Anda di halaman 1dari 10

CLOSTRIDIUM BOTULINUM DAN CLOSTRIDIUM TETANI

Disusun Oleh :
1. Connie Lusia P07134112046
2. Dwi Prasetyowati P07134112052
3. Febriana Rahmawati P07134112058
4. Kurnia Ifah Wulandari P07134112064
5. Merlin Herofianti P07134112070
6. Setyaningsih P07134112076
7. Vivi Indriyani P07134112082

POLTEKKES KESEHATAN YOGYAKARTA
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2012/2013

I. Clostridium tetani

A. Pengertian
Clostridium tetani adalah kuman yang menyebabkan tetanus tersebar luas diseluruh
dunia dalam tanah dan tinja kuda dan hewan lain. Clostridium tetani memproduksi
eksotoksin (tetanospamin dantetanolisin) yang menyebabkan penyakit tetanus perkiraan
dosis mematikan minimal dari kadar toksin (tetanospamin) adalah 2,5 nanogram per
kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk 70 kilogram (154lb) manusia.
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak memecah
protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak menghasilkan gas H
2
S.

B. Ciri Khas Morfologi :
Bentuk batang lurus, langsing, berukuran panjang 2-5 mikron, lebar 0,4-0,5 mikron,
dapat bergerak, termasuk gram positif anaerob berspora, membentuk exotoxin yang
disebut tetanospasmin (tetanus spasmin), dan ketika bakteri ini mengeluarkan eksotoxin
maka akan menghasilkan 2 eksotoxin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin.
Tetanospasminlah yang dapat menyebabakan penyakit tetanus karena bersifat neurotoxin
yang mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf parifer setempat, hidup
anaerob, bentuk sporanya lebih besar dari pada selnya, dan letaknya terminal (diujung)
menyerupai sendok. Bentuk sporanya dapat betahan hidup sampai bertahun-tahun.
Perkiraan dosis mematikan minimal dari kadar toksin (tenospamin) adalah 2,5 nanogram
per kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk 70 kilogram (154lb) manusia.
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak memecah protein
dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak menghasilkan gas H2S.
Menghasilkan gelatinase, dan indol positif. Spora dari Clostridium tetani resisten
terhadap panas dan juga biasanya terhadap antiseptis. Sporanya juga dapat bertahan pada
autoclave pada suhu 249.8F (121C) selama 1015 menit. Juga resisten terhadap phenol
dan agen kimia yang lainnya. Timbulnya tetanus ini terutama oleh clostiridium tetani
yang didukung oleh adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah.
1. Ciri khas organisme :
Spora klostridia biasanya lebih besar daripada diameter batang tempat spora
dibentuk. Pada berbagai spesies spora terletak sentral sub terminal atau terminal.
Kebanyakan spesies clostridia bergerak dan mempunyai flagel peritrikus
2. Bentuk koloni :
Clostridium tetani menghasilkan koloni yang lebih kecil yang meluas dalam
jalinan filamen halus. Kebanyakan spesies menghasilkan daerah haemolisis pada agar
darah.

C. Biakan Karakteristik Pertumbuhan :
1. Kultur :
Klostridia hanya tumbuh pada keadaan anaerob yang dibuat dengan salah satu
cara berikut ini :
a. Lempeng agar atau tabung biakan diletakkan dalam tabung kedap udara, udara
dibuang dan di ganti dengan nitrogen dan CO
2
10% atau oksigen dapat dibuang
dengan cara lain.
b. Kultur cair diletakkan dalam tabung panjang yang diletakkan hewan segar
misalnya cincangan daging rebus atau agar-agar 0,1 % dan suatu zat pereduksi
seperti tiglikolat, tabung ini dapat digunakan sebagai pembenihan aerob dan
pertumbuhan akan terjadi dari dasar keatas sampai 15 mm dari permukaan udara.
2. Sifat-sifat pertumbuhan :
Clostridium tetani merupakan anaerob obligat yang hanya tumbuh tanpa adanya
oksigen. Tidak mampu mempergunakan oksigen sebagai akseptor hydrogen terakhir.
Sifat basil anaerob yang terkenal adalah ketidakmampuannya menggunakan oksigen
sebagai abseptor hidrogen akhir. Kuman ini tidak mempunyai sitokrom dan sitokrom
oksidase dan tidak dapat memecahkan hidrogen peroksidase. Karena itu bila terdapat
oksigen H
2
O
2
cenderung tertimbun sampai konsentrasi toksik. Clostridia dan
organisme obligat anaerob yang lainnya mungkin juga tidak mempunyai superoksida
dismutase sehingga memungkinkan penimbunan radikal bebas anion superoksida
yang toksik. Bakteri anaerob demikian hanya dapat melangsungkan metabolisnya
dalam lingkungan yang sangat kuat mereduksi .

D. Struktur Antigen :
Antigen flagel dapat memisahkan clostridium tetani dalam sepulu tipe tetapi
toksinnya yang dibuat secara farmakologis & antigenic semuanya identik.



E. Produksi Toksin
Sel vegetatif dari Clostridium tetani menghasilkan toksin tetanosplasmin(BM
150.000) yang tersusun oleh protease bakterial dalam 2 peptida (BM 50.000 dan
100.000) yang dihubungkan oleh ikatan disulfida. Toksin pertama-tama berikatan dengan
reseptor di membran prasinaps pada motor neuron. Kemudian bergerak ke hulu melalui
sistem transpor aksonal retrograt menuju cell bodies neuron-neuron tersebut hingga
medula spinalis dan batang otak. Tosin berdisfusi ke terminal dari sel inhibitor termasuk
sel interneuron glisinergi dan neuron yang mensekresi asam amino butirat dari batang
otak toksin menurunkan sinaptobrevin yaitu suatu protein yang berperan dalam mengikat
vesikel neurotransmiter pada membran prasinapsiter. Pengeluaran glisin inhibitor dan
asam amino butirat gama di blok dan motor neuron tidak dihambat. Hiperefleksia,
spasme otot dan paralisis spastik terjadi. Toksin dalam jumlah yang sangat kecil bisa
mematikan bagi manusia.

F. Patogenesis Patologi
Tetanus terutama ditemukan di daerah tropis dan merupakan penyakit infeksiyang
penting baik dalam prevalensinya maupun angka kematiannya yang masihtinggi . Di
dalam luka yang dalam dan sempit sehingga terjadi suasana anaerob. Toksin,
tetanospasmin, diproduksi padamasa pertumbuhan sel,sporulasi dan lisis. Toksin ini akan
mencapai sistem syaraf pusat melalui syaraf motorik menuju ke bagian anterior spinal
cord.Jenis-jenis luka yang sering menjadi tempat masuknya kuman Clostridium
tetanisehingga harus mendapatkan perawatan khusus adalah:
1. Luka-luka tembus pada kulit atau yang menimbulkan kerusakan luas
2. Luka bakar tingkat 2 dan3
3. Fistula kulit atau pada sinus-sinusnya
4. Luka-luka di bawah kuku
5. Ulkus kulit yang iskemik
6. Luka bekas suntikan narkobag) Bekas irisan umbilicus pada bayi
7. Endometritis sesudah abortus septic
8. Abses gigi
9. Mastoiditis kronis
10. Ruptur apendiks
11. Abses dan luka yang mengandung bakteri dari tinja

G. Gambaran Klinis
Masa inkubasi dapat berkisar antara 4-5 hari sampai berminggu-minggu. Penyakit ini
ditandai dengan kontraksi tonik otot-otot bergaris (voluntary muscle atau otot lurik).
Kejang otot sering terjadi, mula-mula pada daerah luka dan infeksi, kemudian otot-otot
rahang (trismus, rahang terkunci, lack jaw), yang berkontraksi sedemikian rupa sehingga
mulut tidak dapat dibuka. Lambat laun otot-otot bergaris lainnya terserang, mengakibatkan
kejang tonik. Setiap rangsangan dari luar dapat menimbulkan serangan tetani. Penderita
sadar penuh dan mungkin merasa sangat nyeri. Kematian biasanya terjadi akibat gangguan
mekanisme pernafasan. Angka kematian tetanus generalisata sangat tinggi.
Opistotonus secara klinis tetanus dibedakan menjadi :
1. Tetanus Lokal
Ditandai dengan rasa nyeri dan spasmus otot di bagian proksimal luka
karenahanya sedikit toksin yang masuk. Memiliki tingkat mortilitas yang rendah.
2. Tetanus Umum
Pada awalnya terjadi kekakuan otot kepala dan otot leher, kemudian menyebar
secara kaudal ke seluruh tubuh. Trismus yang menetap menyebabkan ekspresiwajah
yang karakteristik berupa risus sardonicus. Terjadi opistotonos karena spasme otot
pungggung. Selama periode ini penderita berada dalarn kesadaran penuh
3. Tetanus Biasanya
Terjadi disfungsi saraf cranial local dengan trauma kepala atau infeksitelinga
tengah. Memilliki tingkat mortilitas yang tinggi.

H. Uji Laboratorium Diagnostik :
Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis amnanesa adanya luka, meskipun hanya
50% pasien tetanus menderita luka yang menyebabkannya meminta pertolongan medis.
Diagnosis banding utama ialah keracunan striknin. Biakan anaerob dari jaringan luka
yang terkontaminasi dapat menunjukkan adanya Clostridium tetani, tapi pemberian
antitoksin untuk pencegahan maupun pengobatan tidak perlu menunggu hasil biakan ini.
Bukti isolasi clostridium teteani harus didasarkan pada pembentukan toksin dan uji
netralisasi toksin dengan antitoksin yang spesifik. Diagnosis tetanus dapat diketahui dari
pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, berupa :
1.Gejala klinik - Kejang tetanic, trismus, dysphagia, risus sardonicus ( sardonic smile ).
2. Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan.
3. Kultur: C. tetani (+).
4. Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria.

I. Epidemiologi Pengendalian :
Tetanus tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi
dengan cakupan imunisasi DPT (Diphtheria, Pertussis and Tetanus) yang rendah.
Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak
sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi.
Sporakuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-
mana.

J. Pengobatan dan Pencegahan :
1. Pengobatan
a. Antibiotika :
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM.
Sedangkantetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/
12 jamsecafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat
dapatdiganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24
jam,tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi (4
dosis).Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000
unit/kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari.Antibiotika ini hanya bertujuan
membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, bukanuntuk toksin yang dihasilkannya.
Bila dijumpai adanya komplikasi pemberianantibiotika broad spektrum dapat
dilakukan.
b. Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan
dosis3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan
secaraintravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of
globulin ",yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG
tidak ada,dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang berawal dari
hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U
dariantitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan
secaraintravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit.
Setengahdosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada
sebelah luar.
c. Tetanus Toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan
pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang
berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan
sampaiimunisasi dasar terhadap tetanus selesai4. AntikonvulsanPenyebab utama
kematian pada tetanus neonatorum adalah kejang klonik yang hebat, muscular dan
laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan obat obatan
sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang dapatdiatasi. Contohnya :- Diazepam
0,5 1,0 mg/kg Berat badan / 4 jam (IM)- Meprobamat 300 400 mg/ 4 jam (IM)-
Klorpromasin 25 75 mg/ 4 jam (IM)- Fenobarbital 50 100 mg/ 4 jam (IM)
2. Pencegahan
Pencegahan merupakan tindakan paling penting, yang dapat dilakukan dengan
cara:
a. Imunisasi aktif dengan toksoid
b. Perawatan luka menurut cara yang tepat
c. Penggunaan antitoksi profilaksis
Namun sampai pada saat ini pemberian imunisasi dengan tetanus
toksoidmerupakan satu-satunya cara dalam pencegahan terjadinya tetanus.
Pencegahandenganpemberian imunisasi telah dapat dimulai sejak anak berusia 2 bulan,
dengancara pemberian imunisasi aktif (DPT atau DT)
II. Clostridium botulinum

A. Pengertian :
Clostridium botulinum yang menyebabkan botulisme tersebar diseluruh dunia.
Organisme ini ditemukan dalam tanah dan kadang-kadang dalam fesses hewan. Tipe
C.botulinum dibedakan melalui tipe antigenik toksin yang dihasilkan. Spora organisme ini
sangat resisten terhadap panas tahan terhadap suhu 100 derajad celcius selamapaling
sedikit 3-5 jam. Daya tahan terhadap panas berkurang pada pH asam atau bila konsentrasi
garam tinggi.

B. Ciri Khas Morfologi :
Clostridium botulinum adalah bakteri gram positif berbentuk batang, terdapat tunggal,
berpasangan, atau dalam rantai, anaerobic, tak berspora, tak berkapsul, motil, peritikus,
berukuran 5 x 1 , tidak bersimpai, bergerak dengan flagel peririkh, membuat spora
lonjong subterminal dan membengkak melebihi besar badan kuman. Bersifat pleomorfik
& terlihat sendiri-sendiri/ tersusun dalam bentuk rantai, memproduksi eksotoksin yang
menyebabkan botulisme.

C. Biakan Karakteristik Pertumbuhan :
Clostridium botulinum dapat diisolasi pada media trytose cycloserine ( TSC), selalu
dalam lingkunan anerobik yang mengandung kurang dari 2% oksigen. C. Botulinum tidak
menggunakan laktosa sebagai sumber karbon utama. Hidup pada pH 4,8 - 7.

D. Struktur Antigen :
Bakteri ini dikelompokkan menjadi grup I-IV berdasarkan sifaf proteolitiknya dan
memiliki tujuh struktur antigen yakni antigen (A-G), serta antigen somatik.

E. Produksi Toksin
Terdapat secara luas di alam, kadang ada dalam feses binatang. Terdapat enam tipe
berdasarkan toksin, yaitu A, B, C, D, E, F. Pada manusia didapatkan tipe A, B,dan E.
Eksotoksin yang dikeluarkan adalah protein dengan BM 70.000 yangtermolabil (100
0
C-20
menit menjadi inaktif). Dosis letal untuk manusia = 1 g. Kerja toksin adalah memblokir
pembentukan atau pelepasan asetilkolin padahubungan saraf otot sehingga terjadi
kelumpuhan otot.

F. Patogenesis Patologi
Bersifat non invasive & pategenitasnya berdasarkan pembuatan toksin yang dibuat
dalam makanan yang tercemar. C. botulinum biasanya menyebabkan keracunan makanan
oleh toksin yangtermakan bersama dengan makanan. Pada beberapa kasus bakteri tumbuh
danmenghasilkan toksin pada jaringan yang mati, kemudian menyebabkan
kontaminasiluka,. Makanan yang sering tercemar dengan Clostridium adalah makanan
yang berbumbu, makanan yang diasap, makanan kalengan yang dimakan tanpa dimasak
terlebih dahulu, dalam makanan ini spora C. Botulinum tumbuh , dalam keadaan anaerob,
bentuk vegetatif tumbuh dan menghasilkan toksin.
Toksin bekerja dengan menghambat pelepasan asetilkolin pada sinaps dan hubungan
saraf dan otot, mengakibatkan paralisis flaksid (flaksid paralysis). Elektromiogram dan
hasil tes kekuatan endrofonium (tensilon) menunjukan sifat yang khas.

G. Gambaran Klinis
Gejala akibat infeksi Clostridium botulinum biasanya setelah 18-24 jam makan toksin
dengan keluhan penglihatan karena otot mata yang tidak ada koordinasi. Sulit menelan,
sulit bicara, tanda-tanda paralisis bulber (bulber paralysis) berjalan progresif. Kematian
biasanya karena paralisis otot pernafasan atau kelumpuhan jantung (cardiacarrest). Gejala
gastrointestinal biasanya tidak menonjol. Tidak ada demam. Penderita tetap sadar
sepenuhnya hingga menjelang kematian. Angka kematian botulismus adalah tinggi.Pada
botulisme bayi, organisme yang masuk melalui makanan memproduksitoksin di usus bayi
sehingga bayi mengalami badan lemah, tidak dapat buang air besar dan lumpuh.

H. Uji Laboratorium Diagnostik :
Toksin sering dapat ditemukan dalamserum penderita dan toksin dapat ditemukan
pada makanan yang tersisa. Mencit yang disuntik intraperitoneal akan mati dengan segera.
Tipe antigenik toksin yang diidentifikasi dengan cara menetralisasi dengan antitoksin
spesifik pada mencit C.botulinum dapat dibuakan dari makanan yang tersisa dan dites
pembentukan toksinnya, tepapi hal ini jarang dilakukan dan manfaatnya masih belum
jelas.pada botulisme bayi, C.botulisme dan toksin dapat ditemukan dalam isi usus tetapi
tidak terdapat dalam serum. Toksin dapat diperhatikan dengan hemaglutinasi pasif dan
radioimunoassai.

I. Epidemiologi Pengendalian :
Clostridium botilinum tersebar luas di seluruh dunia. Penyebaran bakteri C. botulinum
melalui spora yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Spora C. botulinum dapat ditemukan
di saluran pencernaan manusia, ikan, burung, dan hewan ternak. Selain itu, spora C.
botulinum juga dapat ditemukan di tanah, pupuk organik, limbah, dan hasil panen. Spora
tersebut dapat berakhir di usus hewan yang memakan hewan atau tumbuhan yang
terkontaminasi spora tersebut kemudian memasuki rantai makanan manusia. Jika spora
memasuki lingkungan yang anaerob, misalnya pada kaleng makanan, spora spora
tersebut akan tumbuh menjadi bakteri yang dapat menghasilkan neurotoksin. Pada
makanan yang tertutup dan pHnya rendah (lebih dari 4,6) merupakan tempat pertumbuhan
bakteri C. botulinum yang kemudian dapat memproduksi racun. Faktor lain yang
mendukung tumbuhnya spora menjadi sel vegetatif adalah kadar garam yang di bawah
7%, kandungan gula di bawah 50%, temperatur 4
o
C 49
o
C (suhu kamar), kadar
kelembapan tinggi, serta sedikitnya kompetensi dengan bakteri flora.

J. Pengobatan dan Pencegahan :
Pengobatan Dengan pemberian antitoksin polivalen (tipe A, B, dan C) yang disuntikkan I.V.
dan secara simptomatik terutama untuk pernafasan (pernafasan buatan).PengobatanBila terjadi
kelumpuhan pada pernafasan dapat dilakukan trakeomi (bedah batang tenggorokan) dan diberikan
pernafasan buatan