Anda di halaman 1dari 13

CARA KERJA DAN EFEK SAMPING OBAT PADA PEDIKULOSIS KAPITIS

ET PEDIKULOSIS PUBIS

A. PENDAHULUAN
Pedikulosis ialah infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh
Pediculus. Selain menyerang manusia, penyakit ini juga menyerang binatang. Oleh
karena itu, dibedakan menjadi Pediculus humanus dengan Pediculus animalis.
klasifikasi Pediculus humanus terbagi atas Pediculus humanus varian capitis yang
menyebabkan pedikulosis kapitis, Pediculus humanus var. corporis menyebabkan
pedikulosis korporis, Phthirus pubis menyebabkan pedikulosis pubis.
(1)
Pedikulosis pubis adalah infeksi rambut di daerah pubis yang disebabkan oleh
Phthirus pubis. Penyakit ini menyerang orang dewasa dan dapat digolongkan sebagai
Penyakit Menular Seksual (PMS) serta dapat pula menyerang jenggot dan kumis.
Rentang usia yang paling sering terkena kutu ini adalah antara 15-40 tahun,
dihubungkan dengan meningkatnya aktivitas seksual pada usia tersebut. Walaupun
penyebarannya biasanya dikaitkan dengan adanya aktivitas seksual, individu yang
tidak melakukan hubungan seksual juga dapat tertular melalui pakaian, handuk,
maupun kasur yang sudah terekspos.
(1-3)

Pedikulosis capitis adalah infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan
oleh Pediculus humanus var. capitis dan umumnya mengenai anak-anak berusia
antara 3-12 tahun, tetapi dapat pula mengenai orang dewasa dan cepat meluas dalam
lingkungan hidup padat, misalnya di asrama dan panti asuhan. Selain itu, kondisi
higene yang tidak baik menunjang dalam proses penyebaran, misalnya jarang
membersihkan rambut atau rambut yang relatif sulit dibersihkan. Cara penularannya
biasanya melalui perantara (benda), misalnya sisir, bantal, kasur, dan topi.
(1, 2)
Secara farmakologi, terapi dari kutu kepala difokuskan pada dua mekanisme
umum, yaitu neurotoksisitas yang menyebabkan kelemahan pada kutu, dan membuat
kutu menjadi lemas. Kebanyakan percobaan klinis menggunakan produk-produk
topikal, seperti sampo lindane 1%, losion permethrin 1%, dan losion malathion 0,5%.
Permethrin direkomendasikan sebagai lini pertama untuk terapi pedikulosis.
Pengobatan kutu rambut pubis sama dengan kutu kepala. Guideline dari
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2010 merekomendasikan
permethrin 1% sebagai lini pertama dan sebagai regimen alternatif, dapat digunakan
losion malathion 0,5% atau ivermectin oral 250 mcg/kgBB yang diulangi dalam dua
minggu. Terapi utama untuk kutu badan adalah mencuci baju dan alas tidur dengan
air panas dan mandi secara teratur. Terapi pedikulosit pada kutu badan biasanya tidak
dibutuhkan
Pengulangan terapi dibutuhkan untuk mengeradikasi kuman sepenuhnya
maupun siklus hidup dari kutu. Terapi awal yang diikuti dengan pemberian kedua
pada 7-10 hari kemudian diharapkan cukup untuk mengeradikasi kuman. Penelitian
dengan menggunakan terapi dosis tunggal tidak dapat mengevaluasi secara penuh
efektivitas dari terapi yang diberikan.
B. ETIOLOGI
Pedikulosis pubis disebabkan oleh Phthirus pubis. Kutu ini memiliki dua jenis
kelamin, jantan dan betina. Betina lebih besar daripada yang jantan, memiliki panjang
yang sama dengan jantan dan lebar 1-2 mm. Phthirus pubis memilki tubuh yang agak
lebar dan pendek, menyerupai kepiting, dan memiliki cakar yang bergerigi pada
tepinya yang memberikan daya cengkram dan tarik yang kuat sehingga kutu ini dapat
berpindah-pindah.

Kutu ini paling sering ditemukan di rambut kemaluan dan daerah
perianal, tetapi dapat juga ditemukan pada janggut, kumis, axilla, alis dan bahkan
bulu mata. Pada penderita hirsutisme, kutu ini juga dapat ditemukan pada rambut
halus di paha dan batang tubuh. Infestasi pada bulu mata dan tepi kulit kepala dapat
terjadi utamanya pada anak-anak, mungkin akibat kontak dengan orang tua yang
memiliki Phthirus pubis di tubuhnya.
(1-3)
Pedikulosis capitis disebabkan oleh Pediculus humanus var. capitis. Kutu
rambut ini menghisap darah, tidak bersayap, dan termasuk dalam ordo Anoplura.
Kutu ini juga memiliki 2 mata dan 3 pasang kaki yang berbentuk seperti cakar yang
memiliki fungsi untuk mencengkram rambut. Seluruh siklus hidup Pediculus
humanus var. capitis berlangsung di kulit kepala. Terdapat dua jenis kelamin, yaitu
jantan dan betina. Betina memiliki ukuran panjang 1,2 - 3,2 mm dan memiliki lebar
kurang lebih panjangnyan Jantan memiliki ukuran lebih kecil dan jumlahnya hanya
sedikit. Kutu betina bertelur 5-10 buah perhari selama masa hidupnya yang
berlangsung 30 hari. Setelah 10 hari, telur-telur tersebut akan menetas dan
mengeluarkan larva yang biasa disebut Nymph atau Instars. Instars tampak seperti
miniatur kutu dewasa dan akan mengalami tiga tahap perkembangan yang
berlangsung selama 14 hari hingga menjadi matur.
(1, 2)
Berikut ini adalah gambaran
morfologi kutu pubis dan kutu rambut :






Gambar 1
(5)
Gambar 2
(5)
(Kutu Rambut) (Kutu Pubis)

C. PATOFISIOLOGI
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan
rasa gatal. Gatal tersebut timbul karena pengaruh liur dan ekskreta yang dimasukkan
ke dalam kulit sewaktu kutu menghisap darah. Produk kutu yang dimasukkan ke
dalam tubuh secara invasif melalui gigitan kutu dianggap oleh tubuh sebagai antigen
yang mengaktifkan sel B. Hal ini akan menghasilkan IgE yang kemudian membentuk
kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya mengaktifkan sel T helper 2 dan
eosinofil yang pada akhirnya menghasilkan vasoaktif, utamanya histamin yang
menimbulkan gejala utama berupa pruritus dan bila digaruk dapat meningkatkan
iritasi pada kulit. Saliva kutu tersebut menyebabkan terjadinya reaksi hipersensitivitas
dan timbullah rasa gatal atau pruritus yang kemudian dapat menyebabkan kulit di
daerah yang gatal tersebut menjadi berwarna kebiruan dan terasa perih.
(1, 5)

D. DIAGNOSIS
Diagnosis pedikulosis pubis yang berhubungan dengan kutu pubis,
semua bagian tubuh yang berambut sebaiknya diperiksa, khususnya bulu mata,
alis, dan daerah perianal. Banyak penderita terinfeksi pada 2 lokasi tubuh
berambut yang berbeda. Kutu-kutu ini dapat disalahartikan sebagai kudis atau
tahi lalat, atau bahkan dapat bercampur dengan warna kulit sehingga sulit untuk
dideteksi. Pasien yang terjangkit rata-rata memiliki 10-25 organisme dewasa di
tubuhnya. Telur kutu dapat ditemukan dekat akar rambut. Diagnosis pasien
dapat ditetapkan melalui pemeriksaan mikroskopik pada rambut yang tercabut
untuk mengidentifikasi ada tidaknya telur atau kutu dewasa. Walaupun jarang,
lesi kulit yang disebut sebagai macula caerulea dapat terlihat pada rambut pubis
yang tampak keabu-abuan hingga berwarna kebitu-biruan, berbentuk makula
ireguler dengan diameter sekitar 1 cm. Pedikulosis palpebra atau phthiriasis
palpebrarum adalah adanya kutu pubis pada bulu mata.
(2)

Gambar 3. Pedikulosis Pubis. Tampak beberapa kutu dan terlihat seperti titik yang menempel
pada batang rambut dan terlihat pada daerah kemaluan pasien ini
(2)



Gambar 4
(2)

Pedikulosis pubis. Tampak infestasi kutu Phthirus pubis. Telur kutu terlihat menempel pada bulu
mata.

Pedikulosis capitis yang ditunjukkan dengan adanya telur kutu di kulit
kepala paling banyak ditemukan di daerah oksipital dan retroaurikuler.
Kebanyakan pasien mengalami pruritus atau gatal. Masa inkubasi rata-rata
berdurasi 4-6 minggu. Beberapa orang yang tetap asimptomatik walaupun telah
terjangkit dapat disebut sebagai karier. Gigitan kutu kepala ini dapat
menyebabkan terbentuknya makula atau papul eritem sebesar 2 mm, tapi
umumnya pemeriksa hanya menemukan ekskoriasi maupun eritema. Gejala lain
yang mungkin ditemukan antara lain demam ringan dan limfadenopati regional.
Infestasi kutu kepala didiagnosa dengan membuktikan adanya telur kutu dan
kutu yang masih hidup. Telur kutu dapat terlihat dengan mata telanjang dan
merupakan tanda yang berguna untuk menentukan infestasi kutu pada saat ini
maupun di masa lalu. Kutu-kutu kepala ini dapat dibedakan dengan ketombe
dan warna rambut. Kutu kepala ini tidak mudah dikeluarkan dari batang rambut.
Warna telur yang baru saja dilahirkan antara coklat muda hingga coklat.
Sedangkan telu-telur lain yang telah menetas akan berwarna bening, putih, dan
terang. Apabila terdapat kutu dewasa, maka hal ini berarti infestasi yang aktif.
Namun, kutu-kutu kepala ini cepat menghindari cahaya dan terkadang
bercampur dengan warna rambut sehingga sulit ditemukan. Untuk menemukan
kutu yang masih hidup atau Nimph yang matur, cara terbaik adalah dengan
menggunakan sisir kutu. Sisir basah, dalam hal ini sisir yang telah dibasahi dan
diberi kondisioner sering dilakukan sebelum menggunakan sisir kutu untuk
meningkatkan hasil dalam mencari kutu dewasa dari folikel rambut.
(2)

Gambar 5. Telur Kutu. Tampak gambaran telur yang mengandung kutu yang belum menetas
yang melekat pada batang rambut.
(2)

Selain dengan cara tersebut, dalam menegakkan diagnosis pedikulosis
kapitis dan pubis dapat pula menggunakan dermatoskop. Dermatoskop atau
biasa dikenal pula dengan istilah dermoskop (mikroskop epilumisens) adalah
suatu teknik non-invasif yang dapat menampilkan pembesaran pada observasi
visualisasi kulit untuk melihat morfologi yang pada umumnya tidak tampak
dengan mata telanjang.

Adapun teknik pada pemeriksaan ini adalah dengan cara
mengambil sampel berupa potongan rambut atau rambut yang gugur dan
diperiksa dibawah mikroskop. Metode ini murah, tidak rumit, dan dapat
memberikan hingga kira-kira 40 kali lipat pembesaran tanpa minyak emersi.
(6, 7)
Diagnosis pedikulosis kapitis dan pedikulosis pubis secara umum adalah
dengan menggunakan identifikasi klinis dengan menemukan kutu dewasa
(Pediculus humanus var. capitis, Phthirus pubis) maupun menemukan telur kutu
secara langsung. Sisir kutu dan kaca pembesar merupakan alat bantu diagnostik
yang sering digunakan.
(6)

Pada pedikulosis kapitis, dermatoskop menjamin pemeriksaan yang lebih
detail terhadap kutu dewasa dan telur kutu, terutama apabila terdapat sisa telur
kutu setelah pemeriksaan. Keefektifan dermatoskop dapat pula digunakan
dalam mendiagnostik Phthirus pubis. Dermatoskop penting untuk mendiagnostik
terutama pada anak-anak, di mana bulu mata merupakan lokasi infestasi kutu
yang paling sering ditemukan. Phthiriasis palpebrarum sering di salah
diagnostikkan dengan dermatitis atopik ataupun konjungtivitis alergi karena
aspek semitransparan dan liang parasit pada garis lipatan mata. Pada kasus ini,
dermatoskopi secara cepat dapat menegakkan diagnosis dengan cara
menemukan kutu dewasa maupun telur kutu pada bulu mata.
(6)


Gambar 6
(7)

Telur kutu dapat terlihat melekat pada poros rambut baik dengan menggunakan (A) dermatoskop dan
(B) mikroskop cahaya. Perbedaan khas perpilar dapat dilihat dengan menggunakan (C) Dermatoskop
dan (D) Mikroskop Cahaya. Pembesaran 40 kali.
(7)


E. DIFERENSIAL DIAGNOSIS
1. Tinea Kruris
Tinea kruris merupakan dermatofitosis pada lipatan paha, daerah perineum,
dan sekitar anus. Dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat berlangsung
seumur hidup. Efloresensinya terdiri atas macam-macam bentuk yang primer dan
sekunder (polimorf). Tinea kruris biasanya muncul sebagai papulovesikel
eritematosa yang gatal dengan batas tegas yang menonjol. Tinea kruris paling
banyak disebabkan oleh genus Epidermophyton, yaitu E. Floccosum dan T.
Rubrum. Tinea kruris yang disebabkan oleh E. Floccosum, lesinya sering terdapat
pada lipatan genitokrural dan bagian medial paha atas. Tinea kruris yang
disebabkan oleh T. Rubrum, lesinya sering terdapat pada daerah pantat, perianal,
dan perut bagian bawah sedangkan alat kelamin biasanya tidak terpengaruh.
(1)

Pada pemeriksaan KOH akan terlihat hifa berhialin yang saling tumpang tindih
dengan spora yang terletak tidak beraturan disekitar hifa.
(3)
2. Skabies
Skabies merupakan penyakit menular akibat infestasi dan sensitasi tungau
Sarcoptes scabiei var. humanus. Masa inkubasi skabies bervariasi, ada yang
beberapa minggu bahkan berbulan-bulan tanpa menunjukkan gejala. Ada 4 gejala
patognomonik pada infestasi scabies, yaitu pruritus nokturnal, menyerang
sekelompok orang, adanya terowongan, dan menemukan tungau Sarcoptes
scabiei. Gambaran klinis biasanya papul-papul kecil yang eritem, vesikel, nodul,
dermatitis, dan biasanya terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Daerah predileksi
yaitu sela jari tangan atau kaki, pergelangan tangan, ketiak, sekitar pusar, paha
bagian dalam, daerah genitalia pria dan bokong.
(1)

3. Dermatitis Seboroik
Istilah dermatitis seboroik dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang
didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat presileksi di daerah seboroik.
Dermatitis seboroik berkaitan erat dengan keaktivan glandula sebasea. Gejala
klinisnya berupa kelainan kulit yang terdiri atas eritema dan skuama berminyak
dan agak kekuningan, batasnya agak kurang tegas. Pada kasus ringan, hanya
mengenai kulit kepala berupa skuama-skuama halus mulai sebagai bercak kecil
dan kemudian mengenai seluruh kepala dengan skuama-skuama halus yang kasar.
Bentuk yang lebih berat ditandai dengan adanya bercak-bercak berkuama dan
berminya disertai eksudasi dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, glabela,
daerah post aurikuler, dan leher. Pada bentuk yang lebih berat lagi, seluruh kepala
tertutup oleh krusta-krusta yang kotor dan berbau tidak sedap. Pada daerah supra
orbita, skuama-skuama halus dapat terlihat di alis mata, kulit di bawahnya
eritematous dan gatal disertai bercak-bercak skuama kekuningan dan dapat
disertai blepharitis, yakni pinggir kelopak mata kekuningan disertai skuama-
skuama halus.
(1)
4. Tinea Kapitis
Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan
oleh spesies dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik,
kemerah-merahan, alopesia, kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih
berat, yang disebut kerion. Tinea Kapitis sering ditemukan pada anak-anak,
berupa bercak alopesia yang multiple. Rambut putus tepat di atas kulit kepala.
Infeksi M.canis dan M.audouini menimbulkan fluoresensi pada lampu Wood,
sedangkan infeksi dengan T.tonsurans tidak.
(1)

F. Cara kerja dan efek samping obat
Bahan-bahan berikut ini dapat secara aktif melawan kutu rambut, tubuh, dan
pubis. Obat-obatan anti kutu dapat berupa cairan atau losion dalam alkohol yang
digunakan pada malam hari dan diulang setelah seminggu untuk membunuh kutu
yang berasal dari telur yang bertahan hidup. Infeksi oleh kutu dapat diobati dengan
cara :
(5)

1. Pengobatan Farmakologis
- Permethrin
Merupakan lini pertama untuk pengobatan pedikulosis rambut kepala,
tubuh, dan pubis yang berat. Bahan ini bersifat neurotoksis sehingga dapat
menyebabkan paralisis dan kematian pada ektoparasit. Bahan ini juga secara
efektif dapat membunuh kutu dewasa, nymph, kecuali telur kutu. Permethrin
bersifat neurotoksik dengan cara mengganggu depolarisasi kanal natrium pada
membran sel saraf parasit. Proses depolarisasi yang terlambat akan
menyebabkan paralisis pada system pernapasan ektoparasit, sehingga akan
menyebabkan kematian. Permethrin digunakan secara topikal selama 10 menit
pada rambut yang basah maupun kering, kemudian dibilas dengan air hangat.
Efek samping yang dapat timbul seperti rasa panas, perih, dan gatal. Kontra
indikasi penggunaannya pada ibu hamil dan hipersensitivitas. Penggunaan
permethrin hanya berguna untuk menyembuhkan kutu rambut, tubuh, pubis,
dan pada skabies.
(5)
- Lindane
Biasa disebut juga gama benzene hexachlorida. Digunakan secara
topikal dan menggunakan bahan yang efektif untuk pengobatan kutu rambut,
tubuh, kulit, dan skabies. Walaupun digunakan sebagai terapi lini kedua,
Lindane sebaiknya tidak digunakan kecuali semua agen yang lain mempunyai
kontraindikasi dan tidak efektif. Lindane bekerja dengan cara menstimulasi
sistem saraf parasit, menyebabkan kejang, dan kemudian mati. Efek samping
yang dapat timbul berupa anemia aplastik, sakit kepala, iritasi pada mata dan
membran mukosa, gangguan pada fungsi ginjal dan hati, neurotoksisitas, mual
dan muntah. Kontra indikasi penggunaannya pada bayi, anak-anak, wanita
hamil dan menyusui, manula, penderita HIV dan kejang.
(5,8)

- Ivermectin
Merupakan obat sintetik semisintesis yang diperoleh Streptomyces
avermitilis dan merupakan obat pilihan untuk filariasis, skabies, dan kutu
rambut. Ivermectin diabsorbsi baik baik ketika lambung kosong,
didistribusikan secara luas, memiliki waktu paruh 48-60 jam, dimetabolisme
di hati dan diekskresikan melalui feses. Mekanisme kerja ivermectin dalam
menyebabkan kematian kutu karena hiperpolarisasi dengan meningkatkan
permeabilitas ion klorida melalui gerbang glutamat klorida, dan masuk ke
saraf dan otot parasit. Efek samping yang dapat timbul antara lain nyeri perut,
nyeri sendi, bronkospasme, konstipasi, sakit kepala, letargi, hipotensi,
pruritus, mual, dan muntah. Kontra indikasi penggunaannya pada ibu hamil,
ibu yang sedang menyusui dan anak-anak di bawah 5 tahun. Dosis 200-400
g/kgBB/peroral dan diberikan pada hari pertama dan hari kedelapan
pengobatan.
(5,8)
- Malathion
Bahan ini direkomendasikan untuk pengobatan kutu kepala. Malathion
bekerja dengan cara menginhibisi kerja enzim kolinesterase dan membunuh
telur dan kutu dewasa pada pedikulosis. Efek samping yang dapat timbul
berupa reaksi hipersensitivitas. Cara penggunaan dioleskan pada rambut yang
kering dan kulit kepala, didiamkan selama 8-12 jam (hindari penggunaan
pemanas rambut elektrik, seperti hair dryer), kemudian dibilas. Diulangi
setelah 7-9 hari jika kutu masih ada. Dosis: losion 0,5 dan 0,1%.
(5,8)

- Carbary
Merupakan campuran antikolinesterase dan N-methyl carbamate ester.
Efektif untuk melawan kutu rambut, badan, dan rambut kemaluan.
Penggunaan Carbary dioleskan dan dibiarkan sepanjang malam lalu diulangi
satu minggu kemudian. Hindari kontak mata, kulit yang tidak intak dan
terinfeksi. Jangan digunakan 3 minggu berturut-turut, bersama dengan
preparat alkohol, dan hindari pada penderita asma dan eksema. Efek samping:
karsinogenik, iritasi kulit.
(5)

- Mercuric Oxide
Biasanya digunakan untuk mengobati infeksi penumositis ceriniin,
akne, dan toksoplasmosis. Kotrimoksasol juga disarankan untuk pencegahan
terhadap PMS dan juga efektif untuk pengobatan pedikulosis. Dosis : 7-10
mg/kg peroral selama 7 hari.
(5)

- Isopropyl Myristate
Bahan ini merupakan obat yang tidak berbahan dasar insektisida,
tetapi mengandung isopropyl myristate, zat yang umum digunakan di
kosmetik. Cara kerjanya adalah dengan melemahkan dinding kutu yang
tersusun atas lilin, dan menyebabkan cairan tubuh berkurang dan kemudian
akan dehidrasi.
(5)

- Benzyl Alkohol
Benzil alkohol bekerja dengan cara menghambat saluran pernapasan
kutu dengan cara mengobstruksi, sehingga akan menyebabkan asfiksia.
Tetapi, zat ini tidak bereaksi terhadap telur kutu. Sediaannya adalah losion
Benzil Alkohol 5%.
(5)

- Spinosad
Zat ini menyebabkan eksitasi neuron yang akan menyebabkan paralisis
dan kemudian kutu akan mati. Zat ini direkomendasikan untuk pengobatan
topikal pada infestasi kutu kepala. Sediaannya adalah suspense 0,9%.
(5)

2. Pengobatan Non-Farmakologis
(5)

- Telur-telur kutu dapat dihilangkan dengan menggunakan sisir kutu.
- Menaruh cuka pada rambut pubis sebelum menyisir, dapat membantu
menghilangkan telur kutu.
- Telur kutu, Nymph, dan kutu dewasa dapat dihilangkan dengan menggunakan
pinset ataupun dengan mencukur daerah rambut yang terkena.
- Cuci semua pakaian dan kain dengan menggunakan air panas. Bahan-bahan
yang tidak dapat dicuci dengan menggunakan air panas dapat digunakan spray
yang mengandung bahan kimia tertentu ataupun dengan menyimpan pakaian
tersebut dalam kantung plastik yang tersegel sehingga kutu tersebut mati
lemas. Sangat penting untuk mengobati semua orang yang memiliki kontak
dekat dengan penderita kutu pada waktu yang sama.
-
Rajin mencukur merupakan salah satu cara utama untuk menhilangkan kutu.








DAFTAR PUSTAKA

1. Handoko RP. Penyakit Parasit Hewani. In: Prof.Dr.Adhi Djuanda MH, dr.Siti
Aisah, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ketiga ed. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2002. p. 116-23.
2. Craig N. Burkhark CGB. Scabies, Other Mites, and Scabies. In: Lowel A.
Goldsmith SIK, Barbara A. Gilchrest, Amy S. Paller, David J. Leffell, Klaus
Wolff, editor. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 8th ed. USA2012.
p. 2569-78.
3. Lice H. Meinking TL, Burkhart CN, Burkhart GN, Elgart G. In: Jean B. Bolognia
JHJ, Ronald P. Rapini, editor. Dermatology. 2TH ed. UK: British Library
Cataloguing in Publication Data; 2008.
4. Chaney ALAaE. Pubic Lice (Pthirus pubis): History, Biology and Treatment vs.
Knowledge and Beliefs of US College Students. International Journal of
Environmental Research and Public Health. 2009;6:592-600.
5. Kishore K. Current trends in Pharmacotherapeutics of Pediculosis. IJPIS
Journal of Pharmacology and Toxicology. 2012;2:15-21.
6. Giuseppe Micali M, Francesco Lacarrubba, MD, Doriana Massimino, MD, and
Robert A. Schwartz, MD, MPH. Dermatoscopy: Alternative uses in daily clinical
practice. American Academy of Dermatology. 2010:1135-46.
7. Berker MP, Wallace MD. Hair diagnoses and signs: the use of dermatoscopy.
Clinical and Experimental Dermatology. 2009;25:41-6.
8. Gunning K, Pippitt K, Kiraly B, Sayler M. Pediculosis and Scabies: A Treatment
Update. indian journal of clinical practice. 2013;24(3): 211-216
-