Anda di halaman 1dari 10

Pendahuluan

Matematika (dari bahasa Yunani: - mathmatik) adalah studi besaran,


struktur, ruang, dan perubahan. Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan
konjektur baru, dan membangun kebenaran melalui metode deduksi yang kaku dari aksioma-
aksioma dan definisi-definisi yang bersesuaian.
Terdapat perselisihan tentang apakah objek-objek matematika seperti bilangan dan titik hadir
secara alami, atau hanyalah buatan manusia. Seorang matematikawan Benjamin
Peirce menyebut matematika sebagai "ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang
penting". Di pihak lain, Albert Einstein menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum
matematika merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti,
mereka tidak merujuk kepada kenyataan". Oleh karena itu matematika bukanlah bagian dari
ipa karena matematika tidak pasti.
Biologi adalah ilmu alam yang mempelajari kehidupan dan organisme hidup, termasuk
struktur, fungsi, pertumbuhan,evolusi, persebaran, dan taksonominya. Ilmu biologi modern
sangat luas , serta terdiri dari berbagai macam cabang dan subdisiplin. Namun, meskipun
lingkupnya luas, terdapat beberapa konsep umum yang mengatur semua penelitian, sehingga
menyatukannya dalam satu bidang. Biologi umumnya mengakui sel sebagai satuan dasar
kehidupan, gen sebagai satuan dasar pewarisan, dan evolusi sebagai mekanisme yang
mendorong terciptanyaspesies baru. Selain itu, organisme diyakini bertahan dengan
mengonsumsi dan mengubah energi serta denganmeregulasi keadaan dalamnya agar tetap
stabil dan vital.
Subdisiplin biologi didefinisikan berdasarkan skala organisme yang dipelajari, jenis
organisme yang dipelajari, dan metode yang digunakan untuk mempelajarinya: biokimia
mempelajari kimia kehidupan; biologi molekuler terkait dengan interaksi antar molekul
biologis; botani mempelajari biologi tumbuhan; biologi seluler meneliti satuan dasar semua
kehidupan, yaitu sel; fisiologi mempelajari fungsi fisik dan kimia jaringan, organ, dan sistem
organsuatu organisme; biologi evolusioner meneliti proses yang menghasilkan
keanekaragaman hayati; dan ekologimempelajari interaksi antara organisme dengan
lingkungannya.
Dalam biologi hal yang bersifat kuantitas dapat ditotasikan dalam matematika, misalkan
individu ada satu jenis. Kata satu dalam bilangan di tulis 1 yang merupakan anggota bilangan
real. Oleh karena itu, matematika sangatlah penting seabagai penguhubung ilmu pasti seperti
biologi. Setiap cabang ilmu biologi mempunyai notasi dalam matematika, begiru juga
Ekologi.
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan
yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara
makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst
Haeckel (1834 - 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau
sistem dengan lingkungannya.
Ekologi membahas berbagai macam habitat, jenis habitat dan jenis hewan yang terdapat di
habitat tersebut. Dalam ekologi, matematika tidak hanya sekedar menghitung jumlah
populasi dalam satu habitat. Tetapi juga menghitung hubungan antara mahluk hidup dengan
mahluk hidup lainnya, hubungan tersebut di notasikan dalam indeks asosiasi. Indeks asosiasi
menghubungkan keberadaan dua jenis mahluk hidup dalam suatu area. Jika hubungan antara
mahluk hidup dapat dinotasikan dalam matematika, apakah hubungan antara mahluk hidup
dengan lingkungan juga bisa dinotasikan dalam matematika?
Yang pada makalah ini adalah matematika dalam (fragmentasi hutan dipandang dalam skala
lanskap). Dasarnya fragmentasi hutan merupakan gejala yang dikaji dalam ilmu ekologi.
Fragmentasi hutan mengkaji hubunngan mahluk hidup dengan lingkungannya. Hutan yang
berfragmentasi mengakibatkan jenis mahluk hidup yang berkurang atau menjadi punah pada
daerah tersebut. Oleh karena itu matematika dibutuhkan dalam mengukur jenis mahluk hidup
yang berkurang dihubungkan dengan luas area dan banyak area yang bersebrangan atau
bertetangga.
Definisi
Ekologi lanskap
Ekologi lanskap merupakan suatu bagian dari ilmu ekologi yang mempelajari bagaimana
struktur lanskap mempengaruh kelimpahan dan distribusi organisme. Ekologi lanskap juga
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pengaruh pola (pattern) dan proses, dimana pola
di sini khususnya mengacu pada struktur lanskap. Dengan demikian secara lengkap ekologi
lanskap dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana struktur lanskap
mempengaruhi (memproses dan membentuk) kelimpahan dan distribusi organisme.
Fragmentasi hutan
Fragmentasi hutan terjadi karena hutan yang luas dan menyambung terpecah menjadi blok-
blok lebih kecil akibat pembangunan jalan, pertanian, urbanisasi atau pembangunan lain.
Akibatnya mengurangi fungsi hutan sebagai habitat berbagai spesies tumbuhan dan satwaliar.
Fragmentasi juga mempengaruhi struktur, temperatur, kelembaban dan pencahayaan yang
akan mengganggu satwa hutan yang adpatasinya telah terbentuk selama ribuan tahun.
Fragmentasi didefinisikan sebagai pemecahan habitat organisme menjadi kantong-kantong
(patches) habitat yang membuat organisme kesulitan melakukan pergerakan dari kantong
habitat yang satu ke yang lainnya.
Patch
Patch, merupakan suatu terminologi dasar dalam ekologi lanskap didefinisikan sebagai
sebuah area yang relatif homogen yang berbeda dengan sekelilingnya (Forman 1995). Patch
merupakan unit dasar dari lanskap yang berubah dan berfluktuasi. Proses perubahan dan
fluktuasi ini disebut sebagai dinamika patch. Patch memiliki bentuk tertentu dan konfigurasi
spasial, dan dapat digambarkan dalam komposisi variabelvariabel internalnya seperti jumlah
pohon, jumlah jenis pohon, tinggi pohon, atau variabel lainnya (Forman 1995).
DINAMIKA PATCH
Kejadian (occurance) dan distribusi patch-patch dalam suatu lanskap adalah tidak statis.
Mereka terus berubah sepanjang waktu dibawah kekuatan sistematis seperti suksesi dan erosi
serta di bawah kekuatan bencana alam seperti badai dan gangguan jangka pendek oleh
manusia. Gangguan bencana alam umumnya menciptakan patch-patch dengan suksesi awal
di dalam suatu lanskap dan mengurangi patch-patch dengan suksesi lebih tua yang sudah ada.
Hal ini merupakan ciri khas proses dimana hutan yang sudah matang terfragmentasi menjadi
blok-blok. Gangguan bencana alam juga mempengaruhi ukuran patch, biasanya
meningkatkan patch-patch dengan suksesi baru dan mengurangi ukuran patch-patch dengan
suksesi lama. Tetapi beberapa gangguan bisa lebih berpengaruh di dalam patch itu sendiri
dari pada antar patch. Heterogenitas dalam patch vegetasi dapat meningkat dengan membuka
kanopi, menciptakan pohon tumbang, dan meningkatkan pancaran cahaya dan panas ke
strata kanopi yang lebih rendah dan permukaan tanah. Gangguan mengubah rejim energi dan
aliran hara di dalam lanskap, Teori yang mendasari penataan ruang hutan menuju
pembangunan berkelanjutan 31 walaupun juga dapat meningkatkan atau menurunkan aliran-
aliran tertentu tergantung pada tipe gangguannya (Morrison et al. 1992).
Shugart (1984) mengusulkan suatu cara untuk mengklasifikasi gangguan berdasarkan pada
hubungan antara luas lanskap dan luas yang terganggu (Gambar 4). Sistemnya
mengkarakterisasi gangguan sebagai rentang dari pohon kecil tumbang yang mempengaruhi
kurang dari 1.000 m
2
dalam hutan individual 100 ha sampai kebakaran hutan yang
mempengaruhi lebih dari 100 ha di hutan wisata lebih dari 10.000 ha atau badai yang
mempengaruhi 1.000.000 ha atau lebih dari suatu pulau. Sughart mengusulkan bahwa
kondisi kesetimbangan dalam suatu lanskap yang sedang terganggu memerlukan sesuatu
kurang lebih luas lanskap mendekati 50 kali dari ukuran gangguan. Dengan demikian, suatu
kumpulan pohon kecil dapat menyerap gangguan pohon tumbang, tetapi luas hutan nasional
atau taman nasional diperlukan untuk menyerap kebakaran acak untuk menjaga
kesetimbangan lanskap. Pada lanskap yang tidak dalam kesetimbangan, dimana gangguan
bervariasi ukurannya, mungkin diperlukan oleh manajer untuk mengubah skala gangguan
atau untuk meningkatkan luas di bawah manajemen dalam rangka memberikan kondisi
gangguan kesetimbangan (Morrison et al. 1992).
Cara lain untuk mengkarakterisasi gangguan adalah dengan derajat perubahan lingkungan.
Empat tipe gangguan umum dapat digambarkan dalam cara ini (Gambar 5). Gangguan Tipe I
adalah bencana lingkungan seperti gunung meletus, kebakaran luas yang berdampak pada
skala geografis luas. Gangguan Tipe II adalah bersifat lebih lokal dan meliputi pengaruh
topan, serangga dan penyakit. Gangguan Tipe III tersebar luas tetapi relatif berdampak
rendah per unit waktu dan meliputi pengaruh kronik dan sistematik dari predator dan
kompetitor dan perubahan gradual dalam penggunaan lahan dalam suatu wilayah yang luas.
Gangguan Tipe IV adalah bersifat setempat dan umumnya berdampak rendah dan meliputi
perubahan kecil pada lingkungan yang disebabkan oleh kebakaran lokal dan pembangunan
oleh manusia (Morrison et al. 1992).
Kebanyakan perhatian tentang dampak dari fragmentasi hutan diturunkan dari pengurangan
dan isolasi habitat lokal dari gangguan Tipe I dan Tipe IV. Tetapi dampak sekunder dari
fragmentasi seperti meningkatnya pemangsaan atau spesies kompetitor, terjadi pada skala
sebaran yang lebih luas dan sulit untuk diramalkan dan dimonitor secara lokal. Sementara,
para perencana ingin melacak dampak kumulatif dari gangguan Tipe IV. Dampak kumulatif
ini mungkin bisa menjadi gangguan Tipe III pada wilayah yang lebih luas. Dampak yang
menyebar lebih luas ini harus dipelajari sebagai bagian dari program monitoring fragmentasi
atau penelitian (Morrison et al. 1992).

Gambar 4. Klasifikasi rejim gangguan berdasarkan pada luas yang terganggu dan luas
lanskap (diadaptasi oleh Shugart, 1984; dari Shugart & West 1981).

Gambar 5. Empat tipe gangguan yang ditunjukkan oleh derajat gangguan dan luas geografis
yang dipengaruhinya (Morrison et al. 1992).
Teori yang mendasari penataan ruang hutan menuju pembangunan berkelanjutan Kondisi
lingkungan mencirikan edges dari patch-patch yang tersisa sinar matahari langsung dan
sering serta fluktuasi temperatur dan kelembaban yang besar sering masuk ke suatu patch.
Dengan demikian, ukuran patch yang secara ekologis efektif, dimana sejumlah lingkungan
interior yang sebenarnya adalah lebih kecil dari pada ukuran fisik patch. Demikian juga
bentuk patch dipengaruhi oleh fragmentasi. Gangguan dan fragmentasi bisa menciptakan
edges, islands, rings, peninsulas dan bentuk patch-patch lainnya yang tidak kondusif bagi
spesies interior tetapi menguntungkan spesies yang menyukai suksesi edges dan spesies
suksesi awal. Pada umumnya, jumlah dan konfigurasi patch-patch dan perubahannya dari
waktu ke waktu bervariasi menurut kondisi gangguan yang berbeda (Morrison et al. 1992).
Kita juga dapat mengkarakterisasi fragmentasi lingkungan menurut skala spasial dimana
terjadinya serta menurut ukuran dan pola penggunaan areal oleh spesies satwaliar. Lord dan
Norton (1990) memandang fragmentasi sebagai suatu diskontinuitas gradient lingkungan dan
skalanya bebas. Mereka menyarankan agar sebaran patch-patch dipandang dalam skala luas,
dari struktural sampai geografik (Tabel 1).
Tabel 1. Implikasi dispersi habitat pada skala berbeda untuk berbagai atribut lanskap
terfragmentasi.

Sumber: Lord dan Norton (1990)
DESKRIPSI POLA PATCH
Memahami dampak gangguan dan proses-proses dalam fragmentasi lingkungan merupakan
kunci untuk menggambarkan dan meramalkan polapola patch. Pada skala lanskap dari
beberapa sampai lusinan patch, penggambaran matematis konfigurasi patch, travel corridor
(lintasan koridor) dan pathway serta struktur edge merupakan alat yang berguna untuk
mengkarakterisasi pola patch pada suatu lanskap (Morrison et al.1992).
Forman & Gordon (1986) me-review sejumlah cara untuk menggambarkan pola patch. Hal
ini meliputi menggambarkan patch-patchsebagai matrix dan jaringan (network). Dengan
penggambaran tersebut, matematika network dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana
pola patch tertentu memberikan konektivitas (connectivity) potensi pergerakan Satwa
antar patch-patch. Forman dan Gordon juga menyarikan dalam sebuah matrix ada enam
ukuran karakteristik patch meliputi: patch shape, isolation, accessibility, interaction dan
dispersion (Morrison et al. 1992).
Patch-patch juga telah dideskripsikan dari perspektif kehadiran edges dalam suatu lanskap.
Kemampuan satwa untuk bergerak melalui berbagai tipe edge yang disebut porosity atau
permeability dari suatu edge. Dari perspektif ini, beberapa model pergerakan satwa dalam
suatu lanskap berhubungan langsung dengan pola patch-patch sebagaimana mempengaruhi
jalan-jalan lebar (highways) untuk pergerakan, filters dan barriers. Model demikian berguna
untuk menggambarkan kondisi spesifik spesies dari patch terisolasi dan terkoneksi
(Buechner, 1987a,1987b; Stamps et al. 1987). Buechner (1987b) memodelkan pergerakan
satwa melintasi taman nasional semenanjung dan menyimpulkan bahwa arah dan magnitude
pergerakan dapat dipengaruhi oleh ratio perimeter-area patch, edge permeability, tingkah laku
dan preferensi habitat suatu spesies dan ukuran relatif menurunnya dispersal dan sumber asal
satwa yang berpindah. Konektivitas patch dan permebilitas edge bervariasi menurut ukuran
tubuh spesies, kekhususan habitat dan luas daerah jelajah (home range). Patch yang berperan
sebagai kesesuaian habitat secara keseluruhan dalam tipe dan jumlah untuk melestarikan
suatu satwa bertubuh kecil berhabitat spesifik seperti red tree vole (Arborimus longicaudus),
suatu Teori yang mendasari penataan ruang hutan menuju pembangunan berkelanjutan jenis
spesialis pada Douglas fir, juga mungkin berperan, pada banyak skala lebih luas, hampir
sebagai batu loncatan (stepping stone) dalam dispersal spesies bertubuh lebih besar dan tidak
memerlukan habitat spesifik seperti singa gunung (Felis concolor) (Morrison et al. 1992).
Spesies berbeda merespon lanskap dengan berbeda pula yang mencerminkan apa yang
dimaksud environmental grain size (ukuran hambatan lingkungan). Satwa dengan perbedaan
sumberdaya orientasi, ukuran tubuh dan luas home range menerima dan menggunakan patch
dan sumberdaya pada skala yang berbeda. Serangkaian patch-patch spesifik dapat muncul
sebagai coarse grained (hambatan berat) bagi spesies dengan jelajah sempit dan fine grained
(hambatan ringan) untuk spesies dengan jelajah luas. Dengan demikian asesmen apakah suatu
konfigurasi patchpatch tertentu dan derajat fragmentasi menguntungkan atau merugikan
sangat banyak tergantung pada karakteristik spesies dalam menggunakan lanskap (Morrison
et al. 1992).
PENGARUH UKURAN PATCH
Ukuran patch atau jumlah tipe lingkungan yang ada dalam suatu lanskap secara langsung
mempengaruhi kolonisasi oleh individu, ketahanan (persistence) individu dan unit
perkembangbiakan (breeding unit) serta jumlah spesies dalam areal tersebut. Ukuran patch
hutan di hutan gugur sebelah timur telah dihubungkan dengan peluang (propbability)
kehadiran burung penyanyi dan jenis jenis burung lainnya (Whitcomb et al., 1981;
lihatGambar 6).

Gambar 6. Fungsi insiden dari pelatuk totol besar (Picoides major) (Dari Moore & Hooper
dalam Wilcove et al., 1986).
Kurva peluang demikian disebut sebagai fungsi insiden (incidence function). Fungsi insiden
menggambarkan kemiripan spesies yang ditemukan di dalam suatu patch habitat dari suatu
areal tertentu. Fungsi insiden dapat juga diinterpretasikan sebagai proporsi dari patch dengan
ukuran tertentu mengandung spesies yang ada. Fungsi insiden juga digunakan untuk
menggambarkan jumlah spesies berbeda yang ada pada suatu areal (island atau patch)
dengan ukuran tertentu. Hubungan demikian disebut hubungan kekayaan spesies - area
(species richness - area relationship) dan secara matematis digambarkan sebagai :

dimana S adalah jumlah spesies yang ada, A adalah luas pulau atau patch, C adalah konstanta
skala yang nilainya bervariasi menurut takson dan lokasi, dan z adalah laju dimana jumlah
spesies meningkat dengan meningkatnya luas. Dari sejumlah penelitian kekayaan spesies
pada kepulauan samudera, z bervariasi dari 0,24 untuk lahan perkembangbiakan dan burung-
burung air di West Indies dan vertebrata daratan di Kepulauan Danau Michigan, sampai 0,49
untuk lahan perkembangbiakan dan burung-burung air di teluk Guinea (MacArthur & Wilson
1967). Preston (1962a, 1962b) menghitung sebuah nilai teoritis 0,263. Ketika diplotkan pada
sebuah hubungan log-log, dimana S = log C + z log A, fungsinya tampak sebagai sebuah
garis lurus dan z menjadi slope dari garis tersebut. Sebagai konsekuensi dari faktor z, sebagai
hukum umum, dua kali lipat jumlah spesies tampaknya membutuhkan 10 kali luas
(Darlington 1957; Haris 1984). Hubungan species-area melemah (nilai z menurun) dengan
semakin terisolasinya pulau dan dengan spesies yang kurang vagil. Parameter atau ukuran-
ukuran karakteristik patch dalam sebuah matrix antara lain (Morrison et al. 1992):




Bentuk Patch (Shape of Patch)


Teori yang mendasari penataan ruang hutan menuju pembangunan berkelanjutan dimana Di
adalah indeks bentuk dari patch i, P adalah perimeter patch dan A adalah luas patch.
Isolasi sebuah Patch (Isolation of a Patch)

dimana ri adalah indeks isolasi patch i, n adalah jumlah bertetangga yang dipertimbangkan
dan dij adalah jarak antara patch i dan patch tetangganya j.
Isolasi Beberapa Patch (Isolation of Patches)

dimana D adalah indeks isolasi seluruh patch yang ada. Patch-patchdiletakkan pada sebuah
grid dengan koordinat x dan y. Rata-rata lokasi dan ragam (variance) untuk semua patch
dihitung untuk kordinat y, vy masing-masing adalah ragam pada koordinat x dan y.
Aksesibilitas sebuah patch (Accessibility of a Patch)

dimana ai adalah indeks aksesibilitas patch i; dij adalah jarak yang menghubungkan antara
patch i dan patch manapun dari n patch tetangga j.
Interaksi antara patch-patch (Interction among patches)

dimana Ii adalah derajat interaksi dari patch i dengan n patch-patch tetangganya; A adalah
luas patch tetangga j; dan dj adalah jarak antara edges dari patch i dan patch-patch j.
Dispersi Patches (Dispersion of Pacthes)

dimana Rc adalah indeks dispersi; dc adalah jarak rata-rata dari suatu patch (pusatnya atau
centroid) ke patch tetangga terdekatnya; dan adalah kepadatan rata-rata dari patch-patch. Rc
=1 untuk patch-patch tersebar acak; Rc <1 untuk patch-patch menggerombol (aggregat); dan
1 < Rc 2,149 untuk patch-patch tersebar teratur (regularly). Dengan demikian Rc adalah
ukuran penggerombolan (aggregation).
Daftar pustaka
Freemark, K.E. dan H.G. Merriam. 1986. Important of Area and Habitat Heterogenity to Bird
Assemblages in Temperate Forest Fragments. Biological Conservation 36 : 115 -141.

Kushlan, J.A. 1979. Design and Management of Continental Nature Reserves. Lessons from
the Everglades. Biological Conservation 15 : 281-290.

Lord, J.M. dan D.A. Norton. 1990. Scale and the Spatial Concept of Fragmentation.
Conservation Biology 4 : 197-2002.

Lynch, J.F. dan D.F.Whigham. 1984. Effects of Forest Fragmentation on Breeding Bird
Communities in Maryland, USA. Biological Conservation 28 : 287-324.

Morrison, M.L., B.G. Marcot and R.W. Mannan. 1992. Wildlife-Habitat Relationship:
Consepts and Applications. The University of Wisconsisn Press. Madison, Wisconsin.

Wikipedia.org di unduh tanggal : 14 Juli 2014 12.00 WIB






MAKALAH MODEL MATEMATIKA DALAM BIOLOGI
FRAGMENTASI HUTAN DALAM SKALA LANSKAP








NAMA : AHMAD FIRDAUS PERDANA
HELDI GUNAWAN