Anda di halaman 1dari 16

1

Bab I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion
logam pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan
elektron bebasnya kepada ion logam pusat. Donasi pasangan elektron ligan
kepada ion logam pusat menghasilkan ikatan kovalen koordinasi sehingga
senyawa kompleks juga disebut senyawa koordinasi. Senyawa kompleks sudah
sejak lama dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Penggunaan praktis
senyawa koordinasi yang paling tua adalah yang disebabkan oleh warnanya.
Berdasarkan kesenian dan praktek yang berasal dari zaman kuno, para ahli
kimia dan ahli kesenian dan kerajinan merumuskan zat-zat pewarna, kaca
berwarna, dan glasir untuk keramik dari zat-zat yang sekarang diuraikan
menurut kimia koordinasi logam transisi.
Aplikasi-aplikasi dari senyawa kompleks harus terus dikembangkan,
terutama pada bidang kesehatan, farmasi, industri, lingkungan, dan pertanian,
yang pemanfaatannya berguna bagi kelangsungan hidup makhuk hidup. Untuk
itu, dalam paper ini akan dibahas mengenai aplikasi senyawa kompleks pada
bidang kimia, biologi dan industri.

1.2. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami aplikasi senyawa kompleks pada bidang kimia.
2. Mengetahui dan memahami aplikasi senyawa kompleks pada bidang
biologi.
3. Mengetahui dan memahami aplikasi senyawa kompleks pada bidang
industri.

1.3. Rumusan Masalah
1. Apa saja aplikasi senyawa kompleks pada bidang kimia?
2. Apa saja aplikasi senyawa kompleks pada bidang biologi?
3. Apa saja aplikasi senyawa kompleks pada bidang industri?
2

Bab II
Pembahasan

2.1. Aplikasi Senyawa Kompleks pada Bidang Kimia
Berikut adalah aplikasi senyawa kompleks pada bidang kimia:
1. Salah satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi pergantian
ligan melalui efek trans. Reaksi pergantian ligan ini terjadi dalam
kompleks octahedral dan segi empat. Ligan ligan yang menyebabkan
gugus yang letaknya trans terhadapnya bersifat labil, dikatakan
mempunyai efek trans yang kuat. Untuk mengetahui kemampuan senyawa
kompleks dengan ligan-ligan feroin berinteraksi dengan gas NO
2
, maka
perlu dilakukan penelitian meliputi sintesis dan karakterisasi senyawa
kompleks Co(II) menggunakan ligan bipiridin dan sianida serta
mempelajari interaksinya dengan gas NO
2
. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat meningkatkan pemahaman reaksi subtitusi kompleks
melalui efek trans dan hasilnya digunakan sebagai acuan dalam
pemanfaatan senyawa kompleks sebagai absorben gas NOx, sehingga
dapat mengurangi dampak negatif pencemaran lingkungan seperti polusi
udara.
2. Proses reduksi oksigen melalui senyawa kompleks Cytochrome-c
Oxidase (Cyt-c) merupakan contoh proses seperti pada elektroda positif
fuel cell (katoda). Pada proses biologis, transfer 4-elektron berjalan tanpa
hasil sampingan peroksida (H
2
O
2
). Sedangkan pada katoda fuel cell,
dimana saat ini state-of-the-art katalis adalah platina (Pt) yang mereduksi
oksigen dengan 2-elektron transfer (O
2
+ 2H
+
+ 2e- H
2
O
2
)
menghasilkan peroksida dan selanjutnya tereduksi lagi menjadi air (H
2
O
2

+ 2H
+
+ 2e- 2H
2
O). Sehingga terdapat 2 tahapan reaksi yang
berlangsung pada katoda. Untuk itu dengan senyawa kompleks yang
menyerupai struktur Cyt-c, dimana model planar katalis lebih
memungkinkan untuk mereduksi oksigen dengan mudah, maka pada
makalah akan dikenalkan katalis yang mampu mereduksi oksigen dengan
bentuk planar berlogam center Fe, Co, dan Cu dengan ligan yang berbeda.
3

Dengan adanya aplikasi senyawa kompleks ini, diharapkan problem
drop potensial yang disebabkan oleh peroksida pada katoda dimana
menjadi penyebab utama turunnya potensial fuel cell, menjadi berkurang
atau tidak ada, karena reaksi yang terjadi adalah 4-elektron transfer proses.
3. Untuk mengatasi masalah pencemaran pada lingkungan perairan ada
beberapa parameter yang harus diperhatikan selain parameter fisika, yaitu
parameter kimia, yang ternyata memanfaatkan penggunaan senyawa
kompleks sebagai berikut:
a. Keberadaan O
2
terlarut berhubungan dengan proses respirasi biota
perairan. Penetapan kadar oksigen terlarut dapat dilakukan dengan
metode titrimetri winkler, yang prinsip dasarnya adalah oksigen yang
terdapat dalam sampel air akan diikat oleh Mn(OH)
2
. Dimana senyawa
Mn(OH)
2
akn direaksikan dengan larutan KI dalam suasana asam. I
2

yang dibebaskan akan dititrasi dengan larutan standar Na
2
S2O
3
dan
sebagai indikator digunakan amilum.
b. Keberadaan kadar oksigen biokimia atau BOD (Biologycal Oxygen
Demand) adalah sejumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk
mendekomposisi dan menstabilkan sejumlah bahan organik di dalam
ekosistem air melalui proses aerobik. Penetapan BOD dapat dilakukan
dengan cara menganalisis kadar oksigen terlarutnya pada saat t=0 dan
t=5 hari. Selain itu, penetapan BOD juga dapat dilakukan dengan cara
menganalisis kadar oksigen melalui indikator oksidasi reduksi yaitu
metilen biru, sebagai hasil oksidasi akan terbentuk karbon dioksida, air,
dan ammonia juga dapat dilakukan dengan metode aerasi sampel air uji
pada botol winkler.
c. Keberadaan kadar oksigen kimia atau COD (Chemical Oxygen
Demand) yang didasarkan atas kenyataan bahwa hampir semua
senyawa organik dapat dioksidasi dengan bantuan oksida terkuat dalam
kondisi asam. Selama penetapan COD, bahan-bahan organik akan
diubah menjadi CO2 dan air tanpa melihat kemampuan asimilasi secara
biologis terhadap bahan-bahan tersebut. Adapun penetapan COD dapat
dilakukan dengan metode permanganat atau metode bikromat.
4

d. Keberadaan logam alkali tanah yaitu logan kalsium dan magnesium
dalan bentuk ionnya yang bersenyawa dengan sulfat, klorida, kromat,
dan bikromat dalam lingkungan perairan dapat menyebabkan sifat
kesadahan. Metode yang digunakan untuk mengukur kesadahan adalah
dengan titimetri dengan larutan standar EDTA serta indikator EBT atau
Maurexide pada pH tertentu.
e. Keberadaan Ion sulfat dapat menyebabkan kesadahan air yang berupa
kesadahan tetap dan menyebabkan turunnya kualitas air. Metode yang
digunakan untuk menentukan kadar sulfat yaitu metode turbidimetri
dengan alat spektofotometri sinar tampak. Metode tersebut berdasarkan
kenyataan bahwa BaSO
4
cenderung membentuk endapan koloid dengan
hadirnya larutan NaCl dan HCl. BaSO
4
mempunyai kelarutan dalam air
kira-kira 3 ppm pada temperatur biasa. Kelarutan ini bertambah dengan
adanya asam-asam mineral karena terbentuk ion hidrogen sulfat.
f. Nitrit merupakan bentuk nitrogen yang teroksidasi. Nitrit biasanya tidak
bertahan lama dan merupakan keadaan sementara..Penetapan nitrit
dapat menggunakan metode spektofotometer dengan bantuan asam
sulfanilat, dan 1-naftilamine. Dalam suasana asam, nitrit akan bereaksi
dengan pereaksi nitrit (asam sulfanilat + nafilamin) membentuk
senyawa diazo yang berwarna merah-ungu. Warna yang terjadi diukur
menggunakan spektofotometer.
4. Aspirin berbentuk kristal berwarna putih, bersifat asam lemah (pH 3,5)
dengan titik lebur 135C. Aspirin mudah larut dalam cairan ammonium
asetat, karbonat, sitrat atau hidroksida dari logam alkali. Aspirin stabil
dalam udara kering, tetapi terhidrolisis perlahan menjadi asetat dan asam
salisilat bila kontak dengan udara lembab. Dalam campuran basa, proses
hidrolisis ini terjadi secara cepat dan sempurna.
Bardasarkan latar belakang diatas, analisis uji kandungan asam
salisilat dalam suatu tablet aspirin dapat menjadi salah satu standar mutu
dari suatu obat. Prinsip dari metoda ini adalah pembentukan senyawa
kompleks berwarna antara asam salisilat (aspirin) dengan ion Fe
3+
dengan
menggunakan spektrofotometri. Spektrofotometri uv-vis mengukur serapan
5

cahaya di daerah ultraviolet (200 350 nm) dan sinar tampak (350 800
nm) oleh suatu senyawa. Hukum yang mendasari spektrofotometri adalah
hukum Lambert Bert. Dalam hukum ini absorbansi dari suatu larutan
berbanding lurus dengan konsentrasi suatu larutan. Dengan terbentuknya
kompleks berwarna, maka uji kadar asam salisilat dapat dilakukan dengan
metode spektrofotometri pada panjang gelombang 530 nm.
5. Larutan elektrolit yang digunakan pada penyepuhan komersial amat rumit
komposisinya. Setiap komponen memainkan peranan dalam pembentukan
hasil akhir berupa penyepuhan yang halus dan mengkilat. Beberapa logam,
misalnya, tembaga, perak dan emas, umumnya disepuhkan dari larutan ion
kompleks siano. Pada reaksi elektrolisis di bawah ini obyek yang disepuh
dibuat sebagai katode dan batang tembaga sebagai anode.
Anode : Cu + 4CN
-
[Cu(CN)
4
]
3-
+ e
-

Katode: [Cu(CN)
4
]
3-
+ e
-
Cu + 4 CN
-
Perubahan bersih secara sederhana mencakup pemindahan logam tembaga
dari ion kompleks [Cu(CN)
4
]
3-
. Keuntungan lain dari penyepuhan tembaga
Cu dari larutan [Cu(CN)
4
]
3-
ialah pembentukan 1 mol tembaga per
Faraday, bukan mol per Faraday jika digunakan larutan Cu
2+
.
6. Pada pemisahan dan pengenalan kation dalam bagan analisa kualitatif Ag
+
,
Pb
2+
, dan Hg
2
2+
mula-mula diendapkan sebagai klorida. Seluruh kation
umum yang lain membentuk klorida yang dapat larut. PbCl
2
(p) dipisahkan
dari AgCl (p) dan HgCl
2
(p) berdasar kelarutannya yang lebih besar di
dalam air panas. AgCl (p) dipisahkan dari Hg
2
Cl
2
(p) berdasar kelarutannya
dalam NH
3
(aq). Pada bagian lain bagan analisis kualitatif diinginkan untuk
mengendapkan CdS sebagai Sulfida dengan penambahan Cu
2+
. Pada
keadaan biasa, Cu
2+
akan mengendapkan serentak dengan Cd
2+
, sebab Ksp
untuk CuS lebih kecil dari pada CdS. (6,3 x 10
-36
dengan 8 x 10
-27
). Tetapi
dengan penambahan CN
-
berlebih sebelum penjenuhan dengan H
2
S,
pemisahan antara kedua kation terjadi, sesuai reaksi berikut :
Cd
2+
+ 4CN
-
[Cd(CN)
4
]
2-
Kf = 7,1 x 10
18

2Cu
2+
+ 10 CN
-
2 [Cu(CN)
4
]
3-
+ C
2
N
2

(g)

6

Reaksi diatas merupakan rekasi oksidasi reduksi dimana Cu
2+
direduksi
menjadi Cu
+
dan terkompleks dengan CN
-
. Ion kompleks [Cu(CN)
4
]
3-
sangat mantap, dimana nilai Kf adalah 1 x 10
28
. Konsentrasi Cu
+
bebas
pada kesetimbangan dengan ion kompleks sangat rendah. Jika suatu larutan
yang mengandung ion kompleks ini dijenuhkan dengan H
2
S, Ksp untuk
Cu
2
S tidak tercapai. Sebaliknya, pada kondisi yang sama Cd
2+
] pada
kesetimbangan dengan [Cd(CN)
4
]
2-
cukup besar sehingga Ksp CdS
tercapai.
7. Kesadahan total yaitu ion Ca
2+
dan Mg
2+
dapat ditentukan melalui titrasi
dengan EDTA sebagai titran dan menggunakan indikator yang peka
terhadap semua kation tersebut. Kejadian total tersebut dapat dianalisis
secara terpisah misalnya dengan metode AAS (Automic Absorption
Spectrophotometry).
8. Asam Ethylenediaminetetraacetic dan garam sodium ini (singkatan EDTA)
bentuk satu kompleks kelat yang dapat larut ketika ditambahkan ke suatu
larutan yang mengandung kation logam tertentu. Jika sejumlah kecil
Eriochrome Hitam T atau Calmagite ditambahkan ke suatu larutan
mengandung kalsium dan ion-ion magnesium pada satu pH dari 10,0 0,1,
larutan menjadi berwarna merah muda. Jika EDTA ditambahkan sebagai
satu titran, kalsium dan magnesium akan menjadi suatu kompleks, dan
ketika semua magnesium dan kalsium telah manjadi kompleks, larutan
akan berubah dari berwarna merah muda menjadi berwarna biru yang
menandakan titik akhir dari titrasi. Ion magnesium harus muncul untuk
menghasilkan suatu titik akhir dari titrasi. Untuk mememastikankan ini,
kompleks garam magnesium netral dari EDTA ditambahkan ke larutan
buffer. Penentuan Ca dan Mg dalam air sudah dilakukan dengan titrasi
EDTA. pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator Eriochrom Black T
(EBT).




7

2.2. Aplikasi Senyawa Kompleks pada Bidang Biologi
Berikut adalah aplikasi senyawa kompleks pada bidang biologi:
1. Pemupukan memegang peranan yang penting dalam kegiatan budidaya
tebu, selain dapat meningkatkan produksi biomassanya, pupuk juga dapat
meningkatkan keragaman dan kualitas hasil yang diperoleh. Masalah
utama penggunaan pupuk N pada lahan pertanian adalah efisiensinya yang
rendah karena kelarutannya yang tinggi dan kemungkinan kehilangannya
melalui penguapan, pelindian dan immobilisasi. Untuk itu telah dilakukan
penelitian peningkatan efisiensi pemupukan N dengan rekayasa kelat urea-
humat pada jenis tanah yang mempunyai tekstur kasar (Entisol) dengan
menggunakan tanaman tebu varietas PS 851 sebagai tanaman indikator.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelapisan urea dengan asam
humat yang berasal dari Gambut Kalimantan sebesar 1% menghasilkan
pupuk urea yang lebih tidak mudah larut daripada yang dilapisi asam
humat dari Rawa Pening. Dengan pelepasan N yang lebih lambat
diharapkan keberadaan N di dalam tanah lebih awet dan pemupukan
menjadi lebih efisien. Pupuk urea-humat telah diaplikasikan ke tanah
Psamment (Entisol) yang kandungan pasirnya tinggi (tekstur kasar) untuk
mewakili jenis-jenis tanah yang biasa ditanami tebu dengan tekstur yang
paling kasar. Respons tanaman tebu varietas PS 851 menunjukkan kinerja
pertumbuhan yang lebih baik di tanah Vertisol.
Rekayasa kelat urea-humat secara fisik dan kimia terbukti
meningkatkan efisiensi pemupukan N pada tanaman tebu. Penelitian ini
memperlihatkan bahwa memang efisiensi pemupukan N pada tanah
Entisol dan Vertisol rendah, bahkan di Entisol lebih rendah (hanya sekitar
25 %). Aplikasi pupuk urea-humat pada tanah Vertisol dan Entisol terbukti
meningkatkan efisiensi pemupukan N hingga 50 %. Di tanah Entisol
bahkan efisiensi pemupukan yang lebih tinggi dicapai pada dosis pupuk
yang lebih rendah.
2. Kobalt (Co) merupakan sumber mikroorganisme yang dapat membentuk
Vitamin B
12.
Manusia tidak dapat melakukan hubungan simbiosis dengan
mikroorganisme dalam saluran cerna, sehingga harus memperoleh
8

kobaltamin dari makanan hewani seperti hati, ginjal, dan daging.
Makanan nabati mengandung sedikit kobalt, bergantung pada kandungan
tanah tempat tumbuhnya. Pengikut vegetarian (hanya makan makanan
nabati) perlu berhati-nati terhadap kemungkinan kekuranagan Vitamin B
12.

Fungsi Kobalt yang merupakan vitamin B
12
(kobaltmin) ini
diperlukan untuk mematangkan sel darah merah dan menormalkan fungsi
semua sel. Kobalt mungkin juga berperan dalam fungsi berbagai enzim.
Angka kebutuhan gizi sebagian besar kobalt dalam tubuh terikat dalam
vitamin B
12.
Plasma darah mengandung kurang lebih 1 g kobalt/ 100
pencernaan dan penyerapan absorbsi terjadi pada bagian atas usus halus
mengikuti mekanisme absorbsi besi. Absorbsi meningkat bila konsumsi
besi rendah. Sebanyak 85 % ekskresi kobalt dilakukan melalui urin,
selebihnya fases dan keringat.
3. Darah cepat membeku, oleh karena itu diperlukan suatu zat yang dapat
membuat darah tidak membeku untuk mempermudah pemeriksaan secara
labororium. Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah
dengan cara mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan
trombin yang diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin
dalam proses pembekuan. EDTA memiliki keunggulan dibanding dengan
antikoagulan yang lain, yaitu tidak mempengaruhi sel-sel darah, sehingga
ideal untuk pengujian hematologi, seperti pemeriksaan hemoglobin,
hematokrit, KED, hitung lekosit, hitung trombosit, retikulosit, apusan
darah, dsb.[Ni(EDTA)]
2-
biasanya digunakan dengan konsentrasi 1 - 1,5
mg/ml darah. Penggunaannya harus tepat. Bila jumlah EDTA kurang,
darah dapat mengalami koagulasi.
4. Proses biosintesis asam oksalat oleh jamur pembusuk coklat merupakan
proses fisiologis yang sangat penting bagi jamur, dimana jamur
memberoleh energi dengan mengoksidasi karbohidrat menjadi asam
oksalat, seperti pada persamaan:
C
6
H
12
O
6
+ 5O
2
2(COOH)
2
+ 2CO
2
+ 4H
2
O
Dalam metabolisme biosintesis asam oksalat pada jamur basidiomisetes,
asetil-KoA yang diperoleh dari oksidasi glukosa dikonversi menjadi asam
9

oksalat selanjutnya di disekresikan ke lingkungann sintesis asam oksalat
dengan mengunakan inhibitor spesifik menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan jamur untuk meminimalisir dalam degradasi polutan.
5. Kobalt merupakan salah satu logam unsur transisi dengan konfigurasi
elektron 3d
7
yang dapat membentuk kompleks. Kobalt yang relatif stabil
berada sebagai Co(II) ataupun Co(III). Namun dalam senyawa
sederhana Co, Co(II) lebih stabil dari Co(III). Ion ion Co
2+
dan ion
terhidrasi [Co(H
2
O)
6
]
2+
stabil di air. Kompleks kobalt dimungkinkan dapat
terbentuk dengan berbagai macam ligan, diantaranya sulfadiazine dan
sulfamerazin. Sulfadiazin dan sulfamerazin merupakan ligan yang
sering digunakan untuk obat antibakteri. Keduanya merupakan turunan
dari sulfonamide yang penggunaannya secara luas untuk pengobatan
infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif dan Gram negatif
tertentu, beberapa jamur, dan protozoa.

2.3. Aplikasi Senyawa Kompleks pada Bidang Industri
Berikut adalah aplikasi senyawa kompleks pada bidang industri:
1. Penggunaan radioisotop unsur tanah jarang atau lantanida dengan umur
paro pendek menjadi perhatian di bidang industri, khususnya radioisotop
pemancar gamma energi rendah. Radioisotop lutesium-177 (
177
Lu)
mempunyai umur paro 6,7 hari, pemancar gamma dengan energi
maksimum 113 keV (6,4%) dan 208 keV (11%) yang cocok digunakan
untuk perunut radioaktif di bidang industri. Sintesis senyawa kompleks
menggunakan ligan golongan ditiokarbamat (-NC(=S)-S-) dengan suatu
ion logam lantanida akan membentuk senyawa kompleks khelat yang
netral dengan kemampuan mengikat logam yang kuat. Pada penelitian ini
telah dilakukan sintesis dan karakterisasi senyawa
177
Lu-di-n-
butilditiokarbamat untuk tujuan aplikasi teknik nuklir sebagai radioperunut
di bidang industri. Metode sintesis didasarkan pada pembentukan
kompleks antara ion logam
177
Lu dengan ligan di-n-butilditiokarbamat
secara stoikiometri perbandingan mol dan lingkungan pH reaksi optimum.
Hasil sintesis dan karakterisasi memperlihatkan kondisi optimum
10

diperoleh pada perbandingan mol 1 : 6, pH 5, senyawa kompleks
berbentuk kristal berwarna putih, larut dalam pelarut asam organik dan
titik leleh di atas 350
o
C. Spektrum UV-Vis memberikan serapan yang
spesifik di daerah panjang gelombang maksimum 244,8 nm. Spektrum
inframerah menunjukkan adanya vibrasi ulur antara logam ligan (Lu S)
pada puncak serapan di daerah bilangan gelombang V
max.KBr
950 cm-
Kromatogram kertas menunjukkan migrasi senyawa kompleks
177
Lu-di-n
butilditiokarbamat dengan harga Rf 0,87 dan kemurnian radiokimia
97,10%. Hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa senyawa
177
Lu-
di-n-butilditiokarbamat dapat disintesis dan bisa digunakan sebagai
sediaan radioperunut untuk industri.
2. Rhodamin B Nama Kimia : N-[9-(2-Carboxyphenyl)-6-(diethylamino)-
3Hxanthen-3-ethyethanaminium chlorida. Sinonim: tetra ethylrhodamine;
D & C Red No. 19; Rhodamine B Chloride; C. l. Basic Violet 10; C. l.
45170. dan metanil yellow Nama kimia : 3-[[4-(phenylamino) phenyl]
azo]; C.I. Acid yellow 36; merupakan zat warna sintetik yang umum
digunakan sebagai pewarna tekstil. Walaupun memiliki toksisitas yang
rendah, namun pengkonsumsian rhodamin B dalam jumlah yang besar
maupun berulang-ulang menyebabkan sifat kumulatif yaitu iritasi saluran
pernafasan, iritasi kulit, iritasi pada mata, iritasi pada saluran pencernaan,
keracunan, dan gangguan hati/liver. Rhodamin B memiliki LD50
sebesar 89,5 mg/kg jika diinjeksikan pada tikus secara intravena.
Sedangkan untuk metanil yellow dapat menyebabkan iritasi pada mata
jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Kuning metanil juga dapat
bertindak sebagai tumor promoting agent dan menyebabkan kerusakan
hati. Institut Pertanian Bogor (IPB), menemukan banyak penggunaan zat
pewarna rhodamin B dan metanil yellow pada produk makanan industri
rumah tangga. Rhodamin B dan metanil yellow sering dipakai untuk
mewarnai kerupuk, makanan ringan, terasi, kembang gula, sirup,
biskuit, sosis, makaroni goreng, minuman ringan, cendol, manisan,
gipang, dan ikan asap. Makanan yang diberi zat pewarna ini biasanya
berwarna lebih terang.
11

3. Solar cell akhir-akhir ini sudah menjadi topik utama dalam kemajuan
teknologi penghematan produksi energi terbarukan. Teknologi fotovoltaik
(PV, Photovoltaic) ialah suatu proses yang bersangkut paut dengan
pemindahan energi panas matahari melalui suatu rangkaian alat pengubah
konversi energi menjadi energi listrik. Bagian dari komponen utamanya
terdiri dari banyak susunan sel-sel yang teratur berjajaran. Sel-sel ini
mengandung bahan baku semikonduktor yang terdiri dari Silicon (Si),
Cadmiun Sulfide (CdS), Copper Selenium Arsenide (CuSeAs) dan
Gallium Arsenide (GaAs).
Kompleks Iridium untuk DSSC (Dye Sensitized Solar Cell), telah
diteliti sebagai sensitizer dalam TiO
2
-sel fotoelektrokimia. Prinsip kerja
dari DSSC digambarkan pada gambar dibawah ini. Sebagai contoh
semikonduktor yang digunakan adalah TiO
2.
Adsorben sensitizer akan
meyerap cahaya yang mengarahkan elektron dipita konduksi TiO
2.
Pewarna mengalami oksidasi dan mendapatkan donasi elektron dari
larutan elektrolit yang mengandungiodida/triiodida karena proses redoks.
Elektron akan mengalir melalui semikonduktor kemudian mengalir
melalui elektroda counter. Proses reduksi pada elektroda counter dari
triiodida akan kembali menjadi iodida (regenaratif). Energi yang stabil
pada sistem konversi photovoltaic dan dibawah pencahayaan sehingga
proses regeneratif dapat berlangsung. Beberapa reaksi yang tidak
diinginkan adalah reaksi rekombinasi elektron dari
sensitizer teroksidasi atau dari proses redoks di permukaan TiO
2
. Luas
permukaan tinggi dari logam oksida mesopori sangat penting untuk karena
memungkinkan penyerapan yang
kuat dari radiasi surya menjadi tercapai dengan hanya monolayer sensitizer
teradsorpsi. Sebuah modifikasi dari ligan fenil-piridin seperti pada
kompleks no 48 menyebabkan penurunan tegangan. Ketiga kompleks
lainnya diharapkan memiliki LUMO terlokalisasi pada ligan bipiridin Di
bidang DSSC, kompleks iridium siklometal baru
dikenal. Besarnya spliting d-orbital menuju pusat logam (MC)
menyatakan kemungkinan untuk membuat molekul lebih
12

stabil dibandingkan dengan kompleks Rhutenium. Penemuan inspirasi
seperti Rhutenium pewarna terkenal merupakan sebuah tantangan yang
menarik untuk meningkatkan koefisienkompleks iridium yang secara
signifikan meningkatkan arus pendek dan menghasilkan konversi
yang efisiensi dan daya yang berguna.
4. Kompleks Iridium sebagai OLEDs memiliki keunggulan yaitu kompleks
Iridium mengahsilkan kuantum triplet emisi yang besar. Senyawa
kompleks tris-siklometal iridium adalah kompleks netral dengan pola dasar
Ir (C^N)
3
. Salah satu contohnya adalah Ir(PPy)
3.
Spektrum
serapan dari Ir(PPy)
3
yang kuat adalah dari ligan ke ligan (LC, p-
p *) dan MLCT pada daerah UV dan daerah tampak.
Transisi MLCT lebih rendah energinya dari pada transisi p-
p LC*. Keadaan triplet tereksitasi menunjukkanperpendaran yang
kuat pada wilayah warna hijau disekitar 515 nm. Analisis sifat spektra
kompleks Ir (PPy)
3
telah diketahuibahwa HOMO dari [Ir (PPy)
3
] pada
prinsipnya terdiri dari p orbital dari cincin fenil dan logam d-
orbital. Pyridin adalahnetral dan merupakan penyumbang utama
terhadap LUMO pada
[Ir (PPy)
3
]. Emisi maksimum kompleks iridium luminescent
ditentukan terutama oleh kesenjangan HOMO-LUMO.
Sebuah strategi yang efektif untuk
menyempurnakan warna emisi Ir (III) kompleks bergantung
pada stabilisasiselektif atau destabilisasi dan HOMO/ LUMO atau komple
ks. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan substituen
penarik elektron atau donor elektron. Sifat dari senyawa kompleks tris-
siklometal iridium dapat mengalami konfigurasi facial (fac) atau
meridional (Mer). Isomer facial lebih stabil daripada meridional. Namun
disisi lain kompleks Iridium dengan karben tidak dapat dicapai secara
termal atau secara fotokima dan degradasi senyawa ini tidak dapat diamati.
Menariknya sampel murni facial atau meridional dapat dijadikan untuk
OLEDs. Kompleks fac- [Ir (pmb)
3
] dengan ligan 1-phenyl-3-mathyl
benzimidazole memilikifotoluminesen yang kuantum besar
13

dibandingkan kompleks mer-Ir (pmb)
3
di dalam larutan.
Persiapan OLEDs dengan mer-Ir(pmb)
3
memiliki efisiensi sekitar dua
kali lebih tinggi dari pada fac- Ir (pmb)
3
.
5. Penentuan kesadahan air untuk menganalisa pembentukan kerak yang
terjadi pada dinding pipa yang disebabkan endapan CaCO
3
. Metode yang
digunakan dalam analisis larutan Ethyldiamine tetra acetic acid sebagai
larutan standarnya, untuk mengetahui titik akhir titrasi digunakan indikator
logam. Diantara indikator yang digunakan adalah Eriochrome Black T.
Eriochrome Black T sebagai indikator akan membentuk senyawa
kompleks seluruhnya dengan EDTA yang ditambahkan, dengan kata lain
kapan penambahan larutan EDTA mulai berlebih yang ditunjukkan oleh
perubahan warna larutan merah menjadi biru. Reaksi ini berlangsung
sempurna pada pH 8-10. Untuk mempertahankan larutan pH tersebut
ditambahkan larutan buffer salmiak. Ca
2+
dam Mg
2+
akan membentuk
senyawa kompleks warna merah anggur, dengan EBT
M
2+
+ EBT (M EBT)
kompleks merah anggur

Perubahan semakin jelas bila pH semakin tinggi, namun pH yang tinggi
dapat menyebabkan ion-ion kesadahan hilang dari larutan, karena terjadi
pengendapan Mg(OH)
2
dan CaCO
3-
pada pH >9, CaCO
3
sudah mulai
terbentuk.
6. Ion logam dapat berlaku sebagai katalis reaksi-reaksi yang tak dikehendaki
pada proses industri, atau dapat mengubah sifat-sifat bahan dalam proses
industri. Sehingga, dianggap penting untuk membersihkan air dari logam-
logam pengotor. Logam pengotor ini, misalnya Cu
2+
, biasanya hanya
terdapat dalam jumlah kecil. Pengendapan ion logam ini dari larutan dapat
dilakukan bila Ksp pengendapannya sangat kecil. Salah satu metode
pengolahan air melibatkan pengkelatan. Pengkelat yang banyak dipakai
ialah garam asam Etilendiamintetraasetat (EDTA), misalnya garam
natriumnya.



Gambar Garam natrium EDTA
14

Sebagai gambaran, tetapan pembentukan [Ca(EDTA)]
2-
dan
[Mg(EDTA)]
2-
cukup besar (Kf= 4 x 10
10
dan 4 x 10
8
) sehingga konsentrasi
Ca
2+

(aq)
dan Mg
2+

(aq)
dapat diturunkan ke titik dimana ion ini tidak
mengendap jika ditambahkan pereaksi umum, seperti sabun.
7. Ligan Heksadentat EDTA merupakan zat pengelat yang mempunyai
afinitas yang sangat kuat terhadap ion-ion logam tertentu dan dapat
mengasingkan (sequester) ion-ion tersebut secara efektif dalam larutan.
Mekanisme pencegahan kerak meliputi Chelating, sequestration,
complexation, antiprecipitation, protective colloid, threshold treatment,
dispersan, deflocculant, antinucleation, dan lain-lain. Chelation adalah
pembentukan senyawa kompleks dari ion logam dengan mengunakan
molekul organic atau anorganik, senyawa kompleks tersebut dapat terlarut
atau tak terlarut. Sequestrationdidefinisikan sebagai pembentukan senyawa
kompleks terlarut dari suatu logam. Sequestering agent yang biasa dipakai
antara lain nitrilotriacetic acid (NTA), ethylene diamine
tetraacetic (EDTA), hydrotyethyl ethylene diamine triacetic
acid (HEDTA), dan lin-lin. Bila sequestering agent ditambahkan ke dalam
larutan yang mengandung ion logam maka senyawa kompleks akan
terbentuk, pembentukan kerak tidak terjadi karena ion logam telah
terkomplekkan. Senyawa kompleks tersebut mempunyai nilai stabilitas
tertentu, yang dinyatakan dalam konstanta stabilitas kation yang
terkomplekkan. Bila ada dua atau lebih ion logam dalam larutan
sebagaimana yang terjadi pada air alam, terdapat rekasi kompetisi
terhadap sequestering agent. Reaksi pembentukan senyawa kompleks
antara ion logam dansequestring agent merupakan reaksi setimbang,
dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain pH, temperature, jenis dan
konsentrasi padatan terlarut, dan lain-lain. Banyak kation dapat
dikomplekkan pada suatu kondisi tetap.
Sequestring agent jenis EDTA atau NTA saat ini banyak digunakan
khususnya dalam pengolahan air boiler. EDTA dan NTA membentuk
senyawa kompleks yang stabil dengan banyak kation pengganggu
pembentuk kerak dan deposit seperti Ca
2+
, Mg
2+
, Fe
3+
, Fe
2+
, Cu
2+
, dan
15

lain-lain. Bila dalam larutan terdapat beberapa kation dan konsentrasi
molar dari sequestering agent melebihi nilai total konsentrasi molar ion-
ion logam, bahan tersebut akan membentuk kompleks dengan ion logam
yang memiliki afinitas yang lebih kuat. Afinitas ion-ion logam
terhadap sequestering agent EDTA mempunyai nilai yang berbeda dan
besarnya sesuai dengan urutan sebagai berikut:
Na
+
< Ba
2+
< Mg
2+
< Ca
2+
< Fe
2+
< Cu
2+
< Fe
3+

Jadi EDTA akan membentuk senyawa kompleks lebih besar
dengan ion kalsium dari pada dengan ion magnesium, juga lebih besar
dengan Fe
2+
dari pada dengan ion kalsium. Reaksi pembentukan kompleks
ion logam dengan EDTA mengikuti persamaan sebagai berikut :
4M
+
+ H
4
EDTA M
4
-EDTA + 4H
+

























16

Bab III
Kesimpulan

1. Aplikasi senyawa kompleks pada bidang kimia, antara lain: Reaksi subtitusi
kompleks melalui efek trans dan hasilnya digunakan dalam pemanfaatan
senyawa kompleks sebagai absorben gas NOx, sehingga dapat mengurangi
dampak negatif pencemaran lingkungan seperti polusi udara; sebagai parameter
untuk mengatasi masalah pencemaran pada lingkungan perairan dan sebagainya.
2. Aplikasi senyawa kompleks pada bidang biologi, antara lain: Rekayasa kelat
urea-humat secara fisik dan kimia terbukti meningkatkan efisiensi pemupukan N
pada tanaman tebu; untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Gram-positif dan Gram-negatif tertentu, beberapa jamur, dan protozoa dan
sebagainya.
3. Aplikasi senyawa kompleks pada bidang industri, antara lain: Penentuan
kesadahan air untuk menganalisa pembentukan kerak yang terjadi pada dinding
pipa yang disebabkan endapan CaCO
3
; penggunaan rhodamin B sebagai
pewarna tekstil dan sebagainya.