Anda di halaman 1dari 14

1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan
judul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Problem Seksualitas dengan baik
dan tepat waktu. Adapun pembuatan makalah ini dilakukan sebagai pemenuhan nilai
tugas dari mata kuliah ilmu keperawatan dasar. Selain itu, pembuatan makalah ini
juga bertujuan untuk memberikan manfaat yang berguna bagi ilmu pengetahuan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan
membantu dalam pembuatan makalah sehingga semua dapat terselesaikan dengan
baik dan lancar. Selain itu, penulis juga mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun terhadap kekurangan dala makalah agar selanjutnya penulis dapat
memberikan karya yang lebih baik dan sempurna. Semoga makalah ini dapat berguna
dan bermafaat bagi pengetahuan para pembaca.



Surabaya, Maret 2011


Penulis
2


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ............................................................................................... 2
DAFTAR ISI .............................................................................................................. 3
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 4
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 5
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Peran dan Fungsi Perawat dalam Mengatasi Masalah Sexualitas ..............
2.2 Pengakajian terhadap Pasien yang Mengalami Masalah Sexualitas ..........
2.3 Hambatan Hambatan Perawat dalam Melakukan ....................................
2.4 Pengkajian pada Pasien yang Mangalami Masalah Sexualitas ..................
2.5 Tindakan Perawat Supaya Pasien Terbuka Mengenai ...............................
2.6 Masalah Sexuaalitasnya ..............................................................................
2.7 Intervensi Keperawatan dalam Menangani Masalah Sexualitas ................
BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................................................
3.2 Saran ...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA






3


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah sexualitas merupakan masalah yang bersifat privasi bagi
seorang pasien. Seorang pasien sering kali tidak mau bercerita tentang
masalahnya yang terkait dengan masalah sexualitas. Mereka merasa malu dan
canggung ketika harus bercerita kepada perawatnya. Mereka beranggapan
bahwa hal itu adalah masalah yang sangat privasi yang mana mereka tidak
menginginkan ada orang yang tahu. Dan mereka sering kali
menyembunyikannya dari perawat, sehingga perawat tidak maksimal ketika
melakukan pengkajian.
Dalam posisi ini seorang perawat dituntut untuk bisa meyakinkan
pasiennya untuk mengatakan masalah yang terjadi pada dirinya terkait
masalah sexualitas. Sehingga tidak akan terjadi salah diagnosa, karena
diagnosa terhadap pasien sangat tergantung dari hasil pengkajian. Sehingga
perawat harus bisa melakukan pendekatan dengan pasiennya secara batin
supaya pasien merasa bahwa perawat itu adalah orang yang terdekat dengan
dirinya.
Dalam paper ini akan dijelaskan terkait bagaimana seorang perawat
melakukan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai intervensi
terhadap pasien yang mengalami masalah sexualitas. Karena masalah
sexualitas banyak terjadi di masyarakat Indonesia maka perawat harus ikut
berperan dalam mengatasi masalah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah peran dan fungsi perawat dalam menangani masalah sexualitas
pada pasien ?
1.2.2 Pengkajian apa saja yang harus dilakukan perawat pada pasien
mengenai masalah sexualitas ?
1.2.3 Hambatan hambatan apa saja yang mungkin terjadi pada saat perawat
melakukan pengkajian masalah sexualitas ?
4

1.2.4 Apa yang harus dilakukan perawat supaya pasien terbuka mengenai
masalah sexualitasnya ?
1.2.5 Bagaimana intervensi dalam keperawatan saat menangani masalah
sexualitas ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui peran dan fungsi perawat dalam menangani masalah
sexualitas pada pasien.
1.3.2 Mengetahui pengkajian apa saja yang harus dilakukan perawat pada
pasien mengenai masalah sexualitas.
1.3.3 Mengetahui Hambatan hambatan apa saja yang mungkin terjadi pada
saat perawat melakukan pengkajian masalah sexualitas.
1.3.4 Mengetahui apa yang harus dilakukan perawat supaya pasien terbuka
mengenai masalah sexualitasnya.
1.3.5 Mengetahui intervensi dalam keperawatan saat menangani masalah
sexualitas.

5

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Peran dan Fungsi Perawat dalam Mengatasi Masalah Sexualitas
Ada beberapa Fungsi dan peran perawat dalam mengatasi masalah
sexualitas diantaranya adalah sebagai berikut:
2.1.1 Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga ,
kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah sexualitas yang
terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada
masalah yang kompleks.
2.1.2 Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien dan
masalah sexualitas yang dialami
2.1.3 Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan
dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil
persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepadanya.
2.1.4 Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien selama klien
mendapatkan perawatan mengenai masalah sexualitasnya.
2.1.5 Memberi edukasi terhadap klien mengenai masalah sexualitas yang
dialami
Peran dan fungsi perawat dalam menangani masalah seksualitas pada
pasien dapat dikelompokkan menjadi beberapa tahap menurut usia.

Tahap
Perkembangan
Karakteristik Implikasi Keperawatan dan
Panduan Penyuluhan
Bayi : Lahir-18
bulan
1. Membutuhkan kasih
sayang dan stimulasi
sentuhan
2. Berpakaian sesuai
gender
3. Mainan sesuai gender
1. Hindarkan penyapian secara
dini
2. Menyarankan orang tua
untuk memberikan sentuhan
fisik agar fisik dan mental
bayi berkembang
3. Hindarkan kerancuan seks
dengan mengenalkan secara
6

konsisten peran anak laki-
laki dan perempuan
Toddler (1-3
tahun)
1. Mengembangkan
pengendalian terhadap
BAB/BAK
2. Kedua jenis seks
menikmati memegang
genetalianya
3. Mampu mengidentifikasi
jenis kelaminnya sendiri
1. Biarkan anak menentukan
kesiapaannya untuk latihan
BAB dan BAK
2. Tidak memberikan hukuman
saat anak memegang
genetalianya karena anak
akan merasa malu dan
bersalah dan berpengaruh
pada kehidupan
seksualitasnya mendatang
Pra-sekolah (4-
6 tahun)
1. Menikmati mengeksplor
bagian tubuh sendiri dan
teman bermain
2. Terlibat masturbasi
1. Meyakinkan anak bahwa
genital dan seks adalah buruk
dan kotor
Usia sekolah
(6-10 tahun)
1. Terdapat keterikatan
emosional antara orang
tua dan anak dengan
jenis seks yang berbeda
2. Kecenderungan untuk
berteman dengan jenis
seks yang sama
3. Keinginan tentang seks
dan berbagai rasa takut
4. Peningkatan kesadaran
diri
1. Memberikan informasi pada
anak yang diinginkan secara
jelas dalam bentuk nyata

Pra-remaja (10-
13 tahun)
1. Pubertas mulai terlihat
perkembangan
karakteristik seks
sekunder
2. Mulai menstruasi
3. Menguji batasan perilaku
1. Memberikan informasi
tentang perubahan tubuh
untuk mengurangi rasa takut.
2. Memberikan batasan
berdasarkan nilai dan norma
7

Remaja (13-19
Tahun)
1. Mulai menjalin
hubungan dengan jenis
kelamin yang berbeda
2. Fantasi seksual dan
masturbasi merupakan
hal biasa
3. Anak wanita peduli
reputasi dan citra diri,
anak laki-laki peduli
dengan persaingan dalam
kegiatan seksual
1. Memberikan informasi
tentang penyakit kelamin dan
risikonya.
2. Berbagi sitem nilai moral
dan keyakinan
Dewasa (20-35
tahun)
1. Melakukan hubungan
seksual
2. Pengetahuan tentang
respon seksual
meningkat
3. Mencoba berbagai
ekspresi seksual
1. Mendukung keterbukaan
komunikasi suami-istri
2. Mengajarkan cara
kontraseptif
3. Mengkonseling pasangan
untuk mencegah penularan
penyakit kelamin

Dewasa (35-55
tahun)
1. Perubahan tubuh karena
menopause
2. Pasangan memusatkan
pada kualitas seksual
3. Kepuasan seksual
meningkat
1. Menganjurkan pasangan
untuk memperbarui
hubungan perkawinan
2. Memberikan dukungan
positif kepada pasutri

Dewasa Lanjut
dan Lanjut usia
(>55 tahun)
1. Sekresi vagina berkurang
2. Masa resolusi bagi pria
memenjang
3. Orgasme lebih jarang
dicapai baik oleh suami
maupun istri
1. Mengajarkan alternatif
kegiatan seksual lain



8

2.2 Pengakajian terhadap Pasien yang Mengalami Masalah Sexualitas
Dalam melakukan pengkajian perawat menghubungkan riwayat
seksual dengan kategori berikut:
2.2.1 Klien yang menerima pelayanan kesehatan untuk kehamilan,
infertilitas, kontrasepsi atau klien yang menjalani PMS
2.2.2 Klien yang sakit atau sedang mendapat terapi yang kemungkinan dapat
mempengaruhi kondisi fungsi seksualnya ( misalnya klien dengan
penyakit jantung, DM )
2.2.3 Klien yang secara jelas mempunyai masalah seksual
Pengkajian seksual mencangkup:
a. Riwayat kesehatan seksual
b. Pertanyaan yang berkaitan dengan masalah seksual untuk menetukan
apakah klien memiliki masalah atau kekhawatiran masalah seksual
c. Merasa malu atau tidak mengetahui bagaimana cara mengajukan
masalah seksual secara langsung bisa menggunakan pertanyaan isyarat.
Pengkajian fisik mencangkup:
a. inpeksi dan palpasi
b. beberapa riwayat kesehatan yang memerlukan pengkajian fisik
misalnya riwayat PMS, infertilisasi, kehamilan, adanya secret yang
tidak normal dari genetal, perubahan warna pada genetal, gangguan
fungsi urinaria

2.3 Hambatan Hambatan Perawat dalam Melakukan Pengkajian pada
Pasien yang Mangalami Masalah Sexualitas.
Diantaranya hambatan yang terjadi saat pengkajian sebagai berikut:
2.3.1 Pasien sengaja tidak mau terbuka terhadap masalah seksualitas yang
dihadapinya.
2.3.2 Pasien mengalami gangguan psikologis (misalnya pada korban
pemerkosaan).
2.3.3 Pasien merasa malu bila harus membicarakan masalah seksualitas yang
di alaminya.
2.3.4 Masyarakat masih menganggap tabu bila membahas masalah
seksualitas.
9

2.3.5 Pasien mudah tersinggung karena masalah seksual dianggap masalah
pribadi yang tidak perlu disebarluaskan.
2.3.6 Komunikasi tidak berjalan lancar karena pasien-perawat berbeda jenis
kelamin.
2.3.7 Komunikasi tidak terapeutik.

2.4 Tindakan Perawat Supaya Pasien Terbuka Mengenai Masalah
Sexuaalitasnya
2.4.1 Yang pertama kali dilakukan oleh seorang perawat adalah melakukan
pendekatan dengan pasien salah satunya dengan cara memperkenalkan
diri, dan mencari tahu karakter pasien .
2.4.2 Mengkondisikan suasana yang rileks sehingga pasien tidak canggung
2.4.3 Selanjutkan yakinkan bahwa privasi pasien akan terjaga
2.4.4 Jika perlu ajak pasien keruang yang sepi sehingga privasinya benar-
benar terjaga.
2.4.5 Memberikan pengetahuan yang terkait dengan sexualitas
2.4.6 Usahakan jangan langsung menanyakan pada pasien tentang masalah
sexualitas yang terjadi pada pasien.
2.4.7 Jika pasien sudah mulai terbuka dengan kita maka kita bisa
menanyakan masalah yang terjadi pada pasien.
2.4.8 jika pasien tetap belum bisa menjelaskan masalahnya maka kita
beritahukan kepada pasien tentang dampak buruk yang akan terjadi
terkait masalah sexualitas

2.5 Intervensi Keperawatan dalam Menangani Masalah Sexualitas
Intervensi yang dilakukan perawat kepada klien yang mengalami masalah
sexual adalah sebagai berikut:
2.5.1 Ambil riwayat seksual, perhatikan ekspresi area ketidakpuasan pasien
terhadap pola seksual
2.5.2 Kaji area-area stress dalam kehidupan pasien dan periksa hubungan
dengan pasangan seksualnya
2.5.3 Catat faktor-faktor budaya, sosial, etnik dan religius yang mungkin
menambah konflik yang berkenaan dengan praktik seksual yang
berbeda
10

2.5.4 Terima dan jangan menghakimi
2.5.5 Bantuan therapy dengan perencanaan modifikasi perilaku untuk
membantu pasien yang berhasrat untuk menurunkan perilaku-perilaku
seksual yang berbeda
2.5.6 Jika perubahan pola seksualitas berhubungan dengan penyakit atau
pengobatan medis, berikan informasi untuk pasien dan pasangannya
berkenaan dengan hubungan antara penyakit dan perubahan seksual
Selain hal diatas Intervensi keperawatan dalam menangani masalah
seksualitas pasien di bagi lagi menjadi 3 antara lain:
a. Mandiri
1. Berikan waktu untuk mendengar masalah dan ketakutan pasien dan
orang terdekat. Diskusikan persepsi diri pasien sehubungan dengan
antisipasi perubahan dan pola hidup khusus.
2. Kaji stres emosi pasien. Identifikasi kehilangan pada pasien/orang
terdekat. Dorong pasien untuk mengekspresikan dengan tepat.
3. Berikan informasi akurat, kuatkan informasi yang diberikan
sebelumnya.
4. Ketahui kekuatan individu dan identifikasi perilaku koping positif
sebelumnya.
5. Berikan lingkungan terbuka pada pasien untuk mendiskusikan masalah
seksualitas.
6. Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penggunaan
penolakan, atau terlalu memasalahkan perubahan aktual/yang ada.
b. Kolaborasi
Pasien dirujuk ke konseling professional sesuai kebutuhan.
c. Rasional
1. Memberikan minat dan perhatian, memberikan kesempatan untuk
memperbaiki kesalahan konsep, contoh; wanita takut kehilangan
kewanitaan dan seksualitasnya, peningkatan berat badan, dan
perubahan tubuh karena menopause.
2. Perawat perlu menyadari apakah arti tindakan ini terhadap pasien
untuk menghindari tindakan kurang hati-hati, atau terlalu menyendiri.
Tergantung pada alas an pembedahan (contoh; kanker atau perdarahan
11

berat jangka panjang) wanita merasa takut atau bebas. Ia merasa takut
tak mampu memenuhi peran reproduksi dan mengalami kehilangan.
3. Memberikan kesempatan pada pasien untuk bertanya dan
mengasimilasi informasi.
4. Membantu dalam membuat kekuatan yang telah ada bagi pasien untuk
digunakan dalam situasi saat ini.
5. Meningkatkan saling berbagi keyakinan/nilai tentang subjek sensitif
dan mengidentifikasi kesalahan konsep/mitos yang dapat
mempengaruhi penilaian situasi.
6. Mengidentifikasi tahap kehilangan/kebutuhan intervensi.


















12

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masalah sexualitas adalah masalah yang bersifat privasi.sehingga seorang
perawat mamerlukan beberapa pendekatan kepada kilennya yang mengalami masalah
sexual. Karena hambatan utama dalam penanganan klien yang mengalami masalah
sexual adalah klien tidak mau berkata jujur kepada perawat karena merasa hal itu
adalah masalah privasinya.
Dan seorang perawat harus bisa meyakinkan klien bahwa rahasia klien tidak
akan diketahui orang lain. Karena terjaganya rahasia klien adalah hak klien dan
perawat harus menjaga hak-hak klien.

3.2 Saran
Sebagai seorang perawat kita tidak hanya memberikan perawatan kepada
klien tapi kita juga harus bisa melakukan pendekatan dengan klien secara terapeutik.
Perawat adalah tenaga medis yang paling lama bertemu dengan pasien sehingga
perawat diharapkan tidak hanya sebagai perawat pasien tapi juga sebagai teman
pasien yang bisa diajak konsultasi.

13

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.slideshare.net/UJANGKETUL/aspek-seksualitas-dalam
keperawatan. diakses pada tanggal 8 maret 2011
2. http://www.scribd.com/doc/44463374/aspek-seksualitas-dalam keperawatan.
diakses pada tanggal 8 maret 2011.
3. Potter. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC

14


PENILAIAN KELOMPOK


NO NAMA NIM NILAI
1 Abdul Aziz 131011099 AB
2 Umar Ali K 131011076 AB
3 Budi Faisol W 131011141 AB
4 Redma Julianah 131011089 AB
5 Ria Permatasari 131011077 AB
6 Ika Rizqi Lia Ningsih 131011087 AB
7 Khotimatul Husna 131011143 AB
8 Putri Adeliya 131011141 AB
9 Aprilina Putri S 131011120 AB