Anda di halaman 1dari 18

Page 1 of 18

PEMBENGKAKAN KELENJAR SUBMANDIBULAR SINISTRA


Blok 12 Infeksi dan Imunitas
Tutor: dr. Ernawaty Tamba

STEVEN LUKITO SANTOSO
KELOMPOK B5 10.2012.293

Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
E-mail: steven.santoso@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak: Parotitis epidemika merupakan salah satu penyakit yang cukup sering diderita oleh
anak-anak. Penyakit ini akan menyebabkan pembengkakan kelenjar parotis yang menyebabkan rasa
tidak nyaman/ sakit yang cukup signifikan. Sebelum dipastikan pasien menderita parotitis epidemika,
terlebih dahulu dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik dasar. Untuk melakukan anamnesa, harus
diketahui dulu apa itu anamnesa dan bagaimana cara melakukannya. Pemeriksaan fisik dasar pun
harus mengetahui apa yang ingin dilakukan untuk memastikan dugaan. Barulah kita ketahui adanya
beberapa kemungkinan penyakit yang bisa diderita pasien. Untuk memastikannya, kita gunakan
pemeriksaan penunjang yang spesifik untuk mendeteksi jenis penyakit yang kita duga. Setelah
mengetahui jenis penyakitnya, barulah kita bisa mengetahui sifat-sifat penyakit itu, dan terutama cara
untuk memberikan terapi dan mencegah penyakit tersebut untuk tidak semakin menyebar.
Kata kunci: Parotitis Epidemika; Preventif; Sifat Penyakit

Abstract: Epidemic parotitis is a disease which is quite often suffered by children. This
disease will cause swelling of the parotid gland, causing a significant amount of discomfort/ pain.
Before we are certain whether a patient is ailing from epidemic parotitis, we must first perform a
basic anamnesis and physical examination. In order to do anamneses, it must first be known what
anamneses about and how to do it properly. As well as in doing basic physical examination, we must
first know what to do in order to check for the correct signs. Then after they are done, there could be
different possibilities of illness the patient might have. To make sure of the illness, we undergo
supporting investigations specific enough to differentiate one illness from another. After knowing the
disease, then we can determine its properties, and particularly how to give the right therapy and
preventing the disease from spreading even more.
Keywords: Epidemic Parotitis; Preventive; Diseases Nature

Page 2 of 18

PENDAHULUAN
Pembengkakan kelenjar parotis maupun kelenjar liur yang lain, dapat menyebabkan rasa sakit
pada penderitanya. Hal ini terutama terjadi saat makan dimana kelenjar liur terangsang untuk
mengekskresikan liur, ataupun saat menelan dimana makanan akan melewati kerongkongan dan
menekan kelenjar parotis. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas secara menyeluruh mengenai
pembengkakan kelenjar parotis yang terdapat di daerah submandibular. Penulisan ini diharapkan
akan dapat membantu menjelaskan mengenai penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
pembengkakan kelenjar parotis, baik mengenai penyebab, gejala klinis, terapi, hingga pencegahan
penyebarannya.

PEMBAHASAN
SKENARIO
Dalam kasus PBL kali ini, kami mendapat skenario kasus sebagai berikut:
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ke puskesmas karena pipi-leher
kirinya membengkak sejak 1 hari yang lalu. Pasien telah mengalami demam dan
nyeri leher, sakit kepala sejak 3 hari sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik terlihat
adanya pembengkakan submandibula sinistra yang nyeri.

ANAMNESIS
Untuk mengarahkan masalah pasien ke diagnosis tertentu, dibutuhkan kemampuan
mengumpulkan informasi oleh dokter. Pengumpulan informasi yang paling dasar adalah
dengan melakukan wawancara pada pasien ataupun orang terdekat pasien. Dalam ilmu
kedokteran, wawancara ini disebut dengan melakukan anamnesis. Pasien akan dapat
memberikan informasi yang lengkap dan akurat apabila merasa dokter dapat dipercaya,
terutama dokter-dokter yang menunjukkan empatinya terhadap pasien. Tentu saja, informasi
yang didapatkan dari pasien harus dijaga kerahasiannya, terkecuali beberapa bagian tertentu.
1
Pelaksanaan anamnesis yang baik akan memudahkan seorang dokter untuk
menentukan diagnosis kemungkinan penyakit pasien. Dokter harus dapat memadukan
informasi yang didapatkan dari anamnesis dengan pengetahuannya mengenai gejala dan
tanda-tanda sebuah penyakit. Barulah dapat ditentukan langkah selanjutnya, baik
Page 3 of 18

pemeriksaan lanjutan hingga pemberian terapi yang tepat. Maka itu, pelaksanaan anamnesis
harus dilakukan secara efektif diantaranya adalah melontarkan pertanyaan secara runut,
cukup menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan penyakit, dan jangan lupa membuat
catatan-catatan mengenai informasi yang didapatkan.
1
Informasi yang didapatkan bukan hanya informasi verbal (jawaban pasien), namun
juga dapat berasal dari informasi non-verbal (raut wajah, gerakan tubuh, perasaan gelisah,
dan lain-lain). Walau begitu, tidak seluruh informasi yang diberikan pasien berkaitan dengan
penyakit yang dideritanya. Maka itu perlu dibedakan dengan jelas antara sakit dan penyakit.
Sakit adalah perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh pasien, berupa penilaian subjektif
dari pasien itu sendiri. Penyakit adalah bentuk reaksi biologik terhadap trauma, benda asing,
maupun mikroorganisme, yang menyebabkan perubahan fungsi tubuh maupun organ tubuh.
Sakit yang dirasakan pasien belum tentu berkaitan dengan penyakitnya, begitu pula sebuah
penyakit belum tentu menimbulkan rasa sakit ataupun tidak nyaman pada tubuh pasien.
1
Anamnesis yang baik akan terdiri atas identitas pasien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat obstetri dan ginekologi (khusus wanita),
riwayat penyakit dalam keluarga, anamnesis susunan sistem, dan anamnesis pribadi. Pada
pasien usia lanjut, perlu diperiksa status fungsionalnya. Pasien-pasien yang memiliki riwayat
penyakit menahun perlu dicatat pasang-surut penyakitnya, serta riwayat pengobatan terdahulu
pasien tersebut.
1
Informasi hasil anamnesis pada skenario yang didapat cukup terbatas, yakni hanya
informasi mengenai identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, dan
anamnesis susunan sistem. Berikut adalah hasil anamnesis pasien:
Identitas Pasien
Jenis kelamin (laki-laki); Usia (5 tahun)
Keluhan Utama
Pipi dan leher kiri pasien membengkak sejak 1 hari yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Terjadi pembengkakan pada pipi dan leher kiri pasien sejak 1 hari yang lalu.
Semenjak tiga hari sebelum terjadi pembengkakan, pasien mengalami demam,
nyeri leher, dan sakit kepala.
Anamnesis Susunan Sistem
Pembengkakan pada daerah submandibular sinistra, terdapat rasa nyeri.
Page 4 of 18

PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Informasi yang didapatkan dalam anamnesis akan dapat diperkuat oleh hasil
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik umum mencakup pemeriksaan visual (Inspeksi),
pemeriksaan raba (Palpasi), pemeriksaan ketuk (Perkusi), dan pemeriksaan dengan
menggunakan stetoskop (Auskultasi). Saat akan melakukan pemeriksaan fisik, terlebih dahulu
dokter wajib meminta izin pasien, terutama bila pasien diharuskan membuka pakaian. Dokter
harus menunjukkan sikap sopan dan hormat, serta tidak menunjukkan kekakuan dan
canggung. Pemeriksaan dilakukan secara sistematik dan senyaman mungkin, mulai dari
melihat keadaan umum pasien, tanda-tanda vital, pemeriksaan jantung, paru, abdomen, dan
ekstremitas.
2
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada skenario berfokus pada area leher. Inspeksi
yang dilakukan berfokus pada kesimetrisan bentuk leher pasien, serta ada-tidaknya jaringan
parut pada leher. Karena ada pembengkakan yang terjadi, maka dokter harus mencari
pembesaran kelenjar parotis di daerah submandibular. Selain itu, dilakukan juga palpasi
untuk membantu memastikan pembesaran kelenjar parotis. Bila kelenjar diberi tekanan dan
keluar nanah, hal ini memastikan terjadinya parotitis pada pasien tersebut. Air liur yang
normal biasanya tidak berwarna (jernih), maka itu dapat dengan mudah membedakan antara
air liur dengan nanah. Dokter pemeriksa harus dapat mengidentifikasi adanya zat-zat tertentu
dalam air liur, terutama nanah dan lendir.
3,4
Selain pembengkakan ukuran kelenjar parotis, dapat juga terjadi pembengkakan
ukuran kelenjar getah bening. Bila pada pemeriksaan tekan kelenjar getah bening pasien
merasa nyeri, maka ini menunjukkan adanya reaksi peradangan. Selain itu bila kelenjar getah
bening terasa keras memberi kesan adanya keganasan dalam tubuh. Apabila terjadi nyeri
yang tidak dapat dipastikan penyebabnya, maka perlu pemeriksaan yang dirunut dari daerah
asal cairan limfe. Bila demikian, maka perlu juga diperiksa kelenjar-kelenjar getah bening
lain pada tubuh, untuk menentukan jenis peradangan yang terjadi. Peradangan dan
pembengkakan yang muncul bisa berupa limfadenopati regional (hanya terjadi pada satu
regio anatomi), maupun generalisata (terjadi pada dua atau lebih regio anatomi yang
berbeda).
3,4
Pada skenario, didapatkan hasil pemeriksaan fisik umum dari pasien adalah adanya
pembengkakan pada submandibular sinistra. Pasien juga menyatakan merasa nyeri pada
daerah pembengkakan tersebut.

Page 5 of 18

WORKING DIAGNOSIS
Pembengkakan pada kelenjar parotis cenderung mengarah pada penyakit gondongan
(mumps), terutama pada parotitis epidemika. Diagnosa untuk penyakit gondongan ini dapat
ditarik setelah mengetahui beberapa hal, antara lain riwayat terkena gondongan, masa
inkubasi yang tepat, serta melihat ada-tidaknya gejala klinis yang memadai. Pada masa
sekarang ini, bila seseorang menderita pembengkakan kelenjar parotis selama lebih dari 2
hari, diagnosis adanya parotitis epidemika seharusnya dikeluarkan dengan hasil pemeriksaan
virologi ataupun serologi.
5
Walau begitu, tidak semua penderita penyakit gondongan
menderita pembengkakan kelenjar parotis, dan tidak semua yang menderita pembengkakan
kelenjar parotis menderita gondongan. Pembengkakan kelenjar parotis juga bisa terjadi pada
penderita AIDS, dan beberapa kasus infeksi virus lainnya.
6

Gambar 1. Anak Penderita Gondongan (Mumps/ Parotitis Epidemika)
7
Pembengkakan pada leher bukan selalu merupakan kasus pembesaran kelenjar
parotis, tapi juga bisa karena pembengkakan kelenjar getah bening. Getah bening pada leher
terletak dibawah mandibula, yang ketika membengkak biasanya diasosiasikan dengan
konjungtivitis. Terkadang pembesaran kelenjar getah bening di sekitar kelenjar parotis dapat
menyebabkan kebingungan. Selain pembengkakan, dapat juga terjadi kesalahan inspeksi
karena adanya lesi, contohnya pada osteomyelitis.
6
Page 6 of 18

Untuk memastikan penyakit yang diderita pasien bukanlah penyakit yang memiliki
gejala klinis yang mirip, harus dilakukan pemeriksaan penunjang.

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat muncul beberapa kemungkinan
penyakit selain gondongan/ mumps/ parotitis epidemika. Pembengkakan kelenjar parotis telah
terjadi pada beberapa kasus anak-anak pengidap AIDS, serta infeksi beberapa virus seperti
influenza, parainfluenza 1 dan 3, serta cytomegalovirus.
5,6
Walau begitu, tidak tertutup
kemungkinan adanya virus lain seperti virus Epstein-Barr, enterovirus, virus LCM
(lymphocytic choriomeningitis), dan HIV.
5
Selain virus, mikroorganisme lain yang dapat
menyebabkan parotitis adalah Staphylococcus aureus. Parotitis supuratif yang disebabkan
oleh S. aureus terjadi hanya pada satu sisi, sangat empuk, biasanya penderita memiliki jumlah
sel darah putih yang meningkat,
5,6
adanya pernanahan dari duktus Stensen,
5
dan pengeluaran
nanah dari duktus Wharton.
6
Selain itu, parotitis juga bisa tertukar dengan pembengkakan kelenjar getah bening
submandibular yang disebabkan oleh infeksi patogen.
5,6
Selain infeksi, pembengkakan
kelenjar parotis juga dapat disebabkan oleh tersumbatnya duktus Stensen, sindroma Sjrgen
(penyakit kolagen pembuluh darah), lupus eritematosus sistemik (penyakit autoimun), dan
tumor.
5
Bila pembengkakan bertahan, maka besar kemungkinan disebabkan oleh luka pada
rahang bawah, seperti pada kasus osteomyelitis (infeksi bakteri di tulang). Adanya leukimia
dan anemia sel sabit juga dapat menyebabkan pembengkakan yang bertahan.
6

Gambar 2. Kelenjar Air Liur.
8
Page 7 of 18


Gambar 3. Duktus Parotideus, atau Duktus Stensen
9


Gambar 4. Duktus Wharton
10
Page 8 of 18


Gambar 5. Sindroma Sjrgen
11

Gambar 6. Lupus Eritematosus Sistemik
12

Gambar 7. Tumor Kelenjar Parotis
13,14
Page 9 of 18


Gambar 8. Osteomyelitis pada Rahang Bawah
15

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk memastikan diagnosis dokter bahwa pasien menderita parotitis epidemika,
dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang. Adanya parotitis dapat dikonfirmasi dengan
peningkatan tingkat enzim amilase. Sering juga ditemukan leukopenia dan limfositosis. Pada
pasien dengan parotiditis selama 2 hari atau lebih, dugaan terjadinya mumps dapat
dihilangkan dengan melakukan tes virologi ataupun tes serologi. Tes ini dilakukan dengan
mengisolasi virus dalam kultur sel, pendeteksian antigen virus dengan immunoflourescence,
ataupun dengan identifikasi asam nukleat dengan reverse transcriptase PCR. Virus dapat
diambil dari sekresi traktus respiratorius atas, cairan otak (cerebrospinal fluid CSF), atau
bahkan urin pada kasus-kasus yang berat.
5
Virus bisa didapat dari usapan tenggorok pada 48
jam sebelum hingga 7 hari setelah pembengkakan kelenjar parotis terlihat.
6
Uji serologi biasanya lebih nyaman untuk dilakukan, selain daripada lebih tersedia.
Pada pemeriksaan serologi yang dicari adalah peningkatan bermakna dari IgG untuk
gondongan, antara orang sehat dengan penderita. Cara mengetesnya antara lain adalah
dengan tes fiksasi komplemen, tes enzyme immunoassay (EIA),
5
atau dengan tes inhibisi
hemaglutinasi.
5,6
Walau begitu, dapat tertukar antara IgG untuk gondongan dan IgG untuk
virus parainfluenza, karena keduanya memiliki kemiripan antigen.
5,6
Pengecekan juga bisa
dibantu menggunakan ELISA, terutama untuk mengkonfirmasi temuan pada tes serologi.
6

Tes pada kulit terbukti tidak akurat (tidak spesifik & sensitif) untuk mengecek gondongan.
5,6

Page 10 of 18

GEJALA KLINIS
Pasien dengan parotitis epidemika biasanya tidak menunjukkan gejala sistemik yang
parah. Setelah terinfeksi, biasanya virus gondongan menghabiskan waktu 12-25 hari untuk
inkubasi, walau lebih berkisar pada 16-18 hari. Biasanya pasien akan mengalami gejala-
gejala ringan seperti demam, sakit kepala, muntah-muntah, dan rasa sakit pada seluruh
tubuh. Demam dapat berlangsung selama hingga 4 hari, walau kenaikan temperatur tubuh
tidak terlalu tinggi. Setelah itu barulah muncul pembengkakan kelenjar parotis, yang dapat
bertahan 7-10 hari lamanya. Parotitis dapat terjadi di kedua sisi secara bersamaan, atau pada
satu sisi dahulu dan disusul sisi lainnya setelah 2-3 hari (terjadi pada 70% kasus).
5,6
Pembengkakan pada kelenjar parotis terkadang diiringi oleh pembengkakan kelenjar
liur submandibular, dan terkadang bahkan ada penumpukan cairan diatas tulang sternum
(presternal edema). Kelenjar parotis yang membengkak sangat empuk, dan dapat juga diikuti
rasa sakit yang menyebar hingga ke belakang kuping. Ketika pembengkakan terjadi cukup
parah, hal ini dapat menyebabkan sudut rahang bawah menjadi terganggu, dan kuping
menjadi terangkat keatas dan keluar. Pembengkakan ini menyebabkan rasa sakit yang cukup
mengganggu, yang dikatakan bertambah parah bila mengkonsumsi makanan atau minuman
yang bersifat asam. Walau begitu pengaruh makanan-minuman asam ini tidaklah konsisten.
5,6
Pasien yang lebih tua sering mengeluhkan adanya sakit kepala, yang kemungkinan
disebabkan adanya keterlibatan selaput otak. Terkadang juga muncul tanda-tanda lain dari
iritasi selaput otak. Ada juga keluhan anorexia (tidak mau makan), yang kemungkinan besar
disebabkan oleh rasa sakit yang timbul ketika menelan. Perasaan tidak nyaman di perut juga
sering dilaporkan, yang menunjukkan keterlibatan pankreas atau ovarium pada perempuan.
Pada pasien yang penyakitnya sudah parah, mual-mual dan muntah merupakan masalah yang
signifikan. Walau demikian, cukup banyak pasien yang tidak menunjukkan gejala apapun
bahkan tidak mengalami pembengkakan kelenjar parotis.
6
Gejala yang dialami pasien antara lain adalah adanya pembengkakan pada pipi dan
leher kiri pasien. Terdapat pula rasa sakit pada pembengkakan di daerah submandibula
sinistra tersebut. Selain pembengkakan, pasien juga mengeluh merasa demam, nyeri leher,
serta sakit kepala sejak tiga hari sebelumnya. Hal ini konsisten dengan gejala-gejala yang
terdapat pada penderita mumps/ gondongan/ parotitis epidemika. Maka itu pemeriksaan
gejala klinis dengan kepastian dari pemeriksaan penunjang akan dapat memastikan diagnosa
pasien menderita mumps/ gondongan/ parotitis epidemika.

Page 11 of 18

ETIOLOGI
Virus yang menyebabkan parotitis epidemika berasal dari famili Paramyxoviridae,
genus Rubulavirus. Virus ini memiliki satu untai RNA yang pleomorfik, terbungkus dalam
kapsul lipoprotein dan memiliki 7 protein struktural. Pada permukannya terdapat dua
glikoprotein, HN (hemagglutinin-neuraminidase) dan F (fusion), masing-masing berguna
untuk memudahkan penyerapan virus ini kedalam sel hospes dan penetrasi ke dalam sel.
Keduanya juga menstimulasi produksi antibodi. Virus untuk mumps/ gondongan hanya
memiliki satu immunotipe (jenis kekebalan), dan manusia adalah satu-satunya hospes alami.
5

Gambar 9. Struktur Umum Virus Paramixoviridae
16

Gambar 10. Virus Paramixoviridae
17
Page 12 of 18

EPIDEMIOLOGI
Virus gondongan disebarkan melalui traktus respiratorius, dan maka itu dapat
ditemukan pada sekresi respiratorius sebelum maupun setelah terjadinya pembengkakan
kelenjar parotis. Virus ini sangat mudah menyebar, maka bila satu individu dari sebuah
kelompok (misalkan: anggota keluarga) terkena virus ini, seluruh anggota kelompok tersebut
akan terjangkit. Namun karena tidak semua kasus mengalami pembengkakan kelenjar parotis
(20-40%), dianggap virus ini tidak terlalu menular dibanding penyakit anak-anak lainnya.
Tidak adanya gejala menyebabkan hasil anamnesa terkadang tidak akurat sama sekali.
Banyak orang dewasa yang menyatakan tidak pernah menderita parotitis epidemika, tapi
memiliki antibodi untuk gondongan.
6
Pasien dianggap berpotensi menularkan virus ini sejak 48 jam sebelum hingga 9 hari
setelah dimulainya pembengkakan kelenjar parotis.
6
Namun ada juga yang menyatakan masa
penularan bermula sejak 7 hari sebelum hingga 7 hari setelah adanya pembengkakan kelenjar
parotis, dengan masa maksimum infektif sejak 1-2 hari sebelum hingga 5 hari setelah
pembengkakan kelenjar parotis.
5
Penyakit ini hanya sedikit lebih tidak menular dibandingkan
campak (measles) maupun campak Jerman (Rubella). Penularan paling banyak terjadi pada
akhir musim salju dan awal musim semi.
6
Selain pada anak-anak, sebelum adanya vaksin
campak, tidak jarang juga anggota militer terkena vius ini. Penularan terutama terjadi pada
saat mobilisasi pasukan.
18
Vaksin untuk gondongan diperkenalkan pada tahun 1968, digunakan secara rutin pada
tahun 1977, dan pada tahun 1989 diperkenalkan sistem untuk memberikan 2 dosis vaksin
MMR (measles-mumps-rubella). Sebelum adanya vaksinasi, penderita gondongan berkisar
pada anak-anak berusia 5-9 tahun, dengan epidemik terjadi setiap 4 tahun sekali.
5
Maka itu
nyaris semua anak yang telah menginjak remaja (berusia 14 tahun) telah pernah terinfeksi
oleh penyakit gondongan.
18
Namun setelah tahun 1977 (penggunaan vaksin secara rutin),
angka kejadian pada anak-anak menurun drastis, dan berpindah pada anak-anak yang lebih
tua, remaja, dan dewasa muda.
5
Walau begitu, pada tahun 1986-1987 terjadi peningkatan kembali jumlah kasus
gondongan, karena adanya sekelompok orang yang tidak tervaksin, dan memasuki
perkuliahan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan adanya sistem 2 dosis
vaksin pada tahun 1989.
18
Saat ini per tahun dilaporkan hanya terjadi 5000 kasus
gondongan, bila dibandingkan dengan 150.000 kasus per tahun sebelum adanya vaksin.
6

Page 13 of 18



Gambar 11. Jumlah Kasus Gondongan di Amerika Serikat
18


Gambar 12. Jumlah Kematian Karena Gondongan di Inggris dan Wales
19

Page 14 of 18

PROGNOSIS
Penderita gondongan mayoritas akan sembuh sempurna, bahkan pada kasus dimana
orang tersebut mengalami komplikasi oleh encephalitis. Walau begitu ada beberapa kasus
yang dilaporkan fatal, biasanya karena ada keterlibatan SSP ataupun myocarditis.
5
Kematian
biasanya terjadi pada orang dewasa, yang terjadi satu-dua kali per tahun. Selain karena
terganggunya SSP dan adanya myocarditis, kematian juga dihubungkan dengan adanya
nefritis dan encephalitis.
6

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat muncul dari gondongan antara lain adalah:
5,6
1. Meningitis dan Meningoencephalitis
Virus gondongan bersifat neurotropik, diperkirakan memasuki LCS melalui plexus
coroideus. Pada pasien anak-anak akan mengalami demam, malaise, dan lethargi.
Sementara pada pasien yang lebih tua (remaja hingga dewasa muda) akan mengalami
sakit kepala, dan tanda-tanda meningeal
a. Demam 94%
b. Muntah 84%
c. Sakit Kepala 47%
d. Parotitis 47%
e. Kaku Leher 71%
f. Lethargia 69%
g. Kejang 18%
2. Orkitis
Terjadi mayoritas pada dewasa muda pria, merupakan peradangan pada salah satu atau
kedua testikel. Pada minggu pertama akan terasa demam, dilanjutkan dengan rasa sakit
yang sangat, dan pembengkakan yang empuk pada testikel
3. Ooforitis
Terjadi pada wanita, frekuensinya cukup jarang. Saat kambuh, menyebabkan rasa sakit
yang sangat, hingga kadang tertukar dengan usus buntu
4. Pankreatitis
Tidak selalu ada, dapat muncul tanpa adanya pembengkakan kelenjar parotis. Dapat
menyebabkan rasa sakit di perut, mual, dan muntah
5. Keterlibatan Jantung
Sering terjadi myocarditis, dan pada pemeriksaan biologi molekuler telah ditemukan virus
penyebab gondongan di jaringan jantung

Page 15 of 18

6. Arthritis
Arthralgia, mono arthritis, dan polyarthritis berpindah telah dideteksi pada beberapa kasus
7. Thyroiditis
Komplikasi yang cukup langka dari gondongan, belum pernah dilaporkan terjadi tanpa
pembengkakan duktus parotis. Mayoritas kasus sembuh sempurna, tapi beberapa kasus
menjadi hypotiroid
8. Mastitis
Diperkirakan terjadi pada 31% wanita berusia 15 tahun yang mengalami gondongan
9. Komplikasi saraf
Neuritis dan myelitis, dimana SSP terlibat dari minggu pertama hingga minggu ketiga
10. Lainnya
Termasuk adalah kemungkinan tuli sebelah, Diabetes mellitus, dan penyakit sendi.

TERAPI
Belum ada terapi antivirus yang tersedia untuk parotitis epidemika. Pengobatan yang
dilakukan sebaiknya diarahkan untuk menghilangkan/ mengurangi rasa sakit yang disebabkan
oleh meningitis dan orkitis. Bila terjadi demam, dapat diberikan antipiretik pada pasien.
5

Harus diperhatikan asupan air minum dan asupan gizi pasien, disarankan untuk menghindari
makanan/ minuman yang bersifat asam, seperti jus jeruk. Untuk mengatasi rasa sakit kepala
dapat diberikan analgesic. Biasanya kasus muntah-muntah tidaklah separah itu hingga
membutuhkan cairan infus. Pasien yang dirawat di rumah sakit sebaiknya diisolasi untuk 9
hari, demi mencegah penyebaran virus lebih lanjut.
6

PREVENTIF
Cara paling ampuh untuk menghindarkan diri dari infeksi virus gondongan adalah
dengan memberi imunisasi. Imunisasi diberikan sebanyak dua kali, yakni pertama pada usia
12-15 bulan dan kedua pada usia 4-6 tahun. Dosis kedua sebenarnya bisa diberikan setelah
jangka waktu tertentu, asal sebelum si anak melewati usia pubertas. Imunisasi ini tidak
memiliki efek samping dan terlihat bertahan selamanya. Karena pada imunisasi ini digunakan
vaksin yang dilemahkan, maka mayoritas pasien akan mengalami pembengkakan kelenjar
parotis. Biasanya vaksinasi sekarang diberikan bersamaan dengan vaksinasi untuk campak
(Measles) dan campak Jerman (Rubella), menjadi (Measles-Mumps-Rubella; MMR).
5,6
Page 16 of 18

RESPON IMUN
Satu kali kejadian gondongan sudah cukup untuk membuat imunitas yang akan
bertahan seumur hidup, tanpa memerdulikan jenis pembengkakan kelenjar parotis (pada satu
sisi, kedua sisi, atau bahkan tanpa pembengkakan). Hal ini juga disebabkan karena adanya
berbagai penyebab untuk pembengkakan kelenjar parotis, selain daripada gondongan. Pasien-
pasien yang pernah di imunisasi menunjukkan bahwa mereka tidak kehilangan imunitas
sedikitpun. Bila seorang ibu hamil pernah menderita gondongan, maka antibodi gondongan
akan diteruskan menembus plasenta dan tetap ada selama bulan-bulan awal hidup si bayi.
6


PENUTUP
Setelah dilakukan anamnesa oleh dokter, diketahui identitas serta keluhan utama pasien,
yakni adanya pembengkakan yang nyeri pada leher. Diduga penyakitnya adalah parotitis epidemika,
dengan tanda-tanda yang telah ditunjukkan. Akan tetapi, tanda-tanda penyakit ini juga muncul pada
beberapa penyakit lainnya. Maka itu kita menggunakan pemeriksaan penunjang untuk mengeliminasi
kemungkinan penyakit lain yang diderita pasien. Setelah itu dikenali sifat-sifat penyakitnya, mulai
dari gejala klinis yang berhubungan, etiologi, epidemiologi, prognosis, komplikasi penyakit, hingga
terapi dan tindakan prefentif untuk mencegah penyebaran lebih lanjut penyakit ini.
Pasien menderita parotitis epidemika.

Page 17 of 18

DAFTAR PUSTAKA
1. Setiyohadi B, Supartondo. Anamnesis. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiadi S. Buku ajar ilmu penyakit dalam: jilid 1. Edisi ke-5. Jakarta Pusat:
InternaPublishing; 2009. Bab 8, Anamnesis; h.25-28.
2. Setiyohadi B, Subekti I. Pemeriksaan fisis umum. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiadi S. Buku ajar ilmu penyakit dalam: jilid 1. Edisi ke-5. Jakarta Pusat:
InternaPublishing; 2009. Bab 9, Pemeriksaan fisis umum; h.29-53.
3. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta: EGC; 2009.h.77-89.
4. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Edisi ke-
8. Jakarta: EGC; 2009.h.166-290.
5. Mason WH. Mumps. In: Kliegman RM. Nelson textbook of pediatrics. 18
th
Ed. Philadelphia:
Elsevier; 2007. Chapter 245, Mumps; p.1341-4.
6. Brunell PA. Mumps. In: Rudolph AM. Rudolphs pediatrics. 19
th
Ed. London: Appleton &
Lange; 1991. Chapter 14.3.14, Mumps; p.680-2.
7. Wikipedia. Child with mumps [Gambar dari internet]. 30 Mei 2006 [Diakses 10 Nov 2013]
Diakses dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Mumps
8. ENT Carolina. Salivary glands whats normal? whats abnormal? [Gambar dari internet].
November 2013 [Diakses 10 Nov 2013]
Diakses dari: http://www.entcarolina.com/education-salivary-glands.php
9. Micron Medical Multimedia. Sobotta atlas of human anatomy [CD]. Jakarta: Micron
Medical Multimedia; 2012. 1 CD.
10. Aly F. AFIP figure 1-7 [Gambar dari internet]. Agustus 2010 [Diakses 10 Nov 2013]
Diakses dari: http://www.pathologyoutlines.com/topic/salivaryglandsnormalanatomy.html
11. Cleveland Clinic. Sjrgens Syndrome [Gambar dari internet]. November 2013 [Diakses 10
Nov 2013]
Diakses dari: http://my.clevelandclinic.org/orthopaedics-rheumatology/diseases-conditions/
hic-sjogrens-syndrome.aspx
12. MedicineNet. Picture of systemic lupus erythematosus 1 [Gambar dari internet]. November
2013 [Diakses 10 Nov 2013]
Diakses dari: http://www.medicinenet.com/image-collection/systemic_lupus_erythematosus_
1_picture/picture.htm
13. Ghorayeb BY. Right parotid tumor [Gambar dari internet]. Mei 2013 [Diakses 10 Nov 2013]
Diakses dari: http://www.ghorayeb.com/parotidectomyfaq.html
14. Ghorayeb BY. Left parotid pleomorphic adenoma [Gambar dari internet]. Mei 2013 [Diakses
10 Nov 2013]
Page 18 of 18

Diakses dari: http://www.ghorayeb.com/parotidectomyfaq.html
15. Exodontia. Osteomyelitis [Gambar dari internet]. Mei 2013 [Diakses 10 Nov 2013]
Diakses dari: http://www.exodontia.info/Osteomyelitis.html
16. Hunt M. Paramyxovirus [Gambar dari internet]. 26 April 2010 [Diakses 10 Nov 2013]
Diakses dari: http://pathmicro.med.sc.edu/mhunt/rna-ho.htm
17. Hunt M. Structure of a typical paramyxovirus [Gambar dari internet]. 26 April 2010 [Diakses
10 Nov 2013]
Diakses dari: http://pathmicro.med.sc.edu/mhunt/rna-ho.htm
18. McLean HQ, Fiebelkorn AP, Temte JL, Wallace GS. Prevention of measles, rubella,
congenital rubella syndrome, and mumps, 2013: summary recommendations of the advisory
committee on immunization practices (ACIP). CDC [Internet]. 14 Juni 2013 [Diakses 11
November 2013]; 62(RR04);1-34.
Diakses dari: http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr6204a1.htm
19. ChildHealthSafety. Mumps mortality England & Wales [Gambar dari internet]. November
2013 [Diakses 11 Nov 2013]
Diakses dari: http://childhealthsafety.wordpress.com/graphs/#Mumps_Eng_Wales