Anda di halaman 1dari 28

Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 1

KERAJAAN BONE

A. ASAL-USUL KERAJAAN BONE
Kesultanan Bone atau sering pula dikenal
dengan Kesultanan Bugis, merupakan
kesultanan yang terletak di Sulawesi bagian
barat daya atau tepatnya di daerah Provinsi
Sulawesi Selatan sekarang ini. Menguasai areal
sekitar 2600 km
2
.
Sejak berakhirnya kekuasaan Gowa, Bone
menjadi penguasa utama di bawah pengaruh
Belanda di Sulawesi Selatan dan sekitarnya
pada tahun 1666. Bone berada di bawah control
Belandasampai tahun 1814 ketika Inggris
berkuasa sementara di daerah ini, tetapi
dikembalikan lagi ke Belanda pada 1816 setelah
perjanjian di Eropa akibat jatuhnya Napoleon Bonaparte.
Pengaruh Belanda ini kemudian menyebabkan meningkatnya perlawanan Bone terhadap
Belanda, namun Belanda-pun mengirim sekian banyak ekspedisi untuk meredam perlawanan
sampai akhirnya Bone menjadi bagian dari Indonesia pada saat proklamasi. Di Bone, para raja
bergelar Arumpon.
Tanah Bone adalah gabungan dari unit-unit politik inti atau persekutuan masyarakat kaum
yang disebut anang yang dipimpin oleh matoa anang (ketua kaum). Selanjutnya anang terbentuk
menjadi wanua (negeri), seperti wanua Ujung, Tibojong, Ta, Tanete Riattang, Tanete Riawa,
Ponceng, dan Macege. Setiap pembentukan kelompok wanua didorong oleh ikatan rasa
seketurunan dari satu nenek moyang yang sama dan membentuk persekutuan teritorial yang
tertutup terhadapa persekututan teritorial hidup lainnya dalam sistem kehidupan patrimonial
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 2

(garis keturunan dari pihak ayah). Hal seperti itu menciptakan permusuhan di antara satu wanua
dengan wanua lainnya.
Seperti halnya kelahiran Kerajaan Gowa, proses sejarah berdirinya Kerajaan Bone juga
diawali dengan kisah kehadiran Tomanurung. Jika Tomanurung di Kerajaan Gowa adalah
wanita, Tomanurung di Kerajaan Bone adalah laki-laki. Kehadiran Tomanurung sebagai
penguasa sentral di Kerajaan Bone diawali oleh sebuah ikrar antara Tomanurung dan penguasa
unit-unit politik setempat. Kehadiran Tomanurung selalu ditandai dengan fenomena alam yang
mengerikan. Tulisan dalam lontarak mengisahkan bahwa sebelum kedatangan Tomanurung,
terjadi hujan dan petir sambung-menyambung tanpa putus selama tujuh hari tujuh malam.
Setelah hujan reda, muncullah seseorang disuatu tempat. Orang tersebut mengenakan jubah putih
dan berdiri ditengah-tengah padang Bone. Oleh karena mereka tidak mengetahui asal-usulnya;
orang menyebutnya Tomanurung (orang yang turun dari kahyangan). Maka berkumpullah orang-
orang Bone. Mereka mengadakan perundingan demi sebuah kesepakatan untuk berangkat
menemui orang tersebut dan diangkat menjadi Raja Bone.
Setelah mereka sampai di hadapan orang tersebut, mereka memohon agar orang tersebut
mau menjadi Raja di Bone. Akan tetapi, orang tersebut menolak untuk menjadi Raja, karena ia
juga hanya seorang budak raja. Tapi orang tersebut menawarkan jika rakyat Bone menginginkan
Raja, maka ia bisa membawa mereka bertemu langsung dengan calon Raja tersebut. Selanjutnya,
orang tersebut membawa mereka pergi ke daerah Matajang. Sesampainya disana, terlihatlah
seorang lelaki duduk berpakaian kuning di batu napara beserta tiga pengikutnya, yang masing-
masing bertugas memegang kipas, payung dan membawakan salendrang (tempat sirih).
Para pemohon dari Bone pun, langsung memohon kepada lelaki yang duduk di atas batu
napara agar kiranya bersedia menjadi Raja di Bone. Maka raja itu menyahut, teddua nawa-
nawao artinya orang setia dan temmaballecoko artinya tidak memungkiri segala janji.
Sesudah perjanjian tersebut terlaksana, maka raja tersebutpun nalekkeni ManurungE
artinya memindahkan Manurung itu ke Bone dan menjadi Raja Bone I di sana. Sesampainya di
sana, rakyat Bone lalu mendirikan istana untuk ManurungE (raja). Pendirian istana itu lekas
selesai dimana bulisa artinya kayu potongan belum kering, raja sudah mendiami istana itu.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 3

B. PROSES AWAL PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN KERAJAAN BONE
Raja Bone I atau Arung Pone yaitu Tomanurung ri Matajang, yang bergelar MatasimpoE.
Ia memerintah kurang lebih 40 tahun, dari tahun 1330 M sampai tahun 1370 M. MatasilompoE
kawin dengan Tomanurung ri Toro, yang bernama Tenriawaru. Dari perkawinan ini lahirlah lima
orang anak yang masing-masig bernama: La Umasa, Patanra Wanua, Tenri Salogo, We Arattiga
dan Isamateppa.
Setelah TomanurungE, menjadi penguasa di Bone, barulah ketertiban dapat ditegakkan dan
kesejahteraan rakyat dapat dikembalikan. Ditetapkannya penguasa Tomanurung di Bone diikuti
dengan pembentukan Dewan Penasehat, Adepitu (Adat Penguasa), yang terdiri dari pemimpin
dari tujuh komunitas. Dengan bantuan Adepitu, ManurungE lalu membuat peraturan-peraturan
bagi rakyatnya. Ia juga menegakkan hukum dan adat istiadat untuk mengatur ketertiban bagi
masyarakat. Hingga suatu hari Arung Pone MatasilompoE telah tiada; hilang atau gaib entah
kemana (oleh masyarakat setempat disebut; Mallajang).
Setelah Arung Pone tiada, beliau digantikan oleh La Ummase. Dalam LontaraK
Akkarungeng ri Bone, La Ummase (1358 1424), disebutkan bahwa Dialah yang menggantikan
ManurungE ri Matajang sebagai Arung Mangkaue ri Bone. Beliau digelari Petta Panre Bessie
karena Arumpone (Bugis: Raja Bone) inilah yang mula-mula menciptakan alat dan perkakas dari
besi di Bone dan kalau bepergian, hanya dinaungi dengan kaliyao (tameng) untuk melindunginya
dari teriknya matahari. Hal ini dilakukan karena tidak ada lagi payung (payung kerajaan) di
Bone.
Dalam upayanya memperluas wilayah kekuasaannya, La Ummase menaklukkan wilayah-
wilayah sekitarnya, Anro Biring, Majang, Biru, Maloi dan Cellu (Lontara Akkarungeng ri Bone).
Politik ekspansinya berhasil menaklukkan kerajaan kecil tetangganya, Maloi, Biru, Majang,
Anrobiring, Cellu, Palakka dan Taneteriattang.
La Ummasa tidak memiliki putra mahkota yang kelak bisa menggantikan kedudukannya
sebagai Mangkau di Bone. Dia hanya memiliki anak perempuan, To Suwalle dan To Sulewakka
dari isterinya yang berasal dari to sama (orang biasa, bukan bangsawan). Oleh karena itu,
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 4

setelah dia tahu bahwa We Pattanra Wanua akan melahirkan, La Ummasa menyuruh anaknya
pergi ke Palakka ke rumah saudaranya yang diperisterikan oleh Arung Palakka La Pattikkeng.
Setelah La Saliyu Karempuala dewasa, maka beliau mengambil alih tampuk pemerintahan
Bone dari kedua sepupunya itu. Dalam Lontarak Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa La
Saliyu Karempalua (1424 1496) adalah Arumpone (Raja Bone) yang menggantikan pamannya,
La Ummase.
La Saliyu Karampelua digelari pula MakkaleppiE Massao LampeE Lawelareng atau
Puatta Lawelareng. Sebagai Raja Bone III ini melanjutkan kegiatan ekspansi yang telah dirintis
pendahulunya, bahkan lebih besar dan berhasil menduduki kerajaan-kerajaan kecil, seperti:
Pallengoreng, Sinri, Melle, Sancereng, Cirowali, Apala, Bakke, Atta Salo, Soga, Lampoko,
Lemoape, Parippung, Lompu, Limampanua Rilau Ale, Babauwae, Barebbo, Pattiro, Cinennung,
Ureng, Pasempe, Kaju, Ponre, dan Aserabate Riawang Ale.
Data tersebut menunjukkan bahwa Bone pada masa itu telah menguasai wilayah yang
cukup luas (menurut ukuran pada masa itu), sehingga organisasi pemerintahan perlu pula
ditingkatkan. Untuk itu La Saliu membagi wilayah pemerintahan Kerajaan Bone menjadi tiga
wilayah administratif, sesuai dengan pembagian warna bendera Kerajaan Bone. Pertama, negeri-
negeri yang memakai bendera Woromporongnge: Matajang, Mattoanging, Bukaka Tengah,
Kawerrang, Pallengoreng, Maloi. Semuanya dibawah koordinasi Matoa Matajang. Kedua,
negeri-negeri yang memakai umbul merah di sebelah kanan Woromporongnge: Paccing, Tanete,
Lemo, Masalle, Macege, Belawa, Semuanya dibawah koordinasi Kajao Ciung dan Ketiga,
negeri-negeri yang memakai umbul merah di sebelah kiri Woromporongnge: Arasong, Ujung,
Ponceng, Ta, Katumpi, Padaccennga, Madello. Semuanya dibawah koordinasi Kajao Arasong.
(Lontarak Akkarungeng ri Bone; Kasim, 2002)
Seiring perkembangan Kerajaan Bone, peraturan pertanahan dan hukum warisan
diumumkan secara resmi pada waktu bersamaan untuk menjamin stabilitas hubungan di dalam
komunitas. Setelah genap berusia 72 tahun Arung Pone III mengumumkan kepada rakyat Bone
bahwa penguasa beikutnya adalah We Banrigau Daeng Marowa MakkaleppiE anaknya dari isteri
keduanya We Tenri Roppo Arung Paccing.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 5

Inilah untuk pertama kalinya Kerajaan Bone dipimpin oleh seorang perempuan. We
Banrigau Daeng Marowa Makkaleppie naik takhta menggantikan ayahnya Arumpone La Saliyu
Karampelua. We Banrigau digelari pula Bissu Lalempili. (Makkulau, 2009). Di masa
pemerintahan Arumpone I Benri Gau Daeng Marowa Arung Matajang, Kerajaan Bone mencapai
stabilitas dalam negeri yang mantap serta pertanian yang berhasil. Raja perempuan pertama
Kerajaan Bone (1470 1489) ini tidak meneruskan pendahulunya dalam perluasan wilayah
kekuasaan tetapi aktif dalam upaya mengintensifkan perluasan lahan pertanian. Membeli bulu
(gunung) Cina dengan menukarnya 90 ekor kerbau, dan sawah di sekitar Kampung Laliddong
dengan menukarnya 30 ekor kerbau.
Akan tetapi terjadi pemberontakan pada masa pemerintahannya, yang dilakukan oleh La
Dati Arung Katumpi karena persoalan pelaksanaan pembelian areal persawahan, namun
pemberontakan tidak berlansung lama, karena beliau dapat mengatasinya. Dan setelah
memerintah selama 20 tahun lamanya, ia kemudian menyerahkan kekuasan kepada putranya La
Tenrisukki. Setelah pelantikan ia pun meninggalkan Kerajaan Bone bersama keluarganya dan
pergi menetap di Cina bersama keluarganya hingga ia menghilang dan diberilah ia gelar
Mallajang ri Cina.
Pada masa pemerintahan Raja Bone V, La Tenrisukki sebagai pewaris takhta dari ibunya, I
Benriwa Gau. La Tenrisukki merupakan Arumpone (Raja Bone) pertama yang disebutkan
memiliki hubungan dengan kerajaan besar lain di Sulawesi Selatan. Arumpone ini memerintah di
akhir Abad XV sampai permulaan Abad XVI. Di masa kekuasaannya, La Tenrisukki berhasil
memukul mundur serangan militer Pajung Luwu, Dewaraja Batara Lattu. Setelah perang selesai
(Perang itu dikenal dengan Perang Cellu, karena Angkatan Perang Luwu berlabuh di Cellu
sebelum menyerang Bone. Perang Cellu dimenangkan oleh passiuno Bone.
Paska Perang Cellu, Arumpone mengadakan perjanjian dengan Datu Luwu To Serangeng
Dewaraja yang disebut Polo Malelae ri Unnyi (Gencatan senjata di Unnyi), karena terjadi di
Kampung Unnyi. Usai Perjanjian Polo MalelaE ri Unnyi ini, kedua raja ini, Arumpone dan Datu
Luwu kemudian kembali ke negerinya. Keseluruhan substansi perjanjian Unnyi tersebut tidak
mengandung unsur yang menetapkan tentang pembayaran kerugian perang dari pihak Luwu
(yang kalah perang) kepada pihak Bone (yang menang perang). Dengan demikian perjanjian
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 6

perdamaian tersebut menyimpang dari kelaziman perjanjian gencatan senjata, yang pada
umumnya menetapkan sanksi kerugian perang yang harus dibayar oleh negara agresor yang
kalah perang. Hal ini menunjukkan pendekatan kekeluargaan Arung Mangkaue La Tenrisukki
kepada Datu Luwu, Dewaraja.
Berdasarkan substansi materi perjanjian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada
hakekatnya Perjanjian Uunyi adalah perjanjian persekutuan antara Bone dan Luwu. Persekutuan
semacam ini, baru untuk pertama kalinya terjadi dalam Sejarah Kerajaan Bone. Arti strategis
Polo Malelae ri Unnyi bagi Bone, adalah suatu sukses di bidang politik dan militer. Dengan
peristiwa tersebut menampatkan Bone dalam posisi strategis dan prestise yang kuat terhadap
kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone bahkan juga kerajaan-kerajaan lainnya di
kawasan Sulawesi Selatan.
Setelah itu beliau juga menghadapi pemberontakan dari orang-orang Mampusalah satu
kerajaan di sekitar kerajaan Bone. Namun, sekali lagi pemberontakan tersebut dapat diselesaikan
oleh La tenri Sukki. Setelah beliau memerintah kurang lebih 27 tahun lamanya ia pun wafat. Dan
sebagi penggantinya ditunjuklah puteranya La Uliyo BoteE hasil perkawinanya dengan
sepupunya We Tenri Songke sebagai Raja Bone VI. Digelari BoteE karena Arumpone ini
memiliki postur tubuh yang subur (gempal).
Di masa pemerintahan La Uliyo BoteE, Luwu kembali menyerang Bone dan sekali lagi
dikalahkan. Bone kemudian memperoleh bantuan Gowa untuk memerangi sekutu utama Luwu
dan Wajo, namun persekutuan itu merupakan campur tangan tidak biasa bagi Gowa dalam
usahanya untuk merebut hegemoni disebelah timur semenanjung, belakangan Gowa memang
mengundurkan diri dan berkonsentrasi untuk mencapai harapannya di semenanjung barat
Sulawesi Selatan. Pada masa pemerintahannya pulalah Bone mulai dilirik oleh Gowa.
Arumpone inilah yang pertama didampingi oleh Kajao Laliddong. Dia pulalah yang
mengadakan perjanjian dengan KaraengE ri Gowa Daeng Matanre Karaeng Tumapakrisika
Kallonna. Peristiwa peresmian hubungan diplomatik pertama antara Bone dengan Gowa,
diupacarakan dengan pergelaran senjata sakti kedua kerajaan Sitettongenna SudengngE
Lateya Riduni di Tamalate. Kunjungan Raja Gowa secara formal dalam kunjungan kenegaraan,
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 7

dan berhasil membentuk hubungan persahabatan bilateral antara Gowa dengan Bone. Dengan
upacara khidmat memperhadapkan senjata kebesaran Kerajaan Bone dan senjata kebesaran
Kerajaan Gowa di Laccokang, Watampone, ibukota Kerajaan Bone (1538).
Setahun kemudian, Raja Bone, La Uliyo Botee melakukan pula kunjungan balasan ke
Gowa dan berhasil membentuk dual alliance antara Bone dengan Gowa yang disebut, Ulu Adae
ri Tamalate (Perjanjian Tamalate). Perjanjian tersebut berisikan bahwa Bone dan Gowa
bersepakat untuk saling memberikan bantuan militer bilamana ada di antara mereka dalam
keadaan bahaya ancaman militer. Ini merupakan sukses di bidang politik di masa kekuasaan La
Uliyo Botee. Setelah genap 25 tahun sebagai Arung Mangkaue ri Bone ditunjuklah La Tenri
Rawe BongkangE sebagai Raja Bone VII.
C. PERJANJIAN TELLUMPOCCOE
Perjanjian Tellumpoccoe adalah perjanjian yang melibatkan tiga kerajaan Bugis yaitu
Bone, Soppeng dan Wajo. Perjanjian ini bermula atas keinginan mempersaudarakan ketiga
kerajaan tersebut. Juga demi menentang agresi dari Kerajaan Gowa yang merupakan penguasa
adidaya pada masa itu.
Sebelum perjanjian ini bermula, pada masa La Tenri Rawe BongkangE yang naik takhta
sebagai Raja Bone VII menggantikan ayahnya La Uliyo BoteE, Raja Bone VI, telah terjadi
beberapa kali serangan dari Kerajaan Gowa yang pada mulanya disebabkan karena
penggabungan TellulimpoE (tiga wilayah) memasukkan Bone sebagai anggota yakni Luwu,
Gowa dan Bone.
Ketika terjadi pertempuran antara Gowa dan Bone, Wajo sebagai sekutu Gowa ikut serta
dalam pertempuran melawan Bone, setelah tiga hari lamanya pertempuran itu berlangsung
pasukan Bone terdesak, namun semangat pasukan Bone bangkit mengadakan penyerangan dan
akhirnya pasukan Kerajaan Gowa dan Wajo terpukul mundur.
Setelah itu Gowa kembali melakukan penyerangan, bersama dengan Raja Gowa Tonibata
yang sebelumnya sakit, akan tetapi ia tewas setelah kepalanya dipancung oleh pasukan Bone.
Lalu, Kajao lalidong mewakili Bone dan Karaeng Tallo mewakili Gowa mengaddakan
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 8

pertemuan yang menghasilkan perjanjian Ceppae ri Caleppa berisi tentang batas wilayah
kedua kerajaan di Selatan (Sungai Tangka).
Raja Gowa Karaeng Bonto Langkasa memeberi perintah kepada Arung Matoa Wajo
sebagai Abdi Gowa untuk mengangkut kayu dari pegunungan Barru ke pinggir laut untuk
dipergunakan mendirikan istanan di Tamalate sebagai ibukota Kerajaan Gowa.
Namun Arung Matoa Wajo merasa tidak senang karena diperlakukan sewenang-wenang,
maka hal tersebut disampaikan kepada Raja Bone. Setelah mengetahui hal tersebut Raja Bone
merasa tidak senang, dan ia pun mengajak Arung Matoa dan Datu Soppeng untuk bersama-sama
ke Barru.
Sesampainya disana Raja Gowa heran karena yang ia panggil hanya Raja Wajo, akan tetapi
Raja Bone dan Raja Soppeng juga ikut. Tetapi, Raja Bone menjawab bahwa Orang Wajo takut
melewati daerah yang tidak didiami manusia. Kemudian Raja Bone, Soppeng dan Wajo sama
sama memotong tali pengikat kayu kayu itu secara bergantian dengan menyanyikan lagu yang
intinya sesama kerajaan yang terintimidasi menginginkan adanya perlawanan dengan
menyatukan kekuatan.
Setelah kejadian itu, mereka bermusyawarah untuk menyerang Cenrana tujuh hari akan
datang. Pada hari yang ditentukan mereka pun menyerang dan membakar Cendrana yang mana
merupakan wilayah kekuasaan Gowa pada waktu itu. Lalu mereka sepakat kembali ke Timurung
untuk mempererat persaudaraan mereka dalam menghadapi serangan-serangan dari Kerajaan
Gowa.
Di Timurung mereka bertemu kembali dan mengadakan perjanjian persaudraan yang
kemudian disebut dengan TellumpoccoE (tiga puncak) dengan bersama-sama menanamkan batu
sebagai simbol persaudaraan di Timurung (Lamumpatue ri Timurung) pada tahun 1582 M.
Dalam proses perjalanannya Raja Gowa yang mengetahui hal ini marah dan selalu
melancarkan serangan terhdapa sekutunya (Wajo) yang berkhianat. Dua tahun setelah perjanjian
TellumpoccoE diadakan, La tenri Rawe meninggal karena penyakit yang dideritanya. Sebagai
penggantinya ialah saudaranya La Inca, yang ditunjuk sebagai Raja Bone ke VIII. Pada tahun
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 9

1585 terjadilah perang antara Bone dan Gowa dalam memperebutkan kekuasaan. Kepemimpina
La Inca, tidak sebaik saudaranya, pemberontakan terjadi dimana-mana hingga ia akhirnya mati
diatas tangga istana setelah menjabat selama 11 tahun lamanya. Sesuai anjuran Arung Majang,
maka ditunjuklah La Pattawettu menggantikan La Inca sebagai Arumpone XI. Pada masa La
Pattawettu tidak terlalu banyak disebut pemerintahannya, juga tidak diberitakan adanya serangan
militer Gowa ke Bone. Hanya dikatakan bahwa setelah tujuh tahun menjadi Mangkau di Bone,
ia pergi ke Bulukumba dan di situlah beliau sakit pada tahun 1602. Takhta raja pun diserahkan
pada puterinya, We Tenri Tuppu (1602-1611) yang mengendalikan kerajaan Bone selama 9
tahun lamanya.
Pada tahun 1607, Raja Gowa mengirimkan armada perangnya untuk menyerang daerah-
daerah bugis. Namum Tellumpoccoe berhasil mencegatnya dan terjadilah perang selama tiga
yang dimenangkan oleh Tellumpoccoe. Selang tiga bulan, pasukan gabungan Tellupoccoe
melancarkan serangan di Akkotengeng. Dan sekali lagi, Kerajaan Gowayang dibantu oleh
sekutunya mengalami kekalahan.
Enam bulan setelahnya, Kerajaan Gowa tidak kehilangan semngatnya. Mereka
memperkuat sekutu dan membuat benteng di daerah Rappeng, namun berselang tiga hari Raja
Gowa meninggalkan benteng lalu kembali ke Makassar. Melihat hal tersbut, pasukan gabungan
Tellumpoccoe mengepung dan menyerang sisi pertahanan Kerajaan Gowa di Rappang, namun
pasukan gabungan Tellumpoccoe terdesak mundur dan mereka kembali ke negerinya masing-
masing.
Mundurnya pasukan Tellumpoccoe merupakan gambaran bagi Kerajaan Gowa bahwa tidak
terkoordinirnya pasukan Tellumpoccoe. Maka Raja Gowa terus meningkatkan pasukannya untuk
penyerangan selanjutnya.
Lima bulan setelah itu, Raja Gowa melanjutkan ekspansinya dengan menyerang Kerajaan
Soppeng, lalu dilanjutkan dengan serangan terhadap kerajaan Wajo, setelah itu dilanjutkan
dengan serang terhadap kerajaan Bone. Dengan semuanya berakhir pada kemenangan di
Kerajaan Gowa.
D. ISLAMISASI BONE
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 10

Proses Islamisasi di Bone tidak terlepas dari proses Islamisasi pada Kerajaan Gowa. Yang
mana proses Islamisasi Kerajaan Gowa, dilakukan oleh Datu ri Bandang. Setelah Islamnya
Kerajaan Gowa, penyebaran Islam pun dimulai. Sultan Alauddin melakukan penyebaran-
penyebaran Islam secara damai. Pertama-tama ia lakukan dakwah Islam terhadap kerajaan-
kerajaan tetangga. Alasan beliau berdasarkan perjanjian yang berbunyi ... bahwa barangsiapa
menemukan jalan yang lebih baik, maka ia berjanji akan memberitahukan kepada raja-raja
sekutunya.
Akan tetapi jalan damai tidak berlaku bagi Bone. Dalam hal ini Bone bersama sekutunya
tidak mempercayai penyebaran Islam yang dilakukan kerajaan Gowa tidak berdasarkan
ketulusan melainkan bersifat politis. Alasan tersbut beralasan, karena dalam sejarah sebelum
masuknya Islam telah tejadi benturan-benturan terhadap kedua kerajaan. Menurut mereka ini
adalah siasat Gowa untuk menguasai mereka.
Akhirnya terjadilah Perang yang dikenal dengan musu sellenge atau perang peng-Islaman.
Seperti telah dituliskan sebelumnya telah terjadi perang pada tahun 1607-1611. Yang berangsur-
angsur memaksa Soppeng memeluk Islam pada tahun 1609 M, Wajo pada tahun 1610 M dan
Bone pada tahun 1611 M dengan perjanjian bahwa pemerintahan kerajaan tetap berada pada
tangan mereka.
Islam masuk di Bone pada masa La Tenri Ruwa sebagai Raja Bone XI pada tahun 1611 M
dan ia hanya berkuasa selama 3 bulan. Sebabnya, karena beliau menerima Islam sebagai
agamanya padahal dewan adat Ade Pitue bersama rakyat menolak ajakan tersebut. Akhirnya
beliau meninggalkan Bone, kemudian ke Makassar mempelajari agama Islam lebih mendalam
dan meninggal di Bantaeng.
Perlu diketahui sebelum Sultan Adam Mattindroe ri Bantaeng atau La Tenri Ruwa
memeluk Islam. Sudah ada rakyat Bone juga yang telah memeluk Islam, bahkan Raja
sebelumnya We Tenri Tuppu karena mendengar Sidendreng telah memeluk Islam ia pun tertarik
untuk mempelajarinya dan wafat disana. Sehingga ia digelari Mattinroe ri Sidendreng.
Setelah dimazulkannya La Tenrirua dan diangkat penggantinya La Tenripale Arung
Timurung dalam tahun 1611. Arumpone La Tenri Pale To Akkeppeang Arung Timurung (1611
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 11

1625), adalah anak dari La Inca MatinroE ri Addenenna. Inilah Mangkaue yang membangkitkan
kembali semangat orang Bone menolak Islam, yang menurut pemahamannya adalah pintu masuk
Gowa mau menjajah Bone.
Akan tetapi, rakyat Bone dibawah Arumpone La Tenri Pale tak dapat berbuat banyak
digempur dengan pasukan besar Gowa, segera setelah itu Bone resmi menjadi daerah takluk
Gowa dan secara formal pula Bone memeluk Agama Islam (1611). Seluruh Arung Palili (Raja
negeri bawahan Bone) diundang untuk mengucapkan syahadat tanda masuk Islam. Fakta tersebut
menunjukkan bahwa Islam masuk di Bone melalui tekanan militer Gowa.
Setahun setelah orang Bone menerima Islam, Arumpone La Tenri Pale ke Tallo (Makassar)
menemui Dato ri Bandang. Diberilah nama Islam, Sultan Abdullah dan diumumkan pemberian
nama itu dalam suatu khutbah Jumat. Selama masa pemerintahan La Tenripale Towakkapeyang
(1611-1631), penaklukan Gowa atas Bone tidak terlalu membawa penderitaan bagi rakyat Bone,
karena hubungannya dengan Sultan Alauddin terjalin dengan baik.
Lalu pada masa La Maddaremmeng (1625-1640) yang menggantikan pamannya La
Tenripale Toakkeppeang Matinroe ri Tallo menjadi Arumpone XIII. La Maddaremmeng
mengamalkan Islam lebih ketat dibanding kerajaan lain termasuk Gowa-Tallo, di antara
gebrakannya yang terkenal adalah menghapus sistem perbudakan Ata, karena manusia dilahirkan
tidak untuk diperbudak; juga menghukum berat para penyembah berhala atau mensakralkan
tempat dan benda-benda tertentu; pelaku zina; pencurian; miras, dan berbagai bentuk
kemungkaran lainnya. Inilah sejarah awal penerapan syariat Islam secara formal. Maka terjadilah
perlawanan dari para bangsawan Bone bahkan perlawanan tersebut dipimpin langsung oleh Ibu
La Maddaremmeng sendiri yaitu Datu Pattiro we Tenrisolorengbeliau menolak ajaran Islam versi
anaknya karena diangganya keras dan tidak toleran, ibunya lebih tertarik dengan ajaran Islam
versi kerajaan Gowa-Tallo karena lebih sufistik dan klop dengan ajaran kepercayaan pra-Islam di
Bone.
Tercatat dalam Sejarah Bone tentang kepatuhan La Maddaremmeng dalam menjalankan
ajaran Islam dan mengimplementasikannya dalam pemerintahannya. Bahkan diusahakan pula
agar kerajaan tetanggnya seperti Soppeng, Wajo dan Ajattapareng menirunya, khususnya dalam
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 12

memerdekakan hamba sahaya, kecuali yang memang budak turun temurun, sedang mereka
inipun harus diperlakukan manusiawi. Baginda bertindak keras tanpa pandang bulu terhadap
siapapun yang melanggar kebijaksanaannya. Meski begitu, tak sedikit pula bangsawan dalam
Kerajaan Bone sendiri yang menentang penghapusan perbudakan.
Dengan dalih menciptakan stabilitas keamanan dalam negeri Bone dan penentangan
terhadap penghapusan perbudakan, Gowa dibawah pemerintahan Karaenge, Sultan Malikus
Said kembali menyerang Bone (1644). Ini berarti Gowa sendiri tidak mau dan tidak menyetujui
penghapusan perbudakan. La Maddaremmeng menghadapi perang tersebut dengan dibantu
saudaranya, La Tenriaji Tosenrima, namun serangan Gowa secara besar besaran tersebut tak
dapat ditahan pasukan Bone, Arumpone akhirnya menyingkir ke daerah Larompong. Di Cimpu,
Arumpone ditawan lalu dibawa ke Gowa, diasingkan di suatu kampung bernama Sanrangang
(1644). Rakyat dan Hadat Bone akhirnya mengangkat La Tenriaji To Senrima sebagai
Arumpone untuk melanjutkan perjuangan melawan Gowa. La Maddaremmeng dikembalikan ke
Bukaka dan disanalah Arumpone ini meninggal, hingga digelari Matinroe ri Bukaka.
Daftar Arumpone (Raja) Bone:
1. Matasilompo [Manurungng ri Matajang] (1392-1424)
2. La Umassa Petta Panr Bessi [ Petta Paladeng - Arung Labuaja ] Matinroe Ri Bengo
[To' Mulaiy Ranreng] (1424-1441)
3. La Saliyu Karampluwa/Karang Plua' [Pasadowakki] (1441-1470)
4. We Ban-ri Gau Dang Marawa Arung Majang Makaleppi Bisu-ri Lalengpili Petta-ri La
Welareng [Malajangng ri Cina] (1470-1490)
5. La Tenri Sukki Mappajungng (1490-1517)
6. La Uliyo/Wuliyo Bot' [Matinro-ri Itterung] (1517-1542)
7. La Tenri Rawe Bongkangng [Matinro-ri Gucinna] (1542-1584)
8. La Icca'/La Inca' [Matinro-ri Adnnna] (1584-1595)
9. La Pattawe [Matinro-ri Bettung] (15xx - 1590)
10. We Tenrituppu [Matinro ri Sidnrng] (1590-1607)
11. La Tenrirua [Matinro ri Bantang] (1607-1608)
12. La Tenripal [Matinro ri Tallo] (1608-1626)
13. La Ma'daremmng Matinro ri Bukaka (1626-1643)
14. Tobala', Arung Tant Riawang, dijadikan regent oleh Gowa (1643-1660)
15. La Ma'daremmng Matinro ri Bukaka (1667-1672)
16. La Tenritatta Matinro ri Bontoala' (Arung Palakka) Petta Malampe' Gemme'na Dang
Srang (1672-1696)
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 13

17. La Patau Matanna Tikka Walinono To Tenri Bali Mala Sanrang Petta Matinro ri
Nagaulng (1696-1714)
18. Batari Toja Dang Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zainab Zakiyat ud-din
binti al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [Matinro-ri Tippuluna] (1714-1715) (masa
jabatan pertama)
19. La Padassajati/Padang Sajati To' Apaware Paduka Sri Sultan Sulaiman ibni al-Marhum
Sultan Idris Azim ud-din [Matinro-ri Bula] (1715-1720)
20. Bata-ri Toja Dang Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zainab Zakiat ud-din
binti al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [Matinro-ri Tippuluna] (1715) (masa jabatan
kedua)
21. La Pareppa To' Aparapu Sappwali Dang Bonto Madanrang Karang Anamonjang
Paduka Sri Sultan Shahab ud-din Ismail ibni al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din (1720-
1721). Ia menjadi Sultan Gowa [Tumamenanga-ri Sompaopu], Arumpone Bone, dan
Datu Soppeng.
22. I-Mappaurangi Karang Kanjilo Paduka Sri Sultan Siraj ud-din ibni al-Marhum Sultan
'Abdu'l Kadir (1721-1724). Menjadi Sultan Gowa dengan gelar Tuammenang-ri-Pasi dan
Sultan Tallo dengan gelar Tomamaliang-ri Gaukana.
23. La Panaongi To' Pawawoi Arung Mampu Karang Bisi Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah
Mansur ibni al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [Tuammenang-ri Bisi] (1724)
24. Batari Toja Dang Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zainab Zakiat ud-din
binti al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [Matinro-ri Tippuluna] (1724-1738) (masa
jabatan ketiga)
25. I-Danraja Siti Nafisah Karang Langelo binti al-Marhum (1738-1741)
26. Batari Toja Dang Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zainab Zakiat ud-din
binti al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [Matinro-ri Tippuluna] (1741-1749) (masa
jabatan keempat)
27. La Temmassog Mappasossong To' Appaware' Petta Paduka Sri Sultan 'Abdu'l Razzaq
Jalal ud-din ibni al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [Matinro ri-Malimongang] (1749-
1775)
28. La Tenri Tappu To' Appaliweng Arung Timurung Paduka Sri Sultan Ahmad as-Saleh
Shams ud-din [Matinro-ri-Rompgading] (1775-1812)
29. La Mappatunru To Appatunru' Paduka Sri Sultan Muhammad Ismail Muhtajuddin
[Matinro-ri Laleng-bata] (1812-1823)
30. I-Manng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiat ud-din [Matinro-ri Kassi] (1823-1835)
31. La Mappasling Paduka Sri Sultan Adam Nazim ud-din [Matinro-ri Salassana] (1835-
1845)
32. La Parnrngi Paduka Sri Sultan Ahmad Saleh Muhi ud-din [Matinro-ri Aja-bntng]
(1845-1858)
33. La Pamadanuka Paduka Sri Sultan Sultan Abul-Hadi (1858-1860)
34. La Singkeru Rukka Paduka Sri Sultan Ahmad Idris [Matinro-ri Lalambata] (1860-1871)
35. I-Banri Gau Paduka Sri Sultana Fatima [Matinro-ri Bola Mappar'na] (1871-1895)
36. La Pawawoi Karang Sigri [Matinro-ri Bandung] (1895-1905)
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 14

37. Haji Andi Bacho La Mappanyuki Karang Silaja/Selayar Sri Sultan Ibrahim ibnu Sri
Sultan Husain (1931-1946) (masa jabatan pertama)
38. Andi Pabntng Dang Palawa [Matinro-ri Matuju] (1946-1950)
39. Haji Andi Bacho La Mappanyuki Karang Silaja/Selayar Sri Sultan Ibrahim ibnu Sri
Sultan Husain [Matinro-ri Gowa] (1950-1960) (masa jabatan kedua diangkat oleh
Belanda)

40. Arung Bocco Petta Daru / Petta Pangulu / Petta Ponggawa / Petta Paladeng [MatinroE-ri
Bengo] (1827-1904) (setelah wafat tidak ada mangkau di bone selama 20 thn)
41. Ratu Bessi Kejora Saudara Kandung Dari Arung Bocco Petta Pangulu / Petta Ponggawa /
Petta Paladeng [MatinroE-ri Kajuara]] ) (Adalah keturunan Langsung Dari Almarhum
Jendral M.Yusuf)"

E. ARUNG PALAKKA DAN KOLONIAL
Arung Palakka atau La Tenri Tatta Arung Palakka
MalampeE Gemmena Petta To RisompaE (1667-1696) adalah
Raja Bone XV dicap pemerintah sebagai pengkhianat. Oleh
sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan yang tak
memahami sejarah yang sebenarnya memang akan mudah
tergiring opini Arung Palakka sebagai Pengkhianat berdasar
fakta bahwa Arung Palakka-lah yang bersekutu dengan Belanda
menyerang Kerajaan Gowa. Sejarah itu kemudian terlukis
dalam Perang Makassar (1667) dan menjadi penyebab jatuhnya
Kerajaan Gowa sebagai imperium besar di Nusantara bagian
timur.
Dalam Lontarak Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa La Tenri Tatta Arung Palakka
baru berusia 11 tahun, ketika Kerajaan Bone dibawah kepemimpinan La Tenri Ruwa diserang
dan dikalahkan oleh Kerajaan Gowa (1611) di masa kekuasaaan I Mangerangi Daeng Manrabia
Sultan Alauddin. Orang tuanya La Pottobune ditangkap dan ditawan bersama Arumpone La
Tenri Ruwa serta bangsawan Bone lainnya. Penaklukan Bone oleh Gowa tersebut dikenal dalam
sejarah bernama Musu Pasempe (Perang di Pasempe). Paska Perang inilah, rakyat Bone
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 15

bersama raja dan bangsawannya digiring ke Gowa, dijadikan tenaga kerja paksa dalam
membangun Benteng - benteng Makassar.
Singkat cerita, La Tenri Tatta Arung Palakka dan semua bangsawan Bugis Bone Soppeng
merasakan siri yang luar biasa, rasa malu dan harga dirinya tercabik - cabik diperlakukan tak
berperikemanusiaan. Arung Palakka menggabungkan diri dan bekerja juga sebagai penggali parit
dan pembuat benteng. Ia ikut merasakan bagaimana penderitaan bangsanya disiksa oleh
punggawa dan bangsawan Gowa yang mengawasi pekerjaan itu. Ayah Arung Palakka, La
Pottobune meninggal di Gowa paska diadakannya perburuan rusa di Tallo oleh Karaeng Gowa
dan para pengawalnya. La Pottobune Datu Lompulle mengamuk karena membela dua pelarian
kerja paksa bangsanya yang tidak tahan dilihatnya disiksa dan dipukuli. Dalam lontarak disebut
bahwa sejak kejadian itu, La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka tidak bisa lagi tidur.
Setiap saat yang dipikirkannya adalah bagaimana menegakkan kembali kebesaran Tanah Bone.
Kisah selanjutnya, dalam Lontarak Bone disebutkan bagaimana kisah Arung Palakka
melarikan diri bersama bangsawan bugis Bone Soppeng lainnya dari barak-barak kerja paksa,
terjadinya pengejaran terhadap dirinya, perjalanannya ke kerabatnya Bangsawan Bone Soppeng
dalam meminta dukungan, sumpah Arung Palakka ketika akan menyeberang dari Tanah Bugis
ke Tanah Buton (1660). Dan dari Buton, perjalanannya diteruskan ke Batavia (1663) untuk
mencari sekutu dalam memerangi Gowa. Ketika Arung Palakka menawarkan persekutuan
kepada Belanda, Belanda sempat ragu namun setelah melihat sendiri kehebatan Arung Palakka
dan pasukan pelariannya dalam Perang Pariaman di Sumatera Barat maka yakinlah Belanda akan
dapat memenangkan pertempuran melawan Gowa dengan bantuan pasukan Bugis. Kerajaan
Gowa sendiri ketika itu telah menjadi negara yang modernis, sebagai imperium besar di
Nusantara Bagian Timur dengan pasukan militer darat dan laut yang tangguh.
Dalam sejarah kemudian dikenal, terjadi Perang Makassar (1667) yang menjadi
malapetaka runtuhnya dinasti Kesultanan Gowa. Posisi Arung Palakka selanjutnya dipertanyakan
banyak sejarawan, namun seiring dengan semakin membaiknya pemahaman masyarakat akan
sejarah dalam konteks sejarah lokal, dapat dipahami alasan Arung Palakka memerangi Gowa.
Sejarawan asal Amerika, Dr Leonard Y. Andaya dalam buku Warisan Arung Palakka - Sejarah
Sulawesi Selatan Abad XVII mengurai betapa terkunkungnya dominasi Belanda menguasai
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 16

daratan Sulawesi Selatan selama Arung Palakka masih hidup dan menjadi penguasa atasan atas
semua negeri taklukan paska Perjanjian Bungaya (1668).
Sepeninggalnya, Arung Palakka telah meletakkan dasar-dasar hegemoni politik dengan
cara mengawinkan mawinkan kemenakannya, La Patau Matanna Tikka dengan Gowa dan Luwu,
yang diangkatnya menjadi Raja Bone XVI. Arung Palakka pun kini di mata masyarakat Bugis,
khususnya Bone - Soppeng dijuluki sebagai Sang Pembebas, bukan sebagai pengkhianat. Andi
Sultan Kasim (2002) menyebut julukan tersebut adalah hal yang pantas, karena ketika itu Bone
adalah sebuah negara (kerajaan) yang merdeka dan berdaulat, sama halnya dengan Gowa, wajar
jika seorang Arung Palakka menuntut dan memperjuangkan kemerdekaan atas bangsanya.
F. RUNTUHNYA KERAJAAN BONE
Sejak runtuhnya Kerajaan Gowa pasca munculnya Perjanjian Bongaya, Kerajaan Bone
bangkit menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh paling besar. Hingga awal XX,
Kerajaan Bone memainkan peran penting dalam sejarah politik di Sulawesi Selatan.
Pada abad XIX Kerajaan Bone menjadi saingan Belanda dalam memperluas kekuasaan
dalam bidang ekonomi dan politik. Akibatnya, kedua penguasa ini pernah terlibat dalam perang
besar. Dalam sejarah daerah ini, perang itu terjadi pada tahun 1824-1825 yang bermula setelah
Sultan Bone meninggal pada tahun 1823, dan digantikan oleh saudarinya Aru Datu (bergelar I-
Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiat ud-din), pemerintah kesultanan mencoba
merevisi Perjanjian Bongaya, beserta semua anggota persekutuan itu, yang jatuh atas
pemerintahan itu, hukum yang sama harus diberlakukan. Antara tanggal 8 Maret sampai 21
September 1824, GubJend. G.A.G.Ph. van der Capellen mengadakan lawatan ke Sulawesi dan
Kepulauan Maluku; semua penguasa datang memberikan penghormatan (juga perwakilan Ratu
Bone), kecuali penguasa Suppa dan Tanete. Van der Capellen berharap bahwa perundingan
dengan negara-negara tersebut tidak akan membawa keuntungan apapun; sekembalinya ke
Batavia, sebuah ekspedisi dipersiapkan dan sekitar 500 prajurit diberangkatkan dengan
membawa 4 meriam, 2 howitzer, beserta 600 prajurit pembantu pribumi untuk menghukum
Bone.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 17

Sultan yang kini terguling lari ke pedalaman dan penduduk tetap melancarkan serangan
atas Belanda namun masalah di Tanete cepat dibereskan dengan baik. Meskipun Suppa masih
kuat; Letkol. Reeder melancarkan serangan bersama 240 prajurit yang dipersenjatai sejumlah
moncong senjata; pada tanggal 14 Agustus serangan diperbaharui: orang Bugis membiarkan
pasukan Belanda mendekat tanpa ancaman apapun hingga di kaki sebuah bukit dan barulah
mereka melancarkan serangan; setelah kehilangan sepertiga pasukannya, Belanda harus mundur.
De Stuers menyerbu bersama komisaris pemerintahan Tobias ke Suppa dan makin mendekat;
pada pagi hari tanggal 30 Agustus, operasi itu berhasil diselesaikan, setelah tembakan meriam
peringatan ke benting musuh, namun kekuatan yang dibawa De Stuers tak cukup kuat. Dengan
korban tewas sebanyak 14 jiwa dan 60 korban luka-luka, pasukan Belanda harus kembali dan
harus melancarkan ekspedisi lain.
Lalu berturut-turut perang terjadi pada tahun1859-1860 dan perang yang terjadi pada tahun
1859-1860. Hingga Serangan yang dilancarkan pemerintah Kolonial pada tahun1905 yang
menandai berakhirnya Kerajaan Bone pada masa La Pawawoi Karaeng Segeri.
Sekali lagi, Pemerintah Kolonial ingin meneggakkan supremasinya terhadap seluruh
wilayah Sulawesi Selatan. Kolonial Belanda menganggap Bone telah melanggar perjanjian
sebelumnya bahwa Bone tidak boleh memperluas wilayah kekuasaanya, hingga munculnya bukti
invasi militer Bone di Tana Toraja dan Wajo 1897-1900. Gubernur Hindia Belenda Baroon van
Hoevell mengeluarkan surat perintah penghapusan penguasa pribumi Bone pada Maret 1903.
Akhirnya pada Julli 1905 dilancarkanlah serangan terhadap Kerajaan Bone oleh Belanda
melalui pelabuhan Bajoe. Dengan berakhir pada kemenangan Belanda. Akan tetapi, Karaeng
Segeri mengungsi menuju pedalaman, untuk mengumpulkan pasukan dan menyemangati para
pejuang yang tersisa.
Sementara pengejaran terhadap La pawawoi terus dilakukan, Tomarilalang bersama lima
anggota Dewan Adat Bone menyatakan tunduk terhadap Belanda. Ditambah semakin
terdesaknya para pejuang Bone hampir disetiap pertempuran dan kematian Panglima tertinggi
perang Kerajaan Bone Petta Ponggawae Baso Pangilingi Abdul Hamid. Perang pun berakhir,
Raja Bone La pawawoi sudah tidak memiliki daya lagi untuk mempertahanya pada kerajaan. Ia
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 18

pun akhirnya harus ditahan, dan diputuskan dikirm ke Bandung, dimana ia kemudian
mengehembuskan nafas terkhirnya pada Januari 1911.




G. PENINGGALAN KERAJAAN BONE











TEDDUNG PULAWENG (Payung Emas)
Teddung Pulaweng merupakan payung pusaka Kerajaan Bone yang telah ada sejak zaman
kejayaan Raja Bone ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka (16541696). Pusaka ini merupakan
suatu pusaka Kerajaan yang diterima oleh Kerajaan Bone sebagai bentuk penghargaan dari
Kerajaan Pariaman, yang merupakan wujud sikap persaudaraan antara dua Kerajaan. Sesudah
Pemerintahan Raja Bone XV, maka Pusaka ini menjadi suatu alat perlengkapan Resmi
Pengangkatan dan Pelantikan Raja-Raja hingga Ke Masa Raja Bone terakhir.
Susunan dan bentuk:
Tongkat Payung mempunyai tinggi 18 ruas yang terbuat dari emas.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 19

Daun Payung bermahkotahkan emas, dikelilingi 11 anting emas.
Meliputi 72 helai jari-jari yang dilengkapi dengan 71 buah anting-anting kecil serta 57 buah
anting besar yang terbuat dari emas.
Pada kain Payung, tampak dihiasi dengan 2 susun lilitan rante emas, sebagai tanda kesatuan
persaudaraan antara Kerajaan Bone dan Kerajaan Pariaman.

LA MAKKAWA (Keris)
La Makkawa merupakan keris yang disebut juga Tappi Tatarapeng. Keris ini juga
merupakan pusaka Raja Bone ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka. Keris Pusaka ini seluruh hulu
dan sarungnya berlapis emas. Pada zamannya, pusaka ini dipergunakan oleh Arung Palakka
dalam setiap pertempuran melawan musuh kerajaan. Pusaka ini memiliki sifat ketajaman serta
sangat berbisa, sehingga sekali tergores (terluka) maka akan meninggal dalam sekejap waktu
atau dalam bahasa bugis disebut Makkawa. Pusaka ini juga merupakan salah satu perlengkapan
resmi dalam upacara pelantikan dan pengangkatan Raja-Raja Bone.






ALAMENG TATA RAPENG (Senjata Adat)
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 20

Pusaka Kerajaan ini adalah jenis Kalewang yang hulu serta sarungnya berlapis emas, dan
merupakan kelengkapan pakaian kebesaran Anggota Ade Pitu.










SEMBANGENGPULAWENG (Selempang Emas)
Sembangengpulaweng merupakan pusaka Kerajaan Bone yang ada pada masa Raja Bone
yang ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka. Pusaka ini dipersembahkan kepada Pemerintah
Kerajaan Bone sebagai penghargaan atas keberhasilan Kerajaan Bone membangun kerja sama
dengan Raja Pariaman. Pusaka ini kemudian menjadi perlengkapan resmi dalam upacara
pelantikan dan penobatan Raja-Raja
Susunan dan bentuk :
Terbuat dari emas berbentuk rantai-rantai yang berukuran besar dengan jumlah 63 potongan
dengan panjang 1,77 meter dengan berat seluruhnya mencapai 5 kg
Pada ujungnya tergantung 2 buah medali emas bertuliskan bahasa Belanda sebagai tanda
penghormatan kerajaan Belanda kepada arung Palakka Raja Bone ke-15.








Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 21

LA SALAGA (Tombak)
Las Salaga merupakan sebuah Tombak yang pegangannya dekat mata tombak dihiasi
emas. Tombak ini merupakan symbol kehadiran Raja.

LA TEA RIDUNI (Kalewang)
Sebuah Kalewang yang disebut Alameng serta hulunya berlapis emas dan dihiasi intan
permata. Pusaka ini merupakan Pusaka Raja Bone ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka.
Pusaka selalu dikebumikan bersama Raja yang mangkat, namun setiap kali itupun
memunculkan diri di atas Makam yang diliputi cahaya terang benderang.
Sehingga atas kejadian ini, maka pusaka ini disebut La Tea Ri Duni (yang tidak berkenan
untuk dikebumikan). Pusaka ini kemudian disimpan dan mendapat pemeliharaan, serta
dipergunakan sebagai perlengkapan resmi dalam upacara Pelantikan dan Pengangkatan Raja-
Raja Bone.


Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 22

KERAJAAN BANTAENG

Kabupaten Bantaeng adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Terletak dibagian selatan provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 395,83
km atau 39.583 Ha yang dirinci berdasarkan Lahan Sawah mencapai 7.253 Ha (18,32%) dan
Lahan Kering mencapai 32.330 Ha. Secara administrasi Kabupaten Bantaeng terdiri atas 8
kecamatan yang terbagi atas 21 kelurahan dan 46 desa. Jumlah penduduk mencapai 170.057
jiwa. Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat dan timur
sepanjang 21, 5 kilometer yang cukup potensial untuk perkembangan perikanan dan rumput laut.
Pada masa Kerajaan Bantaeng rakyat dipimpin oleh seorang Raja dengan gelar Karaeng,
yang mana pada saat itu memiliki kekuasaan yang sangat besar di daerah Bantaeng.
Bantaeng atau Bantayan pada awalnya sebagai Kerajaan yakni tahun 12541293 yang
mana diperintah oleh Mula Tau yang bergelar To Toa yang memimpin Kerajaan Bantaeng yang
terdiri dari 7 Kawasan yang masing diantaranya dipimpin oleh Karaeng, yaitu Kare Onto, Kare
Bissampole, Kare Sinoa, Kare Gantarang Keke, Kare Mamampang, Kare Katampang dan Kare
Lawi-Lawi, yang semua Kare tersebut dikenal dengan nama Tau Tujua.
Sesudah Mula Tau, maka Raja kedua yang memerintah yaitu Raja Massaniaga pada tahun 1293.
Pada tahun 1293 1332 dipimpin oleh To Manurung atau yang bergelar Karaeng Loeya.
Tahun 1332 1362 dipimpin oleh Massaniaga Maratung.
Tahun 1368 1397 dipimpin oleh Maradiya.
Tahun 1397 1425 dipimpin oleh Massanigaya.
Tahun 1425 1453 dipimpin oleh I Janggong yang bergelar Karaeng Loeya.
Tahun 1453 1482 dipimpin oleh Massaniga Karaeng Bangsa Niaga.
Tahun 1482 1509 dipimpin oleh Daengta Karaeng Putu Dala atau disebut Punta Dolangang.
Tahun 1509 1532 dipimpin oleh Daengta Karaeng Pueya.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 23

Tahun 1532 1560 dipimpin oleh Daengta Karaeng Dewata.
Tahun 1560 1576 dipimpin oleh I Buce Karaeng Bondeng Tuni Tambanga.
Tahun 1576 1590 dipimpin oleh I Marawang Karaeng Barrang Tumaparisika Bokona.
Tahun 1590 1620 dipimpin oleh Massakirang Daeng Mamangung Karaeng Majjombea
Matinroa ri Jalanjang Latenri Rua.
Tahun 1620 1652 dipimpin oleh Daengta Karaeng Bonang yang bergelar Karaeng Loeya.
Tahun 1652 1670 dipimpin oleh Daengta Karaeng Baso To Ilanga ri Tamallangnge.
Tahun 1670 1672 dipimpin oleh Mangkawani Daeng Talele.
Tahun 1672 1687 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Baso (kedua kalinya ).
Tahun 1687 1724 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Ngalle.
Tahun 1724 1756 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Manangkasi.
Tahun 1756 1787 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Loka.
Tahun 1787 1825 dipimpin oleh Ibagala Daeng Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang.
Tahun 1825 1826 dipimpin oleh La Tjalleng To Mangnguliling Karaeng Tallu Dongkonga ri
Bantaeng yang bergelar Karaeng Loeya ri Lembang.
Tahun 1826 1830 dipimpin oleh Daeng To Nace (Janda Permaisuri, Kr. Bagala Dg.
Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang ).
Tahun 1830 1850 dipimpin oleh Mappaumba Daeng To Magassing.
Tahun 1850 1860 dipimpin oleh Daeng To Pasaurang.
Tahun 1860 1866 dipimpin oleh Karaeng Basunu.
Tahun 1866 1877 dipimpin oleh Karaeng Butung.
Tahun 1877 1913 dipimpin oleh Karaeng Panawang.
Tahun 1913 1933 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 24

Tahun 1933 1939 dipimpin oleh Karaeng Mangkala.
Tahun 1939 1945 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang.
Tahun 1945 1950 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi (kedua kalinya).
Tahun 1950 1952 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang (kedua kalinya).
Tahun 1952 Karaeng Massoelle (sebagai pelaksana tugas ).
Pemerintah Masa Kerajaan ini berlangsung sejak abad XII dan berakhir pada masa sesudah
kemerdekaan, dan dalam penyelenggaraan pemerintahan Kerajaan itu, berlangsung pula
birokrasi pemerintahan Hindia Belanda secara bersama-sama.
MASA PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA
Pemerintahan birokrasi secara resmi dimulai ketika Pemerintahan Hindia Belanda sejak
tanggal 14 November 1737 menempatkan basis pemerintahan dengan status Afdeeling yang
membawahi beberapa wilayah Onder Afdeeling yang berpusat di Bantaeng, dengan pejabat
pemerintahannya disebut Residen Gezaghebber yang setingkat dengan Bupati sekarang ini.
Pusat Pemerintahan di wilayah selatan ini sangat strategis sebagai pusat niaga, dimana
Bhontain memiliki bandar pelabuhan yang maju sejak Kerajaan Singosari dan Majapahit dimasa
lalu dan bekas Kantor Residen Kepala Afdeeling Bonthain masih dapat dilihat Markas KODIM
1410 sekarang dan Kantor Pemerintahan Negara (KPN) sebagai Onder Afdeeling Bonthain
digunakan Kantor Polsek Bantaeng saat ini.
Sejak tahun 1727 hingga tahun 1941 tercatat 90 kali pergantian pejabat pemerintahan
dengan Residen pertama bernama Camerling seorang Belanda yang ditugaskan oleh Belanda
sebagai pejabat pemerintahan di dua daerah, yakni Bhontain dan Bulukumba. Kemudian sejak
tahun 1893 keresidenan diperluas dengan bergabungnya daerah Binamu (Jeneponto), dan
selanjutnya sejak tahun 1910 Afdeling Bonthain ketika Jepang menguasai Asia dan menjajah
Indonesia pada tahun 1942, maka berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda


Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 25

MASA PEMERINTAHAN JEPANG
Ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, pemerintahan Jepang
menguasai Bantaeng hingga tahun 1945 pusat pemerintahan ada di Makassar dengan pejabat
pemerintahan Jepang bernama Yamashita, yang meliputi seluruh daerah bagian selatan termasuk
Bantaeng.
Dalam masa pemerintahan Jepang, banyak pejuang didaerah ini ikut serta bersatu dengan
pejuang didaerah lain utnuk mewujudkan kemerdekaan Bangsa terutama menghadapi kekejaman
penjajah Jepang di Indonesia.
MASA PEMERINTAHAN NIT DAN RIS
Pada saat pemerintahan peralihan, khususnya setelah berdirinya Negara Indonesi Timur
dan Republik Indonesia Serikat, maka disusunlah pemerintahan baru dengan putera-putera
Indonesia asli sebagai pejabat. Untuk pertama kalinya di daerah ini, seorang pejabat pribumi
memimpin pemerintahan dengan jabatan Boofd Beestutrs Hoofd, yakni:
Abdurrachman Daeng Mamangung pada tahun 19491950
Mohammad Ali tahun 1950
Andi Sultan Daeng Radja tahun 1950 1951, yang kemudian menjabat kepala Afdeeling
dengan tetap membawahi Onder Afdeeling Bonthain, Bulukumba dan Selayar.
Abdul Latief Daeng Massiki kemudian menggantikan sementara tahun 1951, ketika Andi
Sultan Daeng Radja harus berangkat ke Jakarta sebagai salah seorang wakil Sulawesi ketika
menyatakan tekad dan dukungan kepada pemerintah Republik Indonesia dan menunjuk Dr. Sam
Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi.
MASA TERBENTUKNYA KABUPATEN DAERAH TK. II BANTAENG
BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 1959
Berdasarkan Undang-undang nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah-daerah
tingkat II di Sulawesi , maka status Bonthain sebagai daerah Afdeeling berakhir dan selanjutnya
menjadi Kabupaten Daerah Tingkat I Bonthain. Pada tahun itu juga, maka nama Bonthain
berubah menjadi Bantaeng dengan alasan nama itu tidak sesuai dengan alasan kemerdekaan,
karena nama Bonthain berbau ciptaan Belanda.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 26

Sebagai Bupati Kepala Daerah yang pertama ditunjuk adalah sebagai berikut:
1. A. Rivai Bulu yang dilantik pada tanggal 1 Februari 1960 oleh Gubernur Provinsi Sulawesi
Selatan hingga tahun 1965
2. Aru Saleh tahun 1965 sampai tahun 1966 menjabat Kepala Daerah sementara.
3. Haji. Solthan tahun 1966 sampai tahun 1971 berdasarkan hasil pemilihan secara
Demokratisyang pertama kali dilaksanakan didaerah ini melalui DPR, Haji Solthan
kemudian memasuki masa jabatan kedua tahun 1971 sampai tahun 1978
4. Drs. Haji Darwis Wahab selanjutnya terpilih menjadi Bupati Kepala Daerah tahun 1978
sampai tahun 1982 dan dilanjutkan pda masa jabatan kedua tahun 1982 sampai tahun 1988.
5. Drs. H. Malingkai Maknun menjabat Bupati KEpala Darah tahun 1988 sampai tahun 1993.
6. Drs. HM. Said Saggaf, M.Si. tahun 1993 sampai tahun 1998.
7. Drs. H. Asikin Solthan. M.Si. tahun 1998 sampai tahun 2003, dilanjut masa jabatan kedua
kalinya Tahun 2003 sampai tahun 2008. Perlu diketahui bahwa Drs. H. Azikin Sulthan.
M.Si. adalah sebagai Bupati Kepala Daerah pertama pada era reformasi hingga memasuki
berlakunya undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang merubah
status Bantaeng sebagai daerah Otonomi.
Maka pada tangga 25 Juni 208 terjadi sejarah baru di daerah Bantaeng yakni
diberlakukannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dimana dilaksankan pemilihan Pemimpin
Pemerintahan oleh Rakyat tanpa terwakili DPRD maka pada saat itulah hanya empat pasangan
putra terbaik di pilih rakyat yang diusung oleh sejumlah partai yang duduk di parlemen sebagai
wakil rakyat telah menempatkan yakni:
1. Drs. H. Syahan Solthan, M.Si.
2. DR. Ir. HM. Nurdin Abduah, M.Agr.
3. Ir. H. Arfandi Idris, S.H
4. H. Ibrahim Solthan, S.Sos.
Namun dalam pelaksanaan Pesta Demokrasi Rakyat Bantaeng yang ditentukan 127 ribu
suara rakyat dengan tingkat persentasi sebesar 46 persen, maka dengan secara otomatis DR. Ir.
HM. Nurdin Abdulla, M.Agr. terpilih sebagai pemimpin Bantaeng periode 2008 sampai tahun
2013.
Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 27


Rumah Adat Kabupaten Bantaeng


Balla Tujua di kabupaten Bantaeng

Kerajaan Bone dan Kerajaan Bantaeng

Kelompok 6 28


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Bone
http://jelajahi-imajinasiku.blogspot.com/2012/12/sejarah-bone-terbentuk-perkembangan-
dan.html
http://laskarbugies.blogspot.com/2013/03/profil-benda-benda-pusaka-kerajaan-bone.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bantaeng
http://www.bantaengkab.go.id/hal-sejarah-bantaeng.html