Anda di halaman 1dari 4

KASUS PKN

1. 42% Desa di Maluku Belum Teraliri Listrik



Posted: 04/12/2013 18:28

Sumber : (Liputan6.com/Rengga Satria)
Di posting : 4 Desember 2012 Pukul 18.28 WIB
Liputan6.com, Citizen6, Maluku - Meskipun sudah 68 tahun Indonesia Merdeka,
pelaksanaan pembangunan infrastruktur masih menjadi semacam impian bagi daerah-daerah
di luar Pulau Jawa, khususnya di wilayah Indonesia bagian Timur. Propinsi Maluku
misalnya, walaupun sudah ada sejak Indonesia Merdeka bersama 7 Propinsi lainnya, juga
mengalami hal serupa. Dibidang ketenagalistrikan misalnya, baru sekitar 58 % desa yang
sudah menikmati aliran listrik, sedangakan 42 % desa lainnya, terutama yang berada di
wilayah Tenggara Maluku, belum terjangkau.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku, M. Nanlohy, mengakui,
dari total 906 desa di Maluku, baru sekitar 470 desa saja yang teraliri listrik. Sementara 436
desa sisanya masih hidup dalam kegelapan. Kabupaten yang desanya yang paling banyak
belum tersentuh listrik adalah Kabupaten Kepulauan Aru, dengan total desa sebanyak 112.
Kabupaten Maluku Tengah, menurut Nanlohy, baru berhasil ditingkatkan dengan mencapai
pekerjaan sekitar 89 persen dengan Presentase 157 desa yang telah teraliri listrik. Sementara
yang belum hanya berkisar 14 desa. Sedangkan Kota Ambon yang adalah Ibukota Provinsi
Maluku, proses penyerapan bagi desa teraliri listrik tuntas dalam artian dari total 50 desa
yang ada, semua desa telah teraliri listrik atau tuntas 100 persen.
Kondisi ini mendapat perhatian dari sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan
Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ambon, melakukan aksi demonstrasi
terhadap pihak PT PLN Persero Maluku dan Maluku Utara di depan kantor PLN Wilayah
Maluku & Maluku Utara yang terletak di seputaran tugu Trikora Ambon, pada 3/12/2013.
Aksi ini meminta PT PLN Persero untuk menindak lanjuti 436 desa di Maluku yang belum
tersentuh oleh listrik agar sesegera mungkin dibangun aliran listrik di kawasan-kawasan
tersebut.
Kita semua berharap PLN lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur kelistrikan di
Maluku pada tahun mendatang. Para wakil rakyat asal Maluku terutama yang berada di
Senayan juga diharapkan memperjuangkan upaya untuk mengurangi jumlah desa di Maluku
yang belum teraliri listrik. (Yacob Rambe/kw)
Pembahasan :
Dari kasus diatas bertentangan dengan falsafah pancasila yaitu sila ke 5 keadilan sosial
bagi seluruh rakyat indonesia Maksud dari sila ini adalah setiap rahyat indonesia berhak
mendapat pelayanan dan perlakuan yang sama oleh pemerintah. Sedangkan kita lihat pada
kasus diatas dari kalimat Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku,
M. Nanlohy, mengakui, dari total 906 desa di Maluku, baru sekitar 470 desa saja yang teraliri
listrik. Sementara 436 desa sisanya masih hidup dalam kegelapan. Hal ini menunjukkan
bahwa kurangnya keadilan yang diberikan oleh pemerintah terkait masalah listrik.
.

















Tunggu SBY Melintas, Pelajar SD Kelaparan

Penulis : Kontributor Pamekasan, Taufiqurrahman
Di posting : Rabu, 4 Desember 2013 | 18:52 WIB
PAMEKASAN, KOMPAS.com - Puluhan ribu pelajar dari semua tingkatan, mulai dari
Kabupaten Bangkalan sampai Kabupaten Sumenep, menyambut kedatangan Presiden
Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, yang berkunjung ke Pulau Madura, Rabu
(4/12/2013).

Mereka berjejer rapi di pinggir jalan, dengan memegang bendera kecil untuk dilambaikan
ketika Presiden melintas. Kedatangan SBY di Kabupaten Sampang, molor satu setengah jam
dari jadwal semula. SBY tiba di Sampang sekitar pukul 13.45.

Bagi pelajar yang menyambut SBY ke barat Kabupaten Sampang tidak ada masalah
meskipun terlambat satu jam setengah. Namun bagi pelajar yang ke arah timur Kabupaten
Sampang menuju Pamekasan dan Sumenep, membuat mereka kelaparan di pinggir jalan.

Para siswa mengaku kelaparan di pinggir jalan menunggu SBY melintas. Seperti dikatakan
Muslim, siswa salah satu SD di Kecamatan Camplong, Sampang. Ia disuruh gurunya
menunggu SBY di pinggir jalan mulai jam 12.00 WIB. Ia tidak diperbolehkan pulang dari
sekolah sebelum SBY melintas di depan sekolahnya. Padahal dirinya belum makan sejak
siang hari.

"Karena tidak boleh pulang sebelum Pak SBY melintas ke Sumenep, saya dan teman-teman
banyak yang kelaparan," kata Muslim kepada Kompas.com.

Muslim juga mengaku, tidak diberi makanan oleh gurunya selama menunggu SBY melintas.
SBY meninggalkan Kabupaten Sampang sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah SBY melintas di
wilayah Kecamatan Camplong, barulah siswa pulang meninggalkan depan sekolahnya. SBY
tiba di Kabupaten Sumenep pukul 16.30 WIB.

Pembahasan :
Dari kasus diatas bertentangan dengan falsafah pancasila yaitu sila ke 2 Kemanusiaan yang
adil dan beradab maksud dari sila ini adalah
- Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa,
- Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia,
tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya
- Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

Sementara kita lihat pada kalimat kasus diatas Seperti dikatakan Muslim, siswa salah
satu SD di Kecamatan Camplong, Sampang. Ia disuruh gurunya menunggu SBY di pinggir
jalan mulai jam 12.00 WIB. Ia tidak diperbolehkan pulang dari sekolah sebelum SBY
melintas di depan sekolahnya. Padahal dirinya belum makan sejak siang hari sudah
bertentangan pada sila kedua pancasila, pemerintah tidak menghormati dan menghargai hak
siswa SD untuk memperoleh makanan, mereka diwajibkan menunggu kedatangan presiden
walaupun dalam keadaan lapar.