Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Matematika dan Sains

Vol. 10 No. 3, September 2005, hal 97-100



2,4-Dihidroksi-3,5,6-Trimetoksi Calkon suatu Senyawa Antitumor dari
Kulit Batang Tumbuhan Cryptocarya costata (Lauraceae)

Hanapi Usman
1,2)
, Euis H. Hakim
2)
, Sjamsul A. Achmad
2)
, Tjodi Harlim
1)
,
Muhammad N. Jalaluddin
1)
, Yana M. Syah
2)
, Lia D. Juliawati
2)
,
Lukman Makmur
2)
, dan Mariko Katajima
3)

1)
Departemen Kimia Universitas Hasanuddin Makassar
2)
Kelompok Penelitian Kimia Organik Bahan Alam, Departemen Kimia, FMIPA ITB
3)
Center for Medicinal Resources, Faculty of Pharmaeutical,Chiba University,
1-33Yayoi-cho,Inage-ku Chiba 263, Japan
Diterima Juni 2005, disetujui untuk dipublikasi Agustus 2005


Abstrak
Senyawa calkon yang bersifat anti tumor telah diisolasi dari kulit batang Cryptocarya costata. Senyawa
tersebut diperoleh dari fraksi kloroform yang di fraksinasi dengan teknik berbagai kromatografi dari
dilanjutkan dengan rekristalisasi dalam n-heksan dan etilasetat. Struktur senyawa tersebut adalah 2,4-
dihidroksi-3,5,6trimetoksicalkon yang ditetapkan berdasarkan data fisika dan spektroskopi. Uji
sitotoksik terhadap sel murin leukemia P-388 menunjukkan aktivitas yang positif dengan IC
50
adalah 3,65
g/mL. Kata kunci : calkon, sitotoksik, Cryptocarya costata
Abstract
An anti-tumor calcon has been isolated from Criptocarya costata stem bark. The compound was obtained
from chloroform fraction fractioned by chromatography technique and recrystalized in n-hexane and
ethyl acetate. The compound structure elucidated based on physical and spectroscopic data was 2,4-
dihydroxy-3,5,6-trimethoxy calcon. Cytotoxic assay using murine leukemia cell P388 showed positive
activity with IC
50
value of 3.65 g/mL.


Keywords : calcon, cytotoxic, Cryptocarya costata
1. Pendahuluan
Cryptocarya adalah salah satu genus dari famili
Lauraceae yang mempunyai sekitar 478
spesies
1)
. Tumbuhan ini hidupnya tersebar luas
di daerah tropika dan sub tropika dengan
topologi berupa pohon tinggi. Sejak dahulu
kelompok tumbuhan ini banyak digunakan
sebagai bahan bangunan, bahan baku pulp, dan
beberapa di antaranya kemudian digunakan
sebagai obat tradisional
2)
. Bahkan akhir-akhir ini
beberapa penelitian telah mengungkapkan
bahwa Cryptocarya mengandung banyak
senyawa kimia berguna
3,4,5)
. Beberapa metabolit
sekunder telah diisolasi dari beberapa spesies
Cryptocarya
6,7,8)
. Telah dilaporkan bahwa
sebagian besar dari spesies Cryptocarya
mengandung molekul kimia anti tumor
9,10)
.
Cryptocarya costata diidentifikasi sebagai
tumbuhan primitif dan langka, ditemukan di
kawasan hutan Sulawesi yang dikenal sebagai
kawasan Wollacea. Berdasarkan penelusuran
literatur diketahui bahwa tumbuhan ini belum
pernah ditemukan orang di kawasan lain,
berarti kandungan kimianyapun belum pernah
diselidiki. Namun demikian peta
kemotaksonomi menunjukkan bahwa famili
tumbuhan ini mengandung banyak senyawa
kimia bermanfaat
11,12)
. Di Sulawesi tumbuhan ini
97 dikenal dengan nama daerah Tarusu
(Bugis), Garate Borong (Makassar), dan Baga
Tomombu (Keli). Pada paper ini akan dilaporkan
isolasi dan penentuan struktur suatu senyawa calkon
yang beraktivitas anti tumor, elusidasi struktur
didasarkan pada data-data spektra UV, IR, MS dan
1
H-NMR,


13
C-NMR yang didukung oleh data FGHMBC dan
FGHMQC.
2. Percobaan
2.1. Umum
Penentuan titik leleh dilakukan
menggunakan micro melting point apparatus.
Spektra UV dan IR diukur menggunakan Cary Varian
100 Conc. dan Perkin Elmer Spectrum One FT-IR
spectrophotometers. Spektrum massa diukur
dengan instrumen JEOL JMS AX-500 metoda
FAB, dan
1
H
(500 MHz) dan
13
C (125 MHz)
NMR spektrofotometer JEOL, dengan
menggunakan pelarut dan pelarut
terdeterasi sebagai standar internal.
Kromatografi cair vakum menggunakan Sigel 60
GF
254
(Merck), Kromatografi kolom tekan
menggunakan Si-gel G
60
(230-400 mesh)
(Merck), kromatografi radial menggunakan Si-gel
60 PF
254
(Merck), dan analisis KLT menggunakan
plat KLT Kieslgel 60 F
254
0,25 m (Merck).



2.2. Bahan Tumbuhan
Bagian tumbuhan yang digunakan
adalah kulit batang C. costata, yang didapatkan
dari hutan taman nasional Lore Lindu, Desa
Tomodo, Kec. Kulawi Sulawesi Tengah.
Identifikasi dilakukan di Herbarium Bogoriense,
Bogor dan Lab. Herbarium Biologi Universitas
Tadulako Sulawesi Tengah voucher spesimen
tersimpan di Herbarium Biologi Universitas
Tadulako (E.377 L).
2.3. Ekstraksi dan Isolasi
Sebanyak 2,5 kg serbuk halus kulit
batang C. costata dimaserasi dengan metanol,
kemudian dipartisi dengan kloroform.
Selanjutnya, fraksi kloroform dievaporasi
sehingga didapatkan ekstrak kental berwarna
coklat kehitaman sebanyak 140 g. Sebanyak 20 g
ekstrak tersebut difraksinasi menggunakan
kromatografi kolom vakum cair dengan eluen
campuran antara n-heksan : etilasetat (9 : 1 s/d 6
: 4). Didapatkan enam fraksi, yakni fraksi A, B, C,
D, E dan F, fraksi D relatif dominan dengan berat
2,5 g. Sebanyak 400 mg fraksi D diolah dengan
kromatografi radial dan kemudian diperoleh
komponen utama berupa padatan berwarna
kuning kecoklatan sebanyak 305 mg. Setelah
dilakukan rekristalisasi berulang dengan
menggunakan kombinasi pelarut n-heksan dan
etilasetat, maka dihasilkan kristal berwarna
kuning sebanyak 295 mg. Analisis KLT dengan
tiga sistem pelarut menunjukkan masing-masing
satu noda.
98 JMS Vol. 10 No. 3, September 2005


2.4. Uji Bioaktivitas
Aktivitas anti tumor isolat dengan
pembanding artonin E dinyatakan dengan
penentuan IC
50
, yakni konsentrasi sampel atau
pembanding yang dibutuhkan untuk menginhibisi
50% sel tumor murni leokimia P-388
13)
. Uji dilakukan
dengan cara menambahkan isolat dalam berbagai
konsentrasi dan artonin E sebagai pembanding ke
dalam sel tumor P388 dan kemudian diinkubasi
selama 48 jam.
Selanjutnya, sampel ditambah reagen pewarna
([3(4,5-dimethyltiazo-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium
bromide) dan diinkubasi kembali selama 4 jam.
Banyaknya sel tumor P-388 yang terinhibisi oleh
sampel dapat diukur serapannya dengan
menggunakan microplate reader pada =540 nm
setelah penambahan pereaksi stop solution. Nilai IC
50

dapat dihitung melalui ekstrapolasi garis 50%
serapan kontrol positif pada kurva serapan terhadap
berbagai konsentrasi sampel di kertas
semilogaritma.
3. Pembahasan
3.1. Elusidasi Struktur
Isolat dari fraksi D didapatkan dalam bentuk
kristal berwarna kuning, dengan titik leleh 125-26
o
C.
Uji KLT dengan tiga sistem pelarut, masing-masing
menunjukkan satu noda; (1). aseton : kloroform :
nheksan (0,5 : 1,5 : 8), dengan Rf. 0,32, (2) n-heksan :
etilasetat (7 : 3) dengan Rf. 0,50, dan (3) kloroform :
metanol (9 : 1) dengan Rf. 0,73. Data fisikokimia
tersebut di atas menunjukkan bahwa isolat yang
dihasilkan relatif murni. Berdasarkan data MS dan
NMR diketahui rumus molekul senyawa adalah C
18
H
18
O
6,
memiliki DBE = 10
.
Spektrum UV dalam
metanol menujukkan serapan maksimum pada 203,
dan 317 nm, penambahan pereaksi penggeser NaOH
menunjukkan adanya pergeseran batokromik yakni
pada serapan 209, 303 dan 407 nm, gejala tersebut
karakteristik untuk senyawa calkon. Spektrum IR
menunjukkan adanya gugus -OH pada serapan 3285
cm
-1
, gugus karbonil terkonyugasi terlihat pada 1624
cm
-1
, C-H alkil muncul pada serapan 2933 cm
-1
,

dan
serapan aromatik pada 1549, 1440, 1424 cm
-1
.
Adanya calkon didukung pula oleh spektrum
1
H
NMR, yakni sinyal pada
H
7,84,(1H, d, J = 15,9 Hz)
dan 7,94 (1H, d, J = 15,9 Hz) yang menunjukkan dua
proton trans vinilik masing-masing pada C- dan
C- dalam gugus karbonil , tak jenuh dari
calkon. Spektrum HMBC menunjukkan adanya
korelasi jarak jauh antara sinyal proton 7,94 (H-
C) dengan sinyal karbon 193,6 (C-CO) dan 143,5
(C-), sedangkan sinyal proton dari 7,84(H-C)
berkorelasi jarak jauh dengan 126,2 (C-) dan
135,2 (C-1). Sinyal pada
H
7,65 (2H, d , J=7,7)
dalam spektrum
1
H NMR adalah dua proton
dalam posisi simetrik, masing-masing satu
proton pada C-2 dan satu proton pada C-6
(cincin B), demikian juga sinyal pada
H
7,42 (2H,
m) menunjukkan dua proton yang simetris pada
C-3 dan C-5, dan sinyal pada
H
7,39 (1H, m)
adalah satu proton pada C-4, jadi sinyal (
H
7,39-
7,65 ppm) berasal dari lima proton fenil (cincin
B). Sinyal
H
13,60 (1H, s ) adalah proton OH
pada C-2 dan sinyal
H
6,32 (1H, s) adalah
proton dari OH pada C-4 (cincin A). Hal ini
diperkuat dengan korelasi jarak jauh HMBC
antara proton sinyal OH 13,60 (H-2OH) dengan
sinyal karbon 108,6 (C-1), 154,6 (C-2) dan 131,4
(C-3), dan korelasi jarak jauh antara proton OH
pada 6,32 (H-4OH) dengan sinyal-sinyal karbon
131,4 (C-3), 149,6 (C-4) dan 133,5 (C-5). Sinyal

H
3,90 (3H, s), 3,93 (3H, s) dan 3,97 (3H, s)
menunjukkan adanya tiga OCH
3
yang masing-
masing menunjukkan korelasi jarak jauh dengan
62,0 (C-6), 61,4 (C-5) dan 60,9 (C-3). Spektrum
13
C NMR menunjukkan adanya 16 sinyal yang
mewakili 18 karbon, dua pasang karbon pada
cincin B berkedudukan simetris, masing-masing
memberi satu sinyal, yaitu C-2/C-6 (
C
128,5) dan
C-3/C-5 (
C
129,0). Selain itu pada cincin B
terdapat pula satu karbon tertier C-4 (
C
133,0)
dan satu karbon kuartener C-1 (
C
135,2). Pada
cincin A terdapat lima karbon oksiaril
teridentifikasi melalui sinyal-sinyal
C
154,6 (C-
2); 131,4 (C-3); 149,6 (C-4); 133,5 (C-5) dan
151,0 (C-6). Disamping itu terdapat satu karbon
kuartener C-1 dengan sinyal 135,2. Sinyal karbon
karbonil terdapat pada (
C
193,6), tiga karbon
metil pada OCH
3
ditunjukkan oleh (
C
60,9, 61,4
dan 62,0), sinyal pada (
C
126,4 dan 143,5)
berasal dari C dan C suatu calkon. Spektrum
massa menunjukkan sinyal-sinyal fragmentasi
yang terlihat pada m/z = 18,


JMS Vol. 10 No. 3, September 2005


99
28, 44, 77, 103, 127, 183, 211, 226 (puncak dasar)
dan 330. Berdasarkan analisis data spektrum maka
dapat disimpulkan bahwa senyawa isolat adalah
24dihidroksi-3,5,6-trimetoksicalkon.




Gambar 1. Korelasi HMBC, 24-Dihidroksi-3,5,6-trimetoksicalkon.


Tabel 1. Data NMR dalam CDCl
3
(500 MHz,
1
H; 125 MHz,
13
C)

No. C

H
(ppm)
(multiplisitas, J dlm Hz)

C
(ppm) HMBC (H C)
1 - 135,2 -
2/6 7,65 (2H, d, J=7,7 ) 128,5
3/5 7,42 (2H,

m ) 129,0 -
4 7,40 (1H, m ) 130,4 -
1 - 108,6 -
2 - 154,6 -
3 - 131,4 -
4 - 149,6 -
5 - 133,5 -
6 - 151,0 -
C 7,94 (1H, d, , J = 15,9 Hz) 126,2 C , C=O
C 7,84 (1H, d, , J=15,9 Hz) 143,5 C1, C
2-OH 13,60 (1H, s) - C1, C2, C3
3- OCH
3
3,97 (3H, s) 60,9 C3
4-OH 6,32 (1H, s) - C3, C4, C5
5-OCH3 3,92 (3H, s) 61,4 C5
6- OCH
3
3,90 (3H, s) 62,0 C6
C=O - 193,6 -











OC H
3
HO
H
3
CO
OH
OC H
3
O
H
H
1 '
2 '
3 '
4 '
' 5
6 '
1
2
3
4
5
6
A
B









3.2. Uji bioaktivitas
Ucapan Terima Kasih
Senyawa 24-dihidroksi-3,5,6-trimetoksi
Terima kasih disampaikan kepada
calkon mempunyai aktivitas yang tinggi terhadap sel
Laboratorium Herbarium Biologi FMIPA
Universitas
murin leukemia P-388 dengan IC
50
sebesar 3,65
Tadulako Palu dan Herbarium Bogoriense,
Bogor
g/mL. Hal ini menunjukkan 24-dihidroksiyang telah mengidentifikasi spesimen tumbuhan
3,5,6-trimetoksicalkon merupakan senyawa yang tersebut. Terima kasih juga kepada Center for
potensi sebagai anti tumor.
Medicinal Resources, Faculty of Pharmaeutical,
4. Kesimpulan Chiba University Japan, yang telah membantu
pengukuran senyawa dengan menggunakan
NMR

Berdasa
rkan
interpre
tasi dari
seluruh
data
dan MS.
yang didapatkan sebagimana diuraikan di atas, maka isolat dapat
diidentifikasi sebagai senyawa 2,4- Daftar Pustaka dihidroksi-3,5,6-
trimetoksi calkon. Senyawa
1. Kostermans, A.J.G.H., Lauraceae, Comm.
tersebut bersifat anti tumor dan pertama kalinya
Forest Res. Inst. Indonesia 57, 1-64 (1957).
ditemukan dalam tumbuhan Cryptocarya.
100 JMS Vol. 10 No. 3, September 2005


2. Heyne, K., Tumbuhan Berguna, Indonesia.
Yayasan Sarana Wanajaya, Jakarta ( 1987).
3. Ahmad, S.A., Empat Puluh Tahun dalam
Kimia Organik Bahan Alam Tumbuh-
tumbuhan Tropika Indonesia, Rekoleksi
dan Prospek. Bulletin of The Indonesian
Society of Natural Products Chemistry 4:2,
554 (2004).


4. Hakim, E.H., Achmad, S.A., Buchari &
Pramutadi, S., Ilmu Kimia Tumbuhan
Lauraceae Indonesia, XI; Alkaloid Aporfin
dan Oksoaporfin dari Litsea Excelsa,
Proceedings ITB. 27:3 (1994).
5. Dumontet, V., Hung, N. V., Adeline, M. T.,
Riche, C., Chiaroni, A., Seven, T. & Gueritte,
F., Cytotoxic Flavonoids and -pyrones
from
Cryptocarya obovata, J. Nat. Prod. 67,
858862 (2004).
6. Bick, I.R.C., Sevenet, T., Sinchai, W., Skelton,
B., & White Allen H., Alkaloids of
Cryptocarya longifolia, Aust. J. Chem. 34:1,
477-481 (1981).
7. Bishara, R. H., & Schiff, P. L., The isolation of
Some Sterols and Protocatheuic acid from
Cryptocarya faveolata, Lyodia 33:4, 477-
481 (1970).
8. Fu, X., Sevenet, T., Remy, F., Pais, M., Hadi, A.
H., & Zeng, L. M., Flavanone and Chalcone
derivatives from Cryptocarya kurzii, J. Nat.
Prod. 56:7, 1153-1163 (1993).
9. Collins, D.J., Culvenor, C.C.J., Lamberton,
J.A., & Loder, J.W., & Price, J.R., Plants for
Medicine, CSIRO, Melborne, Australia
(1990).
10. Joseph, H., Dori, J.L., Sterling, J.T., & Jack
R.C., Cryptopleurine, cytotoxic agent from
Boehmeria caudata (Urticaceae) and
Cryptocarya laevigata (Lauraceae),
Phytochemistry, 17:8, 1448 (1978).
11. Gottlieb, O.R., Chemosystematik of the
Lauraceae, Phytochemistry, 11, 1537-1570
(1972).
12. Juliawaty, L.D., Achmad, S.A., Makmur, L., &
Hakim, E.H., Investigation of the Chemical
Constituen of Cryptocarya Laevigata Bl
and
Cryptocarya Nutans and its Relation to the
Taxonomy of Lauracea, Biotrop Spec. Publ.
23, 1-9 (1993).
13. Alley, M.C., Scudiero, D.A., Monks, A.,
Hursey., Czerwinski, M.J., Fine, D.L., Abbott,
B.J., Mayo, J.G., Shoemaker, R.H., & Boyd,
M.R., Feasibility of Drug Screening with


Panels of Human Tumor Cell Lines Using a
Microculture Tetazolium Assay, Cancer
Research 48, 589-601 (1988).