Anda di halaman 1dari 34

penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh:

bergeletar, dikelola [1] .

2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.

5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.

3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang

berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (sayur-mayur, ramah-tamah).

4. Gabungan kata atau kata majemuk

1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.

3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian

5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil,

bukumu, miliknya.

6.

Kata depan atau preposisi (di [1] , ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun,

bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.

3. Partikel per- yang berarti "mulai", "demi", dan "tiap" ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.

1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-

2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

1. ber-an

2. di-kan dan di-i

3. diper-kan dan diper-i

4. ke-an dan ke-i

5. me-kan dan me-i

6. memper-kan dan memper-i

7. pe-an

8. per-an

9. se-an

10. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).

1.

Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.

2.

Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.

Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2. me- mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6. me- meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)

2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)

3. pe + perkosa → pemerkosa (huruf p luluh menjadi m)

4. pe + perhati → pemerhati (huruf p luluh menjadi m)

enulisan Huruf dalam Bahasa Indonesia

HURUF KAPITAL

Dalam Pedoman Umum EYD terdapat beberapa kaidah penulisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal yang masih perlu kita perhatikan.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.

Contoh: Dia mengantuk; Apa maksudnya?; dll.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Contoh: Adik bertanya:”Kapan kita pulang?”

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menulis ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Contoh: Allah, Yang Mahakuasa, Atas rahmat-Mu (bukan atas rahmatmu), dll.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti, imam, makmum, doa, puasa, dan misa.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Contoh: Sultan Hasanuddin, Nabi Muhammad, Imam Hanafi, dll.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan jika tidak diikuti nama orang.

Contoh: Seorang nabi adalah utusan Tuhan, Sebagai seorang sultan, dia patut dihormati, dll.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Contoh: Gubernur Bali, Gubernur Fauzi Bowo, Kepala Kantor Wilayah, dll.

Nama jabatan dan pangkat itu tidak ditulis dengan huruf kapital jika tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Contoh: Siapa yang dilantik menjadi gubernur?, Ayah dia seorang jenderal bintang tiga.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.

Contoh: bangsa Indonesia, suku Banjar, bahasa Perancis.

Perhatikan penulisan berikut!

Mengindonesiakan kata-kata asing; keingris-ingrisan

Perhatikan juga bahwa yang dituliskan dengan huruf kapital hanya nama bangsa, nama suku, dan nama bahasa, sedangkan kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil saja.

Contoh: bangsa Indonesia; suku Banjar; bahasa Perancis.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Contoh: tahun Hijriah; bulan Agustus; hari Waisak; perang Salib; Republik Indonesia.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas geografi.

Contoh: Sungai Barito; Danau Toba; Asia Tenggara; Pulau Bangka; Gunung Semeru.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata-kata umum:

Contoh: dia hanyut di sungai; gunung mana yang akan kita daki?

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.

Contoh: Majelis Permusyawaratan Rakyat; Undang-Undang Dasar 1945.

Tapi perhatikan!

menurut undang-undang dasar kita, Saudara dapat dijatuhi hukuman berat.

Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan.

Contoh: Dr. M.A. S.H. Sdr.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti sapaan.

Contoh: Kapan Bapak berangkat?; Mau kemana, Bu?

Namun, perhatikan!

*Kita harus menghormati ibu kita!

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti orang kedua (Anda)

Contoh: Tahukah Anda tentang kabar itu?; Saudara diundang ke rumah

HURUF MIRING

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam keterangan.

Contoh: Sudahkah anda membaca koran Kompas hari ini?

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing.

Contoh: Nama latin untuk tanaman padi adalah Oriza sativa.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.

Contoh: Huruf pertama kata dunia adalah d; Buatlah sebuah karangan dengan tema lingkunganku!

Pemakaian Huruf dalam Bahasa Indonesia

ABJAD

Ada 26 huruf yang digunakan di dalam abjad bahasa Indonesia, yaitu:

A* a (:/a/), B** b (:/be/), C** c (:/ce/), D** d (:/de/), E* e (:/e/), F** f (:/ef/), G** g (:/ge/), H** h (:/ha/), I* i (:/i/), J** j (:/je/), K** k (:/ka/), L** l (:/el/), M** m (:/em/), N** n (:/en/), O* o (:/o/), P** p (:/pe/), Q** q (:/ki/), R** r (:/er/), T** t (:/te/), U* u (:/u/), V** v (:/fe/), W** w (:/we/), X** x (:/eks/), Y** y (:/ye/), Z** z (:/zet/). (5 vokal* dan 21 konsonan**)

Selain abjad-abjad di atas, bahasa Indonesia juga menggunakan 4 (empat) gabungan huruf dan 3 (tiga) diftong.

Gabungan huruf:

sy, kh, ng, ny.

Diftong:

ai, au, oi.

PEMENGGALAN KATA PADA KATA DASAR DAN KATA BERIMBUHAN

1. Kata Dasar

Yang paling penting dalam pemenggalan kata adalah Anda harus mengetahui kata dasarnya lebih dahulu. Di samping itu, gabungan huruf dan diftong tidak dapat dipisahkan.

Kalau di tengah kata ada dua buah konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua konsonan itu.

Contoh: pan-dai, cap-lok, swas-ta, Ap-ril.

Kalau di tengah kata ada tiga buah konsonan atau lebih, pemenggalannya dilakukan antara konsonan yang pertama (termasuk ng) dan yang kedua.

Contoh: in-struk-tur, bang-krut, ul-tra, ben-trok, in-tra.

Kalau di tengah kata ada dua buah vokal yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua vokal itu.

Contoh: ma-in, sa-at, bu-ah

Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.

Contoh: au-la bukan a-u-la; sau-da-ra bukan sa-u-da-ra.

Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran), termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, dipenggal. Partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya dapat dipenggal pada pengertian baris.

Contoh: la-pang-an, pe-nuh-i, pel-a-jar, mem-ba-ca, per-gi-lah, wa-lau-pun, be-ra-pa-kah.

3. Penulisan Nama Diri

Penulisan nama diri (nama sungai, gunung, jalan, dan sebagainya) disesuaikan dengan EYD, kecuali jika ada pertimbangan khusus. Pertimbangan khusus itu menyangkut segi adat, hukum, atau kesejarahan.

Contoh: Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Soetomo Poedjosoeparmo.

Penulisan Gabungan Kata dalam Bahasa Indonesia

Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Contoh: tanda tangan; terima kasih; rumah sakit; tanggung jawab; kambing hitam; dll.

Perhatikan kalau gabungan kata itu mendapatkan imbuhan!

Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan atau akhiran saja, awalan atau akhiran itu harus dirangkai dengan kata yang dekat dengannya. kata lainnya tetap ditulis terpisah dan tidak diberi tanda hubung. Contoh: berterima kasih; bertanda tangan; tanda tangani; dll.

Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan dan akhiran, penulisan gabungan kata harus serangkai dan tidak diberi tanda hubung. Contoh: menandatangai; pertanggungjawaban; mengkambinghitamkan; dll.

Gabungan kata yang sudah dianggap satu kata.

Dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang sudah dianggap padu benar. Arti gabungan kata itu tidak dapat dikembalikan kepada arti kata-kata itu. Contoh: bumiputra; belasungkawa; sukarela; darmabakti; halalbihalal; kepada; segitiga; padahal; kasatmata; matahari; daripada; barangkali; beasiswa; saputangan; dll

Kata daripada, misalnya, artinya tidak dapat dikembalikan kepada kata dari dan pada. Itu sebabnya, gabungan kata yang sudah dianggap satu kata harus ditulis serangkai.

Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, unsur itu hanya muncul dalam kombinasinya.

Contoh: tunanetra; tunawisma; narasumber; dwiwarna; perilaku; pascasarjana; subseksi; dll.

Kata tuna berarti tidak punya, tetapi jika ada yang bertanya, “Kamu punya uang?” kita tidak akan menjawabnya dengan “tuna”. Begitu juga dengan kata dwi, yang berarti dua, kita tidak akan berkata, “saya punya dwi adik laki-laki.” Karena itulah gabungan kata ini harus ditulis dirangkai.

Perhatikan gabungan kata berikut!

1. Jika unsur terikat itu diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur itu diberi tanda hubung.

Contoh: non-Indonesia; SIM-ku; KTP-mu.

1. Unsur maha dan peri ditulis serangkai dengan unsur yang berikutnya, yang berupa kata dasar. Namun dipisah penulisannya jika dirangkai dengan kata berimbuhan.

Contoh: Mahabijaksana; Mahatahu; Mahabesar. Maha Pengasih; Maha Pemurah; peri keadilan; peri kemanusiaan.

Tetapi, khusus kata ESA, walaupun berupa kata dasar, gabungan kata maha dan esa ditulis terpisah => Maha Esa.

Penulisan Kata Ulang dan Kata Depan

KATA ULANG

Kata ulang dituliskan dengan menggunakan tanda hubung di antara kedua unsurnya. Penulisan kata ulang ada bermacam-macam.

1. Pengulangan kata dasar

Contoh: anak-anak; adik-adik; kunang-kunang; laki-laki; ramai-ramai; undang-undang.

2. Pengulangan kata berimbuhan

Contoh: berlari-larian; berkejar-kejaran; didorong-dorong; kait-mengait; rumput-rumputan.

3. Pengulangan gabungan kata

Contoh: meja-meja tulis; rumah-rumah sakit; kereta-kereta api cepat; duta-duta besar.

4. Pengulangan kata yang berubah bunyi

Contoh: sayur-mayur; bolak-balik; pontang-panting; mondar-mandir.

KATA DEPAN

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh: di rumah; di sini; di mana; di samping; ke mana; ke sana; ke muka; dari mana; dari rumah; dll.

Tetapi, perhatikan awalan di- dan ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

Contoh: disampaikan; dibaca; dikemukakan; ketujuh; keputusan; kekasih; dll.

Kata hari ini:

Kata PERUBAHAN dan kata BERUBAH berasal dari kata dasar UBAH, bukan RUBAH. Karenanya, jangan pernah menggunakan kata MERUBAH, tetapi gunakan kata bakunya, MENGUBAH, karena RUBAH itu adalah nama seekor binatang yang mirip musang.

Kata Ganti dalam Bahasa Indonesia

1. Kata Ganti -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

Contoh:

Apa yang kumiliki sudah kauambil. Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

2. Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh:

Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil. Surat itu dikirim kembali kepada si pengirim.

Penulisan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Terdapat lima partikel dalam bahasa Indonesia, yaitu lah, kah, tah, per, dan pun.

Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contoh: Apakah kucing ini milik Anda?; Tengoklah ke kiri dan ke kana jika hendak menyeberang jalan!

Partikel per yang berarti ‘tiap-tiap,’ ‘demi,’ ‘dan ‘mulai’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului dan mengikutinya. Namun, partikel per pada bilangan pecahan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contoh: Harga kain itu adalah sepuluh ribu rupiah per meter; dua pertiga.

Partikel pun yang sudah dianggap padu benar ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Sedangkan partikel pun yang ditulis setelah kata benda, kata sifat, kata kerja, dan kata bilangan, dituliskan terpisah.

Contoh: walaupun; meskipun; biarpun; adapun; bagaimanapun; kendatipun; maupun; sekalipun; sungguhpun;

Contoh yang ditulis terpisah: Jika tak ada yang kuning, merah pun tidak masalah, asal bunganya bisa dipajang.

Singkatan dan Akronim

Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Contoh:

A.S. Surajuddin Muh. Yamin Djaja Hs. M.B.A. master or business administration M.Sc. master of science S.E. sarjana ekonomi Bpk. bapak Sdr. saudara

2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta

nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak

diikuti dengan tanda titik. Contoh:

DPR Dewan Perwakilan Rakyat PT Perseroan Terbatas KTP Kartu Tanda Penduduk

3.

Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Singkatan yang

terdiri dari dua huruf diikuti tanda titik pada setiap hurufnya.

Contoh:

dll. dan lain-lain dsb. dan sebagainya sda. sama dengan di atas Yth. Yang terhormat

a.n. atas nama (bukan a/n) d.a. dengan alamat (bukan d/a) u.b. untuk beliau (bukan u/b) u.p. untuk perhatian (bukan u/p)

4. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti

tanda titik.

Contoh:

Cu (kuprum/timah)

TNT (trinitroluen)

cm

(sentimeter)

Rp

(rupiah)

Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal sari deret kata ditulis seluruhnya

dengan huruf kapital. Contoh:

ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia LAN Lembaga Administrasi Negara IKIP Institut Keguruan Ilmu Pendidikan

2. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari

deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

Contoh:

Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

3. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Contoh:

pemilu pemilihan umum rapim rapat pimpinan

Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:

1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi suku kata yang lazim pada kata Indonesia. 2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Kata hari ini:

Pakailah dll. (dan lain-lain) atau dsb. (dan sebagainya) saja. Jangan memakai dlsb. (dan lain sebagainya) karena dlsb. tidak terdefinisikan artinya dalam bahasa Indonesia.

Berikut ini contoh-contoh penulisan gelar yang benar.

Gelar Sarjana

S.Kom. (Sarjana

S.Kes. (Sarjana Kesehatan)

Komputer)

S.Ag. (Sarjana Agama)

S.Sos. (Sarjana Sosial)

S.Pd. (Sarjana Pendidikan)

S.Sn. (Sarjana Seni)

S.Pt. (Sarjana Peternakan)

S.Si. (Sarjana Sains)

S.Psi. (Sarjana Psikologi)

S.Hum. (Sarjana

Humaniora)

S.Ked. (Sarjana

Kedokteran)

S.Th.I. (Sarjana Theologi Islam)

S.Kar. (Sarjana Karawitan)

S.Fhil. (Sarjana Fhilsafat)

S.T. (Sarjana Teknik)

S.P. (Sarjana Pertanian)

S.S. (Sarjana Sastra)

S.H. (Sarjana Hukum)

S.E. (Sarjana Ekonomi)

S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)

S.I.P. (Sarjana Ilmu Politik)

M.Psi. (Magister Psikologi)

M.Hum. (Magister Humaniora)

M.Kom. (Magister Komputer)

M.Sn. (Magister Seni)

S.K.M. (Sarjana Kesehatan Masyarakat)

M.T. (Magister Teknik)

S.H.I. (Sarjana Hukum Islam)

M.H. (Magister Hukum)

M.M. (Magister

S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)

Manajemen)

S.Fil.I. (Sarjana Filsafat Islam)

M.Kes. (Magister Kesehatan)

M.P. (Magister Pertanian)

S.Pd.I. (Sarjana Pendidikan Islam), dsb.

Gelar Magister

M.Fhil. (Magister Fhilsafat)

M.E. (Magister Ekonomi)

M.Ag. (Magister Agama)

M.Pd. (Magister

M.H.I. (Magister Hukum Islam)

Pendidikan)

M.Si. (Magister Sains)

M.Fil.I. (Magister Filsafat Islam)

M.E.I. (Magister Ekonomi Islam)

M.Pd.I. (Magister Pendidikan Islam), dsb.

S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)

Gelar Sarjana Muda Luar Negeri

B.A. (Bechelor of Arts)

B.Sc. (Bechelor of Science)

B.Ag. (Bechelor of Agriculture)

B.E. (Bechelor of Education)

B.D. (Bechleor of Divinity)

B.Litt. (Bechelor of Literature)

B.M. (Bechelor of Medicine)

B.Arch. (Bechelor of Architrcture), dsb.

Gelar Master Luar Negeri

M.A. (Master of Arts)

M.Sc. (Master of Science)

M.Ed. (Master of Education)

M.Litt. (Master of Literature)

M.Lib. (Master of Library)

Gelar Doktor Dalam Negeri

M.Arch. (Master of Architecture)

M.Mus. (Master of Music)

M.Nurs. (Master of Nursing)

M.Th. (Master of Theology)

M.Eng. (Master of Engineering)

M.B.A. (Master of Business Administration)

M.F. (Master of Forestry)

M.F.A. (Master of Fine Arts)

M.R.E. (Master of Religious Ediucation)

M.S. (Mater of Science)

M.P.H. (Master of Public Health), dsb.

Penulisan gelar doktor dalam negeri pun sering tidak dipahami dengan benar oleh kebanyakan orang, padahal jika kita mampu menganalisis, tidaklah sulit untuk dapat menemukan jawabannya.

Penulisan gelar doktor dalam negeri sama dengan penulisan gelar-gelar yang lain. Karena huruf “D” dan “R” merupakan rangkaian satu kata, maka penulisan gelar doktor yang benar adalah:

Dr. (Doktor), dan ditulis di depan nama penyandang gelar. Huruf “D” ditulis dengan huruf besar, dan huruf “R” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik pula.

Selain itu, di Indonesia juga memberlakukan sebutan profesional untuk program diploma. Aturan main penulisan sebutan profesional dalam negeri untuk program diploma ditulis di belakang nama penyandang sebutan profesional tersebut. Perhatikan beberapa sebutan profesional program diploma dalam negeri sebagai berikut.

Program diploma satu (D1) sebutan profesional ahli pratama, disingkat (A.P.);

Program diploma dua (D2) sebutan profesional ahli muda, disingkat (A.Ma.);

Program diploma tiga (D3) sebutan profesional ahli madya, disingkat (A.Md.); dan

Program diploma empat (D4) sebutan profesional ahli, disingkat (A.).

Akhir-akhir ini sebutan profesional untuk program diploma, sebagaimana yang tertera itu, cenderung diikuti oleh ilmu keahlian yang dimiliki. Sebagai misal, sebutan profesional untuk ahli muda kependidikan disingkat A.Ma.Pd., ahli madya keperawatan disingkat A.Md.Per., ahli madya kesehatan disingkat A.Md.Kes., ahli madya kebidanan disingkat A.Md.Bid., dan ahli madya pariwisata disingkat A.Md.Par.

Selanjutnya, banyak orang bertanya-tanya tentang beberapa gelar doktor luar negeri yang tidak mereka pahami maksudnya, juga tidak mereka ketahui cara penulisannya, sehingga banyak diantara mereka hanya dapat memperkirakan maksud, dan demikian pula cara penulisannya. Karena berdasarkan perkiraan belaka, maka banyak diantara mereka salah menebak maksud serta cara penulisannya.

Penulisan gelar doktor, master, dan sarjana muda dari luar negeri, ditulis di belakang nama penyandang gelar. Sebagaimana penulisan gelar-gelar dalam negeri, penulisan gelar dari luar negeri pun sama. Untuk dapat memahami penulisan yang benar, kita perlu menganalisis kata per kata sebagaimana cara menganalisis kata per kata pada penulisan gelar dalam negeri. Sebagai misal, gelar doctor of philosophy, yang ditulis benar [Ph.D.]. Huruf “P” ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf “H” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf “H” ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata philosophy, sedangkan huruf “D” ditulis dengan huruf besar sebagai singkatan dari kata doctor, dan diakhiri dengan tanda titik.

Perhatikan beberapa gelar doktor luar negeri yang sering kita jumpai di Indonesia, dan contoh penulisannya:

Ph.D. (Doctor of Philosophy);

=>

Sigit Sugito, Ph.D.

Ed.D. (Doctor of Education);

=>

Sigit Sugito, Ed.D.

Sc.D. (Doctor of Science);

=>

Sigit Sugito, Sc.D.

Th.D. (Doctor of Theology);

=>

Sigit Sugito, Th.D.

Pharm.D. (Doctor of Pharmacy);

=>

Sigit Sugito, Pharm.D.

D.P.H. (Doctor of Public Health);

=>

Sigit Sugito, D.P.H.

D.L.S. (Doctor of Library Science);

=>

Sigit Sugito, D.L.S.

D.M.D. (Doctor of Dental Medicince);

=>

Sigit Sugito, D.M.D.

J.S.D. (Doctor of Science of Jurisprudence). =>

Sigit Sugito, J.S.D., dsb.

Tambahan lagi, penulisan gelar ganda yang kedua gelar tersebut berada di belakang nama penyandang gelar, juga perlu memperhatikan teknik penulisan yang benar. Bahwasanya, selama ini kita sering menjumpai bahkan mungkin, menjadi pelaku sendiri penulisan gelar ganda yang tidak memperhatikan tata cara penulisan yang benar.

Tenik penulisan gelar ganda yang kedua-duanya berada di belakang nama penyandang gelar, banyak terkait dengan penggunaan tanda baca koma (,). Penulisan yang benar adalah setelah nama (penyandang gelar), dibubuhkan tanda koma (,) kemudian diikuti gelar yang pertama, ditulis dengan teknik penulisan yang benar, lalu dibubuhkan tanda koma untuk penulisan gelar yang kedua, dan seterusnya (jika ada gelar-gelar yang lain). Perhatikan beberapa contoh penulisan gelar ganda di bawah ini:

Endra Lesmana, S.Ag., S.H.

Endra Lesmana, S.Pd., S.S.

Endra Lesmana, S.Hum., S.Pd.I.

Jika penyandang gelar memiliki gelar lebih dari dua gelar, dan semuanya berada di belakang nama penyandang gelar, teknik penulisannya pun sama. Perhatikan pula beberapa contoh penulisan gelar yang lebih dari dua gelar di belakang nama penyandang gelar.

Imam Prasodjo, S.S., M.Hum., M.Pd.

Imam Prasodjo, S.Pd., S.S., M.Ed.

Imam Prasodjo, S.Ag., M.E.I., Ph.D.

Penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang ditulis dengan huruf balok (kapital), gelar tetap ditulis sesuai dengan penulisan gelar yang benar. Jika gelar tersebut terdapat huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata, sebagai misal, gelar S.Ag., S.Pd., S.Pt., huruf g, d, dan t yang posisinya sebagai huruf peluncur dari rangkaian satu kata, tidak ditulis dengan huruf besar. Perhatikan beberapa contoh di bawah ini:

Ditulis Benar

Hadi Mulya, S.Pd.

Hadi Mulya, S.Ag.

Hadi Mulya, S.Pt.

Ditulis Salah

HADI MULYA, S.PD.

HADI MULYA, S.AG.

HADI MULYA, S.PT.

Juga Ditulis Salah

HADI MULYA, S.Pd.

HADI MULYA, S.Ag.

HADI MULYA, S.Pt.

Di dalam aturan kebahasaan, nama orang tidak dibenarkan ditulis dengan huruf balok (kapital), kecuali untuk kepentingan tertentu. Jika ditulis, huruf balok (kapital) hanya dibenarkan ditulis pada awal kata nama orang. Karena itu, penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang sama-sama ditulis menggunakan huruf balok, tidak hanya salah, tetapi sudah salah kaprah

1 Dr. Warsiman, M.Pd.

Dosen tetap Fakultas Adab, dosen Program Pascasarjana IAIN S

KATA BAKU

Kata-kata baku adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan

zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.

Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan. Di samping itu, kebakuan suatu kata juga ditentukan oleh kaidah morfologis yang berlaku dalam tata bahasa bahasa Indonesia yang telah dibakukan dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indoensia.

Dalam Pedoman UmumPembentukan istilah (PUPI)diterangkan sistem pembentukqan istilah serta pengindonesiaan kosa kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing. Bila kita memedomani sistem tesebut akan telihat keberaturan dan kemanapan bahasa Indonesia.

Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.

Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur.

Baku - Tidak Baku

apotek - apotik atlet - atlit bus -bis cenderamata - cinderamata konkret - konkrit-kongkrit sistem - sistim

telepon - tilpon-telpon pertanggungjawaban - pertanggung jawaban utang - hutang pelanggan - langganan hakikat - hakekat

kaidah - kaedah dipersilakan dipersilahkan anggota - anggauta pihak - fihak disahkan - disyahkan

-

lesung pipi - lesung pipit mengubah - merubah

relatif - relative repertoar - repertoire

imbau - himbau berpikir - berfikir

mengesampingkan-

teknologi - tekhnologi;

nasihat - nasehat

mengenyampingkan kualitas - kwalitas universitas - university teater - theatre struktur - structure monarki - monarkhi devaluasi - defaluasi

technologi elektronik - electronik direktur - director konduite - kondite akuarium - aquarium kongres - konggres hierarki - hirarkhi

terempas - terhempas pukul 19.30 WIB - jam 19.30 WIB standardisasi - standarisasi objek - obyek sportivitas - sportifitas sportif - sportip

abstrak - abstrac

aksi - action

aktivitas - aktifitas

akomodasi

- akomodir

psikiatri - psychiatry

aktif - aktip

legalisiasi

- legalisir

grup - group

pengkreditan - pengreditan

diagnosis -diadnosa hipotesis -hipotesa kultur - culture deputi - deputy sekuritas - Security aktivitas - aktifitas

rute - route institut - institute aki - accu taksi - taxi sekadar - sekedar memesona - mempesona

mengkreditkan - mengreditkan antarnegara - antar negara pascapanen - pasca panen dasawisma - dasa wisma pancaroba - panca roba

Penggunaan ragam baku

• Surat menyurat antarlembaga

• Laporan keuangan

• Karangan ilmiah

• Lamaran pekerjaan

• Surat keputusan

• Perundangan

• Nota dinas

• Rapat dinas

• Pidato resmi

• Diskusi

• Penyampaian pendidikan

• Dan lain-lain.

Kalimat Baku

Ada beberapa istilah yang dalam konteks soal tes memiliki pengertian yang sama atau dapat disamakan dengan kalimat baku. Istilah-istilah itu, misalnya, kalimat efektif dan kalimat yang baik dan benar. Kalimat baku adalah sebuah kalimat standar yang dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah. Penulisan karya ilmiah mempergunakan kalimat-kalimat yang secara umum dikenal sebagai ragam tulis formal. Meskipun banyak di antara kita pernah membaca atau bahkan menulis karya ilmiah, kemampuan kita mengenali atau menulis dengan kalimat yang baku masih sedikit yang memilikinya. Sebuah kalimat dapat dikategorikan sebagai kalimat baku jika memenuhi syarat-syarat: (1) struktur kalimat, (2) bentukan kata, (3) makna kalimat, dan (4) kaidah ejaan. Keempat syarat tersebut harus dipenuhi. Jika ada yang tidak terpenuhi, kalimat tersebut tidak dapat disebut kalimat baku.

Struktur Kalimat Syarat struktur kalimat adalah syarat yang berhubungan dengan kaidah-kaidah kalimat. Berikut ini beberapa kaidah kalimat yang sering diabaikan sehingga kalimat yang kita buat bukanlah sebuah kalimat baku.

Memiliki S dan P Kalimat baku harus memiliki S dan P. Ketidakhadiran S atau P menyebabkan kalimat tidak baku. (1) Dalam rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai.

Jika dianalisis unsur-unsurnya, kalimat tersebut tidak memiliki S. Kelompok kata dalam rapat itu berfungsi sebagai K sebab merupakan frase preposisional yang diawali preposisi dalam. Kata membahas menempati fungsi P. Kelompok kata masalah kenaikan gaji pegawai adalah O kalimat

itu. Pola kalimat tersebut adalah (1) Dalam rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai.

K P O

Karena itu, kalimat tersebut tidak merupakan kalimat baku. Agar menjadi kalimat baku,

perbaikan dapat dilakukan sebagai berikut:

Menghilangkan preposisinya sehingga menjadi frane nominal, dengan demikian kalimat itu

menjadi

(1a) Rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai.

S P O

Mengubah kata kerja membahas dalam kalimat itu menjadi dibahas sehingga kalimat itu menjadi

(1b) Dalam rapat itu dibahas masalah kenaikan gaji pegawai.

K P S

Perhatikan kalimat (2) di bawah ini! (2) Kecelakaan lalu lintas itu sebab kecerobohan sopir.

Analisis unsurnya menunjukkan kelompok kata kecelakaan lalu lintas menempati S, sedangkan sebab kecerobohan sopir yang merupakan frase preposisional (diawali sebab yang pada kalimat itu menjadi kata depan) dan menempati fungsi K. Dengan demikian, kalimat tersebut berpola (2) Kecelakaan lalu lintas itu sebab kecerobohan sopir.

S K

Ternyata kalimat tersebut tidak memiliki P sehingga dapat dianggap sebagai kalimat tidak baku. Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan cara Mengubah sebab menjadi disebabkan sehingga kalimat menjadi (2a) Kecelakaan lalu lintas itu disebabkan kecerobohan sopir.

S P Pel.

Menambahkan kata lain, misalnya kata terjadi, yang akan berfungsi sebagai P

(2b) Kecelakaan lalu lintas itu terjadi sebab kecerobohan sopir.

S P K

Perhatikan kalimat (3) di bawah ini! (3) Jika ekspedisi tersebut tidak menemukan sepotong fosil pun, maka dana ekspedisi harus dikembalikan.

Pada kalimat tersebut terdapat konjungsi subordinatif jika dan maka. Konjungsi jika dan maka menandai bahwa klausa yang mengikuti konjungsi tersebut merupakan klausa terikat yang merupakan perluasan unsur K. Jadi, kalimat tersebut tidak memiliki S dan P sebab unsur yang ada pada kalimat tersebut semuanya K. Jika dipolakan akan terlihat polanya seperti di bawah ini

(3) Jika ekspedisi tersebut tidak menemukan sepotong fosil pun,

K

maka dana ekpedisi harus dikembalikan.

K

Agar menjadi kalimat baku, yang dapat dilakukan terhadap kalimat tersebut adalah menghilangkan salah satu konjungsinya tergantung pada hubungan antarklausa yang dikehendaki.

(3a) Jika ekspedisi tidak menemukan sepotong fosil pun,

K

dana ekspedisi harus dikembalikan.

S P

Kalimat (3a) merupakan perbaikan kalimat (3) dengan menghilangkan konjungsi maka sehingga

hubungan antarkalimat yang terjadi adalah hubungan syarat atau pengandaian.

(3b) Ekspedisi tidak menemukan sepotong fosil pun

S P O

maka dana ekspedisi harus dikembalikan.

K

Kalimat (3b) juga merupakan hasil perbaikan kalimat (3), hanya yang dihilangkan adalah konjungsi jika dan hubungan antarklausa yang terjadi adalah hubungan akibat.

Hubungan P dengan unsur yang mengikutinya. Unsur P dapat diikuti O, Pel., atau K bergantung pada jenis kata yang mengisi unsur P itu. Jika P ditempati oleh kata yang bukan kata kerja, berarti dalam kalimat itu tidak ada O atau Pel. Di dalam kalimat aktif transitif, hubungan P dan O sangat rapat sehingga tidak boleh disisipi preposisi. Perhatikan kalimat (4) di bawah ini.

(4) Kami akan mendiskusikan tentang hal itu nanti.

S P O

Berdasarkan polanya terlihat bahwa kalimat (4) adalah kalimat aktif transitif, tetapi kalimat itu menjadi tidak baku sebab antara P dan O-nya terdapat preposisi tentang. Agar menjadi kalimat baku, semestinya preposisi tentang pada kalimat itu dihilangkan sehingga kalimat menjadi

(4a) Kami akan mendiskusikan hal itu.

S P O

Bila kita ingin mempertahankan preposisi tentang, P kalimat (4) harus diubah menjadi kata kerja berpartikel. Agar menjadi kata kerja berpartikel, kata mendiskusikan diubah menjadi berdiskusi sehingga kalimat menjadi

(4b) Kami akan berdiskusi tentang hal itu.

S P Pel.

Jadi, perlu diingat bahwa dalam kalimat aktif transitif antara P dan O tidak boleh terdapat preposisi.

Pemasifan dengan tepat Berbicara tentang kalimat pasif biasanya sebagian besar di antara kita terbayang kalimat dengan

P berupa kata kerja berawalan di-. Padahal, ada bentuk kalimat pasif yang justru tidak boleh

mempergunakan kata kerja berawalan di-. Bilamana kita menggunakan di- atau tidak akan dijelaskan di bawah ini. Perlu diingat yang dapat dipasifkan adalah kalimat aktif transitif, selain itu tidak dapat dipasifkan. Perhatikan kalimat (5) di bawah ini.

(5) Kita sedang membicarakan kenaikan tarif listrik.

S P O

Kalimat (5) berdasarkan polanya termasuk ke dalam kalimat aktif transitif sehingga kalimat tersebut dapat dijadikan kalimat pasif. Sebelum dilakukan pemasifan, kita harus perhatikan dulu kata yang menempati unsur S. S kalimat (5) diisi oleh kata kita yang ternyata termasuk ke dalam pronomina persona (kata ganti orang) pertama. Dalam kaidah bahasa Indonesia, jika S kalimat aktif ditempati oleh pronomina persona pertama dan kedua, pemasifan tidak boleh dengan cara mengubah me- menjadi di- pada predikatnya. Langkah pemasifan dengan S berupa pronomina persona pertama dan kedua sebagai berikut Hilangkan awalan me- pada kata yang menempati P. Bila ada adverbia (akan, sedang telah, tidak, …) ke depan pronomina. Bagian O pada kalimat aktifnya dapat diletakkan di awal atau akhir kalimat.

Hasil pemasifan dengan cara di atas terlihat pada kalimat di bawah ini. (5a) Sedang kita bicarakan kenaikan tarif listrik. (5b) Kenaikan tarif listrik sedang kita bicarakan.

Pelesapan unsur dalam kalimat majemuk

Kalimat majemuk baik setara maupun bertingkat sering mengalami pelesapan unsur yang disebabkan satu atau lebih unsur pada klausa-klausanya diisi oleh kata atau frase yang sama.

Misalnya,

(6) Sebab tidak belajar semalam, Andika tidak bisa menjawab soal itu.

P K S P O

Kalimat (6) di atas merupakan kalimat yang mengalami pelesapan S. Asalnya kalimat itu

berbunyi

(6a) Sebab Andika tidak belajar semalam, Andika tidak bisa menjawab soal itu.

S P K S P O

Kalimat (6a) terdiri atas dua klausa: klausa pertama sebab Andika tidak belajar dan klausa kedua Andika tidak bisa menjawab soal itu. Kedua klausa itu ternyata memiliki S yang sama yaitu Andika. Sebab itu, kata Andika yang mengisi S pada klausa pertama harus dihilangkan agar kalimat lebih hemat. Hasil menghilangkan unsur pada salah satu klausa sebab adanya kesamaan kata/frase yang mengisi unsur yang sama pada dua klausa yang berbeda dalam satu kalimat itu disebut kalimat majemuk pelesapan.

Mari kita analisis kalimat (7) di bawah ini.

(7) Setelah dijemur seharian, Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu.

P K S P O

Kalimat (7) terdiri atas dua klausa: klausa pertama setelah dijemur seharian dan klausa kedua Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu. Klausa pertama tidak memiliki S, sedangkan klausa kedua memiliki S, yaitu Ibu Tuti. Jika kita menduga bahwa kalimat (7) merupakan kalimat pelesapan S, kita akan keliru sebab S pada klausa pertama tidak mungkin Ibu Tuti. (7a) Setelah Ibu Tuti dijemur seharian, Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu.

S P K S P O

Rasanya sulit untuk menerima kalimat (7a) di atas sebab tidak mungkin yang dijemur dalam kalimat tersebut adalah Ibu Tuti. Jadi, kalimat (7) bukan pelesapan S. Kalaupun kita mengatakan bahwa yang dilesapkan adalah kerupuk itu, itu pun keliru sebab kerupuk itu pada klausa kedua menempati O, sedangkan klausa pertama kehilangan S. Jadi, sebenarnya kalimat (7) bukanlah

kalimat baku sebab pelesapan yang terjadi pada kalimat itu tidak tepat. Jika diperbaiki, kalimat (7) semestinya berbunyi

(7b) Setelah dijemur seharian, kerupuk itu digoreng oleh Ibu Tuti.

P K S P Pel.

Perubahan yang terjadi pada kalimat (7b) menghasilkan kalimat baku. Kalimat (7b) mengalami pelesapan S sebab berasal dari kalimat

(7c) Setelah kerupuk itu dijemur seharian, kerupuk itu digoreng oleh Ibu Tuti.

S P K S P Pel.

Memperhatikan asas kesejajaran bentuk/paralelisme Asas kesejajaran atau paralelisme dalam kalimat merupakan penerapan peristiwa morfologis dalam proses sintaksis. Proses morfologis biasanya berkaitan dengan pemakaian imbuhan, sedangkan proses sintaksis adalah proses penyusunan sebuah kalimat. Asas kesejajaran dipakai sebab berkaitan dengan keruntutan proses berpikir. Perhatikan kelompok kata di bawah ini.

(8) Pusat Pendidikan dan Latihan

Kelompok kata (8) tidak menerapkan asas kesejajaran. Kata pendidikan dibentuk dari kata dasar yang diberi konfiks pe-an, sedangkan kata latihan dibentuk dari kata dasar yang diberi akhiran an. Agar sejajar, semestinya kata latihan diganti menjadi pelatihan.

(8a) Pusat Pendidikan dan Pelatihan.

Kalimat (9) di bawah ini juga tidak menerapkan asas kesejajaran.

(9) Pak Ali mengepel lantai, menyapu halaman, dan perbaikan pintu yang rusak.

Ketidaksejajaran kalimat (9) terlihat pada ketidakkonsistenan pemakaian imbuhan, mengepel dan menyapu menggunakan awalan me-, sedangkan pada perbaikan menggunakan per-an.

Bentukan Kata Yang dimaksud bentukan kata adalah proses pengimbuhan dan makna gramatikal imbuhan. Penerapan imbuhan mempunyai kaidah atau aturan. Melekatkankan imbuhan pada kata dasar dapat menyebabkan perubahan bentuk imbuhan bergantung pada kata dasar yang dilekatinyanya agar pengucapannya menjadi lancar. Setelah dilekatkan pada kata dasar, imbuhan akan memunculkan makna yang biasanya disebut makna gramtikal. Sering kita keliru memahami makna imbuhan tersebut sehingga pemakaian kata tersebut dalam kalimat menjadi salah.

Ketepatan Pengimbuhan Salah satu kaidah yang perlu diingat agar pengimbuhan menjadi tepat adalah proses nasalisasi. Proses nasalisasi diambil dari istilah konsonan nasal yaitu konsonan yang dihasilkan sebab udara yang keluar dari paru-paru melalui hidung. Konsonan nasal ada empat buat, yaitu /m/, /n/, /ng/, dan /ny/. Proses nasalisasi terjadi jika awalan me- dan pe- dilekatkan kepada kata yang berfonem awal /k/, /p/, /t/, dan /s/, lalu fonem awal tersebut berubah menjadi konsonan nasal. Contoh me- + kirim = mengirim, /k/ pada kirim berubah menjadi /ng/ me- + pesona = memesona, /p/ pada pesona berubah menjadi /m/ me- + taati = menaati, /t/ pada taati berubah menjadi /n/ me- + sontek = menyontek, /s/ pada kata sontek berubah menjadi /ny/

Namun, me- atau pe- tidak mengalami nasalisasi jika kata yang dilekati itu berfonem awal berupa konsonan rangkap, seperti /pr/, /kr/, /tr/, dan /sk/.

Contoh me- + protes = memprotes me- + kritik = mengkritik me- + traktir = mentraktir

me- + skor = menskor

Jadi, kalimat yang memiliki S-P atau kalimat sempurna tidak bisa disebut kalimat baku apabila dalam kalimat tersebut terdapat kata berimbuhan yang tidak tepat. Misalnya kalimat (10) di bawah ini

(10) Kami tidak mempercayai berita-berita tersebut lagi. S P O

Kalimat (10) adalah kalimat sempurna, tetapi kalimat tersebut tidak disebut kalimat baku sebab terdapat kata yang salah, yaitu kata mempercayai, yang semestinya memercayai.

Ketepatan makna imbuhan Imbuhan memiliki makna gramatikal, yaitu makna yang muncul setelah imbuhan itu dilekatkan pada sebuah kata. Imbuhan tidak memiliki makna leksikal; sebuah imbuhan tidak memiliki arti apa pun sebelum imbuhan itu dilekatkan kepada sebuah kata. Kaitannya dengan kalimat baku adalah kesalahan menggunakan imbuhan akan menyebabkan makna yang terbentuk pada kalimat pun ada kemungkinan keliru.

Imbuhan me-i dan me-kan memiliki perbedaan makna meskipun dengan jumlah sedikit ada juga persamaannya. Apakah kata yang berimbuhan me-i ataukah me-kan yang harus dipergunakan dalam sebuah kalimat bergantung kepada makna keseluruhan kalimat yang ingin disampaikan. Perhatikan pasangan kata di bawah ini.

menugasi = „menyerahi seseorang tugas‟ menugaskan = „menyerahkan tugas, pekerjaan‟

membawahi = „menempatkan diri di bawah perintah seseorang‟ membawahkan= „menempatkan (sesuatu) di bawah‟

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.

(11) Presiden menugaskan Mendiknas untuk menyelesaikan kasus itu.

Kalimat (11) bukanlah kalimat baku sebab terdapat kata berimbuhan yang tidak tepat, yaitu menugaskan. Seharusnya, sesuai dengan kalimat (11), kata yang tepat adalah menugasi bukan menugaskan. Perbaikan yang tepat untuk kalimat (11) sebagaimana terlihat pada kalimat di bawah ini

(11a) Presiden menugasi Mendiknas untuk menyelesaikan kasus itu. (11b) Presiden menugaskan penyelesaian kasus itu kepada Mendiknas.

Kalimat (12) di bawah ini juga bukan kalimat baku. (12) Presiden membawahi menteri-menteri.

Makna keseluruhan kalimat (12) di atas adalah „Presiden menempatkan diri di bawah perintah menteri-menteri” sehingga kalimat itu menjadi tidak baku. Oleh karena itu, perbaikan untuk kalimat (12) adalah

(12a) Presiden membawahkan menteri-menteri. (12b) Menteri-menteri membawahi Presdien.

Kehematan Kalimat baku pun harus memperhatikan kehematan, yaitu menghindari pemakaian kata yang mubazir. Pemakaian kata mubazir biasanya terjadi akibat adanya pleonasme atau tautologi dalam kalimat tersebut. Yang dimaksud dengan pleonasme adalah sebuah usaha menjelaskan sebuah gagasan/ide yang sudah jelas, sedangkan tautologi adalah usaha menjelaskan sebuah gagasan/ide dengan gagasan/ide lain yang memiliki makna yang sama.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini. (13) Para hadirin merasa puas atas penjelasan direktur perusahaan tersebut. (14) Saya melihat peristiwa itu dengan mata kepala saya sendiri. (15) Buku kuliahnya sangat tebal sekali.

Perbaikan kalimat-kalimat di atas adalah (13a) Hadirin merasa puas atas penjelasan direktur perusahaan tersebut. (14a) Saya melihat peristiwa itu. (15a) Buku kuliahnya sangat tebal.

Kalimat baku

· Kalimat yang secara efektif dapat dipakai untuk menyampaikan gagasan secara tepat.

· Tujuannya, agar intonasi tersampaikan secara baik.

Beberapa kesalahan yang menghasilkan kalimat tidak baku:

1. Terpengaruh bahasa daerah

contoh:

Apa kamu sudah makan? Apakah kamu sudah makan? Bukumu ada di saya ~ Bukumu ada pada saya.

2. Terpengaruh bahasa asing

contoh:

- Orang yang mana berbaju putih itu abangku.

- Orang yang berbaju putih itu abangku.

3. Kerancuan

contoh:

- Di sekolahku mengadakan pesta.

- Di sekolahku diadakan pesta.

- Sekolahku mengadakan pesta.

4. Kemubaziran

Contoh:

- Kami semua sudah hadir.

- Kami sudah hadir.

5. Terpengaruh bahasa tutur

Contoh :

- Saya sudah bilang sama dia.

- Saya sudah berkata dengan dia.

- Emangnya itu bini Tono ?

- Apakah itu istri Tono?

6. Salah susunan kata

Contoh :

- Kami sudah baca suratmu.

- Suratmu sudah kami baca.