Anda di halaman 1dari 10

1

OPTIMASI FAST DISINTEGRATING TABLET RANITIDIN


HIDROKLORIDA DENGAN VARIASI PERBANDINGAN KADAR
SUPERDISINTEGRAN CROSCARMELLOSE SODIUM DAN
CROSPOVIDONE
Nova Arum Dalu, Mimiek Murrukmihadi dan Oktavia Indrati
Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia
e-mail: nova.arum4@gmail.com

Abstrak
Ulkus peptikum adalah gejala penyakit pada lambung atau duodenum dikarenakan
terjadi lesi pada mukosa yang sering dijumpai pada masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi.
Sekresi asam dari sel parietal diturunkan oleh antagonis histamin H
2
seperti ranitidin
hidroklorida. Fast disintegrating tablet diketahui dapat hancur atau melarut secara cepat dalam
saliva tanpa membutuhkan air. Diperlukan eksipien berupa superdisintegran untuk
meningkatkan waktu hancurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi
optimum croscarmellose sodium dan crospovidone terhadap sifat fisik fast disintegrating tablet
dari ranitidin hidroklorida. Tablet ini diformulasikan dengan variasi kadar croscarmellose
sodium dan crospovidone dengan perbandingan 8:2%, 5:5%, 2:8%. Pembuatan tablet fast
disintegrating menggunakan metode kempa langsung. Sifat fisik fast disintegrating tablet yang
diuji untuk mengetahui kualitasnya adalah kekerasan, kerapuhan, waktu pembasahan, waktu
hancur, waktu larut tablet. Data uji sifat fisik fast disintegrating tablet di lihat respon
optimalnya dengan menggunakan simplex lattice design. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu
variasi perbandingan kadar bahan penghancur croscarmellose sodium : crospovidone (2 : 8%)
menghasilkan sifat fast disintegrating tablet ranitidin hidroklorida yang optimal.


Kata kunci : Ranitidin hidroklorida, ulkus peptikum, crospovidone, croscarmellose sodium

Abstract
Peptic ulcer disease is a symptom of the stomach or duodenum due to take place on
mucosal lesions are often found in people who have high activity. Acid secretion from the
parietal cells derived by histamine H2 antagonists such as ranitidine hydrochloride. Dosage
form of the active substance rantidin HCl can be developed into fast disintegrating tablet. The
tablet will disintegrate or dissolve rapidly in the saliva without the need for water. In addition to
the active substance is also necessary to increase the excipients in the form superdisintegran
disintegration time. This study aims to determine the optimum concentration of croscarmellose
sodium and crospovidone on the physical properties of fast disintegrating tablets of ranitidine
hydrochloride. The tablet is formulated with several levels of croscarmellose sodium and
crospovidone by comparison 8:2%, 5:5%, 2:8%. Manufacture of fast disintegrating tablets using
direct compressions. The physical properties of fast disintegrating tablets are tested to determine
its quality is hardness, friability, wetting time, disintegration time, when the tablet dissolves.
Tablet test data obtained were compared with the parameters of the Indonesian Pharmacopoeia,
Europe Pharmacopoeia and other reference library and in view optimum response using simplex
lattice design. The results are crusher material variation of croscarmellose sodium:
crospovidone (2 : 8%) produces fast disintegrating properties of ranitidine hydrochloride tablets
are optimal.

Key words: Ranitidine hydrochloride, ulkus peptic, crospovidone, croscarmellose sodium
2

A. PENDAHULUAN
Ulkus peptikum adalah suatu penyakit yang
menyerang bagian lambung atau duodenum
akibat terjadi luka dan peradangan
(1)
. Penyakit
ini sering menyerang pasien yang memiliki pola
hidup tidak teratur dimana gejala penyakit ini
datang secara tiba-tiba dengan rasa perih atau
sakit di sekitar perut.
Ranitidin merupakan obat golongan
antihistamin H
2
dalam farmakoterapi penyakit
fungsional dengan efek antisekretori dan
antiinflamasi. Bekerja dengan menurunkan
sekresi asam lambung atau meningkatkan
resistensi mukosa terhadap serangan asam-
pepsin
(2)
. Sehingga obat ini dapat digunakan
untuk mengobati ulkus peptikum.
Fast disintegrating tablet menawarkan
suatu bentuk sediaan unik yang dapat cepat
hancur ketika berada di dalam rongga mulut.
Aplikasinya dapat digunakan pada pasien yang
memiliki aktifitas tinggi, pediatrik, geriatrik,
pasien bedridden, dan pasien nausea persisten.
Dengan bentuk sediaan ini diharapkan dapat
meningkatkan efek terapi yang lebih cepat,
praktis, dan mudah dikonsumsi.
Croscarmellose sodium dan crospovidone
merupakan super disintegran yang dibutuhkan
dalam pembuatan fast disintegrating tablet.
Efektif digunakan dalam pembuatan tablet
secara kempa langsung maupun granulasi basah.
Disintegrasi croscarmellose sodium melalui
penyerapan air yang cepat dan pengembangan
yang besar jika dipadukan dengan mekanisme
crospovidone yang bekerja dengan penyerapan
air dan deformasi (pembentukan ulang) struktur
akan menghancurkan tablet dengan cepat
(3)
.
Kemampuan mengembang croscarmellsoe
sodium cukup besar 4 - 8 kali dengan tetap
mempertahankan keutuhannya hingga tablet
pecah
(4)
. Mekanisme hancurnya tablet
disebabkan oleh pengambilan air yang cepat
diikuti dengan pengembangan yang cepat dan
besar
(5)
. Crospovidone diketahui secara cepat
mengalami aksi kapilaritas dan mempengaruhi
daya serap airnya tanpa membentuk jel.
Penelitian ini menggunakan 3 formula dengan
variasi penghancur Croscarmellose Sodium dan
Crospovidone yaitu FI (8:2%), FII (5:5%), FIII
(2:8%). Dengan pertimbangan tersebut, sehingga
perlu dilakukan penelitian untuk mencari
perbandingan kadar yang menunjukkan sifat
fisik tablet yang optimal.
Besarnya proporsi dari masing-masing
bahan super disintegran ini perlu dioptimasi agar
dihasilkan sediaan fast disintegrating tablet
dengan sifat fisik yang optimal. Salah satu
metode yang dapat digunakan yaitu Simplex
Lattice Design.

A. METODE PENELITIAN
1. Alat dan Bahan
a. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah ayakan no.30, neraca analitik (Dragon
300 & Mettler Toledo type PL303), mesin
cetak tablet (korsch tipe EK0), stopwatch, alat
uji disolusi (Erweka DT 600), kaca arloji,
friability tester (Erweka Friabilator Type TA-
100/TA-200), hardness tester (Erweka),
disintegration tester (Erweka), tapped density
tester, alat uji sudut diam, vacuum cleaner,
spektrofotometer UV-VIS (Carry 50).
b. Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam
penelitian ini adalah ranitidin hidroklorida
(crossCHEM). Bahan lain yang digunakan
adalah crospovidone (BASF The Chemical
Company), croscarmellose sodium (DMV
Fonterra), mannitol (kualitas farmasetik),
magnesium stearat (DMV Fonterra), aerosil
(kualitas farmasetik), avicel PH 102 (kualitas
farmasetik).













3

2. Cara kerja penelitian
a. Desain Formulasi Fast Disintegrating
Tablet Ranitidin Hidroklorida
Tabel I. Formula fast disintegrating tablet
ranitidin hidroklorida dengan
superdisintegran crosscarmellose
sodium dan crospovidone
Bahan (mg) FI FII FIII
Ranitidin HCl 84 84 84
Croscarmellose Na 12 7,5 3
Crospovidone 3 7,5 12
Mannitol 24 24 24
Avicel PH 102 24 24 24
Mg Stearat 1,5 1,5 1,5
Aerosil 1,5 1,5 1,5
Keterangan :
FI = Croscarmellose Na : Crospovidone (8:2%)
FII = Croscarmellose Na : Crospovidone (5:5%)
FII = Croscarmellose Na : Crospovidone (2:8%)

b. Pembuatan campuran serbuk
Penyiapan bahan bahan yang akan
digunakan untuk pembuatan fast disintegrating
tablet ranitidin hidroklorida. Penimbangan
ranitidin hidroklorida, crosscarmellose sodium,
crospovidone, manitol, avicel PH 102,
magnesium stearat dan aerosil. Setelah semua
bahan ditimbang dilakukan pengayakan dengan
ayakan mesh 30. Kemudian semua bahan
dicampurkan hingga homogen kecuali
magnesium stearat dan aerosil. Dimasukkan
magnesium stearat dan aerosil ke dalam
campuran bahan (ranitidin hidroklorida,
crosscarmellose sodium, crospovidone, manitol,
avicel PH 102 dicampur hingga homogen.

c. Pemeriksaan Sifat Fisik Serbuk
(1) Waktu alir
Serbuk dengan bobot 100 gram
ditempatkan dalam sebuah corong, kemudian
penutup corong dibuka. Dihitung waktu yang
dibutuhkan serbuk mengalir. Waktu alir
dikatakan baik jika 100 gram serbuk yang diuji
memiliki waktu alir 10 detik.

(2) Sudut diam
Sebanyak 100 g granul dimasukkan dalam
corong yang terdapat pada alat. Wadah
disiapkan untuk menampung granul pada bagian
bawah alat. Buka tutup corong sehingga granul
mulai meluncur melewati corong, dicatat waktu
yang diperlukan hingga semua granul telah
melewati lubang corong. Sudut diam yang baik
antara 25-45
o
.

(3) Indeks pengetapan
Dihitung untuk mengetahui persentase
selisih volume granul tanpa dimampatkan
terhadap volume setelah pemampatan. Granul
dimasukkan ke dalam gelas ukur dan volumenya
dicatat (Vo), kemudian dilakukan pengetukan
dengan alat. %T harus <20%, jika lebih besar
maka granul sulit mengalir.

d. Penabletan Fast Disintegrating Tablet
Ranitidin HCl
Semua bahan termasuk yang telah
dilakukan uji sifat fisk serbuk dilakukan
pencetakan tablet. Dimana sebelumnya alat
pencetak tablet diatur terlebih dahulu bagian
punch atas dan punch bawah agar nantinya
didapatkan tablet dengan kekerasan dan bobot
yang sesuai, yang mana fast disintegrating tablet
memiliki kekerasan yang lebih rendah dengan
tablet konvensional. Setelah alat diatur, semua
bahan dicetak dengan mesin pencetak tablet
single punch (Korsch / EK-0, Belin, Germany).

e. Pemeriksaan Sifat Fisik Fast
Disintegrating Tablet
(1) Organoleptik Tablet
Sepuluh tablet yang dihasilkan diamati
secara visual, homogenitas warna (baik dalam
satu tablet maupun antar tablet), bentuk tablet,
permukaan cacat atau tidak, harus bebas dari
noda atau bintik-bintik dan bau tablet.

(2) Keseragaman bobot tablet
Diambil sebanyak 20 tablet kemudian
ditimbang dan dihitung bobot rata-ratanya.
Kemudian dihitung harga rata-rata (X),koefisien
variasi (CV) dan persen penyimpangan bobot.
Keseragman bobot memenuhi persyaratan jika
tidak ada dua tablet yang bobotnya menyimpang
7,5 % dan satu tablet 15% atau nilai CV
5%.



4

(3) Kekerasan tablet
Dilakukan uji kekerasan tablet satu
persatu sampai 20 tablet dengan alat
hardness tester. Kekerasan tablet yang
diperkenankan adalah antara 1 sampai 4 kg
(4) Kerapuhan tablet
Dua puluh tablet dibersihkan dari debu,
ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam alat
uji kerapuhan. Alat diputar pada kecepatan 25
rpm selama 4 menit dan alat tersebut akan
menjatuhkan tablet sejauh 6 inci setiap putaran.
Seluruh tablet dikeluarkan, dibersihkan dari
debu dan ditimbang kembali. Dihitung
kehilangan bobot dalam persentase. Persyaratan
uji adalah tidak boleh lebih kecil dari 1% dari
berat awal tablet uji

(5) Waktu pembasahan
Tablet fast disintegrating ditempatkan
dalam cawan petri dengan diameter 6,5 cm,
tambahkan air 10 ml dan catat waktu untuk
pembasahan

(6) Waktu hancur
Bejana diisi dengan air suling bersuhu 36-
38
o
C, dan volume diatur sedemikian rupa,
sehingga pada kedudukan tertinggi kawat kasa
tepat berada di atas permukaan air dan pada
kedudukan terendah mulut keranjang tepat di
permukaan air. Enam buah tablet dimasukkan
satu per satu ke dalam masing-masing
keranjang, kemudian keranjang diturunnaikkan
secara teratur 30 kali tiap menit. Tablet
dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet
yang tertinggal di atas kasa

(7) Waktu disolusi
Medium disolusi (aquadest) diisikan ke
dalam tabung disolusi sebanyak 900 ml, pada
suhu 370,5
o
C. Masukkan satu tablet pada
masing-masing tabung disolusi, kemudian
jalankan alat uji disolusi metode paddle dengan
kecepatan pengadukan dan lama pengujian
disesuaikan dengan ketentuan pada zat aktif
yang ada dalam Farmakope Indonesia.
Pengambilan sampel 5 ml dilakukan pada selang
wkatu tertentu. Setiap pengambilan sampel
diganti dengan media disolusi dengan volume
dan suhu yang sama.

f. Penetapan Kadar
(1) Penentuan panjang gelombang maksimal
ranitidin hidroklorida dalam aquadest
Larutan baku dengan kadar 5,0; 7,5; 10; 15
dan 20 pm, diamati serapannya pada panjang
gelombang 200-400 ppm menggunakan
spektrofotometer UV-Vis (Carry 50).
(2) Pembuatan kurva baku
Dibuat larutan 1000 ppm dengan
menimbang 100 mg ranitidin hidroklorida dalam
labu takar 100 ml. Dari larutan 1000 ppm dibuat
larutan 100 ppm dengan menggambil 10 ml
filtrat dimasukkan dalam labu takar 100 ml.
Kemudian dari larutan 100 ppm dibuat masing-
masing seri kadar 20, 15, 10, 7,5 dan 5,0 ppm,
lalu dibaca serapannya pada panjang gelombang
maksimum.
(3) Penetapan kadar zat aktif
Dua puluh tablet ditimbang dan digerus.
Sejumlah serbuk ranitidin hidroklorida yang
setara denagn 84 mg ranitidin hidroklorida
dilarutkan dalam 100 ml aquadest, disaring,
diencerkan sesuai dan dianalisis untuk
kandungan obat pada 314nm menggunakan
spektrofotometer UV-Visible (Carry 50).

B. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Uji Sifat Fisik Serbuk Fast
Disintegrating Tablet Ranitidin
Hidroklorida
Uji sifat fisik dilakukan untuk
mendapatkan kriteria-kriteria fisik dari
campuran serbuk yang akan dibuat menjadi
bentuk sediaan fast disintegrating tablet
(FDT). Kriteria-kriteria tersebut nantinya
akan menjadi patokan sifat fisik serbuk
ranitidin hidroklorida pada produksi fast
disintegrating tablet (FDT) selanjutnya.
Tabel V. Data hasil uji sifat fisik massa tablet
FDT ranitidin hidroklorida
Sifat Fisik FI FII FIII
Waktu Alir
(detik)
4,850,555 4,04 0,410 3,86 0,3630
Sudut
Diam (
o
)
23,36 0,770 12,011,324 27,890,503
5

Indeks Tap
(%)
23,33 0,577 22,330,577 22,33 1,154
Keterangan :
FI = Croscarmellose Na : Crospovidone (8:2%)
FII = Croscarmellose Na : Crospovidone (5:5%)
FII = Croscarmellose Na : Crospovidone (2:8%)

a. Waktu alir
Hasil uji waktu alir menunjukkan mudah
atau tidaknya granul mengalir dalam mesin
cetak tablet. Menurut US Pharmacopoeia
(5)
baik
buruknya waktu alir granul dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu ukuran granul, bentuk
granul, dan kelembapan relatif. Granul dengan
aliran granul yang kurang baik akan
menyebabkan aliran granul dari hopper ke
dalam die tidak sempurna, akibatnya bobot
tablet yang dihasilkan tidak konstan sehingga
akan berpengaruh pada keseragaman zat aktif.
Hasil pada FI 4,85 detik, FII 4,04 detik dan FIII
3,86 detik menunjukkan bahwa waktu alir yang
di dapat tiap formula baik, karena masuk ke
dalam range waktu alir yang disyaratkan untuk
granul yang baik yaitu 10g/dtk. Uji waktu alir
dilakukan untuk mengetahui serbuk memiliki
waktu alir yang baik atau tidak. Serbuk dengan
waktu alir yang tidak baik akan menyebabkan
aliran serbuk dari hopper kedalam die tidak
sempurna, akibatnya bobot tablet yang
dihasilkan tidak konstan sehingga berpengaruh
pada keseragaman bobot.

b. Sudut diam
Menurut United State Pharmacopoeia
(5)
,
suatu granul memiliki sudut istirahat yang
sangat baik jika nilai (sudut istirahat) kurang
dari 30 maka mengalir bebas (free flowing).
Ketiga formula memiliki sudut istirahat kurang
dari 30
o
sehingga dapat dikatakan serbuk massa
fast disintegrating tablet ranitidin hidroklorida
memiliki sifat alir yang baik dan memiliki sifat
mengalir bebas.
Hasil yang didapat pada FI 23,36
o
, FII
12,01
o
, dan FIII 27,89
o
masuk pada rentang
dimana kurang dari 30
o
.

c. Indeks pengetapan
Besar kecilnya harga indeks pengetapan
ditentukan oleh kemampuan serbuk untuk
menata diri dalam mengisi ruang antar partikel
dan dalam kondisi paling mampat, tanpa terjadi
perubahan bentuk partikelnya. Indeks
pengetapan yang (% Tap) lebih besar dari 20%
maka sifat alirnya tergolong kurang baik.
Sebaliknya, semakin kecil harga persen tapnya
maka sifat alirnya semakin baik
(5)
. Hasil
formula I, II, dan III memiliki T% 23,334%,
22,334,67%, 23,334%. Hal tersebut
menunjukkan bahwa dari keempat formulasi
tersebut memiliki sifat alir yang cukup baik
(passable) dan menghasilkan karakteristik
pengompakkan yang diharapkan.

2. Sifat fisik fast disintegrating tablet
ranitidin hidroklorida
a). Organoleptis tablet
Sebagai pengenalan terhadap tablet maka
dilakukan pemeriksaan organoleptik terhadap
tablet. Pemeriksaan dilakukan dengan panca
indera untuk mendeskripsikan bentuk, warna
dan bau. Fast disintegrating tablet ranitidin
hidroklorida yang dihasilkan mempunyai
karakter fisik yang seragam yaitu berbentuk
bulat pipih tanpa retakan, dan berwarna putih
kekuningan, warna ini yang berasal dari serbuk
ranitidin hidroklorida yang cenderung kuning.
Bau dari tablet tetap berbau khas ranitidin
hidroklorida. Sebagai pengenalan awal terhadap
FDT ranitidin hidroklorida maka dilakukan
pemeriksaan organoleptik terhadap tablet.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat
bentuk, warna, dan bau dari FDT ranitidin
hidroklorida yang dihasilkan.

Tabel III. Data hasil uji organoleptik FDT
ranitidin hidroklorida
Parameter Hasil
Warna Putih kekuningan
Bau Khas ranitidin
Bentuk Pipih bulat tanpa
retakan







6

Tabel IV. Sifat Fisik Fast Disintegrating Tablet
Ranitidin Hidroklorida
Sifat Fisik Formula I Formula II Formula III
Bobot tablet
(mg)
CV
148,900
0,912
0,612
147,550
0,945
0,640
149,550
1,234
0,825
Kekerasan (kg) 3,270
0,310
2,500
0,290
2,710
0,230
Kerapuhan (%) 0,190
0,051
0,319
0,084
0,110
0,052
Waktu
pembasahan
(detik)
22,620
3,050
26,980
7,932
18,52
3,452
Waktu hancur
(menit)
1,700
0,125
1,667
0,076
1,217
0,108

b). Keseragaman bobot
Keseragaman bobot ditujukan untuk
mengetahui bobot tablet yang seragam dan uji
ini dijadikan parameter produksi yang
merupakan pengukuran secara rutin untuk
mendapatkan bobot tablet yang diinginkan.
Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasar
banyaknya penyimpangan bobot tablet rata-rata
yang masih diperbolehkan menurut persyaratan
yang ditentukan. Pada formula I, didapaatkan
nilai CV sebesar 0,612% dan bobot tablet 148,90
mg. pada formula II, didapatkan nilai CV
sebesar 0,640% dan bobot tablet 147,55 mg.
pada formula III, didapatkan nilai CV sebesar
0,825% dan bobot tablet 149,55 mg. Dari tabel
diatas dapat disimpulkan bahwa antara ketiga
formula tersebut telah memenuhi persyaratan
dimana nilai CV tidak melebihi 5% (5%).

c). Kekerasan tablet
Kekerasan merupakan parameter yang
menggambarkan kekuatan tablet terhadap
goncangan mekanik. Tablet FDT ranitidin
hidroklorida memerlukan kekuatan mekanik
yang berarti dalam proses pembuatannya,
pengepakan, pendisitribusian, hingga
penyerahan ke konsumen. Kekerasan tablet
dipengaruhi oleh tekanan kompresi mesin
pencetak tablet, kompresibilitas bahan dan
penggunaan bahan pengikat. Kekerasan tablet
FDT dibuat lebih rendah dari tablet
konvensional biasa, kekerasan yang baik untuk
tablet FDT berkisar antara 0,1 - 3 kg
(6)
. Hasil
yang didapatkan bahwa kekerasan yang paling
tinggi adalah formula I sebesar 3,27 0,313 kg,
sedangkan formula III 2,71 0,230 kg dan
kekerasan terendah terdapat pada formula II
yaitu sebesar 2,5 0,290 kg. Formula I tidak
sesuai dengan yang diharapkan, yaitu
seharusnya dikendalikan 3 kg untuk
menghindari pengaruh perbedaan kekerasan
tablet terhadap waktu hancur dan disolusi.

Gambar 1. Profil kekerasan fast disintegrating
tablet berdasarkan pendekatan
simplex lattice design
Berdasarkan persamaan pendekatan SLD
(tabel IX) yaitu 0,03300A + 0,02700B -
0,00020AB menunjukkan terdapat interaksi
antara kedua kombinasi croscarmellose sodium
dan crospovidone. Secara teori crospovidone
memiliki sifat kompresibilitas dan sifat alir
serbuk yang baik, serta ketika kelembapan (%
RH) meningkat maka persen absorpsi air juga
akan meningkat, sehingga menimbulkan ikatan
yang lebih kuat antar partikelnya secara
signifikan
(7)
. Namun, dikarenakan pada formula
I kekerasan tablet tidak dikendalikan, maka
croscarmellose sodium meningkatkan
kekerasan tablet.

d). Kerapuhan tablet
Uji kerapuhan ini bertujuan untuk
mengetahui kerapuhan dari tablet FDT ranitidin
hidroklorida sehingga dapat diketahui
kemampuan tablet dalam menahan guncangan
tanpa hancur selama proses manufaktur,
pengemasan, pengiriman, dan penggunaan oleh
konsumen. Jika nilai kekerasan tablet tinggi
maka ikatan antar partikel akan kuat sehingga
kerapuhan tablet akan rendah
(7)
. Menurut United
State Pharmacopoeia
(5)
, tablet yang baik
memiliki kerapuhan kurang dari 1%. Dari hasil
penelitian diperoleh kerapuhan tablet pada
7

formula I sebesar 0,19 %, formula II sebesar
0,32 %, formula III sebesar 0,11 %. Dari data
tersebut, kerapuhan tablet mempunyai nilai
dibawah 1%, sehingga dapat dikatakan ketiga
formula memiliki nilai kerapuhan yang
memenuhi persyaratan yang baik.

Gambar 2. Profil kerapuhan fast disintegrating
tablet berdasarkan pendekatan
simplex lattice design
Berdasarkan pendekatan SLD, y =
0,00200A + 0,00100B + 0,00007AB. Terdapat
interaksi antara croscarmellose sodium dan
crospovidone, namun sama sama memberikan
nilai positif yang kecil pada kerapuhan tablet.
Respon yang dimunculkan pada tingkat
kerapuhan tertinggi terdapat pada formula II.
Secara teori ketika suatu bahan memiliki daya
ikat yang baik, maka akan menghasilkan bentuk
tablet yang kompak. Crospovidone diketahui
cenderung memiliki daya ikat yang baik, namun
ketika kadarnya sama dengan croscarmellose
sodium yang daya ikatnya kurang, akan
menyebabkan peningkatan nilai kerapuhan
tablet.

e). Waktu Hancur
Dari hasil uji waktu hancur tablet diperoleh
waktu hancur formula I 1,70 menit, formula II
1,67 menit dan formula III 1,22 menit. Ketiga
formula tersebut masuk ke dalam rentang waktu
hancur tablet menurut European
Pharmacopoeia, dimana waktu hancur untuk
fast disintegrating tablet maksimal adalah 3
menit
(8)
.

Gambar 3. Profil waktu hancur fast
disintegrating tablet
berdasarkan pendekatan
simplex lattice design
Persamaan pendekatan SLD yaitu
0,01700A + 0,01200B + 0,00008 AB, dimana
menunjukkan bahwa croscarmellose sodium dan
crospovidone dapat meningkatkan waktu hancur
tablet. Kombinasi dari kedua bahan tersebut juga
menunjukkan adanya interaksi yang dapat
meningkatkan waktu hancur namun sangat kecil
efek yang didapatkan. Croscarmellose sodium
dapat meningkatkan waktu hancur lebih lama
dibandingkan dengan crospovidone. Mekanisme
keduanya antara lain wicking dan swelling.
Namun secara teori diketahui bahwa
crospovidone juga memiliki kemampuan
menyerap air dan mengembang namun tidak
membentuk jel, sehingga hal inilah yang dapat
mempercepat waktu hancur.
f). Waktu Pembasahan
Waktu pembasahan memiliki hubungan erat
dengan struktur bagian dalam tablet dan
hidrofilisitas dari eksipien. Diketahui bahwa
ukuran pori-pori menjadi lebih kecil dan waktu
pembasahan meningkat dengan peningkatan
gaya tekan atau penurunan porositas. Terdapat
hubungan linear antara waktu pembasahan dan
waktu hancur tablet. Tujuan dari uji pembasahan
adalah mengetahui seberapa cepat air akan
terserap kedalam tablet, sehingga waktu
pembasahan merupakan langkah penting untuk
proses disintegrasi secara langsung.
8


Gambar 4. Profil waktu pembasahan fast
disintegrating tablet berdasarkan
pendekatan simplex lattice design
Pendekatan persamaan SLD yaitu 0,22600A
+ 0,18500B + 0,00257AB, dimana menunjukkan
adanya interaksi positif dari masing-masing
superdisintegran dalam meningkatkan waktu
pembasahan. Waktu pembasahan tercepat terjadi
pada formula III dimana komposisi
croscarmellose sodium : crospovidone (2% :
8%).
Mekanisme crospovidone secara cepat
menunjukkan aktifitas kapiler yang tinggi dan
kapasitas hidrasi
(3)
. Ukuran partikel yang besar
menunjukkan disintegrasi lebih cepat
dibandingkan dengan partikel yang lebih kecil.
Crospovidone memiliki ukuran partikel lebih
besar dibandingkan dengan croscarmellose
sodium. Sehingga diketahui bahwa waktu
pembasahan yang dihasilkan pada formula III
lebih cepat dibanding dengan formula I yang
kandungan croscarmellose sodium :
crospovidone (8% : 2%). Waktu pembasahan
pada penelitian masuk pada rentang waktu yang
dibutuhkan, sehingga sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan untuk tablet hancur bila tetap
bergerak di lidah.

g). Disolusi Tablet
Tujuan dari uji disolusi ini adalah
penggambaran pelepasan obat secara in vitro
(tidak langsung). Faktor-faktor yang
mempengaruhi waktu larut tablet adalah
diameter, ketebalan, porositas tablet dan adanya
bahan penghancur dari superdisintegran. Dari
hasil penelitian waktu disolusi formula I adalah
84,73%, formula II 82,44, dan formula III
88,13%. Hasil ini diketahui masuk dalam
persyaratan menurut US Pharmacopoeia
(5)
yang
menyatakan bahwa dalam waktu 45 menit
ranitidin hidroklorida yang terdisolusi tidak
kurang dari 80%.

Gambar 5. Profil waktu disolusi pada t = 45
menit fast disintegrating tablet
berdasarkan pendekatan simplex
lattice design
Pendekatan persamaan SLD yaitu
0,79100A + 0,80800B - 0,00163AB. Diketahui
bahwa crospovidone lebih menunjukkan nilai
positif dalam meningkatkan % disolusi. Hal ini
dikarenakan tekanan sifat dari kompresi yang
diberikan, higroskopisitas dan kekerasan tablet
biasanya memberikan sedikit efek pada waktu
disintegrasi tablet. Ukuran partikel juga dapat
mempengaruhi waktu disolusinya, dimana
semakin besar luas permukaan partikel, akan
cenderung membuat permukaannya cepat
berinteraksi dengan media (kemampuan
menyerap air).

3. Penetapan Kadar
a). Penentuan panjang gelombang maksimal
ranitidin hidroklorida dalam aquadest
Penetapan panjang gelombang
menggunakan spektrometri UV penting
dilakukan untuk menganalisis secara kuantitatif
dan mengetahui persentase kadar dari ranitidin
hidroklorida. Larutan ranitidin hidroklorida
memiliki serapan maksimum pada panjang
gelombang 314 nm.
Dari penelitian ini dihasilkan panjang
gelombang maksimum dari ranitidin
hidroklorida dalam medium aquadest adalah 314
nm. Hasil penentuan panjang gelombang ini
digunakan untuk pembuatan kurva baku dan
penetapan kadar ranitidin hidroklorida pada uji
disolusi.


9


Gambar 6. Panjang gelombang serapan
maksimum ranitidin hidroklorida

b). Pembuatan kurva baku
Dari hasil pengukuran seri kadar ranitidin
hidroklorida dalam medium aquaest diperoleh
analisis regresi linier, y = 0, 0415x 0,0114.
Tabel V. Data hasil serapan seri kadar
ranitidin hidroklorida pada
panjang gelombang maksimum 314
nm
Seri Kadar (g/ml) Absorbansi
5,00 0,199
7,50 0,301
10,00 0,402
15,00 1,600
20,00 0,825

c) Penetapan kadar zat aktif
Uji ini bertujuan untuk menjamin bahwa
kandungan zat aktif dalam tiap tablet relatif
seragam. Persyaratan batas penerimaan dari
kandungan zat aktif dalam tablet ranitidin
hidroklorida adalah 90-110 %
(5)
.
Tabel VI. Hasil uji penetapan kadar Tablet
FDT ranitidin hidroklorida
Formula Kadar (%)
F-I 100,467 0,982
F-II 99,263 2,333
F-III 97,200 6,212
Dari penetapan kadar zat aktif pada tabel
XII, ketiga formula memenuhi rentang
persyaratan kandungan zat aktif menurut United
State Pharmacopeia (USP) 32 ranitidin
hidroklorida tidak kurang dari 90% dan tidak
lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada
etiket.

d) Penentuan Formula Optimum
Berdasarkan Simplex Lattice Design
Hasil perhitungan menggunakan design
expert 7 trial diperoleh formula optimum fast
disintegrating tablet dengan perbandingan
komposisi croscarmellose sodium 2 % dan
crospovidone 8 %.
Dengan penggunaan f(x) model quadratic
didapatkan gambar seperti berikut :

Gambar 7. Profil formula optimum fast
disintegrating tablet berdasarkan
pendekatan simplex lattice design

Tabel VIII. Prediksi Sifat Fisik FDT ranitidin
hidroklorida menurut SLD
Sifat Fisik Prediksi
Kekerasan (Kg) 2,71
Kerapuhan (%) 0,11
Waktu pembasahan (detik) 18,52
Waktu hancur (menit) 1,22
Disolusi (%) 80,81
Formula optimum yang diperoleh diluar
ketiga formula yang dibuat sebelumnya. Apabila
dilakukan verifikasi terhadap formula optimum
yang diperoleh berdasarkan simplex lattice
design, maka prediksi sifat fisik yang dihasilkan
dari formula optimum tersebut tersaji pada tabel
VIII.


C. KESIMPULAN DAN SARAN
Formula optimum fast disintegrating tablet
yang diperoleh dari mixture design simplex
lattice design dengan kombinasi variasi kadar
croscarmellose sodium dan crospovidone adalah
2 % dan 8 %.
10

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
dengan memperbaiki rasa manis pada tablet.
Variasi kadar dari bahan penghancur perlu
diperhatikan lagi untuk mendapatkan waktu
disintegrasi yang lebih baik.

D. DAFTAR PUSTAKA
(1) Tack, J., and Lee, K.J., 2005,
Pathophysiology and Treatment of
Functional Dyspepsia, J Clin
Gastroenterol, Vol: 39: S211-S216
(2) Berardi, R.R., Welage, L.S., 2008, Peptic
Ulcer Disease, Dalam Dipiro, J.T., Talbert,
R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G.,
Posey, L.M., Pharmacotherapy : A
Pathophysiologic Approach, 7
th
Ed,
McGraw-Hill Inc, New York, 569.
(3) Kibbe, A.H, 2009, Crospovidone, Dalam
Rowe, R.C., Sheskey, P.J., Weeler, P.J.,
Handbook of Pharmaceutical Excipients,
6
th
Edition, The Pharmaceutical Press,
London and Washington DC, 208.
(4) Guest, R.T, 2009, Croscarmellose Sodium,
Dalam Rowe, R.C., Sheskey, P.J., Weeler,
P.J., Handbook of Pharmaceutical
Excipients, 6
th
Edition, The Pharmaceutical
Press, London and Washington DC, 206.
(5) Anonim, 2007, US Pharmacopeia, USP30-
NF25 The Stationary Office on Behalf the
Medicine and Healthcare Product Regularly
Agency, United States of America, 3102.
(6) Izza, A. K., 2004. Fast Dissolving Tablet,
Jurnal, J.Pharm.USPatent.
(7) Buhler, V., 2004, Kollidon

:
Polyvinylpyrrolidone for The
Pharmaceutical Industry, 4
th
Edition, BASF,
Ludwighshafen, 129, 135.
(8) Anonim, 2005, European Pharmacopoeia,
5
th
Ed, Secretariat of The European
Pharmacopoeia Commission and European
Directorate for the Quality of Medicine,
Europe.