Anda di halaman 1dari 13

TUGAS

PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH

PERANAN 6 PILAR

ANALISIS PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH

Oleh:

REZKI ARHAM AR
G211 06 008

JURUSAN ILMU TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2009
6 pilar analisis yang berkaitan dengan Perencanaan Pengembangan

Wilayah yaitu :

Analisis Biogeofisik

Secara umum dapat dibedakan berdasarkan fungsi dan potensi ruang

serta peruntukan ruang yang terintegrasi menentukan pola pemanfaatan

ruang secara efektif, efisien serta optimal dalam mendukung pembangunan

yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Fungsi yang dimaskud

cenderung terhadap pertumbuhan ruang/wilayah secara alamia serta

dampaknya.

Peruntukan lahan/ruang yang didasarkan pada potensi dan fungsi

ruang yang ada dijadikan dasar menentukan kebijakan dalam menentukan

peruntukan dan pemanfaatan ruang secara bijaksana. Bijaksana dari aspek

sosial, ekonomi, politik, budaya dan lingkungan.

Pola pemanfaatan ruang pada dasarnya selalu berdampak terhadap

kegiatan pembangunan yang berlangsung. Pola pemanfaatan ruang

menentukan tingkat pertumbuhan/ pengembangan ruang, yakni

terhambat, ????atau meningkat tergantung pada potensi, fungsi serta

kesesuaiannya dengan jenis pemanfaatan

Potensi ruang meliputi :

1. Potensi biofisik lingkungan ( SDA ).

2. Potensi letak ruang (posisi) dan letak geografis, administrasi.

3. Potensi sosial, ekonomi, budaya

4. Potensi aksessibilitas yang tersedia


5. Potensi fasilitas dan utilitas yang dimiliki (umum)

6. Potensi kestabilan keamanan.

Bersadarkan potensi ruang maka pembangunan dan pertumbuhan

ruang tidak terjadi dimana-mana pada semua ruang tetapi hanya pada ruang

tertentu yang dimilki potensi untuk dapat tumbuh. ( teori Fenox 1961).

Fungsi ruang yang disesuaikan dengan potensi ruang yang dimiliki

serta dampak yang akan muncul kemudian adalah hasil dari proyeksi ruang

yang diembangnya. Berdasarkan fungsi ruang secara umum dapat

dibedakan berdasarkan ( ada tidaknya )

1. Ruang untuk Budidaya ( pembangunan)

2. Ruang untuk Non Budidaya ( Non Pembangunan )

Ruang untuk pembangunan (terganggu) dapat meliputi segala aspek

kegiatan pembangunan baik sektor pertanian, sivil, pertambangan, industri,

kehutanan maupun pembangunan fasilitas umum sosial, ekonomi dan

budaya.

Ruang untuk non budidaya ( non pembangunan ) dapat diartikan ruang

yang dilindungi atau ruang yang sama sekali tidak dapat

digunakan/dimanfaatkan/diganggu untuk periode jangka panjang atau untuk

selama-lamanya seperti :

1. Hutan Lindung

2. Cagar Alam ( Marga Satwa )

3. Cagar Budaya

Analisis Ekonomi
Sumberdaya alam ini keberadaannya harus dimanfaatkan seoptimal

mungkin dalam kerangka untuk mendorong, mempercepat dan menunjang

proses pembangunan wilayah (daerah). Namun demikian penting untuk

diperhatikan aspek ketersediaan termasuk daya dukungnya terhadap

mobilitas pembangunan daerah, karena apabila sumberdaya alam dengan 3

kategori ini dimanfaatkan dengan tidak bijaksana dan arif maka sudah

barang tentu stagnasi dan kemunduran dinamika pembangunan ekonomi

wilayah akan semakin cepat menjelma atau merupakan sesuatu yang tidak

bisa dihindarkan.

Disamping komponen sumberdaya alam, pada saat ini peranan

sumberdaya manusia (human resources) dalam konteks kegiatan

pembangunan ekonomi termasuk pembangunan ekonomi daerah (wilayah)

semakin signifikan. Faktor sumberdaya manusia ini telah menghadirkan

suatu proses pemikiran baru dalam telaah teori-teori pembangunan

ekonomi, yang menempatkan sumberdaya manusia sebagai poros utama

pembangunan ekonomi baik dalam skala global, nasional maupun daerah.

Strategi pembangunan ekonomi yang berbasis pada pengembangan

sumberdaya manusia (human resources development) dianggap sangat

relevan dan cocok dengan kondisi dan karakter pembangunan ekonomi

terutama di negara-negara berkembang sejak era 80-an. Strategi

pembangunan ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang pakar

perencanaan pembangunan ekonomi berkebangsaan Pakistan yang bernama


Mahbub Ul Haq yang pada saat itu menjadi konsultan Utama United Nation

Development Programme (UNDP).

Analisis Sosial Budaya

Pariwisata secara sosiolosis terdiri atas tiga interaksi yaitu interaksi

bisnis, interaksi politik dan interaksi kultural (B. Sunaryo, 2000). Interaksi

bisnis adalah interaksi di mana kegiatan ekonomi yang menjadi basis

materialnya dan ukuran-ukuran yang digunakannya adalah ukuran-ukuran

yang bersifat ekonomi. Interaksi politik adalah interaksi di mana hubungan

budaya dapat membuat ketergantungan dari satu budaya terhadap budaya

lain atau dengan kata lain dapat menimbulkan ketergantungan suatu bangsa

terhadap bangsa lain yang dipicu oleh kegiatan persentuhan aktivitas

pariwisata dengan aktivitas eksistensial sebuah negara. Sedangkan interaksi

kultural adalah suatu bentuk hubungan di mana basis sosial budaya yang

menjadi modalnya. Dalam dimensi interaksi kultural dimungkinkan adanya

pertemuan antara dua atau lebih warga dari pendukung unsur kebudayaan

yang berbeda. Pertemuan ini mengakibatkan saling sentuh, saling pengaruh

dan saling memperkuat sehingga bisa terbentuk suatu kebudayaan baru,

tanpa mengabaikan keberadaan interaksi bisnis dan interaksi politik.

Berangkat dari pemahaman bahwa model yang digunakan untuk

pengembangan kawasan wisata adalah model terbuka maka berarti tidak

tertutup kemungkinan akan terjadi kontak antara aktivitas kepariwisataan

dengan aktivitas masyarakat sekitar kawasan wisata. Kontak-kontak ini

tidak bisa dibatasi oleh kekuatan apapun apalagi ditunjang dengan adanya
sarana pendukung yang memungkinkan mobilitas masyarakat. Kontak yang

paling mungkin terjadi adalah kontak antara masyarakat sekitar dengan

pengunjung atau wisatawan. Masyarakat sekitar berperan sebagai penyedia

jasa kebutuhan wisatawan.

Kontak ini apabila terjadi secara massif akan mengakibatkan

keterpengaruhan pada perilaku, pola hidup dan budaya masyarakat

setempat. Menurut Soekandar Wiraatmaja (1972) yang dimaksud dengan

perubahan sosial adalah perubahan proses-proses sosial atau mengenai

susunan masyarakat. Sedangkan perubahan budaya lebih luas dan

mencakup segala segi kebudayaan, seperti kepercayaan, pengetahuan,

bahasa, teknologi, dsb. Perubahan dipermudah dengan adanya kontak

dengan lain-lain kebudayaan yang akhirnya akan terjadi difusi (percampuran

budaya). Kita lihat misalnya bagaimana terjadinya pergeseran kultur

kehidupan masyarakat sekitar kawasan Candi Borobudur yang semula

berbasis dengan aktivitas kehidupan agraris (bertani) bergeser menjadi

masyarakat pedagang dan penjual jasa.

Dengan demikian pariwisata ditinjau dari dimensi kultural dapat

menumbuhkan suatu interaksi antara masyarakat tradisional agraris dengan

masyrakat modern industrial. Melalui proses interaksi itu maka

memungkinkan adanya suatu pola saling mempengaruhi yang pada akhirnya

akan mempengaruhi struktur kehidupan atau pola budaya masyarakat

khususnya masyarakat yang menjadi tuan rumah. Dari dimensi struktural

budaya, aktivitas industri pariwisata memungkinkan terjadinya suatu


perubahan pola budaya masyarakat yang diakibatkan oleh penerimaan

masyarakat akan pola-pola kebudayaan luar yang dibawa oleh para

pelancong. Pola-pola kebudayaan luar ini terekspresikan melalui tingkah

laku, cara berpakaian, penggunaan bahasa serta pola konsumsi yang

diadopsi dari wisatawan yang datang berkunjung.

Analisis Lingkungan

Mengingat kompleksnya pengelolaan lingkungan hidup dan

permasalahan yang bersifat lintas sektor dan wilayah, maka dalam

pelaksanaan pembangunan diperlukan perencanaan dan pelaksanaan

pengelolaan lingkungan hidup yang sejalan dengan prinsip pembangunan

berkelanjutan yaitu pembangunan ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup

yang berimbang sebagai pilar-pilar yang saling tergantung dan saling

memperkuat satu sama lain. Di dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai

fihak, serta ketegasan dalam penaatan hukum lingkungan.

Diharapkan dengan adanya partisipasi barbagai pihak dan

pengawasan serta penaatan hukum yang betul-betul dapat ditegakkan,

dapat dijadikan acuan bersama untuk mengelola lingkungan hidup dengan

cara yang bijaksana sehingga tujuan pembangunan berkelanjutan betul-

betul dapat diimplementasikan di lapangan dan tidak berhenti pada slogan

semata. Namun demikian fakta di lapangan seringkali bertentangan dengan

apa yang diharapkan. Hal ini terbukti dengan menurunnya kualitas

lingkungan hidup dari waktu ke waktu, ditunjukkan beberapa fakta di

lapangan yang dapat diamati. Hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan


lingkungan hidup di daerah dalam era otonomi daerah antara lain sebagai

berikut.

• Ego sektoral dan daerah. Otonomi daerah yang diharapkan dapat

melimbahkan sebagian kewenangan mengelola lingkungan hidup di

daerah belum mampu dilaksanakan dengan baik. Ego kedaerahan masih

sering nampak dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan, hidup,

demikian juga ego sektor. Pengelolaan lingkungan hidup sering

dilaksanakan overlaping antar sektor yang satu dengan sektor yang lain

Tumpang tindih perencanaan antar sektor. Kenyataan menunjukkan

bahwa dalam perencanaan program (termasuk pengelolaan lingkungan

hidup) terjadi tumpang tindih antara satu sektor dan sektor lain

• Pandanaan yang masih sangat kurang untuk bidang lingkungan hidup.

Program dan kegiatan mesti didukung dengan dana yang memadai

apabila mengharapkan keberhasilan dengan baik. Walaupun semua orang

mengakui bahwa lingkungan hidup merupakan bidang yang penting dan

sangat diperlukan, namun pada kenyataannya PAD masih terlalu rendah

yang dialokasikan untuk program pengelolaan lingkungan hidup,

diperparah lagi tidak adanya dana dari APBN yang dialokasikan langsung

ke daerah untuk pengelolaan lingkungan hidup.

• Keterbatasan sumberdaya manusia. Harus diakui bahwa didalam

pengelolaan lingkungan hidup selain dana yang memadai juga harus

didukung oleh sumberdaya yang mumpuni. Sumberdaya manusia

seringkali masih belum mendukung. Personil yang seharusnya bertugas


melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup (termasuk aparat pemda)

banyak yang belum memahami secara baik tentang arti pentingnya

lingkungan hidup.

Analisis kelembagaan

Dalam konteks yang lebih konkrit, kelembagaan terdiri dari hukum

formal, baik dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis, aturan informal,

dan nilai-nilai (values) yang ada dan diakui dalam masyarakat serta bentuk-

bentuk pengorganisasiannya. Dengan demikian norma-norma yang berlaku

dalam masyarakat dalam hal pemilikan dan pengelolaan lahan menjadi

sangat penting dalam pembangunan ekonomi. Namun demikian North

mencatat perbedaan yang mendasar antara institusi dan organisasi.

Organisasi mengacu pada gugus aktor (individu maupun masyarakat) yang

bekerja sama atau bertindak bersama dalam suatu kepentinngan yang

disepakati bersama untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.

Salah satu kunci dalam aspek ekonomi kelembagaan adalah

menyangkut property right atau hak pemilikan. Property right ini melekat

dalam bentuk aturan formal dan juga norma sosial dan adat. Relefansi hak

pemilikan ini tergantung dari seberapa besar ia bisa dijalankan dan diakui

dalam masyarakat. Studi mengenai ekonomi hak pemilikan ini dalam

kaitannya dengan masalah lahan cukup banyak dikupas oleh Barzel (1989)

dalam bukunya mengenai Economic of Property Rights, juga oleh Cheung

(1968) yang melakukan study mengenai share cropping di Taiwan. Kedua

studi ini membuktikan bahwa ketidakjelasan hak pemilikan dan enforced


property rights terbukti menjadi handicap dalam mentransformasi

pembangunan ekonomi yang berkaitan dengan lahan.

Auzin (2004) membuktikan bahwa fenomena yang sama terjadi di

Eropa Timur ketika terjadi transformasi ekonomi dari sistim ekonomi

terpusat ke sistim ekonomi pasar, hambatan terbesar transformasi tersebiut

adalah ketidakjelasan hak pemilikan atas tanah yang diawali oleh lemahnya

sistim kelembagaan atas tanah. Beberapa sumber daya alam yang

terkandung di dalamnya seperti cadangan minyak di Kosovo dan beberapa

negara pecahan Yugoslavia tidak bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan

rakyat karena terbenturnya masalah hak pemilikan tersebut.

Bagian lain yang juga penting dalam konteks ekonomi kelembagaan

adalah menyangkut biaya transaksi. Biaya transaksi adalah sisi lain atau

pendekatan lain yang digunakan untuk menjelaskan aspek ekonomi dari

kelembagaan (Black, 2002). Biaya transaksi mempertimbangkan manfaat

dalam melakukan transaksi di dalam organisasi dan antara aktor (organisasi)

yang berbeda dengan menggunakan mekanisme pasar. Biaya transaksi

mempertimbangkan beberapa aspek penting dalam ekonomi yakni bounded

rationality (rasionalitas terbatas), masalah informasi, biaya negosisasi

kontrak dan opportunism.

Schmid (1987) di sisi lain membedakan biaya transaksi atas tiga hal

yakni 1) biaya informasi, 2) biaya kontrak, dan 3) biaya pengawasan atau

penegakan hukum. Dalam konteks inilah sering terjadi pemahaman yang

keliru mengenai apa yang dimaksud dengan transaction cost. Transaction


cost bukanlah biaya pertukaran (cost of exchange) atau salah satu biaya

dalam jual beli barang dan jasa (termasuk lahan), namun transaction cost

lebih diartikan sebagai “the cost of establishing and maintaining right”

(Allen,1991). Kedua aspek di atas yakni property rights dan transaction cost

adalah bagian penting yang memerlukan pemahaaman yang serius dalam

kelembagaan pengelolaan lahan.

Analisis Lokasi

Kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan serta

kemiskinan di perdesaan telah mendorong upaya-upaya pembangungan di

kawasan perdesaan. Meskipun demikian, pendekatan pengembangan

kawasan perdesaan seringkali dipisahkan dari kawasan perkotaan. Hal ini

telah mengakibatkan terjadinya proses urban bias yaitu pengembangan

kawasan perdesaan yang pada awalnya ditujukan untuk meningkatkan

kawasan kesejahteraan masyarakat perdesaan malah berakibat sebaliknya

yaitu tersedotnya potensi perdesaan ke perkotaan baik dari sisi sumber daya

manusia, alam, bahkan modal (Douglas, 1986).

Kondisi tersebut diatas, ditunjukkan dengan tingginya laju urbanisasi.

Data Survey Penduduk Antarsensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi

peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37,5% (tahun 1995) menjadi

40,5% (tahun 1998). Proses urbanisasi yang terjadi seringkali mendesak

sektor pertanian ditandai dengan konversi lahan kawasan pertanian menjadi


kawasan perkotaan, dimana di pantai utara Jawa mencapai kurang lebih 20

%. Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah menurunnya produktifitas

pertanian. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-

produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Tercatat,

Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1.277.685 ton pada tahun

2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. Pada tahun yang sama,

Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan

senilai US$ 65 juta (Siswono Yudohusodo, 2002).

Berdasarkan kondisi tersebut, tidak berarti pembangunan perdesaan

menjadi tidak penting, akan tetapi harus dicari solusi untuk mengurangi

urban bias. Pengembangan kawasan agropolitan dapat dijadikan alternatif

solusi dalam pengembangan kawasan perdesaan tanpa melupakan kawasan

perkotaan. Melalui pengembangan agropolitan, diharapkan terjadi interaksi

yang kuat antara pusat kawasan agropolitan dengan wilayah produksi

pertanian dalam sistem kawasan agropolitan. Melalui pendekatan ini, produk

pertanian dari kawasan produksi akan diolah terlebih dahulu di pusat

kawasan agropolitan sebelum di jual (ekspor) ke pasar yang lebih luas

sehingga nilai tambah tetap berada di kawasan agropolitan. Meskipun

demikian, pengembangan kawasan agropolitan sebagai bagian dari

pengembangan wilayah nasional tidak bisa terlepas dari Rencana Tata

Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang merupakan matra spasial yang

menjadi kesepakatan bersama. RTRWN penting untuk dijadikan alat untuk

mengarahkan pengembangan kawasan agropolitan sehingga pengembangan


ruang nasional yang terpadu dan sistematis dapat dilaksanakan. Sosialisasi

kepada pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan kawasan

agropolitan tentang hal ini mutlak diperlukan, sehingga muncul pemahaman

bersama tentang pentingnya proses ini untuk mewujudkan pembangunan

yang serasi, seimbang, dan terintegrasi.

Berdasarkan issue dan permasalahan pembangunan perdesaan yang

terjadi, pengembangan kawasan agropolitan merupakan alternatif solusi

untuk pengembangan wilayah (perdesaan). Kawasan agropolitan disini

diartikan sebagai sistem fungsional desa-desa yang ditunjukkan dari adanya

hirarki keruangan desa yakni dengan adanya pusat agropolitan dan desa-

desa di sekitarnya membetuk Kawasan Agropolitan.