Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat tradisional semakin mendapat banyak perhatian selama dekade terakhir,
baik dari kalangan medis maupun kalangan industri. Hal ini dikarenakan potensinya
sebagai obat alternatif maupun prospek yang cukup menjanjikan bagi industri jamu,
food supplemen maupun industri farmasi (Krisnaningrum, 2011).
Salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat adalah tanaman kayu putih
(Melaleuca leuncandendra l). Tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendra l) ,
merupakan salah satu tumbuhan penghasil minyak atsiri yang mana daun tumbuhan
ini mengandung minyak atsiri sekitar 0,5 1, 5 % tergantung efektivitas penyulingan
dan kadar minyak yang terkandung terhadap bahan yang disuling ( Astuti dan
Aphari, 2013).
Minyak atsiri dalam tanaman ini sering disebut minyak kayu putih yang
digunakan untuk mengobati beberapa penyakit seperti anti septic dan bakteri,
Insektisida dan vermifuge, decongestant dan expetorant, kosmetik dan tonik ,
perangsang dan sudororific, analgesik, panas, dan anti sakit saraf (Krisnaningrum,
2011).
Minyak kayu putih sudah dikenal luas penggunaanya oleh masyarakat di
Indonesia untuk rumah tangga maupun kebutuhan industri farmasi dan kosmetika.
Kenyataan menunjukkan bahwa produksi dalam negeri tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan domestik. Pada saat ini Indonesia termasuk salah satu pengimpor terbesar
minyak kayu putih, umumnya berasal dari Cina dan Vietnam. Berdasarkan data yang
ada kebutuhan domestik minyak kayu putih adalah 1.500 ton per tahun namun saat
ini Indonesia hanya memproduksi kurang dari 500 ton setahun. Karena itu sisanya
harus di impor.
Sebuah kajian cepat tentang aspek sosial dan ekonomi kayu putih di pulau Jawa
dan Nusa Tenggara Timur sudah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kehutanan Bidang
Sosial Ekonomi dan Budaya. Kenyataan menunjukan bahwa industri minyak kayu
putih yang ada di Indonesia belum menunjukan hasil yang optimal, karena kurang
taunya para petani cara mengolah daun dan ranting kayu putih saat akan diproses,
kebanyakan dilakukan secara turun temurun tanpa merubah bentuk alat maupun
merubah perlakuan bahan (Guntur, 2006).

1.2 Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalah dalam tugas ini adalah bagaimana usaha
yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan dan memanfaatkan potensi dari
kayu putih sebagai tanaman obat yang dapat diproses menjadi minyak kayu
putih, serta bagaimana proses pengolahan yang dilakukan untuk menghasilkan
minya kayu putih

1.3 Tujuan Percobaan
tujuan dari tugas bioseparasi ini adalah :
1. Untuk mengetahui potensi dari tanaman kayu putih
2. Untuk mengetahui proses pembuatan minyak kayu putih
3. Untuk mempelajari cara pembuatan minyak kayu putih

1.4 Manfaat Percobaan
Manfaat dari tugas ini adalah mahasiswa dapat mengetahui potensi dari tanaman
kayu putih untuk dimanfaatkan sebagai obat yang dapat diproduksi menjadi
minyak kayu putih serta mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan minyak
kayu putih.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Minyak Atsiri
Indonesia merupakan negara yang cukup berpotensi dalam produksi minyak
atsiri. Penggunaan minyak atsiri dari bahan alam sebagai obat semakin diminati
masyarakat, seiring dengan gerakan kembali ke alam (back to nature) ynag
dilakukan masyarakat. Tanaman obat makin penting peranannya dalam pola
konsumsi makanan, minuman, dan obat-obatan (Arniputri, dkk., 2007).
Minyak atsiri atau disebut juga minyak eteris, minyak menguap merupakan
suatu zat yang berbau yang terdapat dalam berbagai tanaman. Minyak atsiri ini
mempunyai peperian, antara lain: Tidak berwarna dalam keaadaan segar dan berbau
seperti tanaman asalnya. Minyak atsiri ini dalam penyimpanan yang lama akan
teroksidasi menjadi resin, yang berwarna gelap. Penyimpanan sebaiknya diisi penuh
dan tertutup rapat, disimpan dalam tempat yang sejuk dan kering terhindar dari sinar
matahari (Krisnaningrum, 2011).
Minyak atsiri pada industri banyak digunakan sebagai bahan pembuat kosmetik,
parfum, antiseptik dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atsiri mampu bertindak
sebagai bahan terapi (aromaterapi) atau bahan obat suatu jenis penyakit. Fungsi
minyak atsiri sebagai bahan obat tersebut disebabkan adanya bahan aktif, sebagai
contoh bahan anti radang, hepatoprotektor, analgetik, anestetik, antiseptik, psikoaktif
dan anti bakteri (Agusta, 2000). Adapun sifat - sifat minyak atsiri yang lain adalah
sebagai berikut :
a. Memiliki bau khas, umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya
b. Memiliki rasa getir, berasa tajam, menggigit, memberi rasa hangat sampai
panas atau justru dingin ketika dikulit, tergantung dari jenis komponen
penyusunnya
c. Bersifat tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak berubah menjadi bau
tengik, ini berbeda dengan minyak lemak
d. Tidak dapat bercampur dengan air, tetapi dapat memberikan baunya pada air
walaupun kelarutannya sangat kecil
e. Sangat mudah larut dalam pelarut organik
(Djani, 2006).
Dalam keadaan segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna.
Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi. Untuk
mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana gelas yang berwarna
gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan sejuk
(Gunawan & Mulyani, 2004). Adapun Faktor yang mempengaruhi rendemen minyak
atsiri :
a. Perajangan
Proses perajangan ini bertujuan agar supaya kelenjar minyak dapat terbuka
sebanyak mungkin. Bila bahan dibiarkan utuh, minyak atsiri hanya dapat
diekstraksi, apabila uap air berhasil melalui jaringan tanaman dan
mendesaknya ke permukaan
b. Penyimpanan bahan olah
Tempat penyimpanan bahan olah sebelum perajangan juga mempengaruhi
penyusutan minyak atsiri, namun pengaruhya tidak terlalu besar seperti pada
perajangan. Penguapan secara bertahap selama penyimpanan mengakibatkan
kehilangan minyak atsiri, yang disebebkan oleh proses oksidasi dan
resinifikasi. Jika bahan harus disimpan sebelum diproses, maka penyimpanan
dilakukan pada udara kering yang bersuhu rendah dan udara tidak
disirkulasikan, jika mungkin ruangan dilengkapi dengan air conditioned.
Kehilangan (loss) minyak dalam bahan tersebut dapat dihindari, jika bahan
diproses dengan segera
c. Kondisi bahan
Pada umumnya, kecuali jenis bahan olah tertentu seperti bunga, daun dan
herbs tidak dapat disimpan lama, namun sebaliknya bahan berupa biji, kulit
pohon, akar. Kayu lebih tahan disimpan lama, karena jumlah minyak yang
menguap lebih kecil. Metode penyimpanan (dibungkus rapat, disebar diatas
lantai atau ditimbun) merupakan faktor berperan dan perlu mendapat
perhatian. Sirkulasi dan kelembapan udara yang ekstrim selama penyimpanan
mengakibatkan proses resinifikasi, penguapan dan terutama proses oksidasi.
Penyimpangan bahan olah dalam waktu lebih lama membutuhkan suhu
penyimpanan yang rendah dan ruangan yang kelembapannya dapat diatur

d. Metode penyulingan yang digunakan
Metode penyulingan uap dan penyulingan air dengan uap menghasilkan
rendemen relatif tinggi dibandingkan penyulingan dengan air karena dalam
penyulingan air komponen minyak yang titik didih tinggi dan bersifat larut
air tidak dapat menguap secara sempurna sehingga banyak minyak yang
hilang atau tidak tersuling
e. Kehilangan minyak atsiri dari bahan tanam sebelum penyulingan
Minyak atsiri yang terdapat dalam jaringan tanaman sering hilang karena
proses pengeringan setelah panen. Beberapa macam tanaman yang masih
segar dengan kadar air tinggi akan kehilangan sebagian minyak atsiri selama
pengeringan udara sedangkan pada beberapa jenis yang lain besarnya minyak
yang hilang relative kecil. Kehilangan minyak terutama disebabkan oleh
penguapan, oksidasi dan resinifikasi
Dalam kehidupan sehari-hari minyak atsiri dapat bermanfaat sebagai berikut :
a. Bahan pewangi atau penyedap (flavoring) masakan
b. Bahan anti septic (zat yang dapat menghambat pertumbuhan dan
perkembangan mikroorganisme) dan bakterisida (zat yang dapat membunuh
bakteri)
c. Obat cacing
d. Bahan pewangi kosmetik atau sabun
e. Bahan untuk menetralisir bau yang tidak sedap atau tidak enak
(Krisnaningrum, 2011).

2.2 Kayu Putih
Kayu putih dalam bahasa latin dikenal dengan nama Melaleuca leucadendron
Linn, termasuk dalam familia Myrtaceae dan tergolong keluarga Melaleuca (Lukito,
2011). Tumbuhan kayu putih (Melaluca leucadendra l) merupakan salah satu
tumbuhan penghasil minyak atsiri yang mana daun tumbuhan ini mengandung
minyak atsiri sekitar 0,5 1,5 % tergantung efektivitas penyulingan dan kadar
minyak yang terkandung terhadap bahan yang disuling (Astuti dan Aphari, 2013).
Kingdom : Plantae
Super Divisi : Spermathophyte
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Myrtales
Family : Myrtaceaegrum
Genus : Melaleuca
Species : Melaleuca leucandendra
(Krisnaningrum, 2011)
Tanaman kayu putih berasal dari asutralia dan saat ini sudah tersebar di Asia
Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia, namun. Di Indonesia tanaman ini
banyak ditemukan di pulau Jawa, kepulauan Maluku, kepulauan Nusa Tenggara
Timur dan Pulau Sulawesi. Diperkirakan, luas tanaman kayu putih di Indonesia
sekitar 248.756 hektar. Pada awalnya, tanaman ini merupakan tanaman yang tumbuh
liar, namun kemudian diusahakan secara teratur sebagai tanaman hutan non kayu
untuk menghasilkan minyak atsiri dan merehabilitasi tanah tanah kritis serta tanah
tanah yang kurang produktif karena dapat tumbuh baik pada lahan yang tidak
subur (Sumanto, 2003)
Kayu putih (Melaleuca leucadendron L.) merupakan tanaman yang tidak asing
bagi masyarakat di Indonesia karena dapat menghasilkan minyak kayu putih (cajuput
oil) yang berkhasiat sebagai obat, insektisida, dan wangi-wangian. Sebagai
komoditas perdagangan, minyak kayu putih dapat diperoleh dengan mudah di
warung-warung dan toko-toko. Selain dapat diambil minyaknya, pohon kayu putih
juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan kecuali sebagai bahan bangunan.
Meskipun harganya lebih rendah dibandingkan dengan ini minyak atsiri
lainnya, minyak kayu putih masih tetap merupakan salah satu hasil yang perlu
diperhatikan (Krisnaningrum, 2011). Dari beberapa komponen penyusun minyak
kayu putih yang diperoleh dari penyulingan daun kayu putih, terdapat 7 komponen
penyusun utama minyak kayu putih dari daun segar, yaitu:
1. a-pinene
2. Sineol
3. a-terpineol
4. Kariofilen
5. a-karyofilen
6. Ledol
7. Elemol (Siregar dan Nopelena 2010)
Menurut Guenther (1990), menyebutkan bahwa komponen utama penyusun
minyak kayu putih adalah sineol (C10H18O), pinene (C10H8), benzaldehide (CHO),
limonene (C10H16) dan sesquiterpentes (C15H). Komponen yang memiliki
kandungan cukup besar di dalam minyak kayu putih yaitu sineol sebesar 50% sampai
dengan 65%. Dari berbagai macam komponen penyusun minyak kayu putih hanya
kandungan komponen sineol dalam minyak kayu putih yang dijadikan penentuan
mutu minyak kayu putih. Sineol merupakan senyawa kimia golongan ester turunan
terpen alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri, seperti pada minyak kayu putih
(Astuti dan Alphari, 2013). Cineol yaitu suatu bahan yang menyebabkan minyak
kayu putih terasa hangat bila dioleskan pada kulit. Dalam perdagangan, besar
kecilnya kadar cineol menentukan kualitas minyak kayu putih. Semakin besar
kandungan bahan sineol maka akan semakin baik mutu minyak kayu putih
(Krisnaningrum, 2011).

2.3 Proses Pembuatan Minyak Kayu Putih
2.3.1 Teknik Penanaman
Penanaman kayu putih sebaiknya dilakukan pada saat curah hujan tinggi
sehingga tidak perlu dilakukan penyiraman (November-Februari). Penanaman
tanaman kayu putih dilakukan secara monokultur ataupun tumpang sari.
Penanaman secara monokultur menggunakan jarak tanam satu meter sedangkan
penanaman secara tumpang sari menggunakan jarak antar tanaman dalam satu
larikan sebesar tiga meter. Jarak tanaman yang sangat dekat digunakan untuk
mempertahankan tanaman kayu putih tetap pendek sehingga pemetikan daun
mudah dilakukan. Penanaman secara tumpang sari biasanya dilakukan dengan
tanaman semusim. Karena tanaman kayu putih merupakan komoditas
kehutanan, istilah tumpang sari disebut dengan istilah agroforestry (tumpang
sari antara tanaman kayu putih dengan tanaman pangan) dan sylvapasteur
(tumpang sari antara tanaman kayu putih dengan tanaman hijauan ternak).


Penanaman bibit tanaman kayu putih dilakukan melalui langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Lubang tanam yang telah diisi media tanam digali kembali dengan ukuran
yang kurang lebih sama dengan polybag yang berisi bibit tanaman kayu
putih.
2. Bibit tanaman kayu putih yang sudah mempunyai ketinggian antara 10 cm
hingga 15 cm dikeluarkan dari polybag. Polybag didekatkan pada lubang
tanam, kemudian dilepaskan secara hati-hati dengan cara digunting.
3. Selanjutnya, bibit tanaman kayu putih ditanam pada lubang tanam dan
perakaran ditimbun dengan media tanam sampai penuh. Media tanam di
sekitar batang pokok bibit tanaman perlu ditekan-tekan dengan tangan atau
diinjak-injak agar bibit tanaman dapat selalu tegak dan media tanam langsung
melekat pada perakaran.
4. Setelah penanaman segera dilakukan penyiraman secukupnya. Namun, jika
tanaman masih dalam keadaan basah karena hujan, tanaman muda tidak perlu
disirami.

2.3.2 Pemanenan
Tanaman kayu putih dapat dipungut daunnya setelah berumur empat
tahun, kemudian untuk panen berikutnya dapat dilakukan tiap enam bulan sekali
sampai tanaman berusia 30 tahun. Pemanenan daun kayu putih dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu diragut dan dipangkas rantingnya. Pemetikan daun kayu
putih dengan cara diragut (afritsen) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut: pangkal ranting tanaman kayu putih yang berdaun lebat dipegang erat-
erat dengan kedua tangan, kemudian dipluntur ke arah pucuk ranting sehingga
daun-daun yang sudah tergenggam dimasukkan ke dalam keranjang yang sudah
disiapkan. Dengan cara ini akan diperoleh daun-daun kayu putih tanpa tercampur
ranting tanaman kayu putih.
Pengambilan daun kayu putih juga dapat dilakukan dengan memotong
ranting-ranting tanaman tempat tumbuh daun-daun yang akan diambil. Setelah
terkumpul cukup banyak, potongan cabang dan ranting beserta daun-daunnya
diangkut ke tempat penyulingan.
Pada umumnya pemanenan daun kayu putih dilakukan pada awal musim
kemarau, sehingga tidak mengganggu pekerajaan pemetikan daun. Di samping
itu, jika pemetikan dilakukan pada awal musim kemarau, pada akhir musim
hujan tiap tanaman telah menumbuhkan daun dalam jumlah yang cukup banyak.
Dengan demikian, pemetikan daun kayu putih dapat dilakukan sekali atau dua
kali dalam setahun, jika pertumbuhan tanaman subur. Pemungutan daun kayu
putih sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena pada pagi hari daun mampu
menghasilkan rendemen atsiri lebih tinggi dengan kualitas baik. Setelah
pemungutan daun yang pertama, pohon kayu putih dipangkas agar bisa tumbuh
tunas baru dan akan menghasilkan daun yang lebih banyak.

2.3.3 Penyimpanan Daun
Daun kayu putih segar yang baru dipetik sebaiknya langsung diolah
karena penundaan yang lama akan menyebabkan daun kehilangan minyak.
Namun, dalam prakteknya, penyulingan daun yang segar sulit dilakukan.
Seringkali jumlah daun kayu putih yang dipanen tidak sesuai dengan kapasitas
ketel penyulingan, sehingga daun harus disimpan terlebih dahulu.
Penyimpanan dilakukan dengan menebarkan daun di lantai yang kering
dan memiliki ketinggian sekitar 20 cm, dengan kondisi suhu kamar dan sirkulasi
udara terbatas. Daun-daun kayu putih tidak boleh disimpan dalam karung,
karena akan mengakibatkan minyak yang dihasilkan berbau dan kadar sineol
dalam minyak menjadi rendah. Penyimpanan ini dilakukan maksimal selama
satu minggu dari pemetikan daun.

2.3.4 Penyulingan Minyak Kayu Putih
Minyak atsiri dari hasil penyulingan daun kayu putih dikenal dengan
minyak kayu putih. Kandungan utama minyak kayu putih adalah sineol. Kualitas
minyak kayu putih dipengaruhi oleh kadar sineol, semakin besar kadar sineol,
kualitas minyak kayu putih semakin tinggi.
2.3.4.1 Cara Penyulingan
Penyulingan didasarkan pada sifat minyak atsiri yang dapat
menguap jika dikenai uap panas. Jika uap yang terjadi diembunkan akan
diperoleh air dan minyak yang masing-masing terpisah. Penyulingan
minyak dapat dilakukan dengan tiga cara, diantaranya:
a. Penyulingan dengan Perebusan (Kohobasi)
Cara penyulingan ini merupakan cara yang paling sederhana dan
membutuhkan biaya yang paling kecil. Daun dan air dicampur dalam satu
ketel (biasanya terbuat dari bahan tembaga atau besi). Kelemahan cara ini
adalah daun yang dekat dengan api akan lebih cepat hangus, sementara
suhu dan tekanan udara tidak dapat diatur.
b. Penyulingan dengan Pengukusan (Water and Steam Distillation)
Penyulingan dengan cara ini mengakibatkan adanya pemisahan antara
air dan daun, berupa sekat berlubang-lubang. Keuntungan dari cara ini
adalah dapat menghindarkan hangusnya daun dan memperkecil terjadinya
hidrolisis daun karena tidak terjadi kontak langsung antara air dan daun.
c. Penyulingan Langsung dengan Uap (Direct Steam Distillation)
Pada penyulingan dengan cara ini dilakukan pemisahan antara ketel uap
dan ketel daun sehingga tekanan uap yang diperlukan dapat diatur dan
disesuaikan menurut kegunaannya. Penyulingan langsung dapat dilakukan
pada keadaan tekanan 2-4 atm, tergantung pada bentuk dan kapasitas ketel
daun. Semakin tinggi tekanan uap, proses penyulingan akan semakin
cepat. Untuk mendapatkan tekanan uap optimum, dapat dilakukan
percobaan empiris pada masing-masing pabrik sehingga diperoleh kualitas
dan kuantitas yang tinggi.

2.3.4.2 Proses Penyulingan
a. Pengisian Daun
Pengisian daun ke dalam ketel perlu diatur agar timbunan daun
dalam ketel merata dan tidak terlalu padat. Timbunan daun yang
terlalu padat akan menghalangi uap air dan menyebabkan daun
menjadi basah sehingga kualitas minyak rendah akibat proses
hidrolisis.
Untuk mendapatkan kepadatan daun yang merata, pengisian
daun ke dalam ketel dilakukan secara bertahap. Mula-mula,
lapisan pertama diisikan dan ditekan, kemudian diisikan lapisan
kedua dan ditekan. Demikian seterusnya sehingga ketel terisi
penuh.
b. Penyulingan Daun
Penyulingan daun dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu perebusan,
pengukusan, ataupun penggunaaan uap langsung.
c. Pembersihan Minyak
Kegiatan pembersihan minyak terdiri dari dua tahapan, yaitu pemisahan air dan
penyaringan kotoran dari distilat hasil penyulingan. Pemisahan air dapat
dilakukan dengan alat yang disebut labu florentina. Akibat gaya gravitasi,
distilat yang masuk akan terpisah menjadi dua bagian, yaitu minyak yang
terapung di permukaan dan air yang keluar melalui saluran. Setelah itu, kotoran
dan air yang masih terdapat dalam minyak dapat dihilangkan dengan cara
penyaringan menggunakan filter kertas merang ataupun dengan sentrifuse.
d. Penghentian Penyulingan
Dari pengamatan rendemen dan kualitas minyak, dapat diketahui bahwa lama
penyulingan minyak kayu putih yang optimum adalah 3 hingga 4 jam. Jika lama
penyulingan diperpanjang menjadi lebih dari empat jam, akan diperoleh
tambahan sedikit minyak, namun berkualitas rendah.

2.4 Penentuan Standar Kualitas Minyak
Selama penyulingan berlangsung, kuantitas maupun kualitas minyak yang
tersuling akan terus menurun. Penurunan kuantitas disebabkan oleh semakin
berkurangnya minyak yang terkandung dalam daun, sedangkan penurunan
kualitas disebabkan oleh kadar sineol yang sebagian besar sudah tersuling pada
awal penyulingan. Jika penyulingan tidak disertai dengan proses pemisahan
fraksi-fraksi menurut waktu penyulingan, akan diperoleh campuran minyak
dengan kadar sineol tinggi sampai rendah sehingga tidak memenuhi syarat untuk
diekspor. Adapun standar kualitas minyak kayu putih Indonesia menurut Balai
Penelitian Kimia adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Standar Mutu Minyak Kayu Putih (Crude Oil) di Indonesia Menurut
Balai Penelitian Kimia
Minyak Kayu Putih Karakteristik
Berat Jenis 0,915-0,935
Indeks Bias 1,466-1,472
Putaran Optik -4
o
sampai 0
o

Kelarutan dalam alkohol 80% Jernih dan selanjutnya tetap bersih
Kadar Sineol 50%-65%
Kadar Pelikan Negatif
Kadar Lemak Negatif






















DAFTAR PUSTAKA
Guntur, Sri S. 2006. Proses Penyulingan Minyak Atsiri Kayu Putih (Melaleuca
capujuti) di Tinjau dari Persiapan Bahan Baku. Universitas Gadjah Mada:
Yogyakarta
Astuti, Fajar Lestari dan Ibnu Majah Aphari. 2013. Ekstraksi Daun Kayu Putih
(melaleuca leucadendra (l) Menggunakan Pelarut Etanol dengan Metode
Ekstraksi Maserasi. Jurusan Teknik Kimia. Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa : Banten

Krisnanigrum, Windhi. 2011. Pengambilan Minyak Atsiri Daun Kayu Putih
(Melaleuca leucadendron l.) dengan Metode Destilasi Air di Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Tawangmangu. Jurusan Agribisnis Minat Agrofarmaka. Universitas Sebelas
Maret : Surakarta

Arniputri, Retna Bandriati, Amalia Tetrani Sakya dan Muji Rahayu. 2007.
Identifikasi Komponen Utama Minyak Atsiri Temu Kunci (Kaemfria
pandurata Roxb) pada Ketinggian Tempat yang Berbeda. Jurusan Agronomi.
Universitas Sebelas Maret : Surakarta. Jurnal Biodiversitas. Volume 8,
Nomor 2 Hal : 135 137

Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika. Penerbit ITB. Bandung.