Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Temporomandibular merupakan sendi yang bertanggung jawab terhadap pergerakan
membuka dan menutup rahang, mengunyah dan berbicara, yang letaknya di bawah depan
telinga.
1
Sendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala, sehingga bila
terjadi sesuatu pada salah satu sendi ini, maka seseorang mengalami masalah serius. masalah
tersebut berupa nyeri pada telinga, pipi, dan daerah temporal, bunyi keletuk sendi sewaktu
membuka dan menutup mulut, keterbatasan dalam membuka mulut dan menggerakkan
mandibula, bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci, serta sakit kepala.
2-3
Etiologi kelainan sendi temporomandibular multiaktorial akan tetapi gangguan
oklusal, neuromuskular dan psikologis memegang peran dalam pengembangan kelainan sendi
temporomandibular.
1
!ntuk menegakkan diagnosis kelainan sendi temporomandibular tidak cukup hanya
dengan pemeriksaan subyekti dan klinis, tetapi mutlak juga diperlukan pemeriksaan
radiograik.
2
"enatalaksanaan meliputi perawatan konser#ati, operati, implan, dan perawatan post
operati. $etepatan perawatan bedah membutuhkan pengetahuan terperinci mengenai
anatomi T%&, anamnesa yang adekuat, pemeriksaan isik yang tepat, dan pemeriksaan
radiologis yang menunjang.
1-'
1
BAB II
ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULAR
Sendi adalah hubungan antara dua tulang. Sendi temporomandibula merupakan
artikulasi antara tulang temporal dan mandibula, dimana sendi T%& didukung oleh(
)-*
1. "rosesus kondiloideus
2. +igamen Sendi Temporomandibula
3. Suplai ,arah pada Sendi Temporomandibula
'. "ersaraan pada Sendi Temporomandibula
Temporomandibula merupakan sendi yang bertanggung jawab terhadap pergerakan
membuka dan menutup rahang mengunyah dan berbicara yang letaknya dibawah depan
telinga. Sendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala, sehingga bila
terjadi sesuatu pada salah satu sendi ini, maka seseorang mengalami masalah yang serius.
%asalah tersebut berupa nyeri saat membuka, menutup mulut, makan, mengunyah, berbicara,
bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci.
)-*
Susunan anatomi normal dari sendi temporomandibula dibentuk oleh bagian - bagian(
.
1. Sendi sino#ial tulang tengkorak. /rtikulatio sino#ial kranii.
2. Sendi temporomandibular. /rtikulasi temporomandibularis.
3. ,isk artikular. ,iskus artikularis. ,isk bikonka dari jaringan ibrous dan
ibrokartilago yang terletak antara kepala mandibula dan osa artikular
menghubungkan kapsul artikular pada semua sisi, sehingga sendi terbagi menjadi dua
kompartemen, yang keduanya merupakan unit ungsional dari sistem diskokapsular.
'. +ateral 0temporomandibular1 ligamen. +ig. laterale. Sebuah band ibrous yang kuat
kadang muncul pada permukaan lateral sendi. %elewati miring ke atas dan ke depan
dari leher mandibula.
). +igamentum medial. +ig. mediale. "engendali dinding medial kapsul.
2. %embran sino#ial superior. %embrana sino#ialis superior. +apisan sino#ial rongga
artikular superior.
*. %embran sino#ial inerior. %embrana sino#ialis inerior. +apisan sino#ial rongga
artikular inerior.
.. +igamen sphenomandibular. +ig. sphenomandibulare. +igamen datar pada aspek inti
dari ramus mandibula yang terbentang dari oramen mandibula ke tulang belakang
dari tulang sphenoid lateral ke oramen spinosum.
3. +igamen stylomandibular. +ig. stylomandibulare. +igamentum melewati permukaan
anterior proses styloid ke sudut mandibula.
14. +igamen pterygospinal. +ig. pterygospinale. 5and jaringan ikat yang luas memanjang
dari bagian atas pelat lateral proses pterygoideus ke tulang belakang dari sphenoid.
2
11. +igamen stylohyoid. +ig. stylohyoideum. +igamentum berjalan antara prosus styloid
dan tanduk yang lebih kecil dari tulang hyoid. Sisa-sisa lengkungan aring kedua.
Stylohyoid ligament. +ig. stylohyoideum. +igament running between the styloid
process and the lesser horn o the hyoid bone. 6estige o the second pharyngeal arch.
7ambar 1. Sendi Temporomandibula, Tampak +ateral.
7ambar 2. Sendi Temporomandibula, Tampak medial.
3
7ambar 3. Sendi Temporomandibula, bagian sagital.
2.1. Prosesus kondlodeus
$ondiloideus mandibula adalah bagian yang menonjol dari mandibula yang meluas ke
arah superior dan posterior, berbentuk cembung dengan panjang 24mm medio-lateralis dan .-
14mm ketebalan anterior-porterior.
2
"ermukaan artikulasi tulang temporal terdiri dari dua bagian yaitu osa artikularis dan
eminensia artikularis. 8osa artikularis cekung dalam arah antero-posterior medio-lateral.
Eminensia artikularis membentuk batas anterior dari osa mandibularis yang meluas ke
posterior dan dibatasi oleh linggir meatus akustikus eksternus.
),2
%eniskus berbentuk o#al yang membagi sendi menjadi dua bagian yang terpisah,
yaitu bagian atas antara meniskus dan permukaan artikularis tulang temporal dan bagian
bawah di antara meniskus dan permukaan kondiloideus. 5entuk permukaan atasnya cekung-
cembung dari depan ke belakang yang beradaptasi dengan permukaan artikulasi tulang
temporal sedangkan bentuk permukaan bawahnya cekung yang beradaptasi dengan
kondiloideus mandibula. ,i bagian depan dan belakang tebal sedangkan tipis di antara ke dua
penebalan ini. +igamen kapsular melekat ke sekeliling meniskus ini, tendon muskulus
pterigoideus eksternus, muskulus maseter dan muskulus temporalis melekat ke pinggir depan
dari meniskus ini melalui ligamen kapsular.
2,*
%eniskus ini terbentuk dari kolagen a#askuler yang berungsi untuk menstabilisasi
kondilus terhadap permukaan artikularis tulang temporal. 8ungsi lapisan lemak yang terdapat
di muskulus pterigoideus lateralis adalah untuk memungkinkan terjadinya gerakan rotasi pada
saat membuka mulut. ,aerah ini mengandung pleksus #ena sehingga didapati jaringan lunak
yang leksibel.
2
$apsul sendi di sebelah luar membentuk ligamen kapsular yang terdiri dari jaringan
ikat berserat putih yang melekat ke atas pada bagian pinggir osa artikularis dan tuberkulum
4
artikularis, melekat ke bawah kolum mandibula. $apsul ini diperkuat oleh ligamen
temporomandibula di sebelah lateral sedangkan bagian depan diperkuat oleh muskulus
pterigoideus.
2
7ambar '. Struktur Sendi Temporomandibular Tampak +ateral.
7ambar ). Struktur Sendi Temporomandibular Tampak 9oronal.
2.2. Lga!en Send Te!"oro!and#ula
+igamen temporomandibula lebih luas di bagian atasnya dari pada di bagian
bawahnya. "erlekatannya ke permukaan lateralis dari arkus :igomatikus dan ke tuberkulum
artikularis pada bagian atas. ,i bagian bawah melekat ke kolum mandibula. +igamen ini
berhubungan dengan kelenjar parotis dan kulit di sebelah lateral, sedangkan di sebelah medial
dengan ligamen kapsular.
*
+igamen sphenomandibula bentuknya tipis dan pipih$ melekat ke spina angularis os
sphenoidalis pada bagian atas, melekat di bagian bawah sebelah lingual dari oramen
mandibula. +igamen ini berhubungan dengan muskulus pterigoideus eksternus di bagian atas,
di bagian bawah dengan arteri dan #ena al#eolaris inerior, lobus kelenjar parotis dan ramus
mandibula. ,i sebelah medial berhubungan dengan muskulus pterigoideus internus.
),.
+igamen stylomandibula bentuknya bulat dan panjang. +igamen ini melekat ke
prosesus stiloideus os temporalis di bagian atas. ,i bagian bawah melekat ke angulus
mandibula dan margo posterior dari ramus mandibula. +igamen ini berhubungan dengan
muskulus maseter dan kelenjar parotis pada bagian lateral. ,i bagian medial dengan
muskulus pterigoideus internus dan kelenjar submandibularis.
),.
5
7ambar 2. +igamen Sendi Temporomandibula.
2.%. Su"la Dara& "ada Send Te!"oro!and#ula
,i belakang meniskus ada suatu kelompok jaringan ikat longgar yang banyak berisi
pembuluh darah dan sara. Suplai darah yang utama pada sendi ini oleh arteri maksilaris
interna terutama melalui cabang aurikular. /rteri maksilaris merupakan cabang terminal dari
arteri karotis eksterna yang mensuplai struktur di bagian dalam wajah dan sebagian wajah
luar. /walnya berada di kelenjar parotis, berjalan ke depan di antara ramus mandibula dengan
ligamen sphenomandibula, kemudian ke sebelah dalam dari muskulus pterigoideus eksternus
menuju osa pterigoideus.
)-3
/rteri ini terbagi atas 3 bagian yaitu( Pars mandibularis yang berjalan mulai dari
bagian belakang kolum mandibula sampai ke osa inratemporalis, Pars pterigoideus yang
berada di dalam osa inratemporalis, Pars pterygopalatinus yang berada di dalam osa
pterigopalatina. ,aerah sentral meniskus, lapisan ibrous dan ibrokartilago umumnya tidak
memiliki suplai darah sehingga metabolismenya tergantung pada diusi tulang yang terletak
di dalam dan cairan sino#ial.
)-3
6
7ambar *. /rteri %aksilaris.
2.'. Persara(an "ada Send Te!"oro!and#ula
"ersaraan sensorik pada sendi temporomandibula yang terpenting dilakukan oleh
ner#us aurikulotemporal yang merupakan cabang pertama posterior dari ner#us mandibularis.
Sara lain yang berperan adalah ner#us maseterikus dan ner#us temporal. ;er#us maseterikus
bercabang lagi di depan kapsul dan meniskus. ;er#us aurikulotemporal dan ner#us
maseterikus merupakan serabut-serabut propriosepti dari impuls sakit ner#us temporal
anterior dan posterior melewati bagian lateral muskulus pterigoideus, yang selanjutnya masuk
ke permukaan dari muskulus temporalis, saluran spinal dari ner#us trigeminus. "ermukaan
ibrous artikular, ibrokartilago, daerah sentral meniskus dan membran sino#ial tidak ada
persaraannya.
)-3
7ambar .. "ersaraan pada Sendi Temporomandibula.
BAB III
)ISIOLO*I PER*ERA+AN SENDI TEMPOROMANDIBULAR
7
5erdasarkan hasil penelitian elektromiograi, gerak mandibula dalam hubungannya
dengan rahang atas dapat diklasiikasikan sebagai berikut yaitu (
14
1. 7erak membuka
2. 7erak menutup
3. "rotrusi
'. <etusi
). 7erak lateral
%.1 *erak !e!#uka
Seperti sudah diperkirakan, gerak membuka maksimal umumnya lebih kecil daripada
kekuatan gigitan maksimal 0menutup1. %uskulus pterygoideus lateralis berungsi menarik
prosessus kondiloideus ke depan menuju eminensia artikularis. "ada saat bersamaan, serabut
posterior muskulus temporalis harus relaks dan keadaan ini akan diikuti dengan relaksasi
muskulus masseter, serabut anterior muskulus temporalis dan muskulus pterygoideus
medialis yang berlangsung cepat dan lancar. $eadaan ini akan memungkinkan mandibula
berotasi di sekitar sumbu hori:ontal, sehingga prosessus kondilus akan bergerak ke depan
sedangkan angulus mandibula bergerak ke belakang. ,agu akan terdepresi, keadaan ini
berlangsung dengan dibantu gerak membuka yang kuat dari muskulus digastricus, muskulus
geniohyoideus dan muskulus mylohyoideus yang berkontraksi terhadap os hyoideum yang
relati stabil, ditahan pada tempatnya oleh muskulus inrahyoidei. Sumbu tempat berotasinya
mandibula tidak dapat tetap stabil selama gerak membuka, namun akan bergerak ke bawah
dan ke depan di sepanjang garis yang ditarik 0pada keadaan istirahat1 dari prosessus
kondiloideus ke oriisum canalis mandibularis.
),14,11
%.2 *erak !enutu"
"enggerak utama adalah muskulus masseter, muskulus temporalis, dan muskulus
pterygoideus medialis. <ahang dapat menutup pada berbagai posisi, dari menutup pada posisi
protrusi penuh sampai menutup pada keadaan prosesus kondiloideus berada pada posisi
paling posterior dalam osa glenoidalis. 7erak menutup pada posisi protrusi memerlukan
kontraksi muskulus pterygoideus lateralis, yang dibantu oleh muskulus pterygoideus
medialis. 9aput mandibula akan tetap pada posisi ke depan pada eminensia artikularis. "ada
gerak menutup retrusi, serabut posterior muskulus temporalis akan bekerja bersama dengan
muskulus masseter untuk mengembalikan prosesus kondiloideus ke dalam osa glenoidalis,
sehingga gigi geligi dapat saling berkontak pada oklusi normal.
),*,.,14,11
"ada gerak menutup ca#um oris, kekuatan yang dikeluarkan otot pengunyahan akan
diteruskan terutama melalui gigi geligi ke rangka wajah bagian atas. %uskulus pterygoideus
lateralis dan serabut posterior muskulus temporalis cenderung menghilangkan tekanan dari
caput mandibula pada saat otot-otot ini berkontraksi, yaitu dengan sedikit mendepresi caput
8
selama gigi geligi menggeretak. $eadaan ini berhubungan dengan akta bahwa sumbu rotasi
mandibula akan melintas di sekitar ramus, di daerah manapun di dekat oriisum canalis
mandibular. =alaupun demikian masih diperdebatkan tentang apakah articulatio
temporomandibula merupakan sendi yang tahan terhadap stres atau tidak. >asil-hasil
penelitian mutakhir dengan menggunakan model otoelastik dan dengan cahaya polarisasi
pada berbagai kondisi beban menunjukkan bahwa artikulasio ini langsung berperan dalam
mekanisme stres.
),*,.,14,11
%.% Protrus
"ada kasus protrusi bilateral, kedua prosesus kondiloideus bergerak ke depan dan ke
bawah pada eminensia artikularis dan gigi geligi akan tetap pada kontak meluncur yang
tertutup. "enggerak utama pada keadaan ini adalah muskulus pterygoideus lateralis dibantu
oleh muskulus pterygoideus medialis. Serabut posterior muskulus temporalis merupakan
antagonis dari kontraksi muskulus pterygoideus lateralis. %uskulus masseter, muskulus
pterygoideus medialis dan serabut anterior muskulus temporalis akan berupaya
mempertahankan tonus kontraksi untuk mencegah gerak rotasi dari mandibula yang akan
memisahkan gigi geligi. $ontraksi muskulus pterygoideus lateralis juga akan menarik discus
artikularis ke bawah dan ke depan menuju eminensia artikularis. ,aerah perlekatan
ibroelastik posterior dari diskus ke issura tympanos?uamosa dan ligamen capsularis akan
berungsi membatasi kisaran gerak protrusi ini.
)-.,14,11
%.' Retrus
Selama pergerakan, kaput mandibula bersama dengan discus artikularisnya akan
meluncur ke arah osa mandibularis melalui kontraksi serabut posterior muskulus temporalis.
%uskulus pterygoideus lateralis adalah otot antagonis dan akan relaks pada keadaan tersebut.
@tot-otot pengunyahan lainnyaakan berungsi mempertahankan tonus kontraksi dan menjaga
agar gigi geligi tetap pada kontak meluncur. Elastisitas bagian posterior discus articularis dan
capsula articulatio temporomandibularis akan dapat menahan agar diskus tetap berada pada
hubungan yang tepat terhadap caput mandibula ketika prosesus kondiloideus bergerak ke
belakang.
14,11
%., *erak lateral
"ada saat rahang digerakkan dari sisi yang satu ke sisi lainya untuk mendapat gerak
pengunyahan antara permukaan oklusal premolar dan molar, prosesus kondiloideus pada sisi
tujuan arah mandibula yang bergerak akan ditahan tetap pada posisi istirahat oleh serabut
posterior muskulus temporalis sedangkan tonus kontraksinya akan tetap dipertahankan oleh
otot-otot pengunyahan lain yang terdapat pada sisi tersebut. "ada sisi berlawanan prosesus
kondiloideus dan diskus artikularis akan terdorong ke depan ke eminensia artikularis melalui
9
kontraksi muskulus pterygoideus lateralis dan medialis, dalam hubungannya dengan relaksasi
serabut posterior muskulus temporalis. &adi, gerak mandibula dari sisi satu ke sisi lain
terbentuk melalui kontraksi dan relaksasi otot-otot pengunyahan berlangsung bergantian,
yang juga berperan dalam gerak protrusi dan retrusi.
14,11
"ada gerak lateral, caput mandibula pada sisi ipsilateral, ke arah sisi gerakan, akan
tetap ditahan dalam osa mandibularis. "ada saat bersamaan, caput mandibula dari sisi
kontralateral akan bergerak translasional ke depan. %andibula akan berotasi pada bidang
hori:ontal di sekitar sumbu #ertikal yang tidak melintas melalui caput yang AcekatB, tetapi
melintas sedikit di belakangnya. /kibatnya, caput ipsilateral akanbergerak sedikit ke lateral,
dalam gerakan yang dikenal sebagai gerak Bennett.
14,11
Selain menimbulkan pergerakan akti, otot-otot pengunyahan juga mempunyai aksi
postural yang penting dalam mempertahankan posisi mandibula terhadap gaya gra#itasi. 5ila
mandibula berada pada posisi istirahat, gigi geligi tidak beroklusi dan akan terlihat adanya
celah atau freeway space diantara arkus dentalis superior dan inerior.
14,11
7ambar 3. @tot otot pada mandibula.
10
7ambar 14. "erubahan posisi mandibula pada saat menutup dan membuka mulut
BAB I-
*AN**UAN TEMPOROMANDIBULAR
DE)INISI
"enyakit temporomandibular 0T%,1, atau sindrom sendi temporomandibular, adalah
penyebab paling umum nyeri pada wajah setelah sakit gigi. ,i jaman dahulu, banyak dokter
menyebut kondisi ini sebagai penyakit T%& atau sindrom T%&. T%, sebelumnya dikenal
dengan judul the eponymous title of Costen syndrome, setelah ,r. &ames 9osten, menjelaskan
banyaknya aspek dari sindrom yang berhubungan dengan maloklusi gigi. Saat ini telah
tersedia pandangan yang lebih komprehensi mengenai kondisi ini dan istilah gangguan
temporomandibular 0T%,1 adalah istilah yang lebih disukai dan lebih sering dipakai oleh
/merican /cademy o "ain oroacial 0//@"1 dan oleh sebagian kelompok lain yang
mensponsori studi awal mula serta pengobatan T%,. %enariknya, ;ational Cnstitute o
,ental dan 9ranioacial <esearch 0;C,9<1 menempatkan T%& dan T%, bersama-sama dan
11
menyebutnya sebagai gangguan sendi temporomandibular 0T%&,1. ,alam tinjauan pustaka
ini, penulis menggunakan T%,.
1-13
7angguan temporomandibular 0T%,1 adalah gangguan kompleks dan merupakan
suatu kumpulan kondisi permasalahan medis yang ditandai dengan nyeri pada sendi
temporomandibular 0nyeri myoasial1 dan jaringan sekitarnya, disertai bunyi pada sendi 0klik,
poping, krepitasi1, dan spasme otot pengunyahan, serta keterbatasan dalam membuka rahang.
/khir-akhir ini, fascial athromyalgia, menguraikan kondisi ini dengan lebih tepat. 7ejalanya
dapat berkisar dari klik minor ke nyeri hebat.
1-13
9edera dan kondisi lain yang mempengaruhi secara rutin sendi lain dalam tubuh,
seperti artritis, juga mempengaruhi sendi temporomandibular. Satu atau lebih sendi mungkin
dapat terlibat, tergantung pada tingkat keparahannya, dan dapat mempengaruhi kemampuan
seseorang dalam berbicara, mengunyah, menelan, berekspresi, dan bahkan bernaas.
Terdapat pula gangguan temporomandibular yang mempengaruhi otot rahang.
$ondisi ini dapat disertai dengan masalah pada sendi rahang atau dapat muncul sebagai
gangguan yang berdiri sendiri. mereka sering membingungkan dengan masalah sendi
rahang.
1-1'
EPIDEMOLO*I
%empengaruhi hampir 2)D populasi. ,engan wanita yang lebih dominan.
"erbandingan wanita(pria E )(1. ,engan kisaran terbanyak pada usia 1)-2) tahun. =alaupun
beberapa diantaranya nanti akan mengeluhkan permasalahannya pada usia lebih dari ')
tahun.
1-13
ETIOLO*I
"enyebab gangguan sendi temporomandibular telah menjadi isu yang diperdebatkan
selama bertahun-tahun. 5anyak hipotesis yang muncul mulai dari disharmoni oklusal sampai
pada penyakit psikosomatis. ,alam tahun terakhir ini, dasar etiologinya telah menjadi lebih
jelas.
1-1'
9lick tanpa disertai nyeri merupakan akibat dari pergerakan tiba-tiba dari band
posterior atau meniskus. Seiring pertambahan usia, band posterior berpindah kedepan dan
medial sebagai suatu proses normal penuaan. Cni adalah subluksasi dari meniskus. "erubahan
pada perputaran kembali kebelakang dari kondilus saat membuka dan kedepan saat menutup.
=hiplash injuries menyebutkan untuk merusak atau menghancurkan struktrurFsusunan
ligamentum posterior dan memungkinkan meniskus untuk melakukan subluG akut, meskipun
12
aktanya jarang. Subluksasi progresi dapat dihasilkan oleh beban sendi yang terlalu besar.
5eban sendi yang terlalu besar ini dikarenakan degenerasi permukaan artikulasi
ibrokartilago, dan hasil dalam meningkatkan pergeseran dan tekanan pada selipan
ligamentum posterior meniskus. Stres kompresi kronis dapat menyebabkan perubahan
bentuk pada permukaan sendi, terutama saat meniskus bersubluksi. >al ini mendorong ke
arah perubahan radiograi dan meniskus ektopik dapat muncul pada %<C. 5agaimanapun,
de#iasi dari normal memiliki sedikit nilai prognostik pada sebagian besar kasus asial
arthromyalgia. %elihat sendi memiliki kemampuan yang hebat dalam penyembuhan dan
adaptasi, ini biasanya di pertimbangkan kalau perubahan pada sendi dikarenakan kelebihan
beban, tetapi terdapat pertentangan seperti halnya bagaimana kelebihan beban yang
sebenarnya itu terjadi.
1-1'
"ada masa lalu telah terjadi pertentangan dalam perubahan yang terjadi dalam sendi
pada kondisi asial artromyalgia. $etika sendi memberikan nyeri 0arthralgia1, mayoritas
pasien memiliki nyeri yang menyebar pada seluruh wajah atau kepala. Cni disebabkan karena
nyeri pada otot mastikasi 0myalgia1, khususnya maseter, pterygoid medial dan temporal.
@tot-otot ini akan nyeri saat di palpasi. %ekanisme nyeri ini tidak pasti, tetapi sekali lagi hal
ini dipikirkan sebagai AoverloadB. &ika sendi terinlamasi dan sangat nyeri dari kebiasaan
paraungsional, seperti menggigit-gigit kuku, clenching, dan bruxism, otot terinlamasi juga.
1-
1'
>ipotesis populer yang dipegang selama bertahun-tahun adalah ketidaksesuaian pada
oklusi dapat mendorong stres pada sendi temporomandibular. $eterlibatan oklusal
mendorong pasien untuk menggigit dalam cara yang tidak wajar, dan menstimulasi bruxism.
>al ini tidak pernah terbukti sebagai penyebab utama dari asial arthromyalgia. Terkuncinya
gigi bagian posterior mungkin memiliki hubungan dengan asial arthromyalgia dan yang
terpikir adalah jika hal ini menyebabkan overload pada struktur sendi dan otot mudah saja
dikarenakan siapasaja harus mengprostusi rahang mereka untuk mengunyah makanan.
$ebiasaan protrusi#e, seperti menggigit kuku dan mengunyah bibir, adalah aktor
predisposisi yang nampak untuk menegaskan usul ini.
1-1)
Tidak ada keraguan lagi, bagaimanapun, stres memainkan peran penting pada kondisi
ini. 5eberapa orang merespon stres dengan mengepalkan 0clenching) gigi mereka sepanjang
hari, dan melakukan bruxism pada malamnya. "asien menderita karena asial arthromyalgia
dan stres akut akan cenderung menunjukkan hiperakti#itas otot pengunyahan selama malam-
malam selanjutnya. >iperakti#itas ini, kalau dia menetap, akan mengakibatkan overload pada
sendi dan otot. Overload memproduksi syno#itis dan perubahan pada ibrokartilago dan
13
rangkaian proses degenerati dapat muncul pada sendi. &ika kebiasaan paraungsional bisa
dikurangi dan stres-terkait clenching dan bruxism dapat dikurangi, maka permukaan sendi
dapat sembuh dan otot dapat pulih, tetapi tulang telah berubah bentuk permanen. Terdapat
banyak bukti yang menyatakan bahwa asial arthromyalgia adalah kondisi self-limiting,
terutama saat stres telah disingkirkan atau dimana kebiasaan paraungsional yang dihasilkan
akibat stres telah dikoreksi. "erubahan pada sendi nampak pada gambaran, dimana nyeri
tidak ada, dan sendi berungsi penuh pada kebanyakan kasus.
1-1)
Setiap kondisi pada mulut yang mendorong pasien untuk menemukan posisi yang
nyaman dengan cara mengoklusi gigi mereka, dapat menghasilkan nyeri arthromyalgia.
Seperti anomali intraoral harus ditemukan dan dieliminasi melalui rencanaterapi. /nomali
yang ditemukan dalam oklusi tidak boleh dirubah secara permanen 0dengan mengasahFigi
mengasah ulang gigi1 sampai otot pengunyahan tidak nyeri lagi dan telah berungsi secara
normal. 5erbagai bentuk alat-alat 0biteguards) yang ditempatkan diantara gigi telah
menunjukkan pertolongan dalam mengeliminasi nyeri.
1-1)
PATO)ISIOLO*I
,alam gangguan temporomandibular myogenous, penyebab simtomatologi 0yaitu,
nyeri, nyeri tekan, dan spasme otot pengunyahan1 adalah hiperakti#itas otot dan disungsi
akibat maloklusi #ariabel derajat dan durasi. 8aktor psikologis juga dapat memainkan peran.
!ntuk T%, yang berasal dari artikular, perpindahan disk merupakan penyebab paling
umum. "emindahan anterior abnormal dan penempatan dari band posterior antara kondilus
dan eminence menyebabkan nyeri, pops, dan krepitus. &ika band anterior berpindah secara
spontan kembali ke posisi normal sebelum selesainya pembukaan rahang, hal itu disebut
pemindahan anterior dengan pengurangan.
1-1)
"enurunan tiba-tiba pada band posterior menyebabkan timbulnya karakteristik bunyi
pop atau klik. &ika band posterior tetap berpindah ke anterior setiap waktu selama membuka
rahang, disebut dengan pemindahan ke arah anterior tanpa penurunanH rahang tidak dapat
dibuka secara penuh. $etidakmampuan untuk membuka rahang lebih dari 14 mm dikenal
sebagai close-lock. "ada T%, yang berasal dari artikular, spasme otot pengunyahan adalah
gejala sekunder yang sudah biasa.
1-1)
"enyebab lain dari T%, arthrogenous adalah penyakit-penyakit seperti penyakit
sendi degenerati, rheumatoid arthritis, ankilosis, dislokasi, ineksi, dan neoplasia,
patoisiologi yang jelas. Satu studi menemukan bahwa, pada pasien dengan penyakit
inlamasi kronis jaringan ikat, rasa sakit pada pergerakan mandibula dan nyeri pada palpasi
14
sendi temporomandibular posterior ini terkait dengan derajat aktor nekrosis tumor ala
dalam cairan sino#ial.
1-1)
,alam sebuah studi terpisah, interleukin 1 antagonis reseptor 0C+-1ra1 dan reseptor C+
1 CC 0SC+-1<CC1 larut dalam cairan sino#ial dan plasma darah pasien dengan keterlibatan T%&
polyarthritis menampakkan pengaruh terhadap peradangan sendi rahang.
1-1)
Sebuah perkembangan penting dapat menghubungkan beberapa aspek psikososial
penyakit dengan neurobiologi yang mendasari. Seperti kemungkinan pasien yang didiagnosis
dengan T%, berhubungan dengan #ariasi genetik untuk kode gen katekolamin-
@methyltranserase 09@%T1, yang berhubungan dengan beberapa aspek sensiti#itas nyeri.
1-1)
+LASI)I+ASI
T%, dapat dibagi menjadi 3 kategori utama, yaitu(
12
1. uscle disorders.
7angguan penyakit ini mencakup nyeri pada otot yang mengkontrol ungsi rahang,
seperti otot leher dan otot bahu. Tipe dari nyeri ini disebut nyeri myoasial dan
merupakan bentuk terbanyak dari T%,.
2. !erangement disorders.
7angguan penyakit ini berhubungan dengan kelainan pada sendi temporomandibular,
seperti dislokasi rahang, perpindahan disk, dan luka pada tulang.
3. !egenerative disorders.
7angguan penyakit ini berhubungan dengan artritis. Iang menyebabkan kerusakan
pada kartilago yang melindungi sendi temporomandibula.
"merican "cademy of Orofacial Pain 0//@"1 membagi luas T%, menjadi 2 sindrom(
.,1*
1. uscle-related T%, 0myogenous T%,1, gangguan Temporomandibular yang
berhubungan dengan otot, kadang disebut gangguan nyeri dan kelainan myoasial
temporomandibular.
2. #oint-related 0arthrogenous1 T%,, gangguan temporomandibular yang berhubungan
dengan sendi atau sering disebut dengan gangguan sendi temporomandibular
sebenarnya.
T%, myogenous lebih umum terjadi, dan tidak memiliki perubahan destrukti nyata
dari T%& pada radiograi dan dapat disebabkan oleh beberapa etiologi seperti bruxism dan
daytime $aw clenching. T%, arthrogenous dapat dijabarkan sebagai gangguan perpindahan
disk, dislokasi berulang kronis, penyakit sendi degenerati, kondisi artritis sistemik, ankilosis,
ineksi, dan neoplasia. "erlu diketahui juga kalau ke dua tipe ini sering muncul bersamaan
pada satu pasien.
.,1*
15
Sendi temporomandibular J kelainan muskuloskeletal terkait (
1.
C. Cntra-artikular 0Cntrakapsular1 "atologi
/. /rtikular ,isk
1. "emindahan
2. $elainan bentuk
3. /dhesi
'. ,egenerasi
). 9edera
2. "erorasi
*. "erkembangan anomali
5. !isc "ttachments
1. "eradangan
2. 9edera 0laserasi, hematoma, memar1
3. "erorasi
'. 8ibrosis
). /dhesi
9. Syno#ium
1. "eradanganFeusi
2. 9edera
3. /dhesi
'. >ipertroi syno#ialFhiperplasia
). "eradangan granulomatosa
2. Cneksi
*. /rtritis 0rematik, degenerati1
.. $ondromatosis syno#ial
3. ;eoplasma
,. /rtikular 8ibrokartilagus
1. >ipertroiFhiperplasia
2. ,egenerasi 0kondromalasia1
i. 9elahFbelahan
ii. 8ibrilasi
iii. +epuh
i#. Erosi
E. $ondilus mandibula dan osa glenoid
1. @steoartritis 0osteoartrosis, penyakit sendi degenerati1
i. ;ekrosis a#askular 0osteonekrosis1
ii. <esorption
iii. >ipertroi
i#. 8ibrosa and ankilosis tulang
#. /rtropati implan
#i. 8rakturFdislokasi
CC. EGtra-artikular 0patologi eGtrakapsular1
". %uskuloskeletal
1. Tulang 0temporal, mandibula, styloid1
i. "erkembangan anomali 0hipoplasia, hipertroi, malormasi, ankilosis1
ii. 8raktur
iii. "enyakit metabolik
i#. "enyakit peradangan sistemic 0jaringan penghubungFartritis1
#. Cneksi
#i. ,isplasia
16
#ii. ;eoplasma
2. @tot mastikasi dan tendon.
i. "erkembangan anomali
ii. 9edera
iii. Cnlamasi
i#. >ipertroi
#. /troi
#i. 8ibrosis, kontraktur
#ii. "enyakit metabolik
#iii. Cneksi
iG. ,isplasia
G. ;eoplasma
Gi. 8ibromyalgia
%. Sistem sara pusatFperipheral nervous system
1. ,istroi releks simpatis
Pertu!#u&an a#nor!al
7angguan pertumbuhan pada sistem mastikasi dibagi ke dalam 2 kategori umum menurut
jaringan yang terlibat(
.,12
11 7angguan pada tulang
21 7angguan pada otot
7angguan kongenital dan perkembangan tulang diantaranya agenesis 0tidak tumbuh1,
hipoplasia 0perkembangan yang tidak sempurna1, hiperplasia 0pertumbuhan yang berlebihan1,
atau neoplasia 0pertumbuhan yang tidak terkontrol1.
.,12,1.
Trauma merupakan salah satu aktor penyebab, terutama pada sendi seseorang yang masih
muda bisa ditandai dengan hipoplasia pada kondilusnya, yang mengakibatkan
ketidakseimbangan pada pola pertumbuhannya. "ada akhirnya akan mengakibatkan
pergeseran mandibula yang berhubungan dengan maloklusi. $etidakseimbangan pola
pertumbuhan mungkin juga mengakibatkan rheumatoid arthritis dari perkembangan yang
cepat. Trauma dapat menyebabkan reaksi hiperplastik, yang mengakibatkan pertumbuhan
yang berlebihan pada tulang. Cni biasanya dapat dilihat pada tempat raktur yang sudah
lama.
.,12,1.
"erubahan ungsi atau nyeri bukan merupakan yang terpenting dalam perubahan struktur.
$etidakseimbangan klinis mungkin berhubungan dengan perubahan struktur dan juga
menunjukan berhentinya pertumbuhan atau perkembangan. 7ambaran radiologi pada T%&,
dan 9T-scan, sangat penting dalam mengidentiikasi perubahan struktur tulang.
.,12,1.
+elanan letak "ada send te!"oro!and#ular
$elainan letak disk( ,isk bergeser melalui permukaan artikularis dari kondilus.
.
Pen.akt send degenerat( atau n(la!as
5ukan merupakan gangguan pada sendi temporalnya, kelainan ini jarang di temui pada
penderita kelainan sendi temporomandibular.
.
Dslokas
17
$elainan lain dapat berupa dislokasi dimana di bagi atas 2 bagian( ,islokasi tanpa adanya
pengurangan atau reduksi dan dislokasi dengan adanya pengurangan atau reduksi.
.
Ankloss
%erupakan penyakit yang menyebabkan keterbatasan pada saat membuka mulut yang di
sebabkan oleh kelainan T%&. ,imana ankilosis terbagi atas 2 yaitu(
.,14
11 /nkilosis EGtrakapsular
21 /nkilosis Cntrakapsular
/nkilosis ibrosa
/nkilosis Tulang
&ntracapsular ankylosis. /nkilosis intrakapsular, atau penyatuan sendi, dapat menyebabkan
pembukaanFdepresi pada mandibula berkurang. /nkilosis intrakapsular timbul akibat
penyatuan dari kondilus, disk, dan kompleks ossa, juga merupakan hasil dari pembentukan
jaringan ibrosa, penyatuan tulang, atau kombinasi keduanya. "enyebab yang paling umum
mencakup makrotrauma, yang paling sering berhubungan dengan raktur kondilar. "enyebab
lain dari ankilosis juga karena sebelumnya menjalani perawatan pembedahan yang
menimbulkan bekasFgoresan dan juga ineksi. E#aluasi pada pasien memperlihatkan
pembatasan pada pembukaan maksimal yang cukup parah, penyimpangan pada sisi yang
terkena, dan ekskursi lateral pada sisi kontralateral. /nkilosis yang disebabkan oleh jaringan
ibrosa, mobilitas rahangnya lebih besar daripada ankilosis yang disebabkan oleh penyatuan
tulang.
11-12
'xtracapsular ankylosis. /nkilosis tipe ini biasanya melibatkan prosesus koronoid dan otot
temporalis. "enyebab yang paling sering dari ankilosis eGtrakapsular antara lain, pembesaran
dari prosesus koronoid, atau hiperplasia, dan trauma pada area lengkung :ygomatikus. Cneksi
di sekitar otot temporalis juga dapat menghasilkan ankilosis eGtrakapsular. "asien ini
biasanya mempunyai batasan pada pembukaan mulut dan penyimpangan pada sisi yang
terkena. "ada kasus ini, sangat jarang terjadi restriksi total pada pembukaan, dan batasan
gerakan lateral dan protrusi biasanya menunjukkan tidak adanya ankilosis intrakapsular.
11-12
Trau!a/)raktur
+uka pada T%& khususnya kondilus, bisa disebabkan oleh mekanisme yang ber#ariasi. "ada
orang dewasa, penyebab raktur ini sebagian besar oleh kecelakaan kandaraaan bermotor,
kekerasan, kecelakaan kerja, serta kecelakaan saat olahraga, aktor lain yang menyebabkan
raktur ini adalah jatuh.
11-1*
+indahl, membagi gaya traumatik penyebab luka pada kondilus ke dalam tiga kategori.
"ertama adalah energi yang yang dikeluarkan oleh masing - masing indi#idu karena objek
bergerak. +uka jenis ini digolongkan kedalam luka pukulan wajah oleh karena tinju,
pemukul baseball, atau objek lain. +uka yang kedua adalah luka ketika seorang indi#idu yang
bergerak mengenai benda yang diam, sebagai contoh ketika seorang anak terjatuh dan dagu
18
menghantam aspal. %ekanisme jenis ini secara klasik di deskripsikan sebagai Kparade
ground fracture(. $ategori yang terakhir adalah energi yang merupakan kombinasi dari yang
pertama dan kedua, seperti pada kecelakaan ketika seorang pengendara mobil menabrak
mobil dari arah yang berlawanan, dan biasanya menyebabkan luka yang lebih berat.
12
Neo"las!a
;eoplasma pada T%& sangat jarang. $adang-kadang menimbulkan restriksiFpembatasan pada
pembukaan rahang dan nyeri pada sendi. Tumor di dalam T%& mengakibatkan kelainan pada
kondilus dan hubungan pada osa serta dapat mengakibatkan ankilosis intrakapsular.
12-1*
In(eks
Cneksi pada T%& juga sangat jarang ditemukan, bahkan pada kasus trauma atau pengobatan
operati pada area ini. "erluasan dari proses ineksi pada telinga kadang melibatkan T%& dan
mengakibatkan ankilosis intrakapsular.
12-1*
ANAMNESA
Sebuah anamnesis yang kronologis dan komprehensi, pemeriksaan isik pasien,
termasuk riwayat pemeriksaan gigi, sangat penting untuk mendiagnosa kondisi tertentu untuk
memutuskan penyelidikan lebih lanjut, jika ada, dan untuk menyediakan perawatan khusus.
1-
1.
7ejala T%& harus dibedakan dari kondisi lain di daerah oroacial. 7ejala sebelumnya,
durasi dan potensi penyebab gejala seperti trauma harus diperoleh dari pasien. /kti#itas
apapun yang memperburuk atau mengurangi kondisi harus diperhatikan. %engunyah,
menguap atau kebiasaan dapat memperburuk penyakit paraungsional T%&. Sebuah riwayat
medis dan obat penuh harus diambil, serta riwayat keluarga dan sosial. <ele#ansi khusus
adalah peristiwa kehidupan traumatis seperti kehilangan, pindah rumah atau pekerjaan atau
bercerai. Stres adalah aktor umum dalam T% disungsi.
1-1.
1.
"asien mungkin memiliki sejarah penggunaan komputer berat dimana hal ini telah
ditemukan berkaitan dengan perkembangan T%,.
2.
Sekitar sepertiga dari pasien memiliki riwayat masalah kejiwaan.
3.
"asien mungkin memiliki riwayat trauma wajah, perawatan gigi yang buruk, dan atau
stres emosional.
'.
"asien dengan gangguan makan kronis memiliki pre#alensi tinggi T%,.
).
5anyak pasien dengan T%, juga memiliki nyeri leher dan atau nyeri bahu.
2.
,okter harus menanyakan tentang pengepalan pada siang atau malam hari.
"engepalan pada siang hari memiliki hubungan kuat dengan T%, disbanding dengan
bruxism di malam hari.
*.
"asien mungkin mengeluh salah satu gejala berikut(
1-13
a. ;yeri( ;yeri biasanya periauricular, terkait dengan proses mengunyah, dan dapat
menyebar ke kepala, tapi tidak seperti sakit kepala. ;yeri dapat terjadi unilateral
19
atau bilateral 0nyeri dan gangguan myoasial1, yang biasanya unilateral T%,
artikular, kecuali pada rheumatoid arthritis. <asa sakit ini sering digambarkan
sebagai #ariabel nyeri dalam dengan nyeri intermiten pada pergerakan rahang.
b. $lik, pop, dan snap( Suara-suara biasanya dikaitkan dengan rasa sakit pada T%,.
$lik dengan rasa sakit pada perpindahan disk anterior dikarenakan pengurangan
tiba-tiba dari band posterior ke posisi normal. Sebuah klik yang terisolasi sangat
umum terjadi pada populasi umum dan bukan merupakan aktor risiko untuk
pengembangan T%,.
c. Episode keterbatasan dalam membuka dan menutup rahang( "enguncian dapat
pada saat membuka dan menutup mulutH "ada saat membuka 0Open-lock) adalah
ketidakmampuan untuk menutup mulut dan terlihat saat kondilus mandibula
berpindah ke anterior di depan eminensia artikular. Close-lock adalah
ketidakmampuan untuk membuka mulut dikarenakan rasa sakit atau perpindahan
disk.
d. Sakit kepala( <asa sakit T%, tidak seperti sakit kepala biasa. T%, dapat
bertindak sebagai pemicu pada pasien yang rentan terhadap sakit kepala. ;yeri
otot T%, melibatkan predisposisi untuk migrain dan sakit kepala harian kronis
dan T%, yang lebih menyakitkan, semakin besar kemungkinan untuk
berhubungan dengan sakit kepala. 5eberapa pasien mungkin memiliki riwayat
sakit kepala resisten terhadap pengobatan, sehingga pemicu T%, harus tidak
diabaikan pada pasien tersebut.
5eberapa orang dengan asial arthromyalgia mempunyai pengalaman trauma pada
aparatus pengunyahan di masa lalunya, seperti pukulan pada rahang dan rahang yang
ternganga lebar-lebar. Cni akan mendorong kepada nyeri akut dengan keterbatasan pergerakan
rahang. 5unyi klik yang tidak disertai nyeri atau bunyi pada sendi dapat mengikuti
penyembuhan awal. 5eberapa bulan atau tahun kemudian, episode lanjutan dapat muncul,
disertai nyeri pada seluruh sendi dan pada semua sisi pada wajah dan kepala, dan lanjutan
keterbatasan pada pembukaan. ;yeri yang ada dapat menjadi hebat pada batas pembukaan
dan AklikB yang ada dapat lenyapFberhenti. "emulihan lanjutan, hanya untuk pengembalian
setelah tanpa sengaja menggangga lebar-lebar, atau sebuah kunjungan lanjutan pada dokter
gigi. 5agaimanapun, kondisi ini dapat timbul tanpa riwayat trauma sebelumnya.
1-13
8asial arthromyalgia dapat muncul dan dengan disertai ekstraserbasi saat stres. Sering
dengan nyeri sendi, tapi kebanyakan sakit dirasakan pada otot pengunyahan. "asien ini
terbagi dalam 2 grup, grup besar dengan nyeri dan trismus saat bangun, grup yang lebih kecil
didalam mana nyeri timbul selanjutnya saat siang hari. /nalgetik sederhana dapat diberikan
20
namun tidak mengakhiri nyeri, dan pada beberapa pasien, ketidaknyamanan dirasakan sangat
hebat dan untuk menikmati hidup selanjutnya merupakan hal yang mustahil. 5anyak
ditemukan dengan kebiasaan paraungsional seperti bruxism, cleching pada gigi sebagai
respon dari stres, menggigit bibir, dan menggigit kuku. Sisi awal cenderung dipengaruhi
sebagian besar. &arang pasien usia muda datang dengan gejala akut yang sangat hebat yang
tidak dapat ditahan.
1-13
PEMERI+SAAN +LINIS
"emeriksaan umum kepala dan leher harus dilakukan, memberikan perhatian khusus
terhadap nyeri di otot m. sternomastoideus dan temporal. Sudut rahang dapat nyeri tekan di
mana otot pterygoideus medial terpasang.
1-13
Pe!erksaan Ekstraoral
Cnspeksi(
.-13
1. /bnormalitas konturFgaris wajah
2. "embengkakan
3. "engepalan atau spasme otot-otot leher ipsilateral.
"alpasi(
.-13
"alpasi sendi rahang terbaik dilakukan secara lateral di bawah lengkung :ygomatic
dan 1-2 cm anterior ke tragus. "erabaan aspek posterior sendi melalui kanal auditori
eksternal. Sendi harus di raba pada dua posisi yaitu, membuka dan menutup mulut, baik
lateral maupun posterior. $etika palpasi, pemeriksa harus merasakan spasme otot, nyeri otot
atau sendi, dan suara dari sendi. @tot-otot yang di palpasi merupakan bagian dari
pemeriksaan T%& lengkap adalah masseter, temporalis, pterygoideus medial, pterygoideus
lateral, dan sternokleidomastoidalis. ;yeri menunjukkan adanya inlamasi lokal.
.-13
Setiap bunyi AklikB yang ditemukan harus sesuai dengan hubungannya dalam
membuka dan menutup mulut. ,ari sini posisi dari meniskus dapat ditaksir, klik pada
pembukaan dini menunjukkan adanya perubahan tempat minor, dan pada klik yang terlambat
menunjukkan perubahan posisi mayor. "ada nyeri dan disungsi myoascial, nyeri sendi dan
bunyi AklikB pada sendi biasanya tidak ada.
.-13
$repitasi pada sendi juga dapat ditemukan. @tot pengunyahan harus dipalpasi dengan
gigi dikepalkan. ;yeri menunjukkan adanya hiperakti#itas. &arak antara insisor atas dan
bawah pada pembukaan maksimal harus sesuai ukuran 0normal '4-)) mm1 dan setiap de#iasi
dari garis tengah pada pembukaan dicatat.
.-13
21
Cni adalah test yang paling sensiti untuk gangguan sendi temporomandibular. ;yeri
pada otot sternomastid dan kelompok otot suboksipital menunjukkan hiperakti#itas yang
lebih umum, dan merupakan indikasi gangguan antara aparatus pengunyahan.
.-13
Pe!erksaan Intraoral
Semua pasien harus menjalani pemeriksaan umum intraoral. %embran mukosa pada
lidah dan dasar mulut harus diinspeksi, gigi dan gusi harus diperiksa untuk melihat adanya
karies, periodontitis, dan perikoronitis dalam hubungannya dengan kemunculan molar tiga.
"asien diminta untuk mengetupkan gigi bersamaan, normal oklusi menghasilkan satu
bunyi AklikB yang solid, dimana ketidaksesuaian dikenal sebagai bunyi iregular. "enguncian
pada posterior gigi dapat dicatat. "asien harus diminta untuk menunjukkan tiap daerah lateral
dari rahang bawah yang nyeri pada pencatatan oklusi.
.-13
"asien edentulous dengan gigi palsu yang sudah tua, dapat menjadi kelebihan
penutupan dalam kaitannya dengan kehilangan tulang al#eolar. Cni merupakan penyebab
tersering nyeri sendi temporomandibular pada orang tua.
.-13
PEMERI+SAAN PENUN0AN*
Pe!erksaan La#oratoru!
$etika sebab lain dari nyeri sendi dicurigai 0seperti, rheumatoid arthritis, gonococcal
arthritis1, test darah yang sesuai dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya harus dilakukan.
1-13
1. "emeriksaan darah rutin dapat menunjukkan keadaan ineksi.
2. 8aktor reumatoid 0<81, erythrocite sendimentation rate 0ES<1, antibodi antinuclear
0/;/1, dan antibodi spesiik lainnya untuk menunjukkan adanya rheumatoid
arthritis, arteritis temporalis, atau gangguan jaringan ikat lainnya.
3. "emeriksaan asam urat untuk melihat ada tidaknya 7outy arthritis atau "seudogout.
'. "emeriksaan
). arthrocentesis dilakukan untuk melihat kristal spesiik dalam sendi.
Pe!erksaan Radologs
"emeriksaan yang paling kuat pada pasien dengan gangguan sendi temporomandibular adalah
pemeriksaan isiknya.
1-13
1. 8oto polos radiologi, baik dalam bentuk orthopantomograms ataupun close-cut yang
dikoreksi dengan tomograms pada sendi, tidak memberikan nilai yang bisa diterima
pada pasien dengan penyakit kronis dan ekstrim.
2. <adiograi kon#ensional adalah studi pencitraan yang paling dimanaatkan. >al ini
sederhana, menge#aluasi struktur tulang, dan dalam kebanyakan kasus sudah cukup.
Cni melibatkan teknik-teknik khusus dan pandangan seperti pandangan Schuller yang
22
dimodiikasi dari masing-masing sendi rahang, baik mulut terbuka dan mulut tertutup.
Temuan radiograi pada sendi temporomandibula tergantung pada etiologi T%,H
dalam kasus rheumatoid arthritis dan spondyloarthropathies seronegati, ilm polos
menunjukkan erosi, osteoit, sclerosis tulang subchondral, dan perubahan bentuk osa
condylar-glenoid.
3. "rthrography sekarang sudah jarang dilakukan, tapi menilai kondisi dan mobilitas
dari bermacam elemen sendi. "erorasi dari meniskus dan adhesi dapat terlihat.
'. /rthroscopy dengan menggunakan arthroscopes dengan diameter sekitar 2mm, dapat
menunjukkan struktur sendi, terutama pada ruang atas, ini juga dapat digunakan
sebagai terapi sebagai alat lisis dan la#age, dan untuk mengeluarkan
adhesiFperlekatan. ,alam kasus tertentu, dalam tangan ahli, struktur sendi dapat
disample, dikuret, disuntik, dan bahkan dijahit.
). !ltrasonograi dinamis resolusi tinggi memungkinkan untuk #isualisasi elemen
morologi dan ungsi dari sendi rahang, disk artikular, kondilus mandibula, dan otot
pterygoideus lateral. >al ini berguna dalam e#aluasi pada internal derangements T%&.
Satu studi menemukan bahwa akurasi masing-masing calon interpretasi dari
sonogram resolusi tinggi pada internal derangement, perpindahan disk dengan
pengurangan, dan perpindahan disk tanpa pengurangan adalah 3)D, 32D, dan 34D.
2. Computed tomographic 09T1 scansdapat memberi nilai diagnostik terutama ketika
penyakit serius pada tulang dicurigai. %etode ini dapat memberikan pandangan aksial
dan pandangan koronal, dan juga dapat memberikan gambar tiga dimensi. 9T-scan
dapat mengeksplorasi struktur tulang, hubungan tulang dan kualitas tulang T%& dan
otot jaringan lunak, secara menarik dengan menggunakan 959T 0cone beam
computed tomography1 pesien discan dengan posisi mulut terbuka dan tertutup.
%etode ini sangat membantu dalam memberikan inormasi tentang trauma dan
penyakit sendi tulang pada sendi dan ankilosis. Secara khusus, 959T dapat
membantu dalam diagnosis osteoartritis, rheumatoid arthritis, sino#ial
chondromatosis, dan gangguan neoplastik.
*. agnetic )esonance &maging 0%<C1 dapat memberi gambaran jaringan lunak dan
sangat membantu dalam mengidentiikasi posisi disk. %etode ini dapat menunjukkan
perorasi disk dan eusi sendi. &uga dapat memisahkan adhesi dalam sendi. %etode ini
dapat memberikan inormasi tentang tulang namun tidak sebagus dengan 9T-scan.
%<C harus digunakan sebagai studi pilihan jika artikulasi atau meniskus patologis
dicurigai dan prosedur endoskopik atau bedah yang dimaksud, atau dalam kasus T%,
traumatis.
23
,islokasi disk selalu teridentiikasi dengan benar, dan studi simultan dari kedua sendi
temporomandibular mengijinkan sendi dan pergerakannya untuk dapat dibandingkan
sehingga asimetri dapat terdeteksi. "ara penulis mengamati tingginya derajat
kecocokan antara %<C, arthroscopic, dan temuan bedah dan menyimpulkan bahwa
%<C seharusnya menjadi studi pilihan dalam e#aluasi penyakit T%&.
Tes Lann.a
1.
/nalisis kuantitati strain oklusal dan stres dapat dapat membantu dengan
menggunakan enomena otoplastik beberapa polimer. >asil analisis regangan dapat
membantu mengharmoniskan pola oklusal statis dan kinematik dengan mendeteksi
dan menghilangkan prematuritas dan gangguannya. /nalisis Stres membantu untuk
memahami hubungan mekanik temporomandibular.
1*-13
2.
Sealometrik analisis dengan metode ,elaire memungkinkan spesiik kriteria pada
morologi khas kranioasial untuk dikenali.
1*-13
DIA*NOSIS BANDIN*
1122
1. >emikrania "aroGysmal $ronis.
2. Sakit $epala 9luster.
3. Sakit $epala %igrain.
'. Sakit $epala %igrain( "erspekti ;euro-@talmik.
). Sakit $epala %igrain( %igrain Sakit kepala( "erspekti "ediatrik.
2. %igrain 6arian.
*. ;euralgia "ostherpetik.
.. TemporalF*iant Cell "rteritis.
3. ;euralgia Trigeminal.
TERAPI
1122
$ebanyakan gangguan temporomandibular 0T%,S1 self-limiting dan tidak menjadi
lebih buruk. "erawatan sederhana, melakukan praktek perawatan diri 0self-care practices1,
rehabilitasi yang bertujuan untuk menghilangkan kejang otot, dan memulihkan koordinasi
yang benar, adalah semua yang diperlukan. @bat anti-inlamasi analgesik 0;S/C,1 harus
digunakan dalam jangka pendek, secara reguler dan bukan sebagai dasar kebutuhan utama.
1-24
,i sisi lain, pengobatan T%, kronis dapat menjadi sulit pasien dapat muncul dengan
bermacam atralgia dan mialgia. /tralgia sendiri saja tidak khas( keterbatasan dalam membuka
0menutup1 dengan nyeri yang terbatas pada sendi menunjukkan subluksasi meniskus dengan
inlamasi dan ibrosis. $repitasi dapat menandai peradangan eksudat atau degenerasi ortotik
tetapi ini bukan merupakan prognostik yang berarti. 5agaimanapun, kebanyakan pasien akan
24
mendapat banyak unsur mialgia 0nyeri hebat, nyeri otot1. ,imana sudah jelas, terapi yang
diberikan terutama menurut penyebab hiperakti#itas otot.
1-24
%ereka yang gagal memberikan perbaikan terhadap regimen tersebut harus mampu
ditanyai untuk menyingkap kemungkinan dari kasus yang mendasari, seperti stres di rumah
atau kantor. $etika ini mungkin perlu ditunjukkan, terapi tambahan dapat diberikan, untuk
mereduksi hiperakti#itas otot. /da 2 pendekatan untuk tahap ini, yaitu(
1-24
1. Terapi dengan menggunakan peralatan, dan
2. Terapi dengan menggunakan obat-obatan.
$etika peralatan dan terapi armakologis gagal, atau ketika pasien menderita nyeri
hebat selama bertahun-tahun dan dengan kegagalan terapi konser#ati, maka terdapat
keuntunganFmanaat dalam pemeriksaan sendi lebih lanjut dengan terapi pembedahan.
1-24
$ondisi yang terbaik untuk pasien T%, kronis adalah dengan pengelolaan oleh suatu
pendekatan tim, tim terdiri dari dokter umum, dokter gigi, seorang isioterapis, psikolog,
armakolog, dan ahli bedah. %odalitas yang berbeda mencakup pendidikan pasien dan
praktek perawatan diri, pengobatan, terapi isik, bidaiFsplint, konseling psikologis, teknik
relaksasi, biofeedback, hipnoterapi, akupunktur, dan pembedahan.
1-24
SELF-CARE PRACTICES
1122
/da beberapa langkah yang dapat ditempuh yang dapat mengurangi gejala-gejala yang ada,
seperti(
1-24
1. %emakan makanan yang lunak.
2. %enerapkan terapi dingin.
3. %enghindari pergerakan rahang yang ekstrim, seperti menguap lebar-lebar, menyayi
dengan suara nyaring, dan mengunyah permen karet.
'. %empelajari teknik relaksasi dan mengurangi stres.
). %elatih penarikan rahang secara lembut dan hati-hati dan menerapkan latihan
relaksasi yang dapat mengurangi pergerakan rahang. ,okter atau praktisi medis akan
menyarankannya apabila hal tersebut sesuai dengan kondisi anda.
TERAPI )ISI+ 3PHYSICAL THERAPY4.
1122
Selain dari pendidikan pasien dan mengontrol nyeri, tujuan utama terapi isik adalah
untuk menstabilkan sendi dan mengembalikan mobilitas, kekuatan, ketahanan, dan ungsi.
%odalitas yang umum digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut(
1-24
1. +atihan relaksasi menggunakan elektromiograi 0E%71 bioeedback( "asien pertama
adalah dididik tentang kontribusi stres dan rasa sakit otot hiperakti. %onitor E%7
memberikan umpan balik instan kepada pasien tentang keadaan akti#itas otot mereka
dan memungkinkan pasien untuk dengan mudah berhubungan dengan hiperakti#itas
nyeri otot dan penurunan nyeri dengan relaksasi.
25
2. "ijat gesekan( hipotesis adalah bahwa iskemia sementara dan hiperemia resultan, yang
dihasilkan oleh tekanan perusahaan selama pemijatan kulit, membantu menonaktikan
poin memicu. 7esekan pijat juga dapat membantu mengganggu perlekatan ibrosa
kecil di otot terbentuk sebagai hasil dari operasi, cedera, atau gerakan dibatasi
berkepanjangan.
3. "engobatan ultrasonik( gelombang ultrasonik menghasilkan pemanasan jaringan di
tingkat yang lebih dalam dari panas lembab, hal ini peningkatan suhu jaringan lokal
menyebabkan peningkatan aliran darah dan penghapusan produk sampingan
metabolisme yang bertanggung jawab untuk nyeri dan dapat membantu mengurangi
perlengketan dengan mengganggu hubungan silang kolagen. >al ini juga dapat
membantu mengurangi peradangan intra-artikular. /gar eekti, pengobatan
ultrasonik harus dilakukan setiap hari lainnya, menggunakan sekitar 1 watt F cm
2
selama sekitar 14 menit atas otot-otot dan sendi yang terkena.
'. Stimulasi elektronik sara transkutaneus( Elektronik rangsangan serat sara superisial
menimpa input nyeri dari otot-otot pengunyahan dan T%&, menyebabkan pelepasan
endorin endogen. "ada beberapa pasien memberikan durasi yang lebih lama nyeri
daripada waktu selama rangsangan itu benar-benar diterapkan.
MODI)I+ASI PERILA+U/+EBIASAAN
1122
1. $ogniti-perilaku pengobatan( ini terdiri dari hipnosis, keterampilan coping kogniti,
dan relaksasi. >ypnotic kerentanan berkorelasi dengan penurunan nyeri dilaporkan.
2. "sikologi( kondisi menyakitkan kronis memburuk setiap kecemasan atau depresi yang
sudah ada sebelumnya. ,alam pengaturan yang sesuai, konseling psikologis dapat
memberikan manaat.
TERAPI DEN*AN MEN**UNA+AN PERALATAN
1122
5anyak tipe peralatan intraoral telah disusun untuk menajemen asial arthomyalgia.
%ereka mungkin sesuai dengan rahang atas dan rahang bawah, dipakai terus menerus, atau
hanya pada malam hari. "eneliti telah menunjukkan adanya bagian gigi yang nampak
memberikan manaat. "embukaan 3-' mm secara umum ditemukan sebagai yang paling
memuaskan, walaupun jangkauan pembukaan lebih luas nampak memberikan perbaikan yang
lebih cepat. "emakaian alat pada malam hari nampaknya sudah cukup. ,ukungan dari
metode ini dilaporkan sebagian besar sukses. /lat-alat ini tidak boleh digunakan lebih dari 3-
' bulan karena dapat mengakibatkan perubahan yang tidak beralasan pada oklusi.
1-24
S"lnts o55lusal
1122
26
Cni dikenal sebagai nightguards, peralatan bruxism, atau ortotik. 5erbagai jenis
splints yang tersedia dan dapat diklasiikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu(
1. /nterior splints reposisi.
2. Splints autorepositional.
,asar isiologis dari nyeri yang disediakan oleh splints tidak dipahami dengan baik.
8aktor-aktor seperti perubahan hubungan oklusal, redistribusi kekuatan oklusal menggigit,
dan perubahan hubungan struktural dan kekuatan pada sendi temporomandibular 0T%&1
tampaknya memainkan beberapa peran.
1-24
Splints /utorepositional, juga dikenal sebagai splints otot, yang paling sering
digunakan. 5eberapa jenis nyeri terlihat di sebanyak *4-34D dari pasien yang menggunakan
splints. ,alam kasus akut belat dapat dipakai 2' jam sehari selama beberapa bulan dan
sebagai kondisi i:in, dikenakan pada malam hari saja.
1-24
TERAPI )ARMA+OLO*IS
1122
@bat-obatan umum digunakan adalah ;S/C,, relaksan otot, dan antidepresan trisiklik(
1-24
1. Cbuproen dan naproGen merupakan ;S/C, yang umum digunakan. 5ekerja dengan
baik jika diberikan secara teratur selama 2-' minggu dengan tappering-o. ;arkotika
diberikan untuk pasien dengan nyeri akut yang parah tetapi penggunaannya harus
dibatasi.
2. <elaksan otot yang umum digunakan adalah dia:epam, methocarbamol, dan
cycloben:aprine. "ada dosis awal digunakan eektiitas terendah. Eek samping yang
ada meliputi sedasi, depresi dan kecanduan.
3. /ntidepresan trisiklik, dalam dosis rendah telah digunakan secara eekti dalam waktu
lama untuk mengobati nyeri kronis. 5ertindak dengan menghambat transmisi nyeri
dan dapat mengurangi bruGism malam hari. /mitriptyline dan nortriptyline, dalam
dosis kecil, merupakan antidepresan trisiklik umum digunakan untuk kondisi nyeri
kronis.
'. Suntikan hyaluronic acid. /d beberapa renungan baru dalam literatur tentang
eekti#itas pengobatan untuk T%,. Sebuah meta-analisis pernah menerbitkan hasil
menarik yang kurang jelas mengenai eekti#itas pengobatan ini, dengan kutipan
bahwa itu tampaknya sebanding dengan pengobatan dengan splints oklusal. "enelitian
ini tidak mengomentari akta bahwa ada respon dibandingkan dengan plasebo, namun
perlu lebih banyak data untuk diakumulasi dan diperiksa sebelum menggambarkan
kesimpulan apapun mengenai eekti#itas suntikan asam hyaluronic untuk pengobatan
T%,.
). Toksin botulinum digunakan baik sebagai pengobatan tunggal dan dalam
hubungannya dengan arthrocentesis. Tidak ada studi terkontrol penggunaan obat ini
27
pada T%,. Seperti disebutkan dalam artikel oleh Schwart: dan 8reund, perawatan
harus diambil untuk mengisolasi otot dengan benar dan menyuntikkan dosis yang
tepat. "ara penulis tahu tidak ada skala besar uji coba double-blind terkontrol
mengenai hal ini, tetapi beberapa penelitian label terbuka telah tampak menjanjikan.
Sebuah studi terkontrol yang menjanjikan pada nyeri wajah yang berhubungan dengan
pengunyahan hiperakti memang menunjukkan manaat signiikan terhadap toksin
botulinum. ;amun, pasien yang tidak didiagnosis dengan T%, dan tidak mungkin
untuk membedakan mana pasien memenuhi kriteria diagnostik untuk T%,.
@bat-obat trisiklik adalah yang paling sukses, umumnya dibawah dosis yang tepat
untuk terapi depresi. 7olongan sedati seperti dothiepin, dikatakan memberi lebih banyak
manaat dibanding sedati golongan nortriptilin. Iang bekerja untuk mengurangi
kegelisahanFkecemasan, memperbaiki pola tidur sehingga mengurangi terjadinya bruxism,
dan dapat berungsi sebagai analgetik yang bekerja sentral. ,osis mulai antara 2)-)4 mg pada
malam hari dan meningkat setiap 3-' minggu sampai diperoleh respon bagus. "enting untuk
dijelaskan kepada pasien mengapa obat tersebut diberikan, dan mendiskusikan eek samping
yang ada, serta kemungkinan adanya respon lambat. "ada pasien yang sangat gelisah dan
cemas, beberapa sedati ringan seperti luphena:ine atau triluophera:ine dapat diberikan,
tetapi tidak boleh diberikan dalam waktu lebih dari 3 bulan. ,ia:epam nampaknya tidak
eekti dan dapat mendorong terjadinya kecanduan. ,engan regimen ini selanjutnya '4-)4 D
pasien akan mengalami perbaikan dalam waktu 2-3 bulan.
1-24
TERAPI BEDAH
1122
Cndikasi "embedahan(
13-24
1. Cnternal joint derangement
2. <ekuren dislokasi
3. Traumatik injury
'. /rthritis
). /nkilosis
2. Tumor
"rosedur "embedahan meliputi(
1-24
1. /rthrocentesis
2. T%& /rtroskopik
3. %eniscal "lication 0+ipatan %eniskus1
'. %eniskoplasti
). %enisektomi
2. Eminektomi
*. "rosedur ,autrey
28
.. 9ondylotomy
3. 9ondylectomy
14. <ekontruksi T%&F"enggantian T%&
"engobatan kronis T%, sulit, selama perjalanan penyakit mungkin tepat untuk
mendiskusikan pilihan pengobatan bedah.
1-24
1. Art&ro5entess
/rthrocentesis adalah metode drain T%& dengan menempatkan jarum ke dalam
kompartemen sendi atas dengan menggunakan anestesi lokal atau umum. <inger
+aktat disuntikkan ke dalam sendi. $ompartemen ini akan menggembung hingga )
m+ cairan. ,engan tekanan pengisian, maka setiap perlengketan kecil hancur atau
lisis. &arum kedua ditempatkan ke dalam kompartemen sendi yang sama yang
memungkinkan pengaliran bersama cairan tercapai. >al ini memungkinkan pencucian
menyeluruh atau la#age sendi. "roses ini disebut sebagai Llisis dan la#ageL dan dapat
menghasilkan hasil terapi yang baik. Cni memiliki roll tertentu dalam kasus close-lock
akut. ,alam situasi ini, meniskus biasanya macet di depan kondilus, mencegah
gerakan translatory. ,engan penggelembungan sendi, ruang potensial menjadi nyata
dan meniskus mungkin memiliki ruang untuk mereduksi ke posisi normal. +a#age
akan mencuci keluar produk peradangan, sehingga menciptakan lingkungan yang
lebih baik untuk penyembuhan. ;atrium hialuronat dapat disuntikkan pada akhir
prosedur untuk meningkatkan pelumasan sendi.
1-24
2. TM0 Artrosko"k
Saat ini, teknik telah berkembang menggunakan artroskopi dengan tusukan kedua
untuk memasukkan jarum instrumen pembedahan. Sendi dapat diinspeksi dengan 1)G
pembesaran, la#age dapat dilakukan untuk menghilangkan substansi peradangan
dimana syno#itis telah diidentiikasi, obat anti-inlamasi dapat disuntikkan langsung
ke dalam jaringan inlamasi, dan adhesiFperlengketan dapat diinsisi.
1-24
T%& /rtroskopi dapat digunakan baik sebagai alat diagnostik dan sebagai modalitas
pengobatan. Sino#ium sendi dan tulang rawan miniscal dapat di#isualisasikan. Teknik
standar untuk artroskopi sendi rahang adalah melalui pendekatan lateral. &arum
ukuran 21 di dimasukkan ke dalam ruang posterior kompartemen sendi atas, di mana
sebagian besar gerakan translatory terjadi. Setelah insulasi sendi dengan <inger
laktat melalui aliran cairan established dengan jarum kedua ukuran 13 yang
ditempatkan di ruang anterior sendi, sebuah trochar dan kanula kemudian dimasukkan
ke dalam ruang yang dibuat oleh cairan di dalam sendi. +rochar akan dihilangkan dan
29
diganti dengan arthroscope. Sebuah outport kedua kanula dapat dimasukkan anterior
ke dalam sendi untuk instrumentasi kerja kanula. $ompartemen sendi atas kemudian
dapat diperiksa untuk sino#itis, perpindahan dari meniskus, perlekatan antara
meniskus dan osa sendi dan patologi lainnya.
1-24
&ika adhesi terlihat mereka dapat dibagi dengan gunting yang sangat kecil yang
dimasukkan melalui kanula yang bekerja. >al ini mungkin dalam beberapa kasus
untuk mengurangi meniskus tergelincir, biopsi tulang rawan atau sino#ium,
menghilangkan body loose 0ragmen tulang rawan di sendi yang mengambang1 dan
mengurangi eminens sendi dengan instrumen putar. @bat-obatan seperti kortikosteroid
atau hyaluronate natrium dapat disuntikkan ke dalam sendi untuk mengurangi
peradangan dan meningkatkan pelumasan masing-masing. ,plint terapi, diet lunak
dan analgesik digunakan sebagai bagian dari manajemen pasca operasi. "asien juga
diinstruksikan untuk melakukan latihan peregangan lembut rahang.
1-24
Mens5al Pl5aton 3L"atan Menskus4
-etika mana$emen konservatif tidak memberikan perbaikan setelah periode .-/
bulan, dan arthrocentesis atau artroskopi telah gagal untuk memperbaiki dislokasi
meniskus, maka arthrotomy terbuka harus dipertimbangkan.
1-24
"endekatan umum melalui sayatan preauricular 07ambar 24.21. Setelah sendi dibuka,
tempat masuk dibuat pada kompartemen sendi atas, setelah itu dilakukan identiikasi
posisi meniskus. Setiap adhesi dilepaskan dan meniskus direposisi dan diperbaiki
dengan jahitan dari aspek lateral dari tulang rawan dan posterior ke dalam otot
temporal dan asia. 5eberapa ahli bedah juga akan memasuki ruang sendi yang lebih
rendah untuk meningkatkan mobilisasi meniskus dan menghilangkan seiris
retrodiscal jaringan, jahitan atau lipatan deek dibuat dengan jahitan retrodiscal,
reposisi meniskus dilakukan lebih posterior. $adang-kadang prosedur ini
dikombinasikan dengan eminektomi untuk menambah ruang sendi. %anajemen
pasca-operasi mirip dengan artroskopi. Terapi isik penting dikarenakan derajat bekas
luka setelah operasi ini tidak bisa diacuhkan.
1-24
%. Mensko"last
%eniskus diidentiikasi melalui insisi pada daerah periaurikular dan artrotomi. Cni
dilakukan dengan menginsisi adhesiFperlekatan, dan dijahit lebih ke arah posterior dan
lateral. "ada pemeriksaan %<C post-operati telah menunjukkan kalau reposisi dari
meniskus tersebut tidak berlangsung permanen, dan kesuksesan dari prosedur ini
mungkin berhubungan dengan penghilangan adhesi.
1-24
30
'. Mensekto!
"rosedur ini tidak biasa dilakukan di Cnggris namun telah dilaporkan kesuksesan
metode ini pada pasien yang menderita kekacauan sendi internal. "rosedur ini
dilakukan saat meniskus tidak dapat digerakkan dengan memuaskan, atau dimana
telah terjadi perorasi, atau sudah tidak dapat lagi menerima kerusakan. ,asarnya,
pendekatan ini sama dengan lipatan meniskal. Setelah meniskus diidentiikasi bagian
kartilaginosa dipotong. $atup otot temporal mungkin dimobilisasikan dan jahitan
dilakukan di sepanjang permukaan sendi untuk membuat penggantian yang
memuaskan pada meniskus, walaupun tidak ada kepastian mengenai eek jangka
panjang yang mungkin terjadi pada sendi.
1-24
,. E!ne5to!.
"rosedur ini digunakan untuk dislokasi rahang berulang. "endekatan ini sama seperti
untuk prosedur lipatan. sendi eminensia, yang terletak pada anterior osa, harus
dibuka. Eminence tersebut kemudian dipotong dengan kombinasi pemotongan bur
dan osteotome halus 07ambar 24.31. Teorinya adalah bahwa dengan mengambil
eminensia dari tongkat kepala sendi, kepala sendi tidak memiliki hambatan yang
mencegahnya kembali ke osa.
1-24
6. Prosedur Dautre.
"rosedur ini adalah metode lain untuk menghentikan dislokasi sendi rahang.
"endekatan ini melalui pemaparan kembali sendi melalui sayatan preaurikular.
Eminensia kembali terekspos tetapi dalam prosedur ini bagian anterior eminensia
yang melekat pada lengkung :ygomatikus di insisi dengan arah yang lebih #ertikal
07ambar 24.'1. 5agian anterior yang fracture-off dan, masih menempel anterior ke
lengkung :igomatikus, terayun ke bawah dan terjepit pada eminensia yang tersisa
untuk menambah tinggi eminensia. ,alam teori, karena peningkatan tinggi eminensia,
kondilus tidak dapat terkilir. %etode lain untuk pembesaran eminensia bisa dilihat
contohnya pada pembesaran tulang cangkok.
1-24
7. 8ond.loto!.
Teknik ini digunakan untuk mengobati nyeri hebat pada kedua sendi
temporomandibular, yang awalnya menggunakan pendekatan eksternal blind dengan
menggunakan *igli saw. Saat ini prosedur ini dilakukan melalui pendekatan
intraoral. /spek lateral ramus mandibula terekspos dan potongan dibuat di bawah
kondilus dengan oscillating saw pada subkondilus atau subsigmoid 07ambar 24.)1.
>al ini menyebabkan pengurangan tekanan pada meniskus dan pergerakan anterior
31
kepala kondilus, yang mengurangi nyeri dan memungkinkan pengurangan pada
pergeseran sendi meniskus.
1-24
9. 8ond.le5to!.
Condylectomy biasanya dilakukan pada ankylosis atau +# patologis. "rosedur ini
menggunakan pendekatan preauricular dan setelah kondilus dengan baik terekspos,
potongan dilakukan pada leher sendi dan diangkat. "rosedur ini biasanya
dikombinasikan dengan rekonstruksi sendi.
1-24
:. Rekontruks TM0/Penggantan TM0
5ahan bakunya telah dikembangkan untuk penggantian total sendi
temporomandibular. !mumnya ini ditujukan pada destruksi sendi yang besar, seperti
post-traumatik ankilosis, atau dimana sendi telah mengalami kerusakan berat akibat
penyakit rematik.
1-24
"ada kesempatan langka T%& membutuhkan rekonstruksi. Sampai saat ini tidak ada
pengganti yang cukup untuk menggantikan T%& normal. Cndikasi untuk rekonstruksi
sendi yang tercantum dalam Tabel 24.'. Tujuan pengobatan adalah untuk
mengembalikan mandibula dan T%& sedekat mungkin dengan keadaan normal
anatominya. "arsial atau total rekonstruksi sendi rahang mungkin diperlukanH
rekonstruksi parsial dapat diindikasikan. /da prostesis osa tetapi ini biasanya
digunakan dalam hubungannya dengan penggantian kondilus. 5erbagai bahan sintetis
atau alloplasts telah digunakan untuk penggantian meniskus 0misalnya Telon
M1. 5ahan-bahan ini dapat menyebabkan reaksi body giant cell asing, yang tanpa
henti menghancurkan jaringan sekitarnya. !ntuk alasan ini, bahan ini sekarang jarang
digunakan. 9angkok autogenous seperti tulang rawan aurikularis dan dermis kadang
digunakan. "otensi komplikasi dari cangkokan ini adalah gangguan atau perpindahan
ormasi kista dengan cangkok dermal dan ankilosis ibrosa. /nkilosis dapat diobati
dengan lap otot temporalis, gap artroplasti atau rekonstruksi total sendi. %etode yang
biasa dilakukan adalah gap artroplasti, dengan pemotongan paralel sekitar 1 cm dari
takik sigmoid ke ramus posterior 07ambar 24.21. %ateri interpositional dapat
ditempatkan untuk mengurangi penyatuan. /lloplasts seperti Silastic M atau prostesis
topi krom-kobalt telah digunakan.
1-24
"enjahitan pterygoideus medial dan otot masseter bersama-sama di atas tunggul
ramus merupakan cangkok interpositional biologis. @perasi yang paling sering untuk
ankilosis dilakukan melalui pendekatan preauricular tetapi ketika penggantian sendi
diperlukan, sayatan submandibula digunakan untuk akses ke ramus untuk pendekatan
32
gabungan. Sebuah metode rekonstruksi biologis T%& adalah penggunaan lap basis
otot temporalis inerior, yang diputar anterior bawah lengkung :igomatikus sebagai
bahan interpositional 07ambar 24.*1.
<ekonstruksi total sendi diperlukan di mana tidak lagi ungsional sendi ditambah
kehilangan tinggi ramus. >al ini mungkin diperlukan di mana telah ada trauma berat,
ankilosis, reseksi tumor atau kelainan perkembangan seperti mikrosomia
hemiasial. 9angkok 9ostochondral atau cangkok tulang tanpa #ascularisasi, seperti
tulang metatarsal kedua dari kaki dapat digunakan dalam kombinasi dengan cangkok
interpositional otot temporalis. %etode yang paling memuaskan dari rekonstruksi
sendi total adalah kombinasi dari lap otot temporalis dan cangkok otogen tulang
rusuk costochondral 07ambar 24,.1. 5eberapa penggantian sistem sendi prostetik
telah dirancang untuk mengganti kedua osa glenoid dan kondilus. 5eberapa memiliki
masalah dari reaksi kronis body giant cell asing ke bahan sintetis. "embedahan
bukanlah titik akhir pengobatan. 8ase pasca-operasi, seperti pada semua operasi,
adalah sangat penting dan penelantaran di daerah ini sering menjadi alasan untuk
kegagalan. @bat analgesik dan anti-inlamasi biasanya ditunjukkan dan terapi isik
sangat penting, dengan latihan membuka rahang ditambah latihan gerakan lateral dan
protusi.
1-24
PERA;ATAN POST1OPERASI
1122
0. "erawatan luka
1. /plikasi termal 0ice, heat1
2. 3on-chew diet regimen.
.. "engobatan
4. Tatalaksana occlusal
/. $ontrol bruGism
5. "erencanaan gerakan sendi
6. Cnstruksi khusus lainnya.
7. 8ollow up.
PRO*NOSIS
"ada sebagian besar kasus gangguan temporomandibular 0T%,1 terdapat respon baik
terhadap terapi konser#ati, seperti mengistirahatkan rahang atau dengan menggunakan
mouth splint. $eberhasilan terapi bergantung pada beratnya gejala dan respon penderita
terhadap terapi yang diberikan.
"ada beberapa kasus dengan sekunder T%,, prognosis tergantung pada penyakit
utama.
1-24
33
BAB -
PENUTUP
+es!"ulan < Saran
"enyakit temporomandibular 0T%,1 merupakan kumpulan masalah medis yang
berkaitan dengan sendi rahang. Sendi temporomandibular merupakan salah satu sendi yang
paling banyak digerakkan pada tubuh manusia. penggunaan sendi ini secara berlebihan dapat
menyebabkan gangguan terhadap persendian ini dan memberikan gejala berupa sakit kepala,
nyeri telinga, masalah pengunyahan, bunyi AklikB, rahang terkunci, serta gejala lainnya yang
dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien.
1-24
7angguan pada sendi temporomandibular ditemukan pada sekitar 2.D populasi orang
dewasa berarti sekitar 1 dari 3-' orang dewasa dapat menderita gangguan ini. gangguan ini
biasanya didiagnosa setelah pasien mengalami gejalanya dalam 3-) tahun.
1-24
/namnesis dan pemeriksaan isik serta pemeriksaan penunjang yang tepat dapat
mendiagnosa penyakit ini. "atologi dari produksi nyeri dan disungi T%& harus didiskusikan
dengan pasien. "asien harus diberitahukan tentang kemungkinan prognosis dari masalah
mereka. ;yeri dan disungsi myoasial umumnya diterapi dengan ,elf-Care Practices, terapi
isik, dan beberapa terapi armakologis sederhana. =alaupun mungkin akan kambuh, namun
gejala umumnya dapat dikontrol dengan perawatan sederhana. "asien T%, dengan penyakit
sendi degenerati harus diberi penjelasan mengenai tanda-tanda kerusakan yang lebih lanjut
yaitu peningkatan nyeri, batasan pergerakan lebih lanjut, dan peningkatan bunyi sendi.
1-24
"erawatan diri mencakup langkah-langkah sederhana seperti diet lunak dengan
perkembangan bertahap untuk diet normal selama 2-. minggu, menghindari gigitan besar dan
mengepalkan gigi, mengunyah permen karet dan pena, menjaga rahang tetap rileks, menguap
terhadap tekanan, pijat otot rahang dan pelipis, penggunaan terapi dingin dan terapi panas,
menghindari pemakaian telepon antara telinga dan bahu, postur tidur yang baik dengan
sokongan leher yang memadai, dan berbagai latihan gerak akti dan pasi.
1-24
%etode pengobatan yang lebih kompleks dan in#asi belum tentu merupakan pilihan
pengobatan terbaik, oleh karena itu pendekatan konser#ati harus dilakukan dan
dimanaatkan dahulu sebelum menerapkan teknik bedah yang lebih in#asi, yang dilakukan
harus dengan e#aluasi dan perencanaan perawatan pembedahan yang menyeluruh. $arenanya
harus didasarkan pada jenis, mekanisme, aktor etiologi, patogenesis, dan
predisposisiFmorologi sendi, umur, ketersediaan bahan dan tenaga kerja terampil.
1-24
34
$emajuan masa depan dalam mendiagnosis dan pengobatan T%, akan terjadi
sebagai hasil dari kolaborasi multidisiplin antara sejumlah bidang yang melibatkan ilmu dasar
dan terapan serta praktek.
1-24
"endidikan proesional diperlukan untuk memastikan praktek yang tepat dan aman
dalam pengobatan T%,, khususnya yang berkaitan dengan armakologi, bedah, dan
pendekatan perilaku.
1-24
35