Anda di halaman 1dari 95

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pencatatan perhitungan kekayaan mulai dibutuhkan sejak manusia mengenali
arti nilai suatu barang dan alat tukar, semenjak mengenal nilai arti suatu barang,
manusia melakukan tukar-menukar barang dengan memperhatikan nilai barang
dan memerlukan pencatatan perhitungan harta kekayaan (Akuntansi), pencatatan
terus berkembang dari waktu ke waktu sampai dengan kemajuan peradaban
manusia.
Pencatatan yang lebih lengkap sejalan dengan perkembangan dunia usaha
muncul dikota Venesia, Italia. Seorang biarawan pakar Matematika yang bernama
Lucas Paciolo pada tahun 1494.
Sisitem akuntansi yang dikemukakan Lucas Paciolo yang berkembang dan
mendasari sistem akuntansi yang adipakai dalam dunia usaha sekarang ini salah
satunya adalah Akuntansi Biaya.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini ,yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan Akuntansi biaya?
2. Apaka sajakah klasifikasi biaya?
3. Bagaimana cara menghitung Harga Pokok Produksi?
2

4. Apa yang di maksud dengan Biaya Bahan Baku?
5. Apa yang di maksud dengan Biaya Tenaga Kerja?
6. Apa yang di maksud dengan Biaya Overhead Pabrik?
7. Apakah perbedaan dari Biaya Overhead Pabrik Tarif langsung dan
Departemenisasi?
8. Bagaimana cara menghitung Harga Pokok Pesanan?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi dari Akuntansi biaya.
2. Memahami pengkalisifikasian Biaya
3. Memahami cara menentukan Harga Pokok Produksi
4. Memahami Biaya Bahan Baku
5. Memahami Biaya Tenaga Kerja
6. Memahami Biaya Overhead Pabrik
7. Dapat membedakan Biaya Overhead Pabrik Tarif langsung dan
Departemenisasi.
8. Memahami cara menentukan Harga Pokok Pesanan

3




AKUNTANSI BIAYA

4

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA

Akuntansi biaya merupakan bagian yang penting dan berhubungan erat
dengan financial accounting. Akuntansi biaya adalah salah satu cabang
akuntansi yang merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam
transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikannya informasi biaya dalam
bentuk laporan biaya. Akuntansi Biaya juga di definisikan sebagai proses
pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan
penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu serta penafsiran
terhadapnya.


B. BIAYA DAN BEBAN

Biaya (cost) berbeda dengan beban (expense), dalam arti luas biaya (Cost)
adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang
telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga pokok yang
dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan.
Sedangkan beban (expense) adalah expired cost yaitu pengorbanan yang
diperlukan atau dikeluarkan untuk merealisasi hasil, beban ini dikaitkan
dengan revenue pada periode yang berjalan.
Pengorbanan yang tidak ada hubungannya dengan perolehan aktiva, barang
atau jasa dan juga tidak ada hubungannya dengan realisasi hasil penjualan,
maka tidak digolongkan sebagai cost ataupun expense tetapi digolongkan
sebagai loss
5

C. KLASIFIKASI BIAYA

1. Elemen produk (harga pokok produk):
a. Bahan baku (direct materials)
Bahan (materials) dibedakan menjadi bahan baku dan bahan
penolong (indirect materials). Bahan baku adalah semua bahan yang
dapat diidentifikasikan dengan produk jadi, yang dapat ditelusur ke
produk jadi, dan yang merupakan bagian terbesar dari biaya produksi.
Bahan penolong adalah semua bahan yang bukan termasuk bahan
baku.
b. Tenaga kerja langsung (direct labor)
Tenaga kerja dapat dibedakan menjadi tenaga kerja langsung (direct
labor) dan tenaga kerja tidak langsung (indirect labor). Tenaga kerja
langsung adalah semua tenaga kerja yang melaksanakan proses
produksi yang dapat ditelusur ke produk jadi dan merupakan bagian
terbesar dari biaya tenaga kerja. Tenaga kerja tidak langsung adalah
semua tenaga kerja yang tidak dapat dipertimbangkan sebagai biaya
tenaga kerja langsung.
c. Overhead pabrik (factory overhead)
Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi selain biaya
bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Oleh karena itu, biaya
overhead pabrik terdiri atas biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja
tidak langsung, dan biaya produksi tidak langsung lainnya.

2. Hubungan dengan produksi:
a. Biaya utama (prime costs)
Biaya utama adalah biaya yang berhubungan langsung dengan
produksi. Biaya utama terdiri atas biaya bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung.
b. Biaya konversi (conversion costs)
Biaya konversi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengubah
bahan baku menjadi produk jadi. Biaya konversi terdiri atas biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

3. Hubungan dengan volume:
a. Biaya variabel (variable costs)
Biaya variabel adalah biaya yang secara total berubah sebanding
dengan perubahan volume kegiatan, sementara secara per unit
jumlahnya tetap.
b. Biaya tetap (fixed costs)
Biaya tetap adalah biaya yang secara total tidak berubah walaupun
terjadi perubahan volume kegiatan, sementara per unitnya berubah jika
volume kegiatan berubah.
6

c. Biaya campuran (mixed costs)
Biaya campuran dapat dibedakan menjadi biaya semivariabel
(semivable costs) dan biaya bertahap (step costs). Biaya semivariabel
adalah biaya yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding dengan
perubahan volume kegiatan. Biaya bertahap adalah biaya yang jumlah
totalnya berubah setelah tercapai jumlah volume kegiatan tertentu.

4. Kemudahan ditelusur:
a. Biaya langsung (direct costs)
Biaya langsung adalah biaya yang dapat ditelusur kepada item atau
area tertentu. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
adalah contoh biaya langsung produksi.
b. Biaya tidak langsung (indirect costs)
Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak dapat ditelusur
kepada item atau area tertentu. Contoh biaya tidak langsung produksi
adalah biaya overhead pabrik.

5. Departemen terjadi:
a. Biaya Departemen produksi (production departement)
Departemen produksi adalah departemen yang secara langsung
menangani proses produksi. Biaya yang terjadi di departemen produksi
terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik
b. Biaya Departemen jasa (service departement)
Departemen jasa adalah departemen yang secara tidak langsung
berhubungan dengan proses produksi. Contoh departemen jasa adalah
Departemen Pemeliharaan. Biaya yang terjadi di departemen jasa
diakui sebagai biaya overhead pabrik.

6. Fungsi perusahaan:
a. Biaya produksi
Biaya produksi adalah biaya yang berhubungan langsung dengan
produksi produk tertentu. Biaya produksi terdiri atas biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik
b. Biaya administrasi
Biaya administrasi adalah biaya yang terjadi dalam rangka
pengarahan, pengendalian, dan pengoperasian perusahaan.
c. Biaya pemasaran
Biaya pemasaran adalah biaya yang terjadi dalam rangka promosi
suatu produk.
d. Biaya keuangan
Biaya keuangan adalah biaya yang berhubungan dengan perolehan
dana untuk operasi perusahaan, misalnya biaya bunga.
7


7. Pembebanan sebagai biaya (period charged to income):
a. Biaya produksi (product costs)
Biaya produksi adalah biaya yang langsung maupun tidak langsung
dapat diidentifikasikan kepada produk tertentu. Biaya produksi terdiri
atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik. Biaya produksi dilaporkan sebagai persediaan sampai
dengan produk yang bersangkutan terjual. Jika produk terjual, biaya
produksi yang terkandung dalam persediaan akan dibebankan sebagai
biaya (expense) yang disebut harga pokok penjualan.
b. Biaya periode (period costs)
Biaya periode adalah semua biaya yang secara langsung maupun
tidak langsung tidak dapat dihubungkan dengan suatu produk. Biaya
periode harus dibebankan sebagai biaya pada periode terjadinya.
Contoh biaya periode adalah semua biaya administrasi, biaya
pemasaran, dan biaya keuangan.

8. Hubungan dengan perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan:
a. Biaya dianggarkan dan standar (standard and budgeted costs)
b. Biaya terkendali dan tak terkendali (controllable and noncontrollable
costs)
c. Biaya committed dan kebijakan (committed and discretionary fixed
costs)
d. Biaya relevan dan tak relevan (relevant and irrelevant costs)
e. Biaya diferensial (differential costs)
f. Biaya kesempatan (opportunity costs)
g. Biaya batas penutupan usaha (shutdown costs)



D. PERBEDAAN AKUNTANSI KEUANGAN, BIAYA DAN
MANAJEMEN

Secara garis besar Akuntansi dibagi menjadi dua, yaitu Akuntansi
Keuangan dan Akuntansi Manajemen, masing-masing memiliki karakteristik
tersendiri dari berbagai dimensi.

Akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan
dengan penyiapan laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang
saham, kreditor, pemasok, serta pemerintah. Prinsip utama yang dipakai
dalam akuntansi keuangan adalah persamaan akuntansi (Aset = Liabilitas +
Ekuitas).

8

Sedangkan Akuntansi Manajemen atau Akuntansi Manajerial adalah
sistem akuntansi yang berkaitan dengan ketentuan dan penggunaan informasi
akuntansi untuk manajer atau manajemen dalam suatu organisasi dan untuk
memberikan dasar kepada manajemen untuk membuat keputusan bisnis yang
akan memungkinkan manajemen akan lebih siap dalam pengelolaan dan
melakukan fungsi kontrol.

Perbedaan Akuntansi Keuangan dengan Akuntansi Manajemen adalah sebagai
berikut:
N
Kriteria

Keuangan Manajemen
1
Pemakai
Para manajer puncak
dan pihak luar
preusan
Para manajer dan berbagai
jenjang organisasi di dalam
perusahaan
2
Lingkup informasi
Perusahaan secara
keseluruhan
Bagian dari perushaaan
3
Fokus informasi
Berorientasi ke masa
lalu
Berorientasi ke masa yang akan
datang
4
Rentang waktu
Kurang fleksibel.
Biasanya mencakup
jangka waktu
kuartalan,
semesteran, dan
tahunan
Fleksibel, bervariasi, dari
harian, mingguan, bulanan
bahkan sampai ada yang 10
tahun sekali
5
Kriteria bagi
informasi akuntansi
Dibatasi oleh prinsip
yang umum dan
diakui / lazim
Tidak ada batasan, kecuali
manfaat yang dapat diperoleh
oleh manajemen dari informasi
dibandingkan dengan
pengorbanan untuk
memperoleh informasi
6
Disiplin ilmu
Ilmu ekonomi Ilmu ekonomi dan psikologi
sosial
7
Isi laporan
Laporan berupa
ringkasan mengenai
perusahaan sebagai
satu kesatuan /
keseluruhan
Laporan bersifat rinci mengenai
bagian dari perusahaan
8
Sifat informasi
Ketepatan informasi
merupakan hal yang
penting
Unsur taksiran informasi adalah
besar.

9

Selain memiliki perbedaan, Akuntansi Keuangan dan Akuntansi
Manajemen juga memiliki beberapa persamaan, antara lain :

1. Sama-sama merupakan pengolah informasi yang menghasilkan informasi
keuangan.
2. Keduanya juga berfungsi sebagai penyedia informasi keuangan sebagai
dasar dalam pengambilan keputusan.

Akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang diperuntukkan bagi
proses pelacakan, pencatatan, dan analisa terhadap biaya-biaya yang
berhubungan dengan aktivitas suatu organisasi untuk menghasilkan barang
atau jasa. Biaya didefinisikan sebagai waktu dan sumber daya yang
dibutuhkan dan menurut konvensi diukur dengan satuan mata uang.
Akuntansi Biaya berbeda dengan Akuntansi Keuangan dan juga
Akuntansi Manajemen. Pada Akuntansi Biaya, pihak yang membutuhkan
laporan adalah manajemen dan juga pihak luar perusahaan. Dan manfaat
Akuntansi Biaya sendiri lebih kepada penentuan harga pokok produk dan
pengendalian

Unsur terpenting yang ada di Akuntansi Biaya adalah:
Anggaran
Pengendalian biaya
Penentuan harga

E. MANFAAT AKUNTANSI BIAYA
Manfaat akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu informasi yang
diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaan, yaitu untuk :
1. Perencanaan dan Pengendalian Laba
Akuntansi biaya menyediakan informasi atau data biaya masa lalu yang
diperlukan untuk menyusun perencanaan, dan selanjutnya atas dasar
perencanaan tersebut, biaya dapat dikendalikan dan akhirnya pengendalian
dapat dipakai sebagai umpan balik untuk perbaikan dimasa yang akan
datang.

2. Penentuan Harga Pokok Produk atau Jasa.
Penetapan harga pokok akan dapat membantu dalam :
10

a. Penilaian persediaan baik persediaan barang jadi maupun barang dalam
proses,
b. Penetapan harga jual terutama harga jual yang didasarkan kontrak,
walaupun tidak selamanya penentuan harga jual berdasarkan harga
pokok,
c. Penetapan laba.

3. Pengambilan Keputusan oleh Manajemen.

F. KETERBATASAN SISTEM AKUNTANSI BIAYA

Tarif pabrik menyeluruh dan tarif departemental telah digunakan
beberapa dekade dan terus digunakan secara sukses. Namun pada beberapa
situasi tarif tersebut menimbulkan distorsi yang dapat membuat stress
perusahaan yang berproduksi dalam lingkungan produksi canggih (advanced
manufacturing environment). Gejala-gejala dari sistem biaya yang ketinggalan
jaman diantaranya sebagai berikut :

1. Hasil dari penawaran sulit dijelaskan
2. Harga pesaing nampak lebih rendah sehingga kelihatan tidak masuk akal.
3. Produk-produk yang sulit diproduksi menunjukkan laba yang tinggi.
4. Manajer operasional ingin menghentikan produk-produk yang kelihatan
menguntungkan.
5. Marjin laba sulit dijelaskan
6. Pelanggan tidak mengeluh atas biaya naiknya harga
7. Departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk memberi data
biaya bagi proyek khusus.
8. Biaya produk berubah karena perubahan peraturan pelaporan




11




HARGA POKOK PRODUKSI



12

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HARGA POKOK PRODUKSI

Informasi biaya bermanfaat untuk penentuan harga pokok produk atau
jasa yang dihasilkan organisasi. Harga pokok produksi merupakan
akumulasi biaya-biaya yang dibebankan pada produk atau jasa yang
dihasilkan perusahaan. Dalam penentuan harga pokok produk atau jasa,
akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi keuangan.
Penentuan harga pokok produk atau jasa digunakan untuk penghitungan
laba atau rugi perusahaan yang akan dilaporkan kepada pihak eksternal
perusahaan. Informasi mengenai harga pokok produk atau jasa juga menjadi
dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan harga jual produk atau
jasa yang bersangkutan, sehingga akuntansi biaya dalam hal ini sebagai
akuntansi manajemen.
Biaya (cost) adalah pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik
yang telah, sedang, maupun yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu
produk. Istilah harga pokok dipakai untuk menyebut penggunaan berbagai
sumber ekonomi yang digunakan untuk menghasilkan produk atau
memperoleh aktiva. Misal untuk menghasilkan produk disebut harga pokok
produksi; untuk memperoleh mesin/kendaraan disebut harga pokok
mesin/kendaraan.
Istilah biaya dapat juga digunakan untuk menyebutkan harga pokok
produksi dari barang yang laku dijual (harga Tata Hitung Ongkos Penentuan
Harga Pokok Produk pokok penjualan), dan alokasi harga pokok aktiva tetap
setiap periode (tahun) selama umur kegunaan aktiva tetap atau dikenal dengan
sebutan biaya depresiasi aktiva tetap.
13

Istilah penjualan atau pendapatan digunakan untuk menyatakan nilai
satuan uang dari penjualan produk (penjualan) atau penjualan jasa
(pendapatan). Jika antara penjualan dibandingkan dengan harga pokok
penjualan atau antara pendapatan dengan biaya, maka selisihnya disebut laba
atau rugi.


B. UNSUR-UNSUR HARGA POKOK PRODUKSI
Menurut beberapa ahli terdapat 3(tiga) unsur-unsur harga pokok produksi.
Mengacu pada pendapat Rayburn (1999), unsur-unsur harga pokok produksi
terdiri dari:

1. Bahan Langsung (Direct Material)
Adalah setiap bahan baku yang menjadi bagian yang tak terpisahkan
dari produk jadi. Sebagai contoh, dalam membuat pakaian pria, kain
merupakan bahan langsung.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
Adalah upah yang diperoleh pekerja yang mengubah bahan dari
keadaan mentah menjadi produk jadi. Sebagai contoh, upah yang
dibayarkan kepada pekerja pabrik pakaian yang memotong kain dan
menjahit hasil potongan tersebut adalah biaya tenaga kerja langsung.

3. Overhead Pabrik
Terkadang biaya ini disebut sebagai overhead produksi (manufacturing
overhead) atau beban pabrik (factory burden). Overhead pabrik mencakup
semua biaya produksi selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
Penekanannya disini adalah pada istilah biaya produksi. Sebagai contoh,
upah pengendali persediaan adalah overhead pabrik. Namun, gaji seorang
tugas penjualan merupakan beban pemasaran. Contoh-contoh overhead
pabrik terdiri dari:
a. Bahan tidak langsung (indirect materials), yaitu perlengkapan operasi,
reparasi, dan kebersihan yang digunakan dalam pabrik. Bahan tidak
langsung bisa juga termasuk jenis-jenis biaya bahan yang kecil dan
tidak signifikan di mana biaya bahan itu relatif kecil dibandingkan
14

dengan semua biaya bahan baku lainnya, seperti benang yang
digunakan dalam menjahit pakaian.
b. Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor), yaitu pengawas
pabrik dan pekerja terlatih lainnya serta tidak terlatih lainnya, seperti
pesuruh, petugas reparasi, dan pengawas yang secara nyata tidak
mengerjakan produk dan hasil usaha mereka tidak mudah ditelusuri ke
produk jadi.
c. Biaya lainnya diluar biaya bahan tidak langsung dan biaya tenaga kerja
tidak langsung, seperti, biaya sewa, pajak, asuransi, penyusutan atas
fasilitas pabrik dan tenaga listrik yang digunakan dalam fasilitas
pabrik.

C. METODE PENGUMPULAN BIAYA PRODUKSI
Sesuai dengan sifat proses produksi suatu perusahaan, maka proses
pengumpulan biaya produksi dalam penentuan harga pokok produk dapat
dikelompokkan menjadi dua metode:
1. Metode harga pokok pesanan (Job Order Costing);
Pengumpulan biaya produksi yang diterapkan pada perusahaan
yang menghasilkan produk atas dasar pesanan. Karakteristik:
a) Harga pokok produk dihitung untuk tiap produk pesanan
b) Penentuan harga pokok tiap produk pesanan dilakukan setelah
produk selesai dikerjakan.
c) Harga pokok per unit produk pesanan dihitung dengan membagi
harga pokok produk pesanan dengan jumlah unit produk pesanan
bersangkutan
2. Metode harga pokok proses;
Pengumpulan biaya produksi yang diterapkan pada perusahaan
yang menghasilkan produk secara massa. Karakteristik:
a) Harga pokok produk dihitung berdasarkan periode tertentu
(umumnya satu bulan).
b) Penentuan harga pokok tiap produk pesanan dilakukan pada akhir
perioda tertentu.
15

c) Harga pokok per unit produk dihitung dengan cara membagi harga
pokok produk selesai dengan jumlah unit produk selesai, dalam
perioda yang bersangkutan.


Proses pengolahan data biaya dipengaruhi oleh sifat proses produksi
perusahaan. Ditinjau dari segi sifatnya, proses produksi dibedakan menjadi:
1. Proses produksi kontinyu (Continues Process);
Proses produksi kontinyu tidak memerlukan waktu set-up yang lama
karena proses ini memproduksi secara terus menerus jenis produk yang
sama dalam jumlah yang besar. Sekali set up produksi digunakan dalam
jangka panjang. Menggunakan mesin special purpose. Tidak diperlukan
operator dengan skill tinggi dan Tata Hitung Ongkos Penentuan Harga
Pokok Produk hanya perlu dalam jumlah yang sedikit karena mesin
cenderung otomatis. Tapi perlu perawatan khusus oleh ahli yang
berpengalaman. Persediaan bahan mentah rendah.
Pemindahan bahan biasanya menggunakan tenaga mesin seperti
conveyor (ban berjalan). Konsekuensinya bila salah satu mesin atau alat
rusak maka seluruh proses terhenti. Contoh pabrik susu instant, farmasi,
cat, gula, automotif. Proses produksi ini mempunyai pola yang pasti.
Urutan proses produksinya relatif samadan berlangsung terus menerus
sesuai dengan rencana produksi yang ditetapkan.
2. Proses produksi terputus (intermittent process/discrete system);
Proses produksi terputus memerlukan total waktu set-up yang lebih
lama karena memproduksi berbagai jenis spesifikasi barang sesuai
pesanan konsumen dalam volume rendah. Dengan pergantian jenis barang
yang diproduksi maka membutuhkan kegiatan set-up yang berbeda.
Menggunakan mesin general purpose. Perlu operator dengan skill tinggi
16

dalam jumlah besar. Butuh pengawasan yang lebih lebih dibanding proses
kontinyu. Persediaan bahan mentah tinggi.
Pemindahan bahan biasanya menggunakan tenaga manusia seperti
kereta dorong atau forklift, serta perlu ruang gerak dan ruang tempat
bahan dalam proses yang besar. Contoh bengkel, karoseri, percetakan,
konstruksi. Proses produksi ini tidak mempunyai pola yang pasti. Urutan
proses produksinya selalu berubah sesuai spesifikasi produk yang
dihasilkan.
3. Proses produksi repetitif;
Proses produksi repetitif kombinasi proses kontinyu dan proses
terputus. Menggunakan modul-modul yang telah disiapkan sebelumnya.
Contoh: restoran burger.
Sedang menurut tujuan operasinya, sistem produksi dikelompokkan
menjadi:
1. Engineering To Order (ETO),
yaitu bila pemesan minta produsen membuat produk mulai dari
proses perancangan (rekayasa).
2. Assembly To Order (ATO),
yaitu bila produsen sudah membuat desain standar, modul opsional
standar. Dan produsen merakit suatu kombinasi tertentu dari modul yang
telah ada sesuai pesanan. konsumen atau agen. Ada modul standar yang
siap dirakit untuk berbagai tipe produk. Contoh: pabrik mobil
menyediakan pilihan transmisi manual atau otomatis, AC, warna atau
model.
2. Make To Order (MTO),
yaitu bila produsen menyelesaikan item akhirnya jika dan hanya jika
menerima pesanan konsumen untuk item tersebut. MTO mempunyai
17

rentang spesifikasi pemesanan yang luas. Siklus produksi dimulai dari
pemesanan oleh konsumen, pembuatan desain, memesan material yang
tidak ada, pengerjaan, pesanan diantar ke konsumen, dan siklus diakhiri
dengan pembayaran oleh konsumen. Kunci pengukuran kinerja MTO
adalah waktu yang dihabiskan untuk merancang dan membuat produk,
atau dengan persentase penyelesaian pesanan tepat waktu. Proses MTO
dapat menyediakan tingkat variasi produk yang lebih tinggi dan lebih
fleksibel.
3. Make To Stock (MTS),
yaitu bila produsen membuat item yang diselesaikan dan ditempatkan
sebagai persediaan sebelum pesanan konsumen diterima. Item akhir akan
dikirim dari sistem persediaan setelah pesanan konsumen diterima. Jadi
produk sudah standar dibuat oleh produsen. Tugas utama manajemen
dalam hal ini adalah meramalkan, mengelola persediaan, dan
merencanakan kapasitas.
Siklus produksi dimulai dari produsen menetapkan produk yang akan
dibuat, lalu konsumen meminta produk dari persediaan. Jika produk ada,
produk disampaikan pada konsumen, dan diakhiri dengan pembayaran
oleh konsumen. Jika produk tidak ada, produsen menjanjikan untuk
memproduksi atau pemesanan batal. Kunci pengukuran kinerja MTS
adalah persentase pemenuhan pesanan dari persediaan. Tujuan MTS ini
adalah memberi layanan dengan kos yang minimal.


D. METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI.
Untuk menghitung unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi.
Terdapat dua pendekatan,yang dapat digunakan,yaitu :
18

1. Full Costing
Full Costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi
yang memperhitungkan semua unsure biaya produksi kedalam harga
pokok produksi baik yang bersifat variabel maupun tetap. Metode ini
juga dikenal dengan Absortion atau Conventional Costing.
Harga Pokok Produksi (Metode Full costing)
Biaya bahan baku Rp. xxx.xxx
Biaya tenaga kerja langsung Rp. xxx.xxx
Biaya overhead pabrik tetap Rp. xxx.xxx
Biaya overhead pabrik variabel Rp. xxx.xxx
Harga Pokok Produk Rp. xxx.xxx
Dengan menggunakan Metode Full Costing, maka:
1. Biaya Overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap,
dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di
muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead yang
sesungguhnya.
2. Selisih BOP akan timbul apabila BOP yang dibebankan berbeda
dengan BOP yang sesungguh- nya terjadi.

19

Catatan :
- Pembebanan BOP lebih (overapplied factory overhead), terjadi
jika jml BOP yang dibebankan lebih besar dari BOP yang
sesungguhnya terjadi.
- Pembebanan BOP kurang (underapplied factory overhead),
terjadi jika jml BOP yang dibebankan lebih kecil dari BOP
yang sesungguhnya terjadi.
3. Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut belum laku
dijual, maka pembebanan biaya overhead pabrik lebih atau kurang
tsb digunakan untuk mengurangi atau menambah harga pokok
yang masih dalam persediaan (baik produk dalam proses maupun
produk jadi)
4. Metode ini akan menunda pembebanan biaya overhead pabrik
tetap sebagai biaya samapi saat produk yang bersangkutan dijual.
2. Variable Costing.
Variable Costing merupakan suatu metode penentuan harga pokok
produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi variabel saja.
Dikenal juga dengan istilah : direct costing
Harga Pokok Produksi (Metode Variable Costing)
Biaya bahan baku Rp. xxx.xxx
Biaya tenaga kerja langsung Rp. xxx.xxx
Biaya overhead pabrik variabel Rp. xxx.xxx
Harga Pokok Produk Rp. xxx.xxx
20

Dengan menggunakan Metode Variable Costing, maka:
1. Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs
dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya
overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode
terjadinya.
2. Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP
tetap tidak melekat pada persediaan tersebut tetapi langsung
dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.
3. Penundaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan
penundaan tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya
yang sama periode yang akan datang.

E. FUNGSI MENGHITUNG HARGA POKOK PRODUKSI

1. Harga pokok sebagai penetapan harga jual.
Harga pokok merupakan hal penting yang perlu diketahui oleh
perusahaan karena harga pokok dapat memberikan pengaruh terhadap
penentuan harga jual produk tertentu.

21

2. Harga pokok sebagai dasar penetapan laba.
Apabila perusahaan telah membuat perhitungan harga pokok maka
perusahaan dapat menetapkan laba yang diharapkan yang akan
mempengaruhi tingkat harga jual suatu produk tertentu.
3. Harga pokok sebagai dasar penilaian efisiensi.
Harga pokok dapat dijadikan dasar untuk mengontrol pemakaian
bahan, upah dan biaya produksi tidak langsung. Hal ini dapat dilakukan
dengan menetapkan harga pokok standar terlebih dahulu dan kemudian
membandingkan dengan harga pokok yang aktual atau yang sebenarnya
terjadi.
Apakah terdapat selisih antara perhitungan kedua harga pokok
tersebut, apabila ada selisih negatif berarti proses produksi yang
dilaksanakan belum efisien dan perusahaan perlu menngetahui penyebab
terjadinya selisih tersebut, sehingga dapat diambil tindakan koreksi untuk
memperbaiki kesalahan tersebut sedangkan bila ada selisih positif maka
perlu ditelusuri terlebih lanjut atas selisih tersebut apakah karena
perusahaan telah menjalankan proses produksi secara efisien atau
perhitungan harga pokok standar yang kurang tepat.

4. Harga pokok sebagai dasar pengambilan berbagai keputusan manajemen.
Harga pokok merupakan suatu pedoman penting sekaligus sebagai
suatu dasar untuk pengambilan keputusan khusus perusahaan, misalnya:
a. Menetapkan perubahan harga penjualan.
b. Menetapkan penyesuaian proses produksi.
22

c. Menetapkan strategi persaingan di pasaran luas.
d. Merencanakan ekspansi perusahaan.
e. Pengambilan keputusan-keputusan khusus manajemen, seperti apakah
akan membeli atau membuat sendiri suatu suku cadang, apakah
menerima suatu pesanan khusus dengan harga khusus atau tidak.



23




BAHAN BAKU
24

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN BAHAN BAKU
Bahan baku (raw material) adalah bahan yang digunakan dalam membuat
produk dimana bahan tersebut secara menyeluruh tampak pada produk jadinya
(atau merupakan bagian terbesar dari bentuk barang ). Bahan baku merupakan
bahan yang secara menyeluruh membentuk produk selesai dan dapat
diidentifikasikan secara langsung pada produk yang bersangkutan. Pengertian
bahan baku dapat meluas meliputi juga bahan-bahan yang digunakan untuk
memperlancar proses produksi.
Biaya bahan baku (raw material cost) adalah seluruh biaya untuk memperoleh
sampai dengan bahan siap untuk digunakan yang meliputi harga bahan, ongkos
angkut, penyimpanan dan lain-lain.
Biaya bahan baku merupakan komponen biaya yang terbesar dalam pembuatan
produk jadi. Dalam perusahaan manufaktur, bahan baku diolah menjadi produk
jadi dengan mengeluarkan biaya konversi. Bahan yang digunakan untuk produksi
diklasifikasikan menjadi:
1. Bahan baku (bahan langsung)
Bahan langsung yaitu bahan yang digunakan untuk produksi yang dapat
diidentifikasikan ke produk. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
merupakan biaya utama (prime cost) yang dibebankan kepada persediaan
produk dalam proses.
2. Bahan pembantu (bahan tidak langsung).
Bahan tidak langsung meliputi semua bahan yang bukan merupakan bahan
baku. Biaya bahan tidak langsung dibebankan pada biaya overhead pabrik saat
bahan tersebut digunakan untuk produksi. Contoh untuk memproduksi kue
25

dibutuhkan bahan baku berupa tepung dan gula sedangkan bahan tidak
langsungnya berupa bahan pewarna.
B. UNSUR BIAYA YANG MEMBENTUK HARGA POKOK BAHAN BAKU
YANG DIBELI
Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari
pembelian lokal, pembelian impor atau dari pengolahan sendiri. Dalam
memperoleh bahan baku dari pembelian, perusahaan tidak hanya mengeluarkan
biaya sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi mengeluarkan biaya-biaya lain
yang berhubungan dengan perolehan bahan baku tersebut, seperti biaya
pengangkutan dan biaya pergudangan. Elemen harga pokok bahan baku menurut
standar akuntansi yang lazim adalah semua biaya yang terjadi untuk memperoleh
dan menempatkan bahan baku sampai dengan siap untuk diolah. Dengan demikian
harga pokok bahan baku yang dibeli terdiri dari harga beli (harga yang tercantum
dalam faktur pembelian) ditambah biaya-biaya pembelian dan biaya-biaya untuk
menempatkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap diolah. Biaya-biaya
pembelian dan penempatan bahan baku meliputi ongkos angkut pembelian, biaya
pesan (order cost), biaya penerimaan bahan baku, biaya pembongkaran, biaya
pemeriksaan bahan baku dan penggudangan.
Apabila dalam pembelian bahan baku, pemasok memberikan potongan baik
potongan rabat maupun potongan tunai, maka potongan pembelian ini
diperlakukan sebagai pengurang harga pokok bahan baku yang dibeli. Dalam
praktik seringkali perusahaan harus membayar biaya angkut pembelian untuk
berbagai macam bahan baku yang dibeli, maka biaya angkut pembelian ini dapat
diperlakukan sebagai:
1. Tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli
2. Sebagai unsur biaya overhead pabrik.
Apabila biaya angkut pembelian diperlakukan sebagai tambahan harga pokok
bahan baku yang dibeli, maka alokasi biaya angkut kepada masing-masing jenis
bahan baku yang dibeli dapat didasarkan pada perbandingan kuantitas tiap jenis
26

bahan baku yang dibeli. Selain itu alokasi biaya angkut dapat juga
diperbandingkan dengan harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli atau
diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli berdasarkan tarif yang
ditentukan di muka.
Sebagai contoh, pada tanggal 15 Pebruari 1998 perusahaan membeli bahan
baku 500 kg dengan harga Rp5.000,- per kg. dengan syarat 2/10, n/30, kemudian
perusahaan melunasi kewajiban atas pembelian tanggal 15 Pebruari 1998 tersebut
pada tanggal 22 Pebruari 1998, disamping itu perusahaan harus mengeluarkan
biaya angkut pembelian Rp25.000. Jurnal yang harus dibuat perusahaan adalah:

Tanggal 15/2/1998
Pembelian/Persediaan bahan baku Rp2.500.000
Utang dagang Rp2.500.000

Tanggal 22/2/1998
Biaya angkut pembelian Rp 25.000
Kas Rp 25.000
Utang dagang Rp2.500.000
Kas Rp2.450.000
Potongan Pembelian Rp 50.000

C. PROSEDUR PEROLEHAN DAN PENGGUNAAN BAHAN BAKU
Meskipun proses produksi dan kebutuhan bahan baku bervariasi sesuai dengan
ukuran dan jenis industri dari perusahaan, pembelian dan penggunaan bahan baku
biasanya meliputi langkah-langkah berikut :
1. Untuk setiap produk atau variasi produk, insinyur menentukan rute (routing)
untuk setiap produk, yang merupakan urutan operasi yang akan dilakukan, dan
sekaligus menentukan daftar bahan baku yang diperlukan (bill of materiala),
27

yang merupakan daftar kebutuhan bahan baku untuk setiap langkah dalam
urutan operasi tersebut.
2. Anggaran produksi menyediakan rencana utama, dari mana rincian mengenai
kebutuhan bahan baku dikembangkan.
3. Bukti permintaan pembelian menginformasikan agen pembelian mengenai
jumlah dan jenis bahan baku yang dibutuhkan.
4. Pesanan pembelian merupakan kontrak atas jumlah yang harus dikirimkan.
5. Laporan penerimaan mengesahkan jumlah yang diterima, dan mungkin juga
melaporkan hasil pemeriksaan dan pengujian mutu.
6. Bukti permintaan bahan baku memberikan wewenang bagi gudang untuk
mengirimkan jenis dan jumlah tertentu dari bahan baku ke departemen tertentu
pada waktu tertentu.
7. Kartu catatan bahan baku mencatat setiap penerimaan dan pengeluaran setiap
jenis bahan baku dan berguna sebagai catatan persediaan perpetual.
Pembelian dan pengguanaan bahan baku melibatkan catatan elektronik atau
dalam bentuk kertas yang diperlukan untuk akuntansi keuangan umum; yaitu
untuk menghitung biaya suatu pesanan, atau departemen, dan untuk memelihara
persediaan perpetual.

D. METODE PENCATATAN BIAYA BAHAN BAKU
Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam
produksi, yaitu:
1. Metode Mutasi Persediaan (Perpetual Inventory Method)
Dalam metode ini hanya tambahan persediaan bahan saja yang dicatat
sedang mutasi berkurangnya bahan tidak dicatat untuk mengetahui bahan baku
yang diperoleh , harus menghitung persediaan bahan baku digudang pada
akhir periode akuntansi. Harga pokok persediaan awal ditambah Harga pokok
pembelian dikurang Harga pokok persediaan akhir yang ada digudang
28

merupakan biaya bahan baku yang dipakai selama periode akuntansi. Metode
mutasi persediaan cocok digunakan dalam perusahaan yang harga pokok
produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.
Bila digunakan inventarisasi permanen/perpetual metode penentuan harga
pokok bahan yang dipakai dan nilai persediaan akhir adalah :
a. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama( MPKP )
b. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama ( MTKP )
c. Metode rata-rata bergerak ( Average Methode )

2. Metode Persediaan Fisik (Physical Inventory Method).

Dalam metode ini setiap mutasi dicatat dalam kartu persediaan . Pembelian
dicatat dalam kolom Beli di kartu persediaan ,pemakaian dicatat dalam kolom
pakai di kartu persediaan dan jumlah bahan yang tersedia digudang dapat
dilihat dalam kolom sisa di kartu persediaan. Metode persediaan fisik cocok
digunakan dalam penentuan biaya bahan baku dalam perusahaan yang harga
pokok produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok proses.
. Bila digunakan inventarisasi/metode fisik maka metode penentuan harga
pokok pemakaian dan nilai persediaan akhir bahan adalah sebagai berikut:
a. Metode Masuk pertama keluar pertama ( MPKP/FIFO )
b. Metode masuk terakhir keluar pertama ( MTKP/LIFO )
c. Metode rata-rata tertimbang
d. Metode rata rata sederhana
e. Metode identifikasi khusus


E. METODE PENILAIAN ATAS BAHAN BAKU
Ada beberapa metode penilaian terhadap bahan baku diantaranya :
1. Pertama Masuk Pertama Keluar (FI FO)
29

Metode ini didasarkan anggapan bahwa bahan yang pertama kali dipakai
dibebani dengan harga perolehan persatuan dari bahan yang pertama kali
masuk kegudang bahan,atau harga perolehan bahan persatuan yang pertama kali
masuk kegudang bahan akan digunakan untuk menentukan harga perolehan
persatuan bahan yang pertama kali disusul harga perolehan per satuan bahan
yang dipakai pertama kali ,disusul harga perolehan persatuan yang masuk
berikutnya.

2. Metode Rata-Rata (Weighted Average Method)
Dalam metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga
pokok rata-ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah
satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga pokok per satuannya
berbeda dengan harga pokok rata-rata persediaan yang ada di gudang, harus
dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan yang baru.
Bahan baku yang di pakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya
dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga
pokok rata-rata per satuan harga bahan baku yang ada di gudang. Metode ini
disebut pula dengan metode rata-rata tertimbang, karena dalam menghitung
rata-rata harga pokok persediaan bahan baku, metode ini menggunakan
kuantitas bahan baku sebagai angka penimbangnya.
Harga perolehan Rata-rata persatuan =


Didalam kartu kartu persediaan dengan metode ini setiap terjadi tambahan
bahan dan ada bahan yang dipakai memiliki harga perolehan persatuan bahan
yang paling baru.
3. Metode Terakhir Masuk , Pertama Keluar (LI FO)
Metode ini berdasarkan anggapaan bahwa bahan yang pertama kali dipakai
dibebani dengan harga perolehan persatuan bahan dari yang terakhir masuk
30

,disusul dengan harga perolehan bahan persatuan yang masuk sebelumnya dan
seterusnya.

4. Metode Persediaan Dasar
Metode ini didasarkan atas anggapan bahwa persediaan minimum atas
bahan harus dimiliki perusahaan pada setiap saat agar kegiatan kontinyu. Pada
umumnya metode persediaan dasar menggunakan metode Lifo .

5. Metode Identifikasi Khusus (Specifik Identification Method).
Setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi tanda pada harga
pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap pembelian bahan
baku yang harga pokok per satuannya berbeda dengan harga per satuan bahan
baku yang ada di gudang harus dipisahkan penyimpanannya dan diberi tanda
pada harga bahan tersebut.
Kesulitan yang timbul adalah terletak pada penyimpanan bahan baku di
gudang. Meskipun jenis bahan baku sama, namun jika harga pokok per satuan
berbeda, bahan baku tersebut harus disimpan secara terpisah, agar mudah dalam
identifikasinya. Metode ini merupakan metode yang paling teliti dalam
penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, namun sering
kali tidak praktis.

6. Metode Biaya Standart.
Bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standar
(standard price), yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang
diharapkan akan terjadi pada masa yang akan datang. Harga standar merupakan
harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu. Jurnal yang dibuat saat
pembelian bahan baku sebagai berikut:
Persediaan Bahan Baku xxx
Selisih Harga xxx
31


Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar
Selisih Harga xxx
Utang Dagang xxx

Selisih harga standar dengan harga sesungguhnya tampak dalam rekening
Selisih Harga. Setiap akhir bulan saldo rekening Selisih Harga dibiarkan tetap
terbuka, dan disajikan dalam laporan keuangan bulanan. Hal ini dilakukan
karena saldo rekening Selisih Harga setiap akhir bulan mungkin saling
mengkompensasi, sehingga pada akhir tahun saldo rekening Selisih harga perlu
ditutup ke rekening lain. Pemakaian bahan baku dalam produksi dicatat sebesar
hasil kali kuantitas bahan baku sesungguhnya yang dipakai dengan harga
standarnya.

7. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku pada Akhir Bulan.
Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan perhitungan harga pokok
rata-rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang. Harga
pokok rata-rata per satuan ini kemudian digunakan untuk menghitung harga
pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dalam bulan berikutnya.
Contoh Soal:
Contoh MetodeFisik:
Data persediaan bahan, pembelian, dan pemakaian bahan dari suatu perusahaan
pada bulan september 2000 adalah sebagai berikut :

1/9 Persediaanawal 1.000kg @ 1.500,00/kg Rp 1.500.000,00
4/9 Pembelian 600kg @ 1.200,00/kg Rp 720.000,00
Pemakaian 10/9 1.400kg @ 1.350,00/kg Rp 1.890.000,00
Jumlah 3.000kg Rp 4.110.000,00
32

15/9 Pemakaian bahan untuk proses produksi sebesar 1.600 kg

Dari data diatas hitunglah besarnya harga pokok bahan baku yang di pakai dan
nilai persediaan akhir bahan baku pada tanggal 15 september 2000 dengan
menggunakan metode fisik [ FIFO, LIFO, Moving Average Method, metode biaya
standart, metode identifikasi khusus ( dari tgl 4/9 dansisapembeliantgl 10/9)].
Jawab :

Metode MPKP/FIFO
Pemakaian 1/9 1.000 X Rp 1.500,00 = Rp 1.500.000,00
Pemakaian 4/9 600 X Rp 1.200,00 = Rp 720.000,00
Harga pokok pemakaian = Rp 2.220.000,00

Nilai persediaan akhir = Rp 4.110.000,00 Rp 2.220.000,00 = Rp 1.890.000,00

Metode MTKP/LIFO
Pemakaian 10/9 1.400 X Rp 1.350,00 = Rp 1.890.000,00
Pemakaian 4/9 200 X Rp 1.200,00 = Rp 240.000,00
Harga pokok pemakaian = Rp 2.130.000,00

Nilai persediaan akhir = 1.000 X Rp1.500,00 = Rp 1.500.000,00
400 X Rp1.200,00 = Rp 480.000,00
Rp 1.980.000,00

Metode rata rata tertimbang
Jumlah barang yang tersedia untuk di produksi sebanyak 3.000 kg
1/9 1.000 X Rp 1.500,00 = Rp 1.500.000,00
4/9 600 X Rp 1.200,00 = Rp 720.000,00
33

15/9 1.400 X Rp 1.350,00 = Rp 1.890.000,00
= Rp 4.110.000,00

Harga rata rata =


= Rp 1.370,00
Harga pokok pemakaian= 1.600 X Rp 1.370,00 = Rp 2.192.000,00

Nilai persediaan akhir =Rp 4.110.000,00 Rp 2.192.000,00 = Rp 1.918.000,00

Metode Rata Rata Sederhana
Harga rata rata =


Harga pokok pemakaian tgl 15/9 = 1.600 x Rp1.350,00 =Rp 2.160.000,00

Nilai persediaan akhir =Rp 4.110.000,00 - Rp 2.160.000,00 = Rp 1.950.000,00

Metode Tanda Pengenal Khusus
Bahan yang di pakai berasal dari pembelian tanggal 4/9 600 kg dan sisa
pembelian tanggal 10/9
4/1 600 x Rp1.200,00 = Rp 720.000,00
10/9 1.000 xRp 1.350,00 = Rp 1.350.000,00
= Rp 2.070.000,00
Nilai persediaan akhir tanggal 15 september adalah :
Persediaan 1/9 1.000 x Rp1.500,00 = Rp 1.500.000,00
10/9 400 x Rp 1.350,00 = Rp 540.000,00
1.400 = Rp 2.040.000,00

34



Contoh 2 Metode Perpetual :

PT. Lembayung merupakan perusahan industri yang bergerak dalam bidang
Pembuatan tempeyang mempunyai data persediaan bahan baku berupa Kacang
kedelai kualitas A pada tanggal 1 Agustus 2005 terdiri dari :
- 5000 Kg. @Rp2.000,- = Rp10.000.000
- 7000 Kg. @Rp 2.050,- = Rp14.350.000
Transaksi pembelian dan pemakaian bahan baku selama bulan agustus 2005adalah
sebagaiberikut :

Agustus 05, Pembelian 10.000 Kg @Rp2.100,-
07, Pemakaian 6.000 Kg
12, Pemakaian 9.000 Kg
19, Pembelian 12.000 Kg @Rp2.060,-
20, Pemakaian 7.500 Kg



35

Jawab :
1. Metode masuk pertama keluar pertama (MPKP)
contoh kartu persediaan MPKP



Jadi harga pokok bahan baku yg dipakai untuk proses produksi sebesar
Rp46.390.000


Tanggal
Unit Harga Jumlah Unit Harga Jumlah Unit Harga Jumlah
Agsts. 1 5.000 2.000 10.000.000
5 7.000 2.050 14.350.000
10.000 2.100 21.000.000 5.000 2.000 10.000.000
7.000 2.050 14.350.000
10.000 2.100 21.000.000
7 5.000 2.000 10.000.000 6.000 2.050 12.300.000
1.000 2.050 2.050.000 10.000 2.100 21.000.000
12 6.000 2.050 12.300.000 7.000 2.100 14.700.000
3.000 2.100 6.300.000
19 12.000 2.060 24.720.000 7.000 2.100 14.700.000
12.000 2.060 24.720.000
20 7.000 2.100 14.700.000 11.500 2.060 23.690.000
500 2.060 1.030.000
45.720.000 46.390.000
Pembelian Pemakaian Saldo
36

2. Metode masuk terakhir keluar pertama (MTKP)
Contoh kartu persediaan MTKP




Jadi harga bahan baku yg dipakai untuk proses produksi adalah Rp
46.700.000


F. PROSEDUR PENGAWASAN BAHAN BAKU
Menurut Ralph S. Polimeni, Frank J. Fabozzi & Kathlenen Villani, (p.28-29)
terdapat lima prosedur pengawasan bahan baku yang dapat digunakan untuk
Tanggal
Unit Harga Jumlah Unit Harga Jumlah Unit Harga Jumlah
Agsts. 1 5.000 2.000 10.000.000
7.000 2.050 14.350.000
5 10.000 2.100 21.000.000 5.000 2.000 10.000.000
7.000 2.050 14.350.000
10.000 2.100 21.000.000
7 6.000 2.100 12.600.000 5.000 2.000 10.000.000
7.000 2.050 14.350.000
4.000 2.100 8.400.000
12 4.000 2.100 8.400.000 5.000 2.000 10.000.000
5.000 2.050 10.250.000 2.000 2.050 4.100.000
19 12.000 2.060 24.720.000 5.000 2.000 10.000.000
2.000 2.050 4.100.000
12.000 2.060 24.720.000
20 7.500 2.060 15.450.000 5.000 2.000 10.000.000
2.000 2.050 4.100.000
4500 2.060 9.270.000
45.720.000 46.700.000
Pembelian Pemakaian Saldo
37

menjamin agar biaya persediaan bahan baku minimum dan kegiatan produksi tidak
terganggu karena kehabisan bahan yaitu:
1. Order cycling.
Prosedur pengendalian bahan baku dilakukan secara periodik terhadap
persediaan bahan dan mengadakan pemesanan jika diperlukan.
2. Min-max method.
Prosedur pengendalian bahan baku dilakukan dengan menentukan jumlah
persediaan minimum dan apabila persediaan telah mencapai minimum maka
harus diadakan pemesanan sehingga bahan mencapai jumlah maksimum.
3. Two bin method.
Prosedur pengendalian bahan baku dilakukan dengan membagi persediaan
dalam dua tempat dengan jumlah yang sama. Pemesanan bahan dilakukan
apabila persediaan dalam salah satu tempat telah habis dipakai.
4. Automatic order system.
Prosedur pengawasan bahan baku dilakukan dengan menentukan jumlah
kuantitas pemesanan kembali. Pemesanan dilakukan pada saat kuantitas
persediaan bahan telah mencapai jumlah yang telah ditentukan.
5. ABC Plan.
Prosedur pengendalian bahan baku dilakukan dengan mengklasifikasikan
bahan kedalam tiga golongan menurut besarnya pemakaian bahan dalam satu
periode. Golongan bahan yang mengakibatkan biaya pemakaian bahan terbesar
(A) akan dikendalikan dengan teknik-teknik yang memadai (misal automatic
order quantity). Golongan bahan yang mengakibatkan biaya pemakaian bahan
yang terkecil (C) dikendalikan dengan teknik-teknik yang sederhana. (misal
min-max method), sedangkan karakteristik pemakaian bahan sedang tingkat
pengendalian antara golongan A dan C.


38

G. MASALAH-MASALAH KHUSUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN
BAHAN BAKU
Terdapat beberapa masalah khusus akuntansi biaya bahan baku, yaitu apabila
dalam proses produksi terdapat sisa bahan (scrap material), produk cacat
(defective goods) dan produk rusak (spoiled goods).
1. Sisa Bahan
Scrap materials adalah bahan yang mengalami kerusakan didalam proses
produksi. Perlakuan terhadap sisa bahan sangat tergantung oleh harga jual dari
sisa bahan tersebut. Apabila harga jual sisa bahan rendah biasanya tidak
dilakukan pencatatan sampai saat penjualan, tetapi apabila harga jual sisa bahan
relatif tinggi, maka akan dicatat dalam kartu persediaan pada saat sisa bahan
diserahkan oleh Bagian Produksi ke Bagian Gudang. Hasil penjualan sisa bahan
dapat diperlakukan sebagai:
a. Pengurang biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang
menghasilkan sisa bahan tersebut. Jurnal untuk mencatat penjualan sisa
bahan adalah:
Kas / Piutang dagang xxx
Produk dalam proses biaya bahan baku xxx
b. Pengurang biaya overhead pabrik sesungguhnya. Jurnal untuk mencatat
penjualan sisa bahan adalah:

Kas / Piutang dagang xxx

Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx


c. Penghasilan di luar usaha (other income). Jurnal untuk mencatat penjualan
sisa bahan adalah:

39

Kas / Piutang dagang xxx

Penghasilan lain-lain xxx

2. Produk Rusak
Produk rusak merupakan produk yang tidak memenuhi standar kualitas yang
telah ditetapkan. Produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya
produksi dan secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk baik.
Perlakuan terhadap produk rusak sangat tergantung dari sifat dan penyebab
terjadinya produk rusak, yaitu:
a. Produk Rusak Bersifat Luar Biasa
Apabila penyebab terjadinya produk rusak adalah hal yang bersifat
luar biasa, misalnya sulitnya proses produksi, maka harga pokok produk
rusak akan dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk yang baik
dalam pesanan yang bersangkutan. Apabila produk rusak laku dijual,
maka hasil penjualan produk rusak akan diperlakukan sebagai pengurang
biaya produksi pesanan yang bersangkutan.
b. Produk Rusak Bersifat Normal
Apabila penyebab terjadinya produk rusak adalah hal yang bersifat
normal dalam proses pengolahan produk, maka harga pokok produk rusak
akan dibebankan kepada produksi secara keseluruhan.

3. Produk Cacat
Defective goods adalah produk yang tidak memenuhi standar kualitas yang
telah ditetapkan, produk cacat secara ekonomis dapat diperbaiki menjadi
produk baik dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk
memperbaikinya. Perlakuan biaya pengerjaan kembali produk cacat sangat
tergantung pada penyebab terjadinya produk cacat tersebut, yaitu:
a. Disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tidak normal
40

Apabila disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tidak normal seperti sulitnya
proses produksi, maka biaya pengerjaan kembali produk cacat akan
dibebankan pada pesanan yang bersangkutan.
b. Disebabkan oleh hal yang bersifat normal
Apabila disebabkan oleh hal yang bersifat normal, maka biaya pengerjaan kembali
produk cacat akan dibebankan pada seluruh produksi dengan cara memperhitungkan
biaya pengerjaan kembali kedalam tarif biaya overhead pabrik.


41




BIAYA TENAGA KERJA


42

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja merupakan salah satu biaya konversi, disamping biaya
overhead pabrik untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Menurut
Daljono (2004:40) dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi
menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tak langsung.
Tenaga kerja langsung adalah semua karyawan yang secara langsung ikut
serta memproduksi produk jadi, yang jasanya dapat diukur secara langsung
dengan produk, yang merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk.
Upah tenaga kerja langsung diperlakukan sebagai biaya tenaga kerja langsung
dan diperhitungkan langsung sebagai unsur biaya produksi. Tenaga kerja yang
jasanya tidak secara langsung dapat diusut pada produk disebut tenaga kerja tak
langsung. Upah tenaga kerja tak langsung ini disebut biaya tenaga kerja tak
langsung dan merupakan unsur biaya overhead pabrik. Upah tenaga kerja tak
langsung dibebankan pada produk tidak langsung, tetapi melalui biaya overhead
pabrik yang ditentukan.
Mulyadi (1999:344), menyatakan bahwa biaya tenaga kerja adalah harga yang
dibebankan untuk menggunakan tenaga kerja manusia tersebut. Menurut R.
Soemita Adikousoemo (1999:132) menyatakan bahwa biaya tenaga kerja adalah
merupakan pengeluaran yang diharapkan akan memberi manfaat diwaktu yang
akan datang dalam hubungannya realisasi penghasilan.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat diasumsikan bahwa biaya tenaga
kerja adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang yaitu pengeluaran dalam
bentuk kontan atau dalam bentuk pemindahan kekayaan, jasa yang diserahkan
dalam hubungannya dengan barang dan jasa yang akan diperoleh atau yang akan
dicapai.
43




B. Penggolongan Kegiatan Tenaga Kerja
1. Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi menjadi tiga fungsi
pokok yaitu: produksi, pemasaran, dan administrasi. Oleh karena itu perlu ada
penggolongan dan pembedaan antara tenaga kerja pabrik dan tenaga kerja
nonpabrik. Pembagian ini bertujuan untuk membedakan biaya tenaga kerja
yang merupakan unsur harga pokok produk dari biaya tenaga kerja nonpabrik,
yang bukan merupakan unsur harga pokok produksi, melainkan merupakan
unsur biaya tenaga usaha. Dengan demikian biaya tenaga kerja perusahaan
manufaktur digolongkan menjadi: biaya tenaga kerja produksi, biaya tenaga
kerja pemasaran dan biaya tenaga kerja administrasi & umum. Berikut ini
diberikan beberapa contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap
golongan tersebut:
a. Biaya tenaga kerja produksi:
Gaji karyawan pabrik
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik
Upah lembur karyawan pabrik
Upah mandor pabrik
Gaji manajer pabrik
b. Biaya tenaga kerja pemasaran:
Upah karyawan pemasaran
Biaya kesejahteraan karyawan pemasaran
Biaya komisi pramuniaga
Gaji manajer pemasaran
c. Biaya tenaga kerja administrasi dan umum:
Gaji karyawan Bagian Akuntansi
44

Gaji karyawan Bagian Personalia
2. Penggolongan menurut kegiatan departemen-departemen dalam
perusahaan
Contoh dari departemen ini yaitu departemen produksi suatu perusahaan
kertas terdiri dari tiga departemen: bagian pulp, bagian kertas, dan bagian
Penyempurnaan. Biaya tenaga kerja dalam departemen produksi tersebut
digolongkan sesuai dengan bagian-bagian yang dibentuk dalam perusahaan
tersebut. Tenaga kerja yang bekerja di departemen-departemen nonproduksi
digolongkan pula menurut departemen yang menjadi tempat kerja mereka.
Dengan demikian Biaya Tenaga Kerja di departemen-departemen non
produksi dapat digolongkan menjadi Biaya Tenaga Kerja Bagian Akuntansi,
Biaya Tenaga Kerja Bagian Personalia, dan lain sebagainya. Penggolongan
semacam ini dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya
tenaga kerja yang terjadi dalam tiap departemen yang dibentuk dalam
perusahaan. Kepala departemen yang bersangkutan bertanggung jawab atas
pelaksanaan kerja karyawan dan biaya tenaga kerja yang terjadi dalam
departemennnya.
3. Penggolongan menurut jenis pekerjaannya
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut sifat
pekerjaannya. Misalnya dalam suatu departemen produksi, tenaga kerja
digolongkan sebagai berikut: operator, mandor, dan penyelia (superintendant).
Dengan demikian biaya tenaga kerja juga digolongkan menjadi: upah
operator, upah mandor dan upah penyelia. Penggolongan biaya tenaga kerja
semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah standar
kerja.
4. Penggolongan menurut hubungan dengan produk
Dalam hubungan dengan produk, tenaga kerja di bagi menjadi:
a. Tenaga Kerja Langsung
45

Tenaga Kerja Langsung adalah semua karyawan yang secara langsung
ikut serta memproduksi produk jadi, yang jasanya dapat diusut secara
langsung pada produk, dan yang upahnya merupakan bagian yang besar
dalam memproduksi produk. Upah tenaga kerja langsung diperlakukan
sebagai biaya tenaga kerja langsung dan diperhitungkan langsung sebagai
unsur biaya produksi.


b. Tenaga Kerja Tak Langsung
Tenaga kerja yang jasanya tidak secara langsung dapat diusut pada
produk disebut tenaga kerja tak langsung. Upah tenaga kerja tak langsung
ini disebut biaya tenaga kerja tak langsung dan merupakan unsur biaya
overhead pabrik. Upah tenaga kerja tak langsung dibebankan pada produk
tidak secara langsung, tetapi melalui tarif biaya overhead pabrik yang
ditentukan di muka.

C. Akuntansi Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja dibagi ke dalam 3 aspek yaitu:
1. Gaji dan upah
Ada berbagai macam cara perhitungan upah karyawan dalam perusahaan.
Salah satu cara adalah dengan mengalikan tarif upah dengan jam kerja
karyawan. Dengan demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu
dikumpulkan data jumlah jam kerjanya selama periode waktu tertentu.
Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan,
dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah kartu
hadir (clock card) dan kartu jam kerja (job time ticket). Kartu hadir adalah
suatu catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan, yaitu
jangka waktu antara jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan. Jika jam
kerja perusahaan dimulai jam 07.00 sampai dengan jam 14.00, maka kartu
46

hadir karyawan akan berisi jam kedatangan di perusahaan dan jam pergi dari
perusahaan setiap hari kerja. Jika seorang karyawan hadir di perusahaan dari
jam 07.00 sampai dengan jam 14.00, maka ia hadir di perusahaan selama 7
jam, yang merupakan jam kerja regular perusahaan. Jika karyawan tersebut
bekerja lebih dari 7 jam sehari, kelebihan jam kerja di atas jam kerja reguler
tersebut dinamakan jam lembur. Pada setiap hari minggu, kartu hadir tiap
karyawan dikirim ke bagian pembuat daftar gaji dan upah untuk dipakai
sebagai dasar perhitungan gaji dan upah karyawan per minggu.
Disamping kartu hadir, perusahaan menggunakan kartu jam kerja untuk
mencatat pemakaian waktu hadir karyawan pabrik, dalam mengerjakan
berbagai pekerjaan atau produk. Kartu jam kerja ini biasanya hanya digunakan
untuk mencatat pemakaian waktu hadir tenaga kerja langsung dipabrik. Kartu
jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan waktu yang
tercantum dalam kartu jam hadir dan dikirim ke Bagian Akuntansi Biaya
untuk keperluan distribusi gaji dan upah (labor cost distribution) tenaga kerja
langsung. Kartu jam kerja sangat penting dalam perusahaan yang
menggunakan metode harga pokok pesanan dalam perhitungan harga pokok
produknya. Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok
proses, kartu jam kerja tersebut tidak diperlukan, karena karyawan melakukan
pekerjaan atau membuat produk yang sama dalam departemen tertentu dari
hari ke hari, sehingga distribusi biaya tenaga kerja tidak diperlukan.
Akuntansi biaya gaji dan upah dilakukan dalam empat
tahap pencatatan yaitu:
a. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja

47


Berdasarkan kartu hadir karyawan (baik karyawan produksi,
pemasaran maupun administrasi dan umum), bagian pembuatan daftar
gaji dan upah tersebut kemudian membuat daftar gaji dan upah karyawan.
Dari daftar gaji dan upah tersebut kemudian dibuat rekapitulasi gaji dan
upah untuk mengelompokkan gaji dan upah tersebut menjadi: gaji dan
upah karyawan pabrik, gaji dan upah karyawan administrasi dan umum,
serta gaji dan upah karyawan pemasaran. Gaji dan upah karyawan pabrik
dirinci lagi ke dalam upah karyawan langsung dan karyawan tak langsung
dalam hubungannya dengan produk. Atas dasar rekapitulasi gaji dan upah
tersebut, Bagian Akuntansi kemudian membuat jurnal sebagai berikut:

Jurnal:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja xxx
Biaya Overhead Pabrik xxx
Biaya Administrasi & Umum xxx
Biaya Pemasaran xxx
Gaji dan Upah xxx

b. Pencatatan utang upah dan gaji karyawan


Atas dasar daftar gaji dan upah tersebut Bagian Keuangan membuat
bukti kas keluar dan cek untuk pengambilan uang dari bank. Atad dasar
bukti kas keluar tersebut, Bagian Akuntansi membuat jurnal sebagai
berikut:
Gaji dan Upah xxx
Utang PPh Karyawan xxx
48

Utang Gaji dan Upah xxx
Perusahaan berkewajiban memungut pajak penghasilan (PPh) yang
diperoleh karyawan dan menyetorkannya ke Kas Negara.

c. Pencatatan pembayaran upah kepada karyawan


Setelah cek diuangkan di bank, uang gaji dan upah kemudian
dimasukkan kedalam amplop gaji dan upah tiap karyawan. Uang gaji dan
upah karyawan kemudian dibayarkan oleh juru bayar kepada tiap
karyawan yang berhak. Tiap karyawan menandatangani daftar gaji dan
upah sebagai bukti telah diterimanya gaji dan upah mereka. Setelah tiap
karyawan mengambil gaji dan upahnya, atas dasar daftar gaji dan upah
yang telah ditandatangani karyawan, Bagian Akuntansi membuat jurnal
sebagai berikut:
Jurnal:
Utang gaji dan upah xxx
Kas xxx

d. Penyetoran pajak penghasilan ke kas Negara
Pajak Penghasilan (PPh) karyawan kemudian disetor ke kas Negara.
Jurnal:
Utang PPh Karyawan xxx
Kas xxx

Contoh 1
Misalkan perusahaan X hanya mempekerjakan 2 orang karyawan: Risa
Rimendi dan Eliona Sari. Berdasarkan kartu hadir minggu pertama bulan
April 19X1, bagian pembuat daftar gaji dan upah membuat daftar gaji dan
upah untuk periode yang bersangkutan. Menurut kartu hadir, karyawan
Risa Rimendi bekerja selama seminggu sebanyak 40 jam, dengan upah
49

per jam Rp. 1.000, sedangkan karyawan Eliona Sari selama periode yang
sama bekerja 40 jam dengan tarif upah Rp. 750 per jam. Menurut kartu
jam kerja, penggunaan jam hadir masing-masing karyawan tersebut
disajikan dalam di bawah ini:
Data Jam Kerja Karyawan
Penggunaan Waktu Kerja Risa
Rimendi
Eliona
Sari
Untuk pesanan #103 15 jam 20 jam
Untuk pesanan #188 20 jam 10 jam
Untuk menunggu persiapan
pekerjaan
5 jam 10 jam

Dengan demikian upah karyawan tersebut dihitung sebesar Rp. 70.000
(40 jam x Rp. 1.000 ditambah 40 jam x Rp. 750) dan didistribusikan
seperti disajikan dibawah ini:
Contoh Soal:
Distribusi Upah Tenaga Kerja Langsung
Distribusi Biaya Tenaga Kerja Risa Rimendi Eliona Sari
Dibebankan sebagai biaya tenaga kerja langsung:
Pesanan #103 Rp. 15.000 Rp. 15.000
Pesanan #188 20.000 7.500
Dibebankan sebagai biaya
overhead pabrik
5.000 7.500
50

Jumlah upah minggu pertama
bulan April 19x1
Rp 40.000 Rp. 30.000
PPh yang dipotong oleh
perusahaan 15% dari upah
minggu pertama bulan April
19x1
6.000 4.500
Jumlah upah bersih yang
diterima karyawan
Rp. 34.000 Rp. 25.000
Biaya tenaga kerja yang dibayarkan pada saat karyawan menunggu
pekerjaan disebut dengan titik time cost. Biaya upah yang dikeluarkan
pada saat tenaga kerja menganggur merupakan unsur biaya overhead
pabrik.
Akuntansi biaya gaji dan upah dasar data tersebut di atas dilakukan
sebagai berikut:
a. Tahap 1
Berdasarkan atas rekapitulasi gaji dan upah, Bagian Akuntansi
kemudian membuat jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut:
Barang Dalam Proses Biaya Tenaga Kerja Rp. 57.500
Biaya overhead Pabrik Rp. 12.500
Gaji dan Upah Rp. 70.000
b. Tahap 2
Atas dasar bukti kas keluar, Bagian Akuntansi membuat jurnal
sebagai berikut:
Gaji dan Upah Rp. 70.000
Utang PPh, karyawan Rp. 10.500
Utang Gaji dan Upah Rp. 59.500
c. Tahap 3


51

Atas dasar daftar gaji dan upah yang telah ditandatangani karyawan
(sebagai bukti telah dibayarkannya upah karyawan), Bagian Akuntansi
membuat jurnal berikut:
Utang Gaji dan Upah Rp. 59.500
Kas Rp. 59.500
d. Tahap 4
Penyetoran PPh karyawan ke Kas Negara dijurnal oleh Bagian
Akuntansi sebagai berikut :
Utang PPh Karyawan Rp. 10.500
Kas Rp. 10.500

2. Insentif
Dalam hubungan dengan gaji dan upah, perusahaan memberikan insentif
kepada karyawan agar dapat bekerja lebih baik . Insentif dapat didasarkan atas
waktu kerja, hasil yang diproduksi atau kombinasi diantara keduanya. Ada
beberapa cara pemberian insentif yaitu:
a. Insentif Satuan dengan Jam Minimum (Straight Piecework with a
Guaranted Hourly Minimun Plan)
Karyawan dibayar atas dasar tarif per jam untuk menghasilkan jumlah
satuan keluaran (output) standar. Untuk hasil produksi yang melebihi
jumlah standar tersebut, karyawan menerima upah tambahan sebesar
jumlah kelebihan satauan keluaran diatas standar kali tarif upah per
satuan. Tarif upah persatuan dihitung dengan cara membagi upah standar
per jam dengan satuan keluaran standar per jam.

Contoh 2
Jika menurut penyelidikkan waktu (time study), dibutuhkan waktu 5 menit
untuk menghasilkan 1 satuan produk, maka jumlah keluaran standar per jam
adalah 12 Rp. 50 (Rp. 600:12). Karyawan yang tidak dapat menhasilkan
52

jumlah standar per jam, tetap dijamin mendapatkan upah Rp. 600 per jam.
Tetapi bila ia dapat menghasilkan 14 satuan per jam (ada kelebihan 2 satuan
dari jumlah standar per jam) maka upahnya dapat dihitung sebagai berikut:
Upah dasar per jam Rp. 600
Insentif: 2 X Rp. 50 (Rp. 600:12) 100
Upah yang diterima pekerja per jam Rp. 700
b. Taylor differential piece rate plan
Cara pemberian insetif ini adalah semacam straight piece rate plan
yang menggunakan tarif tiap potong untuk jumlah keluaran rendah per
jam dan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran tunggi per jam.
Contoh 3
Karyawan dapat menerima upah Rp. 4.200 per hari (untuk 7 jam
kerja). Misalkan rata-rata seorang karyawan dapat menghasilkan 12 satuan
per jam, sehingga upahnya per satuan Rp. 50 {upah perhari dibagi dengan
jumlah yang dihasilkan perhari Rp 4.200/ (12 x 8)}. Dalam Taylor plan
ini, misalnya diterapkan tarif upah Rp. 45 per satuan untuk karyawan yang
menghasilkan 14 satuan atau kurang per jam dan Rp. 65 per satuan untuk
karyawan yang menghasilkan 16 satuan per jam, maka upah per jam
karyawan dihitung sebangai berikut: Rp. 65 x 16 = Rp 1.040 per jam.
Sedangkan bila karyawan hanya menghasilkan 12 satuan per jam, maka
upah per jam dihitung sebagai berikut: Rp. 45 x 12 = Rp. 540



3. Premi Lembur
Dalam perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam satu minggu,
maka mereka berhak menerima uang lembur dan premi lembur. Misalnya
dalam satu minggu seorang karyawan bekerja selama 44 jam dengan tarif
upah (dalam kerja biasa maupun lembur) Rp. 50 per jam. Premi lembur
53

dihitung sebesar 50% dari tariff upah. Upah karyawan tersebut dihitung
sebagai dihitung sebagai berikut:
Jam biasa 40 x Rp. 600 = Rp 24.000
Lembur 4 x Rp. 600 = 2.400
Premi lembur 4 x Rp. 300 = 1.200
Jumlah upah karyawan tersebut satu minggu = Rp 27.600
Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas alasan-alasan terjadinya
lembur tersebut. Premi lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja
langsung dan dibebankan pada pekerjaan atau departemen tempat terjadinya
lembur tersebut. Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah bekerja pada
kapasitas penuh dan pelangganan/pemesan maupun penerima beban tambahan
karena lembur tersebut.
Premi lembur dapat diberlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik
atau dikeluarkan sama sekali dari harga pokok produk dan dianggap sebagai
biaya periode (period expenses). Perlakuan yang terakhir ini hanya dapat
dibenarkan jika lembur tersebut terjadi karena ketidakefisienan atau
pemborosan waktu kerja.

4. Biaya-Biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja (labor related costs)
a. Sistem premi bonus berdasarkan jam kerja
Premi Sistem Halsey
Dihitung dengan rumus:
G = T (JS + 1/2 JH)
Premi Sistem Rowan
Dihitung dengan rumus:
G = (1 + JH/JSt) (JS x T)
Premi Sistem Bart
Dihitung dengan rumus:
54

G = ( JSt x JS) T
Dimana:
G = Jumlah gaji atau upah
T = Tarif upah per Jam
JS = Jam sesungguhnya
JH = Jam dihemat, sebesar Jst JS
JSt = Jam standar
b. Sistem premi bonus berdasar satuan hasil
Sistem ini dikenal dengan istilah: Payment By Result Schames (PBR
Schemes) dihitung dengan menggunakan rumus:
G = JP x T
Dimana: G = Gaji atau Upah
JP = Jumlah produk yang dihasilkan
T = Tarif upah per buah (satuan produk)
Sistem ini meliputi:
Straight Piece-Work
Pada sistem ini apabila standar waktu yang sudah ditentukan dapat
menghasilkan jumlah produk yang melebihi standar jumlah produk
yang dihasilkan akan memperoleh premi tertentu dalam presentase
yang jumlahnya sama. sedangkan apabila hasil produksi besarnya
sama atau berada dibawah standar jumlah produksi yang dihasilkan
tidak memperoleh premi.
Sistem Taylor
Pada sistem ini apabila dalam waktu standar karyawan dapat
menghasilkan produk yang melebihi hasil standar diberikan upah
diatas tarif upah standar, karyawan yang menghasilkan jumlah produk
sama dengan hasil standar diberikan upah sama dengan upah standar,
55

karyawan yang hasilnya dibawah hasil standar hanya diberikan upah
dibawah tarif upah standar.
Selisih Upah Langsung (direct labo variance)
Selisih upah langsung adalah perbedaan antara upah langsung
standar dengan upah langsung yang dibayarkan sesungguhnya.
Jumlah selisih upah langsung dicari sebagai berikut:
Upah Langsung Sesungguhnya xxx
Upah Langsung Standar xxx
Selisih Upah Langsung xxx
Sebab-Sebab Adanya Selisih Upah Langsung
Selisih Tarif Upah
Selisih ini disebabkan oleh perbedaan antara tarif menurut
standar dengan tarif sesungguhnya yang dikomsumsi. Selisih upah
dicari sebagai berikut:
Selisih Tarif Upah = (Tarif Standar - Tarif Sesungguhnya) x
Jam kerja sesungguh perjam kerjanya dikomsumsi
Selisih Penggunaan Jam Kerja/Selisih Efisiensi
Selisih antara jam kerja yang digunakan seharusnya (menurut
standar) dengan jam kerja digunakan sesungguhnya bisa dicari
sebagai berikut:
Selisih Efisiensi = (Jam Kerja Standar - Jam kerja
sesungguhnya) X Tarif standar Per jam
c. Biaya-Biaya yang Berhubungan dengan Tenaga Kerja (Labor
Related Costs)
Setup time
Sering sekali terjadi sebuah pabrik memerlukan waktu dan
sejumlah biaya untuk memulai produksi. Biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk memulai produksi disebut biaya pemula
56

produksi (set up costs). Biaya pemula produksi diperlukan pada
waktu pabrik atau proses mulai dijalankan atau dibuka kembali
atau pada waktu produk baru diperkenalkan. Biaya pemula
produksi meliputi pengeluaran-pengeluaran untuk pembuatan
rancang bangun, penyusunan mesin dan peralatan, latihan bagi
karyawan dan kerugian-kerugian yang timbul akibat belum adanya
pengalaman.
Ada tiga cara perlakuan terhadap biaya pemula produksi:
Dimasukkan ke dalam kelompok biaya tenaga kerja
langsung.
Bila biaya pemula produksi dapat diidentifikasikan pada
pesanan tertentu, maka biaya ini seringkali dimasukkan
dalam kelompok biaya tenaga kerja langsung dan
dibebankan langsung rekening Barang Dalam Proses.
Dimasukkan sebagai unsur biaya overhead pabrik.
Biaya pemula produksi dapat diperlakukan sebagai
unsure biaya overhead pabrik. Jurnal untuk mencatat biaya
permula produksi adalah sebagai berikut:
Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx
Kas xxx
Utang Dagang xxx
Persediaan xxx
Dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan.
Biaya pemula produksi dapat dibebankan kepada pesanan
tertentu, dalam kelompok biaya tersendiri, yang terpisah dari
biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan dan
biaya overhead pabrik.
Waktu Menganggur (I del time)
57

Dalam mengolah produk, seringkali terjadi hambatan-
hambatan, kerusakan mesin atau kekurangan pekerjaan. Hal ini
menimbulkan waktu menganggur bagi karyawan. Biaya-biaya
yang dikeluarkan selama waktu menganggur ini diperlukan
sebagai unsur biaya overhead pabrik.
Misalkan seorang karyawan harus bekerja 40 jam per minggu.
Upahnya Rp. 600 per jam. Dari 40 jam kerja tersebut misalnya 10
jam merupakan waktu menganggur, dan sisanya digunakan untuk
mengerjakan pesanan tertentu. Jurnal untuk mencatat biaya tenaga
kerja tersebut adalah:
Barang Dalam ProsesBiaya TKL Rp. 18.000
Biaya overhead pabrik Sesungguhnya Rp. 6000
Gaji dan Upah Rp. 24.000




58





BIAYA OVERHEAD PABRIK
(TARIF TUNGGAL)



59

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Menurut Mulyadi (2003 : 12) Biaya Overhead Pabrik yaitu semua produksi
selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overad pabrik
terdiri dari bahan penolong biaya tenaga kerja tak langsung dan biaya
produksi tak langsung lainnya.
Pendapat ahli lainnya menyatakan bahwa Biaya Overhead Pabrik
merupakan setiap biaya yang tidak secara langsung melekat pada suatu
produk, yaitu semua biaya-biaya diluar biaya bahan langsung dan biaya
tenaga kerja langsung.
Biaya overhead pabrik mencakup biaya produksi lainnya seperti
pemanasan ruang pabrik, penerangan, penyusutan pabrik dan mesin-mesin.
Biaya pabrik seperti pemeliharaan, gudang bahan-bahan dan hal lain yang
memberikan pelayanan-pelayanan kepada bagian produksi juga merupakan
bagian dari biaya overhead pabrik Prepared by Ridwan Iskandar Sudayat, SE.
Biaya penjualan dan biaya distribusi, dan semua biaya administrasi juga
diperhitungkan sebagai biaya overhead sepanjang biaya-biaya tersebut tidak
dapat secara langsung dihubungkan dengan unit produk (Pass, Lowes dan
Davis, 1998118).
Berbagai macam biaya overhead pabrik harus dibebankan kepada semua
pekerjaan yang terlaksana selama suatu periode. Oleh karena itu, untuk dapat
membebankan biaya overhead pabrik secara merata kepada setiap produk
digunakan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka


60

B. KLASIFIKASI BIAYA OVERHEAD PABRIK
Penggolongan BOP atas dasar tingkah laku Biaya;
1. Biaya Tetap; Karakteristik:
Biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh
perubahan volume kegiatan / aktivitas sampai tingkat tertentu.
Pada biaya tetap, biaya satuan berubah berbanding terbalik dengan
perubahan volume kegiatan, makin tinggi volume kegiatan makin
rendah biaya satuan, dan sebaliknya.
Contoh BOP tetap: biaya asuransi pabrik, biaya penyusutan aktiva
tetap, gaji staff pabrik dan mandor.

2. Biaya Variabel; Karakteristik:
Biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan
perubahan volume kegiatan makin besar volume kegiatan makin
besar pula jumlah total biaya variable, dan sebaliknya.
Pada biaya variable, biaya satuan tidak dipengaruhi oleh
perubahan volume kegiatan (konstan)
Contoh BOP variable, misalnya: BBP, sebagian BTKTL, BB, dll biaya
overhead variable.

3. Biaya Semi Variabel; Karakteristik:
Biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan
volume kegiatan, tetapi sifat perubahannya tidak sebanding.
Makin besar volume kegiatan makin besar jumlah total biaya,
makin kecil volume kegiatan makin kecil pula jumlah total biaya,
tapi perubahannya tidak sebanding.
Pada biaya semi variable, biaya satuan berubah terbalik
dihubungkan perubahan volume tapi sifatnya tidak sebanding
61

sampai dengan tingkatan kegiatan tertentu, makin tinggi volume
kegiatan rendah biaya satuan, makin rendah volume kegiatan
makin tinggi biaya satuan.
Contoh BOP semi Variabel, misalnya: biaya pembangkit listrik, biaya
reparasi dan pemeliharaan, biaya pengobatan karyawan pabrik.


C. DASAR PEMBEBABANAN BIAYA OVERHEAD PABRIK
1. Satuan Produksi


Ket:
T : Tarif BOP
BBOP : Budget BOP dalam periode tertentu
BP : Budget produksi dalam periode yang bersangkutan
Kebaikan:
Sederhana dan mudah dipakai
Cocok untuk perusahaan yang menghasilkan satu macam produk
Membebankan BOP secara langsung kepada produk
Kelemahan:
Bila setiap satuan produk tidak menikmati kapasitas pabrik yang
sama dasar ini sifatnya tidak adil.
Bila perusahaan menghasilkan beberapa macam produk metode
satuan produksi harus dimodifikasi dengan dasar tertimbang /
dasar nilai (point)

2. Biaya Bahan Baku


62

Ket:
T : Tarif BOP
BBOP : Budget BOP dalam periode tertentu
BBBB : Budget BBB periode yang bersangkutan
Misalnya:
Dik: Tahun 1999 BBOP: Rp. 300.000,
BBBB: Rp 500.000,
Dit: Tarif BOP (T) ...?
Peny: :
(


)
Kebaikan:
Mudah dipakai dan praktis
Sesuai untuk digunakan apabila ada kerolasi (hubungan) yang erat
antara elemen BOP dengan BBB.
Kelemahan:
Pemakaiannya terbatas, BOP tidak selalu berhubungan erat
dengan BBB
Mutu Bahan Baku yang dipakai tidak selalu sama
Tidak adil bila ada produk yang mengkonsumsi Bahan Baku di
semua proses, tapi ada produk yang hanya mengkonsumsi Bahan
Baku pada proses tertentu saja.

3. Dasar Biaya Tenaga Kerja Langsung


Ket:
T : Tarif BOP
BBOP : Budget BOP dalam periode tertentu
63

BBTKL : Budget BTKL periode yang bersangkutan
Misalnya:
Dik: Tahun 1999 BBOP: Rp. 300.000,
BBTKL: Rp 400.000,
Dit: Tarif BOP (T) ...?
Peny: :
(


)

Kebaikan:
Mudah dipakai dan praktis
Sesuai dengan perusahaan dimana BOP mempunyai hubungan
yang erat dengan BTKL
Sesuai untuk perusahaan yang membayar upah langsung dengan
tarif yang sama untuk pekerjaan yang sama, meskipun dikerjakan
oleh karyawan yang berbeda.
Kelemahan:
Bila BOP tidak mempunyai hubungan yang erat dengan BTKL
Tidak dapat digunakan dengan adil tarif TK selalu berubah dari
waktu ke waktu
Produk tertentu yang menggunakan karyawan yang relative ahli
umumnya dibayar dengan tarif upah relative tinggi akan
menyebabkan BTKL besar dan akibatnya BOP tinggi.

4. Dasar Jam Kerja Langsung
Digunakan untuk menghilangkan kelemahan yang disebabkan tarif
upah yang berfluktuasi dari waktu ke waktu dan perbedaan tarif upah
karena tingkat keahlian karyawan.
64


Ket:
T : Tarif BOP
BBOP : Budget BOP dalam periode tertentu
BJKL : Budget Jam Kerja Langsung
Misalnya:
Dik: Tahun 1999 BBOP: Rp. 300.000,
BJKL: 40.000 Jam
Dit: Tarif BOP (T) ...?
Peny: :
(


)

Pesanan / Produk yang menikmati 2000 jam kerja langsung akan
dibebani BOP sebesar

5. Dasar Jam Mesin


Ket:
T : Tarif BOP
BBOP : Budget BOP dalam periode tertentu
BJM : Budget Jam Mesin
Misalnya:
Dik: Tahun 1999 BBOP: Rp. 300.000,
BBTKL: 30.000 Jam,
Dit: Tarif BOP (T) ...?
Peny: :
65

(


)

Pesanan / Produk yang menikmati 2000 jam kerja langsung akan
dibebani BOP sebesar


Kebaikan:
Membebankan BOP dengan adil bila sebagian besar BOP
mempunyai hubungan yang erat dengan penggunaan mesin.
Kelemahan:
Tidak dapat membebankan BOP dengan adil bila sebagian besar
elemen BOP tidak berhubungan erat dengan penggunaan mesin
Sering terdapat mesin yang tidak memiliki pencatat jam mesin
secara otomatis / sudah rusak
Pemakaian dasar ini terbatas pada pabrik / departemen di dalam
pabrik yang menggunakan mesin.

6. Dasar Harga Pasar / Nilai Pasar
Hanya dipakai jika perusahaan menghasilkan beberapa jenis produk
yang sifatnya merupakan produk bersama.


Ket:
T : Tarif BOP
BBOP : Budget BOP dalam periode tertentu
BPSMP : Budget Penjualan Semua Macam Produk
Kelemahan:
66

BOP yang dimiliki oleh produk tidak selalu proporsional (sebanding)
dengan harga jual

7. Dasar Rata-rata Bergerak
Menggunakan data BOP dan kapasitas sesungguhnya selama 1 th
sebelumnya :12


Ket:
TB : Tarif BOP bulan tertentu
BOPSR : BOP sesungguhnya rata-rata satu bulan pada setahun
sebelumnya
KSR : Kapasitas sesungguhnya rata-rata satu bulan pada
setahun sebelumnya.



D. BIAYA OVERHEAD PABRIK TARIF TUNGGAL
Tarif overhead tunggal digunakan untuk perusahaan secara keseluruhan
dan biasanya dasar yang digunakan adalah jam mesin atau jam kerja langsung.
Pendekatan yang sederhana ini sebenarnya dapat mendistorsi biaya produksi
per unit pada saat akan digunakan sebagai pembuatan keputusan.
Pada saat sistem biaya yang dikembangkan pada tahun 1800-an,
tenaga kerja langsung adalah komponen terbesar dari biaya produk jika
dibandingkan dengan kondisi saat ini. Data yang berkaitan dengan tenaga
kerja langsung, telah tersedia dan dapat digunakan dan manajer percaya
67

bahwa ada korelasi positif antara biaya tenaga kerja langsung dengan biaya
overhead. Konsekuensinya, tenaga kerja langsung sangat sesuai untuk
digunakan sebagai dasar alokasi overhead.
Meskipun demikian, tarif overhead tunggal berdasarkan tenaga kerja
langsung tidak memuaskan lagi. Hal tersebut dikarenakan:
1. Dalam beberapa perusahaan, tenaga kerja langsung tidak lagi memiliki
korelasi yang tinggi dengan biaya overhead.
2. Aktivitas yang berkaitan dengan overhead sangat bervariasi, tarif tunggal
berdasarkan tenaga kerja langsung tidak mampu lagi mencerminkan
kondisi yang sesungguhnya.
Dilihat dari perkembangannya, tenaga kerja langsung dan biaya
overhead berkebalikan arah. Dilihat dari persentase total biaya, tenaga kerja
langsung cenderung menurun sedangkan biaya overhead cenderung
meningkat. Pekerjaan yang pada awalnya dikerjakan secara manual saat ini
dapat digantikan oleh mesin yang merupakan komponen dari overhead. Lebih
jauh lagi, saat ini keragaman produk bertambah banyak. Perusahaan membuat
produk dan jasa baru dengan volume, batch size dan kompleksitas yang
berbeda-beda.
Meskipun demikian, tenaga kerja tetap digunakan sebagai dasar untuk
membebankan biaya overhead ke produk terutama untuk laporan eksternal. Di
beberapa perusahaan, korelasi antara biaya overhead dengan tenaga kerja
68

tetap tinggi. Namun masih banyak perusahaan yang masih menggunakan
tenaga kerja dengan overhead.
E. METODE PENENTUAN BIAYA OVERHEAD PABRIK TARIF
TUNGGAL
1. Metode Full Costing
a. Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif yg ditentukan di
muka
BDP-BOP xxx
BOP yang dibebankan xxx
b. Pengumpulan BOP-S yang terjadi
BOP-S xxx
Berbagai rekening dikredit xxx
c. Penutupan Rek. BOP yg dibebankan ke Rek. BOP-S
BOP yang dibebankan xxx
BOP-S xxx
d. Penentuan BOP yang kurang atau lebih dibebankan
Over/Under upplied BOP xxx
BOP-S xxx
2. Metode Variabel Costing
a. Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif yg ditentukan di
muka
BDP-BOP-V xxx
BOP-V yang dibebankan xxx
69

b. Pengumpulan BOP- S yang terjadi
BOP- S xxx
Berbagai rekening dikredit xxx

Pemisahan BOP-V:
BOP-V sesungguhnya xxx
BOP-T sesungguhnya xxx
BOP-S xxx

c. Penutupan Rek. BOP-V dan BOP-T yang dibebankan ke Rek. BOP-
S
BOP-V yang dibebankan xxx
BOP- S xxx
d. Penutupan Rek. BOP-V dan BOP-T sesungguhnya ke Rek. Laba
Rugi
Laba-Rugi xxx
BOP-V/T sesungguhnya xxx

70








BIAYA OVERHEAD PABRIK
(DEPARTEMENISASI)

71

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN BIAYA OVERHEAD PABRIK DEPARTEMENISASI
Departemenisasi BOP adalah Pembagian pabrik ke dalam bagian-bagian
yang disebut Departemen dimana BOP akan dibebankan. Departementalisasi
biaya overhead pabrik bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian
penentuan harga pokok produk.
Pengendalian biaya overhead pabrik dapat lebih mudah dilakukan dengan
cara menghubungkan biaya dengan pusat terjadinya, sehingga dengan
demikian akan memperjelas tanggung jawab setiap biaya yang terjadi dalam
departemen tertentu. Dengan digunakannya tarif-tarif biaya overhead pabrik
yang berbeda-beda untuk tiap-tiap departemen, maka pesanan atau produk
yang melewati departemen produksi akan dibebani dengan biaya overhead
pabrik sesuai dengan tarif departemen yang bersangkutan. Hal ini berakibat
terhadap ketelitian penentuan harga pokok produk.

B. PENENTUAN TARIF BOP DEPARTEMENISASI
Langkah-langkah penentuan tarif biaya overhead departementalisasi adalah
sebagai berikut:
1. Disusun terlebih dahulu anggaran biaya overhead pabrik per departemen
Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen dibagi
menjadi empat tahap utama berikut ini :
a. Penaksiran biaya overhead pabrik langsung departemen atas dasar
72

kapasitas yang direncanakan untuk tahun anggaran.
b. Penaksiran biaya overhead pabrik tak langsung departemen
c. Distribusi biaya overhead pabrik tak langsung departemen ke
departemen-departemen yang menikmati manfaatnya
d. Penjumlahan biaya overhead pabrik per departemen (baik biaya overhead
pabrik langsung maupun tak langsung departemen) untuk mendapatkan
anggaran biaya overhead pabrik per departemen (baik departemen
produksi maupun departemen pembantu).
2. Mengalokasikan biaya overhead pabrik departemen pembantu ke
departemen produksi dengan cara :
a. Metode Alokasi Langsung
Dalam metode alokasi langsung biaya overhead pabrik departemen
pembantu dialokasikan ke tiap-tiao departemen produksi yang
menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang
dihasilkan oleh deparemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen
produksi saja. Tidak ada departemen pembantu yang memakai jasa
departemen pembantu yang lain.
b. Metode Alokasi Bertahap
Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen
pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja tetapi
digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain.
Metode alokasi bertahap dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1) Metode alokasi bertahap yang memperhitungkan jasa timbal balik
antar departemen-departemen pembantu. Yang termasuk dalam
metode ini adalah :

a) Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method)
yaitu biaya overhead pabrik departemen-departemen pembantu
yang saling memberikan jasa dialokasikan secara terus menerus
sehingga jumlah biaya overhead pabrik yang belum dialokasikan
73

menjadi tidak berarti.
b) Metode aljabar (algebraic method)
Dalam metode ini jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu
dinyatakan dalam persamaan aljabar.
2) Metode alokasi bertahap yang tidak memperhitungkan transfer jasa
timbal balik antar departemen pembantu. Metode alokasi yang
termasuk dalam kelompok ini adalah "metode urutan alokasi yang
diatur" (specified order of closing).

3. Perhitungan tarif pembebanan BOP per departemen.
Tarif pembebanan BOP dihitung dengan cara membagi total BOP
departemen produksi setelah menerima alokasi BOP dari departemen
pembantu, dengan dasar pembebanan yang digunakan.


C. ANALISIS SELISIH BOP PER DEPARTEMEN

Pada umumnya selisih timbul adanya perbedaan antara yang di bebankan
(applied) dengan yang terjadi sesungguhnya (actual/control).

Selisih yang terjadi tersebut terdapat dua kemungkinan, yaitu :
1. Apabila BOP yang dibebankan lebih besar dari BOP yang sesungguhnya
berarti perusahaan kelebihan membebankan (over applied).
2. Apabila BOP yang dibebankan lebih kecil dari BOP yang sesungguhnya
berarti perusahaan kurang didalam melakukan pembebanan.

Biasanya apabila terjadi Over applied hal ini merupakan keuntungan bagi
perusahaan. Sedangkan apabila terjadi Under applied hal ini merupakan
kerugian bagi perusahaan.
74


Selisih (varience) umumnya dibebankan ke rekening :
Harga Pokok Penjualan
BDP
Barang Jadi
Rugi / Laba

Apabila terjadi kerugian (under applied), maka prosedur akuntansinya, adalah

Harga Pokok Penjualan xxx
BDP xxx
Barang jadi xxx
Rugi / laba xxx
Variance xxx

Apabila terjadi keuntungan (over applied) maka prosedur akuntansinya,
adalah :
Variance (selisih) BDP xxx
Harga Pokok Penjualan xxx
BDP xxx
Barang jadi xxx
Rugi / laba xxx

Langkah-langkah yg harus ditempuh dalam melakukan pembandingan antara
BOP dibebankan dg BOP-S :
1. Mengumpulkan jumlah tiap jenis BOP-S dalam masing-masing
departemen selama tahun anggaran.
2. Mengumpulkan data sesungguhnya yang berhubungan dengan dasar
distribusi dan alokasi BOP.
75

3. Mengalokasikan BOP-S departemen pembantu.
4. Mencari selisih BOP
5. Menganalisis selisih BOP per departemen.

D. METODE PENENTUAN BIAYA OVERHEAD PABRIK
DEPARTEMENISASI
3. Metode Full Costing
e. Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif yg ditentukan di
muka
BDP-BOP Dept A xxx
BDP-BOP Dept B xxx
BOP yang dibebankan Dept A xxx
BOP yang dibebankan Dept B xxx
f. Pengumpulan BOP-S yang terjadi
BOP-S Dept A xxx
Berbagai rekening dikredit xxx

Pemindahan BOP-S ke Rek. BOP-S per Dept:
BOP-S Dept. A xxx
BOP-S Dept. B xxx
BOP-S Dept. X xxx
BOP-S xxx

Alokasi BOP Dept. Pembantu ke Dept. Produksi :
BOP-S Dept. A xxx
76

BOP-S Dept. B xxx
BOP-S Dept. X xxx


g. Penutupan Rek. BOP yg dibebankan ke Rek. BOP-S
BOP yang dibebankan Dept A xxx
BOP yang dibebankan Dept B xxx
BOP-S Dept A xxx
BOP-S Dept B xxx
h. Penentuan BOP yang kurang atau lebih dibebankan
Over/Under upplied BOP Dept A xxx
Over/Under upplied BOP Dept B xxx
BOP-S Dept A xxx
BOP-S Dept B xxx

4. Metode Variabel Costing
e. Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif yg ditentukan di
muka
BDP-BOP-V Dept. A xxx
BDP-BOP-V Dept. B xxx
BOP-V dibebankan Dept. A xxx
BOP-V dibebankan Dept. B xxx

f. Pengumpulan BOP- S yang terjadi
BOP- S Dept A xxx
BOP- S Dept B xxx
BOP- S Dept X xxx
Berbagai rekening dikredit xxx

77

Pemisahan BOP-V:
BOP-V sesungguhnya Dept. A xxx
BOP-T sesungguhnya Dept. A xxx
BOP-S Dept. A xxx
Dst..

Alokasi BOP Dept. Pembantu ke Dept. Produksi:
BOP-V sesungguhnya Dept. A xxx
BOP-V sesungguhnya Dept. B xxx
BOP-V sesungguhnya Dept. X xxx
BOP-T sesungguhnya Dept. A xxx
BOP-T sesungguhnya Dept. B xxx
BOP-T sesungguhnya Dept. X xxx

g. Penutupan Rek. BOP-V dan BOP-T yang dibebankan ke Rek. BOP-
S
BOP-V dibebankan Dept. A xxx
BOP-V dibebankan Dept. B xxx
BOP-V sesungguhnya Dept. A xxx
BOP-V sesungguhnya Dept. B xxx

h. Penutupan Rek. BOP-V dan BOP-T sesungguhnya ke Rek. Laba
Rugi
Laba-Rugi xxx
BOP-V/T sesungguhnya Dept. A xxx
BOP-V/T sesungguhnya Dept. B xxx

78




HARGA POKOK PESANAN
79

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HARGA POKOK PESANAN

Job order costing adalah suatu metode pengumpulan biaya produksi untuk
menentukan harga pokok produksi pada perusahaan atas dasar pesanan.
Tujuannya untuk menentukan harga pokok produk dari setiap pesanan baik
harga pokok pesanan secara keseluruhan dari tiap-tiap pesanan maupun untuk
persatuan.
Metode ini digunakan oleh perusahaan yang berproduksi berdasarkan
pesanan. Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan
tertentu dan harga pokok produksi per satuan dihitung dengan cara membagi
total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk
dalam pesanan yang bersangkutan.
Pada pengumpulan harga pokok pesanan dimana biaya yang dikumpulkan
untuk setiap pesanan/kontrak/jasa secara terpisah dan setiap pesanan dapat
dipisahkan identitasnya. Atau dalam pengertian yang lain, penentuan harga
pokok pesanan adalah suatu sistem akuntansi yang menelusuri biaya pada
unit individual atau pekerjaan, kontrak atau tumpukan produk yang spesifik.

B. KARAKTERISTIK HARGA POKOK PESANAN
Karakteristik perusahaan yang menggunakan job order costing adalah :
1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus putus. Jika pesanan
yang satu selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan, dan mulai
dengan pesanan berikutnya.
80

2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh
pemesan. Dengan demikian pesanan yang satu dapat berbeda dengan
pesanan yang lain.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi
persediaan digudang.

Karakteristik perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan tersebut
diatas berpengaruh terhadap pengumpulan biaya produksinya. Metode
pengumpulan biaya produksi dengan metode harga pokok pesanan yang
digunakan dalam perusahaan yang produksinya berdasarakan pesanan
memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan
spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok
produksinya secara individual.
2. Biaya produksi digolongkan berdasarkan hubungannya dengan produk
menjadi dua kelompok berikut ini : biaya produksi langsung dan biaya
produksi tidak langsung.
3. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung disebut dengan
istilah biaya overhead pabrik.
4. Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok produksi
pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan
biaya overhead pabrik diperhitungkan ke dalam harga pokok pesanan
berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka.
5. Harga pokok produksi per unit dihitung pada saat pesanan selesai
diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan
untuk pesanan tersebut dengan jumlah unit produk yang dihasilkan dalam
pesanan yang bersangkutan.
81






C. TAHAPAN METODE HARGA POKOK PESANAN
Langkah langkah dalam perhitungan job order costing yaitu :
1. Identifikasi pekerjaan yang dipilih sebagai obyek biaya dilakukan, maka
harus identifikasi pekerjaan yang di identifikasi pekerjaan sesuai dengan
obyek biaya.
2. Identifikasi biaya langsung pekerjaan
Dalam mengidentifikasi biaya manufaktur yang dikategorikan menjadi
biaya manufaktur langsung yaitu bahan baku langsung dan tenaga kerja
manufaktur langsung.
3. Pilih dasar alokasi biaya yang digunakan untuk mengalokasikan biaya tidak
langsung ke pekerjaan.
Biaya manufaktur tidak langsung adalah biaya-biaya yang diperlukan
untuk menjalankan suatu pekerjaan namun tidak dapat dilacak langsung ke
pekerjaan tertentu.
4. Identifikasi biaya tidak langsung yang terkait dengan setiap dasar alokasi bia
ya
Alokasi tunggal berdasarkan jam tenaga kerja manufaktur langsung dapat
digunakan untuk mengalokasikan biaya manufaktur tidak langsung bagi
produk.
5. Hitung tarif perunit dari setiap dasar alokasi biaya yang digunakan untuk
mengalokasikan biaya tidak langsung ke pekerjaan.
Untuk setiap costpool, tarif biaya tidak langsung (indirect cost rate)
dihitung dengan cara membagi biaya overhead total dalam pool biaya (yang
82

ditentukan pada tahap ke-4) dengan kuantitas total dari dasar alokasi biaya
(yang ditentukan pada tahap ke-3), untuk perhitungannya dapat dilihat
dibawah ini.





6. Hitung biaya tidak langsung yang dialokasikan ke pekerjaan.
Biaya tidak langsung dari suatu pekerjaan dihitung dengan mengalihkan
kuantitas aktual dari setiap dasar alokasi biaya (satu dasar alokasi untuk
setiap pool) yang terkait dengan pekerjaan itu dengan tarif biaya tidak
langsung dari setiap dasar alokasi biaya (yang dihitung pada tahap ke-5)
7. Hitung biaya total pekerjaan dengan menambahkan seluruh biaya langsung d
an tidak langsung yang dibebankan kepekerjaan.
Seluruh biaya yang terkait seperti manufaktur langsung yang meliputi
bahan baku langsung dan tenaga kerja manufaktur langsung, serta biaya
manufaktur tidak langsung.

83


D. JURNAL HARGA POKOK PESANAN
1. Prosedur pencatatan pembelian bahan baku, jurnalnya:
Persediaan Bahan Baku xxx
Utang Dagang/Kas xxx
Prosedur pencatatan pemakaian bahan baku, menggunakan metode mutasi
persediaan (perpetual). Dalam setiap pemakaian bahan baku harus
diketahui pesanan mana yang memerlukannya.
Jurnalnya:
Produk Dalam Proses xxx
Bahan Baku xxx

Pengendali Overhead Pabrik xxx
Bahan Baku xxx
2. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)

Beban gaji xxx
Beban Gaji yang harus dibayar xxx

84

Diperlukan pengumpulan dua macam jam kerja, yaitu:
Jam kerja total selama periode kerja tertentu. Jam kerja yang digunakan untuk
mengerjakan setiap pesanan.
Perusahaan harus menyelenggarakan kartu hadir masing-masing
karyawan, untuk mengumpulkan informasi jam kerja total selama periode
kerja tertentu, untuk pembuatan Daftar Upah. Disamping itu, perusahaan
harus mencatat penggunaan jam kerja masing2 karyawan untuk mengerjakan
pesanan. (Masing-masing karyawan dibuatkan Kartu Jam Kerja/Job Time
Ticket)
Jurnal untuk pembagian upah:
Produk Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx
Gaji dan Upah xxx

Pengendali Overhead Pabrik xxx
Beban Gaji xxx

3. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik (BOP)
BOP dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu
Biaya Bahan Penolong Biaya reparasi dan pemeliharaan, berupa
pemakaian persediaan spareparts dan persediaan supplies pabrik
Biaya tenaga kerja tak langsung
Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap (contoh:
biaya penyusutan aktiva tetap)
Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu (contoh: terpakainya
asuransi dibayar di muka)
Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan
pengeluaran tunai (contoh: biaya reparasi mesin pabrik, biaya listrik)
85


BOP dalam metode harga pokok pesanan harus dibebankan kepada setiap
pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan di muka. Tarif BOP ditentukan
pada awal tahun/periode dengan cara sbb:




*Dasar Pembebanan BOP adalah Satuan produk
Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Jam Tenaga Kerja
Langsung dan Jam Mesin

BOP yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan selama satu tahun yang
sama, kemudian pada akhir tahun dibandingkan dengan yang dibebankan
kepada produk atas dasar tarif
Pencatatan BOP yang Dibebankan kepada produk:

Produk Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan
xxx

Jurnal penutupan rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
(untuk mempertemukan BOP Dibebankan dengan BOP Sesungguhnya)
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx
Pencatatan BOP yang Sesungguhnya:
- Pemakaian Bahan Penolong:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx
Persediaan Bahan Penolong xxx
86


- Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Tak langsung:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx
Gaji dan Upah xxx

4. Pencatatan Produk Selesai
Biaya produksi yang telah dikumpulkan dalam Kartu Harga Pokok
dijumlah dan dikeluarkan dari rekening Barang Dalam Proses dengan jurnal
sbb:
Persediaan Produk Jadi xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx

Produk Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx

Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx

Harga Pokok Produk jadi dicatat dalam Kartu Persediaan (Finish Goods
Ledger Card) dan Kartu Harga Pokok Pesanan tersebut dipindahkan ke dalam
arsip Kartu Harga Pokok Pesanan yang telah selesai.
E. KARTU HARGA POKOK PESANAN
Kartu biaya pesanan adalah kartu digunakan untuk mencatat biaya produksi
yang dikeluarkan untuk masing-masing pesanan. Setiap pesanan yang berbeda
karakteristik pesanannya dibuatkan kartu pesanannya masing-masing. Dokumen
ini merupakan dokumen dasar dalam perhitungan biaya pesanan dengan
mengakumulasi biaya untuk setiap pesanan. Karena biaya diakumulasi setiap
87

batch atau loy dalam sistem biaya pesanan menunjukkan bahan baku langsung
dan tenaga kerja langsung serta biaya overhead pabrik yang dibebankan untuk
suatu pesanan.
Kartu harga pokok merupakan catatan yang penting dalam metode harga
pokok pesanan. Kartu ini berfungsi sebagai rekening pembantu, yang digunakan
untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk
mengerjakan pesanan tertentu dicatat secara rinci didalam kartu harga pokok
pesanan yang bersangkutan. File kartu biaya pesanan yang belum selesai dapat
berfungsi sebagai buku besar tambahan untuk persediaan dalam proses.
Dalam perkembangan lebih lanjut bentuk atau format kartu pesanan ini
berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain tetapi pada
prinsipnya ada kesamaannya pada pola produksi perusahaan yang menggunakan
sistem biaya pesanan ini yaitu pola produksinya berpola produksi intermitten
atau terputus-putus. Artinya pola produksinya tergantung pada datangnya
pesanan. Penampilan kartu pesanan boleh berbeda namun karakeristik
perusahaan yang menerapkan sistem biaya pesan kita sudah mengetahuinya.

Contoh kartu biaya pesanan:

88

F. MANFAAT INFORMASI HARGA POKOK PRODUKSI PER PESANAN
Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, informasi harga
pokok produksi per pesanan bermanfaat bagi manajemen dalam :
a. Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan
Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses
produknya berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan
demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya
produksi pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang dikehendaki
oleh pemesan. Oleh karena itu harga jual yang dibebankan kepada pemesan
sangat ditentukan oleh besarnya produksi yang akan dikeluarkan untuk
memproduksi pesanan tertentu
b. Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan terhadap pesanan tertentu.
Ada kalanya harga jual produk yang dipesan oleh pemesan telah
terbentuk di pasar, sehingga keputusan yang perlu dilakukan oleh
manajemen adalah menerima atau menolak pesanan. Untuk memungkinkan
pengambilan keputusan tersebut, manajemen memerlukan informasi total
harga pokok pesanan yang akan diterima tersebut. Informasi total harga
pokok pesanan memberikan perlindungan bagi manajemen agar dalam
menerima pesanan perusahaan tidak mengalami kerugian.
c. Memantau realisasi biaya produksi
Jika suatu pesanan telah diputuskan untuk diterima, manajemen
memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan di
dalam memenuhi pesanan tertentu. Oleh karena itu, akuntansi biaya
digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap pesanan yang
89

diterima untuk memantau apakah proses produksi untuk memenuhi tertentu
menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang
diperhitungkan sebelumnya.
d. Menghitung laba atau rugi tiap pesanan
Untuk mengetahui apakah suatu pesanan menghasilkan laba atau tidak,
manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan
untuk memproduksi pesanan tertentu. Informasi laba atau rugi tiap pesanan
diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya
non produksi dan menghasilkan laba atau rugi. Oleh karena itu, metode
harga pokok pesanan oleh manajemen untuk mengumpulkan informasi biaya
produksi sesungguhnya keluarkan untuk tiap pesanan guna menghasilkan
informasi laba atau rugi tiap pesanan.
e. Menentukan harga pokok persediaan barang jadi dan barang dalam proses
yang disajikan dalam neraca.
Pada saat perusahaan dituntut untuk membuat pertanggungjawaban
keuangan periodik, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa
neraca dan laporan laba rugi. Di dalam neraca manajemen harus menyajikan
harga pokok persediaan barang jadi dan harga pokok yang sampai dengan
tanggal neraca masih dalam proses. Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu
menyelenggarakan pencatatan biaya produksi untuk setiap pesanan.
Berdasarkan catatan biaya produksi tiap pesanan tersebut manajemen dapat
menentukan biaya produksi yang melekat pada pesanan yang telah selesai
diproduksi, namun pada tanggal neraca belum diserahkan kepada pemesan.
Di samping itu, berdasarkan catatan itu pula manajemen dapat menentukan
harga pokok dari produk yang sampai dengan tanggal penyajian neraca
masih dalam proses pengerjaan.
90



91

BAB III
KESIMPULAN
Akuntansi Biaya di definisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan,
peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan
cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.
Biaya (Cost) adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan
uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan
tertentu. Biaya dapat dikalsifikasikan berdasarkan:
1. Elemen produk
2. Hubungan dengan produksi
3. Hubungan dengan volume
4. Kemudahan ditelusur
5. Departemen terjadi
6. Fungsi perusahaan
7. Pembebanan sebagai biaya (period charged to income)
8. Hubungan dengan perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan

Harga pokok produksi merupakan akumulasi biaya-biaya yang dibebankan pada
produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Unsur-unsur harga produksi terdiri dari:
Bahan Langsung (Direct Material), Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor
Cost) dan Overhead Pabrik. Terdapat dua metode penetapn harga pokok produksi
yaitu Metode harga pokok pesanan (Job Order Costing) dan Metode harga pokok
proses.
Bahan baku (raw material) adalah bahan yang digunakan dalam membuat
produk dimana bahan tersebut secara menyeluruh tampak pada produk jadinya (atau
merupakan bagian terbesar dari bentuk barang ). Bahan baku yang digunakan untuk
produksi diklasifikasikan menjadi bahan baku (bahan langsung) dan bahan pembantu
(bahan tidak langsung).
Biaya tenaga kerja merupakan salah satu biaya konversi, disamping biaya
overhead pabrik untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Menurut Daljono
(2004:40) dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga
kerja langsung dan tenaga kerja tak langsung.Tenaga kerja langsung adalah semua
92

karyawan yang secara langsung ikut serta memproduksi produk jadi, yang jasanya
dapat diukur secara langsung dengan produk, yang merupakan bagian yang besar
dalam memproduksi produk.
Biaya Overhead Pabrik yaitu semua produksi selain bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung. Biaya overad pabrik terdiri dari bahan penolong biaya tenaga kerja
tak langsung dan biaya produksi tak langsung lainnya dasar pembebabanan biaya
overhead pabrik terdiri dari satuan produksi, biaya bahan baku, dasar biaya tenaga
kerja langsung, dasar jam kerja langsung, dasar jam mesin, dasar harga pasar / nilai
pasar, dan dasar rata-rata bergerak
Tarif overhead tunggal digunakan untuk perusahaan secara keseluruhan dan
biasanya dasar yang digunakan adalah jam mesin atau jam kerja langsung sedangkan
departemenisasi Biaya Overhead Pabrik adalah pembagian pabrik ke dalam bagian-
bagian yang disebut Departemen dimana BOP akan dibebankan. Dengan
digunakannya tarif-tarif biaya overhead pabrik yang berbeda-beda untuk tiap-tiap
departemen, maka pesanan atau produk yang melewati departemen produksi akan
dibebani dengan biaya overhead pabrik sesuai dengan tarif departemen yang
bersangkutan.
Job order costing adalah suatu metode pengumpulan biaya produksi untuk
menentukan harga pokok produksi pada perusahaan atas dasar pesanan. Tujuannya
untuk menentukan harga pokok produk dari setiap pesanan baik harga pokok pesanan
secara keseluruhan dari tiap-tiap pesanan maupun untuk persatuan.
Karakteristik perusahaan yang menggunakan job order costing adalah :
1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus putus.
2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan
digudang.



93

DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2000. Intermediate Accounting (Edisi ke-7). Yogyakarta: BPFE
http://tugasakhiramik.blogspot.com
Hansen & Mowen. 2000. Manajemen Biaya, Akuntansi dan Pengendalian. Jakarta:
Salemba Empat.

Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Aditya Media.

2005. Akuntansi Biaya. Edisi 5. Yogyakarta: STIE YKPN.

Mursyidi. 2008. Akuntansi Biaya. Bandung: Refika Aditama.

Simamora Henry. 1999. Akuntansi Manajemen, Jakarta: Salemba Empat.

Soemarso. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Aditya Media.

2000. Akuntansi Biaya: Pengumpulan Biaya dan Penetuan Harga Pokok. Edisi 2.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Sutrisno. 2001. Akuntansi Biaya Untuk Manajemen (Edisi ke-2). Yogyakarta:
Ekonisia.
Baridwan, Zaki. 2000. Intermediate Accounting (Edisi ke-7). Yogyakarta: BPFE
http://tugasakhiramik.blogspot.com
Hansen & Mowen. 2000. Manajemen Biaya, Akuntansi dan Pengendalian. Jakarta:
Salemba Empat.
94


Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Aditya Media.

2005. Akuntansi Biaya. Edisi 5. Yogyakarta: STIE YKPN.

Mursyidi. 2008. Akuntansi Biaya. Bandung: Refika Aditama.

Simamora Henry. 1999. Akuntansi Manajemen, Jakarta: Salemba Empat.

Soemarso. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Aditya Media.

2000. Akuntansi Biaya: Pengumpulan Biaya dan Penetuan Harga Pokok. Edisi 2.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Sutrisno. 2001. Akuntansi Biaya Untuk Manajemen (Edisi ke-2). Yogyakarta:
Ekonisia.
Baridwan, Zaki. 2000. Intermediate Accounting (Edisi ke-7). Yogyakarta: BPFE
http://tugasakhiramik.blogspot.com
Hansen & Mowen. 2000. Manajemen Biaya, Akuntansi dan Pengendalian. Jakarta:
Salemba Empat.

Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Aditya Media.

2005. Akuntansi Biaya. Edisi 5. Yogyakarta: STIE YKPN.

Mursyidi. 2008. Akuntansi Biaya. Bandung: Refika Aditama.
95


Simamora Henry. 1999. Akuntansi Manajemen, Jakarta: Salemba Empat.

Soemarso. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Aditya Media.

2000. Akuntansi Biaya: Pengumpulan Biaya dan Penetuan Harga Pokok. Edisi 2.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Sutrisno. 2001. Akuntansi Biaya Untuk Manajemen (Edisi ke-2). Yogyakarta:
Ekonisia.