Anda di halaman 1dari 44

PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI DALAM KEGIATAN

BELAJAR MENGAJAR DI TAMAN KANAK KANAK


TUGAS AKHIR

OLEH :
Nama : ARIN LESTARI
NPM : 06130483



IKIP PGRI SEMARANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIDKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU TAMAN KANAK KANAK
2008




PERSETUJUAN
Kami selaku Pembibimbing Tugas Akhir dari mahasiswa IKIP PGRI Semarang

Nama : Arin Lestari
NPM : 06130483
Fakultas / jurusan : FIP / PGTK

Dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir yang dibuat oleh mahasiswa tersebut
diatas selesai dan siap untuk diujikan.

Semarang, Mei 2008
Pembibing

Dra. Wiwik Kusdaryani MPd.








ii


PENGESAHAN
Tugas Akhir berjudul Penggunaan Metode Demonstrasi dalam Kegiatan Belajar
Mengajar di Taman Kanak kanak , ditulis oleh Arin Lestari NPM 06130483,
telah di pertanggung jawabkan dihadapan siding panitia ujian Tugas akhir
Fakultas Pendididkan IKIP PGRI Semarang.
Telah dipertanggung jawabkan
Pada hari : Selasa
Tanggal : 13 Mei 2008

Panitia Ujian
Ketua Sekretaris

Drs. Munawir, Mpd Dra. MPH. Retnaningdyastuti, Mpd


Anggota Penguji

1. Dra. Wiwik Kusdaryani, MPd

2. Drs Agus Suharno, Msi



iii


MOTTO PERSEMBAHAN
MOTTO

Kita harus mengharapkan kegagalan .. tetapi gagal dalam sebuah proses
belajar bukan untuk mengulangi kesalahan kesalahan, melainkan untuk
mengoptimalkan manfaat dari apa yang dipelajari dalam proses tersebut.
( Ted W. Engstrom )
Salah satu alas an arang berhenti belajar adalah menjadi makin tidak mau
menghadapi resiko kegagalan.
( J ohn W. Gardner )

PERSEMBAHAN

Tugas akhir ini penilis persembahkan untuk :
1. Ayah dan Ibu tercinta yang selalu mengharap keberhasilanku
2. Teman teman Mahasiswa PGTK IKIP PGRI semarang
3. Pembaca yang budiman





iv


KATA PENGANTAR
Alhamdullilah dengan penuh rasa syukur kehadirat Illahirobbi yang telah
memberikan rahmt dan hidayah Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Tugas akhir ini dengan judul Penggunaan Metode Demonstrasi Dalam Kegiatan
Belajar Mengajar di Taman Kanak kanak Maksud penulisan Tugas Akhir ini
adalah dalam rangka penyelesaian Diploma II PGTK IKIP PGRI Semarang.
Pada kesemptan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar
besarnya kepada:
1. Bapak Drs. Sulistyo MPd, selaku rector IKIP PGRI Semarang
2. Bapak Drs. Agus Suharno MSi, selaku dekan PGTK IKIP PGRI Semarang
3. Bapak Drs. Munawir MPd, selaku Ketua jurusan PGTK IKIP PGRI Semarang
yang telah memberikan arahan dalam penyusunan Tugas Akhir ini.
4. Ibu Dra.Wiwik Kusdaryani MPd, selaku pembibimbing Penulisan Tugas
Akhir. Yang telah banyak membibimbing dan mengarahkan sehingga Tugas
Akhir ini bisa selesai.
5. Segenap Bapak dan ibu Dosen Diploma II PGTK FIP IKIP PGRI Semarang
Dengan terbatasnya kemampuan dan kurangnya bekal pengetahuan serta
pengalaman, penulis menyadari bahwa materi yang disajikan dalam tugas akhir ini
masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak akan
penulis terima dengan senang hati.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT, penulis memohon semoga limpahan rahmat,
taufik dan hidayah Nya akan senantiasa tercurahkan pada kita semua, Amin.

Semarang, Mei 2008
Penulis




v


DAFTAR ISI
halaman
HALAMAN J UDUL ...i
HALAMAN PERSETUJ UAN.ii
HALAMAN PENGESAHAN........iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN..iv
KATA PENGANTAR.v
DAFTAR ISI...vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Perumusan Masalah ......3
C. Penegasan Istilah ...3
D. Tujuan Penulisan...4
E. Manfaat Penulisan..4
F. Sistematika.4
BAB II KAJ IAN TEORI DAN PEMBAHASAN
A. Kajian Teori Tentang Metode Demonstrasi
1. Pengertian Metode Demonstrasi..6
2. Langkah langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi7
3. Pelaksanaan Metode Demonstrasi....9
4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi..10


vi


B. Kajian Teori Tentang Belajar Mengajar..11
1. Pengerian Belajar Mengajar...11
2. Konsep Pola Dasar Mengajar.15
3. Implementasi Balajar Mengajar.19
4. Prinsip prinsip Pembelajaran di TK....22
5. Asas asas Pembelajaran di TK25
C. Pembahasan Tentang Penggunaan Metode Demonstrasi dalam Kegiatan
Belajar Mengajar di TK27
BAB III PENUTUP
A. Simpulan..29
B. Saran.30
DAFTAR PUSAKA...32
LAMPIRAN.......................................................................................................33











vii
BAB I

PENDAHULUAN





A. Latar Belakang Masalah
Seorang guru taman kanak kanak sebelum melaksanakan program kegiatan
belajar terlebih dahulu perlu memperhatikan : tujuan program kegiatan belajar
anak taman kanak kanak dan ruang lingkup program kegiatan belajar anak
taman kanak kanak ( Moeslichatoen R,2008:3 )
Tujuan pendidikan yang ditarik dari tugas tugas perkembangan yang harus
diselesaikan tidak mungkin diselesaikan sekaligus melainkan harus dijabarkan
kedalam tugas tugas yang kecil yang dinamakan tujuan kegiatan. Bila guru telah
meletakkan tujuan kegiatan, langkah selanjutnya adalah merencanakan program
program kegiatan belajar yang diharapkan dapat memenuhi pencapaian tujuan
kegiatan yang terlebih dahulu sudah ditetapkan itu jelas bermacam program
kegiatan menuntut bermacam cara melaksanakannya, berbagai macam kegiatan,
berbagai macam pengelompokan anak, berbagai macan pengaturan lingkungan,
berbagai macam sarana dan prasarana. Perencanaan program kegiatan secara
menyeluruh itu akan membentuk suatu stategi. J adi strategi kegiatan merupakan
penggabungan berbagai macam tindakan untuk mencapai tujuan kegiatan di taman
kenak kanak kegiatan dapat dalam bentuk bermain dan kegiatan bermain dan
kegiatan yang lain. Strategi kegiatan sebaiknya lebih banyak memekankan pada
aktivitas anak dari pada aktivitas guru ( Moeslichatun. R,2008:7)


2

Stategi belajar mengajar merupakan keseluruhan prosedur yang di tempuh
oleh guru dan siswa yang memungkinkan atau memberi kesempatan kepada siswa
untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Stategi
apa yang dipilih dan digunakan, pada hakekatnya bergantung pada kemampuan
guru sendiri, yang ditandai oleh tingkat pengetahuan, ketrampilan, sikap dan
pengalamannya serta bertalian dengan ruang lingkup proses belajar mengajar
umumnya dan stategi belajar mengajar bidang studi khususnya ( Oemar
Hamalik,2003 : V )
Syaodin ( dalam E. Mulyasa, 2008 : 13 ) mengemukakan bahwa guru
memegang peranan yang cukup penting baik dalam perencanan maupun
pelaksanaan kurikulum lebih lanjut dikemukakan bahwa guru adalah perencana,
pelaksana dan pengembang kurikumum bagi kelasnya. Karena guru juga
merupakan pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya kerena guru juga
merupakan barisan pengembangan kurikulum yang terdepan maka guru pulalah
yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum.
Menyadari hal tersebut, betapa pentingnya untuk meningkatkan aktivitas,
kreativitas, kualitas dan profesionalisme guru ( E. Mulyana 2008: 13 )
Permasalahan yang muncul adalah metode apakah yang dapat di gunakan dalam
kegiatan pembelajaran di taman kanak kanak ? Hal inilah yang melatar
belakangi penulis, dan karya tulis ini berusaha menjawab pertanyaan tersebut
dengan harapan padat merupakan sumbangan bagi kemajuan pendidikan dan
pengajaran.

3

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut : bagaimana metode demonstrasi digunakan dalam
kegiatan belajar mengajar di taman kanak kanak agar anak didik tertarik dengan
kegiatan yang akan dilakukan ?

C. Penegasan Istilah
Dalam penulisan Tugas Akhir ( TA ) ini penulis berusaha untuk memperjelas
istilah istilah yang dipakai dalam penulisan ini. Hal ini dikandung maksud agar
pembaca atau peneliti lanjutan lainnya memiliki pandangan atau persepsi yang
sama dengan penulis. Sehingga tidak terjadi kesimpang siuran dalam penjelasan
isi dan maksud dari karya tulis ini.
1. Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tertentu
yang telah ditetapkan ( Syaiful Bahri Djamaroh, 2002 : 53 )
2. Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan
memperagakan atau mempertunjukan kepada siswa suatu proses atau benda
tertentu yang sedang dipelajari ( Syaiful Bahri Djamaroh, 2002 : 102 )
3. Pembelajaran adalah suatu proses yang komplek dan melibatkan berbagai
aspek yang saling berkaitan ( E. Mulyasa, 2008 : 69 )
4. Taman kanak kanak ( TK ) adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah
yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia 4 tahun sampai
memasuki pendidikan dasar, peraturan pemerintah nomor 27 tahun 1990
( dalam Soemiarti patmonodewo, 2003 : 59 )

4

D. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan maka tujuan yang dicapai dalam
penulisan ini adalah :
1. Guna mengetahui penggunaan metode demonstrasi dalam kegiatan
pembelajaran di taman kanak kanak.
2. Untuk mengetahui langkah langkah yang harus dilakukan sebelum
pelaksanaan pembelajaran.


E. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Gunu manambah kasanan ilimu pendidikan khususnya yang berkaitan
dengan penggunaan metode demonstrasi dalam kegiatan pembelajaran di
TK.
2. Manfaat Praktis
a. Agar pendidikan lebih memahami strategi belajar dan penggunaannya
dalam kegiatan pembelajaran.
b. Agar pendidik lebih memahami makna belajar dan mengajar


F. Sistematika
Untuk memudahkan uraian dan pembahasan maka dalam Tugas Akhir ini
penulis susun sistematikanya sebagai berikut : Bagian awal dalam bagian ini

5

memuat halaman-halaman judul, Lembar Persetujuan dan pengesahan, Motto dan
Persetujuan, Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Pustaka dan Lampiran.
Bagian isi dalam bagian ini merupakan meteri tugas akhir yang terbegi
3 ( tiga ) bab, adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, bab ini akan memberikan gambaran umum tentang isi
Tugas Akhir, dalam bab ini adalah Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah,
Penegasan Istilah, Tujuan Penulisan , Manfaat Penulis, Sistematika.
Bab II : Kajian Teori dan Pembahasan, bab kedua ini akan dikemukakan
kajian Teori tentang Metoda demonstrasi meliputi: pengertian metode
demonstrasi, langkah-langkah pelaksanaan metode demonstrasi, pelaksanaan
kegiatan deonstrasi, kelebihan dan kekurangan metode demonstrasi. Kajian teori
tentang belajar mengajar di TK meliputi : pengertian belajar mengajar, konsep
pola dasar mengajar, implementasi belajar mengajar, prinsip-prinsip pembelajaran
di TK, Azas pembelajaran di TK. Pembahasan tentang penggunaan metode
demonstrasi dalam kegiatan belajar mengajar di TK.
Bab III : penutup, membahas simpulan dan saran.








6

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Kajian Teori Tentang Metode Demonstrasi
1. Pengertian Metode Demonstrasi
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tertentu
yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar metode diperlukan oleh guru
dan penggunaannyabervariasi sesuai dengan tujuan yang igngin di capai setelah
pengajaran berakhir. ( Syaiful Bahri Djamaran, 2002 : 53 )
Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode dipilih berdasarka
strategi kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan. Metode merupakan cara yang
dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan
( Moeslichatoen 2008:7 )
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan
memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda
tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai
dengan penjelasan lisan ( Syaiful Bahri Djamarah , 2002 : 102 )
Untuk mengajarka sesuatu meteri pelajaran sering kali tidak cukup kalauguru TK
hanya menjelaskan secara lisan saja. Terutama dalam mengajarkan penguasaan
ketrampilan anak TK lebih mudah mempelajari dengan cara menirukan seperti apa
yang dilakukan oleh gurunya, Misalnya untuk mengajarkan anak TK terampil
menggulung, Menggunting, Melupat, Menggambari Kertas, Guru memerlukan kertas
untuk menjelaskan dan menunjukkan bagaimana cara melipat atau menggunting
kertas guru menjelaskan sambil menunjukkan, membentuk kertas dalam hal ini guru

7

menunjukkan mengerjakan dan menjelaskan apa yang sedang dilakukannya
(Showing doing and telling). Tiga macam perbuatan guru ini merupakan komponen
yang utama dalam metode demonstrasi ( Moeslichatuen , 2008 : 108-109)
Melalui metode demonstrasi guru memperlihatkan suatu proses peristiwa atau
cara kerja suatu alat kepada peserta didik. Demonstrasi dapat dilakukan dengan
berbagai cara, dari yang sekedar memberikan pengetahuan yang sudah diterima
begitu saja oleh peserta didik, sampai pada cara agar peserta didik dapat
memecahkan suatu masalah ( E.Mulyasa, 2008 : 107 )
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian metode demonstrasi
adalah penyajian materi pelajaran dengan cara menjelaskan, memperagakan dan
mempraktekkannya.
2. Langkah langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Menurut E. Mulyana (2008 : 107-108) agar pembelajaran dengan menggunakan
metode demonstrasi berlangsung secara efektif, langkah langkah yang dianjurkan
adalah sebagai berikaut :
1. Lakukanlah perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dimulai. Hal-hal
tertentu perlu dipersiapkan, terutama fasilitas yang akan digunakan untuk
kepentingan demonstrasi.
2. Rumuskanlah tujuan pembelajaran dengan metode demonstrasi dan pilihlah
materi yang tepat untuk didemonstrasikan.
3. Buatlah garis besar langkah langkah demonstrasi, akan lebih efektif jika yang
dikuasai dan dipahami baik oleh peseta didik maupun oleh guru.
4. Tetapkanlah apakah demonstrasi tersebut akan dilakukan guru oleh peserta didik
atau oleh guru kemudian diikuti oleh peserta didik.

8

5.Mulailah Demonstrasi dengan menarik perhatian seluruh peserta didik dan
ciptakanlah suasana yang tenang dan mnyenangkan.
6.Upayakanlah agar semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
7.Lakukanlah evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik terhadap
evektivitas metode demonstrasi maupun hasil belajar peserta didik.
Sedangkan menurut Moeslichatoen R ( 2008:121-129 ) Secara umum persiapan
guru untuk merancang kegiatan demonstrasi adalah :
1. Menetapkan rancangan tujuan dan tema kegiatan demonstrasi. Dalam
menetapkan tujuan Demonstrasi guru mengidentifikasi perbuatan perbuatan apa
yang akan diajarkan kepada anak dalam pernyataan pernyataan yang spesifik
mengandung arti bersifat khusus tertentu. Pernyataan pernyataan operasianal
mengandung arti dalam bentuk pernyataan tingkah laku yang dapat diamati.
Adapun dalam menetapkan tema harus ada kedekatan dengan kehidupan anak,
menarik dan menantang aktivitas belajar anak.
2. Menetapkan rancangan bentuk demonstrasi yang dipilih. Ada pun jenis
demonstrasi yang sesuai dengan tema dan tujuan kegiatan yang ingin dicapai
yakni : demonstrasi yang disertai dengan penjelasan dan demonstrasi dalam
dramatisasi. Dramatisasi yang disertai dengan penjelasan merupakan demostrasi
yang dilakukan guru untuk mengajarkan ketrampilan dengan cara menunjukkan
melanjutkan menjelaskan secara terpadu sedangkan demostrasi dalam bentuk
dramatisasi merupakan peragaan adegan drama yang yang berasal dari cerita atau

9

cerita rakyat yang dapat memberikan pengalaman, perasaan yang dapat dihayati
oleh anak.
3. Menetapkan rancangan bahan dan alat yang diperlukan untuk demonstrasi. Ada
dua macam rancangan bahan dan alat yang diperlukan yakni bahan dan alat yang
diperlukan untuk demonstrasi oleh guru serta bahan dan alat yang di perlukan
untuk menirukan contoh yang dibuat oleh guru.
4. Menetapkan rancangan langkah kegiatan demonstrasi. Setelah menetapkan
urutan langkah demonstrasi, kemudian menetapkan urutan penggunaan bahan
dan alat setelah itu menetapkan perkiraan waktu yang diperlukan.
5. Menetapkan rancangan penilaian kegiatan demonstrasi. Penilaian diarahkan pada
banyaknya keberhasilan yang dicapai anak, cermat dan teliti dalam mengikuti
langkah langkah demonstrasi, kualitas ketelitian, kecermatan dalam perbuatan
yang dicontohkan


3. Pelaksanaan Kegiatan demonstrasi
Menurut Moeslichatoen .R ( 2008:130-132 ) dalam melaksanakan kegiatan
demonstrasi ada tiga tahap kegiatan yang harus dilalui yaitu :
1. Kegiatan pra- pengembangan, Kegiatan pra pengembangan merupakan persiapan
yang harus dilakukan guru sebelum melalui kegiatan demonstrasi, meliputi :
Kegiatan penyiapan bahan dan alat yang akan dipergunakan, kegiatan penyiapan
bahan dan alat untuk menirukan pekerjaan seperti yang dicontohkan guru dalam
demonstrasi, dan kegiatan penyiapan anakdalam mengikuti kegiatan demostrasi
dan diikuti peniruan contoh pekerjaan sesuai demostrasi.

10

2. Kegiatan pengembangan untuk pemanasan guru mengajak anak untuk
memperhatikan apa yang akan dilakukan guru dengan mengajukan pertanyaan
kepada anak yang mengikuti demonstrasi, setelah guru mendemonstrasikan
langkah pengembangan selanjutnya yakni membimbing dan mengarahkan anak
untuk menirukan pekerjaan seperti yang dilakukan guru dalam demostrasi.
3. Kegiatan penutup dalam kegiatan penutup dapat dipergunakan guru untuk
medemostrasikan anak yang berhasil untuk menunjukkan kinerja yang baik
maupun kepada anak yang kurang berhasil.


4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi.
Menurut Syaiful Bahri Djamaroh,dkk ( 2002 : 102 103 ) dan J J . Hasibuan. dkk
(2008 : 30- ) bahwa metode demostrasi mempunyai kelebihan dan kekurangan
sebagai berikut :
a) Kelebihan Metode demonstrasi
1) Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih kongkret, sehingga
menghindari verbalisme ( pemahaman secara kata kata atau kalimat )
2) Siswa lebih memahami apa yang dipelajari
3) Proses pengajaran lebih menarik
4) Siswa dirancang untuk aktif mangamati menyesuaikan antara teori dengan
kenyataan, dan mencoba melakukan sendiri.
5) Perhatian siswa dapat dipusatkan kepada hal hal yang dianggap penting oleh
pengajar sehingga siswa dapat menangkap hal hal yang penting. Perhatian

11

siswa lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar dan tidak tertuju kepada hal
lain.
6) Dapat mengurangi kesalahan kesalahan bila dibandingkan dengan hanya
mambaca atau mendengarkan keterangan guru. Sebab siswa memperoleh
persepsi yang jelas dari hasil pengamatan.
7) Bila siswa turut aktif melakukan demonstrasi, maka siswa akan memperoleh
pengalaman praktek untuk mengembangkan kecakapan dan keterampilan
8) Beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan siswa akan dapat dijawab
waktu mengamati proses demonstrasi.


b) Kekurangan Metode demonstrasi
1) Metode ini memerlukan ketrampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang
dengan hal itu pelaksanaan demostrasi akan tidak efektif.
2) Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia
dengan baik.
3) Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping
memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil
waktu atau jam pelajaran lain.
4) Demostrasi akan merupakan metode yang tidak wajar bila alat atau benda yang
didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan jelas oleh siswa, misalnya alat itu
terlalu kecil dan penjelasannya tidak terang.
5) Demonstrasi tidak efektif bila tidak diikuti kegiatan yang memungkinkan siswa
ikut mencoba yang merupakan pengalaman berharga bagi siswa.

12

6) Kadang kadang suatu demonstrasi menjadi kurang bermakna bila tidak
dilakukan ditempat yang sebenarnya.


B. Kajian Teori Tentang Belajar Mengajar di TK
1. Pengertian Belajar Mengajar
Belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku
termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemenuhan kebutuhan masyarakat dan
pribadi secara lebih lengkap ( Oemar Hamalik, 1992: 45 )
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interraksi antara individu
dan lingkungan. Proses dalam hal ini merupakan urutan kegiatan yang berlangsung
secara berkesinambungan, bertahap, bergilir, berkeseimbangan dan terpadu yang
secara keseluruhan mewarnai dan memberikan karakteristik terhadap belajar
mengajar itu. Tingkah laku adalah perbuatan atau tindakan yang memiliki aspek
struktural dan aspek fungsi, aspek struktural menunjuk perilaku yang tampak atau
dapat diamati yakni berupa tindakan fisik atau jasmaniah, sedangkan aspek fungsi
adalah tindakan atau perbuatan yang menunjukkan kepada ungsur rohaniah. Interaksi
adalah saling mempengaruhi yang bermula adanya saling berhubungan antara
komponen aspek ungsur yang satu dengan yang lainya, misalnya interaksi antara
individu dengan lingkungannya. Individu adalah satu kesatuan yang tak terbagi
misalnya individu siswa, yang memiliki kerakteristik sediri sendiri sehingga
individu yang satu dan individu lainya berbeda, baik secara horizontal ( mental,
emosional, sosial dan personal ) maupun secara vertical ( berbeda dalam segi

13

jasmaniah ). Lingkungan mencakup semua hal yang berpengaruh dan bermakna bagi
individu. ( Oemar Hamalik, 2003 : 4-6 )
Konsep mengajar sering ditafsirkan berbeda beda, karena dilandasi oleh teori
belajar tertentu, sedangkan tafsiran belajar juga banyak macam ragamnya. Ada yang
merumuskan bahwa mengajar adalah mewariskan kebudayaan masa lalu kepada
generasi baru secara turun temurun sehingga terjadi konservasi kebudayaan. Adapula
yang menyatakan bahwa mengajar adalah menyampaikan pengetahuan dan
kecakapan kepada siswa. Rumusan lainya menyatakan bahwa mengajar adalah
aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik baiknya sehingga
menciptakan kesempatan kepada anak untuk melakukan proses belajar secara efektif.
Disisi lain belajar adalah suatu proses berbuat, bereaksi, memahami berkat adanya
pengalaman, sedangkan pengalaman pada dasarnya adalah interaksi antara individu
dengan lingkungan. Berkat proses interaksi antara pengajar ( guru ) dan siswa maka
terjadi perubahan tingkah laku sebagai mana yang diharapkan. Ada ahli lain yang
menegaskan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku yang meliputi
pengetahuan, kecakapan, pengertian, sikap, ketrampilan dan sebagainya. Perubahan
perilaku telah dirancang demikian pula proses belajar mengajar disusun secara
sistematis dan terarah serta dilandasi oleh nilai nilai etik dan norma norma
tertentu. Dengan demikian, baik hasil maupun cara mencapainya diatur secara
formal, sistematis dan etis. ( Oemar Hamalik, 1992 : 58 59 )
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif
mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang
bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan
untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran

14

dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara
sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.
( Syaiful Bahri Djamaroh, dkk, 2002 : 1 )
Konsep mengajar dalam proses perkembangan masih dianggap sebagai suatu
kegiatan menyampaikan atau penyerahan pengetahuan. Mengajar menurut pengertian
mutahir merupakan suatu perbuatan yang komplek dapat diterjemahkan sebagai
penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan
mengajar itu untuk menyampaikan pesan pengajaran. ( J J . Hasibuan, dkk, 2008 : 37 )
Masih menurut J J . Hasibuan dkk ( 2008 : 37 ) ada beberapa komponen dalam
perbuatan mengajar sebagai berikut :
1) Mengajar sebagai ilmu ( Teaching as a science )
Mengajar dalam kaitan sebagai ilmu mengacu kepada adanya suatu system
eksplanasi dan prediksi yang mendasarinya.

15

2) Mengajar sebagai teknologi ( Teaching as a technology )
Mengajar dalam kaitannya sebagai tekhnologi dilihat sebagai produser kerja
dengan mekanisme dan perangkat alat yang dapat dan harus diuji secara
empiris.
3) Mengajar sebagai seni ( Teaching as an art )
Hakikat seninya terwujud dalam kenyataan bahwa aplikasi prinsip,mekanisme
dan alat yang termaksud terjadi secara unik;memerlukan pertimbangan-
pertimbangan situasional, bahkan penyesuaian penyesuaian transaksional,
yang banyak dituntut oleh perasaan dan naluri; jadi tidak semata-matabertolak
dari sekumpulan dalil dan rumus yang bersifat individual.
4) Pilihan nilai ( Wawasan Kependidikan Guru )
Bersumber pada pilihan nilai atau wawasan kependidikan yang dianut
guru.Wawasan kependidikan guru yang dimaksud terpulang pada tujuan
umum pendidikan nasional yang dapat ditelusuri kepada rumusan-rumusan
yang formal maupun kepada asumsi-asumsi konseptual filosofisnya yang
mendasar.
5) Mengajar sebagai keterampilan ( Teaching as a skill )
Mengajar merupakan suatu proses pengguaan seperangkat keterampilan secara
terpadu.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar adalah
proses perubahan tingkah laku seseorang yang disusun secara sistematis dan
terarah yang mengandung komponen-komponen yangf meliputi ilmu, teknologi
,seni, pilihan nilai dan keterampilan.


16


2. Konsep Pola Dasar Mengajar
Menurut Oemar Hamalik ( 1992 : 59-64 ) pola dasar mengajar ialah langkah
langkah pokok yang harus ditempuh oleh guru dalam proses belajar mengajar.
Ada beberapa pendapat tentang pola dasar mengajar sesuai dengan teori psikologi
belajar yang dijadikan panutannya. Dewasa ini, kendatipun terdapat beberapa pola
mengajar yang berbeda antara satu dengan yang lainya, pada dasarnya berpijak
pada pendekatan sistem. Beberapa pola mengajar akan diuraikan sebagai berikut:
1) Pola dasar mengajar yang sederhana
Pola ini terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
a. Tujuan instruksional yang dirumuskan secara khusus dan operasional.
b. Perilaku dasar siswa (entry behavior) yang perlu dikenali sebelum
pembelajaran dimulai
c. Prosedur instruksional yang meliputi penilaian meteri pelajaran metode
mengajar, media pengajaran, dan waktu yang disusun berdasarkan tujuan
instruksional.
d. Penilaian untuk mengetahui keberhasilan siswa atau tercapainya tujuan
instruksional.
e. Balikan yaitu informasi yang diperoleh melalui prosedur penilaian yang
pada gilirannya memberikan umpan balik terhadap tujuan
instruksional,perilaku awal, dan prosedur instyruksional.
2) Pola mengajar formal step
Pola mengajar ini terdiri atas lima langkah sebagi berikut :

17

a. Persiapan ( Preparation )
Pada langkah ini guru berusaha mnengungkapkan kembali bahan apersepsi
( Materi pelajaran yang tersimpan didalam ingatan siswa ). Tujuannya
adalah untuk membangkitkan minat siswa terhadap pelajaran ( bahan
pelajaran yang telah disajikan sebelumnya ). Untuk itu guru dapat
mengajukan sejumlah pertanyaan kepada kelas yang mengundang
jawaban, atau mengajukan suatu masalah yang meminta pemikiran dan
pemecahan oleh siswa.
b. Penyajian ( Presentation )
Pada langkah ini guru menyampaikan bahan baru kepada kelas berupa
bahan pokok dilengkapi dengn contoh dan ilustrasi.
c. Asosiasi dan perbandingan ( Association and Comparation )
Guru menghubungkan bahan yang terkait, baik dengan neteri pelajaran
lainya maupun dengan hal hal praktis di masyarakat. J uga diadakan
perbandingan antara berbagai materi yang dianggap penting oleh guru.
Tujuan langkah ini adah untuk merencanakan bahan pelajaran baru.
d. Kesimpulan ( Generalization )
Guru bersama para siswa mengambil kesimpulan kesimpulan
berdasarkan bahan pelajaran yang baru disajikan ( langkah b dan c diatas ).
Tujuan langkah ini ialah untuk menentukan generalisasi konsep dan
prinsip yang telah disajikan.

18

e. Penerapan ( Application )
Pada langkah ini guru memberikan tugas kepada siswa atau sejumlah
pertanyaan ulangan. Tujuan langkah ini ialah untuk mengetahui tingkat
penguasaan siswa terhadap pelajaran yanmg baru disampaikan oleh guru.
3) Pola mengajar morrison plan
Urutan prosedur belajar mengajar dalam pola ini adalah sebagi berikut :
a. Eksplorasi
Pada langkah ini guru melakukan penjajakan terhadap pengalaman
pengalaman siswa dan menghubungkanya dengan unit
b. Presentasi
Pada langkah ini guru mengajikan garis besar tentan unit yang akan
dilaksanakan
c. Asimilasi
Pada langkah pelaksanaan unit siswa mempelajari masalah tersebut dan
mempelajari bahan bahan dari berbagi sumber serta berusaha
mengusainya hingga menjadi miliknya.
d. Organisasi
Anak diberi kesempatan mengungkapkan, baik lisan maupun tertulis
materi yang telah dikuasainya, yang disusun dalam satu kesatuan.
e. Resitasi
Pada langkah ini diadakan penilaian tujuanya untuk melengkapi bukti
bukti bahwa dia benar benar telah memahami unit tersebut.
4) Pola mengajar yang diajukan oleh the commission on the relation of school
and college

19

Pola mengajar ini terdiri atas tiga langkah mengajar sebagai berikut
a. Menyiapkan masalah
Yakni mencari criteria untuk merumuskan masalah
b. Periode kerja
Yakni tahap pelaksanaan para siswa bekerja
c. Tahap kulminasi
Yakni siswa melakukan berbagai kegiatan seperti laporan individu dan
kelompok, dramatisasi, dan penilaian.
5) Pola pengajaran unit
Pengajaran unit pada dasarnya adalah suatu system belajar yang bertitik tolak
dari suatu masalah, topik, atau proyek yang bertujuan membentuk pribadi
siswa yang terintegrasi secara harmonis yang mampu bertindak untuk
menghadapi berbagai situasi probematis sesuai dengan kemampuan individual
dan berorientasi kepada kehidupan masyarakat dan yang menuntut keaktifan
secara seimbang antara guru dan siswa, dan dilaksanakan secara terpadu,
bertahap, dan berkesinambungan.
Prinsip belajar yang melandasi pengajaran unit ialah teori belajar Gestalt atau
Field Theory yang pada dasarnya besifat keseluruhan yang bulat, membantu
siswa agar dapat mengintegrasikan dirinya dalam kehidupan dan bertolak dari
masalah yang menuntut pemikiran secara kreatif dan kerja kelompok,
reorganisasi pengalaman, pengembangan semua aspek pribadi ( intelek, sosial,
emosianal, jasmaniah, dan lain lain ) dan berdasarkan belajar aktif dan
adaptif. Materi yang dipelajari merupakan suatu kesatuan yang bulat, tidak
terpisah satu sama lain sesuai dengan perbedaan individual dalam mengajar,

20

menjalin hubungan kerjasama antara siswa, guru, sekolah, dan masyarakat,
memberikan pengalaman langsung yang nyata serta melatih cara berfikir dan
memecahkan masalah secara kreatif, reflektif dan menyeluruh.
Pola pengajaran unit terdiri atas :
a. Perencanaan umum yakni unit sumber tang selanjutnya dijabarkan
menjadi pelaksanaan unit kerja ( Teaching Unit )
b. Pelaksanaan unit yang meliputu tahap kegiatan pokok, yakni :
1. Kegiatan pendahuluan, 2. Kegiatan inti ( pengembangan ), 3. Kegiatan
kulminasi, 4. Kegiatan tidak lanjut
c. Kegiatan belajar mengajar dengan langkah langkah sebagai berikut:
1. Kegiatan orientasi pelajaran, 2. Kegiatan perencanaan siswa guru,
3. Kegiatan mencari dan menghimpun informasi dari berbagai sumber,
4. Kegiatan menggunakan informasi ( praktek ), 5. Kegiatan penilaian
hasil belajar, 6. Kegiatan pelaporan ( termasuk juga kegiatan pameran ),
7. Kegiatan tindak lanjut.
d. Evaluasi pengajaran unit yang meliputi : 1. Evaluasi perencanaan unit,
2. Evaluasi pelaksanaan unit, 3. Evaluasi hasil belajar siswa.

3. Implemen Belajar Mengajar
Menurut Syaiful Bahri Djamaroh, dkk ( 2002 : 33 36 ) Proses belajar
mengajar adalah suatu proses dari lingkungan sekolah yang diorganisasi.
Lingkungan ini diatur serta diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah
sesuai dengan tujuan pendidikan pengawasan itu turut menentukan lingkunagn itu
membantu kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan

21

yang menantang dan merangsang pada siswa untuk belajar, memberikan rasa
aman dan kepuasan serta mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu factor yang
mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah job description proses
belajar mengajar yang berisi serangkaian peristiwa belajar yang dilakukan oleh
kelompok kelompok siswa. Sehubungan dengan hal ini, job description guru
dalam implementasi proses belajar mengajar.:
1) Perencanaan instruksional, yaitu alat atau media untuk mengarahkan
kegiatan kegiatan organisasi belajar,
2) Organisasi belajar yang merupakan usaha mencuptakan wadah dan
fasilitas fasilitas atau lingkungn yang sesuai dengan kebutuhan yang
mengandung kemungkinan terciptanya proses belajar mengajar.
3) Mengarahkan anak didik yang merupakan usaha memancing,
membangkitkan, dan mengarahkan motivasi belajar siswa. Penggerak atau
motivasi ini pada dasarnya mempunyai makna lebih dari pada perintah,
mengarahkan, mengaktualkan dan memimpin.
4) Supervisi dan pengawasan, yakni usaha mengawasi, menunjang,
membantu, menugaskan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar
sesuai dengan perencanaan instruksional yang telah didesain sebelumnya.
5) Penelitian yang lebih bersifat penafsiran ( assessment ) yang mengandung
pengertian yang lebih luas dibanding dengan pengukuran atau evaluasi
pendidikan.
Berbagai upaya diuasahakan untuk menganalisis proses pengelolaan belajar
mengajar ke dalam unsur unsur kemponennya. Komponen komponen tersebut
meliputi :

22

a. Merencanakan, yaitu mempelajari masa mendatang dan menyusun rencana
kerja.
b. Mengorganisasi, yakni membuat organisasi, usaha, manager, tenaga kerja dan
bahan.
c. Pengkoordinasian, yakni menyatukan dan mengkorelasikan semua kegiatan.
d. Mengawasi, memeriksa agar segala sesuatu sesuai dengan peraturan yang di
gariskan dan instruksi instruksi yang diberikan.
Tahap tahap pengelolaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar dapat
diperincikan sebagai berikut:
1) Perencanaan
a. Menetapkan apa yang mau dilakukan, kapan dan bagaimana cara
melakukannya.
b. Membatasi sasaran dan menetapkan penetapan pelaksanaan kerja untuk
mencapai hasil yang maksimal melalui proses penentuan target.
c. Mengembangkan alternative alternative.
d. Mengumpukan dan menganalisis informasi.
e. Mempersiakan dan mengkomunikasikan rencana rencana dan keputusan
keputusan

23

2) Pengorganisasian
a. Menyediakan fasilitas,perlengkapan, dan tenaga kerja yang diperlukan
untuk menyusun kerabgka yang efisien dalam melaksanakan rencana
rencana melalui suatu proses penetapan kerja yang diperlukan untuk
menyelesaikan.
b. Pengelompokan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara
teratur.
c. Menentukan struktur wewenang dan mekanisme koordinasi.
d. Merumuskan, menetapkan metode dan prosedur.
e. Memilih, mengadakan latihan dan pendidikan tenaga kerja serta mencari
sumber sumber lain yang diperlukan.
3) Pengarahan
a. Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci.
b. Melaporkan penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan
tindakan koreksi, menyusus standar standar dan saran saran.
c. Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap
penyimpangan penyimpangan.
Selanjutnya untuk meningkatkan hasil belajar dalam bentuk pengaruh
instruksional dan untuk mengarahkan pengaruh pengiring terhadap hal hal yang
positif dan berguna buat siswa, guru harus dapat memilih apa isi pengajaran serta
bagaimana proses belajar itu harus dikelola dan dilaksanakan di sekolah. Ada juga
jenis belajar yang perlu dibedakan, yakni belajar konsep dan belajar proses.
Belajar konsep lebih menekankan hasil belajar kepada pemahaman fakta dan
prinsip, banyak bergantung pada apa yang diajarkan guru, yaitu bahan bergantung

24

pada apa yang diajarkan guru, yaitu bahan atau isi belajar, dan lebih besifat
kongkrit. Sedangkan belajar proses lebih ditekankan pada mesalah bagaimana
bahan pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.
Bila persoalan belajar keterampilan proses itu dikaitkan dengan CBSA ( Cara
Belajar Siswa Aktif ), maka tampak beberapa kesamaan konseptual. Baik belajar
komsep, maupun belajar keterampilan proses, keduanya mempunyai ciri ciri :
a. Menekankan pentingnya makna belajar untuk mencapai hasil belajar yang
memadai.
b. Menekankan pentingnya keterlibatan siswa di dalam proses belajar.
c. Menekankan bahwa belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh
anak didik.
d. Menekankan hasil belajar secara tuntas dan utuh.
Belajar keterampilan proses, seperti halnya belajar siswa aktif, bukanlah
merupakan gagasan yang besifat kaku. Belajar keterampilan proses tidak dapat
dipertentangkan dengan belajar konsep sehingga keduanya merupakan dua jenis
terpisah. Keduanya merupakan garis kontinyu, yang satu menurunkan
penghayatan proses, dan yang lain lebih menekankan perolehan atau hasil,
pemahaman fakta dan prinsip. Belajar keterampilan proses tidak mungkin terjadi
bila tidak ada materi atau bahan pelajaran yang dipelajari. Sebaiknya, belajar
konsep tidak mungkin terjadi tanpa keterampilan proses pada siswa. Begitu juga
halnya cara belajar aktif tidak bias dipertentangkan dengan cara belaja siswa tidak
aktif.



25


4. Prinsip prinsip Pembelajaran di TK
Dalam melaksanakan pembelajaran di TK perlu memperhatikan prinsip
prinsip sebagai berikut :
1) Bermain seraya belajar dan belajar seraya bermain.
Dunia anak anak adalah dunia bermain. Oleh sebab itu, pembelajaran di
TK hendaknya tidak terlepas dari permainan. Bermainmerupakan cara
yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan sesuai kompetensi
yang ditetapkan dalam kurikulum. Pengmbangan metode barmain sesuai
dengan perkembangan anak dumilai dari bermain sambil belajar ( unsur
bermain lebih besar ) ke belajar sambil bermain (unsur belajar labih besar).
Permainan yang digunakan di TK adalah permainan yang merangsang
kreativitas anak dan menyenangkan.
2) Pembelajaran Disesuaikan dengan Perkembangan Anak
Anak TK memiliki karakteristik perkembangan fisik dan psikologi yang
khas. Oleh kerena itu, guru harus mampu mengembangkan pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik anak tersebut.
3) Pembelajaran Disesuaikan dengan Kebutuhan Anak
Pembelajaran di TK hendaknya berorientasi pada kebutuhan anak. Anak
usia TK sedang membutuhkan pengembangan fisik dan psikis (kognitif,
bahasa, fisik/motorik, sosial emosional, dan seni ) secara optimal. Oleh
sebab itu, pembelajaran di TK dirancang untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.

26

4) Pembelajaran Terpusat pada Anak
Pembelajaran di TK hendaknya menempatkan anak sebagai subjek
pendidikan. Oleh keren itu, semua kegiatan pembelajaran diarahkan atau
terpusat pada anak. Dalm pembelajaran yang terpusat pada anak, anak
diberi kesempatan untuk menentukan pilihan, mengemukakan pendapat,
dan aktif melakukan atau mengalami sendiri. Guru bertindak sebagai
pembimbing dan fasilitator.
5) Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Tematik
Pembelajaran di TK menggunakan pendekatan tematik. Tema sebagai
sarana atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep pada anak,
menyatukan isi kurikulum dalam suatu kesatuan yang utuh, memperkaya
perbendaharaan kata anak, dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna,
Tema dipilih berdasarkan prinsip kedekatan, kesederhanaan, kemenarikan,
dan keinsidentalan. Apabila guru mengalami kesulitan dalam
menghubungkan indikator dengan tema, maka yang diutamakan adalah
indikator yang akan dicapai, bukan tema.
6) Kegiatan Pembelajaran yang PAKEM ( Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan )
Pembelajaran di TK hendaknya aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Oleh kerena itu, guru hendaknya mampu menciptakan kegiatan kegiatan
yang menarik, yang membangkitkan rasa keingintahuan anak, motivasi
anak untuk berfikir kritis, kreatif, dalam suasana yang menyenangkan.

27

7) Pembelajaran Mengembangkan Kecakapan Hidup
Pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup.
Pengmbangan kecakapan hidup dilakukan secara terpadu, baik melalui
pembiasaan maupun pengembangan pengembangan kemampuan dasar.
Misalnya: kecakapan bercerita, kecakapan memotong buah, membuang
sampah di tempatnya, membersihkan lantai, dan bergaul dengan anak lain
yang berguna untuk kelangsungan hidup anak.
8) Pembelajaran Didukung oleh Lingkungan yang Kondusif
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian rupa agar menarik
dan menyenangkan anak. Lingkungan sekolah ditata dengan
memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. Penataan
ruang kelas disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain agar
anak dapat berinteraksi secara optimal dengan guru dan anak lainya.
Pembelajaran hendaknya memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai
sumber belajar baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial budaya.
Di samping itu, lingkungan seyogyanya tidak memisahkan anak dari nilai
nilai budayanya. Sekolah hendaknya menyelesaikan nilai nilai yang
diajarkan di rumah dan dimasyarakat dengan nilai nilai yang diajarkan di
sekolah.
9) Pembelajaran yang Dinamis dan Dialogis ( Demokratis )
Pembelajaran yang dinamis dan dialogis ( demokratis ) memungkinkan
terjadinya interaksi yang optimal antara guru dan anak didik dan antara
anak dengan anak untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru dan anak
anak sama sama berkepentingan untuk menciptakan suasana belajar yang

28

akomodatif dan terbuka. Anak menjadi subjek pembelajaran. Oleh sebab
itu, guru hendaknya selalu memberi kesempatan kepada anak untuk aktif
memberikan reaksi, dan memberi tanggapan tanpa merasa takut.
10) Pembelajaran yang Bermakna
Pembelajaran yang bermakna merupakan suatu proses pembelajaran yang
efektif dan membawa pengaruh perubahan terhadap tingkah laku anak
didik dalam mencapai kompetensi atau tujuan yang telah dirumuskan.
Perubahan tingkah laku dimaksudkan berupa hasil belajar yang mencakup
unsur unsur afektif, kognitif, dan psikomotorik, dimana dengan
keterlibatan anak didik secara aktif dalam proses pembelajaran, anak didik
menyadari dan merasakan adanya perubahan dalam diri, serta anak
memperoleh pengalaman baru yang bermanfaat begi kehidupanya.
Sehubungan dengan itu maka guru dalam mengelola kegiatan
pembelajaran hendaknya mampu mengembangkan pola interaksi antara
berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Guru harus pandai memotivasi
anak didik sehingga secara mental anak didik terbuka, kreatif, responsive,
dan interaktif dalam proses pembelajaran.
5. Azas Pembelajaran di TK
Adalah sebagai berikut : menyenangkan, aktif, kreatif, efektif, efisien,
konstekstual, dinamis, dialogis, dan bermakna, peragaan, movifasi, bekerja
sendiri, kerja sama, individualisasi, dan korelasi.
1) Asas Apersepsi
Menurut asas apersepsi kegiatan mental anak dalam mengolah hasil belajar
dipengaruhi oleh pngetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya.

29

Oleh sebab itu, pembelajaran yang dilakukan guru hendaknya memperhatikan
pengetahuan dan pengalaman awal anak tersebut agar anak bias mencapai
belajar secara optimal.
2) Asas Kekonkritan
Kekonkritan menjadi asas karena perkenbangan anak masih dalam taraf
berfikir konkrit. Oleh sebab itu, pembelajaran perlu menggunakan alat peraga
apa yang
dipelajari anak secara kongkrit sehingga anak lebih mudah belajar, misalnya
menggunakan gambar binatang untuk mempelajari binatang, menggunakan
binatang (hidup) ke dalam kelas, menggunakan kaset vidio tentang banjir
untuk mempelajari tentang air dan lain - lain.
1) Asas Motivasi
Motivasi menjadi asas sebab belajar akan optimal jika anak memiliki
dorongan untuk belajar. Oleh sebab itu, pembelajaran hendaknya dirancang
sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan anak. Misalnya, memberi
penghargaan kepada anak yang berprestasi dengan pujian atau hadiah,
memajang setiap karya anak di kelas, lomba antar kelompok, melibatkan
setiap anak pada berbagai kegiatan lomba dan kegiatan sekolah, melakukan
pesan unjuk kemampuan anak.
2) Asas Bekerja Sendiri
Bekerja sendiri menjadi asas karena dengan bekerja sendiri anak akan telatih
mendiri dalam memecahkan masalah sendiri. Oleh sebab itu, pembelajaran
hendaknya dirancang untuk mengembangkan kemandirian anak, misalnya
pelajaran makan, menggosok gigi, memakai baju, melepas dan memakai

30

sepatu, buang air kecil dan buang air besar, merapikan mainan setelah dipakai
dan lain lain.
5) Asas Kerja Sama ( Kooperatif )
Kerja sama menjadi asa karena dengan bekerja sama keterampilan sosial anak
akan berkembang optimal. Oleh sebab itu, pembelajaran hendaknya dirancang
untuk mengembangkan keterampilan sosial anak, misalnya, bertanggung
jawab terhadap kelompok, membantu anak lain dan lain lain.
3) Asas individualisasi
Individu menjadi asas karena setiap anak itu bersifat unik, berbeda dengan
anak yang lain. Oleh sebab itu, pembelajaran hendaknya memperhatikan
perbedaan individu, misalnya perbedaan latar belakang keluarga, perbedaan
kemampuan, perbedaan minat, perbedaan gaya belajar, dll agar anak mencapai
hasil belajar secara optimal.
4) Asas Korelasi
Korelasi menjadi asas karena aspek pengembangan yang satu dengan aspek
pengembangan yang lain saling berkaitan. Misalnya perkembangan
bahasa anak berkaitan erat dengan perkembangan koknitif, perkembangan
koknitif anak berkaitan erat dengan perkembangan perilaku (pembiasaan)
anak dan lain - lain.
5) Asas Belajar Seumur Hidup
Belajar seumur hidup menjadi asas karena proses belajar anak tidak hanya
berlangsung di sekolah tetapi sepanjang hayat anak. Oleh sebab itu,
pembelajaran di sekolah hendaknya diupayakan untuk membekali anak agar

31

anak bisa belajar seumur hidup dan mendorong anak agar selalu ingin dan
berusaha belajar kapan pun dan dimana pun.
C. Pembahasan tentang Penggunaan metode Demonstrasi dalam kegiatan
belajar mengajar di TK .
Tujuan pendidikan yang ditarik dari tugas-tugas perkembangan yang harus
diselesaikan tidak mungkin dilaksanakan sekaligus melainkan dijabarkan kedalam
tugas-tugas yang kecil yang dinamakan tujuan kegiatan. Bila guru telah
menetapkan tujuan kegiatan, langkah selanjutnya adalah merencanakan program
kegiatan belajaryang diharapkan dapat memenuhi pencapaian tujuan kegiatan
yang terlebih dahulu sudah diterapkan. Bermacam program kegiatan jelas
menuntut bermacam cara melaksanakannya, berbagai macam kegiatan, berbagai
macam pengelompokan anak, berbagai macam pengaturan lingkungan, berbagai
macam sarana dan prasarana. Perencanaan program secara menyeluruh itu akan
membentuk suatu strategi.
Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode dipilih
berdasarkan strategi kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan. Metode
merupakan cara yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan
kegiatan. Setiap guru akan menggunakan metode sesuai gaya pelaksanaan
kegiatan. Oleh karena itu metode yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan
rata-rata peserta didik sehingga akan lebih mudah menerima kegiatan yang
dilakukan, dengan begitu suatu metode akan menjadi sangat efektif.


32

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di TK
adalah metode Demonstrasi, karena Demonstrasi mempunyai makna penting bagi
anak TK yang antara lain :
1. Dapat memperlihatkan secara kongkrit apa yang dilakukan / diperagakan.
2. Dapat mengkomunikasikan gagasan, konsep, prinsip dengan peragaan.
3. Membantu mengembangkan kemampuan mengamati secara teliti dan
cermat.
4. membantu mengembangkan kemampuan untuk melakukan segala
pekerjaan secara teliti, cermat dan tepat.
5. membantu mengembangkan kemampuan peniruan dan pengnalan secara
tepat.

33

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Seorang guru taman kanak kanak sebelum melaksanakan program kegiatan belajar
terlebih dahulu perlu memperhatikan tujuan program kegiatan belajar anak taman kanak
kanak dan ruang lingkup program kegiatan belajar anak taman kanak kanak. Metode
merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode dipilih berdasarkan strategi kegiatan
yang sudah dipilih dan ditetapkan , metode merupakan cara yang dalam bekerjany
merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, dalam memilih suatu
metode yang akan dipergunakan dalam pogram kegiatan anak ditaman kanak kanak
guru perlu mempunyai alasan yang kuat dan faktor faktor yang mendukung pemilihan
metode. Anak TK mempunyai dorongan yang kuat untuk mengenal lingkungan alam
sekitar dan lingkungan sosialnya lebih baik. Anak ingin memahami segala sesuatu yang
dilihat dan didengar. Untuk mencapai dorongan tersebut anak berusaha menemukan
jawabanya sendiri dengan berbagai cara, misalnya tentang bagaimana terjadinya sesuatu,
darimana segala sesuatu itu berasal atau apa yang terjadi bila sesuatu itu dipegang,
diubah kedudukanya, dibanting dan sebagainya atau tentang bagaimana cara pembuatan
suatu barang. Dari rasa ingin tahu anak akan hal hal tersebut diatas perlu adanya
penjelasan guru tentang bagaimana hal itu bisa terjadi disertai dengan cara atau
langkah langkah apa saja yang dapat dilakukan dan cara penyampaian guru
menjelaskan kepada anak yang disertai dengan cara cara tersebut disebut juga sebagai

34

metode demonstrasi secara umum persiapan guru untuk merancang kegiatan atau
demonstrasi adalah :
1. Menetapkan rancangan tujuan dan tema kegiatan demonstrasi.
2. Menetapkan rancangan bentuk demonstrasi yang dipilih.
3. Menetapkan rancangan bahan dan alat yang diperlukan.
4. Menetapkan rancangan langkah kegiatan demonstrasi.
5. Menetapkan rancangan penilaian kegiatan demonstrasi.
Proses belajar bertitik tolak dari suatu konsep bahwa belajar merupakan perubahan
perbuatan melalui aktivitas praktis dan pengalaman atau penyampaian pengetahuan dan
kecakapan atau pengorganisasian lingkungan belajar atau keaktifan.
B. Saran
1. Bagi Guru : Guru hendaknya dapat merencanakan pembelajaran yang menyenangkan
bagi anak sesuai dengan perkembangan anak TK pemilihan metode yang tepat
sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik dan membangkitkan
dorongan untuk melaksanakan suatu kegiatan agar anak bisa mandiri.
2. Bagi Orang Tua : Orang tua kendaknya peham tentang perkembangan anak,
pembentukan perilaku anak banyak dipengaruhi oleh factor keluarga ( 60 % )
sedangkan sekolah dan lingkungan hanya sebagian saja ( 40 % ), perilaku anak sesuai
dengan tingkat perkembangannya.
3. Bagi Masyarakat : Masyarakat hendaknya dapat mendukung terciptanya lingkungan
sekolah yang kondusif, serta turut berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dilakukan
di sekolah .


35

DAFTAR PUSTAKA

Andreas Harefa. 2001 Pembelajaran di Era Serba Otonomi . PT. Kompas Media
Nusantara

Depdiknas. 2004 . Pedoman Pembelajaran Di Taman KAnak Kanak. J akarta
Departemen Pendidikan Nasional.

E. Mulyasa. 2008 Menjadi Guru Profesional. Bandung PT. Remaja Rosdakarya

J .J . Hasibuan, dkk. 2008 Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rosdakarya

Moeslichatoen R. 2004 Metode Pengajaran Di Taman Kanak Kanak. J akarta PT.
Rineka Cipta

Oemarhamalik. 1992 Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung Sinar Baru Al Gensindo

Oemarhamalik. 2003 Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA.
Bandung Sinar Baru Al Gensindo

Soemiarti Patmono Dewo. 2003. pendidikan Anak Prasekolah. J akarta PT. Rineka Cipta

Syaiful Bahri Djamaroh, dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. J akarta PT. Rineka Cipta






36

Lampiran 1

BIODATA

Yang bertandatangan dibawah ini :
1. Data Pribadi
Nama : Arin Lestari
Tempat, Tanggal lahir : Kendal, 4 maret 1979
Agama : Islam
Alamat : Karang Anyar RT.03 / II No.4A
Taman Gede - Kendal
Telp : 0294 - 387905
081 805 976 650


2. Pendidikan Formal
a. 1985 - 1991 : SDN 1 Taman Gede
b. 1991 - 1994 : SMPN 1 Gemuh
c. 1994 - 1997 : SMUN 1 Cepiring


3. Pengalaman Pekerjaan
a. 1998 - 2000 : PT. Sumiko Leadframe Bintan
b. 2006 - sekarang : TK Budi Luhur J uwiring Cepiring




37

Lampiran 2

PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN TUGAS AKHIR

Saya yang bertandatangan dibawah ini :
Nama Lengkap : Arin Lestari
NPM : 06130483
Fakultas/J urusan : FIP/DII PGTK
J udul Tugas Akhir : Penggunaan Metode Demonstrasi Dalam Kegiatan Belajar
Mengajar Di TK
Menyatakan dengan sebenarnya tugas akhir yang saya tulis ini benar benar merupakan
hasil karya sendiri bukan merupakan pengambilan tulisan atau fikiran orang lain yang
saya akui sebagai tulisan atau fikiran saya. Apabila dikemudiaan hari terbukti atau
dibuktikan tugas akhir ini hasil jiplakan maka saya bersedia menerima sanksi atas
perbuatan tersebut.


Semarang, Mei 2008
Yang membuat pernyataan

Arin Lestari