ikatan P-F(aksial) menjadi lebih
kurus atau lebih ramping. Hal ini dapat dicapai bila ikatan P-F(aksial) lebih panjang daripada
ikatan P-F(ekuatorial). Fakta eksperimen untuk PF
5
menunjang hal tersebut. Fakta yang sama
juga terjadi pada molekul-molekul yang memiliki bentuk TBP, seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel l. Panjang Ikatan Aksial dan Ekuatorial pada Beberapa Molekul dengan Bentuk TBP


Jadi, untuk molekul dengan bentuk TBP dengan atom pusat mengikat substituen-substituen
yang sama, ikatan aksial adalah lebih panjang daripada ikatan ekuatorial. Dengan kata lain
substituen yang menempati posisi yang lebih longgar (posisi ekuatorial) ikatannya lebih pendek
daripada substituen yang menempati posisi yang kurang longgar (posisi aksial).
Contoh 5: SF
6

Atom pusat: S
;
BK atom S = (6 + 6 x 1-0) = 6
Jumlah PEI = 6 ; Jumlah PEB = 0
Enam PEI tolakannya minimal bila posisinya mengarah pada pojok-pojok oktahedral normal
dengan sudut ikatan cis-F-S-F sebesar 90 dan sudut ikatan trans-F-S-F sebesar 180.

Gambar 5. SF
6
dengan Bentuk Oktahedral
Contoh 6: IF
7

Atom pusat : I
BK atom I = (7 + 7xl-0) = 7
Jumlah PEI = 7 ; Jumlah PEB = 0
Tujuh PEI posisinya mengarah pada pojok-pojok dari pentagonal bipiramidal (PBP). Ikatan-
ikatan I-F yang berposisi tegak disebut ikatan aksial, sedangkan yang berposisi mendatar disebut
4

ikatan ekuatorial. Sudut ikatan F(aksial)-I-F(aksial) adalah 180; sudut ikatan F(aksial)-I-
F(ekuatorial) adalah 90; sudut ikatan F(ekuatorial)-I-F(ekuatorial) adalah 72. Dengan
demikian, posisi aksial dapat dianggap lebih longgar daripada posisi ekuatorial sehingga ikatan I-
F(aksial) lebih pendek daripada ikatan I-F (ekuatorial).


Gambar 6. IF
7
dengan Bentuk Pentagonal Bipiramidal (PBP)
Contoh 7: NH
4
+

Atom pusat : N
BK atom N = [5 + 4x1-(+1)]=4
Jumlah PEI = 4; jumlah PEB = 0
Empat PEI tersebut akan minimal tolakannya bila posisinya mengarah pada pojok-pojok
tetrahedral. NH
4
+
berbentuk tetrahedral dengan sudut ikatan H-N-H sebesar 109 28'.


Gambar 7. NH
4
+
dengan Bentuk Tetrahedral

Contoh 8 : BF
4
-

Atom pusat: B
BK atom B = [3 + 4x1- (-1)] = 4
Jumlah PEI = 4 ; jumlah PEB = 0
Empat PEI tersebut akan minimal tolakannya bila posisinya mengarah pada pojok-pojok
tetrahedral. BF
4
-
berbentuk tetrahedral dengan sudut ikatan F-B-F sebesar 10928.

5

Gambar 8. BF
4
-
dengan Bentuk Tetrahedral
Molekul dengan Substituen Berbeda
Dalam suatu molekul substituen-substituen yang terikat pada atom pusat dapat berbeda,
contohnya pada CH
2
C1
2
, PC1
3
F
2
dan PC1
3
(CH
3
)
2
. Ada dua faktor penting yang berkaitan dengan
substituen-substituen yang berbeda, yaitu keelektronegatifan dan ukurannya. Persoalannya
adalah faktor mana yang lebih dominan. Substitusi dua atom hidrogen pada metana dengan dua
atom fluor menghasilkan difluorometana dengan sudut ikatan sebagai berikut.

Apabila faktor ukuran substituen merupakan faktor yang dominan, maka sudut ikatan F-C-F
seharusnya lebih besar dibandingkan sudut ikatan H-C-H karena jari-jari atom F (71 pm) lebih
besar dari jari-jari atom H (37 pm). Diperolehnya fakta yang sebaliknya merupakan indikasi
bahwa keelektronegatifan substituen mungkin menjadi faktor yang lebih dominan. Mengingat
keelektronegatifan atom F lebih besar daripada keelektronegatifan atom H, maka timbul dugaan
bahwa pasangan elektron ikatan dengan atom yang lebih elektronegatif tolakannya lebih lemah
daripada pasangan elektron ikatan dengan substituen yang kurang elektronegatif. Apabila hal itu
benar, maka hal yang sama harus berlaku juga pada molekul-molekul yang lain. Untuk molekul-
molekul COX
2
(X = F, Cl), POX
3
(X = F, Cl), PSX
3
(X = F, Cl), dan SO
2
X
2
(X = F, Cl)
diperoleh data panjang dan sudut ikatan seperti diberikan pada Gambar 9.
Pada contoh-contoh tersebut tampak bahwa sudut ikatan F-E-F (E = C, P, S) lebih kecil
daripada sudut ikatan C1-E-C1. Fakta-fakta tersebut memperkuat dugaan bahwa tolakan
pasangan-pasangan elektron ikatan dengan atom yang lebih elektronegatif lebih lemah daripada
tolakan pasangan-pasangan elektron ikatan dengan atom yang kurang elektronegatif. Terjadinya
hal tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan molekul CH
2
F
2
sebagai model.
Keelektronegatifan atom fluor lebih besar daripada keelektronegatifan atom hidrogen. Hal
ini menyebabkan kekuatan atom F dalam menarik rapatan elektron ikatan C-F lebih besar
daripada kekuatan atom H dalam menarik rapatan elektron ikatan C-H sehingga rapatan elektron
ikatan C-F dapat dianggap "lebih kurus atau lebih ramping" daripada rapatan elektron ikatan C-
H. Akibatnya, tolakan yang ditimbulkan oleh pasangan-pasangan elektron ikatan C-F lebih
lemah daripada tolakan yang ditimbulkan oleh pasangan-pasangan elektron ikatan C-H dan sudut
ikatan F-C-F menjadi lebih kecil daripada sudut ikatan H-C-H.
6



Gambar 9. COX
2
, POX
3
, PSF
3
,dan S0
2
X
2
(X = F, C1)

Apabila faktor perbedaan keelektronegatifan dari substituen-substituen yang diikat oleh
atom pusat bukan merupakan faktor yang dominan dalam menentukan besarnya sudut-sudut
ikatan di sekitar atom pusat, maka perbedaan ukuran dari substituen dapat memengaruhi sudut-
sudur ikatan yang ada. Substituen yang ukurannya lebih besar (ruah atau bulky) cenderung
menempati ruangan yang lebih besar pula atau tolakan yang ditimbulkan oleh substituen tersebut
cenderung lebih kuat daripada tolakan yang ditimbulkan oleh substituen yang ukurannya lebih
kecil. Hal ini diimbangi dengan membesarnya sudut ikatan yang ada di sekitar atom pusat seperti
yang teramati pada contoh-contoh berikut.

7

Gambar 10. Perbedaan Sudut Ikatan pada NH
3
, N(CH
3
)
3
dan NPh
3
Ukuran Ph (C
6
H
5
) > CH
3
> H. Volume ruangan di sekitar atom pusat yang ditempati oleh
substituen Ph > CH
3
> H atau tolakan yang ditimbulkan oleh substituen Ph > CH
3
> H.
Akibatnya sudut ikatan (Ph)-N-(Ph) > (Me)-N-C(Me) > H-N-H. Ph adalah gugus fenil.

AturanBent
Pada molekul PF
5
untuk pembentukan ikatan-ikatan P-F atom P menggunakan lima orbital
hibrida sp
3
d. Lima orbital hibrida sp
3
d tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok orbital
hibrida, yaitu tiga buah orbital hibrida sp
2
dan dua buah orbital hibrida pd, seperti ditunjukkan
pada Gambar 11.

Gambar 11. Dua Orbital Hibrida pd pada Posisi Aksial dan Tiga Orbital
Hibrida sp
2
pada Posisi Ekuatorial

Dua orbital hibrida pd berada pada posisi aksial dengan kedudukan berlawanan; tiga orbital
hibrida sp
2
kedudukannya mengarah pada pojok-pojok segitiga sama sisi. Dua orbital hibrida pd
digunakan untuk membentuk ikatan-ikatan aksial, sedangkan tiga orbital hibrida sp
2
digunakan
untuk membentuk ikatan-ikatan ekuatorial. Untuk orbital hibrida berlaku ketentuan bahwa
naiknya karakter s akan meningkatkan keelektronegatifannya. Orbital hibrida sp
2
dengan
karakter s sebesar 33,33% adalah lebih elektronegatif daripada orbital hibrida pd yang tidak
memiliki karakter s.
Substitusi atom fluor dengan atom klorin pada PF
5
akan menghasilkan PC1
4
F, PC1
3
F
2
,
PCl
2
F
3
, dan PClF
4
. Mengingat posisi aksial dan ekuatorial pada trigonal bipiramidal adalah tidak
seharga, maka timbul masalah berkaitan dengan penempatan atom-atom tersebut pada dua posisi
berbeda yang ada.
Pada PCl
4
F misalnya, ada dua kemungkinan bentuk yang dapat diperoleh seperti
ditunjukkan pada Gambar 12.

Gambar 12. Kemungkinan Dua Bentuk dari PC1
4
F
8

Mengingat rapatan elektron ikatan P-F lebih kurus atau lebih ramping daripada rapatan
elektron ikatan P-Cl, maka tolakan antara pasangan-pasangan elektron ikatan pada struktur I
cenderung lebih lemah daripada struktur II. Dengan kata lain struktur I lebih stabil daripada
struktur II.
Ditinjau dari interaksi antara atom pusat dengan substituen-substituen, maka interaksi akan
lebih menguntungkan apabila substituen yang lebih elektronegatif mengikat atom pusat pada
posisi yang kurang elektronegatif dan sebaliknya. Oleh karena itu, interaksi yang lebih
menguntungkan pada PCl
4
F terjadi apabila atom fluor mengikat atom fosfor pada posisi aksial
karena keelektronegatif an orbital hibrida pd lebih kecil daripada keelektronegatifan orbital
hibrida sp
2
. Jadi struktur I lebih stabil daripada struktur II. Bent mengemukakan aturan
substitusi pada trigonal bipiramidal, yaitu pada trigonal bipiramidal substituen yang lebih
elektronegatif lebih suka orbital hibrida yang memiliki karakter s lebih kecil, sedangkan
substituen yang lebih elektropositif lebih suka orbital hibrida yang memiliki karakter s
lebih besar. Jadi, atom yang lebih elektronegatif (F) menempati ruangan yang lebih sempit
(posisi aksial), sedangkan atom yang lebih elektropositif (CI) menempati ruangan yang lebih
longgar (posisi ekuatorial). Untuk PCl
2
F
3
, dan PClF
4
bentuknya diberikan pada Gambar 13.

Gambar 13. PCl
3
F
2
, PCl
2
F
3
dan PC1F
4
dengan Bentuk TBP
Substituen yang termasuk gugus pendorong elektron seperti gugus metil akan menempati
posisi ekuatorial apabila substituen-substituen yang lain memiliki keelektronegatifan yang lebih
tinggi. Gugus metil memiliki keelektronegatifan lebih kecil daripada atom fluor sehingga apabila
atom fluor pada PF
5
disubstitusi oleh gugus metil, maka diperoleh beberapa struktur seperti
ditunjukkan pada Gambar 14.

Gambar 14. PF
4
(CH
3
) dan PF
3
(CH
3
)
2
dengan Bentuk TBP Terdistorsi

9

Pasangan elektron ikatan P-CH
3
adalah lebih gemuk dibandingkan pasangan elektron ikatan
P-F sehingga sudut-sudut ikatan F-P-F menjadi lebih kecil daripada sudut-sudut ikatan
normalnya.
Molekul dengan Atom Pusat Memiliki Pasangan Elektron Bebas
Pasangan-pasangan elektron yang terdapat pada kulit valensi atom pusat dapat merupakan
pasangan elektron ikatan (PEI) atau pasangan elektron bebas (PEB). Pasangan elektron ikatan
terkonsentrasi pada dua atom, sedangkan pasangan elektron bebas terkonsentrasi pada satu atom.
Oleh karena itu, pasangan elektron bebas memerlukan ruangan pada permukaan atom pusat yang
lebih luas daripada pasangan elektron ikatan. Sebagai konsekuensinya tolakan yang ditimbulkan
oleh pasangan elektron bebas lebih kuat daripada tolakan yang ditimbulkan oleh pasangan
elektron ikatan. Akibatnya, adanya pasangan elektron bebas dapat memperkecil sudut-sudut
ikatan yang ada di sekitar atom pusat.
Jumlah pasangan elektron bebas yang terdapat pada kulit valensi atom pusat bisa satu atau
lebih. Dalam hal ini semakin banyak jumlah pasangan elektron bebas yang terdapat pada
kulit valensi atom pusat, sudut-sudut ikatan yang terdapat di sekitar atom pusat akan
semakin kecil. Sebagai contoh adalah sudut ikatan pada NH
3
dan H
2
O. Dua molekul ini
memiliki BK yang sama yaitu 4. Empat buah pasangan elektron yang ada posisinya mengarah
pada pojok-pojok tetrahedral. Pada NH
3
terdapat satu pasangan elektron bebas pada kulit valensi
atom N, sedangkan pada H
2
O terdapat dua pasangan elektron bebas pada kulit valensi atom O
sehingga sudut ikatan H-N-H (107,3) lebih besar daripada sudut ikatan H-O-H (104,5). Adanya
pasangan elektron bebas tersebut menyebabkan sudut ikatan yang ada lebih kecil daripada sudut
tetrahedral normal (10928' atau 109,47). Apabila atom-atom digambarkan dengan bola,
sedangkan pasangan elektron bebas digambarkan dengan cuping (lobe) berwarna hitam, maka
untuk molekul NH
3
, H
2
O, SeF
4
, dan ClF
5
diperoleh gambar-gambar sebagai berikut.
Untuk atom pusat dengan bilangan koordinasi yang sama, adanya pasangan elektron bebas
pada kulit valensi atom pusat akan memperkecil sudut-sudut ikatan yang ada di sekitar atom
tersebut. Dalam hal ini sudut ikatan akan semakin kecil dengan semakin bertambahnya pasangan
elektron bebas pada kulit valensi atom pusat. Sudut ikatan H-O-H pada H
2
O adalah lebih kecil
dibandingkan sudut ikatan H-N-H pada NH
3
karena pada kulit valensi atom O terdapat 2
pasangan elektron bebas sedangkan pada kulit valensi atom N hanya terdapat satu pasangan
elektron bebas.

Gambar 15. Molekul NH
3
dan H
2
O dengan Sudut-sudut Ikatan Lebih Kecil dari Sudut
Tetrahedral Normal; Molekul SeF
4
dengan Sudut-sudut Ikatan Lebih Kecil dari Sudut TBP
Normal; Molekul C1F
5
dengan Sudut-sudut Ikatan Lebih Kecil dari Sudut Oktahedral Normal
10

Untuk molekul dan ion yang atom pusatnya memiliki pasangan electron bebas,
permasalahan yang timbul adalah di mana pasangan elektron bebas tersebut harus diletakkan.
Untuk molekul dengan bilangan koordinasi 3, 4, dan 6 bila pada kulit valensi atom pusatnya
terdapat sebuah pasangan electron bebas, penempatannya boleh di mana pun karena semua posisi
yang ada seharga sehingga diperoleh bentuk-bentuk seperti diberikan pada Gambar 16.
Penempatan PEB di sebelah atas pada NF
3
, dan di sebelah bawah pada BrF
5
adalah lebih
memudahkan dalam meramalkan pengaruh PEB terhadap pengecilan sudut-sudut ikatan di
sekitar atom pusat dibandingkan penempatan PEB pada posisi-posisi yang lain.
Pada BrF
5
atom F yang letaknya berlawanan dengan PEB disebut atom F puncak, sedangkan
empat atom F yang lain disebut atom F basal. Adanya PEB menyebabkan atom Br terletak di
bawah bujur sangkar yang terbuat dari empat atom F basal. Sudut ikatan F-Br-F besarnya adalah
< 90, sedangkan sudut ikatan trans-F-Br-F besarnya <180.

Gambar 16. Molekul dengan 1 PEB. a) BK 3 bentuk huruf V (SnCl
2
), b) BK 4 bentuk trigonal
pyramidal (NF
3
), dan BK 6 bentuk piramida alas bujur sangkar terdistorsi (BrF
5
)
Untuk bilangan koordinasi lima penempatan sebuah pasangan elektron bebas ada dua
kemungkinan, yaitu pada posisi ekuatorial dan posisi aksial.
Bila pasangan elektron bebas terdapat pada posisi ekuatorial maka terdapat dua buah tolakan
antara pasangan elektron bebas dengan pasangan-pasangan elektron ikatan yang lain dengan
sudut 90.

Gambar 17. Dua Kemungkinan Posisi PEB pada Molekul dengan BK 5

Sebaliknya, bila pasangan elektron bebas terdapat pada posisi aksial akan terdapat tiga buah
tolakan antara pasangan elektron bebas dengan pasangan-pasangan elektron ikatan yang lain
dengan sudut 90. Tolakan yang dialami oleh pasangan elektron bebas bila menempati posisi
ekuatorial lebih lemah daripada tolakan yang dialaminya apabila menempati posisi aksial.
Dengan kata lain posisi ekuatorial lebih longgar daripada posisi aksial. Oleh karena itu bila
pasangan elektron bebas terdapat pada posisi ekuatorial, maka akan diperoleh struktur yang lebih
stabil. Fakta ini teramati untuk SF
4
yang ditunjukkan pada Gambar 25.
11

Untuk bilangan koordinasi 4 bila pada kulit valensi atom pusatnya terdapat dua pasangan
elektron bebas, maka pasangan-pasangan elektron bebas tersebut dapat diletakkan di mana pun
sehingga diperoleh bentuk sebagai berikut.

Gambar 18. Dua PEB pada Molekul dengan BK 4
Bentuk: Huruf V; Contoh: OCl
2
Untuk bilangan koordinasi 5, dua pasangan elektron bebas diletakkan pada posisi ekuatorial
sehingga diperoleh bentuk huruf T bengkok seperti yang teramati pada BrF
3
.

Gambar 19. Dua PEB pada Posisi Ekuatorial dalam Molekul dengan BK 5
Bentuk: huruf T bengkok; Contoh: BrF
3

Untuk bilangan koordinasi 6, ada dua kemungkinan penempatan dua pasangan elektron
bebas, yaitu pada posisi cis dan posisi trans.


Gambar 20. Dua kemungkinan posisi dua PEB pada molekul dengan BK 6
(gambar a. posisi cis dan gambar b. posisi trans)
Struktur dengan dua PEB pada posisi trans lebih stabil daripada struktur dengan dua PEB
pada posisi cis karena tolakan antara dua buah pasangan elektron bebas yang ada lebih kecil
sehingga bentuk molekul yang diperoleh adalah bujursangkar seperti yang teramati pada XeF
4

yang diberikan pada Gambar 29.
Untuk bilangan koordinasi 4 bila pada kulit valensi atom pusatnya terdapat 3 buah pasangan
elektron bebas, maka ketiganya dapat ditempatkan di mana pun sehingga diperoleh bentuk linear
seperti yang teramati pada molekul HF
12


Gambar 21. Tiga PEB pada Molekul dengan BK 4
Bentuk: Linear; Contoh: HF
Untuk bilangan koordinasi 5, tiga pasangan elektron bebas yang ada ditempatkan pada posisi
ekuatorial sehingga diperoleh bentuk linear seperti yang teramati pada molekul XeF
2
.

Gambar 22. Tiga PEB pada Posisi Ekuatorial dalam Molekul dengan BK 5
Bentuk: linear; Contoh: XeF
2
Untuk bilangan koordinasi 6, bila terdapat 3 pasangan elektron bebas maka 2 buah
diletakkan pada posisi trans dan yang ketiga pada posisi cis terhadap 2 pasangan elektron bebas
yang berposisi trans sehingga diperoleh bentuk huruf T terdistorsi. Sampai saat ini dianggap
belum ada contoh molekul yang termasuk dalam kategori tersebut. Beberapa ion yang
kemungkinan dalam kategori tersebut adalah XeF
3
-
dan IF
3
2-
.


Gambar 23. Tiga PEB pada Molekul dengan BK 6
Bentuk: huruf T terdistorsi
Molekul yang pada kulit valensi atom pusatnya terdapat empat atau lima pasangan elektron
bebas dapat dianggap belum pernah dijumpai. Berikut diberikan beberapa contoh peramalan
bentuk molekul yang pada kulit valensi atom pusatnya terdapat pasangan elektron bebas beserta
perkiraan besarnya sudut ikatan yang ada.
Contoh 9: NH
2
-

Atom pusat: N
BK atom N = [5 + 2 x 1 - (-1)] = 4
Jumlah PEI = 2, jumlah PEB = 2
13

Empat pasangan elektron yang ada posisinya mengarah pada pojok-pojok tetrahedral. NH
2
-

berbentuk huruf V dengan sudut ikatan H-N-H sebesar 103,8 lebih kecil dari sudut tetrahedral
normal (109,47), karena dua PEB yang terdapat pada atom N memerlukan ruangan yang lebih
besar, atau karena kekuatan tolakan PEB-PEB > PEB-PEI > PEI-PEI.

Gambar 24. NH
2
-
, BK 4 dengan 2 PEB; Bentuk: Huruf V

Contoh 9: SF
4

Atom pusat: S
BK atom S = (6 + 4 x 1) = 5
Jumlah PEI = 4, jumlah PEB = 1
Lima pasangan elektron yang ada posisinya mengarah pada pojok-pojok trigonal bipiramidal.
SF
4
berbentuk seesaw atau disfenoidal seperti ditunjukkan pada Gambar 25. Adanya PEB
menyebabkan sudut ikatan F(aksial)-S-F(aksial) lebih kecil dari 180 dan sudut ikatan
F(ekuatorial)-S-F(ekuatorial) lebih kecil dari 120 seperti ditunjukkan pada gambar di bawah.
Panjang ikatan S-F(aksial) adalah 164,6(3) pm dan ikatan S-F(ekuatorial) adalah 154,5(3) pm.

Gambar 25. SF
4
, BK 5 dengan l PEB, Bentuk: Seesaw atau Disfenoidal

Pada molekul SF
4
sudut ikatan F(ekuatorial)-S-F(ekuatorial) adalah 19,5 lebih kecil
dibandingkan sudut ikatan pada TBP normal (120); sudut ikatan F(aksial)-S-F(aksial) adalah
6,5 lebih kecil dibandingkan sudut ikatan pada TBP normal (180). Hal ini menunjukkan bahwa
pengaruh tolakan PEB terhadap ikatan ekuatorial cenderung lebih kuat dibandingkan pengaruh
PEB pada ikatan aksial. Kecenderungan ini juga terjadi pada molekul SeF
4
yang diberikan pada
Gambar 15.

14

Contoh 10: ClF
3

Atom pusat: Cl
BK atom Cl = (7 + 3 x 1-0) = 5
Jumlah PEI = 3, jumlah PEB = 2
Dua PEB menempati posisi ekuatorial dan diperoleh bentuk T bengkok dengan sudut ikatan
F(aksial)-Cl-F(ekuatorial) sebesar 87,5 dan sudut ikatan F(aksial)-Cl-F(aksial) sebesar 172.
Panjang ikatan Cl-F(aksial) adalah 170(1) pm dan ikatan Cl-F(ekuatorial) adalah 158(1) pm.




Gambar 26. ClF
3
, BK 5 dengan 2 PEB;
Bentuk: Huruf T Bengkok
Contoh 11: ICl
2
-

Atom pusat: I
BK atom I = [7 + 2x1 -(-1)] = 5
Jumlah PEI = 2, jumlah PEB = 3
Tiga PEB menempati posisi ekuatorial dalam kedudukan simetris sehingga diperoleh bentuk
linear seperti ditunjukkan pada Gambar 27.

Gambar 27. IC1
2
-
BK 5 dengan 3 PEB; Bentuk: Linear

Contoh 12: TeF
5
-

Atom pusat: Te
BK atom Te = [6+ 5 x 1-(-1)] = 6
Jumlah PEI = 5, jumlah PEB = 1
Sebuah PEB dapat ditempatkan pada sembarang posisi dan diperoleh bentuk piramida alas
bujursangkar terdistorsi seperti ditunjukkan pada Gambar 28.

15


Gambar 28. TeF
5
-
BK 6 dengan l PEB;
Bentuk: Piramida alas Bujursangkar Terdistorsi

Pada TeF
5
-
terdapat dua macam atom F, yaitu atom F(puncak) dan atom F(basal). Empat
buah atom F (basal) membentuk bujursangkar dengan atom Te terletak 4 pm di bawah pusat
bujursangkar tersebut, karena tolakan yang ditimbulkan oleh pasangan elektron bebas lebih kuat
dibandingkan tolakan yang ditimbulkan oleh pasangan elektron ikatan yang berada pada posisi
yang berlawanan. Sudut ikatan F(puncak)-Te-F(basal) adalah 79. Panjang ikatan Te-F(puncak)
adalah 185 pm sedangkan panjang ikatan Te-F(basal) adalah 196 pm. Untuk bentuk piramida
alas bujursangkar terdistorsi pada umumnya ikatan antara atom pusat dengan atom pada puncak
lebih pendek daripada ikatan antara atom pusat dengan atom-atom pada basal seperti yang
teramati pada XeF
5
+
, SbF
5
2-
, dan BrF
5
.
Contoh 13: XeF
4

Atom pusat: Xe
BK atom Xe = (8+4x1) = 6
Jumlah PEI = 4, jumlah PEB = 2
Dua PEB berada pada kedudukan trans dan tolakannya dengan pasangan-pasangan elektron
ikatan saling meniadakan sehingga diperoleh bentuk bujursangkar seperti ditunjukkan pada
Gambar 29.


Gambar 29. XeF
4
, BK 6 dengan 2 PEB
Bentuk: Bujursangkar
Molekul dengan Atom Pusat Memiliki Elektron Tidak Berpasangan (ETB)
Pada beberapa molekul atom pusat yang ada dapat memiliki elektron yang tidak
berpasangan. Oleh karena elektron ini memerlukan ruangan yang lebih kecil daripada pasangan
elektron ikatan atau pasangan elektron bebas, sebagai konsekuensinya tolakan yang ditimbulkan
oleh elektron tidak berpasangan (ETB) lebih lemah daripada tolakan yang ditimbulkan oleh
16

pasangan elektron ikatan atau pasangan elektron bebas. Akibatnya adanya elektron yang tidak
berpasangan akan memperbesar sudut ikatan yang ada di sekitar atom pusat seperti yang teramati
pada contoh berikut.
Contoh 14: NO
2

Atom pusat: N
BK atom N = (5 + 2x0) = 2
Jumlah PEI = 2, jumlah PEB = 0, jumlah ETB = 1
BK 2 berada di antara BK 2 dan 3 sehingga sudut ikatan yang ada harus lebih kecil dari 180
(sudut normal untuk BK 2), tetapi lebih besar dari 120 (sudut normal untuk BK 3). NO
2
-

berbentuk huruf V dengan sudut ikatan O-N-O sebesar 134.3 karena tolakan antara PEI-PEI
lebih kuat daripada tolakan antara PEI-ETB.


Gambar 30. NO
2
, BK 2 dengan 1 ETB, bentuk huruf V
Dua Ikatan N-O pada NO
2
sama panjang akibat adanya resonansi. Orde ikatan N-O sebesar 1,5.
Bentuk Molekul Dengan Atom Pusat Mengikat atom Oksigen
Suatu molekul atau ion poliatomik dapat mengikat atom oksigen. Atom oksigen yang terikat
pada atom pusat ada dua jenis yaitu atom oksigen terminal dan atom oksigen jembatan. Atom
oksigen terminal hanya terikat pada atom pusat seperti pada OSF
4
, COC1
2
, SO
4
2-
, NO
3
-
, dan
ClO
4
-
. Atom oksigen jembatan terikat pada dua atom seperti pada NH
2
OH, CH
3
OH, H
2
O
2/
dan
CH
3
OCH
3
. Dalam satu molekul atau ion poliatomik dimungkinkan terdapat atom oksigen
terminal dan atom oksigen jembatan seperti ditunjukkan pada Gambar 31.

Gambar 3l Asam Asetat dan Dinitrogen Pentaoksida dengan
Atom Oksigen Terminal dan Atom Oksigen Jembatan
Atom oksigen jembatan dapat juga terikat pada 3 buah atom lain seperti yang terdapat pada
alkohol terprotonasi, salah satu contohnya ditunjukkan pada Gambar 32.
17


Gambar 32 Etanol Terprotonasi
Spesies semacam ini biasanya merupakan hasil antara (intermediate} dalam suatu reaksi.
Berdasarkan data dari beberapa buku bahwa: "Dalam penghitungan bilangan koordinasi
atom pusat, atom oksigen terminal, O(t), dapat dianggap tidak menyumbang elektron".
Berlakunya aturan tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa contoh berikut.

Contoh 15: NO
2
+

Atom pusat: N
BK atom N= [5 + 2x0- (+1)] = 2
Jumlah PEI = 2; jumlah PEB = 0
NO
2
+
berbentuk linear dengan sudut ikatan O-N-O sebesar 180. Adanya dua ikatan
antara atom nitrogen dan oksigen adalah agar atom-atom yang ada memenuhi aturan oktet.

Gambar 33 Ion NO
2
+
dengan Bentuk Linear
Dua ikatan tersebut tidak mempengaruhi bentuk ion NO
2
+
.
Contoh 16: CO
2

Atom pusat: C
BK atom C = (4 + 2 x O) = 2
Jumlah PEI = 2; jumlah PEB = 0
CO
2
berbentuk linear dengan sudut ikatan O-C-O sebesar 180 dan panjang ikatan
116,42(3)pm. Seperti halnya pada ion NO
2
+
, agar aturan oktet terpenuhi maka terdapat
dua ikatan antara atom karbon dan atom-atom oksigen.

Gambar 34. Molekul CO
2
dengan Bentuk Linear
Contoh 17: XeO
4

Atom pusat: Xe
;

BK atom Xe = (8 + 4 x 0) = 4
Jumlah PEI = 4; jumlah PEB = 0
18

XeO
4
berbentuk tetrahedral dengan sudut ikatan O-Xe-O sebesar 109 28' dan panjang
ikatan 173,6(2) pm. Pada molekul XeO
4
muatan formal atom-atom yang ada adalah
minimal bila ikatan antara atom xenon dan atom-atom oksigen merupakan ikatan
rangkap.

Gambar 35.Molekul XeO
4
dengan Bentuk Tetrahedral
Contoh 18: NO
3
-

Atom pusat: N
BK atom N = [5 + 3 x 0 (-1)] = 3
Jumlah PEI = 3; jumlah PEB = 0
Agar aturan oktet terpenuhi, maka ikatan antara atom nitrogen dengan dua atom oksigen adalah
ikatan tunggal, sedangkan satu ikatan yang lain merupakan ikatan rangkap dua. NO
3
-
berbentuk
trigonal planar dengan sudut ikatan O-N-O sebesar 120 dan panjang tiga ikatan N-O sama yaitu
125 pm, karena adanya resonansi dari ikatan rangkap. Tiga ikatan N-O yang ada berorde 4/3.

Gambar 36. Ion NO
3
dengan Bentuk Trigonal Planar
Contoh 19: ClO
3
-

Atom pusat: Cl
BK atom Cl= [7 + 3 x 0 - (-1)] = 4
Jumlah PEI = 3; jumlah PEB = 1
C1O
3
-
berbentuk trigonal piramidal dengan sudut O-C1-O sebesar 106. Adanya 1 PEB
pada atom Cl menyebabkan sudut ikatan O-C1-O mengecil sehingga lebih kecil dari
sudut tetrahedral normal.

Gambar 37. Ion C1O
3
-
dengan Bentuk Trigonal Piramidal
19

Tiga ikatan Cl-O yang ada sama panjang, karena adanya resonansi dari ikatan-ikatan rangkap.
Adanya dua ikatan rangkap adalah untuk dicapainya muatan formal yang minimal oleh atom-
atom yang ada. Orde ikatan Cl-O adalah 5/3.
Contoh 20: ClO
4
-

Atom pusat: Cl
BK atom CL = 1/2 [7 + 4 x 0 - (-1)] =4
Jumlah PEI = 4; jumlah PEB = 0
Bentuk dari C1O
4
-
adalah tetrahedral normal.


Gambar 38. Ion C1O
4
-
dengan Bentuk Tetrahedral
Empat ikatan Cl-O yang ada adalah sama panjang karena adanya resonansi dari ikatan-ikatan
rangkap. Orde ikatan Cl-O adalah 7/4.
Dalam suatu molekul, atom pusat yang ada dapat mengikat atom oksigen terminal dan atom-
atom yang lain seperti diberikan beberapa contohnya pada Tabel 1. Seperti pada contoh-contoh
sebelumnya, atom oksigen terminal dianggap tidak menyumbangkan elektron pada penentuan
bilangan koordinasi atom pusat seperti ditunjukkan pada contoh-contoh berikut.

Tabel 1
Bentuk Molekul dan Ion dengan Atom Pusat Mengikat Atom Oksigen Terminal
dan Atom-atom Selain Oksigen ,
Molekul Bentuk BK
COF
2
trigonal planar terdistorsi 3
COC1
2
trigonal planar terdistors 3
POF
3
tetrahedral terdistorsi 4
POC1
3
tetrahedral terdistorsi 4
SO
2
F
2
tetrahedral terdistorsi 4
SO
2
C1
2
tetrahedral terdistorsi 4
Contoh 21:COF
2

Atom pusat: C
BK atom C =
1
/
2
(4 + lxO + 2x1) = 3
Jumlah PEI = 3; jumlah PEB = 0
COF
2
berbentuk trigonal planar terdistorsi. Agar aturan oktet terpenuhi, maka ikatan antara
atom karbon dengan atom oksigen adalah ikatan rangkap dua. Sudut ikatan O-C-F adalah 126,2
20

dan sudut ikatan F-C-F adalah 107,7 karena ikatan rangkap dua memerlukan ruangan yang lebih
besar daripada ikatan tunggal, seperti ditunjukkan pada Gambar 39.

Gambar 39
COF
2
dengan Bentuk Trigonal Planar Terdistorsi
Contoh 22: POF
3

Atom pusat: P
BK atom P = (5 + 1x0 + 3x1) = 4
Jumlah PEI = 4; jumlah PEB = 0
POF
3
berbentuk tetrahedral terdistorsi. Agar muatan formal dari atom P nol, maka ikatan
antara atom fosfor dengan atom oksigen adalah ikatan rangkap dua. Sudut ikatan F-P-F sebesar
101,3(2), karena ikatan rangkap memerlukan ruangan yang lebih besar, seperti ditunjukkan pada
Gambar 40.

Gambar 40. POF
3
dengan Bentuk Tetrahedral Terdistorsi
Contoh 23: SO
2
F
2

Atom pusat: S
BK atom S = (6 + 2x0 + 2x1) = 4
Jumlah PEI = 4; jumlah PEB = 0
SO
2
F
2
berbentuk tetrahedral terdistorsi. Agar muatan formal dari atom S nol, maka ikatan
antara atom belerang dengan dua atom oksigen adalah ikatan rangkap dua. Sudut ikatan F-S-F
adalah 96 dan sudut ikatan O-S-O adalah 124 karena ikatan rangkap memerlukan ruangan yang
lebih luas, seperti ditunjukkan pada Gambar 41.
Atom oksigen jembatan O(j) selalu menjadi bagian dari gugus tertentu seperti gugus
hidroksil, gugus alkoksi atau gugus-gugus yang lain. Dalam membentuk ikatan kovalen dengan
atom pusat, maka gugus-gugus tersebut menyumbang satu elektron seperti ditunjukkan pada
contoh-contoh berikut.

21


Gambar 41. SO
2
F
2
dengan Bentuk Tetrahedral Terdistorsi
Contoh 24: B(OH)
3

Atom pusat: B
BK atom B = (3 + 3x1) = 3
Jumlah PEI = 3; jumlah PEB = 0
Geometri B(OH)
3
adalah trigonal planar dengan sudut ikatan O-B-O sebesar 120.

Gambar 42. B(OH)
3
dengan Bentuk Trigonal Planar
Contoh 25: H-O-O-H (H
2
O
2
)
Atom pusat: O
BK atom O = (6 + 1x1 + 1x1) = 4
Jumlah PEI = 2; jumlah PEB = 2
Geometri di sekitar atom O adalah huruf V. Sudut ikatan H-O-O dan O-O-H adalah 103
karena adanya 2 PEB pada atom oksigen yang memerlukan ruangan yang lebih besar.

Gambar 43. H
2
0
2

Pada asam-asam oksi dan ion-ion asam oksi yang masih memiliki atom hidrogen, kecuali
asam fosfit (H
3
PO
3
), jumlah O(t) dan O(j) dapat diperoleh dengan merubah rumus kimia spesies
sehingga semua atom hidrogen berikatan dengan atom oksigen. Misalnya, H
2
SO
4
diubah menjadi
SO
2
(OH)
2
, yang berarti pada H
2
SO
4
terdapat 2 atom O(t) dan 2 atom O(j). HSO4
-
diubah
menjadi SO
3
(OH)
-
, yang berarti pada SO
3
(OH)
-
terdapat 3 atom O(t) dan satu atom O(j).
22

Contoh 24: HSO
4
-
atau SO
3
OH
-

Atom pusat: S
BK atom S = [6 + 3x0 + 1x1 (-1)] = 4
PEI = 4, PEB = 0
SO
3
OH- berbentuk tetrahedral terdistorsi. Ikatan-ikatan S-O(t) sama panjang karena adanya
resonansi dan berorde 5/3. Panjang ikatan S-O(j) adalah 1,56 A sedangkan panjang ikatan S-O(t)
adalah 1,47 A. Sudut ikatan O(t)-S-O(t) adalah 113 dan O(t)
:
S-O(j) adalah 106. Sudut ikatan
O(t)-S-O(t) lebih besar daripada sudut O(t)-S-O(j) karena ikatan S-O(t) berorde 5/3 sedangkan
ikatan S-O(j) berorde 1.

Gambar 44. Ion HSO
4
-

Contoh 25: H
2
SO
4
atau SO
2
(OH)
2

Atom pusat: S
BK atom S = (6 + 2x0 + 2x1)= 4
PEI = 4, PEB = 0
H
2
SO
4
berbentuk tetrahedral terdistorsi. Ikatan S-O(j) (1,54 A) lebih panjang daripada ikatan
S-O(t) (1,43 A); sudut ikatan O(t)-S-O(t) adalah 119, sedangkan sudut ikatan O(j)-S-O(j) adalah
104. Hal ini terjadi karena ikatan S-O(t) berorde 2, sedangkan ikatan S-O(j) berorde 1.

Gambar 45. H
2
S0
4

Contoh 26: HNO
3
atau NO
2
(OH)
Atom pusat: N
BK atom N = (5+ 2x0 + 1x1) = 3
Jumlah PEI = 3, PEB = 0
23

HNO
3
berbentuk segitiga planar. Ikatan N-O(j) lebih panjang daripada ikatan N-O(t); sudut
O(t)-N-O(t) adalah 130. Sudut O(t)-N-O(j) adalah 116 dan 114, lebih kecil daripada sudut
O(t)-N-O(t) karena ikatan N-O(t) berorde 1,5 sedangkan ikatan N-O berorde 1.

Gambar 46. HNO
3

Pasangan elektron ikatan rangkap memerlukan ruangan yang lebih besar daripada pasangan
elektron ikatan tunggal. Volume ruangan yang ditempati oleh pasangan elektron bebas dapat
dianggap sedikit lebih besar daripada volume ruangan yang ditempati oleh pasangan elektron
ikatan rangkap dua. Tolakan yang ditimbulkan oleh pasangan elektron bebas juga sedikit lebih
kuat daripada tolakan yang ditimbulkan oleh pasangan elektron ikatan rangkap dua. Pada bentuk
trigonal bipiramidal pasangan elektron ikatan rangkap menempati posisi ekuatorial. Adanya
pasangan elektron bebas dan pasangan elektron ikatan rangkap dapat memperkecil sudut-sudut
ikatan yang ada, seperti yang ditunjukkan oleh contoh-contoh pada Gambar 47.

Gambar 47. Molekul SF
4
dan OSF
4

Molekul dengan Substituen Atom Belerang
Dalam meramalkan bentuk molekul dan ion poliatomik yang memiliki atom belerang
terminal dan atom belerang jembatan berlaku aturan yang sama sebagaimana pada atom oksigen
terminal dan jembatan, yaitu dalam menentukan bilangan koordinasi atom pusat, atom belerang
terminal dianggap tidak menyumbang elektron, sedangkan atom belerang jembatan menyumbang
satu elektron.

Contoh 27: CS
2

Atom pusat: C
BK atom C = (4 + 2 x 0) = 2
Jumlah PEI = 2, PEB = 0
24

CS
2
berbentuk linear, analog dengan bentuk CO
2
pada Gambar 34 dengan sudut ikatan S-C-
S sebesar 180.
Molekul dengan Atom Pusat Bervariasi
Suatu molekul atau ion poliatomik dapat memiliki: (1) atom pusat yang tertentu seperti atom
oksigen pada H
2
O, atom nitrogen pada NH
3
, NO
3
-
, dan NH
4
+
, serta atom fosfor dalam PCl
3
,
PC1
5
, dan POC1
3
; atau (2) atom pusat yang bervariasi seperti pada asam asetat, etil klorida, dan
etil asetat. Pada asam asetat misalnya, atom pusatnya dapat dianggap atom karbon sebelah kanan,
atom karbon sebelah kiri, atau atom oksigen yang mengikat atom karbon dan atom hidrogen.

Gambar 48. CH
3
COOH
Dalam hal itu, bentuk molekul asam asetat tidak dapat ditentukan dengan mudah dan yang
cenderung dapat ditentukan adalah geometri di sekitar atom tertentu. Pada asam asetat geometri
di sekitar atom karbon sebelah kiri adalah tetrahedral terdistorsi, geometri di sekitar atom karbon
sebelah kanan adalah trigonal planar terdistorsi dan geometri di sekitar atom oksigen jembatan
adalah huruf V.
Untuk menentukan bilangan koordinasi atom yang dianggap sebagai atom pusat perlu
diketahui banyaknya elektron yang disumbangkan oleh setiap substituen pada atom pusat
tersebut. Pada Tabel 2 diberikan contoh beberapa substituen beserta banyaknya elektron yang
disumbangkannya pada penentuan bilangan koordinasi atom pusat.
Tabel 2
Beberapa Contoh Substituen Beserta Banyaknya Elektron yang Disumbangkan (n)
Substituen n Substituen N
R 1 CR=CR
2
terikat pada C(sp
3
) 1
R terikat pada C(sp) 0 NR
2
1
R terikat pada C(sp
2
) 1 NR
2
terikat pada C(sp) 0
R terikat pada C(sp
3
) 1 NR
2
terikat pada C(sp
2
) 1
CR
2
terikat pada C(sp
2
) 0 NR
2
terikat pada C(sp
3
) 1
CR terikat pada C(sp) 0 O(t) 0
CR terikat pada C(sp
2
) 1 O(j) 1
CR terikat pada C(sp
3
) 1 S(t) 0
OCR terikat pada C(sp) 0 S(j) 1
25

C=CR terikat pada C(sp
2
) 1 ER
3
(E = B, N,P, As, Sb) 2
C=CR terikat pada C(sp
3
) 1 CO(t) 2
CR=CR
2
terikat pada C(sp) 0 CO(j) 1
CR=CR
2
terikat pada C(sp
2
) 1 BR
3
0
Keterangan:
t = terminal; j = jembatan; R = hidrogen, halogen, alkil atau aril.
Contoh 28: H
3
NBF
3

Geometri di sekitar atom N
BK atom N = (5 + 3 x 1) = 4
Jumlah PEI = 4; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom N adalah tetrahedral terdistorsi karena ada dua macam substituen, yaitu
atom H dan BF
3
yang diikat oleh atom N.
Geometri di sekitar atom B
BK atom B = (3 + 2 + 3 x 1) = 4
Jumlah PEI = 4
Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom B adalah tetrahedral terdistorsi karena ada dua macam substituen, yaitu
NH
3
dan atom F yang diikat oleh atom B.

Gambar 49. Molekul H
3
NBF
3

Contoh 29: F
3
PBH
3
Geometri di sekitar atom P
BK atom P =

(5 + 3xl + 0) = 4
Jumlah PEI = 4; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom P adalah tetrahedral terdistorsi karena ada dua macam substituen, yaitu
atom F dan BH
3
yang diikat oleh atom P.
Geometri di Sekitar Atom B
BK atom B = (3 + 2 + 3xl) = 4
Jumlah PEI = 4; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom B adalah tetrahedral terdistorsi karena ada dua macam substituen, yaitu
PF
3
dan atom H yang diikat oleh atom B.

26


Gambar 50. Molekul F
3
PBH
3

Contoh 30: H
2
C=CHCH
3
(propilena)
Geometri di sekitar atom C (kiri)
BK atom B = (4 + 2 x l) = 3
Jumlah PEI = 3
Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (kiri) adalah segitiga planar terdistorsi. ,
Geometri di sekitar atom C (tengah)
BK atom C = (4 + 0 + l + l) = 3
Jumlah PEI = 3; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (tengah) adalah segitiga planar terdistorsi.
Geometri di sekitar atom C (kanan)
BK atom C = (4 + l+3xl) = 4
Jumlah PEI = 4
Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (kanan) adalah tetrahedral terdistorsi karena ada dua macam
substituen, yaitu H
2
C=CH dan atom H yang diikat oleh atom C (kanan).

Gambar 51. Molekul Propilena
Contoh 31: HOCCH
3
(metil asetilena)
Geometri di sekitar atom C (kiri)
BK atom C = (4 + 0 + 0) = 2
Jumlah PEI = 2; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (kiri) adalah linear.
27

Geometri di sekitar atom C (tengah)
BK atom C = (4 + 0 + 0) = 2
Jumlah PEI = 2; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (tengah) adalah linear.
Geometri di sekitar atom C (kanan)
BK atom C = (4 +1 + 3 x 1) = 4
Jumlah PEI = 4 ; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (kanan) adalah tetrahedral terdistorsi karena ada dua macam
substituen, yaitu HCC dan atom H yang diikat oleh atom C (kanan).


Gambar 52. Molekul Metil Asetilena
Contoh 32: HCCCl (kloroasetilena)
Geometri di sekitar atom C (kiri)
BK atom C = (4 + 0 + 0) = 2
JumlahPEI = 2; Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (kiri) adalah linear.
Geometri di sekitar atom C (kanan)
BK atom C = (4 + 0 + 0) = 2
Jumlah PEI = 2 Jumlah PEB = 0
Geometri di sekitar atom C (kanan) adalah linear.


Gambar 53. Molekul Kloroasetilena


Sumber: Effendy. 2010. Teori VSEPR, Kepolaran, dan Gaya Antarmolekul. Malang:
Bayumedia Publishing.