Anda di halaman 1dari 10

1

PENGARUH RETURN SAHAM, VOLUME PERDAGANGAN DAN VOLATILITAS HARGA SAHAM


TERHADAP BI D-ASK SPREAD PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN STOCK SPLI T
DI BURSA EFEK INDONESIA


Veronica Napitupulu
1
Syahyunan
2
1)
Alumni FE USU Departemen Manajemen
2)
Staf Pengajar Departemen Manajemen FE USU


ABSTRACT

The purpose of this research is to investigate and analyze the effect of stock returns, stock trading
volume and stock price volatility toward bid-ask spread on companies that doing stock split activity in the
Indonesia Stock Exchange.
Type of this research is asosiative research. The population that is used in this research is 20 companies
that doing stock split activity in the Indonesia Stock Exchange with some criterias. Hypothesis testing uses
multiple regression method, with significance level 5%.
The results of this research indicates that stock returns, stock trading volume and stock price volatility
simultaneously have significantly effect toward bid-ask spread in the stock on companies that doing stock split
activity in the Indonesia Stock Exchange. Partially, stock trading volume has positive effect and not significant,
and stock price volatility has negative effect and not significant, only the stock return has positive and significant
effect toward bid-ask spread on companies that doing stock split activity in the Indonesia Stock Exchange.


Keywords: stock return, bid-ask spread, stock split, stock trading volume, and stock price volatility.

PENDAHULUAN
Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai
instrument keuangan jangka panjang yang bias
diperjualbelikan baik dalam bentuk utang ataupun
modal sendiri. Pasar modal memiliki peran sentral bagi
perekonomian, bahkan maju tidaknya ekonomi suatu
Negara dapat diukur dari maju tidaknya pasar modal
di Negara tersebut. Pasar modal memiliki dua fungsi,
yaitu fungsi ekonomi dan finansial. Untuk menjalankan
fungsi ekonomi, pasar modal memiliki kemampuan
untuk menyalurkan dana secara efektif dan efisien dari
pemilik modal kepada pihak yang membutuhkan.
Sedangkan fungsi finansial berarti pasar modal
merupakan wadah untuk meningkatkan kesejahteraan
pemilik modal melalui pembagian hasil (dividen) yang
merupakan kompensasi atas dana yang telah
ditanamkannya. Kondisi pasar modal penuh
ketidakpastian yang mengakibatkan timbulnya risiko
investasi yang harus dihadapi oleh para pelaku pasar
modal. Untuk mengurangi ketidakpastian ini
diperlukan informasi. Informasi yang didapat tersebut
dibutuhkan oleh para pelaku pasar modal dalam
pengambilan keputusan. Contoh-contoh informasi
tersebut adalah return saham, volume perdagangan,
volatilitas harga saham, bid-ask spread dan stock split.
Stock split bertujuan untuk mengidentifikasi
bahwa pemecahan dilakukan agar tingkat perdagangan
berada dalam kondisi yang lebih baik, sehingga
likuiditas perdagangan meningkat dengan cara menarik
minat investor baru. Stock split dilakukan dengan
tujuan agar harga saham lebih rendah dan jumlah
saham beredar menjadi lebih banyak, sehingga investor
lebih mudah melakukan pembelian (likuid). Stock split
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemecahan
naik (Split up) dan pemecahan kebawah (Split down).
Split up bertujuan menambah jumlah saham beredar
dengan mengurangi nilai nominalnya. Sedangkan split
down adalah mengurangi jumlah saham beredar tetapi
meningkatkan nilai nominalnya.
Berikut ini adalah nilai bid-ask spread, return
saham, volume perdagangan, dan volatilitas harga
saham perusahaan yang melakukan stock split pada 2
2

hari sebelum dan 2 hari sesudah dari Januari 2010-
Agustus 2012.
Tabel 1
Bid-Ask Spread Untuk Beberapa Perusahaan Yang
Melakukan Stock Split
Tahun 2010Agustus 2012 (dalam %)
Sumber : www.idx.co.id data diolah

Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai bidask
spread masing-masing perusahaan ada yang
mengalami penurunan, kenaikan, dan tetap setelah
perusahaan melakukan stock split. Perusahaan yang
mengalami penurunan nilai bid-ask spread setelah
melakukan stock split lebih banyak dibandingkan
dengan perusahaan yang mengalami nilai bid-ask
spread yang naik atau tetap. Rata-rata nilai bid-ask
spread pada saat terjadi stock split mengalami
peningkatan pesat sebesar 0.054% dan setelahnya
mengalami penurunan tetapi lebih besar dari nilai bid-
ask spread sebelum terjadi stock split.
Tabel 2
Return SahamUntuk Beberapa Perusahaan Yang
Melakukan Stock Split
Tahun 2010Agustus 2012 (dalam %)
Sumber : www.idx.co.id data diolah

Tabel 2 menunjukkan bahwa return
perusahaan mengalami peningkatan tepat pada hari
perusahaan melakukan stock split. Perusahaan yang
mengalami penurunan return setelah melakukan stock
split. Rata-rata return pada saat terjadi stock
splitmengalami peningkatan pesat sebesar 3.856% dan
setelahnya mengalami penurunan.
Tabel 3
Volume Perdagangan Beberapa Perusahaan Yang
Melakukan Stock Split
Tahun 2010Agustus 2012 (dalam %)
N
o
Emiten Hari
-2 -1 0 1 2
1. ASII 0.1126 0.1090 0.0667 0.1037 0.1117
2. CTRA 0.1421 0.1241 0.0823 0.0301 0.1228
3. DVLA 0.0038 0.0276 0.0461 0.0047 0.0023
4. KKGI 0.0122 0.0122 0.0031 0.0031 0.0031
5. LSIP 0.5600 0.4482 0.1126 0.1111 0.2110
6. MDRN 0.0531 0.0657 0.0402 0.0292 0.0065
RATA-RATA 0.1473 0.1311 0.0585 0.0470 0.0762
Sumber : www.idx.co.id data diolah

Tabel 3 menunjukkan bahwa volume
perdagangan masing-masing perusahaan ada yang
mengalami penurunan, kenaikan, dan tetap setelah
perusahaan melakukan stock split. Perusahaan yang
mengalami penurunan volume perdagangan setelah
melakukan stock split lebih banyak dibandingkan
dengan perusahaan yang mengalami volume
perdaganganyang naik atau tetap. Rata-rata volume
perdagangan sebelum dan setelah stock split tidak
mengalami perubahan yang besar yaitu sebesar
0.059%.
Tabel 4
Volatilitas Harga SahamBeberapa Perusahaan
Yang Melakukan Stock Split
Tahun 2010Agustus 2012 (dalam %)
No Emiten Hari
-2 -1 0 1 2
1. ASII 0.266 0.266 2.626 0.245 0.268
2. CTRA 0.008 0.024 0.251 0.032 0.036
3. DVLA 0.025 0.024 0.334 0.044 0.044
4. KKGI 0.088 0.088 0.827 0.088 0.088
5. LSIP 0.124 1.126 0.116 0.105 0.112
6. MDRN 0.106 0.128 1.162 0.109 0.114
RATA-RATA 0.102 0.109 1.054 0.106 0.109
Sumber : www.idx.co.id data diolah

Tabel 4 menunjukkan bahwa volatilitas
masing-masing perusahaan ada yang mengalami
penurunan dan kenaikan setelah perusahaan melakukan
stock split. Perusahaan yang mengalami kenaikan
volatilitas harga saham setelah melakukan stock split
lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan yang
mengalami penurunan volatilitas harga saham. Rata-
rata volatilitas harga saham pada saat terjadi stock
splitmengalami peningkatan pesat sebesar 1.054% dan
setelahnya mengalami penurunan.
No Emiten Hari
-2 -1 0 1 2
1. ASII 0.019 0.038 0.038 0.058 0.065
2. CTRA 0.064 0.024 0.062 0.025 0.026
3. DVLA 0.048 0.013 0.107 0.058 0.017
4. KKGI 0 0 0 0 0
5. LSIP 0.028 0.033 0.035 0.035 0.046
6. MDRN 0.048 0.048 0.079 0.090 0.046
RATA-RATA 0.035 0.026 0.054 0.044 0.033
No Emiten Hari
-2 -1 0 1 2
1. ASII (0.015) (0.015) 9.576 0.053 (0.022)
2. CTRA 0.066 0.012 0.927 (0.013) (0.026)
3. DVLA 0.037 0.047 1.229 (0.024) (0.025)
4. KKGI 0 0 3.035 0 0
5. LSIP (0.010) (0.028) 4.120 0 0.035
6. MDRN 0.041 (0.032) 4.246 0.031 0.015
RATA-RATA 0.020 (0.003) 3.856 0.008 (0.004)
3

Ambarwati (2008) menyatakan bahwa harga
saham cenderung senantiasa naik dalam tiap
transaksinya berarti menghasilkan return saham yang
tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa saham tersebut
digemari oleh para investor, sehingga menghasilkan
volume perdagangan saham yang aktif. Keadaan ini
menyebabkan dealer tidak perlu memegang saham
terlalu lama/langsung melepas saham tersebut,
sehingga jangka waktu dealer memegang saham
berkurang yang mengakibatkan biaya kepemilikan
turun dan bid-ask spread menyempit. Hal ini
menunjukkan return dan volume perdagangan saham
berpengaruh negatif terhadap bid-ask spread. Varian
return mewakili risiko yang dihadapi oleh dealer.
Besarnya risiko saham membuat dealer menahan
saham tersebut terlebih dahulu sampai pada waktu
tertentu sehingga biaya kepemilikan saham meningkat
yang menyebabkan lebarnya spread yang ada. Hal ini
menunjukkan varian return saham berpengaruh positif
terhadap bid-ask spread saham.
Chandra (2003) menyatakan bahwa bentuk
pasar modal di Indonesia adalah semi strong (setengah
kuat), sehingga informasi tersebar dan diterima oleh
pemodal pada waktu yang hampir bersamaan, sehingga
harga secara langsung dan cepat melakukan
penyesuaian. Dealer harus berhadapan dengan
pedagang saham dan pembeli yang memiliki banyak
informasi. Dengan demikian dealer tidak dapat
menentukan harga sesuai dengan keinginannya sendiri.
Adanya ketidakseimbangan informasi, membuat dealer
harus siap menanggung rugi. Hal ini menunjukkan
bahwa harga berpengaruh negatif terhadap bid-ask
spread. Investor yang kurang memiliki informasi
cukup mengenai aktivitas stock split, sehingga hanya
melakukan transaksi pada saham-saham tertentu yang
memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Hal ini berarti
return saham kurang bervariasi, yang menunjukkan
bahwa volatilitas harga saham berpengaruh positif
terhadap bid-ask spread.
Yuliastari (2008) menyatakan bahwa jika
harga suatu saham turun, investor akan tertarik untuk
memperbanyak jumlah saham yang dimiliki dan
banyak investor yang dapat menjual dan membeli
sahamnya, akibatnya jumlah pemegang saham menjadi
bertambah banyak setelah stock split. Pasar modal
yang efisien didefinisikan sebagai pasar yang harga-
harga sekuritasnya telah mencerminkan semua
informasi yang relevan. Perusahaan yang melakukan
stock split secara teoritis dan empiris telah
menyebabkan harga saham bereaksi dan ini adalah
kejadian yang disebabkan oleh systematic risk. Saham
yang baru akan menekan harga saham secara temporer
di bawah nilai sebenarnya. Jika harga saham jatuh
karena meningkatnya penawaran, maka saham akan
menawarkan return yang lebih tinggi daripada saham
lain dan investor akan tertarik untuk membelinya. Hal
ini menyatakan bahwa harga dan varian return saham
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap bid-ask
spread sebelum dan sesudah stock split. Bila
permintaan cukup banyak atau saham tersebut cukup
likuid maka dealer tidak perlu menyimpan saham
tersebut dalam waktu yang lama sehingga menurunkan
biaya pemilikan. Turunnya biaya pemilikan akan
menurunkan bid-ask spread saham. Hal ini berarti
bahwa volume perdagangan berpengaruh secara
signifikan terhadap bid-ask spread sebelum dan
sesudah stock split.
Ciptaningsih (2010) menunjukkan bahwa
harga saham memiliki pengaruh negatif tetapi tidak
signifikan terhadap bid-ask spread. Begitu pula volume
perdagangan, dalam penelitian ini ditunjukkan bahwa
volume perdagangan memiliki pengaruh negatif tetapi
signifikan terhadap bid-ask spread. Hal ini sama
dengan varian return yang juga memiliki pengaruh
negatif dan signifikan terhadap bid-ask spread. Dummy
sebelum/sesudah stock split berpengaruh negatif tetapi
tidak signifikan terhadap bid-ask spread.
Nurmayanti (2009) menyatakan bahwa return
saham berpengaruh terhadap bid-ask spread hanya
pada saat sesudah pengumuman laporan keuangan
dalam kondisi bad news. Ini berarti dalam kondisi bad
news, dealer menentuka bid-ask spread berdasarkan
pada return saham. Sedangkan earning dan volume
perdagangan saham mempunyai pengaruh terhadap
bid-ask spread sebelum dan sesudah pengumuman
laporan keuangan dalam kondisi good news dan bad
news. Bid-ask spread sebelum dan sesudah
pengumuman laporan keuangan juga tidak memiliki
perbedaan. Hal ini menunjukkan bahwa biaya
informasi yang dibutuhkan sebelum pengumuman
laporan keuangan sama dengan sesudah pengumuman
laporan keuangan.
Dari penelitian terdahulu yang masih terdapat
ketidakkonsistenan hasil penelitian dan perbedaan
pengaruh nilai bid-ask spread, return, volume
perdagangan dan volatilitas harga saham sebelum dan
sesudah stock split, maka peneliti melakukan penelitian
lanjutan tentang pengaruh return saham, volume
4

perdagangan saham, dan volatilitas harga saham
terhadap bid-ask spread pada perusahaan yang
melakukan stock split di Bursa Efek Indonesia periode
Januari 2010Agustus 2012.

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas dapat
dirumuskan permasalahannya Apakah Return Saham,
Volume Perdagangan, dan Volatilitas Harga Saham
Berpengaruh Secara Serempak dan Parsial Terhadap
Bid-Ask Spread Pada Perusahaan yang Melakukan
Stock Split di Bursa Efek Indonesia?

Manfaat Penelitian adalah:
a. Bagi Investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan
sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan
investasi dengan melihat pengaruh return saham,
volume perdagangan, dan volatilitas harga saham
terhadap bid-ask spread pada perusahaan
perusahaan yang melakukan stock split di BEI.
b. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya
khasanah penelitian mengenai bid-ask spread dan
mampu memberikan bukti mengenai pengaruh
return saham, volume perdagangan, dan volatilitas
harga saham terhadap bid-ask spread pada
perusahaanperusahaan yang melakukan stock split
di BEI.
c. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan
sebagai pertimbangan untuk memperhatikan return
saham, volume perdagangan, volatilitas harga, bid-
ask spread, agar mampu menarik investor untuk
berinvestasi di perusahaan.

TINJAUAN PUSTAKA
Bid-Ask Spread
Menurut (Jones, 2004:89), bid-ask spread
adalah bagian dari biaya perdagangan saham. Harga
bid adalah penawaran harga tertinggi untuk membeli
sekuritas yang diberikan dan harga ask adalah harga
terrendah dimana sekuritas yang ditawarkan untuk
dijual. Akibatnya, investor membayar harga ask ketika
membeli surat berharga dan menerima harga bid saat
menjual sekuritas (Gitman, 2009:24). Perhitungan bid-
ask spread dapat dirumuskan sebagai berikut (Stoll,
1989):

Bid-Ask Spread = (Pj Pb)/Pt
Dimana:
Pj = Harga jual
Pb = Harga beli
Pt = True Price
Menurut Hamilton (dalam Chandra 2003), bid-
ask spread dapat dibedakan menjadi dua model, yaitu :
1. Dealer Spread
Dealer spread merupakan selisih antara harga bid
dan harga ask yang menyebabkan dealer ingin
memperdagangkan sekuritas dengan aktivanya
sendiri.
2. Market Spread
Market spread merupakan selisih antara highest
bid dengan lower ask yang terjadi pada saat
tertentu.

Stock Split
Menurut Halim (2007), stock split (pemecahan
saham) adalah perubahan nilai nominal per lembar
saham dan perubahan jumlah saham yang beredar,
sesuai dengan faktor pemecahannya (split factor).
Perusahaan melakukan stock split karena harga
sahamnya dinilai terlalu tinggi (overvalued). Harga
saham yang overvalued menyebabkan kemampuan
investor untuk membeli saham tersebut menjadi
menurun. Melalui stock split, diharapkan harga saham
terjadi pada kisaran tertentu yang dianggap optimal,
pada akhirnya saham perusahaan lebih aktif
diperdagangkan.
Pada dasarnya stock split dapat dilakukan
dengan 2 (dua) cara (Husnan, 2005), yaitu:
1. Pemecahan Naik (Split Up)
Pemecahan naik adalah penurunan nilai nominal
per lembar saham yang mengakibatkan
bertambahnya jumlah lembar saham yang
beredar.Misalnya dengan faktor pemecahan 2:1.
2. Pemecahan Turun (Split Down/Reverse Split)
Pemecahan turun adalah peningkatan nilai nominal
per lembar saham dan mengurangi jumlah saham
yang beredar. Misalnya dengan faktor pemecah
1:2.
Secara teoritis, motivasi yang mendasari
perusahaan melakukan stock split serta dampak yang
ditimbulkannya tertuang dalam teori trading range
theory dan signaling theory.
1. Trading Range Theory
Teori ini menyatakan bahwa alasan manajemen
melakukan stock split didorong oleh perilaku pasar
5

yang konsisten dengan anggapan bahwa dengan
melakukan stock split, maka dapat menjaga harga
saham agar tidak terlalu mahal.

2. Signaling Theory
Teori ini menyatakan bahwa stock split memberikan
sinyal yang positif karena manajemen akan
menginformasikan prospek masa depan yang baik dari
perusahaan kepada publik yang belum mengetahuinya.

Return Saham
Menurut Jogiyanto (2003), return merupakan
hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat
berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return
ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang diharapkan
akan terjadi di masa mendatang. Return realisasi
(realized return) merupakan return yang terjadi.
Return realisasi dihitung berdasarkan data historis.
Return realisasi penting karena digunakan sebgai salah
satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis
ini juga berguna sebagai dasar penentuan
returnekspektasi (expected return) dan risiko di masa
mendatang.
Return terdiri dari capital gain (loss) dan yield
sebagai berikut:
Return = capital gain (loss) +Yield
Capital gain atau capital loss merupakan selisih dari
harga investasi sekarang relatif dengan harga periode
lalu.
Capital Gain (loss) =
1
1
t
t t
P
P P

Jika harga investasi sekarang (P
t
) lebih tinggi
dari harga investai periode lalu (P
t-1
) ini berarti
terjadikeuntungan modal (capital gain), sebaliknya
terjadi kerugian modal (capital loss).Yield merupakan
persentase penerimaan kas periodik terhadap harga
investasi periode tertentu dari suatu investasi. Untuk
saham, yield adalah persentase dividen terhadap harga
saham periode sebelumnya. Dengan demikian, return
dapat juga dinyatakan sebagai berikut ini:
Return =
1
1
t
t t
P
P P
+ Yield

Volume Perdagangan
Menurut Jones (2010:413), volume
perdagangan merupakan bagian dari analisis teknikal.
Volume perdagangan yang tinggi dianggap sejalan
dengan kenaikan harga.Volume perdagangan saham
merupakan rasio antara jumlah lembar saham yang
diperdagangkan pada waktu tertentu terhadap jumlah
saham yang beredar pada waktu tertentu. Untuk
membuat keputusan investasinya, seorang investor
yang rasional akan mempertimbangkan risiko dan
tingkat keuntungan yang diharapkan. Untuk itu
investor seharusnya melakukan analisis sebelum
menentukan saham yang akan mereka beli. Untuk
melakukan analisis investor memerlukan informasi.
Adanya informasi yang dipublikasikan akan mengubah
keyakinan para investor yang dapat dilihat dari reaksi
pasar. Salah satu reaksi pasar tersebut adalah reaksi
volume perdagangan.
Besarnya variabel volume perdagangan
diketahui dengan mengamati kegiatan perdagangan
saham yang dapat dilihat melalui indikator aktivitas
volume perdagangan (Trading Volume Activity / TVA).
Trading Volume Activity (TVA) merupakan suatu
indikator yang dapat digunakan untuk melihat reaksi
pasar modal terhadap informasi melalui parameter
pergerakan aktivitas volume perdagangan saham di
pasar modal.

Volatilitas Harga Saham
Menurut Lorie (1985:184), volatilitas adalah
bagian dari variabilitas total akibat sensitivitas
terhadap perubahan pasar yang merupakan risiko
sistematis dan tidak dapat dihindari. Hal ini diukur
dengan koefisien beta.Portofolio yang efisien tidak
memiliki risiko tambahan, dan volatilitas adalah satu-
satunya sumber variabilitas tingkat pengembalian.
Volatilitas merupakan ukuran terhadap
sebaran/dispersi di sekitar rata-rata hasil dari sebuah
sekuritas. Satu cara untuk mengukur volatilitas adalah
dengan menggunakan standar deviasi, yang akan
menjelaskan seberapa ketat harga suatu saham dapat
dikelompokkan di seputar rata-rata (mean) atau rata-
rata bergerak (moving average/MA). Ketika harga-
harga bergerak sangat ketat dalam satu gerombolan,
standar deviasinya sangat kecil. Ketika pergerakan
harga sangat tersebar, standar deviasi akan relatif
besar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Hasil statistik deskriptif untuk seluruh variabel
yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada
Tabel 5 berikut ini:
6

Tabel 5
Statistik Deskriptif
Sumber: Hasil Penelitian, 2013 (data diolah)

Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai rata-rata
return saham pada perusahaan yang melakukan stock
split di Bursa Efek Indonesia periode Januari 2010
sampai dengan Agustus 2012 adalah sebesar
0,405185% dengan standar deviasi sebesar 1,5693031.
Nilai return saham minimum adalah sebesar -0,1972%
yang dimiliki oleh Hero Supermarket Tbk pada 12
April 2012, sedangkan nilai return saham maksimum
adalah sebesar 10.9853% yang dimiliki oleh Surya
Toto Indonesia Tbk pada 9 Agustus 2012.
Nilai rata-rata volume perdagangan saham
pada perusahaan yang melakukan stock split di Bursa
Efek Indonesia periode Januari 2010 sampai dengan
Agustus 2012 adalah sebesar 0,239705% dengan
standar deviasi sebesar 0.4500204. Nilai volume
perdagangan saham minimum adalah sebesar 0% yang
dimiliki oleh Darya-Varia Laboratoria pada 17
November 2010 dan Hero Supermarket Tbk pada 3 dan
6 April 2012, sedangkan nilai volume
perdagangansaham maksimum adalah sebesar 3.0105%
yang dimiliki oleh Surya Semesta Internusa Tbk pada
13 Juli 2011.
Nilai rata-rata volatilitas harga saham pada
perusahaan yang melakukan stock split di Bursa Efek
Indonesia periode Januari 2010 sampai dengan
Agustus 2012 adalah sebesar 0,217799% dengan
standar deviasi sebesar 0,4106325. Nilai volatilitas
harga saham minimum adalah sebesar 0,0021% yang
dimiliki oleh BFI Finance Tbk pada 1 Agustus 2012,
sedangkan nilai volatilitas harga saham maksimum
adalah sebesar 3,0096% yang dimiliki oleh Surya Toto
Indonesia Tbk pada 9 Agustus 2012.
Nilai rata-rata bid-ask spread pada perusahaan
yang melakukan stock split di Bursa Efek Indonesia
periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2012
adalah sebesar 0,041482% dengan standar deviasi
sebesar 0,0436105. Nilai bid-ask spread minimum
adalah sebesar 0% yang dimiliki oleh BFI Finance
Indonesia Tbk pada 3, 8 dan 10 Agustus 2012, Bank
Tabungan Pensiunan Nasional Tbk pada 21 Maret
2011, Darya-Varia Laboratoria Tbk pada 17 November
2010, Hero Supermarket Tbk pada 29, 30 Maret dan 3,
5April 2012, Resource Alam Indonesia Tbk pada 10
24 Maret 2010, Modern International Tbk pada 26 Juni
2012, Capitalinc Investment Tbk pada 1 Juli 2011,
Pool Advista Indonesia Tbk pada 27 Desember 2011
10 Januari 2012, Surya Toto Indonesia Tbk pada 3 dan
7 Agustus, sedangkan nilai bid-ask spread maksimum
adalah sebesar 0.2727% yang dimiliki oleh Hero
Supermarket Tbk pada 12 April 2012.

Regresi Linear Berganda
Hasil dari analisis regresi linear berganda
dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini:
Tabel 10
Hasil Regresi Linear Berganda
Model
Unstandardize
d Coefficients
Stand
ardize
d
Coeffi
cients
t Sig.
Collinearity
Statistics
B
Std.
Error Beta
Toleranc
e VIF
1 (Constant) -2.838 .186 -15.246 .000
LnReturn
Saham
.167 .049 .454 3.429 .001 .606
1.65
1
LnVolume
Perdagangan
.046 .046 .107 1.010 .315 .939
1.06
4
LnVolatilitasSa
ham
-.121 .073 -.220 -1.656 .102 .603
1.65
7
a. DependentVariable:
LnBidAskSpread

Sumber: Hasil Penelitian, 2013 (Data diolah)

Hasil tersebut dapat ditulis dalam model
persamaan regresi sebagai berikut:
Y = -2,838 + 0,167 X
1
+ 0,046 X
2
- 0,121 X
3
+ e
Dari persamaan regresi linear berganda tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:

1. Nilai konstanta sebesar -2,838. Hal ini
menunjukkan bahwa jika return saham, volume
perdagangan dan volatilitas harga saham dianggap
konstan atau nol maka bid-ask spread bernilai -
2,838%.
2. Nilai koefisien regresi return saham sebesar 0,167.
Hal ini menunjukkan perubahan return saham

N Mean
Std.
Deviation Minimum Maximum
Return
220 .4051 1.569 -.1972 10.985
Volume
Perdagangan
220 .2397 .45002 .0000 3.0105
Volatilitas
HargaSaham
220 .2177 .4106325 .0021 3.0096
BidAsk
Spread
220 .0414 .0436105 .0000 .2727
7

berpengaruh positif terhadap bid-ask spread,
artinya jika return saham meningkat sebesar 1%
maka bid-ask spread akan meningkat sebesar
0,167%.
3. Nilai koefisien regresi volume perdagangan
sebesar 0,046. Hal ini menunjukkan perubahan
volume perdagangan berpengaruh positif terhadap
bid-ask spread, artinya jika volume perdagangan
meningkat sebesar 1% makabid-ask spread akan
meningkat sebesar 0,046%.
4. Nilai koefisien regresi volatilitas harga saham
sebesar -0,121. Hal ini menunjukkan perubahan
volatilitas harga saham berpengaruh negatif
terhadap bid-ask spread, artinya jika volatilitas
harga saham meningkat sebesar 1% maka bid-ask
spread akan menurun sebesar 0,121%.

Uji Hipotesis
a. Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
1. Pengujian return saham (X
1
) terhadap bid-ask
spread (Y) menunjukkan sign (0,001) <
(0,05) dan t
hitung
adalah 3,429 dimana t
hitung
(3,429) > t
tabel
(2,093), maka Ha diterima dan
Ho ditolak. Artinya terdapat pengaruh yang
signifikan antara return saham terhadap bid-
ask spread.
2. Pengujian volume perdagangan (X
2
) terhadap
bid-ask spread (Y) menunjukkan sign (0,315)
> (0,05) dan t
hitung
adalah 1,010 dimana t
hitung
(1,010)< t
tabel
(2,093), maka Ha ditolak dan Ho
diterima. Artinya tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara volume perdagangan
terhadap bid-ask spread.
3. Pengujian volatilitas harga saham (X
3
)
terhadap bid-ask spread (Y) menunjukkan sign
(0,102) > (0,05) dan t
hitung
adalah -1,656
dimana t
hitung
(-1,656)< t
tabel
(2,093), maka Ha
ditolak dan Ho diterima. Artinya tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara volatilitas
harga saham terhadap bid-ask spread.









b. Uji Hipotesis Secara Serempak (Uji F)
Tabel 11
Hasil Uji Hipotesis Secara Serempak (Uji F)
ANOVA
b

Model
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
1 Regression 7.412 3 2.471 4.084 .009
a

Residual
49.610 82 .605

Total 57.022 85
a. Predictors: (Constant), LnVolatilitasSaham,
LnVolumePerdagangan, LnReturnSaham

b. Dependent Variable: LnBidAskSpread
Sumber: Hasil Penelitian, 2013 (Data diolah)

Tabel 11 menunjukkan nilai sign (0,006) <
(0,05) dan F
hitung
adalah 4,084 dimana F
hitung
(4,084) >
F
tabel
(3,240), maka Ha diterima dan Ho ditolak.
Artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara
perubahan return saham (X
1
), volume perdagangan
(X
2
) dan volatilitas harga saham (X
3
) terhadap bid-ask
spread.

Koefisien Determinasi
Nilai koefisien determinasi pada penelitian
bertujuan untuk mengetahui seberapa besar
kemampuan model dalam menerangkan variasi
variabel dependen.
Tabel 12
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summary
b

Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1 .361
a
.130 .098 .7778183
a. Predictors: (Constant), LnVolatilitasSaham,
LnVolumePerdagangan, LnReturnSaham
b. Dependent Variable: LnBidAskSpread
Sumber: Hasil Penelitian, 2013 (Data diolah)
Dari Tabel 12 diperoleh nilai R Square sebesar
0,130 dan nilai Adjusted R Square sebesar 0,098. Hal
ini menunjukkan bahwa 0,098 atau 9,8% variasi
variabel bid-ask spread perusahaan yang melakukan
stock split dapat dijelaskan oleh variassi variabel
independen return saham, volume perdagangan, dan
volatilitas harga saham, sedangkan sisanya sebesar
8

90,2% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang
tidak diteliti pada penelitian ini.

Pembahasan
1. Pengaruh Return Saham Terhadap Bid-Ask Spread
Return saham berpengaruh yang positif dan
signifikan terhadap bid-ask spread. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian Ambarwati (2008) dan
Nurmayanti (2009). Menurut Ambarwati (2008),
pengaruh positif ini terjadi karena harga saham
cenderung senantiasa naik dalam tiap transaksinya
berarti menghasilkan returnsaham yang tinggi. Hal ini
mengindikasikan bahwa saham tersebut aktif
diperdagangkan dan dengan keadaan ini menunjukkan
bahwa saham tersebut digemari oleh investor.
Keadaan ini juga senantiasa membuat dealer
tidak langsung melepas saham tetapi saham tersebut
ditahan terlebih dahulu sampai pada waktu tertentu,
sehingga semakin lama saham tersebut berada di
tangan dealer maka akan menimbulkan adanya bid-ask
spread saham yang lebih besar karena akan menyerap
lebih banyak biaya kepemilikan saham yang
ditanggung oleh dealer. Hal ini terjadi karena dealer
menganut motif jangka panjang dalam berinvestasi,
dengan maksud yaitu untuk dapat menutup biaya
transaksi yang terjadi untuk membeli saham tersebut.
Hal ini yang menyebabkan hasil penelitian ini tidak
menunjukkan adanya pengaruh negatif return saham
terhadap bid-ask spread.

2. Pengaruh Volume Perdagangan Terhadap Bid-Ask
Spread
Volume perdagangan saham berpengaruh yang
positif tetapi tidak signifikan antara perubahan volume
perdagangan terhadap bid-ask spread. Hal ini dapat
terlihat dari nilai signifikansinya (1.010) lebih besar
dari 0,05. Dari hasil uji statistik t juga diperoleh hasil
kesimpulan yang sama dimana nilai t
tabel
lebih besar
dari t
hitung
dengan arah positif. Hal ini berarti jika
volume perdagangan meningkat akan membuat spread
melebar pula. Bila permintaan cukup banyak atau
saham tersebut cukup likuid akan membuat harga
saham menjadi menurun, maka dealer perlu
menyimpan saham tersebut selama beberapa waktu
sampai saham tersebut memiliki harga yang tinggi agar
dealer tidak mengalami kerugian dalam berinvestasi.
Hal ini akan membuat biaya kepemilikan menjadi
meningkat sehingga bid-ask spread meningkat.

3. Pengaruh Volatilitas Harga Saham Terhadap Bid-
Ask Spread
Volatilitas harga saham berpengaruh yang
negatif dan tidak signifikan antara perubahan
volatilitas harga saham terhadap bid-ask spread pada
taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini sejalan
dengan Yuliastari (2008). Hal ini berarti return saham
bervariasi, karena investor memiliki informasi yang
cukup tentang aktivitas stock split sehingga tidak hanya
melakukan transaksi pada saham-saham tertentu saja.
Variabel volatilitas harga saham yang mewakili risiko
saham dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi risiko suatu saham menyebabkan dealer
tidak lama menahan saham, sehingga biaya
kepemilikan saham menjadi menurun yang
menyebabkan menyempitnya spread yang ada.
Menurut Yuliastari (2008), investor
memerlukan informasi yang berkaitan dengan
pembentukkan harga saham dalam mengambil
keputusan untuk membeli atau menjual saham. Harga
dasar suatu saham sangat erat kaitannya dengan harga
pasar suatu saham. Harga dasar ini akan berubah sesuai
dengan aksi yang dilakukan perusahaan yaitu stock
split, sehingga harga dasar yang baru harus dihitung
sesuai dengan perubahan harga teoritis hasil
perhitungan aksi perusahaan tersebut. Jika harga saham
jatuh karena meningkatnya penawaran, maka saham
akan menawarkan return yang lebih tinggi dari saham
lain dan investor akan tertarik untuk membelinya.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah
dilakukan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan
sebagai berikut:
Return saham, volume perdagangan, dan volatilitas
harga saham secara serempak berpengaruh signifikan
terhadap bid-ask spread pada perusahaan yang
melakukan stock split di Bursa Efek. Dengan nilai R
square 0,098 yang berarti bahwa kemampuan return
saham, volume perdagangan, dan volatilitas harga
saham dalam menerangkan keragaman bid-ask spread
adalah sebesar 9,8% sedangkan sisanya yaitu 90,2%
diterangkan oleh variabel lainnya yang tidak dibahas
dalam penelitian ini. Sedangkan secara parsial, hanya
return saham yang berpengaruh positif dan signifikan
terhadap bid-ask spread pada perusahaan yang
melakukan stock split di Bursa Efek Indonesia.

9

DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Sri Dwi Ari, 2008. Pengaruh Return Saham, Volume Perdagangan Saham, dan Varian Return
Saham Terhadap Bid Ask Spread Saham Pada Perusahaan Manufaktur yang Tergabung Dalam Indeks
LQ45 Periode Tahun 2003 2005, Jurnal Siasat Bisnis. Volume 12 Nomor 1 hal 27-38.

Anoraga, Pandji dan Piji Pakarti, 2006.Pengantar Pasar Modal, Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta.

Asnawi, Said Kelana dan Chandra Wijaya, 2005.Riset Keuangan: Pengujian-Pengujian Empiris, Edisi Pertama,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Chandra, Ardha, 2003. Pengaruh Harga Saham, Volume Perdagangan, danVolatilitas Harga Saham Terhadap
Bid-Ask Spread pada Perusahaan yang melakukan Stock Split di Bursa Efek Indonesia Periode 1999
2002, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.

Ciptaningsih, AgungNurIsra, 2010. Analisis Pengaruh Harga Saham, Volume Perdagangan, danVariansi Return
Saham Terhadap Bid-Ask Spread pada Masa Sebelum dan Sesudah Stock Split pada Perusahaan
Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2006 - 2009, Skripsi, Universitas Diponegoro, Semarang.

Elton, Edwin J dan Martin J Gruber dan Stephen J Brown dan William N Goetzmann. 2003. Modern Portofolio
Theory and Investment Analysis, Sixth Edition, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey.

Erlina, 2011.Metodologi Penelitian, Edisi Keempat, USU Press, Medan.

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.

Gitman, Lawrence J, 2009.Principles of Managerial Finance, Fifth Edition, Pearson Prentice Hall, Boston.

Gitman, Lawrence J dan Michael D Joehnk, 1984.Fundamentals of Investing, Second Edition, Harper & Row
Publishers, New York.

Halim, Abdul, 2007. Manajemen Keuangan Bisnis, Ghalia Indonesia, Bogor.

Haugen, Robert A, 1997. Modern Investment Theory, Fourth Edition, Prentice Hall, Inc., New Jersey.

Jogiyanto, 2003.Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta.

Jones, Charles Parker, 2004. Investments: analysis and management, Ninth Edition, John Wiley & Son,Inc.,
United States of America.

Kolb, Robert W, 1986. Investments, Scott Foresman and Company, London.

Lorie, James H dan Peter Dodd dan Mary Hamilton Kimpton, 1985.The Stock Market:Theories and Evidence,
Second Edition, Richard D Irwin,Inc., Illinois.

Nurmayanti, Poppy, 2009. Pengaruh Return Saham, Earnings, dan Volume Perdagangan Saham Terhadap Bid-
Ask Spread Sebelum dan Sesudah Pengumuman Laporan Keuangan, Pekbis Jurnal. Volume 1 Nomor 2
hal 115-123.

10

Ross, Stephen A dan Brandon D Jordan dan Randolph W Westerfield, 2004.Essentials of Corporate Finance,
Fourth Edition, McGraw-Hill, Boston.

Samsul, Mohamad, 2006. Pasar Modal dan Manajemen Portofolio, Erlangga, Jakarta.

Sekaran, Uma, 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis, Edisi Pertama, Salemba Empat, Jakarta.

Sharpe, William F dan Gordon J Alexander dan Jeffry V Bailey, 1999.Investments, Sixth Edition, Prentice Hall
International, Inc., New Jersey.

Simatupang, Paulus, 2008. Pengantar Pasar Modal, Edisi Pertama, MitraWacana Media, Jakarta.

Stoll, Hans R, 1989. Inferring The Components of The Bid Ask Spread: Theory And Empirical Tests, The
Journal of Finance. Volume 44 Nomor 1 pp 115-134.

Sugiyono, 2009.Metode Penelitian Bisnis,Edisi Ketujuh, Alfabeta, Bandung.

Sumarni, Murti dan Salamah Wahyuni, 2006.Metodologi Penelitian Bisnis, Andi, Yogyakarta.

Yuliastari, Tanti, 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bid-Ask Spread Sebelum dan Sesudah
Stock Split di Bursa Efek Jakarta Tahun 2001-2005, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.

http://www.duniainvestasi.com/bei/prices/stock diakses pada 10 November 2012, pukul 10:00 wib

http://www.idx.co.id/corporateaction diakses pada 23 Oktober 2012, pukul 14:00 wib

http://www.e-bursa.com/companyprofile diakses pada 17 November 2012, pukul 14:00 wib

http://mysubulussalam.wordpress.com/randomwalk diakses pada 17 November 2012 pukul 16:00 wib

http://www.sahamok.com diakses pada 01 November 2012 pukul 18:00 wib

http://www.finance.yahoo.com/investing/marketstats diakses pada 24 November 2012 pukul 17.00 wib

http://www.investopedia.com./HansWagner diakses pada 13 Desember 2012 pukul 15.00 wib