Anda di halaman 1dari 3

RESUME JURNAL

KELOMPOK : 6 (Senin Siang)


PERCOBAAN : Uji Aktivitas Lipid Peroksidase dan Isolasi Mikrosom
UJI AKTIVITAS ENZIM ANTIOKSIDAN DENGAN EKSTRAK DAUN Eupathorium
adenophorumSEKAMA 60 HARI

A. Pendahuluan
Manusia dahulu menggunakan tanaman obat untuk mengobati penyakit atau luka yang
ada atau terjadi pada seseorang. Sampai sekarang, masih banyak yang memanfaatkan
tanaman obat sebagai obat penyakit atau luka, yaitu orang-orang tradisional atau peningkatan
atau penemuan terbaru mengenai penggunaan tanaman obat yang lebih baik dari pada obat
sintetik.
Hati merupakan organ vital yang berfungsi sebagai organ pemetabolime obat. Penyakit
hati dapat terjadi karena beberapa hal seperti konsumsi alcohol yang berlebihan, infeksi atau
penyakit autoimun.
Salah satu tanaman obat yang digunakan adalah Eupathorium adenophorum, yang
memiliki efek menyembuhkan sakit perut maupun peptic ulcer. Namun, tanaman ini
memberikan efek hepatoksisitas yang berbeda pada setiap spesies hewan.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui keberadaan enzim antioksidan pada
hewan tikus dan mengetahui apakah konsumsinya aman atau tidak.
B. Metode, Alat dan Bahan
Bahan Kimia
Bahan kimia yang digunakan adalah bahan alami dari tanaman Eupathorium
adenophorum yang diekstrak dengan methanol.

Proses Ekstraksi
Tanaman Eupathorium adenophorum diambil daunnya di Central Agricultural University,
India. Yang diambil adalah daunnya, lalu daunnya dicuci, dihaluskan, kemudian dikeringkan.


Proses ekstraksinya dilakukan dengan penambahan methanol dan digojog selama 3x24
jam. Setelah digojog, ekstrak tadi disaring. Untuk mendapatkan ekstrak yang baik, maka
proses ekstraksi diulang tiga kali dengan pelarut yang segar. Proses pengulangan ekstraksi
dilakukan sampai hasil ekstraksi dengan metanolnya berubah menjadi lebih terang. Filtrat
hasil ekstraksi di evaporasi dengan rotary evapator pada suhu 30oC selama 24 jam. Hasil
akhirnya didinginkan pada suhu -40oC.

Penyiapan Hewan
Sebanyak 50 tikus putih disiapkan dan diberikan perlakuan khusus. Perlakuan khususnya
dilakukan dengan memberikan standar daiet dan minum dengan libitum. Selama proses
penyiapan, tikus-tikus diputar pada kandangnya dengan suhu 22-24oC

Pengujian Toksisitas
Dari 50 ekor tikus putih jantan itu, dipilih 30 tikus putih jantan dan dibagi menjadi 6
kelompok tkus putih jantan. Kelompok 1 diberikan tween 80 secara oral dan kelompok 2
sampai kelompok 6 diberikab ekstrak Eupathorium adenophorum. Setelah itu, tikus putih
dibiarkan. Setiap 72 jam, dilakukan pengamatan, berapa banyak tikus yang mati atau
teracuni.
Kemudian dari 30 tikus putih itu, diambil 20 tikus dan dibagi menjadi empat kelompok.
Kelompok 1 diberikan tween 80 5% dan kelompok 2 sampai kelompok 4 diberi ekstrak
Eupathorium adenophorum. Setelah semua dilakukan, hati tikus diambil dan direndam pada
larutan buffer dingin.

Uji Aktivitas antioksidan
Hati tikus yang telah halus dan direndam pada natrium fosfat dingin, disentifugasi pada
10.000 rpm selama 15-20 menit pada suhu 4oC. Setelah itu, supernatannya diambil untuk
menguji aktivitas enzim antioksidan seperti lipid peroksidase, superoksida dismutase,
katalase dan lain-lain. Pengujiannya menggunakan metose Spektrofotometri UV-VIS

C. Hasil


Tikus yang diberikan ekstrak methanol 1350 mg/kg Eupatorium adenophorum tidak
menunjukkan adanya kematian tikus. Tikus yang diberikan dosis 2025 dan 3050
memberikan efek hepatoksis dan kematian 20% pada 48 jam. Dan dosis 4574 mg/kg
memberikan efek hepatoksis, disorientasi, hipereventalisasi, konvulsi dan kematian 60%.

Kesimpulan
Eupathorium adenophorum yang menyebabkan stess oksidatif memberikan indikasi
hepatoksis terhadap tikus. Oleh karena itu penggunaan Eupatorium adenophorum dalam
kesehatan harus diperhatikan dosisnya