Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

PENYALURAN ENERGI UNTUK KLIEN DENGAN


RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Disusun Oleh:
1. WITIYONINGSIH

P.17420112078

2. YUNIKA SETYA R.

P.17420112079

3. LINDA WULANDARI

P.17420112069

4. MAE IDA SARI

P.17420112070

5. MEGAWATI

P.17420112071

6. NESTITI AMBAR P.

P.17420112072

7. ANINDYA MAARIFATUL K.

P.17420112082

8. ANIS LAELA MEGASARI

P.17420112083

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
2014

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


PENYALURAN ENERGI UNTUK KLIEN DENGAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. Topik
Terapi aktivitas kelompok penyaluran energi.
B. Latar Belakang
Perilaku destruktif- diri yaitu setiap aktivitas yang jika tidak dicegah
dapat mengarah kepada kematian. Perilaku destruktif- diri langsung
mencakup setiap aktivitas bunuh diri(stuart, 2007).
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk ekspresi kemarahan yang
tidak sesuai dimana seseorang melakukan tindakan- tindakan yang dapat
membahayakan/ mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak
lingkungan. Seseorang yang mengalami masalah ini harus diberikan
rencana dan tindakan yang sesuai sehingga pola ekspresi kemarahannya
dapat diubah menjadi bentuk yang bisa diterima atau perilaku yang sesuai,
yaitu ekspresi kemarahan langsung kepada sumber kemarahan dengan
tetap menghargai orang yang menjadi sumber kemarahan tersebut. Faktor
yang melatar belakangi terjadinya perilaku kekerasan merupakan dampak
dari berbagai pengalaman yang dialami tiap orang.
1. Gambaran Umum Klien dengan Resiko Perilaku Kekerasan
a. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik
kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh
gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap

suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol


(Yosep, 2009).
Suatu keadaan ketika individu mengalami perilaku yang secara
fisik dapat membahayakan bagi diri sendiri atau pun orang lain
(Sheila L. Videbeck, 2008).
b. Gejala klinis
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku
kekerasan adalah sebagai berikut:
1) Fisik

Muka merah dan tegang

Mata melotot/ pandangan tajam

Tangan mengepal

Rahang mengatup

Postur tubuh kaku

Jalan mondar-mandir

2) Verbal

Bicara kasar

Suara tinggi, membentak atau berteriak

Mengancam secara verbal atau fisik

Mengumpat dengan kata-kata kotor

Suara keras

Ketus

3) Perilaku

Melempar atau memukul benda/orang lain

Menyerang orang lain

Melukai diri sendiri/orang lain

Merusak lingkungan

Amuk/agresif

4) Emosi

Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu,


dendam

dan

jengkel,

tidak

berdaya,

bermusuhan,

mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.


5) Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan,
sarkasme.
6) Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik
pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain,
tidak perduli dan kasar.
7) Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan,
sindiran.
8) Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.
c. Penyebab
Untuk menegaskan keterangan di atas, pada klien gangguan jiwa
perilaku kekerasan dapat disebabkan oleh gangguan harga diri
rendah, yaitu penilaian individu tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri.
Gangguan harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan
negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal
mencapai keinginan.
d. Akibat
Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi
mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai
merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/
membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
e. Mekanisme koping
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul
karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai

pada klien marah untuk melindungi diri antara lain : (Maramis,


1998).
1)

Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia


artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang
mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya
seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya
pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok
dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan
akibat rasa marah.

2)

Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau


keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda
yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual
terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya
tersebut mencoba merayu, mencumbunya.

3)

Represi

Mencegah

pikiran

yang

menyakitkan

atau

membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak


yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya.
Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak
kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik
dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya
dan akhirnya ia dapat melupakannya.
4)

Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila


diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang
berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya
seorang

yang

tertarik

pada

teman

suaminya,

akan

memperlakukan orang tersebut dengan kasar.


5)

Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya


bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti
yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya
Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat
hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya.
Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.

2. Perlunya Terapi Aktivitas Kelompok Penyaluran Energi


Untuk mengatasi gangguan pada klien jiwa sering dilakukan
terapi aktivitas kelompok dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa
karena merupakan ketrampilan terapeutik. Terapi aktivitas kelompok
merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat pada
sekelompok klien yang mengalami masalah keperawatan yang sama.
Adapun tujuan dari terapi aktivitas meliputi terapeutik meliputi
menggunakan kegiatan untuk memfasilitasi interaksi, mendorong
sosialisasikan dengan lingkungan, meningkatkan stimulus realitas dan
respon individu, meningkatkan rasa percaya diri. Sedangkan tujuan
rehabilitaif meliputi meningkatkan kemampuan ekspresi diri, empati,
meningkatkan ketrampilan social dan pola penyeselaikan masalah.
Untuk mengatasi gangguan emosi pada klien dengan resiko
perilaku kekerasan tersebut, terapi aktivitas kelompok sering
digunakan dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa karena
merupakan keterampilan terapeutik. Terapi aktivitas kelompok
merupakan bagian dari terapi modalitas yang berupaya meningkatkan
psikoterapi dengan sejumlah klien dalam waktu yang bersamaan.
Dengan therapy aktivitas kelompok ( TAK ) klien dengan
gangguan perilaku kekerasan dapat tertolong dalam hal mengontrol
emosinya dan menyalurkan energinya untuk kegiatan positif.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan terapi aktifitas kelompok (TAK) penyaluran
energy dengan permainan balon dan lomba kelereng, diharapkan
pasien dapat menjalin kerjasama dengan pasien lain dan mampu
melatih kesabaran dalam mengontrol emosi.
2. Tujuan Khusus
a. Klien mampu menyegarkan pikiran dengan permainan yang
menyenangkan.

b. Klien mampu melatih konsentrasi dan meminimalkan penggunaan


energy serta emosional untuk aktivitas.
c. Klien mampu mengeluarkan energinya untuk melakukan kegiatan
positif.
d. Klien mampu focus melakukan permainan yang diajarkan perawat
dan fasilitator.
e. Klien mampu menyelaraskan dan menyeimbangkan emosi dengan
melakukan kegiatan positif.
D. Seleksi Klien
1. Kriteria klien
Klien dengan perilaku kekerasan, dengan kriteria hasil :
a. Pasien kooperatif.
b. Pasien dapat diajak berkomunikasi.
c. Pasien dapat melakukan aktivitas.
d. Pasien yang mengikuti terapi aktivitas kelompok ini adalah tidak
mengalami perilaku agresif atau mengamuk, dalam keadaan
tenang.
2. Jumlah peserta
Klien yang mengikuti terapi aktifitas kelompok berjumlah 6 orang.
3. Nama klien dan ruangan
Adapaun nama-nama klien yang akan mengikuti terapi aktivitas
kelompok ini adalah :
a. _______________________________
b. _______________________________
c. _______________________________
d. _______________________________
e. _______________________________
f. _______________________________
4. Proses seleksi klien
a. Berdasarkan observasi perilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh
perawatn

b. Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai perilaku klien seharihari serta kemungkinan dilakukan terapi aktivitas kelompok pada
klien tersebut dengan perawat ruangan.
c. Melakukan kontrak pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan
dilakukan.
E. Jadwal Kegiatan
1. Hari/Tanggal : Selasa, 16 Juli 2014.
2. Tempat : Ruang Hudowo (VII) RSJD. Prof. Dr. Amino Gondo Hutomo
Semarang.
3. Waktu : Pukul 09.00 selesai.
F. Metode
1. Demonstrasi
2. Bermain
G. Media dan Alat
1. Balon
2. Kelereng
3. Sendok
4. Pemutar Musik
H. Pengorganisasian
1. Susunan Pelaksana
a. Leader

: Linda Wulandari

b. Co. Leader

: Nestiti Ambar P.

c. Fasilitator I

: Megawati

d. Fasilitator II

: Mae Ida Sari

e. Fasilitator III

: Witiyoningsih

f. Fasilitator IV

: Yunika Setya R.

g. Fasilitator V

: Anis Laela M.

h. Observer

: Anindya Maarifatul K.

2. Uraian Tugas Pelaksana


a. Leader
Leader merupakan pimpinan dalam suatu tim dimana jalannya
kegiatan dipimpin oleh seorang leader. Adapun tugas-tugas leader
dalam TAK ini meliputi :
1) Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktivitas
kelompok sebelum kegiatan dimulai.
2) Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan
memperkenalkan dirinya.
3) Mampu memimpin terapi aktivitas kelompok dengan baik dan
tertib.
4) Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok.
5) Menjelaskan permainan
b. Co leader
Merupakan seseorang yang membantu leader saat jalannya TAK,
Apabila leader mengalami blocing ataupun hal lain yang
bersangkutan terhadap leader. Adapaun tugas co leader dalam TAK
ini meliputi :
1) Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang
aktivitas klien.
2) Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.
3) Mengambil alih posisi leader jika leader blocking.
c. Observer
Merupakan seseorang yang mengobservasi kepada peserta dalam
kegiatan TAK
Tugas observer antara lain :
1) Mengobservasi jalannya permainan.
2) Mencatat perilaku verbal dan nonverbal dari klien selama
berlangsungnya permainan.
3) Mencatat keaktifan masing-masing anggota.
d. Fasilitator

Merupakan seseorang yang dapat memberikan motivasi kepada


peserta dalam kegiatan untuk kesuksesan jalannya kegiatan
tersebut. Adapun tugas-tugas fasilitator dalam kegiatan TAK ini
meliputi :
1) Memfasilitasi klien yang kurang aktif.
2) Berperan sebagai role play bagi klien selama kegiatan.

I. Setting Tempat
1. Klien berbaris bersaf.
2. Denah pelaksanaan :

Keterangan :
: Leader
: Co leader
: Observer
: Fasilitator
: Pasien

J. Langkah Kegiatan
1. Persiapan :
a. Memilih klien dengan resiko perilaku kekerasan.
b. Membuat kontrak dengan klien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi :

Pada tahap ini terapis melakukan :


a. Memberi salam terapeutik dan memperkenalkan tim terapis.
b. Evaluasi/validasi : menanyakan perasaan klien saat ini.
c. Kontrak :
1) Menjelaskan tujuan kegiatan.
Tujuan : Klien dapat menyalurkan energinya secara positif serta
dapat berfikir kritis tentang penyelesaian masalah dengan
tenang.
2) Menjelaskan aturan main berikut :

Setiap peserta wajib memperkenalkan diri.

Peserta yang meninggalkan kelompok harus mendapat ijin


dari terapis.

Lama kegiatan 30 menit.

Setiap peserta mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap Kerja
a. Tempatkan klien sesuai dengan denah pelaksanaan TAK.
b. Bagikan alat dan bahan untuk pelaksanaan TAK.
c. Jelaskan peraturan dan cara permainan TAK.
Cara Permainan 1 :
Klien berpasangan dua orang dan akan di berikan 1 buah balon
kepada masing-masing pasangan. Kemudian balon tersebut di jepit
di antara punggung klien. Klien harus berjoget sesuai iringan music
dan balon tidak boleh jatuh atau pun meletus. Bila music berhenti,
klien harus berhenti bergerak pula seperti patung, dan boleh

bergerak setelah music di hidupkan kembali. Pasangan yang


mampu mempertahankan balonnya sampai permainan usai
dinyatakan menang.
Cara Permainan 2 :
Klien berpasangan dua orang, dan akan di berikan 2 buah sendok
serta 1 buah kelereng pada masing-masing pasangan. Dengan
menggigit sendok yang telah di isi kelereng, klien harus melakukan
estafet kelereng pada pasangannya. Garis start dan finish sama
( berada dalam satu garis). Bila kelereng pada sendok jatuh, klien
harus mengulang berjalan dari garis awal kembali. Selama sesi
permainan ini, akan di iringi dengan music agar klien rileks. Bagi
pasangan yang mampu sampai di garis finish paling cepat,
dinyatakan menang.
d. Demonstrasikan tentang cara permainan TAK.
e. Laksanakan TAK, 6 peserta.
f. Ambil dua peserta yang mampu menyelesaikan permainan terlebih
dahulu lalu mempertemukan kembali dengan pemenang permainan
selanjutnya (final) untuk menentukan juara 1.
4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Rencana Tindak Lanjut
1) Menganjurkan tiap anggota kelompok untuk selalu mengontrol
emosi dan selalu sabar dalam menghadapi setiap masalah.

2) Menganjurkan klien untuk belajar mengendalikan emosinya


dengan melakukan hal-hal positif.
c. Kontrak yang Akan Datang
1) Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang.
2) Menyepakati waktu dan tempat.

K. Program Antisipasi
1. Penanganan klien yang tidak aktif saat TAK
a. Memanggil klien.
b. Memberi kesempatan kepada klien tersebut untuk menjawab
sapaan perawat atau klien yang lain.
2. Bila klien meninggalkan TAK
a. Panggil nama klien.
b. Tanya alasan klien meninggalkan atau tidak mengikuti TAK.
c. Berikan penjelasan tentang tujuan TAK dan berikan penjelasan
pada klien bahwa klien dapat melaksanakan keperluannya setelah
itu klien boleh kembali lagi.
d. Berikan sangsi kepada klien jika klien keluar dari TAK tanpa seijin
perawat.
3. Bila ada klien yang ingin ikut
a. Beri penjelasan bahwa TAK ini ditujukan pada klien yang dipilih,
jika klien memaksa beri kesempatan untuk masuk dengan tidak
mengikuti permainan pada TAK tersebut.

L. Evaluasi
1. Proses
a. 90 % klien berpartisipasi aktif
b. 90 % klien dapat memberikan respon verbal dan nonverbal yang
sesuai dengan stimulus eksternal.
c. 90 % klien mampu bekerja sama dengan kelompok.
d. 100 5 klien mengikuti kegiatan TAK sampai dengan selesai.
2. Hasil
a. 90 % klien mampu mengikuti kegiatan yang dibuat serta dapat
memperkenalkan diri serta mampu menjawab pertanyaan yang
diajukan peserta lain terkait dengan identitas klien.
b. 80 % klien mampu melaksanakan permainan dengan baik.
c. 50 % klien mampu mengungkapkan manfaat kegiatan TAK.
d. Terakhir leader menyimpulkan manfaat seluruh kegiatan dan
memotivasi klien untuk melakukan kegiatan serupa/ yang lain
bersama klien.
3. Format Evaluasi
a. Kemampuan Verbal
b. Kemampuan nonverbal

Daftar Pustaka

Azizah, L.M. (2011). Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktek Klinik.


Yogyakarta : Graha ilmu.

Kelliat, B.A. (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Purba, dkk. (2008). Asuhan Keperawatan pda Klien dengan Masalah


Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan : USU Press.

Stuart dan Laraia. (2007). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing.


Edisi 6. St. Louis : Mosby Year Book.

www.jiwasehat.com