Anda di halaman 1dari 2

Kematian Ibu dan Anak Saat Melahirkan

Harus Ditekan
REP | 09 October 2014 | 09:49 Dibaca: 12 Komentar: 0 0
Kematian ibu dan anak saat melahirkan di Aceh Tenggara saat ini harus ditekan
sedemikian rupa, sehingga kasus kesehatan tersebut harus sudah hilang dari daerah bumi seakat
segenep, kasus ini juga merupakan salah satu indikator kesehatan, dimana jika masih banyak
ditemukan kasus kematian ibu dan anak tersebut baik di Puskesmas atau rumah sakit maka
secara keseluruhan kesehatan belum membaik.
Di Aceh Tenggara sendiri kasus kematian ibu atau dan anak masih kerap ditemukan,
sehingga untuk mencegah hal tersebut diperlukan kerjasama yang terpadu, dan yang lebih
penting lagi harus ada kerja dan insentitas laporan dari bidan desa yang ada, pencegahan dini
dapat dilakukan setelah adanya penanganan dini.
Kasus kematian ibu dan anak ini dapat kita ketahui atau kita lihat dengan adanya surat
dari Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tenggara dr Ramulia SpOG kepada Direktur Rumah Sakit
Umum Sahudin Kutacane, surat tersebut dengan nomor : 000.1/2119/DINKES/IX/2014,
tertanggal 18 September 2014.
Dimana bunyinya diantaranya hingga kini masih terdapat kematian ibu dan anak di RSU Sahudin
Kutcane, dan mengingat karena RSU Kutacane sebagai rumah sakit rujukan, maka Dinkes Agara
meminta kepada Dr Irawati selaku direktur dapat membuat Standar Operasional Prosedur (SOP)
dan Prosedur Tetap (Protap) terhadap ibu hamil mulai dari IGD sampai pengembalian ibu hamil.
Didalam surat itu juga dimohonkan kepada rumah sakit agar berperan aktif memberikan
informasi kepada petugas kesehatan yang ada dipos masing-masing untuk memberikan medical
record yang dibutuhkan guna melengkapi audit kematian maternal paranetal (AMP).
Selain itu surat yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Aceh Tenggara dengan ditandatangani
oleh Kepala Dinasnya tersebut selain menekan kepada RSU juga meminta kepada seluruh kepala
Puskesmas yang ada di Aceh Tenggara agar mengintruksikan kepada bidan yang memegang
desa untuk mengawasi wilayah kerjanya guna menjaring ibu hami resiko tinggi maupun tidak
beresiko, dengan menggunakan album bumil, album bayi, album balita, maket desa, kantong
bumil, kantong persalinan dan lain-lain, sehingga dengan demikian tidak lagi terjadi
keterlambatan dalam deteksi dini dari 4 terlambat penyebab kematian ibu dan anak.
Masalah kematian ibu dan anak ini terungkap pembahasannya saat berlangsungnya diskusi
warung kopi di Warkop Senggio Kecamatan Babussalam Aceh Tenggara pada Selasa (23/9)
pada acara tersebut turut dihadiri Short Term Technical Assistance (STTA) Bidang Media
Azhari SE dari Banda Aceh, STTA Bidang Kesehatan dr Idris, Local Public Service Specialist
(LPSS) Zulfahmi, Organisasi Mitra Pelaksana (OMP) Hendra, SE, OMP PKPA Erawati,
Fasilitator Media (Kippas) Abadi Selian, SE, sejumlah Jurnalis Warga dan Wartawan.
Pembahasan kematian ibu dan anak ini saat terllihat dalam diskusi selember surat yang ditujukan
kepada Direktur RSU Sahudin dari Kepala Dinas Kesehatan seperti yang dimaksud dalam
penjelasan diatas, bahkab dr Idris selaku STTA bidang kesehatan menjelaskan bahwa dirinya
yang juga menjabat sebagai Tim Kendali Mutu (TKM) telah membahas tentang adanya satu
kasus kematian ibu saat bersalin di rumah sakit umum Kutacane, meski hanya satu yang dibahas
dr Idris menyakini sangkaan bahwa telah lebih dari satu kasus kematian tersebut.
Masih menurut dr Idris, bahwa pada tahun 2013 terdapat sekitar 7 kasus kematian ibu dan anak
saat melahirkan di RSU Sahudin Kutacane, memang kejadian ini bukan semata-mata kelemahan
atau kelalaian pihak rumah sakit, juga akibat keterlambatan penanganan dini dari desa atau bida
yang ada di desa, dimana si pasien dibawa ke RSU setelah terlambat dalam mendapat
pelaayaanan kesehatan.