Anda di halaman 1dari 28

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 HIPERTENSI
2.1.1 Pengertian Hipertensi
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan
nutrisi, yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkan. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap
(Silent Killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai
dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya
(Sustrani, Lanny dkk, 2004). Menurut Basha, Adnil (2004) hipertensi
adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan
darah di atas normal yang mengakibatkan angka kesakitan (morbiditas) dan
angka kematian (mortalitas). Hipertensi merupakan keadaan dimana tekanan
darah menjadi naik dan bertahan pada tekanan tersebut meskipun sudah
relaks (Soeharto, Iman, 2002). Menurut Allison, Hull (1996) hipertensi
adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir tidak konstan pada arteri.
Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah.
Dari definisi-definisi di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa
hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah menjadi naik karena
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan
8

nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkannya.

2.1.2 Klasifikasi Hipertensi
Menurut WHO (World Health Organization) batas normal tekanan
darah adalah 120140 mmHg sistolik dan 8090 mmHg diastolik. Dan
seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140
mmHg tekanan sistolik dan 90 mmHg tekanan diastoliknya.
Tabel 2.I Klasifikasi Hipertensi
No Klasifikasi Hipertensi menurut
WHO/ISH
Klasifikasi
Sistolik (mmHg)
Klasifikasi
Diastolic (mmHg)
1 Normotensi <140 <90
2 Hipertensi ringan 140-180 90-105
3 Hipertensi perbatasan/ sedang 140-160 90-95
4 Hipertensi berat >180 >105
5 Hipertensi sistolik terisolasi >140 <90
6 Hipertensi sistolik perbatasan 140-160 <90
Sumber: (Mansjoer, Arif dkk, 2000).


Peninggian tekanan sistolik tanpa diikuti oleh peninggian tekanan
diastolik disebut hipertensi sistolik terisolasi (isolated sytolic hypertension).
Hipertensi sistolik terisolasi umumnya dijumpai pada usia lanjut, jika keadaan
ini dijumpai pada masa dewasa muda lebih banyak dihubungkan sirkulasi
hiperkinetik dan diramalkan dikemudian hari tekanan diastoliknya juga ikut
meningkat. Batasan ini untuk individu dewasa diatas umur 18 tahun, tidak
dalam keadaan sakit mendadak. Dikatakan hipertensi jika pada dua kali atau
lebih kunjungan yang berbeda didapatkan tekanan darah rata-rata dari dua
9

atau lebih pengukuran setiap kunjungan, diastoliknya 90 mmHg atau lebih,
atau sistoliknya 140 mmHg atau lebih (Robin dan Kumar, 1995).

2.1.3 Patogenesis
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tekanan perifer.
Berbagai faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tekanan perifer akan
mempengaruhi tekanan darah seperti asupan garam yang tinggi, faktor
genetik, stres, obesitas, faktor endotel. Selain curah jantung dan tekanan
perifer sebenarnya tekanan darah dipengaruhi juga oleh tebalnya atrium
kanan, tetapi tidak mempunyai banyak pengaruh. Dalam tubuh terdapat
sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut yang
disebabkan oleh gangguan sirkulasi yang berusaha untuk mempertahankan
kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang. Sistem pengendalian tekanan
darah sangat kompleks. Pengendalian dimulai dari system yang bereaksi
dengan cepat misalnya reflek kardiovaskuler melalui sistem saraf, reflek
kemoreseptor, respon iskemia, susunan saraf pusat yang berasal dari atrium,
arteri pulmonalis otot polos. Dari sistem pengendalian yang bereaksi sangat
cepat diikuti oleh sistem pengendalian yang bereaksi kurang cepat, misalnya
perpindahan cairan antara sirkulasi kapiler dan rongga intertisial yang
dikontrol hormon angiotensi dan vasopresin. Kemudian dilanjutkan sistem
yang poten dan berlangsung dalam jangka panjang misalnya kestabilan
tekanan darah dalam jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang
mengatur jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ.
10

Peningkatan tekanan darah pada hipertensi primer dipengaruhi oleh
beberapa faktor genetik yang menimbulkan perubahan pada ginjal dan
membrane sel, aktivitas saraf simpatis dan renin, angiotensin yang
mempengaruhi keadaan hemodinamik, asupan natrium dan metabolisme
natrium dalam ginjal serta obesitas dan faktor endotel. Akibat yang
ditimbulkan dari penyakit hipertensi antara lain penyempitan arteri yang
membawa darah dan oksigen ke otak, hal ini disebabkan karena jaringan otak
kekurangan oksigen akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak
dan akan mengakibatkan kematian pada bagian otak yang kemudian dapat
menimbulkan stroke. Komplikasi lain yaitu rasa sakit ketika berjalan,
kerusakan pada ginjal dan kerusakan pada organ mata yang dapat
mengakibatkan kebutaan (Beevers, 2002).
Menurut Sustrani, Lanny (2004) gejalagejala hipertensi antara lain
sakit kepala, pusing, Jantung berdebar-debar, sulit bernafas setelah bekerja
keras atau mengangkat beban kerja, mudah lelah, penglihatan kabur, wajah
memerah, hidung berdarah, sering buang air kecil terutama di malam hari,
gangguan tidur, telinga berdering (tinnitus) dan dunia terasa berputar.

2.1.4 Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Hipertensi
1) Faktor Keturunan atau Gen
Kasus hipertensi esensial 70%-80% diturunkan dari orang
tuanya. Apabila riwayat hipertensi di dapat pada kedua orang tua maka
dugaan hipertensi esensial lebih besar bagi seseorang yang kedua orang
11

tuanya menderita hipertensi ataupun pada kembar monozygot (sel telur)
dan salah satunya menderita hipertensi maka orang tersebut
kemungkinan besar menderita hipertensi. Penelitian yang dilakukan pada
orang kembar yang dibesarkan secara terpisah atau bersama dan juga
terdapat pada anak-anak bukan adopsi telah dapat mengungkapkan
seberapa besar tekanan darah dalam keluarga yang merupakan akibat
kesamaan dalam gaya hidup. Berdasarkan penelitian tersebut secara
kasar, sekitar separuh tekanan darah di antara orang-orang tersebut
merupakan akibat dari faktor genetika dan separuhnya lagi merupakan
akibat dari faktor pola makan sejak masa awal kanak-kanak (Beevers,
2002).

2) Faktor Berat Badan (Obesitas atau Kegemukan)
Obesitas merupakan ciri khas penderita hipertensi. Walaupun
belum diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dengan obesitas,
namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah
penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dari pada penderita
hipertensi dengan berat badan normal (Basha, Adnil, 2004).
Pada orang yang terlalu gemuk, tekanan darahnya cenderung
tinggi karena seluruh organ tubuh dipacu bekerja keras untuk memenuhi
kebutuhan energi yang lebih besar, dan jantung pun bekerja ekstra karena
banyaknya timbunan lemak yang menyebabkan kadar lemak darah juga
tinggi, sehingga tekanan darah menjadi tinggi ( Suparto, 2000). Cara
12

mudah untuk mengetahui termasuk obesitas atau tidak yaitu dengan
mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT). Rumus untuk IMT adalah berat
badan (kg) dibagi dengan tinggi badan dikuadratkan (m
2
). Kategori
ambang batas IMT untuk Indonesia menurut Depkes RI dalam Supariasa
(2003) adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2 Kategori Ambang Batas IMT
Kategori IMT
kurus Kekurangan berat badan tingkat berat
Kekurangan berat badan tingkat ringan
< 17,0
17,0-18,5
normal 18,5-25,0
Gemuk
(obesitas)
Kelebihan berat badan tingkat ringan
Kelebihan berat badan tingkat ringan
>25,0-27,0
<27
(Depkes RI dalam Supariasa 2006).


3) Stres Pekerjaan
Hampir semua orang di dalam kehidupan mereka mengalami
stress berhubungan dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat dipengaruhi
karena tuntutan kerja yang terlalu banyak (bekerja terlalu keras dan
sering kerja lembur) dan jenis pekerjaan yang harus memberikan
penilaian atas penampilan kerja bawahannya atau pekerjaan yang
menuntut tanggungjawab bagi manusia.Stres pada pekerjaan cenderund
menyebabkan hipertensi berat. Sumber stres dalam pekerjaan ( Stressor)
meliputi beban kerja, fasilitas kerja yang tidak memadai, peran dalam
pekerjaan yang tidak jelas, tanggungjawab yang tidak jelas, masalah
dalam hubungan dengan orang lain, tuntutan kerja dan tuntutan keluarga
(Bart, Smet, 1994).
13

Beban kerja meliputi pembatasan jam kerja dan meminimalkan
kerja shift malam. Jam kerja yang diharuskan adalah 6-8 jam setiap
harinya. Sisanya (16-18 jam setiap harinya) digunakan untuk keluarga
dan masyarakat, istirahat, tidur, dan lain-lain. Dalam satu minggu
seseorang bekerja dengan baik selama 40-50 jam, lebih dari itu terlihat
kecenderungan yang negatif seperti kelelahan kerja, penyakit dan
kecelakaan kerja ( Suma mur, 1993). Stres dapat meningkatkan tekanan
darah dalam waktu yang pendek, tetapi kemungkinan bukan penyebab
meningkatnya tekanan darah dalam waktu yang panjang. Dalam suatu
penelitian, stres yang muncul akibat mengerjakan perhitungan aritmatika
dalam suatu lingkungan yang bising, atau bahkan ketika sedang
menyortir benda berdasarkan perbedaan ukuran, menyebabkan lonjakan
peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba (Beevers, 2002).
Menurut Basha, Adnil (2004), stres diduga melalui aktivitas
syaraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas).
Peningkatan aktivitas saraf simpatis mengakibatkan meningkatnya
tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). Gangguan kepribadian
yang bersifat sementara dapat terjadi pada orang yang menghadapi
keadaan yang menimbulkan stres berat. Gangguan tersebut dapat
berkembang secara tiba-tiba atau secara bertahan.



14

4) Faktor Jenis Kelamin (Gender)
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita
hipertensi dari pada wanita. Pada pria hipertensi lebih banyak disebabkan
oleh pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan.
Sampai usia 55 tahun pria beresiko lebih tinggi terkena hipertensi
dibandingkan wanita. Menurut Edward D. Frohlich seorang pria dewasa
akan mempunyai peluang lebih besar yakni satu di antara 5 untuk
mengidap hipertensi (Sustrani, Lanny, 2004).

5) Faktor Usia
Tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia,
kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Pada
umumnya penderita hipertensi adalah orang-orang yang berusia 40 tahun
namun saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia
muda. Boedhi Darmoejo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari
berbagai penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa
1,8%-28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita
hipertensi. Menurut Kaplon (1985) pria yang berusia < 45 tahun
dinyatakan hipertensi jika tekanan darah berbanding 130/90 mmHg atau
lebih, sedangkan yang berusia > 45 tahun dinyatakan hipertensi jika
tekanan darah 145/95 mmHg atau lebih (Krummel, 2004 dalam Diyanti,
2006).

15

6) Faktor Asupan Garam
WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam
dapur hingga 6 gram sehari (sama dengan 2400 mg Natrium). Konsumsi
garam memiliki efek langsung terhadap tekanan darah. Telah ditunjukkan
bahwa peningkatan tekanan darah ketika semakin tua, yang terjadi pada
semua masyarakat kota, merupakan akibat dari banyaknya garam yang di
makan. Masyarakat yang mengkonsumsi garam yang tinggi dalam pola
makannya juga adalah masyarakat dengan tekanan darah yang meningkat
seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, masyarakat yang konsumsi
garamnya rendah menunjukkan hanya mengalami peningkatan tekanan
darah yang sedikit, seiring dengan bertambahnya usia. Terdapat bukti
bahwa mereka yang memiliki kecenderungan menderita hipertensi secara
keturunan memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk mengeluarkan
garam dari tubuhnya. Namun mereka mengkonsumsi garam tidak lebih
banyak dari orang lain, meskipun tubuh mereka cenderung menimbun
apa yang mereka makan (Beevers, 2002).
Natrium bersama klorida yang terdapat dalam garam dapur
dalam jumlah normal dapat membantu tubuh mempertahankan
keseimbangan cairan tubuh untuk mengatur tekanan darah. Namun
natrium dalam jumlah yang berlebih dapat menahan air (retensi),
sehingga meningkatkan volume darah. Akibatnya jantung harus bekerja
lebih keras untuk memompanya dan tekanan darah menjadi naik
(Sustrani Lanny, 2004).
16

7) Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol diakui sebagai faktor penting yang
berhubungan dengan tekanan darah. Kebiasaan konsumsi alkohol harus
dihilangkan untuk menghindari peningkatan tekanan darah (Hartono
2006). Jika dibandingkan dengan orang yang bukan peminum alkohol,
maka terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal tingginya tekanan
darah. Konsumsi alkohol 3 kali lipat per hari dapat menjadi pencetus
meningkatnya tekanan darah dan berhubungan dengan peningkatan
3 mmHg. Konsumsi alkohol seharusnya kurang dari 2 kali per hari (24 oz
bir, 10 oz wine, atau 2 oz whiskey murni) pada laki-laki untuk
pencegahan peningkatan tekanan darah. Bagi perempuan dan orang yang
memiliki berat badan berlebih, direkomendasikan tidak lebih dari 1 kali
minum per hari (Krummel, 2004 dalam Diyanti, 2006). Namun akan
lebih baik jika konsumsi alkohol tidak dilakukan.

8) Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol dan kurang
olahraga serta bersantai dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah.
Rokok mempunyai beberapa pengaruh langsung yang membahayakan
jantung. Apabila pembuluh darah yang ada pada jantung dalam keadaan
tegang karena tekanan darah tinggi, maka rokok dapat memperburuk
keadaan tersebut. Merokok dapat merusak pembuluh darah,
menyebabkan arteri menyempit dan lapisan menjadi tebal dan kasar.
17

keadaan paru-paru dan jantung mereka yang merokok tidak dapat bekerja
secara efisien (Soeharto, Iman, 2001).

9) Aktivitas Fisik (Olahraga)
Olahraga lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan
hipertensi karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan
tekanan darah. Kurangnya melakukan olahraga akan meningkatkan
kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah
akan memudahkan timbulnya hipertensi (Arjatmo T, dan Hendra U,
2001). Meskipun tekanan darah meningkat secara tajam ketika sedang
berolahraga, namun jika berolahraga secara teratur akan lebih sehat dan
memiliki tekanan darah lebih rendah dari pada mereka yang melakukan
olah raga. Olahraga yang teratur dalam jumlah sedang lebih baik dari
pada olahraga berat tetapi hanya sekali (Beevers, 2002).

2.1.5 Komplikasi Hipertensi
Menurut Corwin, Elizabeth (2000) komplikasi hipertensi terdiri dari
stroke, infark miokardium, gagal ginjal , ensefalopati (kerusakan otak).
1) Stroke
Stroke dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di otak,
atau akibat embulus yang terlepas dari pembuluh non- otak yang terpajan
tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri
arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal,
18

sehingga aliran darah ke daerahdaerah yang diperdarahi berkurang.
Arteriarteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah
sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya anurisma.

2) I nfark Miokardium
Dapat terjadi infark miokardium apabila arteri koroner yang
arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau
apabila terbentuk trombus yang menyumbat aliran darah melalui
pembuluh tersebut. Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel,
maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan
dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga,
hipertrofi ventrikel dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu
hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi distritma, hipoksia
jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan .

3) Gagal Ginjal
Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progresif akibat
tekanan tinggi pada kapiler-kapiler ginjal, glomerolus. Dengan rusaknya
glomerolus, darah akan mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, nefron
akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian.
Dengan rusaknya membran glomerous, protein akan keluar melalui urin
sehingga sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang,
menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik.
19

4) Ensefalopati (Kerusakan Otak)
Ensefalopati (kerusukan otak) dapat terjadi, terutama pada
hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang
sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan
kapiler dan mendorong ke dalam ruang interstisium diseluruh susunan
saraf pusat. Neuron-neuron di sekitarnya kolaps dan terjadi koma serta
kematian.

2.1.6 Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah diukur dengan menggunakan alat sphygmomanometer
(tensimeter) dan stetoskop. Ada tiga tipe dari spygmomanometer yaitu dengan
menggunakan air raksa atau (merkuri), aneroid, dan elektronik. Tipe air raksa
adalah jenis spygmomanometer yang paling akurat. Tingkat bacaan dimana detak
tersebut terdengar pertama kali adalah tekanan sistolik. Sedangkan tingkat dimana
bunyi detak menghilang adalah tekanan diastolik. Spygmomanometer aneroid
prinsip peggunaanya yaitu menyeimbangkan tekanan darah dengan tekanan dalam
kapsul metalis tipis yang menyimpan udara didalamnya.
Spygmomanometer elekrtonik merupakan pengukur tekanan darah terbaru
dan lebih mudah digunakan dibanding model standar yang menggunakan air raksa
tetapi, akurasinya juga relatif rendah (Sustrani, Lanny dkk, 2004).



20

Sebelum mengukur tekanan darah yang harus diperhatikan yaitu :
1. Jangan minum kopi atau merokok 30 menit sebelum pengukuran
dilakukan.
2. Duduk bersandar selama 5 menit dengan kaki menyentuh lantai dan tangan
sejajar dengan jantung (istirahat).
3. Pakailah baju lengan pendek.
4. Buang air kecil dulu sebelum diukur , karena kandung kemih yang penuh
dapat mempengaruhi hasil pengukuran (Sustrani, Lanny dkk., 2004).

Pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan pada pasien setelah
istirahat yang cukup, yaitu sesudah berbaring paling sedikit 5 menit. Pengukuran
dilakukan pada posisi terbaring, duduk, dan berdiri sebanyak 2 kali atau lebih
dengan interval 2 menit. Ukuran manset harus cocok dengan ukuran lengan atas.
Manset harus melingkari paling sedikit 80 % lengan atas dan lebar manset paling
sedikit 2 / 3 kali panjang lengan atas, pinggir bawah manset harus 2 cm diatas fosa
cubiti untuk mencegah kontak dengan stetoskop. Sebaiknya disediakan barbagai
ukuran manset untuk dewasa, anak dan orang gemuk. Balon dipompa sampai ke
atas tekanan diastolik kemudian tekanan darah diturunkan perlahan-lahan dengan
kecepatan 2-3 mmHg tiap denyut jantung. Tekanan sistolik tercatat pada saat
terdengar bunyi yang pertama (korotkoff 1) sedangkan tekanan diastolik dicatat
jika bunyi tidak terdengar lagi (korotkoff V). Pemeriksaan tekanan darah
sebaiknya dilakukan pada kedua lengan, pada posisi berbaring, duduk dan berdiri
(Arjatmo T., dan Hendra U., 2000).
21

2.2 Kebiasaan Merokok
2.2.1 Pengertian
Merokok merupakan salah satu kebiasaan hidup yang dapat
mempengaruhi kesehatan. Kenyataan ini tidak dapat kita pungkiri, banyak
penyakit yang telah terbukti menjadi akibat buruk dari merokok, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Tembakau atau rokok paling
berbahaya bagi kesehatan manusia. Rokok secara luas telah menjadi salah
satu penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut Departemen Kesehatan
Dalam Gizi dan Promosi Masyarakat, Indonesia merupakan salah satu
negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi
rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah
menyebabkan Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen
rokok terbesar di dunia (Pdpersi, 2003).
Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil prevalensi perokok
secara nasional sekitar 27,7%. Prevalensi perokok ini khususnya laki-laki
mengalami kenaikan menjadi 54,5%. Sedangkan pada perempuan sedikit
menurun yaitu 2% pada tahun 1995 menjadi 1,2% pada tahun 2001.
Prevalensi kesehatan mantan perokok relatif kecil baik secara keseluruhan
(2,8%) maupun pada laki-laki dan perempuan (5,3%) pada laki-laki dan
0,3% pada perempuan (Sirait, dkk, 2001). Angka kekerapan merokok di
Indonesia juga tinggi yaitu 60%-70% pada lakilaki di perkotaan dan
80%-90 % pada laki-laki pedesaan (Juanita, Vivi, 2003).
22

Berdasarkan data WHO tahun 2002 di Indonesia menduduki
urutan kelima terbanyak dalam konsumsi 215 miliar batang rokok (Juanita,
Vivi, 2004). Dari survai secara nasional juga ditemukan bahwa laki-laki
remaja banyak yang menjadi perokok dan hampir 2/3 dari kelompok umur
produktif adalah perokok. Pada pria prevalensi perokok tertinggi adalah
umur 25-29 tahun. Hal ini terjadi karena jumlah perokok pemula jauh
lebih banyak dari perokok yang berhasil berhenti merokok dalam satu
rentan populasi penduduk. Sebagian perokok mulai merokok pada umur <
20 tahun dan separuh dari laki-laki umur 40 tahun ke atas telah merokok
tiga puluh tahun atau lebih, lebih dari perokok menghisap minimal 10
batang perhari, hampir 70% perokok di Indonesia mulai merokok sebelum
mereka berusia 19 tahun (Pdpersi, 2003).

2.2.2 Kategori Perokok
1) Perokok Pasif
Perokok pasif dalah asap rokok yang di hirup oleh seseorang
yang tidak merokok (Pasive Smoker). Asap rokok merupakan polutan
bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Asap rokok lebih berbahaya
terhadap perokok pasif daripada perokok aktif. Asap rokok sigaret
kemungkinan besar berbahaya terhadap mereka yang bukan perokok,
terutama di tempat tertutup. Asap rokok yang dihembusan oleh perokok
aktif dan terhirup oleh perokok pasif, lima kali lebih banyak mengandung
23

karbon monoksida, empat kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin
(Wardoyo, 1996).

2) Perokok Aktif
Menurut Bustan (1997) rokok aktif adalah asap rokok yang
berasal dari isapan perokok atau asap utama pada rokok yang dihisap
(mainstream). Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perokok aktif adalah orang yang merokok dan langsung menghisap rokok
serta bisa mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri maupun
lingkungan sekitar.

2.2.3 Jumlah Rokok Yang Dihisap
Jumlah rokok yang dihisap dapat berupa dalam satuan batang, bungkus, pak
per hari. Jenis rokok dapat dibagi atas 3 kelompok yaitu :
1) Perokok Ringan
Disebut perokok ringan apabila merokok kurang dari 10 batang per hari.
2) Perokok Sedang
Disebut perokok sedang jika menghisap 10 20 batang per hari
3) Perokok Berat
Disebut perokok berat jika menghisap lebih dari 20 batang (Bustan, 1997).
Bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali hisapan asap rokok
maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (satu bungkus) per
hari akan mengalami 70.000 hisapan asap rokok. Beberapa zat kimia dalam rokok
24

yang berbahaya bagi kesehatan bersifat kumulatif (ditimbun), suatu saat dosis
racunnya akan mencapai titik toksis sehingga akan mulai kelihatan gejala yang
ditimbulkan (Sitepoe, Mangku, 1997).

2.2.4 Lama Menghisap Rokok
Menurut Bustan (1997) merokok dimulai sejak umur < 10 tahun atau lebih
dari 10 tahun. Semakin awal seseorang merokok makin sulit untuk berhenti
merokok. Rokok juga punya dose-response effect, artinya semakin muda usia
merokok, akan semakin besar pengaruhnya. Apabila perilaku merokok dimulai
sejak usia remaja, merokok sigaret dapat berhubungan dengan tingkat
arterosclerosis. Resiko kematian bertambah sehubungan dengan banyaknya
merokok dan umur awal merokok yang lebih dini (Bart, Smet, 1994). Merokok
sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 1025 mmHg dan
menambah detak jantung 520 kali per menit (Sitepoe, Mangku, 1997).
Dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan. Dampak
rokok bukan hanya untuk perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Walaupun
dibutuhkan waktu 10-20 tahun, tetapi terbukti merokok mengakibatkan 80%
kanker paru dan 50% terjadinya serangan jantung, impotensi dan gangguan
kesuburan (Mustafa, Ruli A, 2005).




25

2.2.5 Cara Menghisap Rokok
Menurut Bustan (1997), cara manghisap rokok dapat dibedakan menjadi:
1) Begitu menghisap langsung dihembuskan (secara dangkal)
2) Ditelan sampai ke dalam mulut (dimulut saja)
3) Ditelan sampai di kerongkongan (isapan dalam)

2.2.6 Jenis Rokok Yang Dihisap
Rokok tidak dapat dipisahkan dari bahan baku pembuatnya yaitu
tembakau. Di Indonesia tembakau ditambah cengkeh dan bahanbahan lain
dicampur untuk dibuat rokok. Selain itu juga masih ada beberapa jenis rokok yang
dapat digunakan yaitu rokok linting, rokok putih (filter), rokok cerutu, rokok pipa,
rokok kretek, rokok klobot dan rokok tembakau tanpa asap (tembakau kunyah)
(Sitepoe , Mangku, 1997).
Dalam peraturan (PP) Nomor 19 tahun 2003 tentang pengamanan rokok
bagi kesehatan, pemerintah tidak menentukan kandungan kadar nikotin sebesar
1,5 mg dan kandungan kadar tar serbesar 20 mg pada rokok kretek. Dan rokok
kretek menggunakan tembakau rakyat. Tetapi menurut Direktur Agro Departemen
Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Yamin Rahman menyatakan
kandungan kadar nikotin pada rokok kretek melebihi 1,5 mg yaitu 2,5 mg dan
kandungan kadar tar pada rokok kretek melebihi 20 mg yaitu 40 mg. Rokok
kretek mengandung 6070 tembakau, sisanya 30%40% cengkeh dan ramuan
lain. Cengkeh mengandung eugenol yang dianggap berpotensi menjadi penyebab
kangker pada manusia dan terkait dengan zat kimia satrol yang menjadi salah satu
26

penyebab kanker ringan (Pdpersi, 2003). Sesuai data Diperindag volume eksport
rokok per november 2002 mencapai 6.463 ton dengan nilai 75,8 juta dolar AS.
Kadar nikotin yang ada pada rokok seharusnya adalah 1,5 mg dan kadar tar
sebesar 20 mg dan menggunakan tembakau Virginia.
Rokok yang dihisap dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
Namun rokok akan mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan
pembuluh di ginjal sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Merokok sebatang
setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 1025 mmHg dan menambah
detak jantung 520 kali per menit (Sitepoe, Mangku, 1997). Dengan menghisap
sebatang rokok akan mempunyai pengaruh besar terhadap kenaikkan tekanan
darah, hal ini disebabkan oleh zat-zat yang terkandung dalam asap rokok. Asap
rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan 200 diantaranya beracun. Antara lain
Karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh asap rokok dan dapat menyebabkan
pembuluh darah kramp, sehingga tekanan darah naik, dinding pembuluh darah
dapat robek (Suparto, 2000). Gas CO dapat pula menimbulkan desaturasi
hemoglobin, menurunkan langsung peredaran oksigen untuk jaringan seluruh
tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin,
mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat arterosklerosis (pengapuran
atau penebalan dinding pembuluh darah).
Selain zat CO rokok juga mengandung nikotin. Nikotin mengganggu
sistem saraf simpatis dengan meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain
menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang peningkatan tekanan
darah. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit
27

(penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. Nikotin, CO dan bahan lainnya
dalam asap rokok terbukti merusak dinding pembuluh endotel (dinding dalam
pembuluh darah), mempermudah penggumpalan darah sehingga dapat merusak
pembuluh darah perifer (Sianturi,G. 2003).

2.2.7 Bahan Bahan Yang Terkandung Dalam Rokok
Pada saat rokok dihisap komposisi rokok yang dipecah menjadi komponen
lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-
sama dengan komponen lainnya terkondensasi. Dengan demikian komponen asap
rokok yang dihisap oleh perokok terdiri dari bagian gas (85%) dan bagian partikel.
Asap rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan 200 diantaranya bersifat racun
antara lain Karbon Monoksida (CO) dan Polycylic Aromatic hydrokarbon yang
mngandung zat-zat pemicu terjadinya kanker (seperti tar, byntopyrenes,
vinylchlorida dan nitrosonornicotine) (Pdpersi, 2003).
Tabel 2.3 Daftar Bahan Kimia Yang Terdapat Dalam Asap Rokok Yang Dihisap
NO Bagian partikel Bagian gas
1 Tar Karbon monoksida
2 Indol Amoniak
3 nikotin Asam hydrocyanat
4 karbolzol Nitrogen oksida
5 kresol Formaldehid
Catatan: Keseluruhan bersifat
karsinogen dan iritan serta
bersifat toksik yang lain
Catatan: Keseluruhan zat ini bersifat
karsinogen, mengiritasi, racun bulu
getar alat pernapasan, dan sifat racun
yang lain.
Sumber: (Sitepoe, Mangku, 1997).




28

1) Nikotin
Nikotin yaitu zat atau bahan senyawa porillidin yang terdapat
dalam Nicotoana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya yang
sintesisnya bersifat adiktif yang dapat mengakibatkan ketergantungan.
Nikotin ini dapat meracuni syaraf tubuh, meningkatkan tekanan darah,
menyempitkan pembuluh perifer dan menyebabkan ketagihan serta
ketergantungan pada pemakainya. Jumlah nikotin yang dihisap
dipengaruhi oleh berbagai faktor kualitas rokok, jumlah tembakau setiap
batang rokok, dalamnya isapan , lamanya isapan, dan menggunakan filter
rokok atau tidak.
Komponen ini paling banyak dijumpai di dalam rokok, nikotin
bersifat toksik terhadap saraf dengan stimulasi atau depresi. Nikotin
merupakan aikaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi beracun.
Zat ini hanya ada dalam tembakau, sangat aktif dan mempengaruhi
otak/susunan saraf. Dalam jangka panjang, nikotin akan menekan
kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan
selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai
tingkat kepuasan dan ketagihannya. Sifat nikotin yang adiktif ini
dibuktikan dengan jarang adanya jumlah perokok yang ingin berhenti
merokok dan jumlah yang berhasil berhenti (Pdpersi, 2003).



29

2) Karbon Monoksida
Karbon monoksida yang dihisap oleh perokok tidak akan
menyebabkan keracunan CO, sebab pengaruh CO yang dihirup oleh
perokok dengan sedikit demi sedikit, dengan lamban namun pasti akan
berpengaruh negatif pada jalan nafas. Gas karbon monoksida bersifat
toksis yang bertentangan dengan oksigen dalam transpor maupun
penggunaannya. Dalam rokok terdapat CO sejumlah 2%- 6% pada saat
merokok, sedangkan CO yang dihisap oleh perokok paling rendah
sejumlah 400 ppm (parts per million) sudah dapat meningkatkan kadar
karboksi haemoglobin dalam darah sejumlah 2-16% (Sitepoe, Mangku,
1997).

3) Tar
Tar merupakan bagian partikel rokok sesudah kandungan nikotin
dan uap air diasingkan, beberapa komponen zat kimianya karsinogenik
(pembentukan kanker). Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon
aromatika yang bersifat karsinogenik. Dengan adanya kandungan bahan
kimia yang beracun sebagian dapat merusak sel paru dan menyebabkan
berbagai macam penyakit. Selain itu tar dapat menempel pada jalan nafas
sehingga dapat menyebabkan kanker.
Tar merupakan kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam
komponen padat asap rokok. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam
rongga mulut sebagai uap padat asap rokok. Setelah dingin akan menjadi
30

padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi,
saluran pernafasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40
mg per batang rokok, sementara kadar dalam rokok berkisar 24-45 mg.
Sedangkan bagi rokok yang menggunakan filter dapat mengalami
penurunan 5-15 mg. Walaupun rokok diberi filter, efek karsinogenik tetap
bisa masuk dalam paru-paru, ketika pada saat merokok hirupannya dalam-
dalam, menghisap berkali-kali dan jumlah rokok yang digunakan
bertambah banyak (Sitepoe , Mangku, 1997).

4) Timah Hitam (Pb) Merupakan Partikel Asap Rokok
Timah Hitam (Pb) yang dihasilkan sebatang rokok sebanyak
0,5 mikro gram. Sebungkus rokok (isi 20 batang) yang habis dihisap
dalam satu hari menghasilkan 10 mikro gram. Sementara ambang batas
timah hitam yang masuk ke dalam tubuh antara 20 mikro gram per hari.
Bisa dibayangkan bila seorang perokok berat menghisap rata-rata 2
bungkus rokok perhari, berapa banyak zat berbahaya ini masuk ke dalam
tubuh (Sitepoe , Mangku, 1997).






31

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebiasaan Merokok
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mempunyai kebiasaan
merokok, secara umum dapat dibagi dalam 3 bagian (Sitepoe , Mangku, 1997):
1) faktor farmakologis
Merupakan salah satu zat yang terdapat dalam rokok adalah
nikotin yang dapat mempengaruhi perasaan atau kebiasaan sehingga
seseorang menjadi kecanduan terhadap nikotin yang ada pada rokok
tersebut.
2) faktor social
yaitu jumlah teman yang merokok. Faktor psikososial dari
merokok yang dirasakan antara lain lebih diterima dalam lingkungan
teman dan merasa lebih nyaman.
3) faktor psikologis
Rata- rata merokok yang dilakukan oleh kebanyakan laki-laki
dipengaruhi oleh faktor psikologis meliputi rangsangan sosial melalui
mulut, ritual masyarakat, menunjukkan kejantanan, mengalihkan diri dari
kecemasan, kebanggaan diri. merokok juga dianggap dapat meningkatkan
konsentrasi atau hanya sekedar untuk menikmati asap rokok. Disamping
itu faktor lain yang dapat mempengaruhi kebiasaan merokok adalah iklan.




32

2.4 Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi
Hipertensi adalah penyakit tekanan darah tinggidan merupakan suatu
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi,
yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkannya (Lanny Sustrani dkk, 2004). Tekanan darah dipengaruhi oleh
curah jantung dan tahanan perifer. Salah satu faktor yang mempengaruhi curah
jantung dan tahanan perifer adalah kebiasaan hidup yang tidak baik seperti
merokok. Dengan menghisap sebatang rokok maka akan mempunyai pengaruh
besar terhadap kenaikan tekanan darah atau hipertensi. Hal ini dapat disebabkan
karena gas CO yang dihasilkan oleh asap rokok dapat menyebabkan pembuluh
darah kramp sehingga tekanan darah naik, dinding pembuluh darah menjadi
robek (Suparto, 2000).
Karbon monoksida menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan
langsung peredaran oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO
menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen,
dan mempercepat arterosklerosis (pengapuran atau penebalan dinding pembuluh
darah). Dengan demikian CO menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan
viskositas darah sehingga mempermudah penggumpalan darah. Selain zat CO
asap rokok juga mengandung nikotin. Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis
dengan akibat meningkatkan kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan
ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan
frekuensi denyut jantung, tekanan darah dan kebutuhan oksigen jantung serta
33

menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga menggangu kerja otak, saraf
dan bagian tubuh yang lain.
Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombo
(penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. Nikotin, CO dan bahan lainnya
dalam asap rokok terbukti merusak dinding endotel (dinding dalam pembuluh
darah), dan mempermudah penggumpalan darah. Akibat penggumpalan
(trombosi) akan merusak pembuluh darah perifer. Walaupun nikotin dan merokok
menaikkan tekanan darah diastole secara akut, namun tidak tampak lebih sering di
antara perokok, dan tekanan diastole sedikit berubah bila orang berhenti merokok.
Hal ini mungkin berhubungan dengan fakta bahwa perokok sekitar 10-20 pon
lebih ringan dari pada bukan perokok yang sama umurnya, tinggi badannya, jenis
kelaminnya. Bila mereka berhenti merokok, sering berat badan naik. Dua
kekuatan, turunnya tekanan diastole akibat adanya nikotin dan naiknya tekanan
diastole karena peningkatan berat badan, tampaknya mengimbangi satu sama lain
pada kebanyakan orang, sehingga tekanan diastole sedikit berubah bila mereka
berhenti merokok. Selain itu juga mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah
perifer maupun pembuluh darah di ginjal sehingga terjadi peningkatan tekanan
darah. Merokok sebatang setiap hari akan mengakibatkan tekanan darah sistole
10-25 mgHg dan menambah detak jantung 5-20 kali persatu menit (Sitoepoe ,
Mangku,1997).



34

2.5 Kerangka Konsep
















Keterangan:
: yang diteliti
: yang tidak diteliti


Gambar 2.1 Kerangka Konsep Hubungan Antara Kebiasaan Merokok Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Usia 40- 50 Tahun


2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho = tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi
pada laki-laki usia 40- 50 tahun.
Kebiasaan Merokok
Hipertensi
Faktor Psikologis Faktor Sosial

Usia
Faktor Berat Badan
Asupan Garam
Aktivitas Fisik
Jenis Kelamin
Faktor Keturunan
Stress Pekerjaan
Alkohol
Faktor Farmakologis